Half Of My Soul
Rating : T
Pairing : Sasuhina/Narusaku
Genre : Hurt/Comfort/ Romance
Warning : AU, OOC, typo, abal, geje, Hinata ku buat sedikit jahat disini, ia akan terus menganggu hubungan SASUSAKU. Pemeran utama jahatkan. pasti ada alasannya.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
A/N
Terimakasih banyak udah baca dan merespon cerita ini, dan semangatnya yang kalian berikan. Dan mudah-mudahan walaupun tak banyak ini udah sesuai dengan yang kalian pikirkan. Walaupun apdetnya eman molor. Susah cari ispirasi, sih.
Interaksi antara Sai dan Sasu akan ku buat pelan-pelan, dalam fic ni memang ku pokuskan pada perasaan dua tokoh cowok. Jadi Nampak kalau narusasu paling menderita, #modus balas dendam pada cowok2.
Untuk flashbacknya ada, tapi nanti. Waktu fic mencapai ending. Aku pekirakan fic akan segera berakhir, jd tidak akan lama lagi. Maaf sekali lagi, mungkin kalian tidak akan senang dengan sifat Hinata yang seperti ini, ini hanya tuntutan cerita saja, karena ini happy ending tenang saja semua akan berakhir bahagia. #oop bocor. Em…dan untuk tambahan tokoh, akan kupikir-pikir.
Terimakasih banyak pada : Hyou Hyouichiffer, ailla-ansory, salam kenal juga, aindri961, Ilysm Hime bye Waone, ai, ore, lovelychrysant, hinatauchiha69, Dorara Doremi, Bee Hachi.
.
.
.
Chapter 4. …
"Sasu-kun….Sasu…" Sasuke meregangkan tubuh nya, matanya sulit untuk di buka, mungkin karena semalam ia tidak tidur nyenyak, ketika matanya sepenuh terbuka, yang tertangkap di retina matanya hanyalah wajah tersenyum Hinata.
"Sebaiknya kamu mandi, aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan baju untukmu."
Sasuke merasa kram pada lengan, kemudian ia duduk sambil menompang tubuhnya.
"Tidak usah. Aku pulang saja."
"Setelah mandi dan sarapan." Setelah itu wanita itu langsung menarik Sasuke, bangun dan mendorong pria itu. Sasuke akhirnya mengalah dan menuruti wanita itu.
.
"Pas sekali, tubuh Sasu-kun dan Kakashi-san memang hampir sama." Hinata menepuk tangannya ketika pria bersurai hitam itu, sudah berganti baju dan berada di ruang makan.
Pria itu masih memasang wajah yang sama, kemudian Hinata mempersilahkan Sasuke duduk, Sai yang sudah ada di meja makan memandang tidak suka kearah pria itu.
"Sasu-kun setelah ini mau mengantar Sai sekolah, tidak?" Sasuke mengangguk pada Hinata yang sibuk menaruh roti yang di lapisi selai tomat di piringnya. "Selai ini aku yang buat, lho."
Sai mendengus, namun Sasuke dapat melihat kalau pria kecil ini tidak suka dengan kehadirannya.
"Mungkin setelah mengantar Sai, aku dan Sasuke bisa pergi berdua…"
"Aku harus ke kantor." Pria itu langsung menyela, ia tidak ingin terlalu lama bersama perempuan ini, atau segala pertahanannya akan runtuh. Ia tidak ingin terus mengingat masa lalu. Toh, mereka berdua sudah punya kehidupan masing-masing.
"Oh sayang sekali, mungkin lain kali." Sasuke memandang tidak mengerti pada senyuman wanita itu, apa arti dari senyumnya itu? Apa ia menyadari kalau mereka sudah tidak sama lagi? Atau sebenarnya Hinata masih mencintainya? Beranikah ia berpikir begitu?
"Bunda aku tidak mau di antar oleh orang ini." Sai menunjuk Sasuke, pria itu menyilangkan dadanya sungguh tidak sopan anak ini?
"Panggil om Sasuke. Ya." Hinata tersenyum dan merapikan baju anak Sai, kemudian langsung menuntun anaknya memasuki mobil Sasuke.
Kemudian ia beranjak kearah Sasuke, merapikan dasi pria itu. Sasuke diam saja, tapi dalam hati, ia bergemuruh hebat, jantungnya berdetak dengan cepat saat Hinata terlalu dekat dengannya, wangi wanita itu membelai pernafasannya, tangannya yang lentik cetakan membereskan dasi yang ia pakai.
Sasuke mencengkeram tangan wanita itu yang masih aktif di dasinya, lalu melepaskannya dengan lembut. Sungguh ia sangat tidak ingin berdebar lagi karena wanita ini, ia takut akan jatuh cinta lagi padanya.
Hinata diam namun Sasuke bisa menangkap raut kecewa di wajahnya, kenapa ia harus menampilkan wajah seperti itu? Jangan biarkan dirinya merasa bersalah.
Sasuke entah karena apa, membelai pipi perempuan itu, Hinata tersenyum pipinya ia gesek pada jari-jari Sasuke, kemudian mencium pipi kanan pria itu.
"Hati-hati." Sasuke tentu terkejut walaupun wajahnya tidak menampakkan hal seperti itu. Rasa dingin di pipinya karena ciuman Hinata menjalar keseluruh tubuhnya, menimbulkan getaran yang aneh yang membuat sakit jantungnya karena terpompa dengan cepat.
Kemudian tanpa sedar ia tersenyum ketika Hinata melambai kearahnya, ketika ia sudah berada di dalam mobil pribadinya.
Seperti inikah bila ia menikahi wanita itu, setiap pagi ia akan mengantar anak mereka, kemudian Hinata akan bilang hati-hati dan di akhiri dengan sebuah ciuman. Sungguh kehidupan yang menyenangkan.
"Kau suka ibuku?" Sasuke terbangun dari lamunannya, memandang sekilas pada bocah yang duduk di sampingnya, wajah bocah yang serupa dengannya mengerucut.
"Jangan berharap. Ibuku milik ayahku, tahu." Bocah ini jelas sekali tidak suka padanya.
…
Naruto memandang nanar pada Sakura yang sedang menyiapkan sarapan, wajah wanita itu tidak dapat ia baca, dan suaminya—Sasuke—sama sekali tidak pulang. Di mana si brengsek itu?
"Biar aku yang membuat sarapan.'
"Duduk saja Naruto."
Pria itu kemudian nurut. Ia menompang mukanya dengan kedua tangan. pandangan pokus pada Sakura yang sibuk. Matanya bengkak habis menangis semalaman, ia ingin memeluk perempuan itu, ingin menenangkannya tapi tubuhnya entah kenapa tak bergerak. Andaikan ia yang jadi suami wanita itu ia yakin, tidak akan membuat perempuan itu menderita.
Tak lama setelah itu, segelas susu dan sepiring roti yang sudah di lapisi selai sudah ada di depannya.
"Kau tak membuatku ramen?" Naruto memamerkan deretan giginya, sekilas Sakura tersenyum.
"Jangan terus-terusan makan ramen Naruto, nanti lemak mu bertambah."
"Jangan khawatir, lemak ku akan segera berubah menjadi energi. Aku ini lelaki yang penuh semangat." Sakura mencibir melihat pria itu membanggakan diri sendiri.
"Kalau mau. bikin sendiri."
"Kejam sekali. Ayo dong Saku-chan, aku lapaar." Ia merengek dan melakukan tindakan konyol dengan mengerak-gerakkan matanya, wanita berambut seumpama warna permen karet itu tersenyum lebih lebar dan memukul kepala pria itu.
"Terima kasih."
Naruto berhenti bertingkah konyol, lalu memandang Sakura lekat-lekat. "Apa kau ingin berhenti Sakura."
Sakura tertegun, balas memandang pria itu kemudian menggeleng. Ia tahu maksud arah pembicaraan pria itu.
"Tidak…aku baik-baik saja."
"Tidak terlihat begitu. Kalau memang ingin berhenti…sekarang."
"Aku mencintai Sasuke."
"Aku juga mencintaimu. Sakura kau bisa datang padaku, kalau kau sudah tidak tahan dengannya."
"NARUTO. AKU MENCINTAINYA. Kau faham!"
Wanita terlihat gusar, ia mengambil roti yang ada di hadapan Naruto dan membuangnya ke tempat sampah.
"Kau berpura-pura tegar. Nyatanya kau yang paling terluka."
"Cukup Naruto. Keluar dari sini!"
Naruto berdiri lalu mencengkeram kedua bahu wanita. "Sakura."
"Pergi dari sini! Pergi!"
"Tak bisakah kau melihatku Sakura. Sekali saja, beri aku kesempatan." Perempuan itu memandang nyalang pada Naruto, sadarkah apa ia bicarakan? Ia yang salah karena membiarkan Naruto memasuki kehidupannya seperti ini.
"Pergi. Aku bilang pergi." Ia mendorong pria itu keluar dari rumahnya. Hatinya entah kenapa sakit, ia memegang dadanya yang perih, jujur ia menyanyangi Naruto sebagai sahabat tapi tidak lebih dari itu. Semua hati dan perasaannya tertuju pada Sasuke seorang.
Naruto memandang bagunan rumah Sakura, wajahnya sendu, ia mengusap wajahnya, perasaan hampa menghantuinya, setiap kali ia ditolak oleh perempuan itu, ia akan merasa sakit, putus asa lalu menderita, tapi setelah itu ia akan kembali mencintai rela di lukai, dan mau di manfaat asal itu Sakura-nya ia akan melakukan segalanya.
Setelah terdiam cukup lama, Naruto melangkah pergi, sekali kali ia menolehkan wajahnya untuk melihat bagunan kokoh itu, kemudian ia beranjak meninggalka tempat itu. Dengan kepala tertunduk dan wajah di balut kesedihan, pria itu menuju mobilnya.
Tak lama setelah kepergian Naruto, mobil Sasuke memasuki pekarangan, Sakura mendengar suara mobilnya, buru-buru membuat sarapan, tidak ingin suaminya kelaparan.
"Sasuke-kun kau sudah pulang?" ia ingin mengambil koper suaminya namun tertahan ketika melihat baju, yang sepertinya tidak pernah lihat sebelumnya. Sakura ingin bertanya namun ia takut, ia terlalu takut menghadapi kenyataan.
"Semalam di mana?" Sasuke mengeratkan dasinya, terus menuju ke kamar, ia mempersiapkan beberapa berkas kemudian keluar lagi.
"Ada urusan di kantor." Sakura tersenyum, ia tahu suaminya berbohong, namun ia juga takut untuk bertanya lebih lanjut.
"Ayo sarapan dulu, aku sudah…"
"Aku sudah makan tadi di kantor." Sasuke merasa bersalah ketika melihat wajah istrinya, matanya Nampak merah, apa Sakura tidak tidur semalam? Ia mendekat kemudian mengelus pipinya.
"Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?" Sakura tersenyum senang dan mengangguk kepalanya. Ah… Sasuke tidaklah berubah.
…
Naruto menggaruk rambutnya, ia juga tidak pokus lagi pada pekerjaannya, padahal banyak sekali dokumen yang belum ia selesaikan, perlahan pandangannya beralih pada sebuah bingkai yang ada di atas meja.
Foto ketika ia remaja, ada Sasuke, Sakura dan dirinya. Ia tersenyum miris ketika melihat ekpresi Sakura yang senang berada di samping Sasuke.
Ia seperti lelaki yang tidak tahu diri, selalu mengemis cinta pada Sakura. Dan wanita itu tidak pernah mengasihaninya namun ia tetap di sana. Menunggu dan menunggu dengan bodohnya.
Biarpun ia tahu ia melakukan kebodohan. Namun ia tidak bisa mengubah perasaannya. Sakura terlalu besar pengaruh di hatinya.
TOK…TOK…
Naruto mengangkat kepalanya, dan mempersilahkan sekertaris yang mengetuk kantornya untuk masuk.
"Ada apa?"
Sekertarisnya mengangguk sebentar, menunjukkan tanda hormat.
"Orang yang akan mangan di kantor kita, sudah datang hari ini."
"Oh, suruh ia masuk."
"Baik tuan."
Setelah itu orang kepercayaannya itu keluar, lalu ketukan terdengar lagi. Naruto kembali fokus pada pekerjaannya, ia tidak terlalu memperhatikan orang yang hadir di ruangannya.
Namun itu tidak lama, karena ia mendengar panggilan kurang ajar dari orang baru tersebut. Ia hendak membentaknya, tapi akhirnya ia bungkam ketika melihat di depannya. Wanita cantik berbalut kemeja kerja ungu dengan rambut pirang yang di kucir tinggi.
Ia tersenyum kearahnya dan berdiri sedikit centil.
"Ino?"
"Hi, how are you?"
Ia tersenyum. "Are you sure ? kerja di sini?"
Ino tertawa, kemudian mendekat dan dengan berani duduk di atas pangkuannya. Naruto terkejut namun ia bersikap biasa lagi.
"Why? Kau risih bekerja dengan pacarmu sendiri."
Naruto tertegun, ia lupa kalau ia sudah menerima wanita ini untuk menjadi pacarnya.
"Ya, kalau kamu terlalu nekat begini." Perempuan yang rambutnya sama dengannya tertawa, lalu mencium bibirnya tiba-tiba. Naruto terkekeh sebentar ia harus terbiasa dengan sikap wanita ini. Mungkin karena pengaruh negeri eropa yang terlalu blablakan.
Biarpun ia juga berasal dari sana, kadang ia tidak terlalu memahami budaya orang disana, ia lebih enak dengan budaya orang asia.
"Baiklah aku akan menahan diriku tapi, tidak janji." Ino mengerak-gerak jarinya.
"Kurasa kau bisa bekerja sekarang Ino. Sayang." Wanita lalu memerah, lalu memandang malu-malu padanya, mengangguk tanpa melihat lalu keluar. Naruto tertawa, mungkin ia lebih suka Ino yang seperti itu.
Kalau Sakura, juga wanita tipe nekat tapi tidak terlalu berani. Wanita itu sangat tegas. Kalau ia melakukan kesalahan ia pasti akan di hajar. Naruto tersenyum, ia memang sangat memahami perempuan itu.
Ia kemudian menghela nafas, tidak benar ia memikirkan Sakura saat begini. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri ia akan memilih Ino. Ia akan berusaha mencintai perempuan itu, walaupun sulit sekalipun.
…
Sasuke membereskan beberapa file, niatnya secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya. Lagian ia sudah berjanji sama Sakura untuk dapat makan siang bersama.
Ketika ia hampir keluar dari kantornya ponselnya berbunyi, nomor baru, ia tidak begitu ingat dengan nomor itu. Namun ia mengangkatnya juga.
"Hallo"
'Sasu-kun, ku bawa makan siang. Aku naik ya?'
Sasuke tidak menyangka kalau Hinata datang ke kantornya. "Biar aku yang turun."
'Baiklah.'
Sasuke terlihat tidak suka tapi senang dalam waktu bersamaan. "Kenapa datang?"
Wanita itu menyibak rambutnya kemudian tersenyum, "ku bawakan makan siang." Sasuke menghela nafas. Tidak bisa menolak.
"Ayo kutemanin makan." Hinata melangkah kakinya cepat namun terhalang dengan tarikan di lengannya.
"Diluar saja." Perempuan itu tersenyum lagi. Kemudian mengangguk, Sasuke lalu menuju ke mobilnya. Sebelum memasuki mobil, ia mengirim pesan untuk istrinya.
Maaf Sakura ada yang harus kukerjakan, makan saja duluan.
Dan pesan terkirim, ia lama memandang ponselnya entahlah ia merasa bersalah. "Ayo pergi." Namun perasaan itu menghilang ketika wajah ayu hinata menyapanya.
Sakura menggenggam ponselnya, ia ingin menagis namun ia menahannya, lama ia mematung di depan jendela kaca kantornya. Ia tahu Sasuke berbohong. Ia bisa melihat suaminya bersama wanita lain dari atas kantornya.
Wanita itu berambut panjang, nuraninya mengatakan kalau itu Hinata. Ia selalu berpikir Sasuke sudah melupakan wanita itu, tapi pikirannya salah. Ia pikir Sasuke sudah bisa menerimanya, tapi…
Ia takut memikirkannya. Takut menghadapi kenyataan dan yang paling ia takuti jika Sasuke meninggalkannya ia tidak siap. Sungguh ia tiak akan pernah siap.
.
Hinata tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya, ketika Sasuke membawanya ketempat kenangan mereka. Tangannya tidak pernah lepas dari lengan pria itu, sudah lama sekali ia tidak se intim ini dengan Sasuke.
Hinata melihat sekilas pria disampingnya, ia tahu di balik wajah dinginnya, pria itu perhatian, masih sayang padanya. Hatinya bahagia. Ia masih punya harapan.
Sasuke masih diam, ia duduk tanpa bicara di samping Hinata, ia sendiri bingung kenapa ia malah mengajak mantannya ini ke tempat flatnya dulu.
Mereka duduk di tempat ia dan wanita ini sering bersama. Di bawah pohon yang penuh kenangan, kalau bisa ia tertawa, ia akan tertawa keras pada hatinya.
Ia melirik wanita di sampingnya yang sibuk menyiapkan makanan, wajahnya ceria, sekali-kali ia memindahkan matanya dan mereka akan bertemu pandang. Perempuan itu pasti menyunggingkan senyumnya lagi.
Dan ia akan ikut tersenyum walaupun sedikit. "Mau kusuapin?" lamunannya buyar, namun kemudian ia sedar kalau Hinata sudah selesai menyiapkan makanannya, ia kemudian mengambilnya dan memakannya secara pelan.
"Sasuke-kun aku tadi beli 3 tiket menonton opera, nanti Sasuke jemput kami. Ya?"
"Hm, kurasa tidak bisa."
"Tapi, katanya Sai ingin sekali melihatnya. Apa kau tidak bisa menolong?" Sasuke tidak bisa berkata-kata bahkan ia tidak bisa menelan makanannya dengan baik, saat melihat wajah merajuk perempuan itu.
Kepalanya tanpa sedar mengangguk, membuat perempuan berambut panjang itu tersenyum. "Arigato."
…
Sakura duduk di meja makan, sambil mengunyah pelan makan malamnya, pikirannya kacau. Semenjak ia dan suaminya bertemu Hinata. Pikirannya tidak pernah tenang. Ia pikir kelak biarpun bertemu wanita itu lagi. Ia bisa tersenyum puas dan memamerkan Sasuke. Bertapa bodohnya Hinata pernah meninggalkan pria itu.
Namun, di balik itu semua ia juga ragu, karena ia tahu ia belum menggeggam hati pria itu sepenuhnya. Tapi kalau ia memaksa. Ia takut Sasuke merasa terkekang kemudian ia akan di tinggalkan. Ia merasa serba salah.
Sekarang ketakutannya muncul kepermukaan ketika Hinata kembali hadir dalam kehidupan mereka, ia masih ingat tadi sewaktu pulang dari kantor. Suaminya membatalkan janjinya lagi.
"Maaf Sakura. Aku tidak bisa mengantarmu, ada klien yang harus kutemui."
Sakura tentu tau penyebabnya. "Siapa?" Sasuke tidak memandangnya.
"Kau curiga?" harus Sakura jawab seperti apa pertayaan itu, sakura sendiri bingung.
"Hanya sebentar tidak akan lama." Sakura bisa bernafas lega. Semestinya ia percaya pada suaminya.
Tapi waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, Sasuke belum juga pulang. Tak ada kabar apapun, kecuali tadi saat ia menghubungi pria itu, Sakura samar-samar mendengar suara berisik di sampingnya, kata Sasuke mereka sedang di restoran sekarang.
Wanita bermata hijau itu penasaran, seperti apa klien yang di temui suaminya. Atau sebenarnya ia malah bersama Hinata. Sakura membasuh mukanya berusaha membuang pikiran negatif.
Berbekal karena penasaran dan terlalu lama menunggu Sakura nekat menelpon Sasuke lagi.
Namun ia harus terkejut mendengar suara lembut di seberang. "Sakura, ya?" sakura mengeratkan genggaman di ponselnya.
"Sasuke dimana. Hinata?"
'Toilet.' Sakura marah, mendengar nada santai perempuan itu.
'Maaf, Sakura-san bagaimana kalau nanti saja menghubungi Sasuke. Sekaran kita lagi sibuk.' Hampir saja ia melempar ponselnya. Namun ia menenangkan kembali pikirannya.
"Bisa bilang pada suamiku kalau istrinya menelponnya? Dan…bisa tidak kau tidak memanggil suamiku dengan sasuke saja?" Ia sengaja menekankan kata-kata, supaya wanita itu tahu tempatnya. Kata-kata itu nampaknya tepat sasaran, wanita itu sama sekali tidak menjawab.
Lalu komunikasi mereka terputus, sepertinya di sengaja. Apa yang harus ia perbuat? Apa ia perlu memberi peringatan pada perempuan itu?
Sama seperti yang ia lakukan dahulu, kala ia tahu Sasuke pacaran dengan wanita itu. Lalu ia merasa jahat. Tapi… ia tidak bersalah ia tidak berebut apapun. Hinata yang meninggalkan Sasuke. Lalu dialah orang yang datang untuk mengobati pria itu. Tidak ada yang salah, wanita itu yang salah.
…TBC…
