Half Of My Soul
Rating : T
Pairing : Sasuhina/Narusaku
Genre : Hurt/Comfort/ Romance
Warning : AU, OOC, typo, abal, geje, Hinata ku buat sedikit jahat disini, ia akan terus menganggu hubungan SASUSAKU. Pemeran utama jahatkan. pasti ada alasannya.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
a/n
terimakasih banyak yang udah komen, kasih saran dan serta semangatnya…maaf molor lagi. Seperti yang saya katakan…boleh banget keluarin unek-unegnya ane tampung… jangan takut ane marah, nggak akan ^^.
Soal Hinata jahat…ia memang akan ku buat jahat, egois dan banyak yang lainnya…mungkin kalian tidak akan suka. Tapi semua akan berakhir baik pada waktunya.
Yang masih bingun dengan pairnya…kayaknya sudah aku tegaskan deh, di summary-nya. Ini SASUHINA dan NARUSAKU. ^-^
Terimakasih kepada : cecil hime, Aozora Straw. Tidak apa ^^. Eysha 'CherryBlossom. hinatauchiha69, nuarin, kumbangbimbang, Sherinarusasu, Guest, jdamego, Fumiko Miki NaSa, Twins Shinobi, Luluk Minam Cullen, altadinata, , Anahinanaru.
.
Chapter 5 : …?
Hinata memandang ponsel Sasuke yang sudah ia nonaktifkan. Sedikitnya ia marah pada istri mantan kekasihnya …ck, suami katanya…perempuan itu memang selalu merebut semua yang diinginkannya.
Kemudian ia menaruh ponsel itu kembali di atas meja ketika Sasuke kembali dari keperluannya, bersama Sai, bocah kecil itu nampak tidak suka dengan kehadiran Sasuke. Padahal ia berharap ayahnya yang akan menemaninya nonton, tapi bundanya malah menyuruh lelaki itu.
"Siapa?" Sasuke mengambil ponselnya, dan ia heran melihat benda itu mati. Hinata kemudian bangkit berdiri, mengabaikan pertanyaan lelaki itu.
"Sasuke-kun, ayo pergi. Nanti terlambat."
"Aku Tanya siapa yang menelpon?!" Hinata diam, ia tahu tidak ada gunanya juga membohongi pria itu. Lagian ia yakin Sasuke pasti memilih ikut dengannya.
"Sakura…! Tapi aku bilang kau bersamaku…ayo pergi." Wanita berambut panjang itu memeluk lengan Sasuke. Namun pria itu melepaskan diri.
Ia memandang Hinata tajam, kemudian pergi begitu saja, Hinata mendadak khawatir berusaha ingin mengejar Sasuke, namun Sai menahan perempuan itu.
"Bunda, ayo. Acaranya akan segera di mulai." Perempuan itu menghela nafas memandang putranya. Ia ingin mengejar Sasuke tapi, kelihatannya Sai juga tidak mau mengalah. Ah…sai dan Sasuke memang lelaki yang keras kepala.
…
Sakura berusaha memejamkan mata, namun matanya tidak mau di ajak kompromi. Ia tidak tidur sama sekali. Rumahnya juga sepi, salahnya sih tidak memperkerjakan orang yang bisa tinggal di rumahnya. Biasanya ia akan menyewa orang hanya untuk bersih-bersih.
Ia melihat lagi ponselnya, ia berharap suaminya akan menelpon. Tapi, ia tidak terlalu yakin bila Sasuke bersama dengan Hinata. Pasti mereka sedang bersenang-senang. Biasanya kalau ia sendiri di rumah, ia pasti akan menelpon Naruto dan menceritakan masalahnya. Kemudian ia akan tenang.
Apa sebaiknya ia menghubungi pria itu? Tapi kemarin ia sudah mengusir sahabatnya. Ia sedikit merasa bersalah, waktu itu ia emosi dan berkata kasar pada Naruto. Ia mengambil ponselnya berniat menelpon pria pirang itu dan minta maaf.
Lalu ia tersenyum melihat nomor ponsel pria itu. Nomornya bahkan ada dalam daftar khusus.
Begitu pentingkah Naruto baginya? Tentu saja, mereka sudah lama berteman semenjak mereka kecil, ibunya dan ibu Naruto adalah kawan lama. Naruto selalu baik padanya, selalu mengikuti kemauannya dan tidak pernah ia menolak keinginan Sakura sedikitpun.
Ia juga sangat sayang pada pemuda itu, apalagi setelah ibu dan ayah Naruto meninggal, pemuda itu tidak punya siapa-siapa kecuali dirinya.
Ah…Sakura terlonjak, bukankah besok hari minggu? Berarti ia harus datang ke apartemen Naruto. Dan merapikan tempat tinggal pria itu. Itu rutinitasnya setiap minggu.
Dulu sebelum menikah, hampir tiap hari Sakura akan mampir di kediaman Naruto. Pria itu malas buat merapikan tempat tinggalnya sendiri, jadi Sakura suka cemas bila tidak datang, ia takut apartemen Naruto akan seperti kapal pecah.
Lalu Sakura memutuskan besok saja ia minta maaf, sekalian belanja keperluan dapur untuk si baka itu, dan beberapa stelan pakaian. Teman baiknya itu memang tidak terlalu peduli pada penampilan, kalau bukan ia yang mengurus pemuda itu, pastilah Naruto bakal jadi gembel kaya.
Beda dengan suaminya, Sasuke stylis, ia kadang tidak perlu memusingkan cara berpakaian suaminya. Lelaki itu pandai dalam urusan gaya. Ia hanya cemas dengan Naruto yang acak adul. Pernah perusahaan mereka berkerja sama, saat menghadiri rapat Naruto malah memakai kemeja biasa.
Sakura waktu itu benar-benar panik, ia segera menelpon rancangan pribadinya, khusus untuk satu stelan jas untuk pemuda itu.
Sakura tersenyum lagi, entah apa yang terjadi kalau ia tidak ada, ia rasa pasti Naruto tidak bisa bertahan. Karena terlalu sibuk memikirkan beberapa baju dan makanan yang akan ia beli, tanpa sadar Sakura jatuh tertidur.
.
Pagi sekali ia bangun dengan cepat…ia harus ke pusat perbelanjaan sekarang, ia kemudian mengambil baju mandinya, namun ia terkejut melihat suaminya yang sudah rapi. Apa Sasuke pulang semalam? Kenapa ia tidak sadar?
"Mau kemana? Ini hari minggu." Sakura tersenyum. Berarti semalam ia tidak terlalu lama bersama perempuan itu.
"Semalam pulang jam berapa? Kenapa tidak membangunkanku?"
Sasuke mendekat dan mengecup pipi istrinya. "Aku lihat tidurmu pulas. Jadi tidak mau menganggu." Pipi Sakura sedikit memerah menerima perlakuan suaminya. Jarang Sasuke mau bersikap mesra seperti ini.
"Lalu kau mau kemana? Kelihatannya buru-buru." Sakura kembali sadar dengan niat awalnya.
"Aku harus belanja dan ke tempat Naruto." Muka Sasuke nampak tidak suka, ketika istrinya menyebut nama Naruto. Ia tahu rutinitas tiap minggu Sakura. Ia pasti akan menyiapkan waktu untuk datang kesana. Meskipun ia punya janji dengannya.
Ia selalu beralasan, bahwa Naruto tidak ada yang memperhatikan.
"Ia bukan bocah kecil lagi, Sakura. Ia bisa mengurus dirinya sendiri." Istrinya manyum, apa Sasuke tidak melihat kelakuan Naruto yang seperti anak-anak.
"Si baka itu mana tahu mengurus dirinya sendiri."
"Lalu sampai kapan kau akan mengurusnya? Sampai kau tua." Nadanya bicara Sasuke membuat perasaan wanita bermata hijau itu tersinggung, apa Sasuke tidak tahu kalau Naruto seperti adiknya, ia tidak mungkin membiarkan pria sendiri.
Dulu sekali ia sudah berjanji pada hidupnya, kalau ia tidak pernah membiarkan Naruto sendiri.
"Iya. Sampai aku tua dan mati." Sasuke menyilangkan tangannya di dada, ia muak dengan tingkah Sakura selama ini. Ia bisa mengerti kalau Sakura sayang pada Naruto seperti adiknya sendiri. Namun sikap perempuan itu pada Naruto terlalu berlebihan. Ia yang suaminya tidak pernah di perhatikan seperti perhatiannya pada si baka itu.
"Sakura. Sebenarnya yang jadi suamimu aku atau Naruto?!" mata Sasuke berkilat tajam. Ia memandang sakura dengan tegas. Perempuan itu tentu terkejut, dengan pertanyaan suaminya. Apa maksud Sasuke?
"Sasuke! Kau tau kan, Naruto tidak punya siapa-siapa lagi kecuali aku." Ia mendadak tidak suka pada pembicaraan ini. Sasuke selalu mempermasalahkan hal seperti ini. Padahal ia tahu Naruto sebatang kara. Tidak punya siapa-siapa, apa Sasuke tidak punya hati?
"Lalu kenapa tidak kau jadikan saja dia punyamu?!" Ada sindiran dari suara suaminya.
"Sasuke kau keterlaluan!" Sakura kemudian memutuskan mengambil kunci mobilnya, tidak berniat mandi lagi. Meninggalkan Sasuke yang masih menyimpang kemarahan. Pria itu menggeram.
…
Setelah membeli beberapa keperluan dan beberapa baju untuk Naruto dan satu untuknya, Sakura segera bergegas ke apartemen Naruto. Ia berniat menganti baju semalam di tempat pria itu, mungkin sekaligus mandi.
Ia turun dari mobilnya begitu sampai di tempat tujuan, kemudian dengan langkah kecil ia mulai menaiki lif menuju lantai atas tempat di mana Naruto tinggal.
Ah ia pasti repot, rumah itu pasti berantakan, kemudian ia harus membuang sampah dan beberapa pakaian yang tidak layak pakai. Dan tentu saja memasak untuk lelaki itu. Kemudian mereka akan mengobrol sebentar, setelah agak sore ia pulang. Mungkin nanti pulangnya malam saja, ia masih marah dengan Sasuke.
Rencana awalnya memang seperti itu,tapi….kita tidak tahu kan?
Begitu sampai didepan pintu Apartemen Naruto, ia segera memasukkan digit nomor kunci, ia tersenyum dasar Naruto, pria itu masih memakai tanggal lahirnya.
Kata pemuda pirang itu, itu dilakukan agar ia terus mengingat tanggal lahir wanita yang dicintainya. Sakura tersipu. Ia sedikit senang ada orang yang mencintainya sampai seperti itu.
Ketika pintu terbuka, Sakura terkejut melihat seorang perempuan yang hampir telanjang berada di kamar Naruto. Apa yang dilakukan si baka itu? Apa ia membawa perempuan tidak benar ke rumah.
"Kau siapa?" Sakura mendekat, ia tidak suka pada perempuan yang berambut sama dengan Naruto, yang berdiri angkuh didepannya. Banyak wanita yang mendekati Naruto karena kesuksesan pria itu mengelola perusahaan warisan ayah ibunya. Wanita-wanita itu tidak pernah mencintai Naruto tulus. Ia juga juga melihat perempuan yang ada dihadapannya sama seperti perempuan yang sering mendekati Naruto.
Perempuan berambut pirang itu melihat Sakura, ia nampak tidak suka, selimut yang masih membalut tubuh telanjangnya, ia lilitkan dengan begitu saja.
"Seharusnya aku yang bertanya, who are you?" beraninya perempuan itu. Karena ia tidur semalam dengan Naruto. Ia bertingkah solah-olah tempat ini dan Naruto adalah miliknya.
"Sebaiknya kau pergi saja. Nona." Perempuan pirang itu tidak suka pada perkataan Sakura, ia berkacak pinggan, namun Sakura tidak peduli, ia melangkahkan kakinya ke dapur dan menaruh belanjaannya di atas meja. Perempuan pirang itu mengikutinya.
"Nona jidat lebar…sebaiknya kau saja yang pergi. I Naruto girl friend. So I belong here." Keh…! Jalang!
Kekasih katanya. Wanita ini bermimpi. Naruto mana bisa mencintai wanita lain selain dirinya. Wanita itu membual terlalu jauh.
"Apa uang Naruto beri, sedikit?How much do you want." Sakura dengan angkuh mengeluarkan dompetnya membuat perempuan dengan mata biru itu nampak kesal. Ia tidak suka dianggap rendah seperti itu. Sementara Naruto yang baru keluar dari kamar mandi, merasa aneh melihat kekasihnya tidak ada di ranjang, tempat mereka bercinta semalam.
"Dear. Where are you??" Naruto, terkejut melihat Sakura ada di dapurnya, ia lupa kalau hari ini hari minggu. Sudah jadi kebiasaan Sakura untuk datang ke apartemennya. Sedangkan Ino memasang senyum kemenangan, wanita bermata hijau itu mendengus. Suasana mereka bertiga membuat Naruto gugup.
Sakura lebih terkejut lagi ketika Naruto memanggil perempuan itu dengan… sayang. Apa benar kalau mereka pacaran? Ada rasa tidak suka dihatinya ketika melihat pria itu dipeluk oleh wanita lain.
"Sayang…she is?" Ino merajuk manja di pelukan Naruto yang telanjang dada. Ia memutar-mutar jarinya di dada bidang lelaki itu. Membuat Sakura tambah muak. Naruto jadi salah tingkah.
Sakura mendekat dan mendorong perempuan itu. "Jangan sembarangan membawa pelacur ke rumah. Naruto." Ino tidak terima dengan perkataan kejam perempuan berambut merah jambu itu, ia melayangkan tangannnya hendak menampar Sakura. Namun Naruto menangkap lengannya. Ino langsung berwajah muram, padahal ia kekasih pria itu. Tapi dihina orang lain pria itu bahkan tidak membelanya.
Naruto jadi serba bersalah, ia tidak ingin Ino menyakiti Sakura. Namun ia juga cemas tidak ingin wanita yang baru saja jadi pacarnya sakit hati.
"Sakura-chan jangan bilang begitu. Ino pacarku." Sakura tidak percaya. Naruto pacaran dengan wanita yang nampak murahan itu. Jadi ia tidak berguna, begitu?
"Oo…berarti aku tidak dibutuhkan lagi. Permisi." Wanita bermata hijau itu melangkah pergi. Entah kenapa emosinya meledak seperti ini.
"Bukan begitu maksudku…hei, Sakura!" Namun perempuan itu tidak peduli. Ia keluar setelah membanting pintu. Naruto segera mengambil bajunya dan mengejar perempuan itu.
Ino memandang kepergian mereka berdua, kemudian berdecak.
…
Sakura tahu Naruto mengejarnya, namun ia tidak peduli terus melajukan mobil ke rumahnya sendiri. Entah kenapa perasaannya agak aneh. Ia tidak suka Naruto lebih membela perempuan itu ketimbang dirinya.
Padahal dulu bila ada perempuan yang mengaku pacar pria itu. Naruto pasti berkilah kalau ia tidak pacaran. Tapi, tadi ia membiarkan dirinya dipandang rendah oleh perempuan murahan itu.
Ketika tiba kembali di rumah mewahnya, Sakura menghela nafas. Ia baru ingat tadi sempat bersitegang dengan Sasuke. Apa suaminya masih di rumah? Mereka jarang bertengkar sampai sehebat itu.
Sasuke agak keberatan dengan perhatiannya terhadap Naruto. Tapi tidak pernah sampai seperti tadi pagi, apa ini pengaruh Hinata, ya? Sakura menggelengkan kepalanya yang pusing. Ia juga sedikit menyesal. Tidak mau mengalah pada suaminya.
Ia mencintai pria itu, sangat mencintainya. Mungkin karena takut kehilangan. Sakura agak meledak-ledak, dan perasaannya menjadi tidak karuan.
"Kau kembali?" Sakura tentu terkejut melihat Sasuke yang masih ada di rumah di ruang tamu sambil baca Koran. Ia lega suaminya tidak pergi. "Iya."
"Tumben. Biasanya kau pulang sore. Apa si dobe apartemennya tidak seperti kapal pecah?"
Sakura tersenyum sedikit, kemudian duduk didekat suaminya. Tadi ia tidak memperhatikan disekeliling tempat tinggal Naruto karena sudah duluan jengkel sama perempuan berambut pirang itu. Ia menghinanya dengan jidat lebar. Tidak sadar diri kalau tubuhnya kelebihan lemak, dasar babi.
Naruto juga bodoh pacaran dengan makhluk seperti itu.
Karena masih melamun Sakura tidak sadar kalau Sasuke mengecup lehernya, ia terkejut dan secara spontan menampar pipi Sasuke. Suaminya menatap tajam kearahnya. Ia bangkit berdiri wajahnya menampakkan kemarahan.
"Kau kenapa? Kalau ada masalah dengan Naruto jangan kau bawa kerumah!" Sakura sebenarnya lebih syok lagi. Ia menutup mulutnya sebelum ia sempat berteriak. Ia tidak sengaja…benar-benar tidak sengaja. Gerakan tadi tidak ia sadari. Ia berubah takut dengan aura suaminya
"M-maaf…aku." Kalau ini Naruto, pasti akan tertawa dan bilang 'kau hebat Sakura' dan ia akan memukulnya lagi tanpa merasa bersalah. Ada apa dengan dirinya? Kenapa di saat seperti ini ia membandingkan suami dan temannya.
"Ck." Pria Uchiha itu mengambil kunci mobilnya. Sakura tahu ini tidak baik membiarkan suaminya pergi dengan rasa kesal. Ia berusaha mencegah dengan menarik pria itu. Namun Sasuke menepis kasar tangannya. Sakura kembali syok. Kenapa suasana diantara mereka jadi tegang seperti ini?
"Dinginkan kepalamu. Atau kau kembali saja ketempat Naruto." Sakura sedikit mengeram jadi semua ini tentang Naruto.
"Kenapa denganmu Sasuke. Dari tadi terus mengajakku ribut. Ini bukan masalah Naruto saja, kan?"Sakura menjadi marah, ia sadar Sasuke sedang mencari masalah dengannya pasti biar ia bisa bebas bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
"Jadi maksudmu aku yang bermasalah?!"
"Iya! Kau mengajakku ribut. Agar kau mudah bisa selingkuh dengan Hinata!" suaminya mengeram. Ia tidak bisa terima tuduhan itu. Wajahnya lebih menyeramkan. Ia mendekatkan mukanya dan mengetok-ngetok dahi istrinya dengan telunjuk.
"Dasar jalang! Kau sendiri yang selingkuh dengan si dobe keparat. Lalu kau menuduhku?!" Sakura terkejut dengan kata kasar suaminya ia mundur sedikit. Air mata perlahan tumpah dikedua belah matanya.
Ini pertama kali ia mendengar makian dari Sasuke. Pertama kali Sasuke semarah ini padanya. Lelaki itu berubah setelah Hinata kembali. Hatinya sakit, perasaannya terasa tertusuk dengan pisau. Sasuke menyakitinya.
Padahal apapun akan ia lakukan agar lelaki itu bahagia. Tapi Sasuke selalu membuatnya menderita, ia tidak masalah kalau suaminya belum mencintainya sepenuhnya. Ia masih bisa berusaha. Tapi kalau terus begini, apa ia masih bisa bertahan?
Sasuke kembali mengeramkan emosinya meledak-ledak. Ia bahkan benci mendengar tangisan istrinya. Dengar kasar ia melempar kunci mobil dan masuk ke kamar sambil membanting pintu cukup keras.
Sakura bergetar. Tangisannya makin pecah.
…
Hinata kembali mengirim pesan singkat pada Sasuke. Tapi pria itu kelihatannya marah dan mengabaikannya.
Ia cemas takut Sasuke salah paham. Dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Padahal ia kangen pada pria itu.
Mungkin besok ia ke kantor Sasuke dan membuat sarapan untuknya sekaligus minta maaf.
Hinata tersenyum ketika ada yang mencium pipinya. Ia mengelus putranya yang naik keatas pangkuannya. Kemudian merangkul tubuhnya. Walaupun tangannya tidak sampai.
"Bunda. Kapan ayah pulang?" Hinata mencium dahi Sai. Ia kasihan pada putranya, Kakashi memang cukup jarang ada di rumah. Ia juga merasa aneh dengan hubungannya dengan Kakashi. Padahal mereka suami istri tapi mereka tidak dekat. Mungkin…ya, karena Kakashi-san orang yang begitu sibuk. Ia ada di rumah hanya dua bulan sekali.
Kalau Sasuke yang jadi ayah dari anaknya. Mungkin Sai tidak akan kekurangan kasih-sayang ayahnya. Dan mungkin ia juga tidak akan kesepian.
"Mungkin… bulan depan."
"Bulan depan? Padahal dua minggu lagi ulang tahunku bunda."
"Kan ada bunda," ia memeluk putranya yang jadi manja "Nanti ajak aja, om Sasuke." Anak lelakinya langsung turun dari pangkuan Hinata. Ia memperlihatkan wajah tidak sukanya. Hinata tidak mengerti.
"Kenapa harus mengundang orang itu?" Hinata tertawa kecil sambil mencubit pipi cabi anak lelakinya. Ia gemas dengan wajah cemberut Sai. "Panggil dia om Sasuke."
Kemudian wajah Hinata kembali sumringah ketika melihat pesan di ponselnya. Dari Sasuke.
Sai memandang bundanya yang ceria memandang layar ponsel. Firasatnya mengatakan kalau lelaki jelek itu mengirim pesan untuk bundanya. Lelaki itu ternyata memang ingin merebut bunda darinya dan ayah.
…
Sakura masih menangis. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata ketika suaminya melewatinya dan pergi begitu saja.
Kali ini mereka bertengkar hebat…biasanya Sasuke tidak seperti ini. Tidak pernah menuduhnya seperti ini. Memang suaminya tidak menyukai rutinitas tiap minggunya di rumah Naruto, tapi suaminya tidak melarang karena Sasuke tahu sendiri bagaimana keadaan Naruto.
Tapi kali ini, apa maksud Sasuke menuduhnya? Padahal ia tahu hanya Sasuke seorang yang ia cinta, ia tidak pernah punya niat selingkuh atau menduakan dirinya. Ia cinta suaminya…sangat-sangat cinta.
Ring….ring…
Suara dering ponselnya, ia masih terisak dan menerima panggilan masuk. Naruto menghubunginya. Tadi ia sama sekali tidak mau melihat apalagi mendengar suaranya. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Hanya Naruto seorang yang ia percaya. Tempatnya mengadu dan curhat.
"Hik…hello…"
"Sakura…ada apa?" naruto terdengar panik.
"Aku…hik…hik…"
"Aku akan ke sana." Dan komunikasi mereka terputus.
Naruto mengeram, ia terus melajukan mobilnya, sial! Apa yang di lakukan si teme brengsek itu pada Sakura. Apa ia tidak pernah bosan membuat istrinya menangis.
Ketika ponselnya berbunyi, ia bahkan tidak peduli. Tapi kelihatannya ponselnya juga tidak menyerah untuk terus menganggunya yang mengemudikan mobilnya sedikit cepat.
"Hello."
"Honey, you've got to where? I've been there in the gallery now.." Oh…sialan! Ia lupa janji dengan Ino. Tadi ia menyuruh kekasihnya untuk duluan ke galerinya, karena ia harus ke kantor. Ia juga baru tahu kalau kekasihnya—Ino— punya galeri lukisan di Tokyo, ia binggung kenapa Ino mau jadi karyawan magang di kantornya.
Wanita itu tertawa dan menciumnya ganas ketika ia bertanya. Ino bilang itu karena ia begitu terobsesi dengan Naruto. Jelas membuat pria dengan mata sewarna langit itu tersanjung.
Saat ia di kantor tadi, niat mau mengambil file-file yang ia tinggalkan kemarin. Ia mencoba menelpon Sakura lagi dan tidak menyangka wanita itu akan mengangkat ponselnya, ketika sebelumnya Sakura itu mengabaikan beberapa panggilannya. Dan wanita yang ia kasihi itu menangis, ia jadi cemas dan tanpa pikir panjang ia segera menemui Sakura dan lupa dengan kekasihnya.
Sekarang ia hanya bisa minta maaf.
"honey…? Kenapa…?"
"sorry Ino, aku ada keperluan mendadak."
"Mendadak?" Naruto segera menutup ponselnya, ia juga tidak membiarkan perempuan itu bertanya lebih lanjut. Sakura lebih penting sekarang.
…
Hinata tersenyum begitu melihat pria itu datang, ia begitu senang ketika Sasuke mengirim pesan ingin bertemu dengannya. Artinya Sasuke masih menganggap ia penting.
Sebenarnya ia ingin Sasuke datang ke rumahnya. Tapi pria itu menolak. Hinata tidak memaksa. Sekarang ia berada di sebuah cafe tempat yang diusul oleh pria rupawan itu. Begitu Sasuke didekatnya. Ia melihat raut wajah yang tidak terbaca. Bagi orang lain wajah Sasuke yang seperti ini memang sudah biasa.
Tapi beda dengan Hinata. Yang sudah mengenalnya beberapa tahun. Ia tahu wajah itu, wajah yang menyimpan masalah. Ia mengelus pipi lelaki itu.
"Ada apa?" pria itu menggeleng. Lalu wanita dengan surai biru itu membimbing Sasuke untuk duduk dan segera memesan dua cangkir kopi pahit hitam.
"Mau cerita sesuatu padaku?" Sasuke melihat Hinata yang tersenyum lembut. Wanita itu menggenggam jarinya yang diatas meja. Kebiasaan menenangkan dirinya bila hatinya sedang kacau.
"Aku bertengkar dengan Sakura." Hinata semakin mengeratkan genggaman di jarinya. Lalu mengelus pipi Sasuke lagi, pria itu memandang perempuan itu, wajah perempuan itu khawatir lalu ada gurat penyesalan di sana.
"Apa karena aku?" pria itu menggeleng lagi. Hinata mengelus tangan Sasuke. Ia merasa sangat bersalah pada pria itu. Seandainya dulu ia tidak pertahankan egonya. Dan memilih meninggalkan pria ini. Mungkin mereka berdua akan selalu bahagia. Ia, Sai dan Sasuke pasti akan menjadi keluarga yang begitu sempurna.
…Tbc…
