Disclaimer: Harry Potter Milik JK Rowling.
Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger
Rating: T
Warning : OOC. No Magic. Based on Feltson's life story dengan tambahan sana sini yang murni karangan penulis.
"Mione! bangun pemalas!" Ginny menyentakan selimut merah yang menutupi seluruh tubuh Hermione kecuali ujung kepalanya.
"Ya ampun Gin, ini masih pagi kau tau! Aku lelah sekali semalam, mengertilah please." Hermione mengerang memeluk gulingnya keras kepala.
"Kau tau aku baru saja melihat apa di timeline instagramku?" Ginny berbisik di telinga Hermione dengan misterius.
"..." Hermione tak menyahut.
"Aku melihat fotomu dengan Taylor Swift, Aston Kutcher, dan... Draco Malfoy." Ginny menunggu reaksi Hermione, tapi tak tampak respon apapun dari gadis berambut cokelat itu. Kelihatannya dia sudah kembali tidur, astaga.
Ginny membuka kembali handphone-nya dan kembali mencari postingan foto Hermione dan Draco, kemudian ia justru mendapatkan satu postingan lagi yang tak kalah kontroversial. Ginny menutup mulutnya dan kembali mengguncang bahu Hermione dengan kecepatan yang mengerikan. Hermione langsung bangkit dan menatap Ginny dengan marah.
"Jangan marah dulu padaku sebelum kau melihat ini!" Ginny menunjukan layar handphone-nya yang menampilkan foto Hermione bersama Draco, Taylor, dan Aston. Hermione mendelikan matanya, dan hendak meraih handphone Ginny untuk meyakinkan matanya, tapi Ginny menjauhkan handphone-nya dari jangkauan Hermione.
"Tunggu sebentar! Lihat juga yang satu ini!" Ginny kembali menunjukan layar handphonenya yang menampilkan video yang di posting Taylor Swift 5 menit lalu melaui akun instagram pribadinya dengan caption 'They so cute, He absolutely for She. Because of I'm a Dramione, I think I'll write a song for them.'
Hermione meraih handphone-nya sendiri di nakas sebelah tempat tidurnya. Tertera beberapa panggilan tak terjawab satu dari adiknya Alex, dan yang lainnya dari Elena manager-nya. Terdapat 4 sms, 3 sms pertama dari Elena dan yang terakhir dari Alex.
Hermione membuka sms dari Alex terlebih dulu.
From : My Handsome LilBro
Hey! Bangun pemalas! Kau pasti masih tidur sampai tak bisa mengangkat teleponku.
Ya ampun Mione! kau berulah apalagi eh? bajuku sekarang sudah hampir tidak utuh lagi karena paparazi sialan itu. Mereka menerjangku ketika aku keluar dari rumah, mereka stand by disana sejak subuh! Yang benar saja, jika saja tidak ada ujian arithmancy dengan Profesor Snape hari ini, aku pasti tak akan mempertaruhkan nyawaku untuk menerobos gerombolan pencari berita itu dan lebih pilih membolos saja.
Hermione menautkan alisnya dan langsung menekan tombol reply
To : My Handsome LilBro
Maaf Alex, aku benar-benar lelah semalam, jadi aku bangun agak siang.
Ada apa dengan para paparazi itu? apa kau tak mendengar apa pertanyaan mereka ketika kau melewati mereka? Aku juga tak tau apa-apa.
Mione menggulirkan tampilan layar handphonenya dan membaca sms dari Elena mulai dari pertama
From : Elena
Mione, ponselku tak hentinya berdering sejak subuh, kau melakukan apa semalam bersama Malfoy eh? Kudengar paparazi juga menunggui rumahmu dari subuh, benarkah itu Mione? Kau ada dimana Mione?
Hermione memijat keningnya dan melanjutkan membaca sms dari Elena selanjutnya.
From : Elena
Mione, kau dimana eh? kenapa tak mengangkat puluhan panggilanku?
Hermione kembali menekan sms terakhir dari Elena.
From : Elena
Baiklah, mungkin kau masih di alam mimpi, ketika kau bangun nanti sebaiknya kau melihat instagram Taylor Swift, setelah itu bersiaplah temui aku di rumahmu.
Hermione menekan tombol call pada nama Elena, dan langsung di angkat setelah nada sambung pertama.
"Kau dimana?" Elena dan Hermione bertanya secara bersamaan.
"Aku sedang menuju rumahmu." Elena menjawab terlebih dulu.
"Jangan ke rumahku, kau ke apartemen Ginny saja, aku menginap disini semalam."
"Okay, aku akan sampai dalam lima belas menit." Elena menutup sambungan teleponnya.
Hermione menghempaskan tubuhnya ke ranjang, lalu berguling kembali memeluk gulingnya. "Apa yang kau lakukan Mione?!" Pekik Ginny.
"Melanjutkan tidurku yang terganggu, please Ginny aku benar-benar lelah, pusing, dan mengantuk sekali. Aku hanya punya 15 menit dan sekarang tinggal 14 menit untuk sejenak tidur kembali sebelum Elena sampai okay? Jika kau ingin membantuku, buatkan saja aku teh hijau atau kopi juga boleh please? Ku rasa aku benar-benar butuh kafein untuk otakku." setelah selesai bicara panjang lebar seperti itu Hermione langsung kembali terlelap, tampaknya dia benar-benar kelelahan. Ginny menghela napas berlebihan lalu beranjak ke dapur menyiapkan dua cangkir teh dan satu cangkir kopi pesanan Hermione.
"Kau bisa jelaskan ini Drake?" Astoria melempar iphone-nya ke arah Draco yang sedang menggosok stick golf-nya dengan kehati-hatian yang berlebihan di sofa ruang tamunya.
Draco hanya melihat sekilas layar handphone Astoria yang menampakan fotonya dengan Hermione, Taylor Swift, dan Aston Kutcher pada sebuah artikel website gossip dengan headline Reuni Cinta Monyet. Draco mendengus dan mengangkat bahu cuek kemudian meniup ujung tongkat golf-nya yang baru selesai ia gosok.
"Jawab aku Draco!" Geram Astoria.
"Itu fotoku." jawab Draco enteng.
"Yeah, dan kenapa kau bisa bersama mereka? bersama Granger? kapan dan dimana foto ini diambil?!" Astoria berkacak pinggang.
"Kemarin." Draco mulai kesal diteriaki seperti itu oleh kekasihnya sendiri.
"Oh ya ampun, jadi kau menipuku eh? kau bilang kau punya urusan di Wiltshire pagi-pagi sekali maka kau harus berangkat malamnya untuk menginap, menginap bersama jalang itu maksudmu?!" Astoria mulai terlihat seperti Troll yang hamil tua sedang mengamuk.
"Berhentilah menuduhku dengan segala macam prasangka burukmu itu Astoria! Dan jangan berteriak padaku! Kau mulai terdengar seperti akar mandrake dengan jeritanmu itu." Draco memasukan seluruh perangkat golf-nya ke dalam tasnya dengan hati-hati, kecintaannya pada golf setara dengan kecintaan Tom Felton dengan Quidditch.
"Sekarang kau bahkan mulai berani menghinaku seperti itu?!" suara Astoria mulai bergetar.
"Aku benar-benar ke Wiltshire semalam! kau bisa mengeceknya, hubungi Robert atau David kalau perlu, tanyakan mereka apa yang ku kerjakan! semalam aku hanya mampir sebentar ke hotel tempat dilangsungkannya acara itu, karena aku punya keperluan dengan seseorang. Kemudian aku bertemu dengan Granger dan bergabung sebentar. Swift yang menyeretku." Draco berjalan ke kamarnya dengan menggendong tas golf-nya.
"Siapa orang yang ingin kau temui di hotel itu? pasti Granger kan?" Astoria mengikuti Draco menuju kamarnya.
'Oh crap! kenapa dia bisa menebaknya dengan tepat?!' umpat Draco dalam hati.
"Kenapa kau takut sekali jika aku bertemu Granger? kau tidak bermasalah ketika aku bertemu Pansy ataupun Luna atau Ginny, atau siapapun, tapi ada apa dengan Hermione?" Draco sengaja menyebut nama depan Hermione untuk membuat Astoria lebih marah, itulah tujuannya.
"Jangan sebut nama depannya didepanku?!" teriak Astoria terkena perangkap Draco.
"Ku bilang berhenti berteriak padaku!" desis Draco berhenti berjalan dan membalikan badannya menatap tajam Astoria.
"Kau membuatku malu Tori! Tampaknya aku harus memikirkan kembali hubungan kita. Cepat atau lambat aku harus menikahi seorang wanita. Tak ada seorang Malfoy yang bertindak bar bar seperti yang baru saja kau lakukan, aku tak yakin Ibuku akan menyukaimu jika kau tak merubah sikapmu. Ibuku sangat menjunjung tinggi keanggunan seorang wanita kau tau." Draco berbalik untuk melanjutkan jalannya menuju kamarnya kemudian berdiri di hadapan Astoria setelah selesai menyimpan tas golf-nya di lemari.
"Apa maksudmu berkata seperti itu padaku?" bisik Astoria dengan suara bergetar dan mata merah berair antara marah sekaligus ingin menangis.
"Kurasa kita tidak bertemu dulu untuk saat ini. Kita perlu berpikir jernih. Kau dan Aku." Draco mengepalkan tangannya dengan kuat berusaha untuk menahan diri agar tak meraih tangan Astoria dan memeluknya untuk kemudian menghapus air mata yang kini telah berhasil menerobos tanggul pertahanan kelopak mata Astoria.
Draco menyayangi Astoria dan masih berlaku hingga saat ini. Tapi Draco tak lagi mencintainya, atau mungkin juga ia tak pernah mencintai Astoria, entahlah bahkan Draco sendiri bingung. Sejak dulu Draco berusaha menyangkal perasaannya pada Hermione, tapi sekarang ia takkan melakukan kesalahan lagi, Draco yakin ia mencintai Hermione. Draco terlalu gengsi untuk memacari Hermione yang saat itu masih kecil. Usia mereka terpaut 3 tahun. Saat mereka baru saling mengenal, saat itu usia Hermione masih 11 tahun sedangkan dirinya sendiri berusia 14 tahun. Sejak awal Draco tahu bahwa Hermione menyukainya dan Draco mengakui bahwa Hermione adalah gadis yang manis, namun saat itu ia hanya mengagumi Hermione dan bukan mencintainya. Kemudian tiga tahun berikutnya Draco semakin dekat dengan Hermione, mereka datang ke premiere film bersama dengan kostum yang senada, mereka berjalan-jalan ke taman rekreasi bersama, yang jelas mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Hingga tiba saat dimana mereka diberitakan berpacaran. Saat itu Draco telah mencapai usia tujuh belas, dimana teman-teman seusianya mulai merubah penampilannya dan bermetamorfosa dengan tubuhnya. Yang pria menjadi lebih tinggi dan mulai terbentuk otot-otot kelelakiannya, sedangkan yang wanita mulai mendapatkan lekuk tubuh yang mereka dan lawan jenis mereka inginkan. Jangan lupakan hormon mereka semua yang mulai bekerja baik laki-laki maupun perempuan.
Pada titik ini Draco mulai menyukai Hermione sebagai laki-laki mencintai wanita, namun ia tak mau kalau sampai ia diejek oleh teman-temannya karena memacari 'anak kecil'. Saat itu tubuh Hermione masih rata selayaknya anak perempuan yang belum melewati pubertas. Itu jelas, karena Hermione masih berusia empat belas. Jadi ketika mereka dihadapkan dengan pertanyaan mengenai rumor hubungan mereka yang menyatakan bahwa mereka pacaran, Draco dengan tersenyum berkata pada pers bahwa mereka hanya berteman dan Draco hanya menganggap Hermione sebagai adik perempuan yang tak pernah dimilikinya.
Draco tahu saat itu ia telah menyakiti hati gadis manis yang mulai disukainya. Draco tahu ia telah melakukan sesuatu yang fatal untuk hubungan mereka kedepannya. Maka semenjak saat itulah mereka mulai berhenti menghabiskan waktu bersama.
Setahun berlalu, Hermione mulai tumbuh menjadi gadis yang cantik, tubuhnya tidak lagi rata seperti tahun sebelumnya. Draco sedikit merasa frustasi akan kenyataan menjauhnya Hermione darinya, ditambah lagi dengan perubahan fisik Hermione saat itu. Draco merindukan Hermione, namun ia tak mungkin menjilat ludahnya sendiri dan kemudian memacari Hermione, harga diri seorang Draco Malfoy terlalu tinggi.
Jadi saat ia melihat Hermione sedang berdansa dengan Victor Krum setelah selesai take scene yuleball film keempat, Draco dengan percaya diri menghampiri keduanya dan mengambil alih Hermione untuk berdansa dengannya. Draco membungkukan tubuhnya sambil mengulurkan tangannya seperti yang dilakukan pangeran-pangeran negeri dongeng untuk mengajak putrinya berdansa, dengan refleks alami - yang Draco berani bersumpah atasnya bahwa Hermione kelepasan menunjukannya - Hermione melompat sambil tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang sempurna dan menyambut uluran tangan Draco dengan antusias. Mereka menari dengan semangat diiringi musik yang menghentak-hentak, Draco merasakan perasaan yang hangat saat melihat tawa Hermione yang sangat ceria. Para kru sengaja mengadakan break panjang dan memutar banyak lagu agar anak-anak tidak jenuh dan dapat bersenang-senang atau berpesta sungguhan. Bukan hanya Hermione dan Draco yang berdansa, banyak juga anak-anak lain yang berdansa di setting aula besar, Harry terlihat berdansa dengan Ginny sedangkan Ron dengan Fleur. Musik bertempo cepat yang baru seperempat bagian di nikmati Draco dan Hermione untuk berdansa telah selesai dan berganti dengan musik klasik untuk dansa yang sesungguhnya.
Saat mulai berdansa kembali dengan musik yang lebih slow, Hermione mulai canggung dan lebih banyak diam. Draco yakin bahwa Hermione mulai menyadari reaksinya yang kelewat antusias tadi. Draco mengeratkan pelukannya pada pinggang Hermione, membuat Hermione mendongakan kepalanya dan menatap langsung ke dalam mata Draco.
Draco ingat sekali saat itu, saat dimana mata cokelat madu Hermione menyelam ke dalam mata kelabunya Draco merasakan perutnya sedikit melilit entah mengapa. Tentu saja saat itu dirinya masih polos dan Draco pasti selalu mendengus dan mentertawakan dirinya sendiri setiap kali mengingat kejadian itu dan pikirannya sendiri saat itu.
Setelah mereka berpandangan lama sekali hingga lagu hampir habis, Draco menarik Hermione ke sudut aula besar secara diam-diam, berusaha untuk tak menarik perhatian orang-orang. Saat sampai di pojok ruangan, Draco membimbing Hermione masuk ke balik sebuah tirai yang digunakan sebagai ruang ganti darurat. Draco menutup tirai tersebut lalu menatap mata Hermione yang memandangnya dengan pandangan bertanya.
"Hermione, aku..." Draco kehilangan kata-katanya.
"Ada apa Drake?" Hermione memandangi Draco dengan khawatir atas ekspresi frustasi Draco. Bukannya menjawab, Draco justru malah meraih dagu Hermione dengan lembut membimbing wajah Hermione untuk mendongak dan mendekat ke arah wajahnya sendiri. Pipi Hermione seketika merona, dan detik kemudian bibir keduanya bertemu, keduanya hanya menempelkan bibir satu sama lain, tidak lebih dan tak ada permainan ala french kiss, mereka masih remaja kalau kau ingat. Hanya dengan posisi seperti itu mereka bahkan tidak merasa bahwa mereka telah melakukan penyatuan bibir itu selama 2 menit penuh. Setelah kedua bibir itu memisahkan diri, Draco memandang Hermione sebelum mengucapkan 'maaf' dan pergi begitu saja meninggalkan Hermione yang tengah shock dibalik tirai. Draco tau saat itu Hermione sama sekali tak menangis walaupun hatinya sedih, karena Draco begitu mengenal gadis itu. Hermione adalah gadis yang tidak hanya pintar, tapi juga kuat.
Astoria menahan isakannya dengan susah payah. "Kau akan mengakhiri hubungan kita dan kembali ke pelukan gadis itu, itu kan tujuanmu sebenarnya?"
"Itukah yang kau inginkan?" jawab Draco datar.
Astoria membelalakan matanya "Kau yang menginginkannya! bukan aku!" jerit Astoria.
"Aku tak bilang apa-apa, kau yang mengatakannya." Draco menatap tajam ke mata Astoria dan tetap menjawab dengan tenang.
"Karena aku tau apa yang kau pikirkan!"
"Oh ya? Kalau begitu beri tahu aku sekarang apa yang ku pikirkan?"
"Aku telah mengatakannya tadi!" Astoria membentak
"Tidak, berarti kau salah. Aku berpikir kapan kau akan bisa lebih percaya padaku dibanding sekarang, mungkin aku bisa bersabar dan mencoba menyadarkanmu bahwa aku butuh kepercayaan dalam sebuah hubungan dengan kita tidak saling bertemu selama beberapa saat, tapi ternyata kau bahkan malah terus berteriak padaku... kau telah memberitahuku apa yang seharusnya kulakukan." Draco mengamati ekspresi wajah Astoria yang mulai memucat.
"Apa maksudmu?!" Astoria mencicit kecil.
"Mungkin sebaiknya aku benar-benar melakukan apa yang kau tudingkan padaku tadi. Aku akan mengakhiri hubungan kita." suara Draco mengecil di kalimat terakhir.
Astoria tidak menimpali kata-kata Draco, wanita itu hanya terisak, membiarkan linangan air mata membasahi wajahnya, tangannya terkepal dan kakinya mulai gemetaran.
Draco melangkah mendekati Astoria sambil mengusap air mata yang senantiasa menganak sungai di wajah wanita yang kini telah menjadi mantan kekasihnya. Tangis Astoria mulai membuncah dengan perlakuan Draco, isakannya berubah menjadi sedu sedan.
Draco memeluk Astoria dan meletakan dagunya di puncak kepala Astoria, membuat tangisan wanita itu semakin menjadi-jadi.
"Ssstt... jangan menangis Tori, nanti make up-mu luntur dan kau menjadi jelek." Draco berusaha menghibur Astoria.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau hanya mengerjaiku tadi?" Astoria mulai berusaha menghentikan tangisannya dan mendongak menatap Draco.
"Aku menyayangimu Tori, sangat menyayangimu. Saking aku menyayangimu, aku sampai tidak pernah mampu untuk melihatmu menangis terlebih karena aku. Akibatnya aku bahkan membuat wanita yang sebenarnya aku cintai justru malah menangis karenaku." Draco menggenggam erat tangan Astoria.
"Aku benar-benar mencintaimu setiap kali aku mengatakannya padamu, aku tak bohong. Namun ada cinta lain yang selama ini kusangkal setengah mati yang kadarnya lebih besar daripada cintaku padamu Tori. Aku benar-benar menyesal akan itu, tapi aku tak kuat lagi menyangkal perasaan itu saat ini." Draco menunggu jawaban Astoria.
"Hermione Granger?" bisik Astoria.
Draco mengangguk singkat "Aku mengenalnya lebih dulu dibanding aku mengenalmu, jadi kumohon jangan membencinya. Jika kau berpikir dia merebutku darimu, maka kau salah. Dia tak pernah mengejarku, justru aku yang menemuinya. Dia bahkan selalu bilang tak mau mengganggu hubungan kita. Tapi saat kau mengatakan tudinganmu tadi, aku benar-benar sadar dan yakin kalau memang hal itulah yang seharusnya kulakukan. Aku tak ingin menyakitimu lebih dalam lagi Astoria, kau juga salah satu prioritasku dalam hal ini. Enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk menjadikanmu hal yang penting bagiku." Draco memberi jeda untuk mengetahui apa Astoria akan mengatakan sesuatu, tapi tak ada kata yang keluar dari bibir Astoria. Ia hanya sesenggukan memandang t-shirt Draco yang basah oleh air matanya.
"Apa kau bisa menerima hal ini?" Draco berbisik lembut seperti guru taman kanak-kanak yang sedang mencoba memberikan pemahaman kepada anak didiknya.
Astoria menggeleng memberi tatapan memohon pada Draco.
"Kau akan memperoleh lelaki yang jauh lebih mencintaimu dibanding aku, dan kau akan bahagia dengan itu, percayalah padaku." Draco mengecup kening Astoria lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Kau tak menyakitiku Draco, justru kau menyakitiku jika kau memutuskanku seperti ini." Astoria mulai bisa menghentikan sedu sedannya.
"Kau hanya berambisi Tori, kau hanya berambisi untuk menang dari Granger, sebenarnya kau sadar sejak dulu kalau kau tersakiti dengan keadaan ini. Kau selalu merasa cemburu dan paranoid ketika aku akan bertemu dengannya." Draco menjelaskan.
"Itulah yang dilakukan wanita normal pada kekasihnya!" Astoria mencoba menyangkal.
"Tapi kau telah melampaui batas Tori. Please mengertilah, jangan mendebatku lagi, kau tau itu akan sia-sia okay! Aku pergi, ada janji dengan Ron untuk main golf. Ku harap saat aku kembali kau sudah lebih baik, kembalilah ke apartemenmu dan bawa barang-barangmu." Draco keluar dari apartemennya sambil menggendong tas golf yang lebih kecil dari sebelumnya.
"Tenanglah teman-teman, aku akan menjawab pertanyaan kalian dengan singkat dan to the point jadi kuharap kalian benar-benar merekamnya dengan baik karena aku tak mau mengulanginya okay!" Hermione kini berdiri di depan pintu penumpang mobil Elena yang saat baru tiba di depan kediaman Hermione langsung di serbu puluhan paparazi yang sebelumnya telah berhasil mencabik-cabik pakaian adiknya Alex.
"Pertama, mengenai foto yang diunggah oleh Miss Swift semalam adalah memang fotoku dengan dirinya, Mr. Kutcher, dan Draco. Kami hanya foto bersama okay? Ku rasa tak ada yang salah dengan itu, seingatku Ellen DeGeneres tidak menemui hal heboh seperti ini ketika ia melakukan selfie dengan teman-teman lain.
Kedua, soal mengapa ada Draco Malfoy disana? Dia bilang, dirinya baru saja selesai melakukan meeting dengan koleganya di hotel yang sama dengan acara UN Women diadakan, lalu dia mampir dan tak menyangka bisa menemuiku disana. Lagipula dia juga mengaku seorang feminis, oleh karena itu dia bergabung." Hermione memberikan jeda untuk memberikan tatapan tegas ke para rombongan paparazi itu. Mereka mulai kembali memberondong pertanyaan-pertanyaan lain kepada Hermione.
Hermione mengangkat tangan kanannya untuk meredam rentetan pertanyaan wartawan.
"Aku belum selesai, ini jawaban terakhirku atas pertanyaan-pertanyaan kalian. Ku harap kalian puas, karena sejujurnya aku kurang senang jika kalian mewawancaraiku mengenai kehidupan pribadiku, aku lebih senang jika kalian mewawancaraiku mengenai prestasiku. So, aku tak punya hubungan lebih dari sekedar teman dengan Draco Malfoy." Hermione memberikan senyum tulusnya kepada para wartawan yang mewawancarai dan memotretnya, kemudian menembus kerumunan wartawan yang belum puas dengan jawabannya untuk masuk ke dalam kediamannya.
"Ternyata kau punya nyali juga ferret!" Ron terbahak-bahak sambil berjalan santai disamping Draco menuju bola golf yang tadi di pukulnya berhenti.
"Tutup mulut Weasley! Aku bukan Tom Felton, Draco Malfoy selalu punya nyali!" Draco memukul kepala Ron main-main.
"Tentu, tentu." Ron berhenti dan mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan tongkat golfnya.
"50 pounds, pasti tak akan masuk." seringai Draco mengembang dari telinga ke telinga.
Ron memukul bola tanpa terpengaruh, kemudian bolanya bergulir mulus melintasi padang rumput luas itu. Namun sebelum mencapai lubang yang dituju, pergerakannya mulai melambat dan kemudian berhenti tepat lima sentimeter dari lubang didepannya.
"Ha! apa kubilang eh? Lihat master Draco bermain Ron!" Draco berlagak selayaknya pemain golf handal, walau ia memang cukup handal dengan hobby-nya ini. Ron memutar bola matanya menyaksikan Draco meminta bola golf baru sambil mengedipkan sebelah matanya genit pada caddy cantik disampingnya yang sejak tadi mendampingi permainan mereka. Sang caddy merona, namun Draco mengacuhkannya dan berjalan menuju teeing ground untuk mengambil ancang-ancang melakukan teeing shoot. Gerakan yang dilakukan Draco memang benar-benar menakjubkan, keren sekaligus anggun. Bola yang dipukul oleh Draco dengan kuda-kuda yang bagus itu meluncur dengan mulus menuju green sejauh 300 yard dalam sekali shoot. Ron bersiul panjang kemudian Draco menyeringai puas dan menepuk-nepuk bahu Ron. Mereka berdua kembali berjalan santai menuju wilayah green, ternyata bola Draco berhenti 5 meter diluar Green, kini Ron yang menyeringai.
Draco terkekeh mengangkat sebelah tangannya dan kembali mengambil posisi untuk melakukan approaching shoot.
"Look at this Weasley!" tanpa banyak bicara lagi Draco memukul bolanya dengan kekuatan terukur. Draco memenangkan pertandingan dengan melakukan chip-in, karena bola yang dimasukannya ke dalam lubang dalam satu kali shoot itu dipukul dari luar area green.
"Kali ini aku mau ditraktir di Royal Court." Draco menyeringai pada Ron yang kemudian mengisyaratkan Caddy yang menemani mereka sejak tadi untuk kembali lebih dulu dan meninggalkan mereka berdua saja.
"So, apa rencanamu selanjutnya?" Ron mengedikan kepalanya ke depan, mengajak Draco berjalan untuk kembali.
"Kupikir aku telah mengatakannya barusan?" Draco mengiringi langkah Ron.
"Dasar bodoh! maksudku bukan rencana kau mau ditraktir dimana! Tapi rencanamu terhadap Hermione." Ron memutar bola matanya.
Draco tertawa "Oh! Salah tangkap ternyata, mungkin aku terlalu kelaparan." kekeh Draco sambil mengusap-usap perut ratanya.
"Jadi?" Ron mulai tak sabar dengan basa-basi Draco.
"Kupikir aku akan melakukannya dengan normal." Ron menaikan alisnya tak mengerti mendengar perkataan Draco.
Draco yang paham Ron mulai kambuh bodohnya langsung melanjutkan "Maksudku aku akan memulainya dengan perlahan, dengan mengajaknya berkencan secara private mungkin? tanpa sepengetahuan media. Kemudian kami bisa menjalin hubungan lebih dekat. Baru selanjutnya aku akan melamarnya." Draco menjelaskan semua itu dengan senyum lebar terpatri di bibirnya.
Ron terkekeh melihat tingkah Draco.
"Hermione memang hebat! Dia bisa membuat orang brengsek sepertimu berpikiran romantis dan merencanakan untuk berkomitmen dengan seorang wanita." Ron meninju lengan Draco main-main.
"Felton yang brengsek Ron! bukan Malfoy!" Draco memberikan death glare-nya.
"Hoho, oke oke Felton yang brengsek, bukan Malfoy. Aku setuju itu." Ron tertawa cukup keras. Mereka telah sampai di tempat tas mereka.
"Kapan kau melancarkan rencanamu hmm? Kudengar Hermione akan kembali meninggalkan London besok lusa." Ron menyabet air mineral dingin dari meja kecil di hadapannya.
"Yeah, aku tahu. Seperti yang kubilang aku takkan buru-buru, tunggu saja tanggal mainnya Ron." Draco bangkit berdiri sambil menyampirkan handuk kecil di bahunya.
"Tapi bagaimana kalau kau keduluan orang lain?! Mione itu wanita yang cemerlang kau tau? Banyak pria menginginkannya, kau harus cepat jika tak mau disalip pria lain." Ron ikut bangkit dan merangkul tas golfnya.
"Tak akan, pesonaku cukup kuat untuk menahannya." Draco menyeret Ron untuk meninggalkan area Golf menuju parkiran untuk makan siang.
"Hari ini dan besok kau bisa menggunakan waktumu untuk privasimu Mione. Kau tak ada jadwal pekerjaan." Elena menyeruput kopi-nya dengan anggun.
"Hmm, berarti schedule pekerjaan ku di Inggris hanya tinggal menghadiri undangan di istana lusa pagi?" Hermione sibuk memainkan handphone-nya sambil mengunyah kue kering yang dipesannya bersama secangkir teh hijau.
"Begitulah. Kau sudah menyiapkan baju yang akan kau kenakan ke istana besok lusa?" tanya Elena.
"Sudah, aku hanya akan mengenakan kemeja putih dengan rok abu-abu dan sedikit menata rambutku." Hermione meletakan handphonenya dan memusatkan perhatiannya pada Elena yang kini sibuk memotong steak domba-nya.
"Sepertinya steak-mu enak." Hermione tersenyum memperhatikan manager-nya itu makan dengan antusias namun tetap anggun.
"Hehem, ini enak Mione! kau mau mencobanya?" tawar Elena.
"Tidak, aku tidak suka daging domba." Hermione menolak halus.
"Pesanlah, kau baru menelan sepotong kecil waffle tadi pagi di rumah Ginny. Kau bisa mengganti daging domba-nya dengan daging sapi." Elena membujuk Hermione dengan lembut. Elena memang sudah menganggap Hermione seperti adik perempuannya sendiri, begitupun Hermione yang menganggap Elena sebagai kakak perempuannya mengingat usia Elena yang 3 tahun lebih tua dari Hermione.
Hermione baru akan menyahuti bujukan Elena sebelum tiba-tiba suara seorang pria menginterupsinya dengan memanggil namanya.
"Ron? Malfoy?" Hermione mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
TBC
Thanks for reading
Thanks for review
Maaf gak bisa update kilat seperti yang diminta. Sorry juga kalo chapter ini kurang memuaskan ^^"
Terakhir, thanks juga untuk sarannya.
Electra Malfoy : senang bisa buat kamu senyam senyum sendiri :D soalnya aku juga suka senyam senyum sendiri kalo baca fict lain, dan itu menyenangkan xD
.
.
.
"Hi Mione." kedua pria itu menyeringai lebar seperti orang sinting. Mereka menghampiri meja Hermione dan Elena untuk kemudian meletakan bokong mereka di kursi kosong meja para wanita itu.
"Apa kabar boys?" sapa Elena tersenyum ramah pada Ron dan Draco.
"Baik El, bagaimana denganmu?" balas Ron dengan senyum berlebihan.
"Sangat baik." Elena tersenyum menampakan giginya yang putih rapi.
"Kebetulan sekali." kata Hermione tanpa merasa perlu repot-repot berbasa-basi.
"Draco tadi yang mengajak kemari. Aku tak tahu apa dia memang sudah tahu kau ada disini dan sengaja minta ditraktir disini agar bisa bertemu denganmu atau memang hanya kebetulan." mulut bocor Ron mulai kehilangan rem-nya.
"Aku tak tahu kalau Hermione juga berada disini Ron." elak Draco yang memang benar-benar tak tahu menahu bahwa akan bertemu Hermione di Royal Court.
Elena terkekeh mendengar percakapan antara kedua pria dihadapannya.
"Tadi kau bilang soal traktir? Dalam rangka apa sebenarnya?" Hermione mengalihkan pembicaraan.
"Ron baru saja kalah duel golf denganku, itu sudah rutinitas." kali ini Draco yang menyahut sambil tetap menyeringai mengejek Ron.
"Dasar sombong." sahut Ron.
"Kalian sudah pesan?" Elena menginterupsi mereka karena merasa tidak enak makan sendirian.
"Itu pesanan kami datang." Ron menunjuk waiters yang sedang berjalan menuju meja mereka dengan membawa 1 nampan besar yang berisi 3 piring besar beserta 2 gelas minuman.
"Dua fish and chips, satu roast meats, dua jus labu. Ada lagi yang bisa saya bantu?" kata waiters sopan.
"Setelah ini aku mau es krim cokelat dan tolong bawakan air mineral." Kata Draco melirik Ron yang memandangnya tak percaya.
"Aku juga." sahut Ron.
"Baiklah, saya permisi." si waiters meninggalkan meja mereka.
"Sepertinya kau mau memerasku Drake?" Ron menuding Draco dengan garpunya.
"Hei turunkan garpumu itu Ron, dasar bar-bar." ejek Draco sambil tertawa puas berhasil mengerjai sahabat baiknya itu.
Elena dan Hermione ikut tertawa melihat tingkah kedua pria itu.
"Kalian makan seperti babi. Itu banyak sekali kau tahu?!" Hermione mengerutkan alisnya menatap seluruh makanan pesanan Draco dan Ron.
"Memangnya kau pikir kami yang akan memakan semua ini eh? Ini untukmu, makanlah! tadi Elena bilang kau hanya memasukan sepotong kecil waffle pagi ini? Kau tahu kau bisa sakit." Draco menggeser salah satu piring fish and chips ke hadapan Hermione.
Hermione hanya menatap Draco dan menaikan kedua alisnya. Draco tersenyum pengertian kepada Hermione.
"Aku tahu kau takkan bisa menolak fish and chips. Tadinya aku akan memesankan untukmu lancashire hotpot, lancashire hotpot disini enak sekali! Tapi aku ingat kau tak suka daging domba. Jadi fish and chips kupikir pilihan tepat." Hermione memandang Draco takjub.
"Kenapa kau memandangku seperti itu hmm? Oh ayolah Mione, santaplah makananmu. Setelah itu kau baru boleh menyantapku." seringai Draco mendominasi wajahnya. Kini wajah Hermione benar-benar merona hebat mendengar ucapan Draco sedangkan Elena menutup mulutnya berusaha menahan tawanya.
"Yah ampun, kalau mereka benar-benar akan saling menyantap setelah makan siang ini, sepertinya aku butuh tumpanganmu untuk pulang nanti El." Kata Ron yang langsung mendapatkan death glare dari Hermione.
"Kau tahu El? Mereka sama-sama punya tatapan setajam mata samurai yang mengerikan. Kau bisa bayangkan bagaimana anak mereka nanti? Pasti me-... Hei!" ocehan Ron terpaksa berhenti karena pukulan Hermione di kepalanya.
"Itu untuk mulut besarmu Ron." kata Draco. Elena terkikik benar-benar merasa terhibur kali ini.
Seriusan To Be Continue...
Druella Wood
