Mengabaikan tiga rekan kerja yang tertawa, Chihiro menggeram.

Seenaknya saja itu setan merah. Padahal dirinya hanya untuk Tetsuya seorang.

Chihiro berjanji dalam hati, ketika pulang nanti, ia akan menghantam si makhluk astral yang sudah merecoki hari dan mengganggu keharmonisannya dengan adik tersayang, Tetsuya.

.

.

.

Geest

an original fanfiction written by annovt & siucchi

Kuroko no Basket (c) Tadatoshi Fujimaki

.

Happy bornday, Akashi Seijuurou~!

(Meskipun anime-nya udah tamat, kamu tetep ganteng, kok. -annovt)

.

.

.

Berdeham, Chihiro mengembalikan cermin saku pada Reo.

"Mibuchi," suaranya bergetar, Chihiro sedang malu maksimal. "kau bawa syal?"

"Oh. Selaluuuuu~" Reo mengedip centil lalu dengan cekatan mengobrak-abrik laci meja kerjanya. Syal berwarna hijau lumut ia serahkan kepada Chihiro.

"Trims," Chihiro mengenakannya dengan tergesa.

"Aww, coba saja warnanya pink," ujar Reo manja.

Syukurlah warnanya hijau. Batin Chihiro nelangsa. Mungkin besok ia akan menraktir Reo di kedai kopi. Tanda terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawanya hari ini, sebelum ada pasang mata lain yang melihat. Yah, meskipun ia yakin gosipnya sudah menyebar. Dalangnya seratus persen adalah Mibuchi Reo itu sendiri.

"A-aku tunggu kalian berempat di lapangan dalam lima menit!" Perintah Nijimura kemudian pergi dari teritorial mereka berempat dengan kaki yang dihentakkan.

"Apa, sih," Reo menggerutu. "dari kemarin sewot terus."

Chihiro dengan risih membenarkan letak posisi syal pinjaman. Rasanya benar-benar kaku, dan agak sesak. Mungkin karena ini milik seorang waria.

Melihat Chihiro yang gelisah, sepintas ide jahil terlintas di otak cermat Reo.

"Kou-chan, sini, deh." bisik Reo dengan volume rendah, tetapi masih dapat terdengar oleh Koutarou.

"Apa, Reo-nee?" Koutarou mendekat, tapi masih jaga jarak. Mengantisipasi kali-kali saja Reo-nee kumat, dan langsung main sosor mengecupnya.

"Coba cari OB, terus pinjam remote AC,"

"Hah?" Koutarou mengernyit. "Untuk apa?"

Reo mendecakkan lidah. "Turuti saja," alisnya menyatu, dahinya berkerut. Koutarou sudah dibekali banyak pengalaman bahwa tidak baik membuat banci murka.

"Tapi, bukannya kita mau senam pagi?"

Reo memutar pandangannya. "Pinjam saja dulu sana. Aku sengaja menyuruhmu karena aku tidak mau melewatkan acara senam pagi," Ia mengedip genit pada Koutarou.

"O-oke," Koutarou mengangguk kaku. "baiklah." jangan berkedip padaku, tambahnya, dalam hati.

.

.

.

Dengan lari kilat, Koutarou sampai di pantry yang terletak pada lantai dua, sedangkan ruang kerjanya sendiri ada di lantai lima.

Terengah-engah, Koutarou mendobrak pintu dan membuat Haizaki yang sedang meminum kopi tersedak.

"U—huk—sial, jangan mengagetkanku, dong!"

"Ya, maaf. Terserahlah," jawab Koutarou apatis. Haizaki mendecih. "Kau lihat OB?"

"Tidak,"

"Kenapa kau di sini?"

"Aku bolos senam pagi. Masalah?"

"Memangnya aku peduli?"

"Barangkali kau punya hobi mencampuri urusan orang lain," ledek Haizaki. "Dan, oh, jangan sampai kau mengadu pad—"

"HAI-ZA-KI."

Suara itu bahkan berkumandang lebih mengerikan daripada milik dewa kematian, bagi Haizaki. Hawa mencekam, aura sarat akan intimidasi dan tatapan menakutkan, mampu mengirimkan arus listrik bertegangan tinggi padanya yang sekarang sudah mundur dengan sendirinya hingga punggungnya menabrak dispenser.

"Mampus." Gumamnya berkeringat dingin.

Koutarou sendiri diam-diam memeletkan lidahnya pada Haizaki yang kini sudah mengoleksi memar dengan diameter beragam—oleh akibat Nijimura Shuuzo.

Mungkin terlalu sibuk dengan mangsanya, Nijimura bahkan tidak menyadari entitas Koutarou yang berdiri di sana.

Kepala emas ditolehkan ke kiri dan kanan, mencari keberadaan sebatang remote.

"Ah," matanya menangkap objek di atas meja kopi simetris. "Pinjam dulu, ya." izinnya, kepada siapapun yang mendengarkan.

.

.

.

Mengantongi remote AC, Koutarou kembali berlari. Kali ini menuju lapangan. Menggerling ke seluruh penjuru, ia menemukan Reo yang kini sudah melakukan warm up, padahal musiknya belum diputar.

Ia bahkan menemukan sosok yang baru saja diberi kasih sayang oleh senior, berdiri pada barisan paling depan, di belakangnya ada Nijimura yang senantiasa akan siap menendang bokongnya kapan saja Haizaki melakukan gerakan yang salah. Begitu gambaran yang terlintas di kepala Koutarou.

Menghampiri Reo, Koutarou menyerahkan remote yang sedari tadi ada di sakunya.

Mengelap keringatnya dengan elegan, Reo mengambil remote tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celana.

"Makasih, Kou-chan," Reo tersenyum. "Sini cium dulu."

"Y-ya," Koutarou dengan gesit mundur tiga langkah. "Memangnya untuk apa, Reo-nee?"

Kedua sudut bibir Reo naik ke atas, menyeringai lebar. Koutarou bersumpah itu lebih seram daripada kuntilanak manapun.

"Untuk teman kita yang tersayang."

.

.

.

Senam pagi selesai. Semua karyawan kembali ke ruangan masing-masing dengan tubuh bugar, kecuali Chihiro yang bermandikan keringat karena terus mengenakan syal selama senam berlangsung.

Kembali ke ruangannya, Chihiro mengambil kertas tak terpakai untuk dijadikan substitusi dari kipas.

"Kenapa panas sekali, sih," Chihiro sedikit melonggarkan lingkaran syal pada lehernya. "Ini sudah mau musim gugur, kan."

Dari meja sebelah timur, suara melengking namun berat menyahut manja.

"Duh, iya, nih~" Reo mengibaskan rambutnya. "Bedak di wajahku bisa luntur nanti,"

Reo-nee jahat, ih. Kapan dia mematikan AC-nya? Aku tidak tahu. Koutarou sengaja buang muka. Tidak berani melihat Chihiro yang sudah diujung ajal karena kepanasan. Maafkan aku, Mayuzumi-san.

Kalau aku tahu itu untuk mengerjai Mayuzumi-san, mungkin aku akan memikirkannya dua kali. Koutarou pura-pura tuli, tidak mau mendengar racauan Chihiro dan Reo-nee yang saling bersahutan. Meskipun yang menyuruhku Reo-nee.

...Panas. Kantor macam apa yang pendingin ruangannya mati? Chihiro mencari paper clip, untuk menjepit poninya yang sudah terlalu panjang. Malas dipotong. Karena Tetsuya pernah bilang bahwa ia cukup bagus dengan gaya rambut seperti itu.

Tetsuya... Chihiro kembali galau.

Chihiro menatap ke seberang, meja si Gorilla yang pemiliknya sendiri sudah memasang tampang 'bodo amat', dengan kemeja berlengan panjangnya yang tergeletak di lantai sembarangan, menampilkan otot-otot kencang terlatih berwarna kecoklatan. Mungkin ia tidak bisa segamblang Eikichi, dan masih punya—sedikit—malu, maka Chihiro hanya meloloskan dua kancing teratas kemejanya, daripada harus melepas syal yang menutupi jejak kemerahan misterius itu.

Aku ingin segera pulang.

"Pakai bajumu, hei!" Nijimura yang—entah kenapa selalu kebetulan—lewat, menegur Eikichi, hanya dibalas anggukan olehnya.

Memang dasar Nijimura yang kepo atau tidak suka empat sekawan itu atau juga ia merupakan pecinta kesempurnaan, Nijimura sengaja menginjakkan kakinya di teritorial mereka, dan tanpa sadar sudah bergabung di lingkaran orang bodoh bersuhu rendah.

"Kenapa di sini panas sekali?" Ia bertanya heran.

"Tidak tahu. Coba kau tanya pendinginnya," Chihiro menjawab singkat tanpa perlu repot-repot menatap Nijimura, yang sekarang sudah menggerlingkan tatapan sinis padanya.

Dasar menyebalkan. Nijimura mendesis. "Nebuya! Pakai bajumu. Ini kantor bukan klub malam dan kaupun bukan penari tiang,"

Tawa Reo dan Koutarou meledak.

"Penari tiang katanya!" cekikik Reo kehabisan napas.

"Tiang apa yang ia pakai? Tiang listrik?" dan Koutarou yang menertawai lawakannya sendiri.

Chihiro hanya mendengus memerhatikan Eikichi memungut kemejanya, dan kembali memakainya disertai dengan gerutuan.

"Bagus. Teruskan kerja kalian. Jangan buat ulah." titah Nijimura dingin, membuat ketiganya mencibir kecuali Chihiro.

"Kerjaanmu sendiri itu apa. Keliling kantor, sok sibuk sekali."

Chihiro, menyahut tak kalah dinginnya, menantang Nijimura untuk beradu argumen. Reo sudah mengambil ponsel, siap merekam untuk nantinya dimasukkan ke dalam blog pribadi di kolom Daily Dosage of Rakuzan Squad.

"Ah, ini dia," Koutarou memutar pandangan.

"Kita memasuki sesi Debat Dua Lelaki Tampan episode 20, pemirsa," Reo berucap, sementara perekam video terus berjalan.

"Setidaknya aku memenuhi kriteria sebagai karyawan teladan di sini, dan yang jelas aku adalah seniormu," Nijimura menatap sengit.

"Kukira predikat junior-senior hanya berlaku di sekolah menengah. Ternyata sampai sekarang, pun, masih, ya?

"Di mana rasa hormatmu, hah?" Nijimura memiliki sumbu kesabaran yang terlampau pendek. Chihiro sebagai api akan menyulut emosinya.

"Apa aku harus menghormati orang yang lebih pendek dariku? Dan, bukannya aku satu tahun lebih tua?"

"Siapa yang akan peduli hal semacam itu," Nijimura melangkah maju, menarik syal yang melilit pada leher Chihiro, membuatnya sedikit sesak. "Jangan macam-macam, Mayuzum—"

Posisi Chihiro yang duduk, membuat ia terpaksa mendongak saat syalnya ditarik oleh Nijimura yang otomatis menunduk, melihat sesuatu yang cukup membuatnya... geli.

"...Aku," Nijimura melepaskan cengkramannya pada Chihiro. "Tidak tahu kau punya pacar yang agresif. Semoga berhasil. Sampai jumpa."

Bunyi hentakkan pantofel Nijimura semakin menjauh, membuat Chihiro mengernyit bingung.

"Oke, cut!" Reo menjentikkan jari. "Kita dapat empat menit. Lumayan,"

"Hei, si Nijimura tadi kenapa?" tanya Koutarou.

Chihiro masih terdiam di tempat duduknya. Tingkah Nijimura yang tiba-tiba membeku sesaat tadi membuatnya sedikit penasaran.

"Mau ke mana, Chi-chan?" Reo bertanya saat melihat Chihiro bangkit dari kursi putarnya.

Ia tidak menjawab, melainkan mempercepat langkahnya menuju satu destinasi.

Toilet.

.

.

.

"Reo-nee! Hidupkan AC-nya! Aku kepanasan," kesal Koutarou, yang sedari tadi tidak digubris Reo karena sibuk dengan kipas angin portabel. "Memangnya kenapa dimatikan, sih?"

Mengambil kaca di atas meja, Reo membenarkan letak bulu matanya. "Tadinya aku ingin lihat apakah Chi-chan akan melepas syal itu, karena, kau tahu kan apa yang dia tutupi?"

"Oh, ya," Koutarou tiba-tiba memerah. "bekas gigitan nyamuk, kan."

"Ya, gigitan nyamuk." Reo menyeringai. "Ternyata Chi-chan bebal juga, ya. Tidak mau dilepas."

"Kenapa Reo-nee terobsesi sekali, sih?"

"Tidak ada alasan lain, kok," Reo menyahut entang. "Hanya iseng."

"Iseng," ulang Koutarou. "iseng-iseng berbahaya,"

"Hm? Kau bilang sesuatu?"

Koutarou tersentak, "T-Tidak. Oh iya, kapan kita hunting lagi?

"Hunting, ya..." Reo menerawang. Mungkin lusa. Pulang kantor nanti mau kita diskusikan atau aku saja yang urus?"

"Diskusi, diskusi!" seru Koutarou. "Ya, kan, Gorilla?!" Diskusi berarti nongkrong gratis karena Reo akan membayar semuanya.

Eikichi tersentak karena terlalu fokus pada layar komputer, "O-oh, iya."

.

.

.

Melepaskan syal yang menyimpan sejuta rahasia, Chihiro lalu menyalakan keran wastafel kemudian merendam wajahnya di sana.

Beberapa bulir air menyangkut di surai abunya, ada juga yang menetes membasahi sedikit bagian atas kemejanya.

Chihiro menggertakkan gigi, kesal.

Di depan kaca, ia memiringkan sedikit kepalanya, menampilkan permukaan samping leher yang sudah tidak bersih lagi.

"Ini siapa atau apa yang menggigitku, hah."

Menghela napas, Chihiro membuka kancing ke-tiga dari kemejanya, dan hampir memecahkan cermin wastafel.

"...Astaga," keluh Chihiro lelah. "Jadi ini kenapa si Nijimura tadi tiba-tiba lari."

Di permukaan dada bidang, sekitar satu jengkal dari dagu, Chihiro bisa menemukan lebih banyak lagi tanda merah yang tertanam pada epidermis kulitnya.

"Dasar makhluk pengganggu," Chihiro kembali mengancing semua kemejanya, mengenakan syal, mematikan keran, dan kemudian keluar dengan membanting pintu toilet.

.

.

.

"Chi-chan? Mau ikut diskusi, tidak?" Reo membereskan barang-barangnya seraya bertanya pada Chihiro, yang baru kembali dari toilet.

"Pulang, pulang~ Diskusi, diskusi~ Makan gratis~" Koutarou bersenandung girang, sementara Eikichi berjalan keluar sambil terus mengelap air liur.

"Diskusi apa?" sahut Chihiro, memasukkan beberapa pekerjaan untuk dibawa pulang ke rumah.

"Hunting~"

Tubuhnya membeku, masih trauma karena terakhir kali mereka melakukannya, ia diikuti makhluk halus.

"Pass,"

"Ayolah, Chi-chan~"

"Bye."

"Dasar membosankan," cibirnya.

"Memang."

Bibir Reo mengerucut, tanpa sempat membujuk rayu, Chihiro sudah menghilang di balik pintu.

.

.

.

Chihiro melangkah dengan tergesa menuju parkiran mobil. Hari ini ia lalui dengan berat. Sangat.

"Sial," rutuknya. "Giliran Tetsuya minggat malah tidak ada lembur. Cih."

Masuk ke dalam kendaraan miliknya, ia melepaskan syal milik Reo yang sepanjang hari terus melekat di lehernya. Menutupi jejak—entah milik siapa atau apa—sepanjang hari telah membuatnya malu.

"Ternyata benar," Chihiro menghela napas. "mobil ini memang bau kemenyan." Kemudian tersenyum kecut.

"Aku rindu Tetsuyaaa!" Ia membanting kepalanya pada setir mobil.

"Tetsuya, Chihiro-nii akan menjemputmu setelah menyelesaikan masalah di rumah kita."

Chihiro mengangguk mantap.

"Memangnya rumah kita ada masalah apa, Tetsuya?" Ia terus bermonolog sendiri, mengernyitkan dahi.

"Kau pergi tanpa meninggalkan sepatah kata atau apapun!"

Surai abu diacak-acakkan, rasanya Chihiro terserang migrain tiba-tiba.

"Aku harus segera pulang."

.

.

.

Sampai di suatu cafe, mereka mengambil tempat tersudut, jauh dari jangkauan pandang penglihatan orang lain.

Koutarou masih semangat memesan beberapa donat dan secangkir kopi, mumpung ditraktir. Sedangkan Eikichi sedikit kecewa Reo tidak membawa mereka ke restoran.

"Tidak ada pesanan membludak! Ini tanggal tua. Mengerti?"

"Siap, Reo-nee! Jangan khawatirkan aku. Yang harusnya diperhatikan, ya, si Gorilla ini," sindir Koutarou, membuat Eikichi lepas dari lamunannya.

"Apa maksudmu, hoi!"

"Jangan berisik," timpal Reo, menyalakan laptopnya. "Aku mau berkonsentrasi."

Koutarou dan Eikichi langsung patuh, membungkam mulut mereka rapat-rapat.

"Kalian mau hunting di mana?"

"Di tempat yang seram!" seru Eikichi.

"Tempat yang tidak ada hantunya," Koutarou bergumam merinding.

"Mana kita tahu tempatnya berhantu kalau tidak didatangi, Kou-chan,"

"Habisnya nanti aku kesurupan lagi!"

"Aku akan mengusir hantunya. Tenang saja," Reo menenangkan dengan mengedipkan matanya, membuat Koutarou tambah ketakutan.

"Hei, rumah yang kemarin kita datangi tidak jadi ditelusuri lebih dalam?" sahut Eikichi.

"Sepertinya tidak, soalnya Chi-chan tidak mengatakan apapun yang seram tentang rumah itu," Reo menyambungkan koneksi internet di laptopnya dengan free wi-fi yang tersedia.

"Tapi aku menggigil saat di sana," Koutarou mengucapkannya dengan bibir yang bergetar.

"Itu karena kita pergi pada malam hari." balas Reo malas.

"Sebenarnya aku juga menggigil," kata Eikichi, "dan aura rumah itu sangat mencekam. Serius."

Reo membuka browser dan mencari artikel tentang apa saja yang berbau mistis.

"Aku agak tertarik, sih, dengan rumah kemarin," Koutarou menyeruput minumannya.

"Nah, aku juga," timpal Eikichi.

"Aneh kalau tidak ada makhluk halus atau apapun di sana," Reo mengernyitkan dahi, matanya masih tertuju pada layar berjuta piksel.

"Kenapa, Reo-nee?"

"Dulu ada kejadian berdarah di tempat itu," ia berdeham sebelum memulai cerita. "Katanya, ada tiga orang bangsawan yang menempati mansion tersebut. Mereka, beserta pelayan rumah yang bekerja di sana meninggal secara misterius.

"Sepertinya pembantaian terjadi pada saat malam hari. Aku sendiri juga heran kenapa pengawalan di sana tidak ketat, mengingat betapa besarnya mansion itu. Tiga bangsawan itu terdiri dari ayah, ibu, dan putra tunggal mereka. Sang ayah meninggal dengan cara digantung pada langit-langit loteng mansion. Menurut berita, ia dibunuh di kamar, kemudian jasadnya diseret karena ada yang menemukan jejak darahnya,"

Eikichi dan Koutarou tidak melakukan apa-apa selain meneguk saliva dengan gugup.

"Sementara sang ibu, ia dibunuh, organ dalamnya dicuri, kemungkinan ada yang mengambilnya untuk dijual di pasar gelap. Saat orang menemukan jasadnya, mereka hanya akan menjumpai jasad wanita paruh baya dengan tubuh yang kosong,"

Reo mengambil tehnya dan meminumnya dengan haus sebelum melanjutkan cerita lebih lanjut.

"Yang paling sadis adalah kematian putra mereka,"

"Uh, ya, kenapa?" Tanya Koutarou yang sepertinya dapat menebak ke mana cerita ini akan berakhir, melihat bagaimana ia sekarang duduk gelisah tak nyaman. Donat di atas piringan kecil sama sekali tidak menggugah nafsunya lagi.

"Putra mereka di mutilasi, dan satu-persatu anggota badannya dikubur di halaman belakang mansion. Mereka terdiri dari lengan kiri, lengan kanan, betis kiri, betis kanan, oh, kalian lihat pada bagian pagar atas, ada besi-besi kecil yang runcing? Orang yang membunuhnya meletakkan satu demi satu jari-jari kaki dan tangan si putra tunggal. Bagian badannya aku tidak tahu. Di sini tidak tertulis," Reo menunjuk layar datar di depannya. "Yang membuatku ingin muntah adalah bagian kepalanya."

"Kenapa? Di mana mereka meletakkannya?" Eikichi bertanya penasaran.

Reo menutup semua jendela browser, sebelum memilih untuk mematikan daya laptopnya.

"Di tempat tertinggi bangunan air mancur. Mereka menaruhnya di sana, hingga kepala itu berhenti meneteskan darah."

Kulit dahi membiru, "Apa yang baru saja kudengar ini?!" Koutarou seperti orang depresi, menyesali keputusannya ikut diskusi.

"Ah, aku kasihan dengan mereka," tatapan Eikichi nanar.

"Yah, itu terjadi pada zaman dulu. Kita tidak tahu apa-apa selain yang terdapat di dunia maya."

.

.

.

"Tetsuya!"

Tsiiing

Padahal Chihiro tahu adiknya tidak mungkin ada di sana. Pintu yang barusan digebrak langsung dielus sedikit, lalu ditutup rapat. Chihiro membungkukkan tubuh, mengintip kolong kursi tapi tidak menemukan Tetsuya di sana.

Memang tidak ada di sana.

Berikutnya ia beranjak ke kamar, Tetsuya tidak ada di dalam. Di saat ia membutuhkan si Adik, kenapa pula entitas biru muda itu tidak di tempat? Apa nyamannya sih rumah Ogiwara-Ogiwara itu sampai Tetsuya berlabuh di sana.

Chihiro mendecak. Pintu kulkas dibuka, tapi tidak menemukan makan malam seperti biasanya. Kepergian Tetsuya membuatnya frustrasi sesaat.

Sebutir telur diraih, kuali disiapkan, kompor dinyalakan. Telur ceplok jadi temannya makan malam.

Baru saja Chihiro menyendok sesuap nasi, sesuatu tampak di seberangnya. Ikut duduk sambil berpangku tangan di atas meja. Sosok merah tembus pandang. Makhluk yang ia curigai sebagai pembawa bencana.

"Ka-kau!" Pekik Chihiro terlonjak.

Ada senyum miring yang ditarik ke atas, "Halo."

"Halo, halo, matamu!" Jari telunjuk terangkat sarkas, "Apa yang kau lakukan kemarin malam?!"

"Aku? Tidak ada."

"Ini apa?!" Kepala didongakkan, tiga kancing baju teratas lekas dibuka. "Ini dan ini!"

Seringai terpatri halus, "Oh, itu. Tanda cinta."

Langsung Chihiro memucat. Berusaha mengendalikan diri, makan malam disendok lagi.

Mayuzumi Chihiro memutuskan untuk tidak peduli lagi pada sosok merah di depannya. Sempat ekor matanya menangkap si Arwah penasaran masih setia menatapnya. Dari sekian banyak makhluk halus yang mampir lewat indra ketujuhnya, hanya satu yang kurang ajar sampai meninggalkan jejak merah.

Satu alis terangkat, "Beraninya kau. Padahal tubuhku untuk Tetsuya seorang."

"Tetsuya itu adikmu, kan? Menjijikkan sekali."

"Kau lebih menjijikkan!"

"Apanya?"

Saliva ditenggak. Tragedi kepergian Tetsuya beberapa hari lalu terngiang dibenaknya. Mulai dari sosok merah yang tiba-tiba muncul di pojokan, Tetsuya minggat, hording terbelah dua, cairan mencurigakan di ranjang, serta gigitan nyamuk di leher dan dadanya.

"Tidak jadi." Chihiro langsung mengalih pandang.

Pemuda tembus pandang menyungging senyum tipis. "Aku Akashi Seijuurou."

"Aku tidak tanya."

Iris beda warna si Arwah mengedar ke langit-langit sambil bergumam, "Rumahmu nyaman juga, aku mau pindah ke sini."

Sendok direndahkan, "Apa katamu?"

"Aku mau tinggal di sini, Chihiro."

Pria abu-abu langsung menggeleng cepat, "Tidak, tidak. Sebaiknya kau buang keinginanmu jauh-jauh. Aku tidak memberimu izin untuk tinggal di sini."

"Memang kenapa?"

Chihiro menghela napas, "Karena aku ingin tinggal dengan Tetsuya berdua saja."

"Dasar kau menjijikkan, bisa-bisanya berpikir begitu ke adikmu sendiri."

Manik abu-abu mendelik, "Bukan urusanmu."

"Tapi Tetsuya itu lucu, ya. Sayang sekali dia sudah pergi."

Chihiro yang baru saja ingin beranjak untuk menaruh piring kotor di wastafel langsung terperanjat, "Tunggu, kau menganggu Tetsuya juga?!"

Sosok tembus pandang pindah duduk ke atas meja, "Hm?"

"Sialan kau!" Piring kotor refleks dilempar—menembus sosok merah yang menyeringai penuh kemenangan. Chihiro mendengus keras, "Gara-gara kau Tetsuya minggat!"

Piring kaca yang berserakan di lantai masih diabaikan. Chihiro menggeram, "Tanggung jawab kau!"

Sebelah mata dikedipkan, "Tentu, aku pasti bertanggung jawab atas apa yang sudah kutandakan."

.

.

.

Chihiro sudah mengontak Tetsuya berkali-kali, tapi si Adik tak kunjung merespon. Khawatir lah ia jika adiknya lebih nyaman di rumah orang daripada tinggal di rumah sendiri.

Rasanya sepi tanpa Tetsuya.

Oh, Tetsuya...

"Yang bagian sini belum dikebok."

Chihiro melirik, tapi tetap mengabaikan. Sebelum tidur ia selalu mengebok ranjang, karena Tetsuya bilang agar tidur menjadi lebih nyaman. Tapi karena merasa si Arwah penasaran bernama Seijuurou ini akan ikut tidur seranjang, Chihiro tidak mau mengebok bagiannya.

Lampu tidur dinyalakan, Chihiro menarik selimut sampai batas dagu. Seijuurou ikut berbaring di sampingnya.

Kedua alis bertaut, tidak nyaman.

Chihiro memutuskan untuk bertanya, "Kau menodai tubuhku pakai apa?"

Seijuurou menyeringai. "Darah."

"Kau sudah mati. Tidak mungkin mengeluarkan darah."

"Darahmu."

"Ayolah,"

"Darah tetanggamu yang sedang mengalami siklus menstruasi."

"Jawab yang benar, arwah penasaran."

"Pewarna makanan,"

"Kau mau kubuat mati dua kali?"

"Pewarna tekstil,"

"Mana yang benar!"

Seijuurou menahan tawa, "Manusia ternyata semenyenangkan ini,"

Chihiro mendengus, kemudian menegapkan tubuhnya di ranjang. Beranjak menghidupkan lampu kamar karena tidak bisa tidur dengan tenang. "Kau sendiri pernah jadi manusia."

"Hidup di zamanku tidak terlalu enak, Chihiro," Seijuurou menggelengkan kepala.

"Dan kenapa?"

"Kau harus kehilangan ini,"

Chihiro yang sedang fokus meraih remote televisi—niatnya ingin menonton siaran berita sebelum tidur—mendengar suara, seperti suatu benda yang terlepas. Ia menoleh dan merasakan bola matanya hampir keluar lantaran terkejut. Tenggorokannya tercekat, Seijuurou hanya tersenyum polos—sebenarnya menjengkelkan—kepadanya. Chihiro berdeham, berusaha tenang.

"... Letakkan itu kembali. Pada tempat yang seharusnya."

"Itu apa?"

"Kepalamu!"

"Hahaha," objek yang dimaksud segera ditata kembali, seperti mainan bongkar pasang.

Nyaris Chihiro berpikir untuk minggat juga dan ikut Tetsuya pergi. Sekarang ia tidak yakin bisa hidup tenang, mimpi indah, atau menjalani hari-hari damai seperti biasa jika Seijuurou sudah mengintil diri.

Kepala yang dengan mudah dilepas itu menghantui benaknya sepanjang malam.

.

.

.

Pagi yang cerah Chihiro membuka mata, semangat menyambut hari baru. Ekor matanya menangkap figur jam lingkaran di atas nakas.

Sembilan pagi.

"Hah?!"

Refleks Chihiro beranjak. Kepala abu-abu langsung celingukan ke segala penjuru, mencari Seijuurou sebagai tempat memaki.

Dan sosok tembus pandang itu muncul di hadapan—Chihiro tidak kaget karena sudah terbiasa—sambil menyeringai tajam.

"Kenapa kau tidak membangunkanku?!" Omel Chihiro seketika.

"Kenapa aku harus?"

"Ah, benar juga," ia mengacak rambut, memandang jam beker di atas nakas. "Sudah terlambat, kalaupun datang aku pasti ditegur keras. Belum lagi surat peringatannya, hah." lenguhan keras terlantun.

"Jadi kau tidak kerja ya, hm."

"Gara-gara kau." Dengus Chihiro sambil melirik tajam.

"Gara-gara aku kelonin kau semalam?"

"Tuh kan!"

Pantas.

Pantas saja Chihiro merasa tidur kelewat nyenyak semalam. Pantas saja Chihiro merasa nyaman semalam. Padahal, menurut yang sudah diperhitungkan, Chihiro tidak akan tenang mengingat pemandangan sadis yang ditunjukkan Seijuurou semalam.

"Begitu, jadi kau merasa nyaman."

Dahi bekerut, "Apa?"

"Aku bisa baca pikiranmu kalau kau mau tahu."

Langsung Chihiro membungkam diri.

Ia memutuskan untuk tidak berpikiran macam-macam lagi, setidaknya di depan arwah gentayangan ini.

.

.

.

Pagi menjelang siang digunakan untuk bermalas-malasan. Kini Chihiro bersantai di depan televisi sambil menunggu iklan yang menjeda tayangan drama tontonannya. Tidak menghabiskan waktu, Light Novel berkover gadis loli berambut merah kuncir dua jadi bacaannya.

"Kau suka buku begituan rupanya."

"Begituan apa maksudmu."

Chihiro seketika merasa terbiasa. Sepanjang hari ia diikuti oleh Seijuurou yang katanya sudah mutlak ingin tinggal serumah.

"Pantas kau ada rasa inses-insesnya, bacaanmu saja yang begitu."

"Aku tidak minta penilaianmu."

"Bacaanku dulu tidak seperti itu, lebih penting dan berguna untuk masa depan."

Halaman buku ditutup dengan satu sentakan tangan, "Kau benar-benar mengangguku, Akashi."

Sosok merah hanya memandang datar.

Chihiro mengerutkan dahi. Ditelitinya sosok tembus pandang di samping, lalu menerka-nerka. Apa setan ini bisa menampakkan diri seperti manusia? Kalau iya, pasti hasilnya bagus. Secara, dia tidak punya luka atau goresan-goresan pahit seperti hantu-hantu pada umumnya.

"Aku bisa."

Chihiro tahu kalau Seijuurou menjawab rasa penasarannya dalam hati.

"Kau mau aku menampakkan diri?"

Memandang dengan sarat tantangan, "Coba."

"Tidak ada makhluk astral lain yang bisa melakukannya selain aku, kalau kau mau tahu."

Memang benar. Selama Chihiro mampu melihat makhluk halus dengan mata kepalanya sendiri, hanya Akashi Seijuurou yang sampai bisa meninggalkan jejak aneh di kulitnya—yang mana mustahil dilakukan oleh makhluk tembus pandang lainnya.

"Kenapa begitu?"

Seijuurou beranjak dari kursi, berdiri di hadapan Chihiro, memunggungi televisi. "Karena aku rajanya."

"Hah?"

Kilat cahaya menembus retina, Chihiro refleks memejam mata. Setelahnya ia kembali memandang, bisu selama tatap mereka beradu.

Chihiro tidak peduli pada pakaian apa yang dikenakan Akashi Seijuurou saat sosoknya masih tembus pandang. Tapi tidak sekarang.

Matanya turun dari surai merah menyala ke wajah, lalu perpotongan leher, lalu abdomen tegas, lalu—

Tunggu sebentar.

Chihiro sontak mengalih pandang.

"Sudah kuduga kau akan berpikiran kotor, Chihiro."

Tunggu dulu.

"Kalau menampakkan diri, otomatis tubuhku butuh penutup. Dalam kasus ini, aku telanjang dan kau sudah melihatku."

Kepala langsung digeleng kuat. Chihiro lantas beranjak, "Tunggu, biar aku ambilkan pakaian."

Selama di perjalanan dari ruang tengah ke kamar, entah kenapa rasanya terlalu jauh. Ini setan pengganggu berubah wujud, lalu membutuhkan pakaian untuk menutup diri. Chihiro tidak habis pikir.

Tubuh Tetsuya saja dia tidak pernah lihat, kenapa malah si Arwah penasaran ini?!

"Jadi kau berharap melihat adikmu telanjang ya, Chihiro."

Refleks menoleh—tapi langsung dialihkan kembali. "Kau tidak usah ikut!"

"Ini bukan pertama kali. Aku juga jalan-jalan dengan wujud seperti ini di rumahmu kemarin."

Chihiro langsung menepis jauh-jauh pikiran negatif.

"Kalau tidak begini, mana bisa aku menyentuhmu, barang-barangmu, dan jejak cinta di tubuhmu itu."

Pintu kamar dibuka, "Brengsek kau, Akashi."

"Begini-begini kau juga peduli kan."

"Mana bisa kubiarkan kau telanjang begitu!"

"Takut tergoda, ya?"

Pintu lemari digeser, Chihiro menimbang-nimbang. Seluruh pakaiannya tidak ada yang pas untuk ukuran tubuh Seijuurou. Pinjam Tetsuya? Ah jangan, nanti malah makin marah dan tidak mau pulang lagi.

Kaus abu-abu ditumpukan paling bawah ditarik, celana pendek selutut diraih. Chihiro berpikir sejenak, ia tidak sudi meminjamkan pakaian dalam juga.

"Kalau tidak pakai celana dalam, nanti kejepit, lho."

"Diam."

Di tumpukan terbawah, celana dalam yang sudah lama, hampir tidak dipakainya lagi, disambar segera. Tiga garmen diserahkan tanpa memandang.

"Kau tidak ingin memakaikannya untukku?"

"Jangan harap."

Chihiro membuang pandang ke lain arah, asalkan tidak mengintip pemuda merah yang sedang berpakaian. Terbesit di benak. Kalau ini setan bisa berwujud manusia, berarti Chihiro bisa memamerkannya ke orang-orang.

Pertama dan utama, ia harus membawa pulang Tetsuya dengan menyuruh Akashi meminta maaf ke adik tersayang.

"Kenapa aku harus minta maaf."

"Sudah selesai?" Tanya Chihiro, ragu untuk menoleh.

"Sudah."

Tubuh diputar balik, abu-abu menatap intens iris merah-jingga. Mimik serius sudah dipasang baik-baik. Lengah sedikit, pandangannya turun ke bawah—menyelidik sosok merah dengan kaus kebesaran di badannya.

Sejenak Chihiro bungkam.

Tubuh kecil—seperti Tetsuya—mengenakan bajunya. Kaus abu-abu yang kelebihan membungkus tubuhnya. Celana selutut jadi turun sebetis dengan longgarnya yang begitu kentara. Chihiro khawatir sosok itu bisa tenggelam lantaran memakai pakaiannya yang kebesaran.

Desir halus menyapa batin.

"Kau berpikir macam-macam tentangku, eh, Chihiro?"

Kesadaran penuh diraup kembali. "Diam." Ketusnya.

Langkah Seijuurou ritmikal menghampiri Chihiro, "Mumpung kau tidak kerja, ayo kencan denganku."

"Siapa yang mau kencan," Chihiro mendengus. "Kau ikut aku ke rumah temannya Tetsuya, jemput adikku tersayang, dan kau akan meminta maaf padanya."

"Tetsuya?" Seijuuro sedikit bersemangat. "Aku mau berteman dengannya."

Chihiro mendengus, "Dia alergi hantu,"

"Apa dia bisa melihatku?"

"Tidak mau lihat,"

"Itu kalau kau."

Seijuuro mematut dirinya di depan spion mobil. Ia tidak ada di kaca meskipun sudah merubah padat wujudnya.

.

.

.

tbc


siucchi's a/n :

Selamat hari 'burung' mz Sei cintaaaahhhhh~~~ aku padamu, kamu padaku juga kaaann /ga

Langgeng ya mz sama siapa pun kamu sukak :'))

Salam cinta dari istri keduamu. /hus

annovt's a/n :

aduh makin ganteng lah yaudahlahya aa sei dijadiin makhluk senista apapun tetep aja tampan. hbd husbando yang sekian:))))


hanyo4 iya demitnya Akashi :')) bang Mayoe tjinta ama adeknya mb, entah bakal pindah hati apa ngga setelah melihat pesona ehemnya Akashi hmmm ghost reader ada yg peka :'))) Tetsuya... di anuin sampe dia gak kuat lagi :'( /ga Akkurren612 Hmm emang Akashi tampangnya aja udah mesum /GA. Akashi ganteng abiz gan /oi. Bukan cuma leher, di dada juga :'( daku khawatir apa ada bercak lain di suatu tempat yg hmm :'( /hus. Aka... ngincer... dia /siapa an311 : haloooo, harapan saya biar otp canon semua aminkan yessss. ini udah update yah mwah. Black Sweet Princess Pairnya seperti yang tertera di fic ini mz Caesar704 Akashi, mz. Nah si mayu ama kuroko sepupuan, tapi dekeeeeetbanget. saya suka inses (sekadar info) /heh adelia aanti iya mb shun-kumikumi halohalohaiiiiii semua pertanyaan terjawab di chapter ini:^)dari dulu udah kepengin buat dia jadi setan sih akhirnya kesampean juga /nangyz. Ok mb kutunggu bang niji yang keker nge-crossdress:") Apostrophee (peliharaan) :')) gapapa mb, peliharaannya Chihiro gantengnya gak bisa dikondisikan emang Freyja Lawliet :'))) makasih kak udah nyempetin ke sini :')))