Half Of My Soul
Rating : T
Pairing : Sasuhina/Narusaku
Genre : Hurt/Comfort/ Romance
Warning : AU, OOC, typo, abal, geje, Hinata ku buat sedikit jahat disini, ia akan terus menganggu hubungan SASUSAKU. Pemeran utama jahatkan. pasti ada alasannya.
Terimakasih : TabiWook. haruhi tya. rajabmaulan. Hyou Hyouichiffer. lovelychrysant. KumbangBimbang. Syura. Kumaa. n. hinatauchiha69
Gimana ngomongnya, ya? Sebenarnya saya SASUHINA lover, jadi saya tidak mau mengecewakan orang lain, karena saya sendiri tidak mau kecewa ketika membaca suatu fic. Makanya saya menghindari fic yang nggak jelas pairnya. Untuk lovelychrysant jangan kecewa, ya? Saya yakin diluar banyak kok fic SASUSAKU bertaburan dan bagus, malah super bagus ^^. Saya tidak bisa baca kalau Sasuke dipasangkan sama wanita lain, kecuali Sasuke jadi uke. Wah saya doyang, ha…ha…
Untuk umur Sai, niatnya sih 7 atau 10, tapi, berhubung kelamaan SASUHINA-nya ketemu. Terpaksa Sai berakhir di 4-5 tahun. Sai benar anak sasuke nggak ya? Tebak sendiri, deh.
Hyou Hyouichiffer, pertanyaanmu mengelitik hatiku. Tapi memang perlu diulas, berdasarkan kenyataan, ceilleh. Laki-laki beda sama perempuan. Kalau wanita itu selalu melakukan sesuatu berdasarkan ego dan perasaan, makanya perasaan kita bisa berubah-ubah. Sedangkan pria itu penuh logika. Jadi seorang pria bisa melakukan 'itu' walaupun tidak berdasarkan cinta. Yang pasti pria itu semua brengsek. *suara hati author yang sering di sakiti pria.
Untuk TabiWook. haruhi tya. rajabmaulan. n , tenang ini sasuhina kok, he…he..KumbangBimbang. Syura. Kumaa. hinatauchiha69 . terimakasih sudah mampir
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 2. Pilihan Yang Salah
"Bagaimana menurutmu kue ini. Naruto"
Sakura kembali mencicipi makanannya, ia merasa belum sempurna.
"Enak." Naruto juga ikut datang. Sakura sudah melarang, namun Naruto bersikeras ingin membantunya.
Sebenarnya Sakura tidak ingin, Naruto membantunya. Ia cukup tau perasaan pria itu, ia merasa miris tiap kali punya masalah, selalu tergantung pada pria ini.
Hari ini Sakura benar-benar sibuk. Besok malam ia dan Sasuke sudah berencana makan malam bersama di rumah, untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kedua.
Sakura masih ingat, ia butuh empat tahun untuk merebut hati Sasuke agar ia di akui olehnya. Saat itu ia berjanji tidak akan pernah melepaskan Sasuke pada siapapun.
Dua tahun mereka bersama. Ia belum juga memiliki momongan. Bukannya belum memiliki. Tapi ia tunda, demi perkembangan perusahaan yang di wariskan Ayahnya.
Untungnya Sasuke pengertian. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi beda dengan Ayahnya yang sudah tua. Ia selalu bertanya tentang kehamilannya. Kalau Ayah sudah bertanya hal itu, biasanya ia selalu mengalihkan pembicaraan dan Sasuke akan membatunya.
Ia merasa beruntung memiliki Sasuke. Memang raut wajah Sasuke sepertinya susah di dekati. Tapi nyatanya ketika ia sudah menjadi istrinya, Sasuke itu suami yang pengertian sekali.
BRUKH
"Ah…" karena tidak fokus pada pekerjaannya Sakura tersandung kaki meja, tapi dengan gerakan cepat Naruto memeluknya. Sehingga Sakura tidak harus mencium tanah.
"Kau tak apa?" wajah mereka terlalu dekat. Wangi Naruto membelai hidungnya. Wangi parfum ini, ia masih ingat. Dulu ia pernah membelikan Naruto sebuah parfum ketika ia ulang tahun.
Sakura tidak percaya. Naruto masih memakainya sampai sekarang. Ia mengedipkan beberapa kali matanya. Naruto masih betah memeluk. Matanya memandang Sakura, dalam.
Satu tangannya menyelipkan anak rambut di telinga Sakura. Perlahan mukanya mendekat ke wajah Sakura.
"Naruto!" Sakura dengan kedua tangannya menahan muka pria itu. Naruto tersentak lalu buru-buru melapaskan pelukannya.
"Maaf."
Sakura diam. Naruto mencengkeram dadanya. Ia benar-benar tidak sadar tindakannya tadi. Nalurinya bergerak begitu saja.
Dadanya sakit. Ini penolakan yang kesekian kalinya dari Sakura. Tapi, ia tetap saja tidak pernah bisa lepas dari bayang wanita ini.
Ia sudah jatuh cinta terlalu dalam padanya.
"Aku sebaiknya pergi. Maaf Sakura." Sakura tetap diam. Ia masih tidak percaya pada tindakan nekat Naruto.
BLAM…
Sakura kembali merosot ke lantai. Ia bernafas lega. Entah kenapa, bersama Naruto, membuat dadanya sesak. Ia benar-benar tidak ingin menyakiti teman baiknya. Sakura memandang keseluruh ruangan. Ah, ia rasa harus lebih bekerja ekstra untuk menghiasnya.
.
.
.
Helaian daun di terpaan angin, jatuh perlahan di atas rambut Sasuke. Sasuke mengambilnya, kemudian ia tersenyum. Ia masih ingat, dulu Hinata sering merapikan rambutnya.
Ah, kenapa ia malah memikirkan perempuan itu? Tapi untuk apa ia kesini? Kalau tidak untuk mengenang perempuan itu.
Sasuke menghela nafas. Ia lebih memilih datang ke Flats yang pernah di tinggalinya dulu, ketimbang ke Kantor. Dan menelantarkan pekerjaannya.
Flat yang penuh kenangan, tentang dirinya dan wanita yang sangat di cintainya. Hinata.
Ia duduk di bawah pohon, dulu ia dan Hinata sering duduk disini. Bila ia dan Hinata bosan berada dalam kamar.
Ia kembali melihat bangunan itu, yang kini sudah di tinggali oleh orang lain. Dulu ia sangat bahagia tinggal disana.
Sasuke kembali menghela nafas, ia sudah lima jam duduk disini. Termenung dan malah terperangkap pada masa lalu.
Ia berdiri kemudian menepuk-nepuk bajunya. Sebaiknya ia kembali ke Kantor. Hari ini banyak sekali pekerjaan, belum lagi ia berniat pulang lebih awal. Ia ingin membuat kejutan untuk istrinya.
Tapi orang Cuma bisa merencanakannya, kan? Mereka tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
.
.
.
"Naruto kau mau ke klab nanti malam?" Rock Lee teman Naruto. Terpaksa mengunjungi temannya satu ini. Sebenarnya ia kasihan sama kawan karibnya. Yang selalu terperangkap pada masa lalu. Ia tidak pernah bisa maju-maju.
Sakura. Wanita itu telah lama mengikatnya.
"Entahlah."
"Cukup Naruto. Ayo. Berdiri! Jangan hanya terpaku pada masa lalumu!" Lee geram ini sudah lima tahun. Ia masih terpuruk juga. Padahal Sakura dan Sasuke sudah menjalani kehidupan yang baru. Ia merasa miris melihat temannya seperti ini.
"Maaf" Naruto tertunduk, ia kelihatan lesu sekali. Persis tubuh tanpa jiwa. Sehebat itukah Sakura, memonopoli hatinya?
"Buat apa minta maaf padaku." Lee merasa prihatin melihat kondisi Naruto, ia mencengkeram bahu sahabatnya itu.
"Tenten bilang. Ada wanita yang ingin kenal sama kamu." Naruto melihat Lee, tidak tertarik.
"Oh. Ayolah. Ia cantik… mungkin ini bisa membuatmu keluar dari masa lalu?"
Lee berharap jawaban ya dari mulut Naruto. Tapi, pria itu sama sekali tidak merespon. Ia diam duduk di Kantornya. Lee geram, padahal ia sudah jauh-jauh kemari. Kemarin ia sudah bilang pada Tenten, ia mungkin susah membujuk Naruto. Tapi si keras kepala Tenten memaksanya. Kalau tidak ingat ia kekasihnya ia tentu tidak pernah mau membujuk pria ini.
"Tidak ada penolakan. Oke!"
"Baiklah." Lee tersenyum "Nah, begitu, dong."
.
.
.
Sasuke membereskan pekerjaannya, hari sudah menunjukkan jam 6 sore, ia berniat pulang secepatnya. Lagian ia harus membeli Sakura hadiah. Sial, semestinya ia dari kemarin memikirkan ini. Tapi ia malah sibuk terus.
Untungnya tadi ia sempat mengirim bunga ke Sakura. Hn, sebaiknya hadiah seperti apa yang harus di berikannya? Ia bingung padahal sudah dua tahun ia hidup bersama wanita itu, tapi selera wanita itu sama sekali ia tidak tahu.
Tok…tok…
Sasuke menengok sekilas pada orang yang masuk keruangannya. Sekertaris pribadinya. Membungkuk memberi hormat padanya.
"Sasuke-Sama ada wanita yang ingin bertemu dengan anda."
"Katakan lain kali saja. aku ada keperluan." Sekertaris itu mengangguk, kemudian ia bergegas keluar. Sasuke berpikir sebentar, tidak baik kalau ia tidak tahu nama seseorang yang ingin bertemu dengannya, mungkin saja wanita itu adalah pelanggan barang dagangan mereka.
"Tunggu! Siapa nama perempuan itu?" sekertarisnya berbalik.
"Hinata." Sasuke terpaku sebentar, tapi kemudian tanpa sedar mulutnya terbuka. Memberi perintah yang akan di sesali olehnya.
"Suruh ia masuk."
"Baik. Sasuke-Sama."
Setelah sekertarisnya keluar. Sasuke kembali duduk di kursinya. Hatinya berdebar. Ia berharap cemas. Tidak! Tidak ia tidak boleh bertemu perempuan itu.
Tapi…
Hatinya berkata lain, pekerjaannya yang rapi, ia bikin berantakan lagi. Ia kembali membaca Dokumen yang sudah selesai ia kerjakan. Apapun yang ia baca tidak bisa menenangkan hatinya yang kalut.
Sungguh ia berharap wanita itu cepat di sini, ia ingin memeluknya. Menumpahkan segala rindu yang benar-benar menghimpitnya.
KREET
Suara pintu terbuka. Jantungnya semakin keras berdebar.
"Sore, Sasuke." Suaranya. Berdesing di telinga Sasuke. Menghantar aliran panas di otak. Ingin sekali menjangkau perempuan itu, dan berakhir dalam pelukannya.
"Apa aku menganggu?" Sasuke diam berusaha terlihat dingin. Dengan berpura-pura sibuk pada Dokumennya.
Hinata kemudian mendekat. Matanya menyusuri seluruh ruangan yang di tempati Sasuke.
"Sekarang kau jadi Boss di sini?"
Sasuke masih diam. Otaknya kacau ia masih memasang wajah super datar. Hinata tersenyum pada respon Sasuke yang biasa saja.
"Apa aku benar-benar menganggu? Apa sebaiknya aku pergi?"
"Duduklah" Hinata tersenyum. Duduk berhadapan. Sedangkan Sasuke masih sibuk membolak-balik Dokumen yang ada di tangannya, tanpa tau apa yang di bacanya.
"Tidak kangen sama aku?" Sasuke terkejut. Ia mengangkat kepalanya dan memandang Hinata tajam. Tapi itu akan jadi kesalahannya. Karena setelah itu ia tidak bisa mengalihkan matanya dari wanita itu.
Matanya yang indah, memandang lurus ke arahnya. Bibir sensualnya terus tersenyum padanya. Rambut tergerai melambai-lambai memanggilnya. Sasuke terpaku.
"Tidak." Sasuke berusaha mengalih kan perhatian. Dengan kembali melihat dokumennya. Tapi tidak bisa, ia kembali memandang perempuan itu. Hatinya terjebak pada senyum lembut bibir itu. Bibir yang sering di sentuhnya. Bibir yang dulu pernah bilang cinta padanya. Bibir yang sudah menyakitinya.
"Bohong. Pasti kangen." Kau tidak tau Hinata betapa ia merindukan mu bertahun-tahun lamanya. Seperti Juliet yang merindukan Remeo. menanti kedatangannya.
.
Hinata masih betah melihat wajah Sasuke yang berubah-ubah. Ia merasa jahat telah datang ke Kantor pria ini. Tapi mau bagaimana, ia merindukan pria ini. Saat bertemu di toko pakaian ia merasa takdir telah mempertemukan mereka. Ia rindu, rindu sekali. Jadi mau bagaimana lagi?
Ia berdiri mendekati Sasuke, memeluknya dari belakang kemudian mengecup pipinya. Sasuke tidak merespon. Hinata tahu sedikitnya pria ini pasti membencinya. Tapi salahkah ia, kalau mengira masih ada secuil perasaan Sasuke padanya?
"Mau jalan-jalan sebentar? Sekalian mampir di rumahku."
Sasuke tahu semestinya ia harus menolak permintaan wanita ini. Otaknya men-sensor kalau wanita ini adalah wanita yang sama yang pernah menyakitinya dahulu. Tapi, hati dan mulutnya tidak merespon kinerja otaknya. Ia tahu pilihan hatinya akan menyakiti banyak orang.
"Baiklah."
Dan ia, sudah memilih pilihan yang salah.
.
.
.
"Hey! Ayo gembira. Naruto." Naruto memandang malas pada suasana dorm yang di penuhi para maniak dance. Ia kembali meneguk minumannya.
Ia melirik Lee yang kelihatan menikmati suasana Klab ini. Suara musik yang besar bikin pusing kepalanya.
"Lee. Aku rasa telah salah menyerahkan Sakura, pada Sasuke. Aku salah telah mengalah."
Lee memandang Naruto bingung, "Apa yang kau bicarakan?"
Naruto kembali meneguk minumannya. "Entahlah. Hinata kembali. Dan kepalaku rasanya mau pecah."
Lee kemudian mengambil minumannya. "Tinggalkan masa lalumu Naruto. Hidupmu akan sia-sia kalau ini hanya demi cinta."
Naruto menghela nafas, yang dikatakan Lee emang benar. Ia selalu berdiri di tempat yang sama, dulu saat Sakura bilang menyukai Sasuke. Naruto masih mempertahankan hatinya. Dan saat Sakura bilang ia akan menikahi Sasuke. Ia juga tetap bertahan.
Ia tidak pernah maju-maju. Selalu terperangkap dan terjebak pada wanita yang sama.
"Hey itu Tenten!" Naruto melihat kearah wanita yang mendekat ke kursi mereka. Di samping Tenten ada perempuan berambut pirang yang tersenyum padanya.
"Hai. Naruto, perkenalkan ini Ino Yamanaka."
Mungkin ia harus mencoba untuk bangkit dan menjalani kehidupan yang baru.
.
.
.
Sakura kembali melihat jam tangannya. Ini sudah jam 20:30. Sasuke berjanji akan datang jam 7 malam tepat. Berarti Sasuke terlambat satu setengah jam. Apa yang terjadi? Tidak biasanya Sasuke terlambat begini?
Ia kembali membenahi gaunnya. Ia kelihatan cantik memakai gaun merah tak berlengan. Di depannya ada beberapa macam hidangan yang susah payah ia buat. Apa ia harus memanaskannya kembali?
Kemudian ia mengecek ponselnya. Entah kenapa ia susah sekali menghubungi suaminya. Ia menunggu dengan gelisah. Padahal tadi hatinya sudah berbunga-bunga saat mendapat paket yang di kirim oleh suaminya.
Mungkin karena terlalu lama menunggu, sakura kelelahan dan akhirnya tertidur di meja makan. Dan sepanjang malam itu, Sasuke tidak menghubunginya.
Saat lonceng menunjukkan pukul 12 malam, sakura terkejut, ia mengedarkan pandangannya, sepi. Rumah mereka kosong tak berpenghuni, hanya dirinya seorang diri.
Sakura panik berusaha menelpon suaminya. Tapi Sasuke tidak bisa di hubungi. Apa terjadi sesuatu pada Sasuke? Ia kecelakaan? Atau ia…
Tidak…tidak…tidak! Sasuke tidak mungkin menghianatinya. Tapi…?
Sakura mengeleng-gelengkan kepala, namun bayang Hinata tidak bisa hilang dari otaknya. Ia tahu Sasuke masih mencintai perempuan itu. Ia hanya menipu dirinya sendiri. Yakin bisa membuat Sasuke berpaling padanya. Tapi, bukankah mereka bahagia? Sasuke dan dirinya sangat bahagia, kan? Tiba-tiba ia jadi ragu dan air mata berjatuhan di pipinya.
Tanpa ia sadari jarinya malah menekan sebuah nomor yang ia hapal di luar kepalanya.
"Naruto"
Dan mungkin itu adalah pilihan yang salah.
…Tbc…
