Half Of My Soul

Rating : T

Pairing : Sasuhina/Narusaku

Genre : Hurt/Comfort/ Romance

Warning : AU, OOC, typo, abal, geje, Hinata ku buat sedikit jahat disini, ia akan terus menganggu hubungan SASUSAKU. Pemeran utama jahatkan. pasti ada alasannya.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

A/N

Fic ini sih rencananya scane NARUSAKU sama SASUHINA hampir seimbang. Tapi tidak tahu juga. Soalnya berdasarkan mood sih, aku juga nggak menguasai genre hurt secara benar, jadi kemungkinan kalian akan kecewa. Untuk Kakashi kemungkinan besar ia minim untuk hadir dalam fic ini, tapi ia tokoh yang sangat penting ketika fic ini mencapai klimaks.

Ini kayaknya bukan perselingkuhan, mungkin hampir kayak gitu #author ngeles. Hinata genit? Benarkah? Sebenarnya hinata di sini lebih ku buat jahat dan berambisi. Tapi kalau terkesan begitu. Mungkin karena terbawa saja kali ya.

Boleh banget untuk menyalurkan uneg-unegnya. Aku suka bila kalian mau koreksi fic ku ini. Aku sadar kok. Banyak banget kekurangannya.

Terimakasih kepada : Lsamudraputra. Wah kita sama ero sannin tokoh kedua yang ku cintai setelah Naruto. Hyou Hyouichiffer. lovelychrysant. Dear God. Nivellia Neil. hikari-chan. WaOnePWG. Renvel. Syura. Kumbangbimbang. hinatauchiha69. Restyviolet. Hmmm Nananana Anae-chan.

.

.

.

Chapter 3 : Yang ada di hatiku

Sasuke cukup takjub melihat bangunan rumah Hinata. Sangat besar. Ternyata benar. Suaminya pria yang sangat kaya raya.

Hinata tersenyum kemudian mempersilahkan Sasuke untuk masuk. Para pelayan di rumah itu mengangguk hormat pada mereka.

"Mau minum apa?"

Prang!

Hinata terkejut, "Ada apa?" Hinata menggeleng kemudian segera beranjak ketempat suara yang sepertinya gelas pecah. Sasuke mengikutinya.

Sasuke dapat melihat putra Hinata—Sai—mengamuk, beberapa piring yang sepertinya untuk makan malam yang di siapkan untuknya pecah dilantai.

"Sai, kenapa sayang?" Hinata mengusap kepala anaknya, tapi sepertinya tidak meredakan amarah pria kecil itu.

"Maaf Nyonya" pelayan yang bertugas menyiapkan makan malam, Nampak ketakutan.

"Papa pembohong! Papa melupakan janjinya lagi!" kemudian Sai menangis dalam pelukan ibunya. Sasuke merasa tidak enak telah hadir di sini, ia memutar tubuhnya kemudian melangkah pergi. Berniat pergi dari rumah tersebut.

"Kau mau kemana Sasu-kun?" ia berbalik lagi dan melihat wanita itu yang sudah keluar.

"Ia sudah tidak apa-apa?" Hinata mengangguk. "Mau kubuatkan jus tomat?"

"Tidak usah, sebaiknya aku pergi." Hinata tersenyum.

"Tidak akan lama. Duduklah."

Sasuke mendesah, ia kembali duduk di ruang tamu. Matanya melihat sekeliling. Ada beberap foto di dinding. Foto keluarga, lalu ia mendadak cemburu pada lelaki yang merangkul Hinata di foto itu. Pria itu terlihat sangat cocok di samping mantan kekasihnya.

Sasuke mendesah lagi. Tidak seharusnya ia berada disini, lagian Hinata sudah menjadi milik orang lain dan dirinya sudah punya istri. Ia bangkit tapi tertahan lagi saat Hinata datang dengan segelas tomat merah segar.

Hinata meletakkan gelas di depan Sasuke kemudian duduk disamping dirinya.

"Minumlah." Suaranya indah tak bisa di bantah Sasuke, kemudian pria itu meminum jus tersebut. Rasanya…

Kenapa wanita ini tahu segala yang disukai dan tidak di inginkannya.

"Kau masih suka jus tomat tanpa gula, Sasu?"

"…"

"Hm, masih irit seperti biasa. Ya?"

Hinata memandang Sasuke dalam diam, kemudian tangannya bergerak menyeka keringat pria itu. Sasuke hanya melirik, lalu ia kembali terpesona dengan wajah Hinata yag terlalu dekat, tanpa sedar ia memajukan wajahnya, sedikit lagi bibirnya akan menyentuh bibir perempuan itu.

Tapi alam bawah sadar memperingatinya, ini dirumah orang dan ia hampir saja mencium istri orang. "Aku harus pergi."

"Kenapa terburu-buru, Sasu-kun?"

"Aku tidak ingin berbuat masalah. Bagaimana kalau suami mu pulang? Tentu ia tidak suka pria lain disini."

"Ia tidak akan pulang. Ia keluar negeri untuk bisnis."

Sasuke memandang Hinata lagi, wanita ini kesepian pikirnya dan sekarang ia sedang mencari pelampiasan. Biarpun tahu begitu, Sasuke entah kenapa tidak bisa meninggalkan perempuan ini.

"Mau menginap? Aku ada kamar kosong."

Seharusnya ia tidak mengiyakan perempuan ini, kan? Seharusnya ia pulang dan menemani istrinya. Tapi lagi-lagi mulut dan hatinya tidak mau kompromi dengan kepalanya.

.

.

.

"—Kau lupa? Aku sangat kecewa." Suara hingar-bingar bar. Dan suara perempua itu terdengar berisik ditelinga Naruto.

"Sorry Ino. I really do not remember."

"Tidak apa. Tapi benarkah kau lupa?" Naruto tertawa, ia akui wanita disebelahnya cantik, dan cukup pula cerewet-nya. Namanya Ino Yamanaka. Kata perempuan itu mereka pernah bertemu di London city, tapi sungguh ia tidak ingat tentang itu.

"Waktu itu kau menolong ku. Aku hampir saja di keluarkan dari kelas Ekonomi. Ingat?"

Naruto Nampak berpikir, kemudian ia mengangkat kepalanya dan tersenyum, ia ingat sesuatu.

"Kau mahasiswa yang sering molor itu?" Ino tertawa dan memukul lengan Naruto.

"Jangan bilang seperti itu, kau juga bukan mahasiswa yang rajin." Naruto kembali tergelak. Ia mulai merasa nyaman dengan wanita ini.

"Waktu itu aku ingin berterimakasih padamu, tapi setelah itu kau menghilang."

"Aku kembali ke Jepang."

"Ya, aku tahu dari Professor Jiraiya, setelah lulus aku berniat mencari mu."

"Eh?" Naruto tentu saja terkejut, ia menunjuk dirinya tidak percaya.

"Kenapa? Kau tidak percaya?" Naruto menggeleng kemudian meneguk lagi minumannya.

"Aku ingin kenal kamu lebih dekat, boleh?" Naruto memandang perempuan ini lebih seksama, ia cantik, rambut pirang serta matanya menunjukkan kalau ia blasteran seperti dirinya, namun, entahlah wajah Sakura tiba-tiba muncul dipikirannya. Ia menggelengkan kepala lagi.

"Kau kenapa?" Ino khawatir, Naruto mengibas-ngibas tangannya, "Aku tidak apa?"

"Do you have a girlfriend?" mendadak ino merasa cemas.

"No" Ino tersenyum.

"So… ok?" Naruto kembali memandang perempuan ini. Mungkin ia masih mencintai Sakura, tapi berharap yang tidak pasti akan sangat merugikannya, ada pilihan lain di hadapannya, apakah ia akan membiarkan berlalu begitu saja.

Naruto gelisah, satu sisi ia tidak mau membohongi diri dan menyakiti perempuan ini. Namun disisi yang lain ia ingin merubah hidup. Mungkin memang ia harus melupakan perempuan berambut pink yang mendominasi hatinya.

Kemudian ia menggangguk pasti. Ino sumringah tanpa sedar memeluk pria di sebelahnya dengan antusias. Naruto terkejut, perempuan itu lebih terkejut lagi. Buru-buru ia lepaskan pelukannya.

"sorry"

.

.

.

"Ku bawa beberapa selimut." Sasuke hanya melihat datar perempuan ini yang sibuk, ia—Hinata, mantan kekasihnya—masih sama seperti dahulu. Cantik dan berhati baik, terlepas dari rasa sakit yang diberikan wanita itu padanya.

"Tidak usah repot, aku bisa melakukannya sendiri." Perempuan itu tersenyum, manis. Lagi-lagi Sasuke harus menahan dirinya untuk tidak menerjang perempuan itu dan menciumnya.

"Tidak repot. Kau masih ingat? Dulu aku juga sering melakukan ini."

"…"

"Kau mudah merasa dingin, tiap tidur kau sering memelukku."

"…"

"Kau ingat…"

"Itu masa lalu." Sasuke memotongnya, ia tidak suka Hinata mengungkit kenangan mereka, tiap mengingatnya, hanya rasa sakit yang dirasakan Sasuke.

Hinata faham. Ia hanya tersenyum, ia rapikan lagi tempat tidur.

"Tidurlah aku akan pergi."

Sasuke menghela nafas, ia duduk di pembaringan, matanya memandang sekeliling dinding kamar. Elegan itu kondisinya. Hinata menikahi pria kaya, tapi resikonya ia kesepian, kalau Hinata lebih memilih dirinya. Ia yakin Hinata akan dibuatnya bahagia.

Sasuke mengusap mukanya. Ia tidak boleh punya pikiran seperti ini. Apapun yang yang ada dalam pikirannya semuanya sudah berlalu. Mereka sudah memiliki jalan masing-masing.

Sasuke perlahan membaringkan tubuhnya, mata ia coba pejam. Wajah manis Hinata perlahan muncul dalam memorinya, namun perlahan-lahan wajah itu berubah muram, lalu berubah menjadi sosok Sakura yang menangis.

Sasuke tercekat, ia belum memberi tahu apa-apa pada istrinya. lagian hari ini adalah perayaan pernikahan mereka yang kedua. Ah, ia merasa jahat sekali.

Sasuke cepat-cepat mengambil ponsel yang ia matikan tadi, kemudian ia segera menghidupkan ponsel tersebut. Niat awalnya ingin menelpon Sakura. Agar istrinya tidak khawatir.

Tuk…tuk…tuk…

Namun kegiatannya terhenti ketika ia mendengar suara ketukan. Hinata membuka pintu itu dan tersenyum pada Sasuke.

Sasuke tidak bertanya ataupun heran, ia hanya diam.

"Rambutmu tadi kulihat sedikit panjang. Jadi aku berniat ingin memotongnya." Hinata lagi-lagi tersenyum sambil memperlihatkan gunting di tangannya.

Sasuke paham, ia sangat mengerti Hinata melebihi dirinya sendiri. Hinata tidak suka sendirian, ia tidak pernah bisa tidur kalau tanpa di temani. Ia hanya berpikir bagaimana Hinata bisa melewati hidup seperti ini.

"Mau minum kopi sebentar?" Hinata kembali tersenyum dengan usul Sasuke.

"Tapi aku sungguh berniat merapikan rambutmu. Lho." Sasuke tertawa dan Hinata mau, tidak mau terpesona dengan pria itu. Sasuke memang pria yang sangat tampan.

Mereka keluar dari kamar. Dan Sasuke kembali melupakan ponsel dan istrinya.

.

"Apakah suamimu sering berpergian seperti ini?"

"Hampir tiap minggu. Kakashi-san sangat sibuk." Sasuke mengangguk mengerti, lalu tiba-tiba ia ingat Sai—anak Hinata—

"Hinata. Apa Sai…"

"Hm?"

"Sudah lupakan saja." Sasuke merasa konyol kalau bertanya seperti itu. 'Apa Sai anakku?' apa jawaban Hinata? Dan bagaimana kalau Hinata menjawab ya, memang apa yang bisa ia lakukan?

Sasuke menghela nafas lagi. Kemudian menyesap kopi yang di bikin Hinata. Kopi hitam pahit, selera mereka berdua.

Hinata mendekat. "Rambutmu benar-benar panjang. Aku rapikan, ya?" Sasuke kembali memandangi sosok ini.

Dulu Hinata wanita yang tegar, ia sering bermasalah dengan ayahnya namun, ia bisa melewati semua itu. Hinata juga bukan cewek manja, ia wanita mandiri yang berhasil menundukkan hatinya.

Ketika mereka akhirnya bersama wanita ini lebih sering bersamanya, alasan karena ia tidak mau sendiri dirumah, Hinata anak broken home, namun ia tidaklah melakukan hal-hal yang negative. Ibunya berpisah dengan ayahnya ketika ia remaja, setelah itu ayahnya sering berpergian untuk bisnis.

Krak.

Rambut Sasuke terpotong di belakang, sentuhan tangan Hinata dibelakangnya begitu lembut, tangannya dingin. Suara gunting masih terdengar, Hinata merapikan rambut bagian belakangnya.

Dulu ia juga sering merapikan rambutnya, biasanya setelah itu, mereka akan berakhir di ranjang. Tidak melakukan apa-apa hanya menemani perempuan ini tidur, Hinata tidak bisa tidur kalau sendiri. Mungking pengaruh keluarganya yang seperti itu.

Tidak juga selalu tidak terjadi apa-apa, mereka kadang juga melakukan lebih. Ia—Sasuke dan Hinata—sudah dewasa.

Karena itu mungkin saja Sai. Sasuke menggeleng kepalanya lagi.

Krak…

"Sasu-kun, apa yang kau lakukan?" Hinata berdecak, rambut yang sudah susah payah di rapikan, terpotong dengan tidak elitnya. Sasuke hanya memandang perempuan yang ada di hadapannya. Kadang wanita ini bisa juga seperti ini.

Rambut panjang perempuan itu membelai sisi wajahnya, bulu mata yang lentik, bergerak-gerak cantik, Hinata sungguh wanita jelita di matanya.

Perlahan jarinya mengambil rambut Hinata dan menarik pelan, wanita itu tidak menolak, wajahnya ia turunkan perlahan, hingga nafas Sasuke menerpa wajahnya. Sasuke hanya tidak paham, apa Hinata masih menyukainya? Kenapa ia tidak berubah sama sekali?

"Sebaiknya kita tidur." Ia perlahan mendorong Hinata, perempuan itu tersenyum, sedikit kecewa.

"Ya," jawabnya tak bersemangat. Sasuke dapat melihat wajah murung perempuan itu,

"Mau kutemani tidur?"

"Eh?"

"Bukan itu maksudku. Kita bisa tidur di sofa ini, aku tau kau sulit tidur bila sendiri." Hinata tersenyum, pria ini masih mengingat kebiasaanya. ia mengangguk.

"Akan ku ambilkan selimut."

.

.

.

"Nn…ngh…" aliran saliva mengalir dari mulut keduannya, sepasang manusia yang berambut sama, masih asik menikmati bibir satu sama lain, perempuan bernama Ino masih berusaha mengimbangi si pendominasi yang terus menyerang bibirnya.

Ketika tautan bibir mereka terlepas Ino merasa pipinya memerah, dan Naruto si pelaku penyerang hanya nyengir.

"Ha..ha…kau hebat." Ino merasa malu mendengar pujian dari pria ini. Padahal di tempat ia lahir, hal seperti ini sudah biasa, ini juga bukan ciuman pertamanya, tapi entah kenapa terasa berbeda. Mungkin karena ia menyukai pria ini.

"Mau meneruskannya lagi."Ino mengangguk, Naruto kembali mendekatkan mukanya, namun selintas wajah Sakura hadir dalam kepalanya, Sakura yang cantik tersenyum padanya.

"Maaf ino aku ke kamar kecil dulu." Naruto memegang kepalanya, pusing. Ino hanya memandang penuh Tanya.

Naruto segera membasuh wajahnya di wastafel. Ia berkali-kali menghela nafas. Berusaha menghilangkan wajah Sakura. Namun ia tidak bisa. Seharusnya ia tidak membohongi perempuan itu dan perasaannya sendiri.

Ia tahu, apapun yang terjadi, ia tetap tak bisa melupakan Sakura. Biarpun Sakura sudah jadi milik orang lain. Lalu Naruto merasa bodoh.

"Ada apa Naruto?" Ino mengusap lengan pria yang baru saja jadi pacarnya. Naruto menggeleng.

"Tidak apa." Katanya sambil tersenyum. Ah, kenapa ia selalu seperti ini? Ia tidak pernah bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun. Setiap kali ia punya pacar baru, Naruto merasa kosong, hatinya selalu menolak.

Ia akan tetap mencari Sakura, selalu mengejar bayangnya, padahal ia tahu Sakura tidak menaruh hati padanya, namun jiwa dan pikirannya tetap bertahan pada orang yang sama. Ia sudah terlampau lama terombang-ambing seperti ini, berdiri pun ia tidak mampu.

Rasanya sakit saat ia tidak bisa mengontrol hatinya, seandainya ia bisa, ia ingin merubah isi hatinya. Ia sudah cukup lama terluka.

Naruto yang masih gundah tidak sadar saat Ino mengusap pipinya. "You okay?" nampaknya perempuan ini benar-benar khawatir.

Naruto menghela nafas lagi, tidak baik ia memikir kan wanita lain, lebih baik ia focus pada wanita ini.

Ino mengusap bibirnya, Naruto tersenyum, kemudian mengecup jari itu, Ino kembali merona, bibir mereka akan bertemu lagi kalau tidak karena ponsel Naruto yang berbunyi.

Naruto kembali gelisah saat melihat nomor orang yang menghubunginya, haruskah ia menjawabnya? Atau ia abaikan saja?

"Siapa?"

"Tunggu sebentar."

"Hallo Sakura."

"…"

"Kenapa? Ada apa? Kok nggak apa-apa…"

Ino cemas ketika melihat raut wajah pria di depannya, ia tidak tahu siapa yang di hubungi oleh pria itu.

"Baik! Aku pergi sekarang. Tunggu sebentar."

Naruto menutup ponselnya dan menaruh di saku. Kemudian memandang Ino dengan wajah bersalah.

"Ino-chan maaf. Aku pergi."

"Ada apa? Apa ada hal serius?"

"Iya! Maaf, aku pergi dulu!"

Naruto berdiri dan hendak pergi namun Lee menahannya.

"Siapa? Sakura." Naruto tidak menjawab

"Kamu tidak boleh pergi!"

"Dia sendirian."

"Jadi apa hubungannya dengan kamu?"

"Lee! Dia sendirian. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi padanya!"

"MAKANYA AKU TANYA! APA URUSANNYA DENGAN KAMU?!"

Naruto melepaskan genggaman Lee di lengannya. "Aku tidak bisa membiarkannya."

"Mau sampai kapan seperti ini Naruto? Apa karena kau masih menaruh hati padanya, makanya ia bisa memanfaatkan perasaan kamu?"

"Hentikan lee! Kau tidak kenal Sakura. Jangan menghinanya."

Lee tertawa. Menyindir. "Lalu apa namanya? Ia sudah bersuami. Tapi ia juga tidak pernah melepaskan kamu. Bukan kah itu namanya di manfaatkan."

Naruto geram. Lee tidak tahu apa-apa. Ia menepis kasar lengan pria itu. Kemudian segera berlalu. Apa hak Lee bicara sekasar itu tentang Sakura. Ini semua bukan kesalahan wanita itu. Ialah yang bersalah atas perasaannya.

Ia yang selalu berusaha pada sesuatu yang sudah ia tahu hasilnya. Ia yang selalu memaksa Sakura bergantung padanya. Ia yang…

Ia sendiri yang terlalu berlebihan pada perasaanya. Naruto bergegas masuk ke mobilnya dan segera menuju ke kediaman Sakura.

.

Sasuke belum juga bisa memejamkan matanya, di dalam pelukannya ada wanita yang di bencinya sekaligus di sayangi, wanita itu tertidur dengan damai. Wajahnya yang ayu sangat tenang dalam dekapannya.

Ia mengelus pipi perempuan itu sudah lama sekali ia tidak melakukannya. Hinata menggeliat, kemudian memeluk tubuh Sasuke, ia merasa nyaman, sudah lama sekali ia tidak tidur se-nyenyak ini.

Sasuke tersenyum sedikit, bahagia melihat wajah tenang Hinata. Kemudia ia sadar, ia ingat istrinya di rumah. Perasaan bersalah menghantuinya. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Hinata.

Hanya sekali ini saja ia kalah. Dan membiarkan Hinata dapat tidur dengan nyenyak. Ia berjanji hanya malam ini saja.

.

.

.

Naruto segera keluar dari mobilnya, kemudian bergegas masuk kedalam kediaman Haruno. Ia memencet bel namun lama ia menunggu tidak ada seorang pun yang membuka pintu. Akhirnya ia berinisiatif sendiri untuk masuk. Beruntung sekaligus ceroboh karena Sakura tidak menguncinya, bagaimana kalau yang datang adalah penjahat? Naruto tidak dapat membayangkannya.

"Sakura!" namun tidak ada jawaban sampai ia masuk kedalam ruang makan, ia terkejut melihat Sakura terduduk di lantai dan menagis.

Hatinya ikut sedih melihat perempuan yang di sayangnya terpuruk seperti itu. Sakura terduduk, meringkuk memeluk lututnya seperti anak kecil yang malang tersesat dan kehilangan ibunya, apa yang terjadi padanya? Apa Sasuke kembali menyakitinya? Naruto tidak bisa berpikir sekarang kecuali mendekat.

Ia memeluk tubuh perempuan itu, seketika tangis Sakura pecah, Naruto membiarkannya meluapkan perasaan yang entah kenapa dapat dirasakan Naruto, rasa sakit.

"Sasuke tidak pulang…hik… Ponselnya juga tidak aktif, a-aku…aku menelpon kantornya…hik…hik…katanya…katanya ia keluar dengan wanita…hik…pasti—pasti …hik…hik…"

Naruto tidak berbicara banyak, ia membiarkan Sakura melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul-mukul dadanya, rasa sakit karena pukulan tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya mendengar tangisan wanita ini.

Ia memeluk Sakura lebih erat lagi. "Maaf…maafkan aku karena membiarkan hidupmu seperti ini Sakura." Wanita itu terus menangis sampai lelah, sehingga ia jatuh tertidur. Naruto menghela nafas, kemudian membopong wanita itu ke kamarnya.

Ia membaringkan tubuh dan menyelimutinya. Sakura berbalik, setetes air mata perlahan turun dari kedua matanya.

"Apa kau sangat menderita?" Naruto menghapus air mata perempuan itu, lalu mengecup dahinya dan keluar dari kamar tersebut.

Naruto menduduki tubuhnya di sofa ruang tamu, sekilas ia melihat meja yang berisi berbagai macam makanan, ia tersenyum miris. Seandainya Sakura memilih dirinya. Ia tidak akan pernah membuat perempuan itu menunggu. Ia memukul pelan kepalanya, kemudian tertawa sendiri dengan pikirannya.

Pusing. Mungkin karena pengaruh minuman yang ia minum tadi, ia membaringkan tubuhnya berusaha memejamkan mata. Kenangan diantara mereka bertiga muncul begitu saja dalam memorinya. Kenapa di saat seperti ini Hinata muncul kembali? Mengusik hidup mereka lagi. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus melakukan seperti dulu, mengulang kesalahannya lagi?

Lalu ia merasa jahat. Cinta memang bisa membutakan orang.

…Tbc…