Disclaimer: Harry Potter Milik JK Rowling.

Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger

Rating: T

Warning : OOC. No Magic. Based on Feltson's life story dengan tambahan sana sini yang murni karangan penulis.


Draco cepat-cepat memasukan ponselnya ketika Astoria keluar dari toilet bioskop. Dia baru saja men-stalking akun twitter Hermione yang menuliskan update terakhirnya satu jam yang lalu bahwa dia tengah berada di gedung PBB di London untuk sebuah acara yang di gawanginya sebagai duta PBB dari lembaga penyelenggara acara yang bernama UN Women. Tidak! jangan berpikir Draco mem-follow Hermione terang-terangan! Tentu saja Draco tidak sebodoh itu. Draco hanya rajin men-stalking Hermione, namun ia menghindari untuk mem-follow sang gadis. Begitupula dengan Hermione, ia tak pernah mem-follow Draco, tapi siapa yang tahu bahwa ia juga melakukan hal yang sama dengan yang Draco lakukan terhadap akun twitternya?

Draco pernah merasa sangat kesal sampai tidak sengaja membentak Astoria setelah membaca berita bahwa Hermione telah memiliki kekasih baru yang merupakan pemain Rugby di kampusnya. Draco lebih murka lagi saat dirinya melihat foto-foto intim Hermione dengan kekasihnya di salah satu situs gosip, di foto itu mereka sedang berinteraksi di pantai dengan sangat mesra, dan bahkan Draco sampai menjungkirbalikan meja ruang keluarganya karena geram melihat tubuh sexy Hermione yang hanya mengenakan bikini hitam menggoda itu dijamah oleh pria yang mengaku kekasih Hermione itu. Tapi itu semua tak berlangsung terlalu lama sehingga belum sampai tahap membuat Draco membunuh pria itu.

Saat natal lalu Draco hampir melompat seperti anak kecil yang mendapat kado natal super banyak dan parahnya dia juga hampir mencium bibir sahabatnya Theodore Nott yang sedang berada di ruangan yang sama dengannya saat itu saking senangnya, namun untungnya sisa-sisa kewarasannya yang sempat tercecer mengingatkannya untuk menahan diri sehingga tidak jadi melakukan hal tersebut. Theo hanya mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi saat melihat Draco tak hentinya tersenyum sendiri sambil membaca dengan serius artikel entah apa di laptopnya. Artikel yang membuatnya terlihat seperti orang yang terkena gangguan jiwa dan hampir saja membuatnya melakukan perbuatan memalukan yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh seorang malfoy paling bodoh sekalipun. Ah maksudku Malfoy tentunya tak ada yang bodoh, yah terserahlah. Artikel itu berisi berita mengenai hubungan Hermione dengan pria yang saat itu telah resmi menjadi mantan kekasihnya. Ya, Hermione telah resmi putus secara baik-baik dengan pemain Rugby di kampusnya.

Saat menstalking account media sosial milik Hermione, Draco sering melihat tweet Hermione yang mempublikasikan tentang #HeForShe sebuah gerakan solidaritas yang mengusung kesetaraan gender antara pria dengan wanita. Kekaguman Draco bertambah berkali-kali lipat setelah mengetahui bahwa Hermione diangkat sebagai duta UN Women Goodwill tersebut, wanita favoritnya tak pernah membuat Draco kehabisan alasan untuk mengagumi dan memujanya bahkan mencintainya. Hermione bukan hanya cantik, sukses, dan berbakat. Gadis itu juga cerdas dan terpelajar, akan sulit jika Draco mencoba mencari duplikatnya di belahan dunia manapun. Hermione telah menjadi duta PBB termuda sepanjang sejarah dan malam ini dia akan melakukan pidatonya mengenai feminisme.

Draco sendiri mengakui bahwa dirinya adalah seorang feminis dan dia berpikir kalau kadar feminisnya melonjak tinggi karena perkara feminis ini telah berhasil membawa Hermione-nya pulang ke Inggris, kesempatan yang tak akan Draco sia-siakan begitu saja. Dia sudah lama menunggu Hermione setelah pertemuan terakhir mereka yang panas di kediaman Mrs. Rowling saat hari ulang tahun si pemilik rumah. Saat itu Dewi Fortuna seperti setia mendampinginya sehingga banyak sekali keberuntungan menimpanya bagai durian jatuh, dari mulai Astoria yang mendadak harus berangkat ke Madrid untuk urusan pekerjaan, sampai kedatangan tiba-tiba Ronald Weasley ke kediamannya untuk menjemputnya ke pesta kejutan ulang tahun Mrs. Rowling sehingga Draco kembali mendapatkan keberuntungan lainnya yaitu bertemu dengan Hermione dan mewujudkan semua fantasi gilanya terhadap gadis itu. Hermione tambah membuatnya gila setelah kegiatan mereka malam itu.

Draco tersenyum manis pada kekasihnya dan menggandengnya menuju parkiran untuk mengantarnya pulang ke apartemen Astoria.
"Sepertinya kau senang sekali, ada apa?" Astoria memulai pembicaraan setelah berhasil memasang belt-nya dengan benar.
"Begitukah? Apa wajahku benar-benar terlihat terlalu senang setelah berkencan dengan kekasihku ini?" Draco melajukan mobilnya dengan mulus sambil menyeringai menatap kekasihnya yang merona hebat.
"Gombal yang manis Drake, perhatikan jalanan!" Astoria memutar bola matanya.
"Aku bahkan dapat mengemudi dengan kecepatan konstan seperti ini sambil menciummu sayang." bual Draco sambil menyeringai.
"Oh aku bahkan tak mau repot-repot membuktikannya. Hanya jalan dan fokus saja Drake, jangan kekanakan." Astoria memalingkan wajahnya yang merona ke jendela mobil karena kelakuan kekasihnya yang edan. Draco hanya terkekeh mendengar gerutuan Astoria dan kembali fokus mengemudi.

Draco menghentikan mobilnya. "Besok mau ku jemput?" tanya Draco saat Astoria membuka belt-nya.
"Tak perlu, aku akan berangkat ke lokasi bersama Mark." Astoria mencium pipi dan bibir Draco sekilas lalu keluar dari mobil.
"Bye Drake." Astoria membungkuk ke jendela mobil dan melambaikan tangannya.
"Bye..." Draco tersenyum sekilas lalu menutup jendelanya dan segera melajukan Porche silvernya dengan kecepatan cahaya. Keahlian mengemudinya tidak dapat dipandang sebelah mata, melihat berbagai koleksi supercar sportnya dengan banyak brand ternama kau harus percaya bahwa Draco tidak membual saat bicara pada Astoria bahwa ia bahkan mampu mencium wanita sambil tetap mengemudi dengan aman. Mungkin itu berlaku untuk semua wanita termasuk Astoria, tapi Draco sendiri tidak yakin bahwa kemampuannya itu bisa dilakukannya bersama Hermione. Draco menggelengkan kepalanya, dia memutuskan tak akan mencoba hal itu pada Hermione, Draco tak ingin Hermione terluka. Bukan karena Draco mulai tak percaya pada kemampuannya, tapi lebih karena dia tau seberapa tak terkontrolnya dia saat berada dalam radius kurang dari 2 meter bersama Hermione.

Jalanan masih sangat ramai, namun Draco telah sampai di tempat tujuannya dalam 15 menit, padahal normalnya jarak tersebut harus di tempuh paling tidak dengan 30 menit.
Draco memarkirkan mobilnya di basement dan segera menuju aula utama gedung PBB.
Di bagian depan aula terdapat tembok besar berwarna abu-abu dengan tulisan besar berwarna putih bertuliskan #HeForShe.

Draco menatap sekeliling aula mencari sesosok wanita berambut cokelat. Setelah satu menit penuh mengawasi, fokus netranya berhenti pada satu sosok yang sejak tadi dicarinya duduk di kursi kedua dari depan di balik meja panjang yang diatasnya terpampang namanya sedang berbincang serius dengan dua orang pria yang duduk satu barisan meja dengannya di dekat panggung. Draco mengambil tempat di kursi audience dan duduk disana sambil terus mengawasi gerak-gerik Hermione yang sedang berdiskusi serius dengan dua orang rekannya. Hermione terlihat sangat elegan dan terpelajar saat berinteraksi dengan resmi seperti itu. Hermione mengenakan coat belt berwarna putih gading dan memberi aksen metalic belt di pinggangnya. Hermione hanya mengikat rambutnya dengan sederhana dan mengenakan make up yang natural.

Setelah lama Draco memandangi Hermione yang sedang menyimak dengan serius pembicara di depan panggung, Draco melihat Hermione berdiri dan berjalan menuju panggung untuk berpidato. Hermione melakukan semuanya dengan baik, gadis itu bicara dengan tenang namun tegas membuat Draco tambah ingin berlari memeluknya dengan bangga sekarang juga di depan orang-orang dan berteriak bahwa gadis cerdas dan cantik itu adalah miliknya.

Setelah beberapa menit melakukan presentasinya di depan pejabat PBB dan masa jurnalis, Hermione kembali ke tempat duduknya dengan anggun dan menerima jabat tangan dari rekan-rekannya.

Saat acara selesai Hermione di kerubungi banyak wartawan dan beberapa pejabat PBB lain termasuk Sekretaris Jendral PBB Mr. Ban Ki-Moon. Draco menyerah kali ini karena tak mungkin mendatangi Hermione saat ini, jadi Draco memutuskan untuk pulang dan kembali lagi mengunjungi Hermione besok malam ke pesta yang diadakan PBB di Peninsula Hotel.
See? Draco bahkan hafal jadwal kegiatan Hermione.

Draco berhasil mengelabui Astoria bahwa ia ada keperluan mendadak di Wiltshire pagi-pagi sekali sehingga harus berangkat sore ini juga untuk menginap dan tak bisa menemaninya ke pesta perayaan kecil-kecilan yang diadakan kru-nya setelah berhasil menyelesaikan proyek mereka. Draco pergi dengan sangat gembira karena merasa bebas dan akan bertemu dengan Hermione.

Draco memasuki aula hotel dan mencari-cari keberadaan gadis pujaannya ke sekeliling aula. Dengan cepat atensinya menangkap sosok yang dicarinya sedang berdiri di dekat panggung dengan seorang pria berkulit hitam yang sepertinya orang Afrika dan seorang pria lebih tua dengan rambut di ikat kebelakang menyisakan sedikit gumpalan rambut dibelakangnya, pria itu memiliki brewok yang cukup tebal, dari jarak itu Draco tidak mengenali siapa pria itu, tapi dia merasa pernah melihatnya. Seketika senyum Draco merekah, dan hampir berubah menjadi seringaian. Draco berjalan cepat menuju tempat ketiga orang itu berdiri, kemudian tiba-tiba dari belakang panggung muncul seorang wanita tinggi berambut pirang dengan seorang pria tinggi berambut cokelat agak panjang yang menggandeng seorang wanita berambut hitam. Sang Wanita pirang yang Draco kenali sebagai penyanyi Amerika bernama Taylor Swift itu memanggil nama Hermione dan langsung memeluknya, kemudian dia terlihat memperkenalkan laki-laki berambut hitam yang datang bersamanya. Laki-laki itu tersenyum sok tampan dan mencium kedua pipi Hermione!
"Berani-beraninya pria itu mencium Hermione!" geram Draco mengepalkan tangannya dan berjalan lebih cepat ke arah Hermione.
Saat langkahnya semakin dekat Draco mulai mengenali kedua pria dan wanita berambut hitam yang bersama Hermione. Pantas Draco merasa tidak asing dengan wajah mereka, ternyata pria tua itu adalah Leonardo Di Caprio, sedangkan pria yang tadi mencium Hermione adalah Aston Kutcher bersama pasangannya Mila Kunis.

Draco merutuki dirinya yang mudah sekali merasa cemburu jika mengenai Hermione, dia bersyukur tadi belum sempat meninju Kutcher saat mencium Hermione. Mau di taruh dimana wajah tampannya jika itu terjadi? Bisa-bisa Hermione juga malu dan mengusirnya dari sini.

Ketika Swift, Kutcher, dan Kunis datang, Di Caprio dan orang Afrika itu menjabat tangan mereka dan mengakhiri pembicaraannya dengan Hermione lalu pergi entah kemana. Tinggalah Hermione bersama ketiga orang itu. Saat sudah semakin dekat Draco baru benar-benar melihat Hermione dengan jelas, seperti biasa penampilan elegan selalu diterapkan gadis cantik itu disetiap kesempatan. Di pesta kali ini Hermione mengenakan sophisticated black frock, make up natural seperti biasa dan rambutnya yang di sanggul sederhana.

Keempat orang itu sedang tertawa senang saat Draco tiba di tempat mereka berdiri dan menyapa mereka.
"Excuse Me." Kata Draco.
"Hey! Mr. Malfoy?" Taylor Swift yang pertama menyapa Draco.
"Bukan, aku Prince Harry." gurau Draco sambil tersenyum. Mereka semua tertawa, kecuali Hermione. Draco meliriknya, mata Hermione seakan berkata 'apa yang kau lakukan disini?'
dan Draco hanya menyeringai menanggapinya.
"Kau pasti di undang oleh Miss Granger kan?" Kutcher menepuk bahu Draco.
"Eh.. mmm tidak, kebetulan saja aku ada janji dengan kolegaku di hotel ini sore tadi, saat aku akan pulang dan melewati aula, ku lihat sedang ada event jadi aku mencoba melihat-lihat sebentar, ternyata aku menemukan teman lamaku disini. Draco tersenyum manis ke arah Hermione dan menimbulkan rona merah di pipi putihnya.
"Wah, ku pikir kalian benar-benar cocok!" kali ini Mila Kunis angkat bicara dan komentarnya yang bernada menggoda itu membuat Draco dan Hermione membelalakan matanya.
"Haha, tidak usah tegang begitu Mr Malfoy! Sepertinya kau takut sekali bila ada orang yang menghubungkanmu dengan Miss Granger. Kau takut pacarmu marah eh?" Kutcher dengan seenak bokongnya membuka aib Draco.
"Aku setuju dengan Mila, kalian itu cocok loh! Perlu kalian dengar pengakuanku? bahwa aku adalah Dramione Shipper dan Feltson Lover!" Taylor tertawa girang sekali bersama dua orang lainnya, sedangkan dua orang yang sedang di bicarakan mengeluarkan dua ekspresi berbeda, si wanita tengah membelakan matanya, sedangkan si pria tengah menyeringai sambil memperhatikan wajah si wanita yang sedang merona.
"Dan jujur saja aku sering membaca fanfiction dengan pairing Feltson!" Lanjut Taylor tanpa ampun.
"Haha yah ampun guys, sudahlah kalian membuat nona ini hampir matang karena terus-terusan merona." Kunis merangkul bahu Hermione yang tegang.
Hermione memaksakan mengeluarkan tawanya.
"Haha maaf maaf, aku hanya mengungkapkan sebuah pengakuan kok." Taylor berujar.
"Emm sepertinya kita harus pulang Mila, besok aku harus berangkat pagi-pagi sekali." Kutcher bicara kepada Kunis.
"Baiklah aku juga! emm guys, sepertinya kami harus pulang cepat malam ini. Selamat atas acaramu Mione." Swift memeluk dan mencium pipi Hermione, diikuti oleh Mila Kunis dan Aston Kutcher.
"Okay, terimakasih kalian sudah datang. Sampai jumpa." Hermione melambaikan tangannya setelah Swift, Kunis, dan Kutcher selesai menyalami Draco.
"Yeah, bye..." Taylor Swift hendak berbalik pergi namun dia berhenti dan kembali menatap Draco. Taylor mengambil sebuah kamera mini dari tas Channel-nya dan memberikannya pada Mila Kunis dan meminta tolong untuk mengambil gambarnya. Taylor menarik Hermione ke sebelah kirinya dan meminta Aston Kutcher menggandeng Draco ke sisi Kiri Hermione dan ke sisi kanannya untuk berfoto bersama, sehingga Draco dan Hermione berada di tengah dan mereka berdua mengapit keduanya di kanan dan kirinya. Setelah 2 foto dengan gaya berbeda berhasil di ambil. Swift meminta Kunis untuk menyetel fitur video pada kameranya, setelah camera on, Jemari Taylor menunjuk Draco sambil berkata "He" kemudian dia tersenyum dan berkata "For" lalu menunjuk Hermione sambil berkata "She. Decide what your commitment, then publicly announced"
Kunis mematikan kameranya dan menyerahkannya pada Taylor yang tersenyum senang.

"Thanks Mila, sebentar! aku takkan bersikap tidak sopan dengan hanya menjadikanmu fotografer, ini.. kita akan selfie dulu dengan tongkat ini." Taylor mengeluarkan sebuah tongkat pendek dengan ujung persegi yang digunakan untuk mengapit handphonenya oleh Taylor, kemudian ia menarik tongkat tersebut hingga menjadi lebih panjang dari yang seharusnya. Taylor mengatur timer kamera handphone-nya lalu mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi sehingga seluruh wajah mereka berlima tertangkap lensa kamera. Mereka mulai berpose dengan berbagai gaya. Setelah puas, Taylor merapikan tongkat yang tadi digunakannya untuk selfie.
"Darimana kau dapatkan tongkat seperti itu Tays?" Mila mengawasi Taylor yang sedang memasukan tongkat tadi ke dalam tas-nya.
"Yeah! Itu sangat brilliant!" Aston menyeringai tertarik melihat benda itu.
"Tongkat itu kudapatkan dari fans-ku saat aku tour di Indonesia. Gadis itu memberikannya sambil menjelaskan bahwa tongkat itu digunakan untuk selfie. Mereka menyebutnya Tongsis, tapi aku lupa kepanjangannya." Taylor mengangkat bahunya.
"Terimakasih fotonya Tom, Emma. Kupikir aku akan membuatkan kalian sebuah lagu. Oh ya ampun kalian begitu manis" Taylor memasukan kameranya kembali ke tasnya dan menyeringai pada Draco dan Hermione lalu menatap mereka dengan penuh konspirasi.
"Terimakasih juga Mila dan Aston. Ayo kita pulang, Bye Guys." kali ini Taylor benar-benar menghilang di balik pintu besar aula setelah melambaikan tangannya pada Hermione dan Draco.
Hermione menghela napas panjang dan memijat keningnya. Draco hanya menaikan alisnya memandangi kepergian ketiga orang tadi.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Hermione tanpa memandang ke lawan bicaranya.
"Menemuimu." Jawab Draco singkat
"Sekarang kita sudah bertemu. Ada perlu apa?" Hermione kini memandang langsung ke mata Draco.
"Banyak." Draco mengangkat bahunya.
Hermione memutar bola matanya, lalu berjalan pergi dan Draco mengikutinya.
Hermione duduk di sebuah sofa di ruangan belakang panggung yang sengaja disediakan untuk para panitia pesta, Draco duduk disebelahnya.
"Selamat atas kelulusanmu." Draco memulai.
"Hmm, yeah... terimakasih." Hermione menjawab kaku.
"Ku dengar kau membawa bodyguard wanita yang menyamar menjadi wisudawati dan membawa pistol saat acara wisudamu eh?" Draco terkekeh.
"Eh? Ternyata kau adalah stalker-ku hmm?" Hermione menyeringai.
"Karena itulah aku bisa sampai kesini."Draco menyeringai balik dan membuat Hermione mengerutkan keningnya bingung.
"Maksudmu?" Hermione menaikan sebelah alisnya.
"Sejak tadi kau tak bertanya mengapa aku bisa tahu kau disini?" Draco merespon pertanyaan Hermione dengan pertanyaan juga.
Kerutan bingung di dahi Hermione perlahan-lahan menghilang dan suatu pemahaman melesat masuk ke otaknya. "Jadi kau men-stalking akun twitterku?!" Hermione menyipitkan matanya.
Draco hanya mengangkat bahu cuek "Kau tetap Miss Know It All sejati" Draco menyeringai - lagi.
"Padahal aku berharap mendapat undangan darimu loh di acara wisuda itu, lalu memberikan sebuket bunga padamu di depan teman-teman, dosen, rektor, dan bodyguardmu itu. Aah, tapi aku mungkin harus mengenakan rompi anti peluru untuk pergi kesana. Tapi toh sayang sekali aku tak mendapatkan undangan itu darimu." Draco meracau tak jelas.
"Kuberi undanganpun kau tak mungkin datang karena kau di penjarakan oleh penyihir jahat." Hermione mendengus.
Draco terkekeh...
"Oh ya, tadi kulihat kau bicara dengan Leonardo Di Caprio? apakah dia punya urusan disini?" Draco mengalihkan pembicaraan.
"Yeah, dia juga merupakan salah satu duta PBB, hari ini adalah pengangkatannya sebagai Duta Peduli Lingkungan." Jawab Hermione lancar.
"Bagaimana dengan Kutcher, Kunis, dan Swift?" Draco melonggarkan ikatan dasinya dan membuka kancing atas kemejanya.
"Taylor mengisi acara tadi, dia menyanyi beberapa lagu. Sedangkan Aston hanya datang sebagai seorang pria feminis dan Mila menemaninya tentunya." Hermione mengangkat bahu.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau itu duta apa sebenarnya?" Draco menatap Hermione sambil menyeringai menyebalkan.
"Aku tak mau menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah diketahui si penanya." Hermione mendengus untuk yang kesekian kalinya.
Draco terkekeh "Sepertinya kau yakin sekali aku tau segalanya tentangmu."
"Tentu, karena kau baru saja mengakui bahwa kau adalah stalker-ku." Hermione memalingkan wajahnya yang dirasanya mulai panas.
"I love your smart mouth" Draco menyeringai melihat tampang Hermione.
"Apa kabarmu?" Draco kembali serius.
"Baik, dan kau?" Hermione memainkan jemarinya.
"Buruk." Draco menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke punggung sofa.
"Kenapa?" Hermione memandang Draco khawatir.
"Aku rindu padamu." Draco memandang langsung mata Hermione.
"Kau gila. Pacar barbarmu pasti akan mencak-mencak dan menerjangku dengan ganas jika mendengar ucapanmu barusan." Hermione ikut menyandarkan punggungnya ke sofa dan memjamkan matanya.
Hening beberapa saat, hingga Hermione merasakan sesuatu yang lembut, dingin, dan basah menyentuh bibirnya. Hermione membuka matanya dan melihat pria pirang yang tengah menciumnya membungkukan tubuh diatasnya sambil memejamkan matanya, alisnya berkerut penuh konsentrasi. Hermione hendak memberontak, namun ia mengurungkan niatnya setelah Draco mulai berujar lirih dalam ciumannya.
"Aku sakit Granger." draco berkata lembut dan kembali mengecup mesra bibir ranum hermione.
"Aku sakit rindu dan kaulah obatku." bisik Draco masih dengan mata terpejam dan bibir menempel pada bibir Hermione yang memutar bola matanya setelah mendengar ucapan Draco yang menurutnya berlebihan.
Tapi kemudian Draco melanjutkan "kau pasti memutar bola matamu, tapi percayalah aku tidak sedang membual." Draco kembali melumat lembut bibir hangat Hermione, berusaha menyalurkan rasa rindunya yang membuncah dan berhasil, Hermione menangkap perasaan yang coba diungkapkan Draco. Hermione yang awalnya sama sekali tidak membalas ciuman Draco ataupun membuka mulutnya, kini mulai membalas ciumannya dengan lembut. Draco tersenyum dalam ciumannya dan mempererat dekapannya pada pinggang Hermione.
Lama mereka bergelung di sofa, Hermione telah mengalungkan lengannya di leher Draco menekan kepalanya agar lebih memperdalam ciuman mereka. Saliva mereka berbaur dan menetes dari sela-sela pergulatan lidah dan bibir mereka, ruangan berukuran sedang itu telah di penuhi suara-suara lenguhan dan kecupan basah dua insan yang sedang di mabuk rindu. Untunglah saat Draco masuk tadi ia telah mengunci pintu ruangan itu.
Draco membuka matanya dan menemukan mata Hermione yang tengah terpejam. Draco melepaskan pagutannya dan melihat Hermione terengah-engah kehabian napas. Draco tersenyum lembut melihat ekspresi wajah hermione yang merona dan sedikit hilang akal, bibirnya terbuka dan terlihat agak bengkak karena di hisap dengan brutal oleh Draco. Keadaannya berantakan dan menurut Draco itu sangat sexy. Hermione membuka matanya dengan sayu, tatapan keduanya bertemu. Mata Draco menggelap melihat iris cokelat Hermione, ia langsung menenggelamkan wajahnya di leher mulus Hermione, menyesapnya dengan rakus sambil menghirup harum vanila musk dari tubuh Hermione. Hermione kembali melenguh, meremas rambut lembut Draco.
"Enghhh... Dracoo...hh.." Draco senang bukan main mendengar Hermione memanggil namanya seperti itu. Draco sadar ia ingin lebih. Draco ingin lebih dari sekedar bergelung dan bertukar saliva seperti ini dengan gadis pujaannya. Tapi tiba-tiba sebuah ingatan melesat masuk kedalam kepalanya, ia teringat kalimat terakhir hermione kepadanya sebelum pergi meninggalkannya di balkon kediaman Mrs. Rowling. 'Aku tak mengizinkanmu untuk menjamahku lebih dalam lagi. Karena sebesar apapun harapanku padamu, aku hanya akan menyerahkan diriku pada seseorang yang akan menikahiku kelak'.

Draco berhenti dari aktifitasnya. Ia seperti di tampar mengingat kata-kata Hermione itu.
Hermione menatap Draco dengan pandangan bertanya. Draco menciumi bahu hermione dan menurunkan tali bahu gaunnya dengan lembut sambil mengelusnya. Draco mengulum jemari Hermione kemudian terus menyusuri lengan Hermione dengan bibirnya, terus naik ke atas hingga kembali ke bahunya, Hermione memejamkan matanya lagi mencoba mengatur napasnya, dadanya yang terbungkus gaun hitam tertutup naik turun. Draco menjilat bibirnya, dan membungkuk ke arah telinga Hermione "I Love You Dear" bisiknya.
Mendengar pernyataan Draco, setetes bulir bening mengalir dari sudut mata Hermione. Draco dengan sigap mengecup pipi Hermione yang di basahi bulir air mata.
"Jangan menangis sayang." Draco berbisik lembut sambil mengelus rambut cokelat Hermione yang kini tidak lagi tertata seperti sebelum mereka masuk ke ruangan itu.
"Tinggalkan dia Drake! Tinggalkan dia jika kau mencintaiku!" Hermione bersusah payah menahan isakannya saat mengucapkan kata-katanya.
"Tatap Aku!" Hermione menangkupkan kedua tangannya di pipi Draco, memaksa pria itu untuk menatap matanya.
"Tinggalkan dia, dan nikahi aku! Hanya itu dan kau akan medapatkan obatmu sepenuhnya Drake!" Hermione mengunci iris kelabu milik Draco.
"Itulah yang ingin aku lakukan sejak lama, tapi aku tak tahu bagaimana melakukannya." Draco bangkit dan duduk di samping Hermione sambil mengacak-acak surai platinanya.
"Kau mengenal dia, dan kau tau apa yang harus kau lakukan Drake. Aku masih disini tiga hari lagi." Hermione merapikan gaunnya yang sudah kusut karena ulah Draco.
"Kau akan kembali ke New York?! kau menetap disana?!" suara Draco meninggi.
"Ya dan tidak, ya aku akan kembali ke New York tapi tidak, aku tidak menetap disana, aku masih punya urusan yang harus ku selesaikan disana selama dua bulan kedepan. Dan tiga hari lagi aku harus berkunjung ke Afrika Selatan dan Swiss untuk urusan kampanye UN Women lalu aku akan pulang ke Prancis mengunjungi ibuku beberapa hari sebelum kembali ke New York." Hermione menyisir asal rambutnya dengan jari.
"Kalau saja aku seorang penyihir darah murni seperti Tom Felton, aku pasti akan ber-apparate sekarang juga ke kamar Astoria untuk meng-obbliviate-nya lalu aku akan membawamu ber-apparate malam ini juga ke Vegas dan menikahimu disana." Draco mulai bicara melantur.
"Jika kau seorang darah murni seperti Tom Felton, kau tak akan menginginkan muggle sepertiku." Hermione memutar bola matanya.
"Dan kau pikir aku mau kau nikahi di Vegas seperti wanita simpanan begitu?! Tentu saja aku tak sudi!" Hermione berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang.
"Lalu pernikahan seperti apa yang kau inginkan eh?" Draco ikut bangkit dan berdiri di hadapan Hermione. Nafasnya menyapu kulit wajah Hermione.
"Aku mau menikah seperti Princess Kate Middleton. Disaksikan oleh banyak pasang mata, dan mengucapkan janji suci dengan hikmat di depan tamu dari kerabat dan seluruh teman-temanku dan teman-teman mempelai priaku. Bukannya menikah buru-buru dengan keperluan seadanya dan tamu yang tidak lebih dari lima orang saja tanpa sepengetahuan orang lain." Hermione memutar bola matanya. Draco terkekeh melihat kelakuan gadisnya yang menggemaskan itu.
"Karena akulah pangeran calon mempelai priamu, maka aku pastikan kau mendapatkan apa yang kau inginkan dalam upacara pernikahan kita nanti. Bahkan aku akan memberikan lebih hingga malamnya, besok malamnya, malamnya lagi, lagi dan lagi." Draco berbicara dengan nada menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum miring. Kelakuannya membuat perut Hermione melilit sambil memandangnya terpesona.
"Aku sudah berkomitmen Hermione, aku berkomitmen dengan kesetaraan gender antara pria dan wanita, dan juga berkomitmen denganmu, aku mengharagaimu hei wanita, dan kau akan mendapatkan hakmu beserta apapun yang kau minta dariku. Because He For She, and I For You" Bisik Draco sambil menyelipkan sejumput rambut Hermione ke belakang telinganya.
"Kau mengutip pidatoku?" tanya Hermione dengan suara lembut.
"Aku menjadi salah satu audience kemarin sore. Kau terlalu sibuk dengan teman-teman pintarmu sehingga aku memutuskan untuk tak mengusikmu dan kembali saja malam ini" Draco tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione. Namun ia tidak mencium bibir Hermione, Draco hanya tersenyum lembut kemudian berbisik di telinga kanan Hermione "Tunggu aku princess." dan mengecup cepat pipi Hermione, lalu segera menghilang di balik pintu ruangan itu. Meninggalkan Hermione yang masih berdiri kaku sambil meremas rambutnya frustasi dengan kedua tangannya.

To Be Continued...


Sejujurnya saya rada ngeri gak bisa bikin cerita ini complete ^^"

Bahkan tadinya cuma mau buat gak lebih dari 3 chapter, tapi sepertinya akan ada chapter 4-nya, kemudian soal chapter 5 dan seterusnya masih belum tau...

Thanks a lot ya buat semua review-nya, suatu kehormatan jika fict ini disukai reader :)

Oh ya, thanks juga untuk supportnya, kali ini wisuda benar-benar tinggal 1 cm lagi :D

Druella Wood