Disclaimer: Harry Potter Milik JK Rowling.

Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger

Rating: T

Warning : OOC. No Magic. Based on Feltson's life story dengan tambahan sana sini yang murni karangan penulis.


A/N : Wkwkwk... pada keki XD. Well, saya ga akan bikin mereka ribut besar lagi kok. Dugaan kalian salah :p Haha... pas posting chapter 7 kemarin tuh chapter 8 nya udah jadi. Mione ga ambekan kok :3

Enjoy...

.
.
.

"Aku sayang padamu Tori, dan akan selalu begitu." itulah yang didengar Hermione dari balik pintu ruangan Cedric yang tak tertutup sempurna. Hermione mengintip sedikit apa yang terjadi di dalam, kemudian ia menutup mulutnya setelah mendapati kekasihnya berdiri dekat dengan Astoria dalam posisi tidak biasa, tangannya menyentuh wajah Astoria lembut.

"Hermione?" seru Cedric dari balik punggung gadis yang sedang terpaku di depan pintu ruangannya. Suaranya cukup keras untuk sampai terdengar ke dalam ruang kerjanya.

Pintu menjeblak terbuka, menampakan wajah panik dan terkejut seorang pria bersurai platina. Napasnya tak beraturan.
"Hermione.." bisik Draco.

"Eh? Draco... uhm..." Hermione tak dapat berkata-kata, matanya menatap kemanapun kecuali mata Draco.

"Hermione kenapa kau tak masuk dan malah berdiri disini sejak tadi?" kata Cedric.

"Kau disini sejak tadi?" tanya Draco panik.

Cedric menatap Draco, Hermione, dan Astoria. Ia mulai menangkap ada yang tak beres diantara mereka. Astoria menyembur keluar dari ruangan Cedric dengan air mata mengaliri wajahnya, dia masih merasa sakit hati melihat Draco dengan Hermione.

Hermione yang melihat wanita itu menangis, mendorong draco untuk mengejarnya "Kerjar dia Draco! Kejar!" perintah Hermione.

"Apa kau gila Hermione?!" Draco menatap Hermione tak percaya.

"Aku tak apa-apa, kau tak lihat? Dia menangis! Aku benar-benar merasa tak enak padanya, aku minta tolong dengan sangat padamu untuk mengejarnya sekarang Draco." Hermione memohon dengan sangat menyedihkan kepada Draco.

Draco menatap Hermione 2 detik penuh arti dan mencari tahu pikiran apa yang bersarang pada otak kekasihnya itu. Namun kemudian Draco berlari untuk mengejar Astoria, ternyata wanita itu tak pergi jauh, ia berbelok di lorong pertama menuju aula ruang meeting yang jarang dikunjungi karyawan selain untuk meeting.
Draco menarik tangan Astoria, membuat Astoria berbalik.

"Kenapa kau menangis? Kau masih tak bisa menerima aku bersama Hermione?" Astoria menenggelamkan wajahnya di dada Draco. Ia hanya mengangguk sabagai jawaban atas pertanyaan Draco.

"Maafkan aku Tori." bisik Draco.
Draco menatap ke ujung lorong lainnya, Hermione berdiri disana. Draco mencoba membaca mata Hermione, apa yang sedang dipikirkannya? Hermione berjalan perlahan mendekat tanpa suara, hingga sampai di belakang Astoria.

Hermione hendak mengangkat tangannya untuk memegang bahu Astoria, namun diurungkannya karena tiba-tiba Astoria bicara "Tapi kau tak perlu khawatir, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk move on. Aku akan berusaha Drake." Astoria masih menenggelamkan wajahnya di dada Draco.

"Yeah, kau pasti bisa. Kau bahkan bisa mendapatkan siapapun yang kau mau." hibur Draco.

Hermione memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua saja, ia kemudian berjalan kembali tanpa suara ke arah lorong di belakang Draco. Hermione mengelus bahu Draco sekilas dan hendak berjalan menjauh, namun tangan kiri Draco yang bebas justru menahan pergelangan tangannya.

"Astoria." panggil Draco.
Astoria mengangkat wajahnya dan mendapati Draco dan Hermione menatapnya.
"Aku ingin kalian berdamai, kalian wanita yang berarti untukku. Aku tak ingin kalian bermusuhan."

"Astoria..." Hermione bingung harus mengatakan apa.

"Well, selamat Granger." Astoria memaksakan sebuah senyum di bibirnya.

"Bisa panggil aku Hermione saja please?" Hermione balas tersenyum.

"Hermione." Astoria mengangkat bahunya.

"Thanks, by the way... selamat untuk apa?" Hermione memiringkan kepalanya.

"Hubungan kalian tentu saja." Hermione hendak menjawab namun sebuah suara menginterupsinya.

"Hermione! Kucari kemana-mana ternyata kau disini eh?" Seorang wanita mungil berambut hitam pendek menghampiri mereka bertiga.

"Hi Tori! apa kabarmu?" sapa wanita itu.

"Hi Alice! Baik, uhm... tumben kau ke Inggris. Pasti ada hal yang sangat penting sehingga kau mau kemari." kali ini Astoria benar-benar tersenyum tulus.

"Uhm yeah sebenarnya memang begitu. Aku..."

"Astoria! Kau masih punya urusan denganku. Kau tak bermaksud mencuri ponselku kan? Kutunggu di ruanganku." Cedric berteriak dari ujung lorong dan menghilang kembali menuju ruangannya.

"Apa maksud anak itu?" tanya Alice.

"Eh? uh semalam kami tak sengaja bertemu di sebuah klub dalam keadaan mabuk, kami meletakan ponsel kami di meja bar yang sama, kemudian Cedric salah mengambil ponselku, sehingga ponsel kami tertukar. Makanya aku berada disini sekarang, aku mau menukar kembali ponsel kami."

Alice dan Draco terkekeh "Dasar anak ceroboh dia itu." Alice menggelengkan kepalanya.

"Sebaiknya sekarang kau ke ruangannya Tori." kata Draco.

"Okay, aku duluan ya." Astoria berjalan menuju ruangan Cedric.

"Tori." Panggil Draco membuat Astoria membalikan tubuhnya.

"Aku pikir kau cocok juga dengan Cedric." semburat merah mendominasi kedua pipi Astoria mendengar kalimat Draco ditambah dengan kekehan Alice.

"Dan kuharap aksimu tadi berhasil memisahkan Cedric dengan Twigs." Astoria terkekeh sekarang.

"Kita lihat saja nanti." Astoria melanjutkan jalannya kembali ke ruangan Cedric.

"Hermione, kenalkan... aku Alice kakak ipar Draco. Kau pasti bingung aku tiba-tiba muncul dan mencarimu seperti ini. Ayo kita ke ruangan Draco! Kau akan mengerti nanti." Alice membimbing Hermione yang menatap Draco dengan pandangan bertanya. Draco hanya mengedikan bahunya dan memberi isyarat pada Hermione untuk mengikuti Alice.

"Astaga!" seru Hermione saat Alice menarik lepas sebuah kantung baju dari gantungannya.

"Bagaimana? Kau suka? Ini desain gaun pengantin terbaikku musim ini, karena aku turun tangan langsung dalam pembuatannya. Aku mengamati style-mu di berbagai event besar lalu aku memadukannya dengan style yang sedang booming sekarang." Alice tersenyum bangga ketika menunjukan gaun pernikahan berwarna putih buatannya.

Hermione memandang takjub pada gaun tersebut. "Ehm, gaun ini indah sekali. Tapi... kenapa kau menunjukannya padaku?" Hermione menatap Alice bingung.

"Hmm, ternyata Draco tak mendengarkan perkataanku untuk memberitahumu ya? Hermione, gaun ini kubuat khusus untuk calon adik iparku namanya Hermione Granger." Hermione langsung menoleh cepat pada Draco.

"Keberatan untuk menjelaskan Draco?" hermione menyilangkan lengannya di dada sambil memicingkan matanya.

"Aku meminta bantuan Alice untuk menyiapkan pernikahan yang hebat untuk kita. Aku bermaksud mewujudkan harapanmu Mione, bisa dibilang ini semacam surprise. Ini kulakukan juga karena kau sangat sibuk." Draco memandang Hermione agak gugup.

"Kau tak bicara apapun padaku dan melakukan semua ini sepihak Draco? Lalu kau anggap apa aku ini eh? Bagaimana jika setelah semua yang kau dan Alice siapkan, ternyata aku tak mau menikah denganmu hah? Bagaimana? Apa kau akan lari ke jalan dan menarik siapa saja wanita yang lewat di hadapanmu untuk menggantikanku menjadi mempelai wanitamu?" sembur Hermione dalam satu tarikan napas.

"Hermione dear." panggil Alice lembut namun tegas.

"Sebelumnya aku minta maaf apabila apa yang akan aku katakan membuatmu berpikir bahwa aku membela adikku, tapi aku mengatakan ini bukan karena dia adalah adikku, tapi karena apa yang akan kutakan memang seharusnya kukatakan." Alice menghela napasnya sejenak sebelum melanjutkan.

"Kami minta maaf karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuanmu. Tapi sungguh akupun telah mengatakan pada Draco untuk memberitahumu mengenai hal ini, karena seorang wanita takkan mau kehilangan moment repot dalam persiapan pernikahan yang mereka harapkan hanya berlangsung sekali seumur hidup mereka. Dan kita para wanita akan merasa terhormat, bangga, dan senang ketika kita dapat mempersiapkan sendiri pernikahan kita agar sesuai dengan harapan dan impian kita sejak kecil maupun saat dewasa. Aku tahu semua itu. Tapi aku juga tahu bahwa Draco begitu mencintaimu sehingga ia tak mau berlama-lama menjalin hubungan tanpa ikatan pernikahan denganmu. Terlebih lagi kalian bahkan jarang bertemu karena dipisahkan oleh kesibukan masing-masing. Kau tahu sayang? Minimnya suatu pertemuan, dapat merentankan suatu hubungan.
Draco hanya ingin menikahimu dengan cara yang benar namun tetap kau sukai. Dan dengan kesibukanmu, Draco pikir ia tak mau membuatmu merasa terganggu dengan semua hal ini, maka ia meminta bantuanku dan kakak ipar kami Rosalie untuk menyiapkan semua ini. Padahal aku tahu pikirannya itu salah ya kan Mione? Sesibuk apapun, kau tentu dengan senang hati untuk ikut andil dalam persiapan pernikahanmu bukan?" Alice tersenyum pengertian pada Hermione.

Hermione hanya terdiam menatap Alice dan Draco bergantian.

"Kecuali kau berubah pikiran dan tak mau menikah denganku Hermione." Draco membuka suaranya. Suaranya dingin dan terdengar terluka.

"Well, masih ada waktu untuk membatalkan semuanya jika mempelaimu menolak menikah denganmu Drake. Sebelum media mencium berita ini." suara asing seorang wanita tiba-tiba ikut andil dalam pembicaraan tersebut.

Ketiga pasang mata yang ada di ruangan itu menatap wanita cantik berambut pirang panjang yang baru saja masuk ke ruangan Draco. Wanita itu terlihat sangat elegan, ia mengenakan gaun putih gading selutut yang membentuk pinggulnya sempurna di balik mantel bulu mahalnya. Ia berjalan anggun diatas stileto yang senada dengan warna gaunnya.

"Rose, jangan bicara seperti itu." Alice memperingatkan.

"Apa kabar Miss Granger? Perkenalkan aku Rosalie Malfoy, kakak ipar Draco yang pertama. Mungkin kau akan lebih mengenalku jika kubilang namaku Rosalie Hale. Soalnya Elena sudah sering bekerja sama denganku untuk urusan wardrobe-mu." Rosalie menyunggingkan bibirnya yang terpoles lipstik merah darah seperti yang biasa Hermione gunakan pada acara-acara besar.

"Jadi kau Rosalie Hale?" Hermione menjabat tangan Rosalie dan mereka saling mencium pipi kiri dan kanan mereka.

"Yeah, itu nama panggungku. Haha...By the way, kau masih marah pada bocah ini? kuharap tidak. Karena ia akan uring-uringan jika kau melakukannya." Rose tersenyum jahil pada Draco.

"Tidak, aku paham situasi ini. Semua perkataan Alice benar, maafkan aku Draco. Aku memang tak tahu diri." Hermione beralih menatap Draco.

Melihat Draco hanya diam, Hermione berjalan menghampiri Draco dan menggenggam kedua tangan pria itu.
"Kau mau memaafkanku atau tidak?" bisik Hermione. Draco masih diam menunduk memandang Hermione.
Hermione mengecup bibir Draco, ketika akan melepaskannya, Draco menahan pinggulnya.
Hermione malu sekali karena di sana masih ada Alice dan Rosalie.

"Ehm." sebuah suara yang sangat dikenal Draco dan asing bagi Hermione menginterupsi kegiatan mereka.

"Mom." kata Draco salah tingkah.

'Mom katanya?! Mati aku, mau ditaruh dimana mukaku?!' maki Hermione dalam hati.

"Maaf aku mengganggu temu kangen kalian. Tapi aku kemari ingin melihat calon menantuku mencoba gaun pengantinnya." Narcissa Malfoy tersenyum ramah pada Hermione. Ia datang bersama seorang wanita muda di belakangnya yang membawa kantung baju besar.

"Kau bisa meletakan gaun itu di sofa Jessica. Kau boleh tunggu di luar hingga kami selesai, okay." Rosalie berkata pada wanita yang datang bersama Narcissa.

"Baik nyonya, saya permisi." kata Jessica sebelum keluar dan menutup pintu ruang kerja Draco.

"Well, sekarang aku di kepung 4 orang wanita." Draco menghampiri ibunya dan mencium pipinya.

"Kemari Hermione, perkenalkan ini ibuku." Draco menarik Hermione ke arahnya.

"Senang bertemu dengan anda Mrs. Malfoy." Hermione menjabat tangan Narcissa tanpa rasa gugup sedikitpun.

Hermione telah terbiasa untuk berhadapan dengan orang baru dari semua kalangan dan usia, maka ia dapat membawa diri dengan baik di hadapan siapapun termasuk calon mertuanya. Narcissa sendiri merasa senang melihat kepercayaan diri calon menantunya satu ini, sangat cocok menjadi seorang bangsawan Malfoy.

"Begitu juga denganku. Aku sudah lama menantikan bisa bertemu denganmu, tapi Draco bilang kau sedang menjalani syuting panjang untuk film terbarumu di New York? Jadi, apa kau sudah selesai dengan kesibukanmu disana?" Hermione merasa tersanjung dengan perhatian yang diberikan ibu Draco padanya.

"Belum, aku masih harus kembali kesana besok lusa. Prediksi tim kami akan menyelesaikan proyek film ini sekitar satu setengah bulan lagi. Sebenarnya aku ke sini tanpa sepengetahuan Draco, ia melarangku kemari entah kenapa dan bersikeras bahwa dia yang akan mengunjungiku. Tapi kurasa aku perlu bertemu dengan adikku untuk urusan kuliahnya sekalian mengecek sebenarnya apa yang disembunyikan Draco. Dan ternyata ini... Oh aku tak menyangka kalian bersekongkol." Hermione terkekeh, diikuti tawa yang lainnya.

"Ini surprise namanya Mione." kata Draco.

"Surprise macam apa? Pesta ulang tahun dapat kau jadikan surprise, karena yang berulang tahun hanya perlu meniup lilin, menerima kado, dan mengucapkan harapannya, tapi pernikahan? Kau pikir begitu mudahnya seorang wanita menyerahkan hidupnya kepada seorang pria yang mengikatnya dalam ikatan suci tanpa perlu persiapan mental dan lainnya eh?" Hermione kembali mengomel dalam satu tarikan napas, ia menatap Draco skeptis.

"Hahaha... maafkan kami dear, anakku memang salah. Aku akui itu. Mari kita duduk, tak enak bicara sambil berdiri begini." Narcissa membimbing Hermione untuk bergabung dengan Alice dan Rosalie yang sedari tadi sudah duduk di sofa.

"Aku sudah bicara pada ibumu dua minggu yang lalu dear." Narcissa membuka suara.

Hermione terkejut mendengar pernyataan calon ibu mertuanya.
"Apa maksud anda Mrs Malfoy?!"

"Eh, panggil saja aku Narcissa atau Mom, terserahmu. Ya... aku mendatangi kediaman ibumu di Paris saat menemani Alice mencari bahan gaun pengantinmu itu. Draco juga ikut. Kami membicarakan tentang pernikahan kalian sekaligus aku melamarkanmu untuk Draco secara formal." Hermione menatap tajam Draco yang pura-pura tak melihatnya.

"Jangan marah sayang. Kami sangat antusias dengan kehadiranmu dalam keluarga kami, oleh karena itu kami membantu Draco untuk menikahimu secepatnya tanpa perlu mengganggu kesibukanmu." Narcissa menggenggam tangan Hermione.

"Well, untunglah aku benar-benar menuruti kata hatiku untuk pulang sekarang. Jika tidak, mungkin saat aku benar-benar kembali ke sini satu setengah bulan lagi, aku akan langsung diseret ke altar tanpa aku tahu kalau aku akan menikah." Alice dan Rosalie mendengus menahan tawa mendengar kata-kata Hermione.

"Hmm, jadi sudah sampai dimana persiapannya? Setidaknya aku bisa menyusun daftar nama tamu undanganku sendiri. Dan mengurus dekorasi acara jika aku tak lagi bisa bereksplorasi dengan gaunku." Hermione menatap Alice yang disambut dengan cengirannya.

"Ehm, sebenarnya aku dan Alice juga telah melakukan pekerjaan kami untuk bagian dekorasi Hermione. Ibumu dan Mom Cissy juga membantu, kau tahu kan kalau aku juga punya event organizer? Jadi Draco meminta aku dan Alice untuk membantu sepenuhnya. Tapi tenang, persiapan kami baru 65%, kau dapat ikut andil dalam penyelesaian sisanya. Mungkin kau bisa memilih bunga apa saja yang kau mau kami hadirkan, atau hiburan apa yang kau suka? Mungkin musik klasik atau band?" kata Rosalie tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih.

"Ah jangan lupakan soal catering! Kami belum menyentuh bagian ini Mione, mungkin kau punya selera tertentu? Kau bisa memadukan kuliner kota kelahiranmu Paris, dengan kuliner kebangsaanmu dan Draco, kuliner Inggris. Atau aku dan Rose bisa membantumu jika kau juga ingin menyediakan kuliner khas Amerika, Australia, dan bahkan Asia. Aku pernah mengikuti kuliah di Asia selama 2 tahun, jadi aku cukup paham makanan enak dari sana. Kenalanmu kan banyak, hampir semua orang di dunia mengenalmu dan Draco. Mungkin kau akan mengundang Mr. Ban Ki Moon? Aku punya list makanan dari negaranya yang enak." Alice hampir melanjutkan ocehan panjangnya tentang makanan kalau saja Rosalie tak menyelanya.

"Sudahlah Alice, kau sudah kelewat cerewet, yang ada Hermione sudah jenuh duluan mendengar celotehanmu. Well Hermione, aku memilihkan warna putih untuk tema pernikahanmu, jika kau menginginkan warna lain sebagai gantinya, mungkin aku dapat mengusahakannya."

"Tidak, kurasa aku suka. Aku setuju dengan warna putih." Hermione tersenyum senang melihat calon keluarganya begitu menyambut kehadirannya dalam keluarga mereka.

"Err, dan soal gaun. Karena Alice bersikeras bahwa Draco yang meneleponnya dan bukan meneleponku, maka ia mau dialah yang membuat gaun pemberkatan pernikahanmu yang berwarna putih itu." Rosalie menunjuk gaun yang di gantung di tengah ruangan yang tadi telah ditunjukan Alice kepada Hermione sejak pertama kali masuk ke ruangan itu.

"Kupikir gaun itu bagus juga, kerja bagus Alice, tak menyesal aku membiarkanmu membuatnya." Rosalie mencibir ke arah Alice yang hanya menyeringai mengejek padanya.

"Karena Alice telah membuat gaun pemberkatanmu, maka akulah yang membuatkan gaun untuk pesta resepsimu. Ah ini, ini gaun yang kubuatkan untukmu." Rosalie menyerahkan kepada Hermione kantung gaun yang tadi dibawakan oleh Jessica.

"Jangan dibuka sekarang dear. Aku tak mau mempelai priamu melihat gaunmu sebelum waktunya." kata Narcissa saat melihat Hermione akan membuka kantung gaun pemberian Rosalie.

"Tapi Draco bahkan telah melihat gaun pemberkatan kami." Hermione menaikan sebelah alisnya.

"Ya mau bagaimana lagi. Alice dengan ceroboh melakukannya kan? Sudah terlanjur." Alice mendengus mendengar ucapan ibu mertuanya yang menurutnya kolot sekali.

"Tak apa Mione, kau tak perlu mencobanya, aku pastikan gaun buatanku akan pas di tubuhmu, karena aku sudah punya ukuranmu." Rosalie mengedipkan sebelah matanya.

"Tapi untuk gaun pengantinnya, aku mau melihatmu mencobanya dear. Draco tolong keluar sebentar nak. Kau tahu ini urusan wanita." usir Narcissa pada anak bungsunya.

Draco mendengus dan keluar dari ruangannya.

_oOo_

"Maafkan aku Ced, aku takkan berbohong bahwa aku tak bermaksud merusak hubunganmu dengan pacarmu. Aku memang bermaksud begitu sejak awal, tapi aku punya alasan. Aku melakukannya karena kau sendiri yang mengatakan padaku semalam di bar bahwa kau tak mencintainya dan hanya bermaksud mencari sensasi dan pelampiasan. Aku tak suka kau mempermainkan wanita seperti itu, aku kasihan pada pacarmu. Dia dibully semua orang karena berpacaran denganmu, tapi ternyata pengorbanannya untuk sabar atas semua perlakuan itu hanya berujung sakit hati karena kau tak mencintainya. Kemudian alasan kedua adalah agar kau tak di benci oleh semua orang terutama keluargamu sendiri hanya karena menikahi wanita yang tak disukai ibumu." Astoria duduk di hadapan Cedric dan menunggu respon pria bersurai perunggu itu. Pria itu masih diam dan memandang tajam Astoria.

"Baiklah, aku memang tak seharusnya ikut campur." Astoria mencoba membaca ekspresi Cedric, ia menduga-duga dalam hati apakah pria itu marah atau tidak. Dia menatap tajam Astoria dengan bibir terkatup membentuk garis datar, rahangnya yang sedari tadi mengeras, kini mulai rileks. Menyadari itu tanpa sadar Astoria menghembuskan napasnya lega.

"Ini ponselmu." Cedric mendorong ponsel Astoria ke depan pemiliknya.
"Bisakah aku mendapatkan kembali ponselku please?" lanjutnya sopan.

Astoria mengambil ponsel milik Cedric di tasnya dan menyerahkannya pada pria itu. Cedric langsung membuka ponselnya dan mengecek isinya.

"Twigs meneleponmu tadi pagi?" kata Cedric lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.

"Ya." sahut Astoria.

"Kau mengatakan apa padanya?"

"Aku... err...aku... ck.." Astoria merasa tak enak mengatakan apa yang telah dikatakannya pada kekasih Cedric.

"Aku minta maaf Ced, aku tak tahu kau akan semarah ini. Aku akan memperbaiki kesalahanku, aku janji. Kau tinggal memberiku alamatnya, dan aku akan kesana sekarang juga untuk menjelaskan semuanya." Astoria mulai gelisah, matanya berkaca-kaca.

"Seingatku aku hanya bertanya apa yang kau katakan pada Twigs. Kenapa kau malah berkata seperti itu?" Cedric mulai bersikap biasa, bahkan pria itu sedikit menyunggingkan sudut bibirnya yang membuatnya terlihat mempesona.

"Aku.. aku bilang padanya, kalau... kalau aku sedang bersamamu tadi pagi dan..." Astoria kembali diam tak cukup punya nyali untuk melanjutkan.

"Dan?" pancing Cedric.

"Dan aku mengatakan kauadalahpacarku." kata Astoria sambil menunduk menatap tas hermes di pangkuannya.

Cedric hanya diam, namum bibirnya berkedut. Sayang sekali Astoria tak melihatnya karena ia lebih tertarik untuk mengintimidasi tasnya.

"Well, apa kau keberatan untuk mengucapkan kalimatmu dengan benar? Sebenarnya aku dapat menangkapnya, tapi aku takut salah paham."

"Huh, kau mulai menyebalkan Ced. Aku mengatakan padanya kalau kau adalah pacarku."

"Memangnya kau mau?" Astoria mendongak menatap Cedric setelah mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh itu.

"Aku tak suka pura-pura bodoh Ced, jadi apa maksudmu itu eh?"

"Kita sama-sama patah hati, aku dikhianati dan kau dicampakan (maaf untuk itu, tapi kau tahu Draco telah mencintai Hermione sejak kecil kan) back to topic, kita sama-sama telah berjanji pada diri kita masing-masing untuk move on, dan untuk menepatinya takkan mudah jika tak punya partner bukan? Maka aku menawarkan diri padamu untuk jadi partner move on-mu dan kau jadi partner move on-ku, bagaimana?" Cedric tersenyum miring mirip Draco, membuat Astoria salah tingkah.

"Kau putus dengan Twigs?" sahut Astoria tak nyambung.

"Well, berkatmu kan? Oleh karena itu aku minta kau bertanggung jawab karena telah menyingkirkan partner move on-ku." Cedric mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Astoria.

Astoria memandangi tangan Cedric yang terjulur padanya. "What?" tanyanya.

"Kesepakatan untuk menjadi partner, seperti sepasang kekasih. Kita perlu saling membantu."

"Kau buat ini seperti mainan?" tanya Astoria tak percaya. Cedric menarik kembali tangannya.

"Tidak, aku serius. Aku tak memperlakukanmu seperti Twigs. Aku akan membuatmu melupakan Draco dan mencintaiku. Dan kau harus membuatku melupakan mantan kekasihku untuk mencintaimu. Itulah tugas kita dalam kesepakatan ini." Cedric menjelaskannya dengan serius.

"Bagaimana jika hanya salah satu dari kita yang berhasil?" tantang Astoria.

"Kita berdua harus berhasil. Tapi kalau memang yang kau katakan itu terjadi. Maka aku akan tetap bersamamu kalau aku yang berhasil membuatmu mencintaiku, tapi kalau kau yang berhasil membuatku mencintaimu sedangkan aku gagal melakukan hal yang sama padamu, aku menerima konsekuensinya. Kau bisa meninggalkanku." kata Cedric penuh keyakinan.

Astoria mengamati mimik Cedric yang terlihat sangat serius dengan ucapannya. Dengan yakin Astoria menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Cedric yang langsung disambutnya.
"Aku akan pastikan kita berdua berhasil. Namun jika memang takdir berkata lain, aku tak akan membiarkan kau bersamaku jika kau tak mencintaiku walau aku sangat mencintaimu. Aku tak mau melakukan kesalahan dua kali seperti yang kulakukan pada Draco. Aku takkan melakukannya padamu." Astoria melepaskan tangannya.

"Kita pasti berhasil. Sayang." seringai membelah wajah tampan Cedric Malfoy yang berhasil membuat Astoria Greengrass merona dan hampir sesak napas.
Kelihatannya Cedric sudah mencuri start dan akan berhasil duluan.


HERMIONE GRANGER WAS DATING DRACO MALFOY
By Druella Wood

Kita masih tertegun oleh berita bahwa Hermione Granger kembali single, sepertinya gadis kita ini telah sibuk untuk move on. Hermione Granger yang tengah sibuk menjalankan syuting film terbarunya Beauty and the Beast di New York terlihat tengah berlibur akhir pekan bersama pacar barunya, aktor yang juga menjadi rekan bermainnya di film Harry Potter, Draco Malfoy.

Hermione Granger menemukan cinta baru atau kita dapat menyebutnya cinta lama yang kembali bersemi. Kita semua ingat kedua insan itu pernah dekat sebelumnya saat menjalani syuting film mereka yang ketiga dan keempat. Saat itu mereka terlihat sangat cocok dan bahagia dengan kehadiran satu sama lain. Namun mereka menampik semua dugaan dan membuktikannya dengan mengambil jalan masing-masing bagi hidup mereka. Hermione Granger berkencan dengan beberapa pria, sedangkan yang kita ketahui Draco Malfoy cukup lama menjalin hubungan dengan Astoria Greengrass. Menurut orang terdekat mereka, Malfoy dan Greengrass telah berpisah sejak enam bulan yang lalu.

Kedua bintang Harry Potter itu terlihat bermesraan saat tertangkap kamera sedang berkencan di sebuah restoran Italia di Mulberry Street, Manhattan, New York. Sepertinya Hermione kami menemukan cinta baru dalam diri pria yang berperan sebagai musuhnya di film itu.

Keduanya terlihat berjalan bergandengan tangan di sepanjang jalan raya utama kawasan Five Points itu sebelum memasuki restoran. Seorang saksi mengatakan "Mereka tidak bisa berhenti cekikikan dan tersenyum sepanjang waktu."

Sebelumnya di hari yang sama pada pagi harinya mereka tertangkap kamera berjalan beriringan di sebuah bandara di New York. Diduga Hermione datang untuk menjemput Draco Malfoy yang sengaja terbang dari Inggris ke New York untuk mengunjungi aktris cantik yang juga menjabat sebagai duta PBB termuda ini.

Saat itu Hermione menggunakan kaos panjang hitam dengan celana putih ketat serta flat shoes hitam. Tampak santai tanpa make up dan menggunakan topi warna hitam juga.

Hermione dan Draco diduga bertemu terakhir kali ketika menghadiri pesta yang di adakan PBB di London beberapa waktu lalu. Saat itu mereka sempat membuat media gempar karena foto mereka yang diposting oleh Taylor Swift di akun instagram pribadi milik pelantun Blank Space tersebut. Diduga ketika mereka bertemu, Draco Malfoy masih menjalin hubungan dengan Astoria Greengrass.

Berdasarkan konferensi pers yang dilakukan Hermione saat itu, dirinya dan Draco Malfoy tidak memiliki hubungan apapun diluar pertemanan dan rekan kerja. Gadis cantik itu juga menyatakan bahwa Draco Malfoy menghadiri pesta tersebut secara tidak sengaja dan bergabung bersamanya sebagai seorang feminis.

Tapi tentu saja, jika anda akan mengencani seorang Hermione Granger, anda harus memiliki history yang cukup mengesankan - dan Draco Malfoy telah mematahkannya. Dia dilaporkan berencana menempuh pendidikan manajemen bidang perikanan di Sparsholt College, Winchester. Pria penyuka olahraga ini memang pernah bekerja di industri penangkapan ikan di Dorking saat berusia 11 tahun, oleh karena itu dia sangat tertarik dengan kegiatan memancing hingga berminat untuk menempuh pendidikan di bidang tersebut. Selain memancing, pria bersuara merdu ini juga sangat mahir bermain golf, tenis, roller skating, dan berkuda. Ia menyukai bahasa Perancis, dan tentu itu akan memudahkannya untuk mendapat restu dari keluarga Hermione Granger yang sebagian berkebangsaan Perancis. Karirnya di bidang entertainment juga tak dapat dipandang sebelah mata, sudah banyak film dan serial dibintanginya, ia juga menjalankan profesinya sebagai seorang model. Draco Malfoy bahkan dikabarkan telah menjalin kerja sama dengan sebuah label rekaman indie. Tentu semua fakta itu membuktikan bahwa pria ini selalu serius dengan segala sesuatu yang disukai dan dijalaninya. Dan jangan lupakan Malfoy Corp London yang dipimpinnya bersama kakak ketiganya Cedric Malfoy.

Kami senang Hermione telah menemukan cinta baru, dan itu
jelas bahwa Draco Malfoy adalah penangkap yang baik.

Ginny terkikik setelah selesai membacakan artikel utama majalah gosssip langganannya yang baru terbit pagi tadi untuk Harry dan Ron.

"Mereka berhasil mengelabui media." kekeh Ron.

"Skenario mereka berjalan sukses." timpal Harry.

"Yeah, kau benar Harry. Mereka berhasil menyembunyikan hubungan mereka dengan rapat, kemudian mereka berhasil pula membuka hubungan mereka dengan sengaja kencan di depan umum tanpa harus konferensi pers." Ginny terdengar kelewat senang dengan hubungan asmara kedua temannya.

"Tapi mereka tetap harus konferensi pers Gin. Crap! kau curang Ron!" jerit Harry sambil dengan refleks membanting joy-stick playstation milik Ron.

"Bloody Hell Harry! Aku membelinya dengan 20 pounds!" Ron mendelik pada teman rambut hitamnya tak terima.

"Well, sorry... aku akan menggantinya." kata Harry sambil nyengir.

"Menurutku sih itu terserah pada mereka Harry, apakah mereka akan konferensi pers atau tidak." kata Ginny tak terpengaruh dengan keributan yang baru saja dibuat kedua teman prianya.

"Yang jelas, mereka baru melihat Draco dan Mione jalan berdua saja sudah seheboh itu. Bagaimana jika mereka melihat ini eh?" Ron mengeluarkan sebuah botol dengan gulungan perkamen di dalamnya.

"Apa itu?" tanya Harry.

"Memangnya kau belum dapat Harry?" Ginny menatap Harry tak percaya.

"Belum, memangnya apa itu?"

Ginny memutar bola matanya "Itu undangan Draco dan Mione. Bagaimana bisa mereka melewatkanmu eh?"

"Mungkin Mione mengirimkannya ke rumahku. Aku kan baru tiba di London sore tadi dan langsung kemari, jadi aku belum pulang ke rumah." kata Harry mengangkat bahu.

"Ini lihat Harry." Ron mengeluarkan gulungan perkamen dalam botol dan membuka ikatannya. "Kau lihat undangannya! Keren sekali kan?! Charlie tim kreatif kita yang membantu mereka membuatnya! Tak ku sangka mereka briliant juga. Haha..."

"Keren! Seperti perkamen di dunia sihir. Gambarnya bisa bergerak!" seru Harry mengamati perkamen yang sedang dipegangnya.

"Dan tulisan itu adalah tulisan mereka. Maksudku, font pada tulisan itu berasal dari style tulisan tangan mereka sendiri." kata Ginny.

"Mereka benar-benar gila. Menikah mendadak begini seperti tak ada hari esok." Harry menggelengkan kepalanya membuat rambut hitamnya yang sudah berantakan menjadi tambah berantakan.

"Mereka sudah merencanakannya sejak 6 bulan lalu Harry." Harry menatap Ron tak percaya.

"Dan Hermione baru ikut serta merencanakannya tiga setengah bulan yang lalu." timpal Ginny.

"Apa maksudmu Gin?" Harry mengerutkan keningnya benar-benar bingung dengan maksud perkataan teman-temannya.

"Draco menyiapkan pernikahan mereka secara sepihak saat kembali dari New York kemari tiga setengah bulan lalu. Ia meminta bantuan kedua kakak iparnya yang memiliki event organizer dan kebetulan juga seorang desainer. Mereka berkerja cepat dalam dua setengah bulan dan semua persiapan hampir siap lebih dari tujuh puluh persen. Mereka keren sekali kan?! Oh kupikir aku akan menggunakan jasa mereka jika aku menikah nanti." oceh Ginny sumringah.

"Sepihak katamu? Lalu bagaimana dengan Hermione? Apa ia menerima begitu saja? Dia tak marah?" tanya Harry penasaran.

"Dia bahkan mengamuk Harry, tentu saja. Tapi karena dia di keroyok oleh ibu dan kakak ipar Draco, ia jadi menerima semuanya. Hahaha... begitu Draco bercerita padaku. Hermione baru tahu soal pernikahan itu saat ia pulang ke Inggris tanpa sepengetahuan Draco untuk bertemu Alex."

"Benar-benar sinting." Harry memutar bola matanya.

"By the way, kita jadi best man mate!" Ron meninju pelan lengan Harry.

"Seriously? Wow! Ini benar-benar kejutan." Harry nyengir dan melakukan high five dengan Ron.

To Be Continue...


Gimana dengan berita surat kabarnya? Jujur saya suka dengan berita buatan saya itu, wkwk xD

Untuk mencegah kebosanan dan ke-absurd-an fict ini, saya akan berusaha menyelesaikannya segera.

Electra Malfoy : Alice (Kakak Ipar Draco udah dateng beberapa hari setelah Draco telepon, kedatangan Astoria ini terjadi dua setengah bulan setelah Draco menelepon Alice.

narcisssy : Gatau Rob itu mikirnya gimana, kenapa bisa khilaf gitu tunangan sama Twigs T_T

Yellowers : hehe, thank you ya udah nunggu dan ga pernah absen review, itu merupakan bentuk apresiasi untuk saya :) Mungkin ini hanya lebih panjang sedikit dari chapter 7, tapi chapter selanjutnya Insya Allah lebih panjang dari ini :D

yuharu : waduh, berarti biasanya ga ada gregetnya ya? okelah semoga aja untuk selanjutnya bisa bikin greget lagi ._.v but overall,, thanks ya akhirnya ngasih review :)

dragonjun, Clairy Cornell, VeeQueenAir, Mrs. Alex Watson, scorpryena : mereka gak marahan, dan Hermione ga cemburu kok, nanti kalo marahan mulu mainstream xD kapan kelarnya dan kapan meritnya ._.v

Thanks for reading...
Thanks for review...
And Thanks for waiting...

Druella Wood