"Tetsuya?" Seijuuro sedikit bersemangat. "Aku mau berteman dengannya."

Chihiro mendengus, "Dia alergi hantu,"

"Apa dia bisa melihatku?"

"Tidak mau lihat,"

"Itu kalau kau."

Seijuuro mematut dirinya di depan spion mobil. Ia tidak ada di kaca meskipun sudah merubah padat wujudnya.

.

.

.

Geest

an original fanfiction written by annovt & siucchi

Kuroko no Basket Tadatoshi Fujimaki

.

.

.

Chihiro tidak pernah menyangka sesuatu seperti ini akan terjadi dalam hidupnya.

Satu mobil—yang bau kemenyan—dengan arwah penasaran.

"Apa kendaraan zaman sekarang begini semua?"

"Maksudmu?"

"Baunya—ah, bukan, bentuknya."

"Ya, ini yang namanya mobil. Tidak pernah dengar?"

Seijuuro menggeleng, "Yang melintang ini namanya apa?"

"Itu," Chihiro melirik sejenak sebelum kembali fokus menyetir ke depan. "namanya sabuk pengaman."

"Untuk apa memasang sabuk pengaman?"

"Menghindari kecelakaan."

"Untuk apa memasang sabuk pengaman pada hantu?"

"...Yah," Chihiro kehabisan kata-kata, sungguh. "mungkin supaya kau tidak mati dua kali."

Hening sejenak sebelum Seijuuro kembali menjawab "Kau mau menabrakkan mobil ini ke pohon dan membuatku mati dua kali?"

"Hei! Jangan baca pikiran orang."

"Kau saja yang mudah ditebak,"

Chihiro membelokkan kemudinya ke arah kanan, memasuki komplek perumahan.

"Dan untuk tebakanmu tadi, jawabannya tidak. Aku tidak ingin merusak kendaraanku hanya untuk membunuhmu."

Memandang kaca jendela, Seijuuro melihat rumah-rumah yang berjejer rapi di sepanjang jalan.

"Kita ke mana?"

"Menjemput Tetsuya, seperti yang aku bilang tadi,"

"Adikmu Tetsuya minggat, ya?"

"Benar," Chihiro membanting setir ke kiri. "Dan terima kasih untukmu."

"Sama-sama," Seijuuro menyeringai.

Chihiro mendesis.

Pedal rem ia injak pelan-pelan, kendaraan berhenti tepat di depan halaman rumah bergaya minimalis dengan cat tembok berwarna cokelat muda.

"Turun," ucap Chihiro. Ia sudah terlebih dahulu membuka pintu, meninggalkan Seijuuro di dalam sendirian.

"Hei, bagaimana melepaskan benda ini?" Tanya Seijuuro gusar, menarik-narik sabuk pengaman, lalu dengan asal menekan tombol di sekitaran pintu mobil. Kemudian berjengit saat kacanya terbuka. "Chihiro!"

Chihiro membuka pintu di sebelah kanan tempat Seijuuro duduk, melepaskan sabuk pengaman dari tempatnya sebelum menutup kembali kaca mobilnya. Mempersilakan makhluk ambigu itu turun.

Dasar hantu bodoh, Chihiro tak henti-hentinya memaki Seijuuro. Mematikan mesin dan mencabut kunci mobil, ia menyusul Seijuuro yang ternyata sudah duluan menembus pagar rumah Ogiwara.

Chihiro terbelalak, kenapa ia bisa sebebas itu? "Hei, kembali ke sini!" Teriak Chihiro gusar.

Seijuuro tidak menoleh ke belakang, tetapi dengan santai—seenak jidat kembali berjalan ke arah pintu rumah Ogiwara, dan sesuai dugaan Chihiro, ia masuk tanpa harus mengetuk terlebih dahulu.

Chihiro menepuk dahi.

Menekan bel berkali-kali, sambil melirik cemas ke arah pintu, Chihiro disambut Ogiwara yang sedikit berlari ke arah pagar.

"Mayuzumi-san?" Ogiwara membuka gembok, "menjemput Kuroko, ya?"

Chihiro mengangguk, "Adikku sudah terlalu lama di sini. Aku tidak mau ia merepotkan siapapun."

"Ah, belum juga seminggu," Ogiwara terkekeh, "Kuroko tidak merepotkan sama sekali, kok."

Kalau satu minggu aku yang kerepotan, kicau Chihiro dalam hati. Bisa-bisa mati kesepian.

Daripada 'mati kesepian', Chihiro lebih mengkhawatirkan Seijuuro yang sudah masuk ke dalam rumah Ogiwara duluan.

Ogiwara di depannya terus mengocehkan hal-hal yang biasa dilakukan Tetsuya di rumahnya, dan baru saja akan membimbing Chihiro masuk ke dalam,

"Selamat siang,"

Chihiro terkejut, Ogiwara berjengit kaget.

Hening sebentar, "A-ah, selamat siang," mata Ogiwara dengan refleks berlari ke arah Chihiro.

Ia yang mengerti situasi meskipun masih merasa seperti terkena serangan jantung, berdeham, "Ini sepupu jauhku, Seijuuro,"

Ogiwara hanya mengangguk, canggung, ia yakin penglihatannya masih cukup benar, tidak perlu kacamata apalagi memakai kontak lensa, bahwa 'sepupu jauh' Chihiro tidak ada di sana sebelumnya.

Mendapati reaksi awkward teman Tetsuya, Chihiro cepat-cepat menambahkan, "Maaf membuatmu terkejut. Tadi dia bilang akan menunggu di mobil karena aku mengatakan padanya bahwa aku tidak akan lama," senyum ditambahkan, ia merangkul Seijuuro—mencubiti pundaknya. "Aku sama sekali tidak menduga dia menyusulku sangat cepat."

Ogiwara mengernyit samar, kemudian tersenyum. Dan lagi, ia menangkap mimik muka Seijuuro sangat menyebalkan—atau mungkin hanya perasaannya—dan mempersilakan keduanya masuk.

"Begitu," ia tertawa kecil. "Aku benar-benar kaget. Kupikir hantu,"

Seijuuro menahan tawa, "Aku memang hantu, kok."

Chihiro memelototinya dari samping.

"Eh?" Ogiwara membatu, tangannya tidak jadi menutup pintu.

"Bercanda."

Chihiro menghela napas.

"Dasar tidak sopan," ujarnya menceramahi Seijuuro.

"Maaf, ya, Chihiro-nii." jawabnya menyeringai, Chihiro merinding. Perasaan geli, takut, dan ingin muntah melebur jadi satu.

"Oh, Mayuzumi-san lebih tua, ya?" Ogiwara bertanya, menyuruh mereka duduk di sofa ruang tamu.

"Ya, seperti itulah. Dan bocah ini memang suka membuat onar," menekankan kata bocah, Chihiro merilekskan otot-otot punggungnya, sebelah tangan diletakkan di atas sandaran sofa. "Ia baru pulang dari Amerika, karena dikeluarkan oleh sekolahnya yang ke-lima tahun ini."

Ogiwara menggaruk pipi, pantas saja wajahnya bikin kesal. Tatapan matanya juga terkesan merendahkan orang. Dan entah sejak kapan ia punya profesi sebagai pengamat makhluk hidup.

Seijuuro sedari tadi hanya tersenyum, padahal sudah merangkai skenario matang-matang disertai langkah-langkah cermat tentang bagaimana caranya agar membawa Chihiro ke neraka lebih cepat di otaknya.

Chihiro sendiri merasa kesal, dan ingin menguburkan Seijuuro—tetapi karena tidak mungkin, ia membatalkan niatnya—karena sudah membuatnya terpaksa mengarang cerita di depan Ogiwara. Meskipun cerita yang dibuat Chihiro berisi keburukan Seijuuro.

"Tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan minum dan memanggil Kuroko," Ogiwara kembali bersuara setelah terdiam agak lama, kemudian berjalan santai ke arah—yang Chihiro tebak adalah dapur.

"Jangan repot-repot. Hantu tidak perlu minum," celetuk Seijuuro enteng. Chihiro mendesis. Geleng-geleng, memijat dahi lelah. Sudahlah.

Ogiwara berjalan diselingi tertawa singkat.

"Kenapa dia tidak percaya padaku, Chihiro? Padahal aku, kan, sudah jujur." Seijuuro bertanya dengan nada polos.

"Tentu saja. Siapa orang yang akan percaya pada hantu memakai baju, kakinya menapak, dan bisa sangat menyebalkan?" tandas Chihiro sarkas.

"Oh, aku mengerti maksudmu," Seijuuro menepuk tangan tiba-tiba. Hanya dilirik bosan. "Artinya aku hanya harus melepas kepalaku di depan—"

"Jangan!"

.

.

.

"Siapa? Sepupu jauh?" Tetsuya melepas headphone-nya. Mengalihkan pandangan sejenak dari layar komputer Ogiwara.

"Benar. Ayo turun, Kuroko. Kakakmu menunggu di bawah."

"Tidak," merengut, ia kembali memasang headphone, melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi. "Bilang saja Tetsuya sedang berlayar ke Samudera Atlantik atau berburu ke hutan. Apa saja asalkan aku tidak pulang."

Ogiwara di sisi samping pintu berkacak pinggang, "Itu kakakmu, lho, kakak sepupumu yang paling akrab. Ingat, waktu SMP kau pernah bilang padaku, 'aku sangat menyayangi Chihiro-nii,' dan saat kita di taman kanak-kanak, ia terkena cacar air. Kau bahkan menangis siang malam—"

"Itu saat aku berusia tiga tahun!" Sangkal Tetsuya, ia menoleh ke belakang, membiarkan game-nya berjalan tanpa ada yang mengendalikan.

"Kau dengan panik bilang padaku 'bagaimana kalau Chihiro-nii mati?' Ayolah, Kuroko. Itu hanya cacar air."

"Sekarang aku malah berharap ia terkena cacar lagi."

"Oh, dan pada saat kau masuk SMA, kau bercerita padaku bahwa saat Mayuzumi-san mengantarmu, akan banyak gadis-gadis di sekolah yang meliriknya dan itu membuatmu kesal—"

"Baiklah aku akan turun, jadi tolong hentikan." geram Tetsuya, malu.

Ogiwara tersenyum.

"Bagus,"

"Aku heran kenapa Ogiwara-kun bisa mengingat sampai ke masa taman kanak-kanak. Atau Ogiwara-kun hanya mengarang cerita?" tanya Tetsuya penuh selidik.

"Eh? Apanya?"

"Ogiwara-kun bilang aku menangis."

"Benar, kok," Ogiwara menyangkal tuduhan. "Kuroko tidak ingat? Dulu, kan, kita tetangga."

"Ogiwara-kun tidak senang ya aku menginap?"

"Kalau iya, kau sudah kuusir sejak hari pertama, Kuroko. Apalagi kau mengigau dengan sangat menyebalkan."

"Maaf."

"Bagaimanapun, Mayuzumi-san itu kakakmu—yah, meskipun kalian tidak sedarah, tapi, tetap saja. Kau tinggal bersamanya sudah lebih dari tiga tahun, kan?"

Tetsuya mengangguk, kepalanya tertunduk, ada rasa menyesal sudah minggat dari rumah, apalagi melempari Chihiro-nii dengan tabung gas. Kalau tabung itu meledak dan Chihiro-nii terbakar bagaimana? Chihiro-nii saja tidak pernah pacaran. Bisa-bisa ia mati lajang.

"Ogiwara-kun benar," Tetsuya mendongak, tersenyum teduh. "Aku harus pulang dan meminta maaf pada Chihiro-nii."

Ogiwara angguk-angguk puas. Ceramah panjang lebarnya membuahkan hasil.

"Turunlah ke bawah. Akan kubereskan barang-barangmu. Nanti aku menyusul."

"Terima kasih, Ogiwara-kun." dengan semangat Tetsuya turun dari kursi putarnya, sedikit berlari meninggalkan Ogiwara di kamar.

.

.

.

Chihiro sedang bermain gunting batu kertas ke-lima puluh kalinya—karena ia terus-terusan kalah, setan menyebalkan itu menggunakan cara kotor dengan membaca pikirannya—saat mendengar langkah kaki berderap mendekat.

"Tetsuya," gumam Chihiro.

Seijuuro yang tadinya tengah menyeringai lantaran ia puas mengerjai manusia hidup di depannya, mengikuti pandangan Chihiro, ke arah Tetsuya yang berjalan mendekati mereka.

Seringaian Seijuuro makin lebar.

Tetsuya sendiri sepertinya belum menyadari keberadaan Seijuuro yang antara ada dan tiada, terus berjalan dengan bahagia menuju kakaknya sebelum,

"Lama tak berjumpa, Tetsuya."

Bagaikan mendengar suara malaikat maut yang memanggil dirinya, Tetsuya membeku di tempat. Chihiro menyadari arwah di depannya ini suka kumat sendiri, melotot tajam ke arah Seijuuro, yang balik memandang Chihiro dengan usil.

Suara ini... Tetsuya terbelalak, kepalanya ia tolehkan ke kanan dan ke kiri. Setan yang merupakan alasan utama kenapa aku lari dari rumah!

Chihiro buru-buru bangkit dari sofa,

"Tetsuya," kakinya melangkah lebar demi mencapai adiknya. "Ayo cepat pulang dari sini, semuanya akan kujelaskan begitu kita masuk ke dalam mobil."

Masih blank, Tetsuya tidak memberikan respon apa-apa, kemudian tersadar saat Ogiwara meneriaki namanya dari jauh.

"C-Chihiro-nii, barang-barangku masih—"

Ah, indahnya suara itu. Chihiro masih sempat berdelusi saat ia membuka pagar. Aku merindukannya tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menggombali Tetsuya.

"Nanti akan kuambilkan," Chihiro membukakan pintu untuk Tetsuya, kemudian berlari ke sisi lain mobilnya, sebelum meneriakkan kata-kata maaf dengan terburu kepada Ogiwara yang sudah menenteng tas training milik Tetsuya di ambang pintu. Ogiwara memberikan gestur 'OK' sebagai balasan.

Mesin dihidupkan, Chihiro menyetir membelah jalanan aspal mulus dan melihat Seijuuro, berdiri di samping Ogiwara, memasang tampang menyebalkan seperti biasanya, melambaikan tangan sekilas.

.

Tunggu. Yang tadi itu apa? Tetsuya baru sadar dari blank-nya.

"Chihiro-nii! Putar balik."

"Hah?" Chihiro buru-buru menyahut. "Tidak. Lagipula ini sudah terlalu jauh,"

"Aku mendengar suara peliharaan Chihiro-nii,"

"Benarkah?" Nada Chihiro tenang tapi keringat dingin mengalir sudah. "Perasaanmu saja. Mungkin kau terkena trauma. Mau mengunjungi psikiater?"

"Apa-apaan," Tetsuya merengut. "aku tidak mungkin tumbang oleh makhluk dunia lain. Aku ini kuat. Jantan."

"Orang jantan tidak minum susu kocok vanilla."

"Kejantanan dan vanilla milkshake tidak ada hubungannya."

"Ada, kok."

"Apa?"

"Err," terkutuklah Tetsuya yang rasa penasarannya setinggi langit. "Ah, ya, kau benar. Tidak ada hubungannya," lebih baik mengalah daripada ditinggal minggat lagi.

"Apa peliharaan Chihiro-nii sudah pergi?"

Ah.

Pertanyaan yang pasti muncul dari kedua belah bibir Tetsuya, yang membuat Chihiro memutar otak lebih dari sekali untuk menemukan jawabannya.

Jawab; 'belum', kemungkinan besar Tetsuya akan minggat lagi. Jawab; 'sudah', itu tidak mungkin karena bisa saja Seijuuro kumat dan mengganggu ketenangan hidup mereka, dan membuat Tetsuya mengecapnya sebagai seorang pembohong. Chihiro tidak rela.

"Selama kau pergi, Chihiro-nii tidak diganggu, kok." Disengsarakan, iya.

"Itu karena Chihiro-nii sudah akrab dengan mereka,"

Jleb.

"Dan juga Chihiro-nii bau kemenyan jadi mereka mengira Chihiro-nii adalah teman,"

Jleb. Jleb.

"Makanya, Chihiro-nii harus sesegera mungkin cari pacar."

Jleb. Jleb. Jleb.

Ibumu dulu mengidam apa, sih, Tetsuya? Belati? Ucapanmu membuat hati murni seorang bujang usia dua puluh lima tahun terluka, tersayat-sayat dengan pisau karat, lalu kau siram dengan air perasan jeruk lemon. Pedih.

"Terima kasih atas nasehatmu, adikku. Sayangnya kakakmu ini masih belum ingin melepas status single."

"Itu memang karena Chihiro-nii tidak punya calon, kan?"

"Kau sudah tahu aku berbicara begitu hanya untuk menghibur diri sendiri! Tidak usah diperjelas secara detil dan rinci, Tetsuyaaa!"

"Aku hanya berkata jujur."

Rasanya Chihiro ingin menabrakkan diri.

"Lebih baik kau berbohong."

"Jadi, Chihiro-nii mau menjelaskan apa?"

Jujur, ia sangat benci ketika mereka kembali ke topik utama pembicaraan. Chihiro sudah tidak punya ide lagi untuk mengalihkan obrolan. Bisa-bisa Tetsuya tambah curiga.

Jujur sajalah. "Peliharaan—maksudku, arwah penasaran yang mengikutiku tidak pergi-pergi. Mungkin ada hal yang belum ia selesaikan atau apa makanya—"

"Hantunya punya hutang?"

"Jangan potong pembicaraanku, Tetsuya," Chihiro membalas jutek sambil terus menempatkan fokus untuk menyetir. Tetsuya menggumamkan kata maaf. Mungkin Tetsuya berusaha mencairkan suasana atau ia sedang mencoba belajar jadi pelawak. "Tapi kurasa tidak. Dilihat dari gayanya, sepertinya arwah itu dulunya bangsawan,"

"Gayanya memang bagaimana? Sopan? Bermartabat?"

Songong. Tengil. Menyebalkan. "Dia punya etika."

Tetsuya angguk-angguk. "Suara yang aku dengar di rumah Ogiwara-kun itu, apa?"

"Sepertinya dia mengikutiku. Ah, aku tidak melihatnya. Jadi aku sedikit terkejut saat kau tiba-tiba berhenti berjalan tad—"

"Pura-pura tidak melihatku, ya? Padahal kita pergi bersama." suara yang tak asing menyergap indera pendengaran Chihiro. Seketika tengkuknya meremang saat pemilik suara meniup ke dalam telinganya.

Tetsuya, seperti yang sudah diduga, panik sendiri sambil menoleh kanan dan kiri mencari sumber suara.

"Seijuuro!" tegur Chihiro berbisik, nyaris tak bersuara. "Kenapa muncul sekarang?! Tetsuya bisa pergi lagi!"

Seijuuro, yang berada di jok belakang, mengangkat sebelah kakinya dengan santai.

"Kalau begitu kau buat dia agar tidak kabur."

Chihiro mengurut dahi, menghadapi Tetsuya tidak seperti menekan daun putri malu. Menangani Tetsuya itu setara memancing ikan piranha.

Tetsuya memandang kakaknya cemas, "Chihro-nii, sepertinya aku berhalusinasi...? Aku mendengar suara itu lagi!"

"Benarkah?" Chihiro sebisa mungkin berusaha menjawab dengan tenang.

"Chihiro-nii bisa melihat mereka, kan?" Tetsuya bertanya gusar, "Di mana dia? Ada berapa? Lebih dari satu?! Aku mau turun!"

"Abaikan saja, Tetsuya—hei!" teriak Chihiro refleks saat Tetsuya ingin merebut setir mobil dari genggamannya. "Hanya satu. Hanya satu, oke? Tenanglah."

Tetsuya mereda, kemudian mengatur napasnya yang berantakan. Kaosnya ia remat.

Seijuuro menahan cekikikannya, Chihiro mengumpat dalam hati.

"Terima kasih atas pujianmu," Seijuuro menyeringai karena bisa membaca pikiran setiap saat. "Chihiro."

.

.

.

"Jelaskan atau ini kulempar."

Tetsuya tidak main-main. Pisau dapur digenggam erat, dibidik—jika dilihat dari sudut pandangnya—tepat mengenai kepala Chihiro.

"T-Turunkan, Tetsuya. Kita bicarakan ini baik-baik, ya." Chihiro mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, persis seperti pelaku perselingkuhan yang tertangkap basah.

"Benar kata kakakmu, Tetsuya. Ayolah, kau bisa membunuhku dua kali kalau salah sasaran," suara Seijuuro nyaring, Tetsuya sedikit bergetar mendengarnya tetapi cengkraman pada gagang pisau semakin kuat. Chihiro mendesis.

"Diam!" bentak Tetsuya sangar tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat seram. "Pergi dari sini, jangan ganggu aku!"

"Kalau kakakmu?"

"Silakan!"

Tetsuya tega. Batin Chihiro meringis.

"T-Tetsuya, sebenarnya ia tidak menggangu siapapun. Ia hany—"

"Apa?! Chihiro-nii tidak tahu bagaimana perjuanganku setiap malam untuk belajar dan tidur! Setiap menit aku diganggu olehnya!"

"Y-yah memang benar ia sedikit menyebalkan, tap—"

"Menyebalkannya banyak! Chihiro-nii tidak tahu perasaanku bagaimana menyeramkannya ketika kau mendengar suara tapi tidak ada orangnya—JANGAN COLEK BOKONGKU!" Tetsuya kalap, berputar pada satu tempat sambil menebaskan pisau tak tentu arah.

"Astaga," Chihiro pening, ia memijit kening. "Seijuuro, jangan sentuh adikku lagi. Tolong."

"Namanya Seijuuro?" Tetsuya berhenti berputar. "Hei! Jangan mengganggu orang yang masih hidup. Kata kakakku kau punya etika. Apanya!"

Chihiro facepalm. Kenapa yang itu malah diingat oleh Tetsuya.

"Tetsuya, letakkan pisaunya. Duduk di sini." Chihiro menepuk sandaran sofa di sebelahnya. Nadanya serius. Nada yang berarti harus dituruti oleh Tetsuya.

Tetsuya menurut, meletakkan pisau dapur di atas meja makan kemudian berlari kecil mendekati kakaknya. Mengambil posisi duduk, berseberangan dengan Chihiro.

Chihiro berdeham, "Sebenarnya, Seijuuro bisa saja menampakkan wujud padatnya—seperti manusia—sesuka hatinya. Kau mau lihat, Tetsuya?"

Mengangguk, Tetsuya menatap tajam figur tak kasat mata yang ia yakini sedang duduk di samping kakaknya.

"Seijuuro, kali ini aku minta kerjasamamu. Aku tahu kau datang ke sini bukan tanpa alasan, benar?"

Seijuuro tidak menjawab, ia menatap hampa, kemudian tersenyum tipis mengangguk tanpa menatap Chihiro di sampingnya.

Perlahan, Tetsuya bisa melihatnya—walaupun agak samar, lama kelamaan wujud Seijuuro tampak sepenuhnya seperti manusia kebanyakan di depannya. Tetsuya agak terperangah. Ia benar-benar tampak seperti bangsawan.

"Maaf aku pernah mengganggumu."

Terkejut arwah di depannya minta maaf, Tetsuya mendadak kehabisan kata-kata.

"A-ah, ya. Jangan kau ulangi lagi,"

Seijuuro menundukkan kepala, kemudian mendongak dan menggangguk pada Tetsuya. Bagian menyebalkannya adalah ketika ia menyeringai dan,

"Aku tidak bisa janji."

Rasanya segerombolan perasaan kesal yang sudah pergi jauh-jauh, kembali lagi ke Tetsuya.

"Kau ini!" bentak Chihiro. "Serius sedikit bisa tidak, sih?!"

Menghela napas sejenak, Tetsuya memandang lurus. "Aku baik-baik saja membiarkan ia tinggal di sini," ungkap Tetsuya. Chihiro seperti lupa cara bernapas saat kalimat itu terlontar dari bibir adiknya. "Dengan beberapa syarat."

"Apa?" Seijuuro bertanya dengan nada penuh harap yang terkesan dibuat-buat (menurut Chihiro).

"Jangan ganggu tidurku, lebih tepatnya, jangan ganggu aku pada saat malam hari."

"Hanya itu?" Chihiro memastikan. "Kau janji tidak akan kabur lagi?"

"Hmm," Tetsuya menerawang. "Itu tergantung."

"Oh? Kupikir lelaki sejati tidak pernah ragu-ragu dalam mengambil keputusa—"

"Baiklah aku janji."

"Lelaki tangguh tidak pernah cemberut,"

"...Ya."

"Dan harus tulus,"

"Iya!"

Seijuurou menyeringai.

Tetsuya siap beranjak dari tempat, "Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus mengontak Ogiwara-kun, barang-barangku masih tertinggal di sana."

Chihiro sontak meringis, "Ah, itu, maaf."

"Karena sudah di rumah, aku mau lanjut mengerjakan—ah! Jangan sembarangan menyentuhku!"

Yang berbuat iseng menyeringai puas, "Main-main dulu yuk, Tetsuya."

"Chihiro-nii! Urus peliharaanmu!" Bentak Tetusya nyaring—tapi monoton.

"Seijuurou." Panggil Chihiro tajam.

Tiba-tiba setan merah berwujud manusia sudah duduk di samping Chihiro. Tersenyum jahil sambil mengangkat tangan.

Chihiro berdeham ganteng. Ia berhasil membuat imej baik di depan adik tersayang. Jika ini yang terjadi, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan—antara hubungannya dengan Tetsuya di rumah.

Seijuurou bukan ancaman.

Tanpa disadarinya, seringai tajam terpatri halus di bibir Seijuurou.

.

.

.

'Lima menit lagi war.'

Setelah membaca pesan dari Ogiwara, Tetsuya buru-buru meraih tablet di atas meja dan berselonjor di tempat tidur. Tugas kuliah ia kesampingkan sementara, war tidak bisa ditunda. Aplikasi game dibuka, Tetsuya baru sadar kalau base-nya diserang.

Sedang fokus memulihkan diri, sesuatu menginterupsi. Kening Tetsuya mengerut, tapi kembali penuh menatap layar. Sekali lagi, ia merasa lehernya ditiup.

Tetsuya refleks memutar kepala, mencari sosok iseng. Tablet masih digenggam, satu tangannya meraih balok batu asahan pisau (yang sudah disiapkan sejak tadi) di atas meja. Sambil menyodorkan dan berputar di ruang kamar, Tetsuya menggumam, "Berani mengangguku lagi, kugetok."

Sekian sekon berlalu, tidak ada tanda-tanda fenomena alam tidak lazim. Tetsuya meletakkan balok batu ke meja dan mengembalikan atensi penuh ke layar tablet. Waktunya war telah tiba.

Sedang sibuk menjaga base, Tetsuya tiba-tiba terlonjak kaget. Ia merasa bagian tubuh yang paling sensitif baru saja disentuh. Tablet—yang baru dibeli khusus untuk nge-game—nyaris beralih fungsi jadi alat untuk melempar pelaku pelecehan.

Menaham geram, Tetsuya bangkit dari ranjang. "Tunjukkan dirimu, peliharaannya Chihiro-nii. Jangan penakut, beraninya di belakang."

Terdengar bunyi di oksipital.

Tetsuya merasa helai biru mudanya dihirup pelan.

Sontak berbalik, Tetsuya mengulurkan kepalan tangan sebagai tameng pelindung diri. Ia siap meninju sosok merah di depan—hantu yang sejak tadi mengganggunya kini sudah berwujud padat.

"Aku bukan peliharannya Chihiro, omong-omong." Ujar Seijuurou ringan.

Masih bergidik ngeri sebab mengingat jelas hangatnya kepala saat diendus—Tetsuya langsung menggeleng cepat. "A-Apa yang Seijuurou-kun mau?"

Seijuurou mendendang gumam, lalu menyeringai.

Melihat senyum jahatnya, Tetsuya mundur selangkah. "Aku mau minggat lagi."

"Katanya jantan, laki-laki tangguh." Ucap Seijuurou cepat, Tetsuya langsung menghenti langkah. "Temenin main, dong."

Mengintip layar tablet, Tetsuya mendesah kecewa. "Aku kalah, kan. Ini gara-gara Seijuurou-kun."

"Perang yang asli lebih menyeramkan daripada permainan ini, Tetsuya."

"Aku sedang tidak berperang,"

"Ayo perang,"

Tetsuya mengernyit.

"Perang di ranjang." Tambah Seijuurou, tidak lupa seringai jahilnya.

Tetsuya mengangguk mantap. "Siapa takut."

Kepala Seijuurou mengikuti langkah Tetsuya menuju kasur. Lelaki itu tampak berpikir sejenak, lalu berbalik pergi. "Tunggu sebentar, biar kuambil yang di kamar Chihiro-nii."

Abstrak. Seijuurou tidak jadi membaca pikiran Tetsuya. Maka ia biarkan Tetsuya keluar dan mengalihkan atensinya ke layar tablet di atas meja. Seijuurou tidak mengerti penyerangan markas macam apa yang terjadi di game ini, tapi ia langsung bisa menyimpulkan sesuatu dengan sekali lihat. Geser sedikit, pilih ini-itu, dan menang.

Tetsuya—yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya dengan sepasang bantal-guling langsung berdecak kagum. Binar mata terpancar lewat aquamarine-nya. "Hebat, Seijuurou-kun."

Merasa tampan, Seijuurou berdeham. "Aku memang hebat."

Merasa harus mengapresiasi lawan, Tetsuya berniat menemani setan kesepian di kamarnya. Ia meletakkan sepasang bantal guling milik Chihiro-nii di ujung tempat tidur, lalu pasangan bantal-guling miliknya di ujung lain.

Jari telunjuk mengarah ke bantal-guling bersarung abu-abu, "Seijuurou-kun duduk di sana."

Seijuurou tersenyum, duduk di ujung tempat tidur sesuai intruksi Tetsuya.

"Peraturannya, siapa yang gugur maka dia kalah. Ada satu bantal dan satu guling. Kita akan saling melempar. Kalau begitu, perang di ranjang, dimulai!"

Seijuurou terdiam.

Tetsuya mulai melempar.

Tapi tembus dan menghentak ke tembok.

Merengut, tidak terima. "Jangan curang, Seijuurou-kun!"

"Tidak, aku sama sekali tidak curang." Seijuurou mendengus pelan. "Bukan perang ranjang ini yang kumaksud."

Kepala teal ditelengkan, "Perang ranjang sama dengan perang bantal, kan? Seijuurou-kun tidak pernah memainkannya, ya? Kalau begitu biar kuajari. Bagian mana yang sulit dimengerti?"

Mau diajari.

Lalu pikiran licik mampir ke benak Seijuurou.

Baru saja Seijuurou ingin mengutara, pintu kamar dijeblak cepat.

"Tetsuya! Kalau kau mau berdelusi dengan bantal gulingku, biar kuganti dulu sarungnya—"

Dua penghuni kamar menatap lurus ke arah Chihiro.

Sang kakak mendesah lelah, melihat sosok Seijuurou yang juga ada di kamar adiknya.

"Kukira gulingku mau dijadikan bahan itu. Kalau memang Tetsuya mau begitu, aku siap jadi penggan—"

Buk!

Sasaran lempar bantal Tetsuya berganti ke Chihiro.

Buk!

Seijuurou tidak membuang kesempatan. Dengan tenaga penuh ia lempar sepasang bantal-guling sekaligus.

"Hei! Kau tidak usah ikut-ikutan!" Bentak Chihiro nyaring.

.

.

.

Kesehariannya Chihiro maupun Tetsuya sama-sama berubah. Meski porsi makan tetap dibuat untuk dua orang (karena Seijuurou tidak perlu makan), tapi penghuni rumah bertambah satu. Kadang Seijuurou tidur di kamar Chihiro. Lalu karena bosan diabaikan, ia pindah ke kamar Tetsuya.

Dan semenjak Seijuuro menghantui rumah mereka—meskipun tidak bisa dibilang 'menghantui' karena Seijuuro juga sepertinya sudah tobat—atau tidak sedang kumat—Chihiro merasa perhatian Tetsuya kepadanya berkurang karena ada sosok dari dunia lain yang menggaet adik tercintanya.

Sebut saja insiden lempar bantal dengan sengaja karena Tetsuya—yang menurut Chihiro sedang salah tingkah saat ia melontarkan humor kotor kepadanya—yang kini membuat dua insan beda dunia, beda sifat, beda warna rambut, namun hampir sama tingginya—sama-sama pendek—terlihat makin akrab, meskipun pada saat perjumpaan pertama mereka, Tetsuya seolah-olah mengibarkan bendera perang tanda tak suka kepada Seijuuro.

"Lagi?" Tetsuya mengeluh, sama sekali tidak mengalihkan pandangan ke arah tempat di mana kakaknya berpijak sejak sepuluh menit yang lalu. Chihiro merasa tersakiti.

"Tetsuya payah. Ayo main lagi. Jangan frustrasi begitu."

"Tidak mau. Aku sudah lelah. Main yang lain saja."

"Tanggung, Tetsuya. Kita main dua ronde lagi, ya? Biar aku yang gantian mengocoknya,"

"Ah, begitu lebih baik, tanganku sudah pegal dari tadi,"

Telinga Chihiro panas.

"Kalian... obrolannya sengaja dibuat-buat, kan?"

Tetsuya menoleh, memasang wajah heran.

"Chihiro-nii kenapa, sih? Kok sewot begitu,"

"Chihiro iri? Ayo main bertiga," Seijuuro menawarkan, tersenyum.

"Tidak. Aku tidak mau bermain ular tangga dengan kalian,"

Tetsuya mengedikkan bahu, "Terserah,"

Chihiro mendegus, dalam hati merutuk kenapa tidak ditawari lebih jauh. Ia menutup pintu, kemudian menjauh sebelum mendengar suara Tetsuya,

"Kocokan Seijuuro-kun cepat sekali,"

"Benar, kan? Aku ini handal dan berpengalaman,"

"Ajari aku bagaimana cara mengocok yang benar,"

Mereka hanya bermain ular tangga. Chihiro meyakinkan diri sendiri. Ular tangga.

"Sudah mau keluar—"

Chihiro putar balik, gesit, mendobrak pintu.

"—dadunya."

"Oh, Chihiro-nii berubah pikiran? Mau main sama-sama?"

Lupakan. Chihiro tidak menjawab, pintu kembali ditutup, atau lebih tepatnya, dibanting.

.

.

.

Hari sudah mulai malam, Chihiro baru ingat ada beberapa lembar pekerjaan dari kantor yang sama sekali belum ia sentuh.

Mengesampingkan rasa malasnya, ia duduk di kursi kerja dengan memakai kacamata baca, mengecek isi laporan keuangan perusahaan, sampai bunyi notifikiasi dari sosial media masuk ke ponsel pintarnya.

From : Hayama K.

Lagi ngopi bareng Reo-nee sama Gorilla. Mayuzumi-san mau ikut? Nanti kita jemput:3

Chihiro menatap layar ponselnya bosan. Sama sekali tidak punya niatan untuk ikut. Kalau ia pergi dari rumah, pun, rasa was-was pasti menghantuinya karena telah meninggalkan Tetsuya berdua dengan arwah penasaran yang mesum.

To : Hayama K.

Tidak, terima kasih atas tawarannya. Mungkin lain kali. Tapi hati-hati, bisa saja ada sianida di dalam kopimu. Katanya Mibuchi pintar di pelajaran kimia.

Chihiro mengulas senyum jahil, balasan datang secepat kilat.

From : Hayama K.

Sekarang aku benar-benar takut! Tadi aku sudah minum dua teguk. Bagaimana ini?!

Chihiro bisa membayangkan mimik wajah kaget Hayama saat membaca pesannya.

To : Hayama K.

Selamat tinggal, Hayama. Gajimu bulan depan akan masuk ke rekeningku.

"Kenapa senyum-senyum sendiri? Dari kekasihmu, ya?"

Chihiro terlonjak kaget, hampir jatuh dari kursinya. Ia menatap geram pada Seijuuro yang kini sudah duduk di atas meja kerjanya.

"Bukan urusanmu," ia mendengus. "Sudah mainnya?"

Seijuuro menampakkan ekspresi bingung sejenak, sebelum ia ganti menjadi menyebalkan.

"Oh. Sudah, kok. Tetsuya sampai kelelahan makanya aku akhiri saja."

Chihiro mengernyit, "Kalian hanya main ular tangga, kan? Kenapa adikku bisa sampai kelelahan."

"Hm," Seijuuro mengangguk. "Tetsuya mainnya naik-turun terus. Makanya ia kelelaha—"

"ULAR TANGGA, KAN?

Seijuuro angguk-angguk. Kemudian menyeringai aneh, "Benar. Kau kira kami memainkan apa?"

"Y-yah…"

"Aku tahu seluruh isi kepalamu, Chihiro. Kau suka berfantasi kotor tentang adik sepupumu sendiri—"

"Jangan mengobrak-abrik privasi orang!"

"Dasar manusia hina,"

"Kau dulunya juga manusia,"

"Sekarang, kan, aku sudah mati."

Chihiro terdiam, tidak bisa membalas umpatan menyebalkan yang dilontarkan oleh Seijuuro.

"Kau mau aku melakukan apa?"

Seijuuro menekuk alisnya, "Apa?"

"Maksudku, kau datang ke sini bukan tanpa alasan, benar?"

Raut wajah Seijuuro menjadi serius, dan entah mengapa Chihiro tak menyukainya.

"Aku sudah mengikutimu sejak kau dan teman-temanmu mengunjungi tempat itu yang dulunya

adalah rumahku," mulai Seijuuro.

"Dan… kenapa kau memilihku, maksudku, kami berempat, kau bisa saja memilih salah satu dari kami kecuali aku,"

"Mungkin karena kau tampan—"

Chihiro sudah mengambil penggaris besi dari laci mejanya.

"—bercanda." tambah Seijuuro cepat.

"Lanjutkan,"

"Entahlah, kau terlihat seperti satu-satunya orang yang bisa kumintai tolong,"

"Sebenarnya yang lebih handal itu mereka—bukan maksudku untuk memuji—tapi, kenyataannya memang begitu. Aku hanya diseret-seret ke dalam hobi mereka karena bisa melihat makhluk astral. Omong-omong, akhir-akhir ini sepertinya tidak ada yang lain selain kau, ya, di rumah ini?

"Aku mengusirnya,"

Chihiro tertegun. "Oh. Terima kasih…?" Hantu mengusir hantu. Memangnya itu legal?

"Tentu saja. Mereka semua takut kepadaku."

"Izin dulu kalau mau baca pikiran orang."

"Kelepasan," balas Seijuuro enteng.

"Kalau kau mau dibantu, akan kubicarakan dengan teman-temanku besok."

"Boleh aku ikut ke tempat kerjam—"

"Jangan." potong Chihiro secepat kilat. "Pokoknya jangan. Jangan buat onar. Tetap di rumah saja. Main sama Tetsuya."

"Tetsuya bilang ia tidak mau main denganku lagi kalau terus-terusan dikalahkan."

"Makanya kau biarkan dia menang!"

"Tidak bisa begitu,"

Chihiro memijat dahi, penat. "Terserah kau saja. Pergi sana. Aku mau kerja," gestur tangannya mengusir.

Seijuuro turun dari meja kerjanya, "Aku memang mau pergi ke luar, cari angin segar,"

"Ya, bye,"kalau bisa jangan balik lagi.

"Aku pasti kembali ke sini lagi, kok." Seijuuro menyeringai jahil.

Chihiro menatapnya bosan, sampai figur Seijuuro menghilang menembus pintu.

.

.

.

tbc


annovt's a/n :

hai ngaret ya?maav sibuk nih (senyum inosen) jadi ff ini udah dianggurin setahun wwwww
udahlah…saya nggak tahu mau ngomong apa tapi lama2 jadi pengin digentayangin sama akashi ahahah—

siucchi's a/n :

maaf telat update:"))


Akkurren612 iya ini lebih ke mayuaka tapi mayunya suka inses2 gitu ke kuroko..bisa dibilang hubungan segi enam:))/ngaco Hiks aw kamu sweet sekali sampe nangis gitu /nggak makasih yaw Caesar704 congornya mayu emang tajem ya..meskipun masih tajem adeknya sih- macaroon waffle mayu sama kuro sepupuan kok..dasaran mayu aja yang suka nganu nganu gt tingkahnya ke dia kkk hanyo4 multipairing wwwww nijimayu apa mayuniji?;)) Akashiki Kazuyuki akashi nganu itu gimana? /sokpolos/ sebenernya kasur mayu yang basah itu...cuma disirem sama akashi pake air kok... udah dilanjut yaa