"Ghost hunting?" Chihiro mengulang, setengah tidak niat.
"Ghost hunting?!" Entah ke mana perginya wajah muram Koutarou. "Serius, Reo-nee?!"
"Serius, dong~ dan aku menemukan lokasi yang bagus." Reo menyeringai. "Link-nya akan aku tempelkan ke group chat kita. Oh, dan, Ei-chan apa kau—"
"Tunggu, bisa kita lakukan ini lain kali?"
Reo mengerutkan dahi. "Chi-chan? Tumben."
"Aku," otak Chihiro berputar mencari segudang alibi. "sedang tidak mood."
Tawa Nebuya Eikichi menggelegar. "Apa-apaan kau, Mayuzumi?! Perutku sakit, aduh,"
Reo memekik tertahan, "Chi-chan sedang halangan?"
"Maaf saja, ya," Chihiro mendengus. "Aku ini tidak seperti kau."
"Jadi," Koutarou melipat tangan di atas meja, menatap Chihiro penasaran. "Kenapa Mayuzumi-san tidak mau ikut?"
"Sudah kubilang aku tidak mood—"
"Bohong." Reo dan Koutarou menjawab bersamaan.
Mayuzumi Chihiro mendengus pelan, manik amethyst melirik sinis.
"Yak, karena Chi-chan sudah setuju, kita sepakat pergi malam ini!"
"Siapa yang setuju, hei!"
.
.
.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
.
I gain no profit from this fic
this chapter is written by siucchi
.
.
.
"Kau yakin ini rumahnya," Koutarou menyuarakan pendapat. Dua telapak tangan sengaja digosokkan, menghangatkan diri. "Reo-nee?"
Bangunan tua, halaman depan yang luas, dengan sulur tanaman liar menyelimuti tiang-tiang besi karatan di pagar. Di tengah-tengahnya ada bekas tugu air mancur berlapis semen dan sudah berlumut. Koutarou merinding.
Mansionnya besar, bertingkat tiga, dengan halaman luas yang terasa menyimpan banyak misteri.
"Kalau menurut artikel dan data-data yang kukumpulkan, sih, iya," Reo mengambil kertas dari saku mantel, membaca sejenak, kemudian kembali dimasukkan. "Kou-chan, coba ke dalam. Lihat ada sumur atau tidak."
"L-loh, a-aku?!"
Reo memutar bola mata. "Siapa lagi."
"K-kenapa tidak suruh Mayuzumi-san saja?! A-atau si Gorilla!"
"Apa? Kau takut, ya?"
"Bukannya takut! Reo-nee tahu sendiri, kan, aku yang paling sering kerasukan di antara kalian semua," Koutarou meringis mengingat pengalaman pahitnya. "Rasanya tidak enak, tahu!"
Dengusan tawa mengudara.
"Makanya itu aku menyuruhmu. Sekalian survei, ada atau tidak makhluk astral di sini."
"Dasar kejam!"—dasar banci kejam—tambah Koutarou dalam hati.
"Lagipula Chi-chan dan Ei-chan masih di mobil, malas turun, katanya,"
Koutarou cemberut. "Katanya mau hunting?"
"Memang. Tapi tidak hari ini, kok."
"Jadi kapan?"
"Mungkin lusa, atau minggu depan. Tergantung juga. Kalau di sini tidak ada makhluk yang semacam itu, kita batalkan."
"Semoga tidak ada, semoga tidak ada," Koutarou merapalkan doa.
"Kenapa, sih?" Reo mengernyit. "Biasanya kau yang paling semangat."
"Rumah ini seram, tapi, aku tidak merasakan ada keberadaan makhluk lain," Koutarou berjalan ke arah gerbang utama mansion. "Kalau di tempat-tempat yang sebelumnya, kan, biasanya aku langsung diganggu."
"Mungkin saja hantu di sini lagi clubbing."
"Aku ini ketakutan, Reo-nee!"
"Kau periksa halaman belakang, aku akan berkeliling di halaman depan," Reo mendorong pundak Koutarou dengan kekuatan perkasa. "Tolong, ya, Kou-chan!"
.
Di depan mansion mewah nan angker, sebuah mobil minibus terparkir di seberang, menepi ke samping tiang listrik menjulang ke langit. Chihiro dipaksa ikut menumpang karena katanya mau survei sebentar, dengan syarat tidak ada hunting-huntingan segala.
"Hei, Gorilla, jangan ngorok,"
Eikichi masih dalam pewe, tidur di atas jok kursi mobil dengan tangan yang terlipat di atas dada, mendengkur.
"Sialan, berisik sekali," rutuknya pelan. Light novel di dalam tas hitam segera ditarik. Buku fiksi kecil dibuka tepat pada bagian yang terselip pembatas bergambar gadis moe bersurai merah panjang—karakter fiksi favoritnya.
Mayuzumi Chihiro sedang sibuk menuntaskan hobi kala dua orang pria berlari menghampiri zona nyamannya.
"Mayuzumi-san! Eikichi!" Koutaro tersengal, kedua tangannya bertumpu di atas lutut.
Di belakangnya, Reo ikut memburu napas.
Manik kelabu melirik dari kaca mobil yang terbuka, "Apa sih? Tidak ada setannya, kan? Ayo pulang."
"I-ini gawat!" seru Koutarou langsung.
Reo mengetuk kaca mobil depan, berniat membangunkan Eikichi dari tidurnya. "Hei, Gorilla! Bangun! Kita harus ekspedisi sekarang!"
"Benar! Kita harus mengamati langsung!" tambah Koutarou langsung.
Chihiro mengela napas pelan. Jam tangan dilirik, sudah mendekati waktu makan malam. Kira-kira, adik tersayang di rumah sudah makan belum, ya? Sudah mandi belum, ya? Apa perlu dimandikan?
"Chi-chan!"
Delusi indah langsung disembur oleh tepukan manja Mibuchi Reo di pipi kirinya. Rahang Chihiro mengeras, ia langsung berjengit risih. "Sudah kubilang, aku tidak mau—"
"Cepat!"
Terpaksalah Mayuzumi Chihiro, bersama Eikichi Nebuya yang baru separuh sadar dari mimpinya kini menyebrangi jalan raya sepi. Iris abu-abu menatap bangunan besar di hadapannya, lalu merasakan hawa dingin menyergap.
Chihiro sendiri, sebenarnya tahu bahwa mansion ini menyimpan sejuta misteri. Terasa dari aura berat nan mistis yang membuat bulu kuduk meremang. Sejauh pandangan, tidak ada satu makhluk astral pun yang mampir minta dinotis—lantas dari mana firasat buruk ini berasal?
Koutarou menelan ludah. Di sampingnya Eikichi menguap keras.
"Kita bagi jadi dua tim. Kou-chan dan Ei-chan akan periksa bagian dalam, aku dan Chi-chan bagian luar." Sahut Reo ringan.
"Hei," Chihiro tidak terima.
Reo mendorong punggung Koutarou, "Yak! Masuk duluan, Kou-chan!"
"U-uwaaa!" Koutarou nyaris tersungkur. Terpaksa, ia mendorong pagar berkarat—tangannya dialasi sapu tangan, agar terhindar dari infeksi tetanus.
Chihiro melenguh. Ia dan Reo akan menjelajah di halaman mansion yang tergolong super luas. Dimulai dari tanah berlapis rumput liar setinggi betis, tidak ada yang janggal. Mengisi bosan, Chihiro menendang batu-batu yang berserakan di sepanjang jalan.
"Chi-chan," panggil Reo pelan.
Chihiro malas menyahut.
"Chi-chan~!"
Mendecak sebal, pria bersurai kelabu kini melirik—dan refleks mendaki jarak, "Wa—!"
Reo tertawa puas. Senter diturunkan ke arah jalanan. Barusan ia menggoda partner dengan mengarahkan sorot cahaya ke dagu, lalu menampilkan ekspresi sangar.
Jelas Mayuzumi Chihiro kaget. Waria pasang wajah sangar, dipadu senter pula. Merupakan kombinasi horror, apalagi situasinya mendukung.
"Hahaha, habis Chi-chan diam saja, sih! Jadi bagaimana? Ada hantu, kah?"
Chihiro mendengus, "Jangan mentang-mentang aku bisa melihat mereka, kau jadi memanfaatkan aku begini."
Reo memukul manja, "Jangan gitu dong Chi-chan! Kita ini kan sedang ekspedisi—"
"Mukamu ekspedisi!" potong Chihiro langsung. "Aura mistis di rumah ini berat, tapi tidak ada satu makhluk pun yang nampak. Aku sendiri bingung dengan kondisi di rumah ini!"
Reo terdiam, bibirnya membentuk O kecil. Kemudian menepuk tangan, "Hebat!"
Sebuah batu kecil yang menghalangi langkah langsung ditendang oleh Chihiro. Kini mereka sudah berada di halaman belakang. Senter diarahkan ke arah batu hitam—lalu menyorot sesuatu di depannya. Sebuah kolam ikan yang terbuat dari rangkaian batu alam—dilapisi lumut hijau lantaran genangan air yang sudah mengeruh. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
Termasuk patung ikan yang berdiri kokoh di tengah kolam. Selain debu, terdapat retakan pula di sisi siripnya, kemungkinan tidak terawat dari hempasan angin dan badai hujan.
Hawa dingin menyelimuti, Chihiro sontak berbalik. Ditatapnya halaman gelap, namun matanya tetap tak menangkap sosok apa pun.
"Ada apa, Chi-chan?" senter diarahkan ke lokasi pengelihatan.
Chihiro mendengus, "Tidak, ayo lanjut."
Kini mereka menjelajah ke sisi barat rumah, menjejaki rerumputan liar dan berhenti di hadapan sebuah pohon besar. Sorot cahaya diarahkan ke lekukan akar yang menjalar ke permukaan tanah. Reo menenggak ludah, mengarahkan senter ke puncak pohon—
Kresek, kresek
—dan sontak memutar arah ke rerumputan liar, menyorot seekor tikus yang berlari menjauhi lokasi.
Reo menghembuskan napas lega, "Kukira apa..."
Chihiro mendengus tertahan, "Sudah, tidak ada apa-apa di sini."
"Sayang sekali..." Reo merengut, "kukira kita akan menemukan hantu spektakuler, Chi-chan bilang atmosfer di mansion ini berat, kan?"
Chihiro menyelipkan kedua tangan di saku, "Ya, tapi tak ada makhluk apa pun di sini."
"Aneh... kalau begitu ayo kita lihat Kou-chan, dia kesurupan lagi atau tidak."
Mereka menjelajah dalam damai. Hingga tiba di halaman depan, tim Koutaro dan Eikichi baru saja selesai dari hunting.
"Reo-nee! Mayuzumi-san!"
Dilihat dari antusiasmenya, terbukti Hayama Koutarou tidak kesurupan. Di sisi lain, Reo kecewa karena mengira keadaan di dalam mansion baik-baik saja.
"Tidak ada yang aneh di dalam," sahut Eikichi seraya meraba lekukan maskularis di tangan kirinya.
"Ini aneh! Padahal aku merasakan aura-aura yang sesuatu, tapi aku sama sekali tidak diganggu!" sahut Koutarou setelahnya.
Mayuzumi Chihiro mengerutkan dahi. Ditatapnya mansion mewah bergaya victoria di depan. Tidak ada yang aneh dengan atap hitam mau pun cat dinding yang sudah terkelupas. Tidak pula dengan pintu agung yang setengah terbuka sejak kedatangan mereka kemari.
Keempatnya kini pulang dengan tangan kosong, berharap Ghost Hunting berikutnya akan dapat pengalaman menakjubkan seperti sebelumnya.
.
.
.
Kunci cadangan diraih dari dalam tas, Chihiro membuka pintu dan mendapati ruangan sudah gelap. Padahal ia tidak pulang larut malam, tapi sang adik sama sekali tidak datang untuk menyambutnya pulang.
Sebelum masuk ke kamar, ia menuju kamar Tetsuya untuk menyapa. Tapi diurung karena mendapati memo kecil yang tertempel di badan pintu.
'Jangan ganggu, sedang sibuk skripsi.
Chihiro-nii, kalau mau makan, sana cari di luar. Masakan yang sudah kubuatkan untukmu sudah basi.'
Terlambat sedikit saja adiknya sudah ngambek macam wanita PMS.
Kini Mayuzumi Chihiro beranjak ke kamarnya guna melaksanakan rutinitas. Mandi, lalu tidur.
Ia melempar tas kerja ke atas ranjang, kemudian melepas dasi. Pintu lemari dibuka, menampilkan cermin vertikal yang merefleksikan seluruh tubuhnya. Sambil melenguh pelan, jari-jarinya terampil melepas kancing kemeja.
Alisnya bertaut kala mendapati sesuatu di pojok dinding, tepat di samping ranjang. Sesosok makhluk transparan sedang berpose duduk—padahal tidak ada bangku disana. Samar-samar tampak jelas warna cerah di rambutnya, senada dengan kaos merah yang dikenakannya.
Ah, paling nanti pergi sendiri, batin Chihiro apatis.
Kini ia melepas seluruh pakaian yang membungkus tubuh, kemudian menuju kamar mandi dan berendam di bathtub.
.
.
.
Pagi yang sama.
Mayuzumi Chihiro beranjak ke dapur dan menemukan entitas biru muda sedang menghidangkan sarapan di atas meja. Langkahnya kian cepat saat menghapiri sang adik, "Tetsuya," panggilnya ringan.
Kuroko Tetsuya mengernyit, "Apa?"
Jari-jari tegas Chihiro diarahkan ke surai biru muda, merapihkan bed hair yang selalu tampak kala pagi tiba. "Bisa-bisanya rambutmu sampai sebegini berantakannya."
Tetsuya hanya menatap datar. "Chihiro-nii, minggu ini aku mau fokus buat skripsi, jangan ganggu aku."
"Aku tidak akan mengganggu adikku sayang."
"Kalau begitu jangan lama-lama merapihkan rambutku."
"Kenapa kau sedingin ini? Padahal dulu kau bilang ingin menikah dengan Chihiro-niichan."
"Kapan."
"Dulu, lima tahun."
"Otak Chihiro-nii sudah geser, ya? Kelamaan bergaul dengan makhluk halus membuat Chihiro-nii jadi bodoh begini. Apa jika jadinya laki-laki dipasangkan dengan sejenisnya."
Chihiro mengacak rambut adiknya, "Itu karena Chihiro-nii sayang Tetsuya. Yuk, makan."
.
.
.
Sepeninggal Mayuzumi Chihiro, Kuroko Tetsuya kembali berjibaku dengan tugas. Ia sedang merevisi makalah yang dicoret-coret dosen pembimbing ketika sesuatu menginterupsi geraknya.
Manik azure mengedar pandang ke seisi kamar bercat biru muda. Tengkuk digaruk, bulu kuduk berdiri. Mengabaikan gangguan, Tetsuya melanjutkan kesibukan.
Cklek
Tetsuya terkesiap. Pintu kamar terbuka seketika. Ia langsung beranjak dari meja belajar ke arah pintu kamar. "Chihiro-nii?" panggilnya, siapa tahu si kakak sudah pulang kerja meski hari masih pagi.
Tuk
Refleks kepala bermahkota biru muda menoleh ke arah sumber suara, memandangi sebuah bolpoin yang jatuh dari atas meja. Kini Tetsuya menerka-nerka, hal apa yang dapat menyebabkan terjadinya fenomena demikian? Jelas meja belajarnya memiliki pembatas rendah di pinggiran kayunya, lantas hal apa yang mendorong si jabang pulpen jatuh menggelindingi penghalang?
Tetsuya memungut bolpoin hitam di atas lantai, lalu meletakkan kembali ke atas meja. Ia menghela napas berat, kemudian beranjak keluar kamar.
"Chihiro-nii?"
Tak ada suara.
Tetsuya kembali ke kamar.
"Wahai angin yang kesepian, tolong jangan ganggu aku karena aku sedang sibuk membuat skripsi. Pahamilah, aku tidak mau jadi mahasiswa abadi. Kalau kau ingin bermain, temuilah kakakku, jangan aku."
Kalimat itu dirapal bagai mantra.
.
.
.
Meski kakaknya tidak pulang terlambat, Kuroko Tetsuya tak ingin menyambut. Ia tidak menghabiskan waktu untuk meladeni kakaknya yang minta pelukan hangat di luar pintu.
Setelah dipastikan tak ada suara di luar, Tetsuya beranjak ke dapur. Ia membuka kulkas dan meraih sebongkah bawang putih.
.
.
.
"Tetsuya~"
"Tet~su~ya~"
Kuroko Tetsuya menggelengkan kepala, memejamkan mata erat-erat.
"Aku bukan Vampire, tidak mempan dikasih bawang putih~"
Sontak manik biru muda mengerjap.
Jelas sekali.
Suara barusan jelas berbisik di telinganya.
Jam dinding dilirik, pukul lima pagi.
Ya, peliharaan Chihiro-nii cukup bagus juga untuk jadi alarm-nya pagi ini.
Sambil memijat pelipis, Tetsuya beranjak ke luar kamar. Menuju wastafel untuk membersihkan mulut dan mencuci muka. Dipandanginya sosok diri di cermin. Dahinya mengernyit.
Sehelai rambutnya seperti ditarik ke atas—mata Tetsuya menatapnya lamat-lamat. Di belakangnya memang terasa hawa asing, tapi seharusnya peliharaan Chihiro-nii ini sudah musnah dikarenakan semalam ia menyajikan bawang putih.
Teringat bisikan setan yang membangunkan tidurnya barusan.
Tangan ringkih terarah ke kepala, mengibas rambut sekali dan memastikan tak ada sesuatu pun yang mengganggu bed hair-nya.
.
Tetsuya sedang memanggang roti ketika Chihiro muncul di dapur.
Alisnya menukik, "Berantakan sekali kamu, Tetsuya."
Meletakkan selembar roti ke atas piring, Tetsuya mengabaikan ucapan sang kakak.
"Skripsi? Padahal kemarin kau semangat 1 on 1 di perpustakaan."
"Aku hanya mau rehat sebentar, Chihiro-nii. Sekarang Ogiwara-kun juga sudah sibuk skripsi sama sepertiku."
"Mau kubantu?"
Mengingat kesalnya akan peliharaan sang kakak, Tetsuya menggeleng pelan. "Tidak, Chihiro-nii jangan ganggu aku."
.
.
.
Mayuzumi Chihiro melangkah tegap menyusuri lorong gedung. Ini hari sabtu, tapi ia tetap harus datang ke kantor guna menuntaskan pekerjaan. Di bulan ini ada banyak cuti, sehingga hari sabtu karyawan diwajibkan hadir untuk mengganti hari liburnya.
Padahal Chihiro ingin di rumah saja bersama adiknya, sambil membaca novel atau jalan-jalan ke toko buku, misalnya.
"Chi-chan~!"
Mengabaikan panggilan pria berkedok waria di seberang, Chihiro menuju lokernya sembari meletakkan tas.
Pria bertubuh besar menghampiri sambil menguap lebar, "Sial, padahal hari sabtu aku ingin melatih otot-ototku ini, tapi malah harus kerja."
Di arah berlawanan, lelaki pirang berlari ke arah mereka, "Pagi, semuanya!"
Sebenarnya Chihiro ingin bebas dari tiga rekan kerjanya ini. Ingin menyendiri sambil khusyuk membaca novel. Apalagi hobi mereka yang cukup mengganggu ketenangan hidupnya.
"Kita harus cari lokasi baru untuk Ghost Hunting minggu depan!"
Ini dia.
"Heee? Tapi jangan aku lagi yang jadi tumbal, Reo-nee!"
Loker ditutup, Chihiro beranjak dari lingkaran.
"Eh, Chi-chan dingin sekali hih~ padahal kemarin malam kita berduaan, hihihi,"
"Mencari hantu, maksudmu?" Chihiro mendengus.
"Oh, iya, jadi tidak ada apa-apa ya di mansion itu? Sayang sekali, padahal suasananya suram." Gumam Koutaro pelan.
Teringatlah Chihiro dengan sosok merah yang sempat mengikutinya malam itu. Tapi toh akhirnya dia pergi juga, jadi tak ada yang perlu diceritakan.
"Jangan-jangan dia takut dengan otot-ototku ini," sahut Eikichi ringan.
Reo hanya melirik sembari merogoh bedak di dalam tas, sedangkan Koutaro hanya memandang tanpa minat.
Chihiro menghela napas, "Pokoknya aku tidak mau lagi ikut-ikutan yang seperti ini."
"Aih, jangan gitu dong!" sembur Reo langsung.
Koutaro mencubit dagu, "Yah... asalkan aku tidak kesurupan lagi, sih..."
"Pokoknya aku tidak mood." Ujar Chihiro pendek.
"Sayang sekali Chi-chan, sebenarnya aku sudah dapat rekomendasi tempat yang mau kita kunjungi minggu depan~"
Mengabaikan sahutan Mibuchi Reo, ketiga pemuda memandang lurus.
Mereka berjalan menyusuri lorong, siap bekerja bersama.
.
.
.
Prang!
Dug!
Bug!
"Waaah—!"
Berbagai peralatan dapur dilempar ke arahnya. Mayuzumi Chihiro sampai kayang demi menghindari panci melayang.
"Apa ini, Tetsuya?!"
Tubuh si pria kelabu memutar, menghindari tabung gas yang terlempar ke arahnya—membentur dinding sampai membuat retakan halus.
Kepala bermahkota abu-abu menoleh patah-patah.
Tersebutlah Mayuzumi Chihiro baru saja pulang kerja, ingin menemui adik tercinta, tapi malah dihadiahi jurus lemparan perkakas dapur. Mulai dari pisau, talenan, panci, sampai tabung gas. Kuat sekali adiknya ini.
"Pokoknya aku minggat sampai peliharaan Chihiro-nii pergi!"
Bersamaan dengan hilangnya hawa keberadaan, terdengan debaman keras.
Chihiro tersadar dari lamunan setelah bengong melihat sang adik berlari sambil menyeret koper. Ke mana gerangan si adik pergi meninggalkan dirinya yang masih sendiri ini.
"Tetsuya, kenapa?!" panggil Chihiro cepat, namun tak diindah. Sosok biru muda sudah hilang ditelan tipisnya hawa keberadaan.
Mayuzumi Chihiro melenguh frustasi. Peralatan dapur yang berserakan di lantai segera dirapihkan. Pisau dikembalikan ke tempatnya, panci digantung, tabung gas dipasang lagi.
Ini kan malam minggu, paling Tetsuya pergi menginap di rumah temannya yang bernama Ogiwara-Ogiwara itu.
.
.
.
Pagi telah tiba.
Minggu yang bermakna tanpa seorang adik, maka hampalah hari liburnya.
Seberkas sinar jatuh menyorot retina, memaksa mata kelabu mengerjap. Chihiro menggosok wajah, memandang lurus jendela berhording merah yang tinggal setengah.
Tunggu sebentar.
Chihiro mengusap mata sembari menegakkan tubuh. Setelah menguap pelan, ia memandangi jendela lagi.
Di lantai terdapat selembar kain merah yang dikenalnya.
"Apaan?" gumam Chihiro pelan. Ia beranjak dari ranjang menuju titik kecurigaan, kemudian mengernyit.
Dipandanginya lagi hording merah yang tinggal setengah.
Tunggu sebentar.
Hordingnya... dirobek?
Memang sih hordingnya ini tidak dicuci hampir lima bulan, tapi bukan begini caranya ia ditegur.
Masih lelah, kini Chihiro beranjak lagi ke tempat tidur. Telentang bebas dan memandang langit-langit.
Ekor matanya menangkap entitias merah di samping lemari.
Chihiro menguap, lalu melanjutkan tidurnya.
.
.
.
Tidak ada yang melarang Chihiro untuk tidur seharian kala sendiri di rumah. Tetsuya sedang marah entah kenapa, dan ia juga malas memasak.
Malam ini ia ingin pergi ke luar untuk mencari sesuap nasi.
Mayuzumi Chihiro bangun dari ranjang, lalu mengernyit samar. Tatapnya mendapati pemandangan aneh yang tersaji di depan. Sejak kapan sepreinya kusut dan berantakan sampai terlepas dari posisi? Belum lagi... bercak-bercak basah yang aneh di kasur.
Kepala abu-abu digeleng cepat. Chihiro berpikir keras.
Memang benar tadi ia sempat memimpikan adiknya, tapi bukan berarti ia mimpi basah! Chihiro berani bersumpah ia tidak ada mengigau sampai masturbasi sendiri saat tidur.
Sontak manik kelabu mengerjap—lalu turun ke bawah. Kedua tangan meraba karet celana pendek, mendapati tubuh bagian bawahnya masih terbungkus rapih. Tidak ada kelembaban, Chihiro yakin sekali.
Lalu apa gerangan yang terjadi? Dari mana noda basah ini datang untuk menodai sepreinya?
Apa Tetsuya-nya pulang dan membuat keisengan?
Kesimpulan akhir langsung didapat.
Chihiro teringat akan sosok merah yang pernah muncul sebelum ini.
Tapi toh tetap diabaikan.
Sebelum Tetsuya pulang—dan menemukan kesalahpahaman ini—Chihiro segera mencabut seprei dan membawanya ke kamar mandi. Meraih deterjen berekstrak lemon, lalu mencucinya sampai benar-benar bersih.
.
.
.
"Ini sudah senin, Tetsuya." ujar Chihiro berat.
"Pokoknya aku tidak mau pulang kalau peliharaan Chihiro-nii masih di rumah!"
"Peliharaan apa, sih? Aku tidak melihara apa-apa."
"Aku tidak peduli, kututup."
Mayuzumi Chihiro melenguh keras. Ponsel dilempar ke ranjang, lalu buru-buru menyimpul dasi. Hari ini ia buru-buru berangkat kerja karena sempat terlambat bangun.
Rasanya semalam ia mimpi indah, namun kunjung lupa kala pagi tiba.
Dan itu sudah biasa.
Menyambar kunci mobil yang tergantung di sisi pintu, Chihiro segera menuju garasi. Mobil dipanaskan, pintu rumah dikunci rapat-rapat. Ia segera menunggangi mobilnya dan melaju menuju kantor.
.
Tatap mata tertuju pada satu destinasi, Mayuzumi Chihiro. Ekspresi mereka beragam, tapi satu makna. Takjub dan kagum ketika mendapati Chihiro melintas. Mulai dari lahan parkir sampai ke beranda gedung, setiap orang melihatnya dengan penuh makna.
Chihiro mendeham berat. Baru tahu ya kalau aku ini tampan? Kemana saja kalian. batinnya seraya mengangkat kedua alis.
Ia tiba di lokasi kerja, menghampiri tiga orang kawan yang sedang bergosip di spot kerjanya.
Reo menatap takjub sampai menganga lebar, belum lagi jari lentik yang diarahkan menutup separuh mulutnya. "Haaah, Chi-chan...?!"
"Ma-Mayuzumi...-san...?" Koutarou nampak terkejut.
Sedang pemanasan sedikit, Eikichi ikut menoleh. Matanya membola, "He-hei...?"
Mayuzumi Chihiro memutar bola mata, "Oh, ayolah, masa' kalian juga terpesona?"
Reo yang sedang menabur bedak ke wajahnya kini langsung beralih. Ia menghampiri Chihiro seraya menepuk punggung si pria, lalu terkikik anggun. "Ya ampun Chi-chan, mau pamer, ya?"
Chihiro berjengit, "Apa, sih."
Reo masih tertawa, "Ih, kamu, pura-pura tak tahu ya~"
Chihiro sedang disentil-sentil oleh pria cantik ketika seorang pria jangkung lainnya melintas sambil melontarkan omelan.
"Hei! Kalian! Kenapa belum ke lapangan untuk senam pagi?!"
"Eh, eh, Shuu-chan~ sini, deh! Lihat nih Chi-chan pamer banget~" sahut Reo riang, sambil mengedip manja.
Langsung Nijimura Shuuzo mengambil langkah mundur, "Ja-jangan dekat-dekat!"
Pundak Chihiro ditepuk oleh telapak tangan yang tegas. Manik hijau berkilat, Koutarou memasang mimik serius. "Selamat, Mayuzumi-san."
Eikichi berdeham, kini menatap intens ke manik kelabu. "Ya, aku juga turut sukacita, Mayuzumi, selamat."
Chihiro mengerutkan dahi. Oh, ayolah, hanya karena ia bersikap tampan sedikit saja orang-orang mulai merubah pandangan. Padahal Mayuzumi Chihiro masih sama. Sama gantengnya dengan hari-hari kemarin. Mereka saja yang telat sadarnya.
Nijimura hanya mendecak sembari melintas cepat, "Setidaknya pakai syal atau apa gitu. Sudah, sudah! Cepat ke lapangan sekarang!"
Chihiro menggosok tengkuk, "Syal?"
Reo mengibas tangan, "Hihihi, benar apa kata Shuu-chan~"
"Aku tidak mengerti. Aku tidak sakit atau apa."
"Ini lho, ini," jari telunjuk Reo terarah ke sisi kanan jenjang leher Chihiro, kemudian terkikik pelan, "Chi-chan sekarang pamer, nih!"
Chihiro mengermyit. Bedak milik Reo di atas meja langsung diraih, flip dibuka. Dalam diam Chihiro menatap sosok diri pada cermin persegi panjang.
Melihat sesuatu yang terekspos di kulit lehernya.
"Astaga," gumamnya cepat.
Bercak merah—bekas gigitan nyamuk—di jenjang leher segera diusap. Chihiro mendecak sebal, siapa pula yang berani membubuhkan 'tanda' di kulit lehernya? Pantas orang-orang menatapnya bingung, ternyata memang Chihiro yang salah paham.
Teringatlah ia akan mimpi semalam. Rasanya seperti diserang Vampire, ternyata memang ada yang menghisapnya. Buktinya bercak merah yang seolah mengisyaratkan akan tanda kepemilikan di leher.
Mengabaikan tiga rekan kerja yang tertawa, Chihiro menggeram.
Seenaknya saja itu setan merah. Padahal dirinya hanya untuk Tetsuya seorang.
Chihiro berjanji dalam hati, ketika pulang nanti, ia akan menghantam si makhluk astral yang sudah merecoki hari dan mengganggu keharmonisannya dengan adik tersayang, Tetsuya.
.
.
.
tbc
siucchi's a/n :
habedey novt, makin tjinta otepeh yah.
annovt's a/n :
iya salah ultah kemaren wkwk
hhhhhhaiiii ada yang masih inget fanfik jamuran ini? /hush
jadi saya memutuskan untuk mengubah fik ini jadi fik collab...dengan menjerumuskan siucchi
10 persen dari chapter 1 saya yang buat:") iya cuma segitu
ahahahah x) chapter 2 nanti akan ditulis oleh saya
siucchi ngapain nunggu chap selanjutnya kan kamu yang ngetik neng AHAHA /dirajam Furi Shirogane halo~ iya emang mayu brocon akut hahaha. nah kalo bang niji jodoh mungkin bakal ikutan geng sesat mereka. ah tapi jangan ding kasian ghostreader udah lanjut ya. neng cuya saya yang culik XD Akkurren612 gabisa liat dia, ngerasin doang, ini udah update yaa synstropezia niji ikut/engga kita liat nanti yaaa hakhakhak. udah dilanjut~ Caesar704 updated, silakan~ Faicentt punya radar mayukuro nih? kkkk udah dilanjut ya SheraYuki situ pyua? cih. /APAAN aduh masa lalu jangan diungkit shera kan maloe...DASAR SPOILER bayangin sendiri aja :^)
