Disclaimer: Harry Potter Milik JK Rowling.

Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger

Rating: Semi M

Warning : OOC. No Magic. Based on Feltson's life story dengan tambahan sana sini yang murni karangan penulis.


Hermione terbangun dari tidurnya dan merasakan tubuhnya berada dalam dekapan tubuh kekar seseorang. Hembusan nafas orang dibelakangnya menggelitik tengkuknya. Hermione menurunkan pandangannya ke arah perutnya yang terasa hangat, ia mendapati perut mulusnya dilingkari tangan kekar seorang pria. Hermione menahan nafasnya setelah menyadari ia tak mengenakan sehelai benangpun, dan ia pun berani bertaruh kalau pria yang tengah memeluknya dari belakang ini juga tak mengenakan sehelai benangpun, karena Hermione dapat merasakan kulit pria itu diatas kulit telanjangnya.

Perlahan Hermione menolehkan wajahnya kebelakang, ia dapat melihat pria tampan bak dewa sedang tertidur dengan sangat tenang dibelakangnya.
Hermione kembali membalikan tubuhnya tak berani membuat terlalu banyak gerakan, ia tak siap jika Draco bangun. Hermione akan malu setengah mati, ia mencoba berpikir dan mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi sebelum pagi ini datang? Namun ia tak menemukan ingatan apapun.
Hermione keluar dari jalur pikirannya ketika sebuah kecupan basah dirasakannya di palung lehernya. Ternyata Draco sudah bangun dan mencoba sarapan dengan menu dirinya. Hermione bergerak sedikit namun tak berbalik untuk menatap Draco.

"Ah, ternyata kau sudah bangun sayang.. Morning..." Draco mengecup pipi Hermione dari belakang.
"Kenapa kau tak mau melihatku dear?" bisik Draco.

Hermione hanya diam, benar-benar malu setengah mati. "Berbaliklah Hermione." kata Draco dengan suara serak khas bangun tidur.
Hermione membalikan tubuhnya dan kemudian dikejutkan dengan serangan tiba-tiba dari Draco.
Draco melumat bibir Hermione dengan lapar dan menuntut. Hermione terbawa akan gairah yang Draco tularkan, maka ia menyambut ciumannya dengan sama erotisnya.
Lenguhan Hermione mengundang Draco, pria pirang itu kemudian menindih Hermione dan menyibakan selimut yang menutupi tubuh mereka.
Draco melepaskan ciumannya dan menatap wajah Hermione yang memerah dan terengah-engah. Dadanya naik turun menghirup oksigen banyak-banyak. Mata Draco turun dari wajah Hermione menuju seluruh bagian tubuhnya yang polos. "Kau cantik sekali Mione! Kau membuatku gila." Draco menjilat bibir bawahnya, dan menyeringai melihat wajah Hermione dihiasi semburat merah.
Draco menindih Hermione dan menciumnya kembali, tangannya menjelajah keseluruh tubuh Hermione, membuat Hermione bergelinjang nikmat. "Oh girl, I can't see your body moving." bisik Draco di telinga Hermione.
Draco kemudian melakukan sesuatu yang membuat Hermione menjeritkan namanya dan mencakar punggung Draco.

"DRACO!" Jerit Hermione bangun dari tidurnya. "Apa itu tadi?" gumam Hermione dengan wajah merona.

Disaat yang sama dengan teriakan Hermione tadi, tepatnya di hotel tempat Draco menginap. Draco Malfoy bangun dari tidurnya karena suara ribut yang dibuat oleh Theodore Nott untuk membangunkannya.
Dengan mata masih mengantuk Draco mengumpat pada Theo.
"Apa maksudmu mengganggu tidurku Nott?!" bentak Draco.

"Biar kukoreksi, mungkin maksudmu aku mengganggu mimpi basahmu tentang Granger eh?" Theo menyeringai pada Draco.

"Apa maksudmu?" semburat merah terpatri di kedua pipi Draco.

"Ahh, tak usah sungkan Drake, kau bertingkah seperti anak laki-laki yang baru puber tahu tidak." ejek Theo. Ia melanjutkan masih dengan menyeringai "Sejak 1 jam yang lalu kau terus mendesahkan nama Granger, seperti ini! 'Hermione...ehhmm Hermione..hhh... sshh... hhh..'" kata Theo menirukan desahan Draco saat tidur tadi, ternyata desahannya dalam mimpi benar-benar sampai ke dunia nyata.

"Berterimakasihlah karena aku baru membangunkanmu sekarang. Pertama, kalau aku membangunkanmu satu jam yang lalu, kau takkan merasakannya kan? Aku juga seorang pria Drake, aku tau rasanya tak enak sekali jika harus terputus sebelum itu terjadi. Mood-mu akan hancur sepanjang hari." Theo tertawa melihat Draco menatapnya dengan death glare andalannya.

"Memang tak enak, tapi lebih menyebalkan lagi ketika kau baru berhasil melakukannya tapi harus terputus di tengah-tengah!" Draco memicingkan matanya. Tawa Theo makin meledak.

"Ya ampun Draco?! Jadi tadi itu belum selesai eh? Maaf kalau begitu, kupikir tadi kau sudah mencapai puncaknya, karena tadi desahanmu it... wow!" Ucapan Theo terpotong karena sebuah bantal melayang kearahnya, namun berhasil ia tangkap dengan sempurna untuk menyelamatkan wajah tampannya.

"Cukup Theo. Kau ini tak penting sekali eh?" dengus Draco.

"Makanya jangan kelamaan mempermainkannya Drake, kau kena batunya kan? Seharusnya kau bermain cepat, sup..." Theo kembali mendapat timpukan guling dari Draco.

"Tutup mulut Nott!" bentak Draco.

"Oke, oke... well, yang kedua... dua jam lagi pesawatmu berangkat, kau mau ditinggal Grangermu itu eh?" Draco langsung lompat dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.

_oOo_

Sudah dua bulan Draco dan Hermione berada di New York untuk pekerjaan masing-masing sekaligus untuk satu sama lain. Namun mereka hanya bertemu 3 kali dalam 2 bulan terakhir itu karena jadwal Hermione yang kelewat padat, bahkan lebih padat daripada jadwal Draco.
Film Beauty and The Beast yang dibintangi Hermione harus mengejar target penayangan di akhir tahun depan, maka para kru harus bekerja lebih keras dengan jadwal lebih padat, sedangkan waktu yang Hermione peroleh di luar kesibukan syuting filmnya ia gunakan untuk urusan UN Women. Hermione hanya mencoba menyempatkan diri untuk menelepon Draco sebagai ganti untuk bertemu. Draco mengatakan padanya bahwa ia memaklumi kesibukan Hermione dan hanya berpesan untuk menjaga kesehatannya sesibuk apapun dirinya.

"Halo dear, kau sudah bangun?" Kata Draco dari seberang telepon.

"Hei... Hehem, Tentu saja." sahut Hermione.

"Kau sudah menerima paketku?" tanya Draco.

"Yeah, baru sampai lima belas menit yang lalu. Haha... kau ini ada-ada saja, untuk apa kau membuat t-shirt dengan gambar dirimu heh?" ejek Hermione.

"Kau seharusnya berterimakasih karena menjadi orang pertama yang kuberikan t-shirt itu secara cuma-cuma. Orang lain yang ingin mendapatkannya harus membayar untuk ini." dengus Draco di telepon.

"Jangan bilang kalau kau memperdagangkan t-shirt Drake?" Draco dapat mendengar suara terkejut dari kekasihnya di seberang telepon.

"Hahaha... tentu saja aku menjualnya. Tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan Mione. Aku masih punya cukup emas di brangkasku untuk tidak menjajakan barang tekstil dengan tampangku sebagai daya tarik demi makanan." Draco terkekeh.

"Maksudmu?" tanya Hermione tak mengerti.

"T-shirt ini kubuat untuk ku komersialkan, dan hasil dari penjualannya akan kusumbangkan ke Great Ormond St. Hospital. Kau tahu? aku menjanjikan kepada para calon pembeliku bahwa aku akan mem-follow sepuluh pembeli pertama t-shirt ini!" Kata Draco senang.

"Kau pintar! Mereka akan tertarik dengan iming-iming difollow oleh seorang Draco Malfoy. Aku yakin soal itu." Mereka berdua tertawa.
"Aku tak menyesal memilikimu, kau baik sekali Drake." kata Hermione lembut.

"Thanks, aku hanya prihatin melihat rumah sakit itu. Ada satu anak yang membuatku datang kesana waktu itu, namanya Sam, dia sangat menyukai tokoh Tom Felton."

"Aku bersedia jika kau mau membuat t-shirt lain dengan wajahku dan kau menuliskan 'Mind If Gryffindor In' karena tak semua orang menyukai Slytherin kau tahu? Bahkan aku yakin kalau wajahku yang ada disana, pembelinya akan makin banyak, fans-ku kan lebih banyak darimu. Lagipula pendukung Gryffindor jauh lebih banyak dari pendukung Slytherin." Hermione tertawa senang bisa mengejek kekasihnya.

"Dasar sombong." dengus Draco.

"By the way, aku akan pulang minggu ini Mione, ada beberapa persoalan di Malfoy Corporation London. Tadi pagi Cedric meneleponku dan minta aku pulang, ia sedikit kesulitan menangani persoalan ini sendirian."

"Apa urusanmu disini sudah selesai?" jawab Hermione tanpa perlu berusaha menyembunyikan nada kecewa dalam suaranya.

"Soal film sudah, aku tak terlalu banyak take, aku kan bukan pemeran utama seperti princess Belle." Draco terkekeh yang dibalas dengan dengusan oleh Hermione.

"Dan mengenai perusahaan, ada Oliver untuk New York, jadi aku tak perlu khawatir. Dia sudah pakarnya. Justru yang kutakutkan sekarang adalah kondisi perusahaan kami di London, kau tahu? Biasanya Cedric bisa diandalkan untuk ini, tapi kali ini aku tak bisa membiarkannya sendiri." Draco terdengar menghembuskan napasnya.

"Memangnya kenapa dengannya?" tanya Hermione penasaran.

"Kau belum mendengar berita media heh? Cedric menjalin hubungan dengan seorang penyanyi wanita yang aneh! Aku berteriak padanya di telepon kemarin, dia benar-benar gila, aku tak habis pikir dengan otaknya. Dia seperti orang bodoh setelah dia diselingkuhi oleh mantan kekasihnya Cho Chang." Draco menjelaskan dari seberang telepon dengan penuh emosi.

"Penyanyi wanita aneh katamu? Siapa yang kau maksud? Aku kurang update berita." Hermione merebahkan tubuhnya diranjangnya sambil mendengarkan dengan serius pembicaraan Draco di telepon.

"Ah entahlah aku lupa namanya, bahkan aku tak pernah mendengar namanya sebelumnya. Aku yakin 95 persen orang di dunia ini pun tak mengenal wanita itu sebelum Cedric mengencaninya. Yah ampun, sebelum kembali ke London, sepertinya aku harus ke Asia terlebih dulu untuk mencari penyembuh jampi-jampi dan sihir. Aku yakin sekali Cedric benar-benar di jampi-jampi." Draco terus berceloteh penuh emosi seperti ibu-ibu yang kehabisan jatah kue arisan.

"Jangan gila Draco, kau percaya hal seperti itu?!" Hermione memutar bola matanya.

"Sebelumnya tidak, tapi karena kejadian yang menimpa kakakku yang bodoh satu itu maka aku terpaksa harus percaya. Aku tahu betul seleranya, seumur hidupku aku telah mengenalnya Mione."

"Kenapa kau bisa menjurus kearah sana? Memangnya aneh bagaimana yang kau maksudkan eh?"

"Cara berpakaiannya, style-nya, bahkan tampangnya! Dia terlihat seperti dukun kau tahu?! Bahkan Trelawney telihat berkali lipat jauh lebih baik darinya." untuk ke sekian kalinya Hermione memutar bola matanya mendengar celotehan Draco.

"Okay okay, selamatkanlah perusahaanmu dan kakakmu itu. Aku tak mau punya kakak ipar aneh seperti wanita yang kau bilang lebih buruk dari Trelawney." aku mendengus tertawa mengingat ocehan Draco.

"Okay, by the way kapan target film-mu rampung dan kau bisa kembali ke Inggris?"

"Mungkin sekitar tiga atau empat bulan lagi, tapi aku akan mengambil cuti tiap bulannya untuk mengunjungimu di Inggris." Draco terkekeh mendengarnya.

"Mione, gadisku yang paling manis... kau ini kekasihku, kau wanitanya dan aku laki-lakinya, maka akulah yang berkewajiban mendatangimu ke tempat kau berada, bukannya malah kau yang jauh-jauh mendatangiku okay? Jadi tunggulah aku, aku yang akan mengunjungimu kesini dua minggu sekali." kata Draco penuh sayang.

"Terima kasih atas perhatian dan pengertianmu Draco, semoga sukses kalau begitu, dan hati-hati."

"Okay, maaf aku tak bisa menemuimu untuk terakhir kali sebelum aku berangkat, banyak hal yang perlu kusiapkan dan kau sendiri sangat sibuk."

"Yeah, sukses untukmu... Bye."

"Bye."
Hermione menutup teleponnya setelah kata terakhir dari Draco. Sedih sekali rasanya tak bisa menghabiskan waktu dengan kekasihmu karena kalian telalu sibuk, itulah yang Hermione pikirkan. Terlebih dialah yang memegang andil lebih sibuk daripada kekasihnya, itu membuatnya merasa bersalah dan kesal sendiri. Hermione mencintai pekerjaannya, namun dia benci berpisah dengan kekasihnya. Hermione berjanji dalam hati bahwa ia akan mengurangi volume kerjanya setelah mereka menikah nanti. Senyum gadis bersurai cokelat itu merekah ketika membayangkan pernikahan idamannya sejak kecil dengan pria favoritnya Draco Malfoy.

_oOo_

"Memangnya apa yang kau lihat dari wanita itu eh Cedric?! Jangan bodoh!" Geramku frustasi.

"Jangan mengajariku bocah ingusan." dengus Cedric menghisap rokoknya.

"Brengsek! kalau aku bocah ingusan maka kau apa hah? Bajingan jalanan? Lihat dirimu?! Baru kutinggal 2 bulan saja kau sudah seperti ini! Kau seperti pecundang Ced! Kau belum move on! Kau menjadikan wanita itu sebagai pelampiasanmu. Tapi aku tak habis pikir kau sebuta itu. Kau bahkan bisa mendapatkan model victoria secret paling cantik dan sexy, dengan tampang dan uangmu! Tapi kau malah menggaet wanita aneh itu."

"Sok tahu, kau terlalu banyak khotbah Drake!" balas Cedric tak peduli dengan semua kata-kata adiknya.

"BLAH! Kau bahkan tak membelanya! Kau selalu membela kekasihmu sebelum-sebelumnya Ced, karena kau benar-benar mencintai mereka."

"Percuma kau bicara panjang lebar, takkan berpengaruh untukku okay!" Cedric memutar bola matanya malas.

"Tunggu sampai Mom mendengar ini." ancam Draco.

"Aku telah mendengarnya Draco, jadi tak perlu repot-repot. Cedric, bisa kau jelaskan padaku maksud dari pernyataanmu ke media bahwa aku dan ayahmu telah memberikan restu kami untukmu dan pacar nyentrikmu itu?" sembur Mrs. Malfoy langsung ke putra ketiganya begitu memasuki ruang kerja anaknya. Cedric membuang muka dan tak menjawab pertanyaan ibunya.

"Kau mempermalukan keluarga Cedric! Apa maumu?! Semua orang bahkan mengatakan lebih baik kau mengencani seorang Lady Gaga sekalian daripada dengan wanita itu! Demi Tuhan! Semua orang mengasihanimu tahu tidak?! Sadarlah Nak! Kau tak sedang dalam pengaruh sihir kan?" suara Mrs. Malfoy melembut di kalimat terakhir. Draco dan Cedric kompak memutar bola mata mereka mendengar dugaan ibu mereka.

"Sudahlah Mom, aku hanya ingin menuruti kemauan Mom. Kau sendiri yang selalu memintaku untuk segera menikah bukan? Jadi kau akan mendapatkan menantumu dariku sebentar lagi okay?"

"Jangan berani-berani kau mengatakan dia menantuku! Aku membesarkan semua putraku menjadi orang-orang yang unggul, jadi aku hanya menerima wanita yang pantas untuk bersanding dengan putraku!" bentak Mrs. Malfoy.

Cedric dan Draco hanya diam mendengar bentakan ibu mereka.
"Aku kenal anak-anakku, aku tahu kalian semua keras kepala, ambisius, namun penyayang. Jadi aku tahu kau takkan mudah aku perintah Ced, hanya hatimu sendiri yang dapat meruntuhkan kekeras kepalaanmu, kuharap kau menemukan wanita yang lebih baik sebagai pengganti Miss Chang. Saking sayangnya kau dengannya, kau sampai seperti ini. Tapi setidaknya ucapan Draco tadi melegakan aku. Kau tak melakukan pembelaan sedikitpun atas pacarmu itu, maka aku setuju dengan pendapat Draco bahwa kau tak mencintainya." Mrs Malfoy tersenyum penuh konspirasi pada anak bungsunya, sebelum duduk di sofa biru ruang kerja Cedric, ia mengisyaratkan Draco untuk duduk di hadapannya.

"Apa kabar Miss Granger?" wajah Mrs. Malfoy berubah 180 derajat saat membicarakan Hermione. Wajahnya berseri-seri.
"Dia baik, dia sedang menjalani syuting film terbarunya di New York." wajah Draco tak kalah berseri saat bercerita pada ibunya mengenai kekasihnya. Matanya memancarkan kebanggan karena telah berhasil mendapatkan calon istri sesempurna Hermione. Ibunya sangat suka wanita yang anggun dan pintar. Draco sempat berpikir mungkin Hermione akan menjadi menantu favorit ibunya karena terlalu sesuai dengan harapan ibunya.
Kedua kakak iparnya Rosalie dan Alice juga merupakan wanita yang sukses dan anggun, hanya saja mereka tidak seterkenal Hermione. Rosalie dan Alice bekerja sama menjalankan bisnis mereka di bidang fashion dan event organizer yang namanya telah dikenal dunia. Mereka berdua adalah seorang desainer dan planner yang hebat.

"Kapan kau akan mengajaknya bertemu denganku dan ayahmu?" Senyum Mrs Malfoy masih merekah antusias.

"Entahlah Mom, ia terlalu sibuk. Tapi saat di Paris, aku telah bertemu dengan ibunya." seringai membelah wajah Draco.

Mrs Malfoy menaikan alisnya tertarik "Apa ia menyukaimu dan merestui kalian?"

"Yeah." Draco nyengir lebar.

"Bagus!" Mrs Malfoy menepukan kedua telapak tangannya.

Cedric mendengus keras dari balik meja kerjanya dan berjalan keluar ruangannya sambil membanting pintu.

"Kau lihat kakakmu? Carikanlah dia wanita yang baik! Aku tak mau dia memberiku menantu seperti itu." Mrs. Malfoy bergidik ngeri membayangkannya, tingkahnya membuat Draco tak bisa menahan tawanya.

_oOo_

"Alice, bisa kau ke London?"

"Hi adik ipar! Tak bisakah kau sedikit sopan? Misalnya dengan mengucap salam terlebih dulu pada kakakmu yang cantik ini?"

"Baik, selamat siang Alice." Alice memutar bola matanya mendengar sapaan setengah hati dari adik iparnya di seberang telepon.

"Memangnya ada apa? Kau bicara memintaku ke London seperti London dengan Melbourne hanya berjarak antar desa saja." Draco terkekeh mendengar kata-kata kakak iparnya yang paling cerewet itu.

"Well, aku butuh kau untuk suatu misi penting kau tahu? Aku punya penawaran menarik, dan aku berani bertaruh kau akan sangat tertarik bahkan sampai melompat-lompat seperti katak." Alice mengangkat sebelah alisnya penasaran.

"Well, katakan!"

_oOo_

Musik berdentam dengan lagu yang menghentak-hentak memenuhi ruangan lumayan besar yang ramai dengan orang-orang yang sedang menari dengan gerakan sesuka hati mereka. Kebanyakan dari orang-orang itu sudah kehilangan sebagian kesadarannya karena alkohol, termasuk seorang wanita berambut hitam yang tengah duduk di meja bar di hadapan seorang bartender.
Wajahnya tertutup rambutnya yang di gerai dan telah acak-acakan. Sesekali kepalanya terantuk-antuk hampir membentur meja.

Berjarak 2 kursi di sampingnya duduklah seorang pria yang sangat tampan bersurai perunggu dalam keadaan tak jauh berbeda dengan gadis berambut hitam di sebelahnya, hanya saja keadaannya masih lebih bisa ditolerir daripada keadaan si wanita.

"Vodka lagi." kata si wanita dengan suara serak pada bartender di depannya.

"Kau sudah terlalu banyak minum Nona. Kau takkan bisa mengemudi nanti." bartender itu mencoba mengingatkan wanita mabuk itu.

"Tak usah cerewet! Sudah pekerjaanmu untuk memberiku minum! Jadi kerjakan saja tugasmu dengan benar!" bentak wanita itu.
Sang bartender mengangkat bahunya dan kemudian menuruti perintah pelanggannya sambil menggelengkan kepalanya.

"Hei! Whiskey lagi!" teriak sang pria.
Si wanita mengangkat wajahnya dan memicingkan matanya berusaha melihat pria yang seenaknya menginterupsi kegiatan bartender yang sedang melayaninya.
Si pria melirik si wanita dengan pandangan mencemooh.

"Kau tak melihat kalau dia sedang melayaniku heh?!" desis sang wanita.

"Apa dia pelayan pribadimu eh?" kata sang pria menyeringai mengejek.

"..." si wanita tak menyahutinya dan hanya membuang muka.

"Sepertinya aku mengenalmu." si pria memandangi wajah si wanita.

"Dan sepertinya aku tak mengenalmu." wanita itu mendengus sambil melirik si pria dengan sinis.

"Haha... galak sekali." kekeh si pria.

"Makanya jangan mengganggu wanita yang sedang patah hati." gumam si wanita dengan mata sayu menatap kosong deretan botol brendi di rak belakang bartender.

Si pria pindah ke kursi di samping wanita itu "Maksudmu kau sedang patah hati? Waw, kita senasib kalau begitu. Bagaimana kasusmu hmm?" si pria yang tadinya mulai teler, sudah mulai fokus setelah mendengar bahwa lawan bicaranya sedang patah hati.

"Dia meninggalkanku demi wanita lain." ujar si wanita dengan suara melamun yang menyedihkan.

"Wah wah, pasti wanita itu lebih muda dan lebih cantik darimu." goda si pria yang bukannya membuat si wanita marah, tapi justru membuatnya menangis sesenggukan. Si pria yang tak menyangka akan begini jadinya menjadi tak enak hati, ia bingung harus melakukan apa untuk menghentikan tangisan memilukan gadis di hadapannya.

"Hei, aku minta maaf. Aku hanya bercanda kau tahu? Aku tak bermaksud membuatmu menangis. Aku bersumpah aku tak sungguh-sungguh mengatakannya." kata si pria.

Sang wanita mulai mencoba menghentikan tangisannya dan mendongak menatap pria dihadapannya yang memandangnya khawatir dan penuh rasa bersalah.

"Don't worry, yang kau katakan memang benar." si wanita mengangkat bahunya masa bodoh dan kembali melamun.

"Eh? Uh.. ehm..." hanya itu suara yang keluar dari si pria yang tambah merasa tak enak karena ternyata leluconnnya adalah fakta.

Si pria terus memandangi wajah wanita itu, berusaha mengingat-ingat kapan dan dimana mereka pernah bertemu. Dengan reflek, ia menjulurkan tangannya ke arah wajah gadis itu dan menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah si wanita ke belakang telinganya. "Kau juga cantik kok, jadi jangan terus meratapinya. Mulai sekarang aku juga akan berjanji pada diriku sendiri untuk move on." si pria tersenyum, membuat si wanita tertegun menatap wajahnya yang baru disadarinya sangat tampan, hampir mirip dengan mantan kekasihnya.

"Kau juga patah hati? Well, bagaimana kasusmu?" si wanita menatap si pria dengan mata berat karena mabuk parah, namun karena sudah biasa, ia bisa mengatasinya.

"Dia selingkuh dariku bersama pria yang lebih cocok menjadi pamannya. Aku benar-benar benci perselingkuhan kau tahu?" si pria menenggak whisky-nya dengan cepat.

"So, kau belum move on?"

"Orang-orang melihatku sudah move on, tapi sebenarnya tidak." ia mengangkat bahu.

"Maksudmu?" si wanita mengerutkan keningnya tak mengerti.

"Aku sudah berkencan dengan wanita lain, tapi semua orang termasuk keluargaku tak ada yang mendukung kami ataupun menyukainya." si pria diam, menunggu respon si wanita yang juga hanya diam menunggu dan memberi isyarat pada sang pria untuk melanjutkan.

"Mereka tak menyukainya karena gayanya yang... ehm... aneh mungkin."

"Aneh? seberapa aneh? apa lebih aneh dari Bellatrix Lestrange?"

"Eh? Harry Potter?" pria itu mengangkat sebelah alisnya. Si Wanita itu hanya mengangkat bahunya sambil menyeringai.

"Hmm, bahkan Bellatrix terlihat lebih baik menurutku. Ibuku bahkan mengatakan lebih baik sekalian saja aku berkencaan dengan Lady Gaga." Wanita itu menutup mulutnya, dan kemudian tertawa. Sedangkan si Pria mendengus sebelum ponselnya berdering lalu ia mengangkatnya.

"Yeah, aku tak bersamanya. Sudahlah jangan membatasiku seperti bayi." si pria menutup teleponnya tanpa perlu menunggu jawaban dari peneleponnya.

"Biar kutebak, itu ibumu yang barusan telepon?" wanita itu menatap si pria dengan mata sayu dari balik bulu matanya. Si pria hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

"Jadi kau mencintai pacar barumu?"

"Sejujurnya tidak, suka pun aku tidak, aku masih waras. Aku hanya cari sensasi." jawab si pria enteng.

"Dasar pria bodoh dan brengsek. Ternyata kalian semua sama, menganggap wanita sebagai mainan." wanita itu mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol-tombolnya dengan cepat lalu menempelkannya di telinganya.
"Mark! Leaky Cauldron. Maaf merepotkanmu." si wanita melakukan hal yang sama dengan pria di sampingnya, menutup telepon tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya.

"Pacarmu?" tanya si pria.

"Asistenku. Aku belum move on kau ingat?!" wanita itu meletakan kepalanya yang berat diatas tangannya yang bersilang di meja bar.

Lama mereka tak bicara, si pria akhirnya bangkit dan mengambil ponselnya dari meja bar kemudian memasukannya ke sakunya. Pria itu mengerjapkan matanya dan menggelengkan kepalanya berusaha mengumpulkan sedikit kesadaran yang tersisa karena ia harus mengemudi pulang.

"Well, senang berbincang denganmu Nona. Karena kau sudah ada yang menjemput, maka aku permisi pulang duluan okay." kata si pria menepuk bahu si wanita yang hanya dibalas dengan anggukan kepala darinya.

_oOo_

"Halo?" terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon.

"Hmm?"

"Siapa ini?"

"Kupikir kau yang meneleponku duluan?"

"Aku bukan meneleponmu, tapi aku menelepon pemilik ponsel yang sedang kau gunakan Nona!"

"Maksudmu kau pikir aku mencuri eh? Ini memang ponselku!" wanita yang tadinya masih mengantuk karena pulang larut sambil mabuk semalam seketika mendapatkan kesadarannya karena terpancing emosi di pagi hari.

"Ini ponsel kekasihku Cedric!" bentak wanita diseberang telepon.

Si wanita menjauhkan ponsel yang sedang ia gunakan dari telinganya dan mencermatinya, ternyata memang itu bukan ponselnya. Pikirannya mulai merangkai kejadian-kejadian yang dialaminya kemarin. Ah dia ingat! Semalam saat dia mabuk, dia berbincang dengan seorang pria yang tak ia kenal. Ia tak begitu ingat jelas wajahnya, yang jelas ia ingat kalau pria itu lumayan tampan. Ia juga ingat pria itu bercerita kalau ia juga sedang patah hati dan malah memacari wanita yang tak dicintainya sebagai pelampiasan dan cari sensasi.
Tiba-tiba wanita itu menyeringai licik.

"Cedric sedang bersamaku, ia tak mau diganggu kau tahu. Lagipula seenaknya saja kau mengaku kekasihnya! Dia itu kekasihku tahu!" wanita itu menutup teleponnya.

Ia melamun sebentar dan kemudian menekan angka-angka dalam ponsel itu lalu menekan tombol call.
"Halo." terdengar suara serak seorang pria yang sepertinya baru bangun tidur.

"Kau Cedric?" tembaknya langsung.

"Yeah, siapa ini?"

"Apa kau akan ada di kantor siang nanti?"

"Tentu, tapi aku akan telat datang ke kantor. Aku masih mengantuk."

"Baik, aku akan ke kantormu saat makan siang. Ponsel kita tertukar, aku akan mengambil ponselku." sang wanita memutuskan sambungan dan memijat pelipisnya.

_oOo_

"Tuan, ada seorang yang mencarimu. Dia bilang, ia sudah membuat janji denganmu tadi pagi."

"Persilahkan dia masuk."

Seorang wanita berambut hitam melenggang masuk ke ruangan Cedric.

"Cedric." Pria yang dipanggil Cedric mengangkat sebelah alisnya, sebelum bergumam "Astoria."

"Lama tak berjumpa." senyum wanita yang dipanggil Astoria tersungging di bibirnya.

Cedric tertawa "Bagaimana bisa eh? Jadi semalam kita berceloteh panjang lebar tanpa menyadari siapa teman bicara kita. Dan yang lebih parahnya, ternyata kita saling mengenal." Cedric berjalan dari balik mejanya menuju Astoria dan memeluknya.

Tiba-tiba pintu ruang kerja Cedric menjeblak terbuka dan memampangkan penampakan seorang wanita yang berpakaian aneh dengan banyak aksesoris menyertainya seperti peramal. Wanita tersebut menatap kedua orang yang sedang berpelukan dalam ruangan itu dengan tatapan datar.

"Twigs" gumam Cedric setelah melihat kekasihnya dari balik punggung Astoria yang sedang memergokinya memeluk wanita lain. Cedric hendak melepaskan pelukannya, namun Astoria menahannya dengan memeluknya lebih erat. Ia sengaja melakukannya bukan untuk bermaksud jahat, tapi justru untuk membantu Cedric dan keluarganya membebaskan diri dari wanita yang sekarang tengah mengawasi dirinya dan Cedric berpelukan. Astoria dapat mendengar langkah kaki berjalan menjauh, wanita itu pasti telah pergi.

"Astoria!" desis Cedric.
Astoria mencelos mendengar suara Cedric. Ia merasa de javu, rasanya seperti ketika Draco mendesis penuh benci padanya karena menghina Hermione. Astoria melepaskan pelukannya, Cedric menatapnya kecewa dan kemudian berlari mengejar kekasihnya.

'Bagus! Sekarang aku berhasil membuat kakak beradik benar-benar membenciku karena alasan wanita.' Astoria ingin menangis, tapi air matanya tak keluar karena sudah habis untuk menangisi mantan kekasihnya Draco Malfoy.

Langkah kaki sepatu pantofel pria membuat Astoria cepat-cepat bangkit dari duduknya. Ia berbalik cepat berpikir akan mendapati Cedric Malfoy yang akan masuk ke ruangan itu.

"Maafkan a..." kalimatnya terputus karena ternyata dugaannya salah, bukan Cedric yang datang, melainkan Draco Malfoy.

"Astoria? Apa yang sedang kau lakukan disini?" Draco berjalan mendekat sambil menatapnya penuh curiga.

"Jangan berpikiran macam-macam Draco, aku hanya mau mengambil ponselku yang tertukar dengan milik Cedric."

"Bagaimana bisa?" Draco menaikan sebelah alisnya. Astoria tahu Draco sedang menganalisa dan menduga-duga apa yang sebenarnya tengah terjadi antara dirinya dan Cedric.

"Apapun yang sedang kau pikirkan, itu salah Draco." Draco mengangkat bahu memutuskan tak ambil pusing.

"Apa kabarmu?" kata Draco mencoba sopan untuk menebus rasa bersalahnya.

"Buruk. Tadi pagi sempat membaik karena Cedric, tapi sekarang jadi memburuk karena pacarnya dan... karenamu."

"Apa maksudmu dengan 'pacarnya'? siapa yang kau maksud?" Draco memicingkan matanya.

"Tadi aku membuat pacar Cedric merajuk karena dia melihat kami berpelukan." Draco mengangkat sebelah alisnya, membuat Astoria cepat-cepat melanjutkan "Cedric memelukku sebagai salam pertemuan setelah lama tak berjumpa." tawa Draco pecah, membuat Astoria mengerutkan alisnya bingung.

"Kau pikir aku mencurigaimu merusak hubungan kakakku dengan kekasihnya? Tentu tidak Tori! Aku mengenalmu okay! Dan jangan bersikap seakan-akan aku ini membencimu. Lagipula aku senang kalau kau berhasil memisahkan mereka." Draco menghentikan tawanya dan Astoria hanya menatapnya dalam diam.

"Aku tak pernah membencimu, Aku sayang padamu Tori, dan akan selalu begitu." Astoria menitihkan air matanya mendengar ucapan Draco, tapi ia mengerti maksud mantan kekasihnya itu.
Draco berjalan mendekati Astoria dan merangkulnya lalu mengusap air matanya, mereka tersenyum.

Namun tidak begitu dengan sosok yang sedang menatap mereka dengan tatapan sedih di balik pintu ruangan Cedric yang tak tertutup sempurna.
"Hermione?" seru Cedric dari balik punggung gadis yang sedang terpaku di depan pintu ruangannya.


To Be Continue...

Kalo ada yang ga ngerti bagian depannya tadi, yang ITALIC itu adalah mimpi kembar yang dialami Hermione dan Draco.. hehe namanya juga fiksi, apa aja juga bisa terjadi :3

Thanks for reading...
Thanks for review...
and Thanks for waiting... :)

Druella Wood