Disclaimer: Harry Potter Milik JK Rowling.
Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger
Rating: T
Warning : OOC. No Magic. Based on Feltson's life story dengan tambahan sana sini yang murni karangan penulis.
Australia, March 09th [08.30]
Hermione turun dari kamarnya setelah selesai mandi dan berpakaian lengkap untuk sarapan. Hermione mengenakan celana jins sebetis dan kaus longgar berwarna abu-abu, gadis itu mengikat asal rambutnya dan mengenakan kacamata aviator sewarna dengan rambutnya.
"Hi, girls! mau sarapan?" Tanya Hermione yang melihat Elena dan Ginny sedang menonton acara komedi di tv dan masih mengenakan piama masing-masing. Elena meringkuk disalah satu sofa sesekali memejamkan matanya dan Ginny menenggelamkan tubuhnya pada sofa sambil memenekan-nekan tombol remot asal, matanya menerawang pada tv.
"Ada apa dengan kalian eh? kenapa kalian belum mandi?! Oh ya ampun, kita pulang tidak terlalu larut semalam dan kita tak minum alkohol, tapi kenapa kalian seperti ini?"
"Semalam kami tak bisa tidur Mione, entah mengapa. Aku menduga jangan-jangan kami minum kopi terlalu banyak kemarin." jawab Ginny dengan lemas.
"Kalau kau lapar, kau makan saja dibawah. Kami benar-benar mengantuk, mungkin kami takkan sarapan, atau kalau kami benar-benar lapar, kami akan memesan makanan saja kesini." Elena bicara pada Hermione dengan mata setengah tertutup.
"Tapi kalian baik-baik saja kan? apa aku perlu panggikan dokter?" Tanya Hermione khawatir.
"Tidak, kami hanya perlu tidur." Jawab Elena mencoba membuka matanya lebih lebar untuk meyakinkan Hermione.
"Baiklah, aku pergi dulu ya." Hermione keluar dari kamar hotelnya menuju restoran hotel di lantai 2.
Kedua gadis yang masih berada di ruangan itu saling tersenyum. Draco Malfoy meminta mereka tak mengikuti Hermione karena ia ingin mengunjunginya. Tapi mereka tak tahu apa alasan Draco tiba-tiba datang mengunjungi Hermione.
_oOo_
"Aku mau sandwitch panggang dan susu saja." kata Hermione sambil mengembalikan daftar menu ke waiters yang melayaninya.
Hermione sedang membuka facebooknya melalui i-pad untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para wanita mengenai #HeForShe secara live melalui facebooknya. Sebenarnya ini adalah kegiatannya kemarin, namun sampai hari ini masih banyak fans-nya yang masih mengiriminya pesan untuk melakukan pembicaraan dengannya mengenai kesetaraan gender. Padahal ini sudah lewat waktunya dari tugas kampanye-nya, tapi dengan senang hati Hermione tetap memberikan orasinya dan menjelaskan dengan ramah atas seluruh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya.
Waiters yang tadi melayaninya kembali untuk membawakan pesanan Hermione, lalu pergi kembali ke dapurnya setelah Hermione mengucapkan terima kasih.
Hermione meminum susunya kemudian memotong sandwitchnya dan memakannya dengan pelan.
Gadis itu sedang kembali menekuni i-padnya dan mengetik dengan cepat sambil mengunyah sandwichnya, ketika seseorang duduk di hadapannya tanpa minta izin terlebih dulu.
Hermione mendongak untuk memberikan tatapan protes pada orang itu. Ternyata seorang pria. Pria itu mengenakan topi hijau army, dan kacamata hitam. Ia mengenakan kemeja hitam mahal dibalik jaket kulit hitamnya. Hermione merasa orang tersebut sengaja menyembunyikan identitasnya dari publik.
"Excuse me?" tanya Hermione ramah.
Pria itu mendongak menampakan wajahnya yang tak tertutup apapun.
"Draco?" Hermione mengenali pria misterius di depannya dari dagu runcingnya.
Draco tak membuka kacamata ataupun topinya, namun Hermione tau pria itu sedang menatapnya.
"Kau mengecat rambutmu?" tanya Hermione setelah sadar bahwa warna rambut pria di hadapannya bukanlah pirang platina, tapi hitam kecokelatan. 'Pasti agar tak mengundang perhatian media' pikir Hermione.
"Kenapa kau diam saja? Kenapa kau bisa disini?" Hermione mengedarkan pandangannya untuk memastikan tak ada yang memperhatikan mereka.
"Kau mencari apa? Memastikan tak ada wartawan? Kau takut terlihat media sedang bersamaku, tapi dengan senang hati memampangkan senyum bahagiamu kepada dunia saat berdua dengan pangeranmu itu?" ini pertama kalinya Draco mengeluarkan suaranya. Nada bicaranya penuh dengan sarkasme dan kesinisan yang memang sengaja ia tunjukan. Alis Hermione berkerut dibalik kacamatanya.
"Apa maksudmu Draco?" walaupun ia terlihat kebingungan akan maksud dari perkataan Draco terhadapnya, gadis itu memutar otaknya mencoba mengingat-ingat untuk mencari tahu apa salahnya sehingga Draco begitu dingin terhadapnya.
"Aku sudah dua hari disini untuk meng-cover kakakku Adrian menghadiri meeting dengan kolega perusahaan kami, tapi aku baru bertemu kekasihku yang juga ternyata ada di negeri yang sama dengan yang sedang kupijak hari ini. Bukan karena aku terlalu sibuk sampai tak sempat menemuinya, tapi justru gadis itu yang terlalu sibuk dengan urusannya. Kekasihku tak mengabariku selama dua hari terakhir ini bahkan untuk sekedar memberitahu bagaimana harinya, apa yang ia rencanakan dengan hari-harinya yang selalu sibuk, dan dimana ia berada. Sampai aku membaca sendiri di semua media bahwa kekasihku baru saja menghabiskan malamnya bersama pangeran impiannya dari The Royal Palace." Draco tersenyum sinis.
Hermione menganga tak percaya dengan semua ucapan Draco. Hermione merasakan berbagai emosi membuncah di dadanya, antara kesal, marah, sedih, menyesal, dan kecewa.
Kesal, marah, sedih, dan kecewa karena Draco dengan mudahnya menuduhnya yang tidak-tidak hanya dengan berdasar dari pemberitaan media yang belum tentu dapat dipertanggung jawabkan kebenarnnya.
Dan menyesal, kenapa selama dua hari terakhir ia benar-benar tak dapat menghubungi Draco karena kendala sinyal dan jadwalnya yang padat.
"Teganya kau dengan mudah menudingku dengan segala tuduhanmu itu tanpa punya bukti yang pasti Malfoy!" Hermione tak lagi memanggil Draco dengan nama depannya.
"Aku telah mengirimkan link padamu. Buka sekarang jika kau butuh bukti."
Hermione membuka ponselnya dan membuka link yang dikirimkan Draco.
Link itu berisi berita mengenai dirinya dan Prince Harry yang digosipkan menjalin hubungan dan melakukan kencan rahasia semalam. Dalam berita itu juga memampangkan foto Hermione yang sedang berbicara dengan Pangeran Harry dan William saat di Istana waktu itu. Di foto itu memang wajah Hermione terlihat sangat bahagia dengan senyumannya yang terlihat penuh bangga.
"Ya Tuhan Malfoy! Ini fotoku saat di Inggris! Ini fotoku saat aku menghadiri undangan di royal palace sehari sebelum keberangkatanku ke Afrika Selatan dan sehari setelah kita makan malam waktu itu! Ini hanya bualan mereka, bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa aku melakukan kencan rahasia semalam, tapi mereka malah memampangkan fotoku yang sebegini formal di lokasi dan waktu yang berbeda dengan isi artikel yang mereka beritakan?!" Bisik Hermione menahan geraman marahnya. Ia merendahkan suaranya agar tak ada orang yang menguping, ia bersyukur karena waktu sarapan sudah lama lewat sehingga restoran tidak terlalu padat.
"Sekarang kutanya padamu Granger." tekan Draco.
'Oh bagus! sekarang ia bahkan memanggilku Granger!' Hermione merutuk dalam hati.
"Kuharap kau menjawabnya dengan jujur. Apa saja yang kau lakukan seharian kemarin?" Draco membuka kacamatanya dan menarik kacamata Hermione sehingga mereka dapat saling menatap satu sama lain.
"Kemarin aku melakukan live conversation mengenai #HeForShe dengan para wanita di seluruh dunia melalui facebook dan aku juga menghadiri perayaan Hari Perempuan International yang diadakan perdana menteri Australia." Hermione menyudahi penjelasannya.
"Semua itu tak berlangsung hingga malam, aku tahu itu. Kakak iparku juga menghadiri acara itu, dari dia juga aku tahu kau pergi dengan pangeranmu itu ke suatu tempat setelah acara selesai." tatapan Draco menusuk ke dalam mata Hermione.
"Aku memang pergi dengannya, tapi itu bukan kencan! Dan aku pergi dengan Elena juga Ginny, ini hanya pesta kecil Malfoy! Kau harus percaya padaku!" Hermione hampir menangis saking marahnya dengan semua keadaan ini. Ia benci segala bentuk kesalah pahaman.
"Pertanyaan terakhir yang hanya perlu kau jawab dengan 'Ya' atau 'Tidak'." Draco menyandarkan punggungnya dan melipat kedua lengannya di dada.
"Media mengatakan bahwa pria itu meminta temannya mengenalkanmu padanya karena ia tertarik untuk mengenalmu lebih jauh, lalu ia mengundangmu ke sebuah pesta dan mempersilahkanmu untuk membawa temanmu demi kenyamananmu. Pertanyaannya, apa pesta yang mereka maksud adalah pesta yang kau hadiri semalam?" Hermione hendak membuka mulutnya sebelum Draco menyelanya dan berkata "Aku tak mau dengar essay-mu Granger, aku hanya butuh jawaban 'Ya' atau 'Tidak'!"
"Ya." Jawab Hermione datar.
"Dia yang mengundangmu secara langsung tanpa melalui Elena?"
"Ya." Geram Hermione.
"Berarti kau memberikan kontakmu dan telah melakukan pendekatan padanya selama dua minggu ini. Seusia dengan hubungan kita, dan kau juga yang menerima undangan pestanya kemudian mengajak Elena dan Ginny." pertanyaan Draco lebih terdengar seperti pernyataan.
"Ya." Hermione menunduk. Tetesan air bening turun dari matanya.
"Tapi aku bersumpah aku tak bermaksud untuk melakukan pendekatan padanya! Aku tak tertarik dengannya. Elena yang memberikan emailku padanya, aku menyetujuinya karena kupikir tak sopan untuk menolak permintaan anggota kerajaan. Aku hanya bermaksud menghormatinya Draco."
"Bagaimana mungkin aku percaya padamu sedangkan kau saja mengingkari ucapanmu pada media bahwa kau tak berkencan dengan orang yang terkenal lalu nyatanya kau berkencan denganku? Ditambah lagi kau pernah berkata padaku bahwa kau ingin menikah seperti Kate Middleton? Ha?! Kau akan mendapatkannya sesaat lagi. Selamat Granger." Draco pergi meninggalkan Hermione yang tak bisa lagi membendung air matanya untuk keluar. Gadis brunette itu menangis dalam diam.
"Draco!" Panggil Hermione pelan masih menunduk, Draco mendengarnya dan berhenti tanpa membalik badannya.
"Kau pernah membuatku berjanji untuk percaya padamu dan tak meninggalkanmu karena marah padamu. Tapi bahkan kau tak melakukan hal yang sama untukku. Benar-benar adil bukan?" Draco mengepalkan tangannya dan melanjutkan jalannya untuk pergi menjauh dari tempat itu.
_oOo_
"Hi Lilbro?! Kenapa wajahmu kusut?" Adrian menutup teleponnya setelah Draco masuk dengan wajah suram dan duduk dengan kasar di sofa ruang kerjanya.
"Tidakkah kau membaca surat kabar?" Draco melemparkan topi dan kacamatanya ke meja di depannya.
"Jika yang kau maksud surat kabar bisnis atau perkembangan politik aku tentu membacanya." Adrian menyeringai melihat adiknya menatapnya dengan kesal.
"Soal entertainment, Hermione diberitakan berkencan dengan Prince Harry."
"Dan kau percaya?" Adrian memajukan tubuhnya dan menumpukan kedua sikunya pada meja kerja mewahnya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Bahkan istrimu sendiri adalah saksinya!" sentak Draco.
Adrian terkekeh melihat reaksi Draco yang meledak-ledak. "Ya ampun, sepertinya baru kali ini kau bersikap seperti ini hanya karena seorang wanita? Lama dengan Astoria, namun tak pernah sekalipun kau berlaku seperti ini."
"Itu karena Astoria memang selalu menempel padaku dan memujaku bagaikan aku adalah dewa." Draco mendengus mengingatnya.
"Hermione tak memperlakukanmu seperti itu juga?" Adrian mulai tertarik dengan percakapan ini.
"Entahlah, dia bisa menahan dirinya untuk tetap terhormat dan anggun di hadapan siapapun. Kadang aku bisa melihat matanya menatap lapar padaku, namun dia tetap tak akan melakukan sesuatu yang murahan di depanku." Draco menerawang dan telihat agak tenang sekarang.
Adrian tersenyum samar melihat perubahan ekspresi adiknya ketika membicarakan gadis gebetannya sejak remaja itu.
"Kulihat kau sangat mengenal Hermione, maka seharusnya kau punya alasan yang cukup kuat untuk marah padanya. Aku tak mengatakan Alice berbohong, namun dia hanya melihat apa yang terlihat oleh matanya. Tapi kau mengenal Hermione lebih dari yang bisa dilihat orang lain dengan mata mereka. Kau harus ingat apa yang kau katakan pada Astoria saat kau mengakhiri hubungan kalian, bahwa dalam hubungan dibutuhkan sebuah kepercayaan. Sadarkah kau bahwa kau baru saja mengingkari ucapanmu sendiri? Kau tidak mempercayai Hermione! Bahkan aku yang hanya mengenalnya melalui media yakin bahwa gossip media itu tak dapat dipertanggung jawabkan." Adrian tertawa setelah menyelesaikan ceramah panjangnya. "Yah ampun! Sekarang aku jadi mirip Oliver si tukang ceramah!"
Draco ikut menertawai kakak nomor duanya itu.
"Kau tahu Adrian? Ceramahmu itu sangat menyadarkanku. Huh! Aku baru saja menyakiti Hermione dengan ucapanku tadi pagi!"
"Kau mengatakan apa pada Hermione?!" suara seorang wanita menginterupsi pembicaraan Draco dengan Adrian.
"Alice! Bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" rutuk Draco.
"Haruskah aku mengetuk pintu ruangan suamiku sendiri sebelum masuk?" Alice berjalan ke meja Adrian dan mencium bibir suaminya sekilas.
"So, apa yang kau katakan Hermione sehingga menyakitinya?!" Alice melipat tangannya di dada menatap galak pada Draco.
"Aku menudingnya yang tidak-tidak. Sudahlah Alice! Jangan membuatku tambah merasa bersalah!" rajuk Draco.
"Kau jahat sekal tahu tidak?! Sekarang sebaiknya kau cepat pergi kembali menemuinya dan minta maaf padanya! Kecuali kau mau kehilangannya." tutup Alice dengan suara rendah.
"Tapi..." kata Draco bimbang.
"Cepat pergi sekarang juga dasar anak nakal!" Alice mendorong Draco keluar dari ruang kerja suaminya.
Tawa Adrian mebahana diruangan itu mengiringi keperian Draco yang mendengus kasar.
Draco tak langsung ke hotel tempat Hermione menginap seperti perintah kakak iparnya, tapi ia justru mendatangi Gedung Opera Sidney dan menghabiskan sorenya dengan menonton teater mengenai dongeng disney Beauty and the Beast. Ia kembali teringat Hermione yang juga akan memerankan tokoh Belle pada produksi film live action adaptasi cerita disney itu. "Andai saja aku yang terpilih sebagai Beast, aku bahkan rela kalau wajahku harus dipasangkan bulu-bulu agar terlihat seperti monster mengerikan demi dapat bersanding dengan Belle Granger." gumam Draco.
Draco meraih handphone-nya untuk mencari kontak hotel tempat Hermione menginap, kemudian menelepon resepsionisnya dan mengecek keberadaan Hermione. Ternyata benar dugaannya, Hermione telah check out dari hotel itu sejak pukul dua siang.
Dia pasti sekarang sudah terbang menuju Paris untuk mengunjungi ibunya. Draco langsung menelepon Blaise untuk mempersiapkan penerbangan Australia - Paris malam ini juga untuk dirinya sendiri.
Pria berdagu runcing itu memasukan kembali handphonenya dan segera menuju bandara.
_oOo_
"Tak perlu kau tangisi ferret itu Mione. Kalau ia menuduhmu yang tidak-tidak, sekalian saja kau benar-benar pacaran dengan Pangeran Harry biar dia tau rasa! Dasar pria bodoh." Ginny bersungut sungut.
"Sstt... kau malah memperburuk keadaan Gin, sebaiknya sekarang kau masuk duluan, pesawatmu akan tiba sebentar lagi." kata Elena.
"Yess ma'am... So Mione, jangan bermuram durja seperti itu atau aku tak bisa pulang ke London dengan tenang!" Omel Ginny.
"Ginny aku tak bermuram durja, aku bahkan tak menangis!"
"Kau memang tak menangis karena air matamu sudah kau habiskan di hotel tadi. Tapi sekarang kau bermuram durja. Dari tadi kau hanya melamun, aku tak mau kau datang ke aunty Jacqueline dengan keadaan seperti itu, dia pasti khawatir padamu." Ginny mengusap lengan atas Hermione.
"Baiklah, aku akan berusaha untuk tak terlihat menyedihkan. Sekarang pergilah Ginny, jangan sampai kau ketinggalan pesawat!" Hermione memaksakan senyumnya.
"Well, bye Mione bye Elena." Ginny mengecup pipi mereka.
_oOo_
Paris, March 12th [07.00 P.M]
Sudah empat hari Draco tak juga menghubungi Hermione, selama empat hari itu pula media semakin gencar memberitakan mengenai dirinya dengan Pangeran Harry. Sesampainya di Inggris, Ginny telah memberikan informasi kepada media bahwa rumor tentang hubungan antara Hermione dan Prince Harry adalah tidak benar, ia mengatakan bahwa kabar mereka pacaran merupakan kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sedang pihak kerajaan sendiri hanya mengatakan 'Kami lihat internet mulai gila memberitakan ini.'
Hermione benar-benar bermuram durja seperti yang dikatakan Ginny. Namun Hermione selalu berakting baik-baik saja jika sedang bersama ibunya. Dengan bakat akting yang telah terasah sejak dini, tentu kualitas akting Hermione tak perlu dipertanyakan lagi, dan Mrs. Granger tentu mempercayainya. Mrs. Granger juga telah mengkonfirmasi langsung kepada Hermione mengenai pemberitaan media tentang dirinya dan Pangeran Harry, namun Hermione selalu menolak untuk menjelaskannya dan hanya bilang kalau apa yang diberitakan media tidaklah benar. Elena benar-benar muak melihat sikap bermuram durja Hermione, maka di malam kedua mereka di Paris, ia mengajak Hermione jalan-jalan.
"Kau mau mengajakku kemana El?"
"Ke Menara Eiffel tentu saja, masa sudah dua hari aku disini tapi kau tak juga mengajakku ke sana. Aku kan belum pernah kesana, aku mau foto dengan background Menara Eiffel. Jadi lebih baik aku yang mengajakmu ke sana." Elena tak hentinya tersenyum sambil mengemudikan mobil McLaren silver pinjaman Alex membelah jalanan menuju parkiran terdekat Menara Eiffel.
Kedua gadis cantik dengan warna rambut berbeda itu turun dari mobil mewah berwarna silver dan berjalan beriringan dengan anggun menuju taman yang tepat berada di bawah Menara Eiffel. Sepatu boot mereka bekeletuk terirama di jalanan batu, rambut, mantel, dan ujung syal mereka berkibar diterpa angin malam.
"Umm Mione, aku mau cari toilet dulu ya. Sekalian aku akan mencari minuman hangat dan sedikit cemilan, kau duduk disini dulu okay?" Hermione hanya mengangguk dan memusatkan pandangannya pada puncak menara Eiffel.
"Sendirian nona?" suara seorang pria yang sangat dikenalnya berbisik di telinga kanannya, meninggalkan napas hangat menyapu lehernya yang terbuka karena ia menguncir kuda rambutnya.
Hermione menolehkan wajahnya ke kanan dan kemudian ia merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyapu bibirnya, manis. Mata hazelnya membelalak melihat
wajah pria yang berada didepan wajahnya tanpa jarak sehingga ketika ia memalingkan wajahnya, hidung dan bibir mereka bersentuhan. Hermione menjauhkan wajahnya dari wajah pria di hadapannya. Pria itu menjilat bibir bawahnya dan tersenyum miring. Tanpa dipersilahkan, sang pria duduk di kursi samping Hermione.
"Terpesona melihatku?" goda laki-laki itu sambil masih memampangkan senyum miringnya.
"Malfoy?" Hermione masih menganga tak percaya.
"I'm so sorry Hermione. Aku benar-benar menyesal telah dengan bodoh menyakiti perasaanmu dengan perkataan dan segala prasangkaku. Maafkan aku please, dan jangan memanggilku Malfoy lagi." Draco berbisik sangat lembut di depan wajah Hermione. Harum napasnya menerpa wajah Hermione. Sejujurnya Hermione ingin marah, Draco bisa membaca itu. Tapi bukannya menampar atau memaki pria pirang dihadapannya, ia justru malah menangis tanpa suara.
Draco terkejut melihat perubahan ekspresi Hermione yang semula terkejut, marah, dan dalam sekejap kemudian wanita itu malah menangis. Tanpa berkata-kata Draco menarik Hermione dalam pelukannya. Tangis Hermione pecah dalam pelukan Draco.
"Sssttt... maafkan aku sayang, maafkan aku." Draco mencoba menenangkan Hermione dengan mengelus rambutnya dan mengecup puncak kepala gadisnya itu. Perlahan-lahan tangisan Hermione terhenti.
Hermione menarik diri dari Draco dan memukulinya dengan tas selempangnya. "Kalau kau mau mendapatkan maafku, kau harus mau ku tampar!" kata Hermione dengan suara rendah.
"Tamparlah aku sesukamu." jawab Draco dengan gentle.
Hermione telah melayangkan tangannya dan Draco telah bersiap menerima rasa sakit di wajahnya dengan memejamkan matanya, namun detik selanjutnya bukan rasa sakit yang diterimanya malah sebuah belaian lembut yang menyapu kulit pipinya. Draco membuka matanya dan melihat Hermione sedang menatapnya.
"Kau jahat sekali Draco! Kau tahu seberapa sakit hatinya aku, ketika kekasihku sendiri tidak mempercayaiku dan malah lebih memilih untuk mempercayai omong kosong media?! Kau bahkan tak mau menerima penjelasanku." Hermione menajamkan suaranya.
"Ya, aku tahu itu. Malam itu aku mengecek hotelmu, ternyata kau sudah check out sejak siang. Maafkan sikap bodohku itu Hermione, aku terlalu cemburu melihatmu dengan pria lain. Apalagi jika pria itu punya kedudukan."
"Kau tahu bukan kedudukan, kekuasaan, ataupun popularitas yang kucari Draco."
"Ya, aku sangat tahu itu. Jadi ak..." kata-kata Draco terpotong karena bibirnya dibungkam oleh bibir wanitanya.
Setelah pagutan mereka terlepas, Hermione hendak menyerang Draco lagi, namun Draco menahan bahunya. "Kau mau memakanku sampai habis?" kekeh Draco sambil terengah-engah.
"Ya! aku lapar! aku belum makan, sepertinya kau enak." Hermione menjilat bibirnya. Draco terkekeh melihat Hermione begitu bergairah terhadapnya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan ferret! Aku terlalu merindukanmu kau tahu?! Makanya aku bersikap seperti putri duyung yang tak pernah melihat pria!"
Draco mendengus tertawa mendengar pernyataan Hermione.
"Okay princess, mari kita makan dulu agar kau tak menghabiskan aku disini. Terlalu banyak saksi." Draco mengedip nakal pada Hermione.
_oOo_
"Kau lihat lovebird itu?" Kekeh Theo sambil menunjuk pasangan yang sedang bercumbu mesra di bangku taman di bawah naungan pohon. Setelan mantel mahalnya menambah aura maskulin dari dalam dirinya. Merasa tak mendapat respon atas ucapannya, Theo menoleh ke arah teman bicaranya yang ia dapati ternyata sedang memandanginya dengan pandangan yang sulit diartikan, antara kagum, memuja, dan errr... bergairah.
Menyadari dirinya sedang tertangkap basah memandangi seorang pria dengan tatapan yang kurang pantas dilakukan seorang wanita terhormat, Elena buru-buru memalingkan wajahnya menunduk menatap sepatunya.
Theodore Nott, jangan sebut dia Theodore Nott jika tak bisa membuat wanita anggun menjadi wanita nakal hanya untuk dirinya di tangannya.
Theo menyeringai melihat ekspresi grogi Elena. 'Gadis cantik, anggun, dan sexy' pikir Theo.
"Apakah sepatumu lebih menarik daripada aku hey Nona?" tanya Theo.
"Uh? Kau tak bisa membandingkan dirimu dengan sepatu." Kata Elena menatap kemana saja kecuali ke arah Theo.
"Draco dan Hermione sedang melepas rindu dengan penuh mesra, jadi sebaiknya kita tak mengganggunya. So, kau mau menemaniku jalan-jalan? Aku tahu beberapa tempat bagus didekat sini." Theo menunggu jawaban Elena.
"Tentu, umm, apakah karena kau mengenal Paris maka Draco mengajakmu kemari?" tanya Elena.
"Mungkin. Dan kebetulan juga aku ada urusan disini." Theo menyodorkan lengannya untuk digandeng Elena.
_oOo_
"Aku akan berangkat ke New York hari senin." kata Hermione sambil memakan steaknya.
"Aku ikut." Hermione menghentikan kegiatan makannya dan memandang kekasihnya.
"Kau serius? Apa kau tak punya urusan di Inggris?"
"Enak saja, memangnya hanya kau yang punya perkerjaan?" jawab Draco skeptis.
"Ku kira begitu." ejek Hermione menyeringai.
"Kau punya Beauty and the Beast, aku punya Against the Sun. Kau punya UNwomen, aku punya Malfoy Corp." Draco mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Uhm, baguslah... aku tak mau punya calon suami pengangguran."
"Aku akan mampu membiayai hidup cucumu hingga generasi ketujuh sekalipin Mione." jawab Draco kesal, membuat Hermione mendengus tertawa.
"Kupegang janjimu! Oh ya bukankah Malfoy Corp di New York dikelola oleh Oliver?"
"Ya, tapi kan tak ada salahnya aku membantunya untuk sementara, sekalian mengunjungi keponakan-keponakanku dan menjagamu agar tak diambil Beast."
"Hahaha... kau pecemburu akut!"
"Jangan berciuman terlalu lama dengannya! Aku akan menghukummu jika kau melakukan itu. Kalau bisa, suruh saja stuntman untuk bagian cium mencium, aku takkan kuat menontonnya nanti." Hermione terbahak-bahak mendengar Draco bicara seperti itu dengan nada mengomel seperti ibu-ibu.
"Jangan tertawa Hermione!" desis Draco.
"Baik, begini... daripada membicarakan soal ciumanku dengan pria lain, lebih baik kau membantuku. Kau harus mengajariku menyanyi, aku harus menyanyi dalam film ini, karena film ini live action." Hermione memandang draco penuh bujuk rayu.
"Menyanyi tak perlu diajari Mione, anak kecil yang belum bisa bicarapun dapat menyanyi hanya dengan bersenandung." Hermione memutar bola matanya mendengar jawaban Draco.
"Tentu berbeda Draco! Ayolah, aku tahu kau mengerti maksudku. Aku tak mau tampil memalukan atau menyedihkan. Kau tak mau membuatku malu kan?" Hermione mengambil tangan Draco dan meremasnya.
"Kenapa kau memintaku? Memangnya mereka tak menyediakan guru vokal? payah sekali." dengus Draco.
"Mereka menyediakannya, aku telah bertemu dengannya dan telah bicara sedikit dengannya. Tapi aku akan lebih senang jika kau yang mengajariku. Suaramu kan bagus, kau bisa menyanyi." Hermione tampak seperti anak kecil yang terlalu senang akan diajak jalan-jalan.
"Pantas saja kau menyewa ruang karaoke ini, bukannya malah ke restoran. Well, berikan dulu aku kecupan permohonan. Sini!" Draco menarik Hermione dalam pangkuannya dan mencumbunya mesra.
Untung saja mereka tak jadi makan di restoran. Hermione berubah pikiran dan mengajak Draco untuk menyewa ruang karaoke, alasannya adalah agar lebih private dan tak terlihat media.
"Emh... sudah Draco. kapan kita akan mulai menyanyi?"
"Okay, kau mau lagu apa?"
"Insatiable." jawab Hermione antusias.
To Be Continue...
A/N : Wakkss... maaf pemirsah.. lama ya? ^^" Baru connect internet nih.
Gimana chapter ini? Kurang oke? Is this quality down? or flat?
Hehe makanya dari awal nulis ini saya gamau banyak-banyak chapter -,-"
Tapi sesuatu yang telah dimulai harus diselesaikan bukan? Maka itu bagaimanapun akhirnya, saya harus selesaikan.
Nah adakah reader yang punya saran untuk ending fict ini dan berkenan untuk menyumbangkan idenya?
Kali aja ending punya kalian lebih oke dari punya saya, hoho... ^o
Thanks for reading...
Druella Wood
