Disclaimer: Harry Potter Milik JK Rowling.
Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger
Rating: M
Warning : OOC. No Magic. Based on Feltson's life story dengan tambahan sana sini yang murni karangan penulis.
"Apa yang harus ku kenakan Gin?!" Seru Hermione dari dalam walking closetnya. Sudah hampir satu jam gadis bersurai cokelat itu mengobrak-abrik isi lemarinya untuk mencari pakaian terbaiknya.
"Kau akan menghadiri acara amal atau fashion week dimana sih?! Oh ayolah Mione! Bersikaplah biasa saja please, kau hanya akan berkencan dengan Malfoy okay?!" Ginny balas berteriak dari sofa di tengah kamar Hermione.
"Halo ladies. Wohoo... apa yang sedang kakak cantikku lakukan dengan museum bajunya itu eh? kalau aku tak salah dengar, barusan kau bilang Hermione akan nerkencan dengan Malfoy Gin? Alex berjalan dari pintu kamar Hermione menuju pintu walking closetnya.
"Halo juga tampan! yeah, kakak cantikmu akan berkencan dengan cinta monyetnya." kata Ginny dengan suara kencang yang disengaja agar didengar oleh Hermione.
"Cinta pertama lebih baik untuk digunakan daripada cinta monyet Gin!" Hermione balas berteriak dari dalam.
"Terserahmu." kata Ginny cuek.
"Lebih baik kau gunakan dress hitam yang kau kenakan di pemakaman Greyback waktu itu. Malfoy pasti tak akan sanggup menahan dirinya hanya untuk sekedar membawamu ke tempat sepi." goda Alex yang disambut tawa Ginny membuat Hermione mendengus mendengarnya.
"Kau sangat membantu Alex!" Hermione mencibir.
Ginny masuk ke dalam walking closet Hermione dan menarik sebuah gaun berwarna emerald dari salah satu bilik lemari Hermione kemudian menyerahkannya pada gadis itu.
"Pakailah! aku jamin Draco akan menyukainya." Ginny tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hijau..." Hermione menyeringai mirip seperti Draco.
"Kau mirip Malfoy sist!" Alex menaikan sebelah alisnya.
_oOo_
"Kau mirip aku dear!" Hermione memutar bola matanya mendengar respon Draco.
"Yang benar saja, dari sekian banyak pujian yang wajar dan pantas kau lontarkan justru kau mengatakan bahwa aku mirip denganmu?" Hermione mengernyitkan hidungnya. Menggemaskan pikir Draco.
"Tentu itu merupakan pujian dear, siapapun yang mirip denganku berarti mereka itu tampan atau cantik, karena aku sendiri tampan benar kan?" Draco mengulurkan lengannya untuk digandeng oleh Hermione.
"Sungguh percaya diri." Hermione mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya.
"Begitulah Malfoy." Draco menyeringai membawa Hermione masuk ke lift.
"Kenapa kau bilang aku mirip denganmu?" Hermione memerhatikan wajah Draco yang menurutnya benar-benar sempurna seperti jelmaan Dewa.
"Karena kau mengenakan warna hijau, dan tadi aku melihatmu menyeringai saat melihatku berjalan menghampirimu, kau benar-benar mirip aku jika seperti itu." Draco tersenyum manis menatap Hermione yang merona dan tak melepaskan pandangannya pada mata Draco.
"Apakah itu sebuah undangan dear?" bisik Draco mendekatkan wajahnya pada wajah Hermione. Mata Hermione mulai kembali fokus.
"Apa maksudmu." Hermione berdeham dan mengalihkan pandangannya ke pintu lift.
Draco memposisikan dirinya dibelakang tubuh Hermione dan meletakan kedua tangannya di bahu gadis itu sambil berbisik di tengkuk Hermione "Kau tahu maksudku." Nafas Draco menyapu leher Hermione yang terbuka.
Hermione memejamkan matanya merasakan kecupan ringan bibir Draco di palung lehernya.
"Ehm, cukup Draco! Hargai aku okay!" Hermione menarik diri dari Draco. memberikan jarak antara mereka.
Draco ternyenyum kecil dibelakang punggung Hermione dan mensejajarkan kembali tubuhnya disamping Hermione. Draco menggenggam tangan Hermione, namun pandangannya lurus ke pintu lift yang dua detik kemudian berdentang dan terbuka.
Draco membimbing Hermione yang sibuk memandang sekeliling ruang terbuka yang dipijaknya menuju sebuah meja bertaplak putih ditengah ruang terbuka itu.
Draco menarik sebuah kursi untuk diduduki Hermione dan kemudian menarik kursinya sendiri diseberang Hermione untuk duduk.
"Ini namanya makan malam romantis yang sederhana dan pasaran." Draco tersenyum menatap Hermione yang mengerutkan alisnya bingung dengan maksud perkataan Draco.
Draco tak mempedulikan pandangan Hermione dan malah menuangkan sampagne ke gelasnya dan gelas Hermione.
"Kenapa kau tak menjelaskan maksud perkataanmu lebih dulu?"
"Aku tak berniat untuk menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang bahkan mereka tidak merasa perlu menanyakannya. Cheers" Draco mengangkat gelasnya tanpa perlu menunggu Hermione melakukan hal yang sama kemudian ia menenggak isinya hingga habis.
"Okay okay... Well, apa yang kau maksud dengan makan malam romantis yang sederhana dan pasaran hmm?" Hermione melipat kedua tangannya di atas meja, menunggu jawaban Draco.
"Apa kau tak setuju dengan itu?" Draco menaikan alisnya balik bertanya.
"Itu bukan jawaban Draco." Hermione memutar bola matanya.
"Memang." seringai Draco kembali muncul.
"Uh! pembicaraan ini takkan membawa kita kemanapun, hanya akan berputar saja disekitar situ." Hermione mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya kau mau dibawa kemana dear? aku akan membawamu kemanapun kau inginkan." Draco terus saja menggoda Hermione.
"Aku mau pulang saja jika kau terus mengoceh tidak jelas seperti itu Drake!" Hermione hendak berdiri dan ditahan dengan tangan Draco yang menarik tangannya untuk kembali duduk.
"Oke oke, kau ini galak sekali eh? Tapi aku suka." Hermione mendengus.
"Tak ada maksud apa-apa dari kalimatku tadi. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, makan malam ini memang bukan makan malam romantis yang unik, mewah, ataupun bisa membuat wanita menjerit dan menangis bahagia seperti di novel atau film-film romantis. Aku kan bukan pria romantis, jadi aku mohon kau untuk memakluminya." Draco tak hentinya tersenyum selama menjelaskan hal itu pada Hermione.
Hermione membalas senyum Draco dengan senyum terbaiknya. Sangat manis pikir Draco. "Kenapa kau tersenyum?" tanya Draco.
"Kau romantis dengan caramu sendiri. Hanya wanita yang bisa menilai kadar keromantisan seorang pria kau tahu." Keduanya terkekeh.
"Aku membawamu kemari agar tidak mengundang perhatian, jadi aku minta maaf jika aku tak bisa mengantarmu pulang nanti." Draco menghentikan tawanya.
"Tak masalah, aku bawa mobil. Kau tak ingin orang-orang tahu kalau kau terlihat mengencaniku setelah kau memutuskan kekasihmu dua hari sebelumnya?" Hermione kelepasan menekan nada sarkastik pada suaranya.
"Ya, kau benar. Alasan pertama adalah aku tak ingin di cap playboy, dan alasan kedua, aku tak mau kau dianggap sebagai wanita perusak hubungan orang." Draco menanggapinya dengan tenang.
"Well, semua yang kau katakan benar adanya bukan?" Hermione meminum sampagne-nya dengan tenang.
"Tentu tidak. Aku bukan playboy, kau tahu aku menjalin hubungan sejak lama dengan Astoria dan tak pernah terdengar secuilpun berita bahwa aku pernah berselingkuh darinya." Draco memandang Hermione tajam.
"Karena kau pintar menyembunyikannya, seperti yang sekarang kau lakukan." Hermione tak mau kalah dan balas menatap Draco tajam.
"Aku tak menyembunyikan apapun Granger. Dulu ataupun sekarang! Kau ini benar-benar keras kepala. Padahal aku juga bermaksud menjaga reputasimu, tapi kau malah berpikir seperti itu terhadapku." Draco mulai kesal dengan Hermione.
"Untuk apa kau menjaga reputasiku? Aku tak melakukan sesuatu yang fatal yang bisa membuat nama baikku rusak!" tantang Hermione.
Draco menatap mata Hermione datar cukup lama, berusaha mengebor ke dalam hazel itu. Benar-benar keras kepala pikir Draco.
Draco terkekeh dan berkata "Mungkin aku hanya berhalusinasi ketika mendengar seorang wanita mengatakan padaku untuk meninggalkan kekasihku demi dirinya."
Hermione tersentak, gadis itu menggenggam erat gelasnya sampai jari-jarinya memutih. Hermione benar-benar marah atas ucapan Draco barusan.
Hermione berdiri dan menggebrak meja dengan keras. "Kau brengsek Malfoy! Kembali saja pada kekasihmu itu sana! Jangan pernah lagi menampakan wajahmu lagi di depan hudungku! Aku benci padamu ferret brengsek!" Hermione berjalan tergesa-gesa meninggalkan Malfoy menuju pintu lift yang tadi membawanya naik ke atas sana.
Hermione menekan tombol lift, namun lift itu tak kunjung terbuka. Gadis itu benar-benar diliputi kemarahan sehingga tak sudi lagi berlama-lama berada dalam jarak dekat dengan pria brengsek yang masih memandanginya dibalik punggungnya. Oleh karena itu, Hermione tanpa pikir panjang memutuskan untuk turun menggunakan tangga darurat. Selang lima detik setelah Hermione menyambar gagang pintu tangga darurat di samping lift dan menghilang di baliknya, pintu lift berdentang terbuka. Draco berlari masuk ke lift dan menekan lantai 34 dimana kamarnya berada, lantai 34 terletak satu lantai dibawah ruang terbuka tempat Draco dan Hermione sebelumnya berencana makan malam.
Draco segera keluar dari lift begitu pintu lift berdentang terbuka.
Pria itu berdiri didepan pintu masuk tangga darurat, dia yakin bahwa Hermione akan keluar dan melanjutkan turun ke lobby dari lift lantai 34.
Dugaan Draco tepat, Hermione keluar dalam keadaan terengah-engah dan langsung terkejut melihat seseorang tengah menantinya didepan pintu.
Tanpa ba bi bu, Draco langsung menarik Hermione masuk ke dalam kamarnya. Hermione meronta-ronta dalam pelukan Draco. Pria itu mengunci kamarnya dan melepaskan Hermione yang langsung mundur sejauh mungkin dari Draco hingga sampai ke ujung ranjang.
"Apa yang kau lakukan brengsek!" Hermione berteriak emosi.
"Aku tak menyangka akan begini akhirnya. Aku berpikir makan malam ini akan berakhir indah Granger, tapi ternyata kau malah marah-marah seperti ini terhadapku. Apa semua usahaku untuk mendapatkanmu berarti sia-sia?" kali ini Draco tak terpancing emosi dan tetap bicara dengan tenang.
"Pikir saja sendiri ferret!" kali ini Hermione mendesis penuh emosi.
"Aku minta maaf jika aku membuatmu tersinggung okay. Mengertilah Hermione, aku serius denganmu. Beri aku kesempatan." Draco melembutkan suaranya. Ia berjalan mendekati Hermione yang masih marah, dadanya naik turun karena emosi dan kelelahan sekaligus, karena baru saja menuruni satu lantai tangga darurat dengan anak tangga yang tak bisa dibilang sedikit ditambah lagi dengan sepatunya yang setinggi 12 cm.
Draco berjalan sambil bersenandung namun matanya tetap menatap tajam mata Hermione, mengunci tatapannya.
Baby, I'm preying on you tonight
Hunt you down eat you alive
Just like animals, animals, like animals-mals
Maybe you think that you can hide
I can smell your scent from miles
Just like animals, animals, like animals-mals
begitulah bunyi senandung Draco, tampaknya ia merasa lagu maroon 5 itu menggambarkan dirinya terhadap Hermione.
Draco menghentikan langkahnya setengah meter di hadapan Hermione. Tangannya menggapai pinggang Hermione dan menariknya dengan cepat dan kasar. Kelabunya menyelam kedalam hazel Hermione. Jarak antara wajah keduanya hanya 5 cm. Draco masih bersenandung,
So what you trying to do to me
It's like we can't stop we're enemies
But we get along when I'm inside you
You're like a drug that's killing me
I cut you out entirely
But I get so high when I'm inside you
semua orang tahu kalau Draco suka menyanyi dan suaranya memang bagus, ia punya account youtube pribadi dan memposting video-videonya sedang bernyanyi.
Tangan kanan Draco menggenggam dagu Hermione, menariknya lembut untuk menyentuhkan bibir Hermione yang terpoles lipstik merah darah dengan bibirnya sendiri.
Berhasil. Bibir keduanya bertemu melepas rindu dengan lembut. Draco mengelus pipi Hermione kemudian menjilat dan menggigit bibir bawah Hermione agar si gadis bersedia membuka mulutnya dan membalas ciumannya. Tapi bukannya membalas ciuman Draco atau membuka mulutnya, Hermione malah balas menggigit bibir bawah Draco dan menimbulkan geraman keluar dari bibir Draco. Draco melepaskan ciumannya menatap gadisnya yang menatapnya balik masih dengan pandangan marah.
Draco tidak menyeringai atau tersenyum kali ini, tapi dia justru ikut memberikan tatapan mengerikan yang sama yang juga diberikan Hermione kepadanya. Draco kembali bersenandung...
Yeah, you can start over, you can run free
You can find other fish in the sea
You can pretend it's meant to be
But you can't stay away from me
I can still hear you making that sound
Taking me down, rolling on the ground
You can pretend that it was me
But no
Hermione mendorong dada Draco, namun Draco tak bergeming dari posisinya, ia hanya menatap Hermione garang, membuat Hermione berusaha menyembunyikan perasaan terintimidasinya.
Draco bernyanyi kembali...
Baby, I'm preying on you tonight
Hunt you down eat you alive
Just like animals, animals, like animals-mals
Maybe you think that you can hide
I can smell your scent from miles
Just like animals, animals, like animals-mals
Baby, I'm...
Draco kembali menyambar bibir Hermione kali ini dengan brutal sekali, tanpa kelembutan ia kemudian menekan kepala Hermione untuk tetap memperdalam ciumannya, tampaknya ia benar-benar serius ingin memakan Hermione bulat-bulat. Kini Draco dan Hermione beradu lidah, Bibir dan pipi draco ikut berwarna merah karena lipstik Hermione. Mereka terus seperti itu sampai akhirnya mereka terjatuh di atas ranjang Draco, dengan Hermione yang tertindih tubuh Draco.
Setelah terjatuhpun mereka tak juga melepaskan diri satu sama lain, seperti tidak ada yang mau mengalah. Karena kebutuhan akan oksigen, akhirnya Hermione memalingkan wajahnya dengan kasar tanpa mendorong Draco, bibir Draco yang kehilangan bibir Hermione berganti menyapu pipi lembut Hermione. Draco kemudian beralih ke leher Hermione, menenggelamkan wajahnya disana dan memberikan kecupan-kecupan tanpa meninggalkan tanda sambil berbisik "You Lose!"
"Belum!" Hermione membalik keadaan dengan menindih Draco.
Hermione bangkit duduk di atas perut Draco kemudian membuka kancing kemeja Draco dengan kasar. Hermione meraba perut hingga dada Draco dengan ujung jarinya dan berhasil membuat Draco sedikit tergelitik. Hermione kemudian menarik kerah Draco dan menciumi leher pria itu, berlanjut ke atas hingga sampai pada daun telinganya, kemudian Hermione menggigit disana dan berbisik "I WIN!" dengan penuh ancaman Hermione menatap Draco, selanjutnya ia mencium kembali bibir Draco dengan brutal selama satu menit penuh, lalu melepaskannya dengan lembut.
"Yeah you win!" Draco mencium pipi Hermione. Tangan Draco menahan kedua lengan Hermione ketika gadis itu akan bangun dari menindih tubuhnya.
"Aku sudah menang, so kau mau apa lagi?! Aku masih waras okay! Lepaskan aku Malfoy!"
"Tak perlu buru-buru dear, aku masih senang dengan posisi ini." Draco mengeluarkan seriangaian menggoda.
"Aku terlihat seperti pelaku pemerkosaan kau tau!" Hermione memutar bola matanya.
"Kau memang baru saja memperkosaku Hermione." Draco tersenyum miring.
"Oh ya ampun, aku takut kau membalasku jika kau tak juga membiarkanku pergi Malfoy! Aku sudah merasakan tekanan di pahaku!" Hermione menampakan wajah panik.
Draco terkekeh "Salahmu sendiri memancingnya untuk bangun."
"Kau juga memancing emosiku!" balas Hermione tak terima.
"Memancing emosimu atau memancing gairahmu hmm?" Draco kembali tersenyum menggoda.
"Come on Malfoy!" rengek Hermione.
"Kau yakin? Karena aku juga sedang merasakan ada yang mengeras di kedua belah dadaku. Kau tau apa kira-kira itu?" Draco terkekeh melihat semburat merah pada kedua belah pipi Hermione.
Hermione menggeliat liar diatas tubuh Draco berusaha melepaskan diri secara paksa.
"Tahukah kau Hermione? Kau membuatku semakin tak bisa melepaskanmu jika kau terus memacuku dengan bergeliat seperti itu!" Draco berusaha menahan geraman yang hendak keluar dari sela-sela giginya.
"So, lepaskan aku Malfoy!" desis Hermione.
"Dengan satu syarat!" Hermione hanya diam menunggu.
"Pertama, jangan panggil aku Malfoy lagi! karena sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang Malfoy." Hermione hendak menginterupsi namun mulutnya langsung dibungkam dengan bibir Draco.
"Aku belum selesai dear, jadi jangan menginterupsiku." Draco memberikan peringatan.
"Maafkan aku, dan jangan pernah marah lagi ataupun meninggalkanku seperti tadi lagi. Kau bersedia?" Draco menatap Hermione dengan tatapan memohon.
"Kau banyak maunya!" Hermione mengerucutkan bibirnya.
"Semua Malfoy memang begitu sayang." Draco terkekeh mengecup bibir Hermione yang mengerucut dengan singkat.
"Baiklah aku akan berusaha, sekarang lepaskan aku!" Kata Hermione.
"Tidak, sebelum kau berjanji." tekan Draco keras kepala.
"Yah ampun Draco! aku tak mungkin tak marah jika suatu waktu kau mengkhianatiku! jadi aku tak mau berjanji!" bentak Hermione.
"Oleh karena itu aku memintamu untuk berjanji, aku ingin kau percaya padaku! Please Hermione..." Draco mulai gelisah.
"Okay okay! aku berjanji!" Draco menghembuskan napas lega dan langsung melepaskan pegangannya pada lengan Hermione.
Hermione dengan cepat beranjak berdiri di hadapan Draco yang sekarang sudah duduk di ranjangnya.
"Kenapa wajahmu pucat, panik, dan kusut seperti itu?" Hermione mengerutkan kedua alis tebalnya.
"Kau tahu sendiri tadi aku sudah tak tahan menahan gairah kebinatanganku padamu sejak tadi!" Draco mengacak-acak rambutnya.
"O..Ow... Sorry... kau hebat sekali bisa mengendalikan 'kebinatangan'mu itu dengan baik. Aku tak menyangka sebegitu menariknya aku untukmu." Hermione menyeringai lagi mirip Draco.
"Jangan menggodaku! Kecuali kau mau keluar dari kamar ini dalam keadaan sakit di bawah perutmu besok pagi karena kau tak mungkin bisa bangun dari ranjang ini dan berjalan dengan normal malam ini." ancam Draco.
"Jangan berani-berani ferret!" Hermione menatap Draco ngeri dengan wajah semerah kepiting rebus.
"Kau tahu aku tak main-main." kini Draco menyeringai berbahaya.
"Well, aku tak akan menggodamu. Ngomong-ngomong soal kamar dan kebinatangan, apa ini kamarmu?" tanya Hermione yang hanya dijawab dengan anggukan dari Draco.
"Tadi kau menyanyikan lagu animals, aku suka. Kau mau menyanyikannya lagi untukku? Dengan gitar itu." Hermione tersenyum manis sekali sambil menunjuk gitar Draco di ujung ruangan.
"Apa imbalannya?" tantang Draco.
"Ciuman panas dariku?" Hermione tersenyum menggoda.
"Aku butuh lebih dari itu." Jawab Draco tak acuh.
"Hmm, kau tahu aku tak akan memberikan lebih dari itu." Hermione membuang muka.
Draco terkekeh "Kau harus mencuci otakmu, agar tidak terus-terusan berpikiran yang tidak-tidak tentangku."
Hermione tak menyahut.
"Aku mau kau menikah denganku." Hermione menolehkan kepalanya lebih cepat dari yang seharusnya.
"Tidak sekarang, ataupun dalam waktu dekat. Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya bahwa aku sudah berkomitmen dengan kesetaraan gender antara pria dan wanita, dan juga berkomitmen denganmu. Aku menghargaimu dan kau akan mendapatkan hakmu beserta apapun yang kau minta dariku. Aku tahu kau cemerlang dan bahagia dengan karirmu. Aku takkan menghancurkan atau mengganggu itu" Hermione menganga mendengar pernyataan Draco.
"Kau benar soal aku bahagia dengan karirku, tapi itu bukan berarti bahwa aku tak siap berumah tangga di usia muda. Aku pernah hampir melangsungkan pernikahan dengan mantan tunanganku, namun karena suatu hal, kami batal menikah dan memutuskan untuk berpisah. Aku menyukai komitmen kau tahu, itu menunjukan bahwa kau punya pendirian dan keteguhan hati." Draco tersenyum mendengar kata-kata Hermione.
"Aku suka gadis pintar di hadapanku." Draco tersenyum miring yang membuat pipi Hermione blushing.
Draco bersenandung
So if I run it's not enough
You're still in my head forever stuck
So you can do what you wanna do
I love your lies, I'll eat 'em up
But don't deny the animal
That comes alive when I'm inside you
Hermione berjalan ke ujung ruangan untuk mengambil gitar Draco dan kembali ke ranjang Draco. "You never inside me." kata Hermione.
Gadis itu duduk di samping Draco dan menyerahkan gitar itu padanya.
"Yeah but I will." bisik Draco sebelum mencium singkat pipi Hermione.
Draco bernyanyi kembali kali ini dengan gitar, ia menyanyikan lagu animals secara akustik untuk Hermione.
"Kau membuatku lapar." kata Hermione setelah Draco menyudahi nyanyiannya.
"Tentu saja, emosimu mengacaukan makan malam kita." Draco melirik tajam Hermione.
"Bukan lapar dalam artian sebenarnya, umm... rasanya seperti aku ingin memakanmu." kata Hermione menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum menggoda pada Draco.
Draco menghempaskan tubuhnya ke ranjang menghembuskan napasnya berat sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Yah ampun Hermione please! Jangan menggodaku seperti itu lagi sebelum kita mengucapkan janji didepan pendeta! Aku benar-benar tak kuat menahannya." rengek Draco seperti anak kecil yang meminta es krim pada ibunya.
Hermione membelalakan matanya dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Kau menggemaskan sekali sayang!" Hermione merangkak di samping Draco untuk membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan kemudian mengecup bibirnya singkat.
Hermione langsung bangkit setelah Draco membuka matanya, ia tak mau mengambil resiko untuk menantang harimau lapar.
"Ayo makan! kali ini aku benar-benar lapar dalam arti yang sesungguhnya." Hermione tersenyum lebar menarik tangan Draco.
"Aku sudah tidak mood lagi makan di atas." Draco menolak tarikan tangan Hermione.
"Siapa bilang kita akan makan disana? aku juga tak berselera lagi makan disana. Kita akan ke pantry-mu, aku akan memasak untukmu, apa kau punya bahan makanan?" Hermione berjalan menuju pantry Draco di ujung lain kamar hotelnya.
"Sebagai laki-laki, aku tak punya bahan makanan yang layak untuk dimasak. Tapi kemarin ibuku baru saja menginap disini dan ia membawakanku daging ayam fillet siap masak juga beberapa kentang oven yang tinggal dihangatkan kembali di microwave, ada di kulkas. Aku juga baru membeli spagheti instan tadi pagi untuk sarapan, kurasa masih bisa digunakan untuk satu porsi, aku meletakannya di lemari pintu kedua kitchen island" Draco memperhatikan Hermione yang sedang mengobrak-abrik kulkasnya.
"Itu lebih dari cukup untuk kita makan berdua saja malam ini." kata Hermione sambil mengeluarkan daging ayam dan kentang yang Draco maksudkan dari dalam kulkas.
Hermione mulai memasak dengan cekatan. Ia memasukan kentang ke dalam microwave dengan hati-hati, mengatur temperaturnya. Selanjutnya ia beralih menyiapkan dua kompor sekaligus, yang satu untuk merebus spagheti, dan yang satu lagi memasak daging ayam fillet.
Hermione begitu menekuni kegiatannya. Ia sedang memotong bawang bombay untuk campuran saus spagheti ketika Draco tiba-tiba merengkuh pinggangnya dari belakang dan menciumi leher Hermione.
Hermione yang terkejut hampir saja mengiris tangannya sendiri.
"Draco! aku hampir melukai tanganku sendiri karena perbuatanmu!" omel Hermione.
"Maaf. Aku hanya tak kuat melihatmu yang sedang serius memasak. Kau sangat seksi kau tahu?" Draco mengecup lembut pipi kanan Hermione dari belakang.
"Sebentar lagi aku selesai, duduk dan jadilah anak manis." Hermione bersyukur Draco tak melihat wajahnya yang sedang benar-benar matang, sejujurnya perutnya melilit mendapat perlakuan begitu manis dari pangeran Slytherin yang hot itu.
"Oh ya ampun mommy, aku tak bisa melepaskanmu sepertinya." Draco berbisik manja sambil terus memeluk perut Hermione erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Hermione.
"Draco." Hermione menghentikan kegiatan tangannya dan menahan napas.
"Hmm?" Draco berlaku seperti anak panda pada Hermione.
Hermione menghembuskan napasnya. "Kalau kau seperti ini terus, bisa-bisa aku yang tidak kuat dan memperkosamu sekarang juga tau tidak?!" geram Hermione.
Draco dengan cepat membalikan tubuh Hermione dan mencium bibir gadis itu seperti tidak ada hari esok. Hermione hanya mengikuti permainan Draco dan membalas ciuman Draco dengan sama laparnya. Draco mengangkat pinggul Hermione hingga gadis itu terduduk di kitchen island. Bibir keduanya tetap menyatu dan terus begitu sampai tiba-tiba Hermione menyentakan tangan Draco yang meraba masuk ke dalam gaunnya, selanjutnya Hermione melepaskan pagutannya.
"Kau nakal sekali baby boy!" Hermione mencubit pipi kiri Draco dengan tangan kanannya, dan kembali menyelesaikan masakannya.
Draco terkekeh dan kembali duduk di meja makan sambil terus memperhatikan pinggul Hermione.
"Jauhkan pandanganmu dari tubuhku ferret! Dasar mesum!" kata Hermione yang sedang menuang saus di atas Spaghetinya dan masih membelakangi Draco.
"Bagaimana kau tahu aku memperhatikanmu?" Draco menyeringai.
"Otak kotormu itu terbaca dengan mudah." Hermione menghampiri meja makan dan meletakan semua masakannya disana.
"Sepertinya enak." kata Draco riang.
"Aku bisa menjamin itu." Hermione menyeringai sambil menyuap spaghetinya.
Draco menyicipi seluruh masakan itu satu persatu dan dengan sekejap berhasil menghabiskannya.
"Kau kuterima sebagai koki pribadiku!" "Seperti aku mau saja." Hermione melengos mengangkat seluruh piring kotor ke kitchen sink untuk mencucinya.
"Tinggalkan saja Mione, biar petugas hotel yang membereskannya, sudah malam kau sebaiknya pulang. Aku khawatir jika kau menyetir sendiri malam-malam begini, mari aku antar ke mobilmu." Draco menarik tangan Hermione dan menyeretnya keluar dari kamarnya menuju basement setelah ia memakaikan mantel Hermione.
Draco mengantar Hermione menuju mobilnya. Hermione menarik tangan Draco sebelum ia masuk ke mobil, Hermione mengecup bibir Draco singkat sambil meletakan sekotak cokelat yang dibungkus kertas berwarna hijau di tangannya. Ketika kecupan mereka terlepas Draco memandang kotak cokelat di tangannya dan wajah Hermione secara bergantian. "Aku yakin kau tak ingat ini hari apa." Kata Hermione sambil tersenyum manis.
"Hari ini tanggal 14 februari. Ini adalah hari valentine, dan aku senang kau mengajakku makan malam. Ini mungkin bukan makan malam paling romantis yang pernah aku alami, tapi ini adalah valentine paling indah dan makan malam paling mengairahkan yang pernah kulalui. By the way, aku membuat cokelat ini sendiri. Cokelat ini steril dari amortentia, kuharap kau menghabiskannya dan menyukai rasanya." Draco terpaku menatap Hermione.
"Kau beri amortentia pun aku rela. Thank you. Aku tentu akan menghabiskannya dan suka dengan rasanya. Mungkin aku akan minta tambah nanti." Draco tersenyum miring. Efeknya sangat hebat, membuat jantung Hermione memacu tak karuan seperti orang habis berlari.
"Okay, aku pulang dulu. bye." Hermione masuk ke dalam mercedes S55 AMG hitam miliknya yang kemudian melaju mulus diiringi derum halus menembus malam menuju kediamannya.
_oOo_
South Africa, February 17th [08.26 P.M]
"Mione! Lihat ini!" Elena menunjukan layar laptopnya yang memampangkan isi dari sebuah email yang dikirimkan kepadanya. Email itu berasal dari teman Prince Harry yang menyatakan maksudnya untuk mengenalkan Hermione dengan Prince Harry. Ia mengatakan bahwa Prince Harry ingin lebih mengenalnya.
"Kau mengerjaiku tau apa eh?" kata Hermione
"Bisa beri aku alasan untuk apa kira-kira aku mengerjaimu?" tanya Elena sarkastik.
"Entahlah, hari ini bukan april mop ataupun ulang tahunku."
"Tentu saja aku serius!" Elena memutar bola matanya.
"Begini, sebelumnya jangan berpikir kalau aku terlalu percaya diri! Tapi saat kemarin aku bicara dengannya, aku juga merasa kalau... uumm.." Hermione menggigit bibir bawahnya.
"Kalau apa?" Elena menunggu kelanjutan kalimat Hermione dengan gemas.
"Kalau pangeran sedikit agak... huft... umm, tertarik... mungkin, ya hanya mungkin. Padaku." Hermione nyengir lebar pada Elena.
"Hahaha... tak usah merasa tidak enak begitu Mione! Kau memang cantik dear, Oh tidak! Kau bahkan cemerlang! wajar jika semua pria tak terkecuali seorang pangeran berminat padamu. Apalagi kemarin kau menjadi the Hottes girl in London saat hadir di Royal Palace."
"Jangan terlalu banyak memujiku El." Hermione tersipu mendengar pujian managernya.
"Jadi apa kau bersedia? Mr. Warrington hanya meminta emailmu."
"Tentu, tak sopan jika menolak permintaan seorang pangeran bukan?" Hermione mengangkat bahunya cuek.
"Alright!" Dengan cepat jemari Elena menari di atas keyboard laptopnya untuk membalas email Mr. Warrington yang merupakan teman Prince Harry.
_oOo_
Swiss, February 26th [01.30 A.M]
"Halo." Hermione mengangkat teleponnya.
"Hey, kau sudah sampai di Swiss?" suara seorang pria dari seberang telepon.
"Yeah, aku baru saja sampai 2 jam yang lalu."
"Jam berapa disana sekarang?"
"Setengah dua pagi."
"Kenapa kau tak tidur? Apa kau tak lelah? Terbang antar benua pasti melelahkan, kau sudah makan? Apa yang sedang kau lakukan?" suara pria di seberang telepon menyerukan rentetan pertanyaan yang menimbulkan segaris senyum lembut terpatri di bibir gadis yang diteleponnya.
"Pertama, aku bukannya tidak tidur, tapi belum tidur. Kedua, Aku lelah, benar yang kau katakan, terbang antar benua memang melelahkan. Ketiga, aku sudah makan tadi di pesawat. Keempat, saat ini yang sedang kulakukan adalah aku sedang meneleponmu jika kau menanyakan apa yang sedang kulakukan sebelum kau meneleponku, maka aku akan bilang bahwa aku sedang menyiapkan pidatoku untuk UN Women besok siang dan membalas beberapa email."
"Kalau kau punya kegiatan besok, seharusnya kau tidur sekarang dear! Aku tau kau telah mempersiapkan teks pidatomu bahkan sebelum kau berangkat ke Afrika. Akupun berani bertaruh bahwa kau telah hafal di luar kepala isi dari teks pidatomu." Omel pria diseberang telepon.
"Kau benar! Aku memang sudah hafal teks pidatoku." tanpa sadar Hermione menyeringai mirip seseorang.
"Dimana Elena eh? kenapa ia membiarkanmu begadang seperti ini sedangkan besok kau harus menghadiri konferensi besar?"
"Ia sudah beristirahat di kamarnya, El tak tahu kalau aku masih terjaga. Tadi aku sudah berjanji kalau aku akan langsung tidur setelah masuk ke kamar, kalau ia tahu aku belum tidur, ia juga pasti akan menceramahiku."
"Tidurlah Mione, aku tak mau mendengar berita buruk dari Elena mengenai dirimu hanya karena kekeras kepalaanmu ini."
"Baiklah tuan! aku akan menuruti perintahmu."
"Memang itu yang seharusnya kau lakukan sejak tadi Nona!"
Hermione terkekeh "Well, terima kasih atas perhatianmu Draco."
"Tentu, err... tapi... ngomong-ngomong sejak dari awal aku meneleponmu aku tak mendengar kata-kata yang sewajarnya diucapkan seorang wanita ketika menelepon kekasihnya yang telah lama tak bertemu."
Kali ini Hermione tertawa geli mendengar pernyataan Draco.
"Kenapa kau tertawa?" Kali ini Hermione bisa membayangkan seperti apa wajah Draco sekarang.
"Aku tahu maksudmu, tapi aku memang sengaja tidak mengatakan itu padamu, karena aku takut jika aku mengatakannya aku malah akan langsung terbang malam ini juga ke Inggris untuk menemuimu karena tidak kuat menahan perasaan rinduku. Oops, aku keceplosan... Well, kau lebih tau bagaimana aku merindukanmu Drake. Rasanya aku ingin memelukmu. Oh ya ampun, aku cengeng sekali, kenapa aku jadi manja begini! Ini semua karenamu ferret! Aku wanita yang tegar sebelum kau menjadi kekasihku. Uh aku benci menjadi lemah!"
"Dasar berang-berang! Jika seperti ini, yang ada bukan kau yang terbang pagi ini juga ke Inggris! Tapi aku yang akan mengobrak-abrik perusahaan travel Zabini untuk memberikanku tiket terbang ke Swiss sekarang juga!"
Hermione tersenyum senang mendengar ucapan Draco. "Well, aku tak mau kau melakukan itu Mr Malfoy. Kau terdengar seperti Naga yang kehilangan telurnya!" Hermione tertawa terbahak-bahak memikirkan sendiri perumpamaannya.
"Aku memang naga yang sedang kehilangan telurnya, aku bisa menyemburkan apiku kapanpun dan pada siapapun. Jadi berhenti merengek seperti bayi Mione, kau membuatku gila jika bersikap seperti itu. Andai saja aku bisa apparate atau paling tidak punya jaringan floo di perapianku."
"Haha... sudahlah Draco, jangan berandai-andai yang tak mungkin. Baiklah kau terus mengajakku ngobrol, jadi kapan tepatnya aku harus tidur master?"
"Baik, aku akan mematikan sambungan teleponnya, tapi aku benar-benar berharap kau tak membohongi ku seperti kau membohongi Elena. okay?"
"Ya ya ya... tutup teleponnya sekarang!" Draco memutus sambungan teleponnya.
Hermione hendak mematikan laptopnya setelah selesai menelepon Draco. Namun tiba-tiba laptopnya berbunyi menampilkan pemberitahuan satu email baru masuk. Hermione membukanya dan membacanya dengan cepat, berusaha tak mengingkari janjinya pada kekasihnya untuk segera tidur setelah menutup teleponnya.
Seselesainya membaca email tersebut, Hermione memijat keningnya seperti orang banyak pikiran. Isi pesan dalam emailnya itulah yang membuatnya pusing. Email itu datang dari Pangeran Harry yang berisi undangan pesta yang diadakannya setelah menghadiri acara perayaan Hari Perempuan di Australia tanggal 8 Maret. Hermione memang akan terbang kembali satu hari sebelumnya menuju Australia untuk menghadiri acara tersebut setelah urusannya di Swiss selesai. Dalam pesannya, Pangeran Harry mengatakan bahwa Hermione boleh mengajak teman-temannya jika ingin.
Hermione tidak berminat untuk menghadiri undangan Pangeran Harry, ia juga tak pernah tertarik dengan putra mahkota kerajaan Inggris tersebut. Hermione bukanlah gadis materialistis dan haus akan kepopuleran, karena dirinya sendiri telah memiliki itu semua. Dan yang lebih membanggakannya lagi, semua itu ia dapatkan atas jerih payahnya sendiri. Oleh karena itu ia sempat mengungkapkan statement bahwa dirinya tak berkencan dengan orang yang terkenal. Namun ternyata sekarang ia melanggar statement-nya sendiri karena ia berkencan dengan seorang yang terkenal. Bukan dengan putra mahkota pewaris kerajaan Inggris, Prince Harry. Tapi dengan putra bungsu pewaris kerajaan bisnis Malfoy Corporation, Draco Malfoy. Oh perlu diketahui bahwa Draco Malfoy memiliki 3 kakak laki-laki. Bernama Oliver Malfoy sebagai yang tertua, kemudian kakak keduanya Adrian Malfoy, dan yang terakhir Edward Malfoy.
Tiba-tiba Hermione terkekeh sendiri memikirkan bahwa kekasihnya dan ketiga kakak laki-lakinya terlihat seperti anggota boyband Inggris jika berkumpul bersama. Hermione pernah melihat mereka berempat sekaligus sekali, saat mereka datang ke acara surprise ulang tahun Draco yang ke-19 di lokasi syuting. Mereka berempat benar-benar tampan! Tinggi mereka rata, dan tubuh mereka proposional, dan jangan lupakan mata mereka yang tajam.
"Ya ampun!" Hermione menepuk keningnya karena telah berani-berani memuja kakak-kakak dari kekasihnya itu. Oliver dan Adrian telah menikah dan berarti tinggal Edward dan Draco yang belum menikah.
Hermione menghela napasnya dan kemudian mengetikan balasan email dengan cepat ke Pangeran William.
Hermione mengatakan bahwa ia akan memenuhi undangan Pangeran dengan membawa dua orang temannya Ginny dan Elena. Walaupun tak berminat, namun Hermione tak dapat menolak undangan Pangeran demi kesopanan, apalagi Hermione juga adalah warga negara Inggris walau ia lahir di Prancis. Hermione merasa ia tetap harus menghormati keluarga kerajaan. Setelah selesai membalas email pangeran, Hermione langsung mematikan laptopnya dan menarik selimutnya untuk tidur.
To Be Continue…
Kalau kalian tipe reader yang suka membayangkan cerita yang kalian baca sebagai adegan film pada proyektor pikiran kalian, maka bayangkanlah bahwa Elena itu adalah Nina Dobrev, Oliver Malfoy adalah Oliver Wood, Adrian Malfoy adalah Adrian Pucey, sedangkan Edward Malfoy adalah Cedric Diggory (a.k.a Robert Pattinson) tadinya saya akan menggunakam Marcus Flint untuk posisi Edward, tapi saya pikir bagus juga untuk membuat kakak dari Draco Malfoy berasal dari asrama berbeda yaitu Gryffindor untuk Oliver, Slytherin untuk Adrian, dan Hufflepuff untuk Cedric. Saya gunakan nama Edward, karena dirasa Cedric Malfoy kurang pas untuk dilafalkan.
.
.
Sorry saya gak masukin scene ketika Hermione menghadiri acara di Istana, soalnya saya bingung mau nulis interaksi mereka kayak gimana. Dan lagi disana hanya ada Hermione sebagai tokoh dalam cerita ini, jadi untuk meminimalisir kemungkinan perpanjangan cerita yang OOT, maka saya memutuskan untuk hanya menghadirkan hasil / efek dari kehadiran Hermione disana. Tapi yang pasti Hermione memang jadi the Hottes girl in London saat hadir di Royal Palace, makanya Prince Harry tertarik ;)
Maaf kalo ada yang kecewa soal break-nya hubungan Draco dan Astoria, tapi sejujurnya inilah tujuan saya membuat fict ini. Yaitu untuk menyatukan Draco dan Hermione dalam tanda kutip Tom dan Emma.
Gak ada yang gak mungkin baik itu di dunia fiksi maupun dunia nyata. Karena di dunia fiksi kita punya author, dan di dunia nyata kita punya Tuhan.
Berhubung saya dan beberapa pendukung Dramione maupun Feltson di seluruh dunia hanya bisa berharap bahwa mereka berdua bisa bener-bener jadi, namun karena kami bukanlah Tuhan, maka kami hanya bisa menciptakan dunia mereka sendiri dengan versi kami.
So, inilah bentuk keinginan saya menggenai mereka. Bahwa Draco (Tom) dapat bersatu dengan Hermione (Emma) dan berpisah dengan Astoria (Jade) dengan cara baik-baik, yang walau pada awalnya menyakiti Astoria, tapi pada saatnya juga memberikan pelangi dalam kehidupannya.
Saya membuat Draco disini ramah seperti Tom. Sepertinya sepanjang cerita, saya gak menggambarkan bahwa Draco itu belagu? palingan sedikit angkuh yang main-main kalau bicara dengan Ron ataupun Mione. Saya juga membuat Draco bersahabat dengan Ron, karena memang kenyataannya Tom dan Rupert bersahabat.
Mengenai Tokoh Hermione, saya rasa kemiripan sikap Hermione dan Emma cukup banyak diketahui orang. Tidak terlalu sulit menggabungkan keduanya karena mereka sama-sama gadis yang cemerlang. Dan saya menonjolkannya dalam cerita ini.
Nah kali ini soal tokoh Astoria, biasanya disini banyak pro kontra. Saya membenci tokoh pada fict lain itu tergantung seberapa besar tingkat ke-rese-annya. Maka dengan ini saya berusaha membuat Astoria senormal mungkin. Maksudnya membuat dia sedikit menyebalkan dengan terlalu protektif terhadap Draco, namun tidak membuat dia jahat. Karena ketika Astoria menjadi jahat, saya akan benar-benar membencinya dan mungkin memberikan akhir yang sedikit tidak mengenakan terhadapnya. Tapi tidak, saya tidak melakukan itu. Saya membuat Astoria disini sebagai wanita yang sebenarnya dewasa, namun karena obsesinya pada Draco, sifat bar-barnya jadi keluar. Dan saya membuat bahwa Draco benar-benar menyayangi dan pernah mencintai Astoria, seperti Tom menyayangi Jade, bahkan setelah mereka berpisah sekalipun.
Soal setengah-setengah, sebenarnya saya lebih ingin menekankan bahwa Draco bukan cowok brengsek yang cuma memanfaatkan Astoria tanpa cinta, saya rasa itu lebih jahat daripada kalau Draco mencintai Astoria bersamaan dengan ia mencintai Hermione, karena kayak kata Ed Sheeran 'People fall in love in mysterious ways', jadi cinta gak bisa kita atur kapan dan dimana akan berlabuh. Memiliki hubungan bertahun-tahun dengan seseorang tentu menimbulkan perasaan lain, itulah yang saya kira dirasakan oleh Draco / Tom kepada Astoria / Jade. Tapi siapa yang tau seberapa kuat cinta pertama (Hermione) berakar dalam hati Draco? Nah seperti yang dijelaskan oleh Draco pada chapter sebelumnya, bahwa kadar cintanya pada Hermione, ia rasakan lebih besar dan kuat dibanding cintanya pada Astoria, oleh karena itu ia memilih Hermione.
Well, saya berusaha menyatukan karakter masing-masing tokoh dengan seimbang antara tokoh fiktif dengan tokoh real, walaupun kadang timpang sebelah, saya mohon maaf atas itu.
Terakhir, saya ucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya. Dan terima kasih juga telah meluangkan waktunya untuk membaca...
Atas segala kekurangan daripada fict ini, saya harap maklum, karena authornya bukan penulis profesional.
Big Thanks for Readers and Reviewers
Druella Wood
