Half Of My Soul
Rating : T
Pairing : Sasuhina/Narusaku
Genre : Hurt/Comfort/ Romance
Warning : AU, OOC, typo, abal, geje, Hinata ku buat sedikit jahat disini, ia akan terus menganggu hubungan SASUSAKU. Pemeran utama jahatkan. pasti ada alasannya.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
a/n
Maaf karena ini lama sekali aku pos. itu semua karena aku galau bikin cap satu ini. Rencana awalnya cap ini ingin kubikin hurt tapi setelah ku coba beberapa kali aku tidak mampu. Dan aku akhirnya menyadari aku lemah di genre begini. Maaf teman-teman aku mengecewakan. Cap ini sudah kubikin beberapa kali dan pada akhirnya kuhapus. Makanya apdetnya lama sekali.
Setelah beberapa pertimbangan akhirnya aku buat yang seperti ini. Apa sebaiknya ini berganti genre saja, ya?
Dan untuk yang benci sifat hinata disini, kayaknya kalian harus benci lagi deh, dengan cap yang ini.
Terimakasih banyak pada yang sudah review : Renita Nee-Chan, cecil hime, Hyou Hyouichiffer, Luluk Minam Cullen, avrillita97, hinatauchiha69, Uzumaki Shizuka, Chikako Fujiki, nurmala, Namikaze ares, nuarin, shanzec, Guest, angry, Dimas dp, Zee-leven Seven, Uchiha Hinata15,.
.
Chapter 6: kebencian
Hinata memandang lelaki yang tidur di sofa ruang tamunya. Raut wajah pria itu keruh, mungkin karena pikiran yang sedang tidak baik. Ia menyentuh dahi Sasuke yang berkerut, kemudian tersenyum ketika tidur pria itu terganggu.
Suara telpon rumah mengagetkannya, yang terus memandang wajah tampan si pria bermarga Uchiha. Ia beranjak dan menerima panggilan telpon untuknya.
"Hallo dengan keluarga Hatake disini."
"…"
"Aku tidak akan mengingkari janjiku. Ketemu dimana?"
"…"
"Baiklah. Tunggu aku sejam lagi." Kemudian ia memutuskan sambungan telpon, ia tidak terlalu suka pada orang yang menghubunginya. Tapi seseorang itu telah banyak membantunya selama ini, lalu kemudian ia bersiap-siap untuk pergi.
Matanya kembali melirik lelaki yang tidur di sofa, mendekat kemudian mencium dahinya. Ia tersenyum ketika lelaki itu bangun dari tidurnya.
"Uuh" Sasuke menggeliat dan perlahan membuka matanya, Hinata mengusap rambut pria itu.
"Apa aku menganggu tidurmu?" Sasuke kemudian duduk, mengusap mukanya. Ia sedikit heran melihat wanita itu sudah berpenampilan rapi.
"Kau ingin pergi?" Hinata mengangguk.
"Aku pergi sebentar, kau istirahatlah disini." Sasuke menggeleng, dan bangkit.
"Aku sebaiknya pulang."
"Pulang kemana? Ke tempat Sakura?" pria itu memandang Hinata yang menarik kemejanya. Ia tidak paham dengan perkataan wanita ini.
"Disini saja. Aku tahu Sasuke-kun lebih bahagia disini." Sasuke entah kenapa ingin tertawa dengan perkataan wanita ini.
"Bagaimana dengan suamimu?" ia juga tahu pertanyaan itu, bodoh.
"Kita begini saja dulu sampai Kakashi-san pulang. Habis itu kita pikirkan nanti…"Sasuke memandang takjub pada wanita itu dan pikirannya. Ia menarik nafas perlahan, ia tahu ini salah…namun entah kenapa ia suka dan merasa nyaman dengan semua kepalsuan ini.
Sasuke berbalik, dan meremas pelan bahu wanita itu.
"Ini salah Hinata…berhentilah menatap masa lalu, kau dan aku sekarang berbeda." Hinata tahu peryataan ini, akan menghancurkan segala ide dalam pikirannya.
"Tidak ada yang berbeda Sasuke. Kau maupun aku…masih sama." Sasuke merasakan sesak di dadanya. Dalam hasratnya ia ingin menggenggam wanita ini. Ia tahu peryataan ini yang ia inginkan, tapi…ini semua salah…salah.
"Sakura istriku…kurasa tadi emosiku berlebihan," ia menelan ludahnya, ia tahu bila ia katakan…maka ia harus mengakhiri semua ini, semua hasrat yang ingin ia genggam.
"Aku akan kembali padanya." Ini terbaik. Untuk dirinya dan wanita didepannya yang berkaca-kaca, Hinata menggenggam tangan pria itu.
"Aku tahu Sasuke, kau tidak bahagia bersamanya." Lelaki itu memalingkan mukanya, ia tidak bisa memandang wajah perempuan itu, atau ia akan kembali goyah.
"Aku bahagia…Hinata, apa yang kau tahu? Kau tidak tahu apa-apa." Hinata tentu merasa kaget, ia tidak menyangka Sasuke akan berkata begitu padanya.
Sasuke sedikit tersentak dengan pelukan wanita itu yang tiba-tiba, tidak…ia tidak boleh goyah lagi.
Sakuralah yang selalu bersamanya, mengobati luka hatinya…menapaki hidup suka dan duka, bukan Hinata, biarpun ia sungguh mengharapkannya.
"Maaf. Tolong lepaskan…aku ingin pulang." Hinata menggeleng, pelukannya semakin erat.
"Bagaimana kalau ku bilang aku menyesal dan ingin kembali padamu. Apa kau akan menerimaku?"
"Hinata." Sasuke kembali mencengkeram bahu wanita itu…hasratnya, keinginannya sekarang berada tepat dihadapannya…kalau ia mengangguk, semua akan kembali ke tempat semula. Ia akan bahagia dengan wanita Hyuuga ini.
Namun bagaimana dengan Sakura…? wanita itu pasti akan menderita. Bagaimana dengan suami Hinata?
Ia mendorong perlahan tubuh wanita itu. Hinata memandang tidak percaya…padahal ia yakin Sasuke mencintainya. "Aku akan pulang… ke tempatku harusnya berada."
Setelah itu Sasuke beranjak. Hinata terduduk ia masih tidak percaya.
"Bagaimana kalau ku bilang Sai adalah anakmu." Sasuke berhenti. Ia terdiam cukup lama sebelum mendekat dengan cepat dan berjongkok mensejajarkan dirinya dengan perempuan itu.
"Itu benar?" Hinata memandang lelaki ini yang melihat penuh Tanya padanya. Sorot matanya bersalah dan sedih dalam waktu bersamaan. Ia pejamkan mata, lalu Hinata tertawa kecil.
"Bercanda…hi…hi… muka Sasuke lucu…hi…hi…" Sasuke memandang wanita itu dalam diam…ia tidak merasa itu lucu, atau marah karena wanita itu berhasil membuatnya kaget.
Ia merasa wanita Hyugga menyembunyikan sesuatu padanya.
"Pulanglah. Sasuke-kun."
…
"Minumlah." Naruto duduk dihadapan perempuan berambut pink itu setelah menyiapkan segelas teh hangat untuk Sakura yang masih terisak.
"Sasuke, menyakitimu lagi?" Sakura menggeleng. Naruto menghela nafas tidak tahu sampai kapan Sakura bertahan.
Wanita itu masih terisak. Pendengaran Naruto terganggu walaupun Sakura hanya mengeluarkan suara yang hampir tidak terdengar.
Jujur di hatinya masih ada pada wanita ini. Waupun ia menjalin kasih dengan wanita lain.
Ia menggeser kursi, mendekat kearah Sakura dan menarik kepala wanita itu supaya bersandar pada bahunya. Wanita itu tidak menolak, ia masih terisak.
Seperti sebelum-sebelumnya bila wanita itu menangis, ia tidak pernah bisa menghiburnya dengan kata-kata. Entah apa yang harus Naruto lakukan agar wanita ini tidak menderita, ia ingin Sakura selalu bahagia.
.
"O…begini ya…kalau aku tidak ada." Sakura terlonjak ketika mendengar suara suaminya. Naruto yang menyadari situasi segera melepaskan Sakura dan berdiri.
"Kau salah paham, Sasuke." Lelaki yang baru pulang itu berdecak.
"Menurutmu apa yang harus ku pikirkan, melihat istriku dalam pelukan pria lain?" Naruto mengepalkan tangannya. Ia benci melihat wajah Sasuke yang datar. Padahal lelaki itu yang membuat Sakura menangis.
"Cukup. Sasuke! Kau memuakkan!" pria bermarga Uchiha jelas tidak suka. Gerahamnya gemelatuk bersiap menyerang…namun Sakura langsung berdiri didepan Naruto.
"Pulang Naruto. Ini masalahku dengan Sasuke."
"Tidak. Aku tidak akan pulang sebelum keparat itu menyadari kesalahannya."
"Apa kau bilang dobe brengsek!" sakura jelas cemas melihat sikap mereka berdua. Ia tidak ingin suami dan sahabatnya saling menyakiti.
"Naruto kumohon pulanglah." Namun Naruto tidak menyerah ia tidak ingin Sakura disakiti lagi.
"Aku tidak akan pergi Sakura. Suamimu ini perlu di kasih pelajaran."
"Naruto! Tidak usah ikut campur. Kau buka siapa-siapa!" Naruto tertohok mendengar teriakan Sakura. Ia tersenyum lesu…apa artinya dirinya untuk Sakura? Yang ada dalam hati gadis itu adalah Sasuke.
"Maaf kalau begitu…aku memang bukan apa-apamu Sakura." Kemudian Naruto pergi. Sakura kembali menangis ia tidak bermaksud berkata demikian terhadap Naruto.
Sasuke hanya melihat saja…kemudian mendudukkan dirinya di sofa.
Matanya kemudian memandang Sakura yang berdiri mematung.
"Sakura." Perempuan itu terkejut lalu tersenyum terpaksa.
"Duduklah aku ingin bicara." Wanita itu mendekat, lalu duduk di samping suaminya dengan memberi jarak. Lelaki berambut hitam itu mendesah lelah.
Sasuke membuka sedikit pahanya, kedua tangannya ia satukan, kepalanya menunduk sedikit.
"Mari kita lupakan Hinata dan Naruto. Kita mulai dari awal." Sakura memandang tidak percaya. Ia tersenyum…lega. Wanita menganguk.
"Baiklah. Kau tidak boleh bertemu wanita itu lagi dan aku…" Sakura meneguk ludahnya, apa ia sanggup mengatakannya?
"Aku tidak akan peduli lagi pada Naruto." Mereka berdua tersenyum, lalu saling berpelukan. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik
…
Naruto berkali-kali membanting stir mobilnya…kepalanya rasanya mau pecah. Apa yang ia lakukan selama ini…apa yang ia pikirkan? Pada akhirnya ia tahu jawabannya.
Sakura tidak pernah menganggap dirinya ada. Walau apapun yang ia lakukan, di mata perempuan itu hanya ada suaminya saja. Hanya Sasuke…membuat ia muak.
Naruto menghentikan mobil tiba-tiba ia mengacak surai pirangnya. Kepalanya sakit. Lalu ia ingat Ino. Tidak seharusnya ia membatalkan janji dengan perempuan itu. Ia membelokkan mobilnya menuju galeri perempuan itu.
Naruto sengaja membeli seikat bunga, setidaknya buat perempuan itu senang dulu dari pada Ino marah padanya.
Niat sebelumnya ia ingin mengejutkan perempuan itu, namun siapa sangka ia yang dikejutkan. Di depan sebuah ruangan, ia melihat Ino berbincang serius dengan seseorang yang Naruto pernah mengenalnya. Perempuan itu mantan kekasih Sasuke.
Ia bertanya-tanya ada hubungan apa diantara mereka. Dengan pelan ia berusaha sedekat mungkin dengan mereka. Samar-sama bisa ia dengar pembicaraan mereka.
"Kau sudah janji. Hinata." Wanita berambut panjang itu memandang Ino lurus. Ino jelas kesal pada wajah malaikat perempuan itu.
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku."
"Kalau begitu kenapa kau tidak lepaskan kakakku!" Ino kembali berdecak. Rasanya ia ingin menampar perempuan itu dengan kasar, kalau tidak mengingat nasip kakaknya, ada di tangan perempuan yang sedari tadi sudah membuat ia kesal.
"Karena kau tidak menyelesaikan tugasmu." Hinata berujar santai, ia tidak peduli dengan amarah yang menguar dari perempuan yang ada didepannya.
"Sudah ku bilang, aku tidak akan melakukannya!" Ia berteriak murka. Hinata tersenyum.
"Karena itu kau melakukan setengah-setengah?…buat ia mencintaimu lalu campakkan dia. Apa susahnya." Ino memandang wanita itu benar-benar marah.
"Kau ada masalah apa dengan Naruto? Kenapa melibatkanku." Naruto yang berada di belakang tembok mengeram ia tidak suka namanya di sebut-sebut. Ia keluar dan berdiri didepan para perempuan itu. Ino terkejut namun tidak dengan Hinata.
Perempuan itu tersenyum melihat Naruto. Baginya itu bukanlah masalah besar. Ia kemudian pergi tanpa permisi, Naruto tidak sempat mencegahnya, namun ia tidak melepaskan Ino begitu saja.
"Apa maksud semua ini, Ino?" raut wajah gadis itu nampak ketakutan, ia mendekat lalu memeluk lengan lelaki itu.
"Naruto, kamu mendengar semua?" namun lelaki berambut pirang mendorong Ino, membuat gadis itu terkejut.
"Katakan apa yang kalian rencanakan!" perempuan itu memandang nanar, ia tahu tidak bisa menyembunyikan apapun lagi.
"Hinata-san memang yang menyuruhku mendekatimu. Tapi aku benar-benar cinta padamu. Naruto."
"Sejak kapan?" perempuan itu diam. "sejak kapan!" lelaki dengan surai pirang berteriak. Membuat Ino gugup.
"Lon-London."
"Brengsek!" Naruto menghantamkan kepalang tangannya ke dinding, membuat Ino kembali ketakutan.
"Naruto-kun." Pria itu kemudian mencengkeram bahu Ino, membuat perempuan itu meringis karena kuatnya.
"Berapa ia membayarmu?" ia tertawa sinis. "Apakah galeri ini?" Ino menggeleng isaknya terdengar.
"K-kakakku punya masalah dengan suaminya…dan Hinata mau menolongku dengan syarat membuatmu menderita." Pria itu terbelalak…ia tidak mengerti kesalahan apa yang ia lakukan pada perempuan bermarga Hatake itu?
Jujur ia tidak terlalu kenal dengan perempua itu, kecuali dulu ia adalah kekasih Sasuke dan…tunggu…
Ia ingat Hinata juga pernah satu kampus dengan dirinya dan Sakura…tapi mereka tidaklah saling kenal satu sama lain. Lalu kenapa perempuan itu membencinya?
"Kenapa ia membenciku." Ino menggeleng.
"Aku tidak tahu. Tapi Naruto…jujur awalnya aku hanya ingin menjalani tugas yang diberikan oleh Hinata-san, namun sekarang aku sungguh mencintaimu." Naruto melepas bahu perempuan itu.
"Maaf, aku tidak bisa lagi." Ino semakin terisak. "Dan maaf juga, karena biarpun aku bersamamu. Namun hatiku ada di tempat lain."
"Naruto…aku akan berusaha m…" pria itu menggeleng. "Aku sebaiknya pergi"
…
Tenten kembali memandang Lee cemas.
"Kau tahu aku tidak bisa, hari ini aku lembur. Lee." Lelaki dengan rambut aneh itu jadi bingung.
"pria ini tidak punya siapa-siapa, Tenten sayang." Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa ada banyak pekerjaan yang menunggunya di kantor.
Ia benar-benar kesal dan bingung melihat sahabatnya Naruto Uzumaki mabuk dan tertidur di meja. Tadi lelaki itu mengajar mereka minum-minum…tapi ia sendiri yang minum terlalu banyak.
"Sekarang kita harus bagaimana?" Lee menghela nafas.
"Panggil Sakura saja."
"Ah…aku malas…bukankah kita yang menyuruhnya untuk melupakan perempuan itu?" Lee tertawa sinis.
"Kita juga yang menyuruhnya pacaran dengan Ino. Dan sekarang ia berakhir seperti ini." Tenten memandang Naruto dengan rasa kasihan. Ia juga tidak percaya sahabat yang baru di kenalnya, Ino. Punya maksud tertentu pada pria ini.
.
Sakura kembali memejamkan matanya...entah kenapa ia sulit tidur malam ini. Ada perasaan aneh melihat suaminya yang sudah terlelap di sampingnya. Ia merasa kalau ia akan kehilangan pria itu.
Suara ponsel kemudian membuat ia bangun, ia mengeceknya yang ternyata dari Naruto. Ia cemas harus menerimanya atau tidak. Tidak lama ponsel suaminya yang begetar.
Ia berniat mengambilnya tapi ia keduluan Sasuke. Setelah di cek Sasuke memandang Sakura diam. Wanita itu melihat keraguan pada suaminya. Lalu hatinya mengatakan kalau itu dari Hinata.
"Dari kantor…aku akan bicara di tempat lain." Sakura tahu kalau semua itu bohong. Setelah suaminya keluar dari kamar ia menerima panggilan dari Naruto .
"Hallo Sakura." Suara tenten.
"Bisa datang ke bar milik keluarga Nara. Naruto mabuk berat." Sakura merasa bersalah, Apa naruto mabuk karena perkataan kejam tadi sore yang ia katakan.
"Aku…"
"Kami meninggalkan Naruto disitu…maaf merepotkanmu tapi kami benar-benar sibuk Sakura." Dan ponselnya terputus.
Sasuke kemudian masuk kembali ke kamar. Raut wajahnya menampilkan kebimbangan. Sakura tidak tahu harus berbuat apa, ia kemudian membaringkan kembali tubuhnya dan pura-pura tidur. Dan bisa merasakan suaminya ikut berbaring di sampingnya.
Waktu berlalu cukup lama dan Sakura mulai khawatir dengan keadaan Naruto. Ia takut pria itu mengemudi saat mabuk. Ia juga takut Naruto tertidur dimana saja. Namun ia juga tidak bisa pergi begitu saja karena ia sudah berjanji dengan suaminya.
Ia tahu Sasuke juga bertahan dengan tidak pergi. Biarpun ia berpura-pura memejamkan matanya ia sudah tidak bisa menahan kecemasannya lagi. Naruto sendiri tidak punya siapa-siapa, lelaki itu hanya punya dirinya. Ia bangun tiba-tiba.
"Maaf Sasuke." Kemudian buru-buru pergi meninggalkan suaminya penuh tanya.
tbc
