Half Of My Soul

Rating : T

Pairing : Sasuhina/Narusaku

Genre : Hurt/Comfort/ Romance

Warning : AU, OOC, typo, abal, geje, Hinata ku buat sedikit jahat disini, ia akan terus menganggu hubungan SASUSAKU. Pemeran utama jahatkan. pasti ada alasannya.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

A/n

Cerita dewasa kenapa harus di letakin di rate T? Aku yakin kalo pembaca fic kamu ini adalah 'anak dibawah umur' dan cerita kamu ini terlalu berat. Apalagi kesannya kaya sinetron banget... maaf kalau aku salah, yang aku tahu rate M itu ditaruh kalo ada Rate mature lemon/gore dan juga terdapat kalimat vulgar dan kata-kata kasar di dalamnya, aku masih nyakin ini lebih cocok di T. kalau kamu bilang aku author yang mencemari otak anak di bawah umur, mungkin kita semua harus menyalahkan seluruh pembuat fanfic, karena aku yakin kita tidak bisa melarang mereka, maaf kalau ini juga salah.

aku tahu kenapa fic ini di bilang berat karena tema perselingkuhan, pertama karena tokoh utamanya menyukai suami orang lalu si lelaki itu merespon. Dan kalian mengetahui aku akan menjadikan mereka bersatu pada akhir cerita. Itu yang kalian maksud aku seakan-akan mendukun perselingkuhan, kan?

Coba seandainya ceritanya begini, si tokoh utama di selingkuhi oleh suaminya dengan mantan pacarnya yang lama. Dan kalian mengetahui pada akhirnya si tokoh utama akan bersama suami lagi. Menurut kalian ini bukan tema persingkuhan?

Intinya si suami menerima ganjaran kemudian menyesal. Aku juga tidak akan menyatukan tokoh utamaku begitu saja. Ada hint-hint nanti yang akan menjelaskan.

Kalau kalian pernah nonton film India kabhi alvida naa kehna, kalian pasti tahu jalan ceritanya dan juga bagian akhirnya. Menurut kalian itu film yang negative?

Apalagi porsi pairnya gak seimbang kan? Padahal fic multipair harusnya seimbang dan sama bobotnya. Kesannya jadi timpang sebelah. Yang ini saya tidak yakin, soalnya semua berdasarkan mood, itu mungkin juga karena saya jarang menulis narusaku. Saya juga minta maaf karena kesalahan ini.

Aku saranin kamu untuk delete fic ini dan ganti dengan yang baru. Takutnya banyak yang flame kamu dan banyak juga yang pikirannya tercemari konflik fic kamu. kalau ini maaf jujur saya tidak bisa menghapusnya, setiap ide yang keluar dari pikiran saya, itu adalah sesuatu yang beharga bagi saya, dan saya juga merasa tidak merusak otak orang ^^. Dan soal typo makasih sudah di ingatkan. Kayaknya ini memang penyakit saya, ha…ha… #hey lho salah, masih ketawa.*dilempar sepatu sama reader

Makasih udah ada yang bilang suka sifat Hinata. Jujur saya kadang bosan dengan tokoh utama berhati malaikat, sekali-kali tokoh utama dengan sifat evil sedikit lebih gregetkan?

Masalah Sai anak siapa akan terjawab di bagian akhir , dan Dua chap lagi cerita ini akan tamad. ^^ aku ingin berterimakasih pada kalian semua yang sudah membaca, meriview, menfallow dan menfav cerita ini. Juga pada semua orang yang menyampaikan uneg-unegnya, nasehat dan banyak hal lainnya. #bungkuk—bungkuk.

Makasih banget buat alta0sapphire. ReginaIsMe16. Kei Deiken. lutfisyahrizal. Fumiko Miki. chikako fujiki. chibi beary. n. Jasmine DaisynoYuki. Guest. Rini desu. Luluk Minam Cullen. Guest02. aam tempe. Lawchan-Ai. .

.

.

.

Chapter 7 : Yang Tersakiti Dan Disakiti

Berbekal sebuah kotak bekal, gadis berambut se dada itu berjalan pelan ke arah sebuah pohon momoji yang ada satu-satunya di kampus tempatnya menuntut ilmu.

Gadis itu bernama Hinata Hyuuga, putri tunggal dari pengusaha ternama di kota mereka—Hiasi Hyuuga nama ayahnya.

Sifatnya tertutup dan jarang berinteraksi dengan teman-teman seusianya, apalagi ia juga terlihat tidak mau peduli dengan orang sekitarnya. Membuatnya selalu sendiri dan dijauhi, banyak yang seusia dengannya merasa risih dengan dengan gadis itu.

Namun sudah dua tahun belakangan ini, ia merasa terpesona dengan seorang pemuda yang berbeda kelas dengannya. Pria itu satu-satunya yang memperhatikan dirinya, saat sakit ketika mengikuti ujian masuk, pemuda itu memberikan sapu tangan untuknya.

Setelah itu, ia mencari tahu semua hal tentang pemuda itu. Namanya Naruto Uzumaki, anak yatim piatu pewaris tunggal kekayaan Namikaze. Satu-satunya orang terdekatnya adalah Haruno Sakura.

Ia tidak terlalu suka pada gadis merah jambu itu. Namun ketidaksukaannya bertambah, saat tahu Naruto menyukai gadis itu.

Setelah empat tahun menguntit pria ini, beberapa bulan belakangan ia bertekad untuk mendekati pria pirang itu. Namun, ia sendiri menjadi kaku ketika menyadari bertapa payah saat ia mencoba berinteraksi dengan orang-orang.

Ia biasanya akan berubah gugup bahkan mungkin ia tidak bisa bicara apapun, tanpa dikatakan ia mengerti dengan keadaannya sendiri. Lihat bertapa anehnya, ia yang berdiri kaku di depan pohon momoji. Sedangkan pria pirang itu, masih sibuk mengoda si gadis merah jambu di sampingnya. Kadang si gadis memukul si pria yang menganggunya saat membaca buku, namun si pirang hanya tersenyum sumringan.

Merasa bahagia padahal ia dimarahi, Hinata merasa iri. Seandainya ia yang berada diposisi gadis itu, ia tidak akan membuang kesempatan. Ia pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.

Namun ia tidak bisa berandai-andai, ia juga tidak punya setengah dari keberanian perempuan itu. Buktinya ia bahkan tidak bergerak seinci pun dari tempatnya berdiri. Padahal Naruto dan perempuan itu sudah pergi jauh.

Hinata kemudian duduk nyaman di bawah pohon momoji, menghela nafas berat menyesal tadi dengan sikapnya. Mestinya ia berani sedikit, dan pasti kotak bekal yang dibuatnya sepenuh hati akan berada di tangan Uzumaki.

Karena tidak tahu harus melakukan apa, Hinata mengambil daun momoji yang jatuh ia robek daunnya sedikit demi sedikit. Matanya melirik sana-sini, lalu ia sedar tidak jauh darinya ada seorang lelaki berkulit putih yang tertidur, ditangannya ada sebuah buku. Lelaki itu selalu disana setiap kali ia mendatangi Naruto, selalu tekun belajar. Tipe manusia pintar.

Ia melirik kembali kotak bekalnya, tidak ada salahnya kalau ia berikan saja pada pemuda itu. Daripada bekal makannya terbuang percuma.

Dengan langkah pelan ia datang dan menaruh bekalnya di depan laki-laki itu, ketika ia hendak duduk dengan tiba-tiba pemuda itu membuka mata. Pandangan mereka bertemu, mata hitam dengan sorot yang tajam itu membuat Hinata terkejut.

Kemudian gadis itu buru-buru memalingkan muka yang sedikit bersemu merah, mereka jarang saling memandang satu sama lain. Biasanya, Hinata akan menaruh bekal di depan pria yang tidak diketahui namanya itu.

Lelaki itu akan makan dalam diam, ia juga diam. Mereka tidak pernah bicara tapi, bekalnya tidak pernah ada sisa. Kemudian mereka akan duduk tanpa ada yang bicara sampai masa istirahat berakhir.

Kebiasan ini Hinata jalani beberapa bulan yang lalu, saat ia mulai memberanikan diri untuk mengantar bekal buat Naruto. Namun bekalnya selalu berakhir untuk lelaki yang ia tidak tahu namanya itu.

Hinata kembali menjilat es krim rasa cokelatnya, sebenarnya di lidahnya rasa es krim itu hambar. Lagian semestinya ia tidak memakan makanan anak kecil itu lagi.

Namun ia tidak tahu harus melepaskan rasa kesalnya dengan bagaimana lagi. Ia tidak mau menangis seperti anak kecil, ia sekarang sudah dewasa masalah seperti itu semestinya ia tahu penyelesaiannya. Namun, ia memang tidak tahu harus berbuat apa.

Di rumah besarnya ada ayahnya yang selalu bertengkar dengan ibu. Semestinya mereka bercerai setahun yang lalu. Namun mereka menunda, karena bisnis mereka berdua tidak dalam kondisi baik. Hinata lebih tenang kalau mereka berdua tidak ada di rumah, tapi gadis itu merasa kesepian selalu sendirian.

Ia tidak suka bila orang tuanya di rumah, tapi ia lebih tidak suka kalau mereka meninggalkannya.

Es krim yang ada di tangannya meleleh seiring dengan air matanya. Duduk di taman dengan mata sembab sungguh ia seperti anak kecil, persis ketika ia masih gadis SMU yang rapuh. Tapi, ia tidak bisa menghentikan air mata itu.

Es krim di tangan akhirnya ia buang ketika mengotori tangannya, ia terkejut ketika ada yang menyodorkan sapu tangan kearahnya. Ketika ia mendongak ia melihat lelaki yang selalu ia berikan bekal di kampus.

Pria dengan wajah yang tidak dapat ditebak, terlalu datar.

"T-terimakasih." Ucapnya terbata, tidak terbiasa berbicara dengan orang namun, ia merasa tidak sopan kalau tidak bilang terimakasih. Lelaki itu tidak menjawab, ia duduk di sampingnya tanpa bicara apapun.

Waktu berlalu begitu saja, Hinata dan lelaki tanpa nama itu masih betah duduk di bangku taman tanpa ada yang bicara. Hinata merasa nyaman walaupun mereka hanya diam begini.

Gadis itu akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya, ketika ia melihat seorang anak kecil bersama ayahnya. Ia merasa iri dengan kebahagian orang lain.

"Apa kau punya orang tua?" Tanyanya tidak untuk mengharap jawaban, namun pria itu menjawab setelah melirik gadis itu, "Tidak, mereka sudah lama meninggal."

Hinata terkejut untuk beberapa detik karena pemuda itu memberi jawaban seperti itu dengan santai, dan karena beberapa alasan ia terpana mendengar suara lelaki di sampingnya. Ini suara lelaki ke tiga yang ia dengar, suara ayahnya, suara Naruto dan lelaki ini sungguh berbeda.

Namun, ia menyadari bertapa lebih enak hidup pemuda disampingnya. Daripada melihat orang tuamu yang bertengkar, lebih baik mereka tidak ada.

"Kau beruntung." Lelaki itu menatap bingung, "Beruntung?" Hinata tersenyum miris, bagi orang lain ia pasti dianggap aneh.

"Daripada melihat mereka bertengkar, lebih baik mereka tidak ada, kan?"

"Hn." Hinata langsung berpaling melihat dengan lekat-lekat pada orang disampingnya, jawaban yang tidak Hinata harapkan.

Lelaki dengan rambut hitam bermodel aneh, kalau diperhatikan lebih dekat lelaki ini lumayan tampan. Kulitnya putih dan wajahnya mirip cewek. Di Jepang cowok seperti ini biasa di sebut cowok cantik.

"Lebih baik melihat mereka hidup dan tersenyum padamu, daripada hanya melihat lewat gambar yang tidak bisa bicara, dan tidak menyambutmu ketika pulang." Aneh, Hinata tahu bukan kata-kata yang menenangkan tapi entah kenapa bibirnya menghadirkan senyuman. Ia jadi tertarik ingin mengetahui nama pemuda itu.

"Namamu?" lelaki itu melihatnya lagi, benar-benar cowok berparas cantik. "Sasuke, Sasuke Uchiha." Nama yang sangat cantik, cocok dengan wajahnya. "Namaku Hinata Hyuuga salam kenal"

Itulah awal bagaimana ia tahu nama pemuda itu. Setelah itu Hinata selalu membawa bekal untuk pemuda itu di kampus, walaupun niatnya selalu untuk Naruto

Hinata tidak menyangka hubungan mereka yang aneh pada suatu hari menjadi semakin aneh, ketika pemuda itu mengajaknya pacaran. Waktu itu Hinata tidak berpikir banyak, ia hanya menganggap rasa suka pada Naruto tidak berkembang banyak.

Lalu ia berpikir, apa salahnya menjalani hubungan dengan Sasuke. Seiring berlalu waktu ia menyadari satu hal. Sasuke ternyata begitu berarti bagi hidupnya.

Pria itu memang tidak mudah menyampaikan isi hatinya secara terbuka, namun Hinata jelas tahu bagaimana baiknya pria itu.

Mulanya Hinata berpikir Sasuke sama seperti dirinya yang jarang bersosialisasi, namun ia salah ketika ia di perkenalkan dengan kedua temannya. Hinata tidak pernah menduga kedua teman Sasuke adalah orang yang dikenalnya. Naruto dan si gadis merah jambu.

Ia merasa aneh ketika mereka duduk berempat, hawa tidak nyaman begitu menguar. Sasuke yang diam dan Naruto yang mengoceh ,tidak percaya Sasuke punya pacar, kelihatannya pria pirang itu senang mengetahui Sasuke sahabatnya tidak lagi sendiri. Sedangkan si gadis merah jambu memandang benci padanya.

"Yo… Sasuke! ceritakan dong, bagaimana awal mulanya kalian kenal! Dattebayo!" Ucap si pirang penuh semangat, "Iya, kan Saku-chan?" Muka perempuan merah jambu itu memandang Naruto tidak senang, ia lalu meneruskan minum jus yang ia pesan mengabaikan Naruto sepenuhnya. Kemudian si pirang langsung menuntut jawaban dari Sasuke.

"Hn." Pria itu sama sekali tidak berminat, Naruto menghela nafas. Tahu seperti apa sahabatnya. Mungkin yang ia bisa lakukan adalah mencoba mengorek informasi pada gadis disebelah Sasuke.

"Namamu Hinata, ya? Boleh kupanggil Hinata-chan?" Tanya Naruto antusias sambil mendekatkan mukanya di depan wajah Hinata. Gadis itu tidak siap dengan gerakan tiba-tiba Naruto. Sejujurnya walau ia pacaran dengan Sasuke. Perasaan pada cinta pertamanya tidak mudahlah terlupakan.

Hinata hanya sedang mencoba untuk menyukai Sasuke, dan kelihatannya sedikit demi sedikit hampir berhasil, andaikan si pria ini tidak muncul seperti ini.

"Tidak boleh, ya?" Tanya Naruto kemudian dengan rasa kecewa. Sedangkan Sasuke mendorong wajah Naruto. "menjauhlah darinya, Naruto." Si pirang itu langsung tertawa.

"Oho…kau sangat protektif, ya?" candanya sambil mencolek dagu Sasuke, membuat lelaki itu mendelik tidak suka, yang disambut tawa lebih keras dari si pria pirang itu.

Hinata memang tidak terbiasa dengan sifat Naruto yang kelewat gembira, namun ia sama sekali tidak terganggu. Karena yang membuatnya terganggu sampai ia merasa tidak enak, adalah pandangan penuh kebencian yang Sakura tunjukkan padanya.

Entah kenapa, gadis itu mengeluarkan aura senegatif itu.

Tapi itu tidak lama, karena setelah hari itu, perempuan berambut merah jambu mendatanginya. Menyuruhnya meninggalkan Sasuke. Sungguh lucu sekali perempuan ini begitu pikirnya, dan ia tahu kenapa selama ini perempuan itu tidak mau bersahabat dengannya.

Setelah lulus kuliah, Hinata memang jarang bertemu Naruto maupun perempuan merah jambu lagi, hubungannya dengan Sasuke juga semakin intim, ia bahkan sudah mengenalkan pada ayahnya.

Hinata memang Cuma mengenalkan pada ayahnya saja, karena beberapa minggu belakangan ayahnya resmi bercerai dari ibu dan hak asuh dirinya jatuh ke tangan ayah. Hiasi memang sangat terang tidak menyukai Sasuke karena status sosial diantara mereka, namun ayahnya tidak menentang hubungannya dengan Sasuke. Asal pria seperti Sasuke punya perkerjaan yang jelas dan punya jabatan yang memang tidak memalukan di kantornya.

Hinata dan Sasuke memang bisa tenang menjalani percintaan mereka, karena Sasuke masuk dalam perusahaan yang terbilang cukup bonafit di kotanya. Walaupun statusnya hanya pengawai biasa, namun ia cukup yakin ia bisa memperoleh jabatan yang tinggi.

Walaupun kadang-kadang cukup risih, karena ia bekerja pada keluarga Haruno. Bukan apa-apa ia cukup tahu kalau putri tunggal mereka menyukainya. Namun ia selalu berusaha bersikap professional.

Baginya Hinata saja sudah cukup, untuk masuk kedalam kehidupannya yang gersang, sebab hidup Hinata tidak kalah gersangnya. Ia dengan mudah bisa berbagi dengan wanita itu. Baginya yang selalu berada di Neraka kesepian, Hinata seperti air dan api. Bisa menerangi dan menghidupkan kekeringan di hatinya.

Apapun akan ia lakukan, asal Hinata selalu baik-baik saja dan tidak meninggalkannya.

Lelaki dengan rambut pirang itu berkali-kali bersiul gembira, kadang ia mencuri-curi pandang pada orang yang sibuk di ruang dapurnya. Seseorang yang pasti membuat ia senang kalau ia ada di rumahnya yang sepi.

"Sakura-chan, buat apa repot. Bikin mie ramen aja." Orang yang di panggil Sakura itu langsung mendelik marah padanya. "Kalau kau terus makan makanan tidak sehat itu, suatu saat kau pasti akan tumbang," ia diam sejenak, sebelum berteriak.

"—Dan aku juga yang repot, kan!" Naruto tertawa, kalau ada Sakura rumahnya memang tidak akan sepi. "Direpotkan pacar sendiri, kan tidak apa." Dan sendok mampir ke wajahnya.

"Aku bukan pacarmu!"

"Ya, ampun kau merah, saku-chan. Kau malu ya, kubilang pacarku ~" Dan laki-laki itu menunjuk-nunjuk mukanya sambil nyengir tidak jelas, membuat perempatan di dahi lebar Sakura.

Buk-Buk~~~ dan Sakura menimpuk Naruto membabi buta, lelaki dengan rambut pirang itu berkelit. Dan akhirnya mereka kejar-kejaran di apartemen mewah itu. Benar… kalau ada Sakuranya, hidupnya selalu ramai dan penuh warna. Ia berjanji akan selalu melindungi wanita ini dan melakukan apapun demi kebahagiannya.

Dari sejak kecil, ia sudah kenal Sakura karena keluarga mereka berteman. Sakura sangat baik padanya di rumah maupun di sekolah. Baginya Sakura sosok wanita hebat, pahlawan di hatinya.

Waktu kecil Naruto cuma bocah mungil dan kadang selalu di bully, namun Sakura selalu berada di depannya menghajar laki-laki yang selalu membullynya. Ia pernah berjanji saat ia dewasa ialah yang akan melindungi Sakura. Melindungi kebahagiannya, walaupun ia harus berkorban ia pasti akan melakukannya.

Namun saat mereka remaja, Sakura dengan gamblang bilang kalau ia menyukai Sasuke. Pria bernama Sasuke juga teman masa kecil mereka, hanya saja Sakura tidak menunjuk gelagat menyukai pria itu. Naruto pikir perasaan Sakura pada suatu hari akan hilang. Tapi…

"Bawa pulang Sasuke, Naruto. Hic… aku tidak tahu harus minta tolong siapa lagi, hic… hanya kamu yang bisa, bawa pulang untukku." Itu yang di katakan Sakura di pagi yang tidak menyenangkan itu, saat wanita itu tahu Sasuke berniat menikahi Hinata. Saat itu Naruto tidak tahu harus bilang apa. Suara tangisan wanita yang disayanginya itu menyayat sampai ke ruang terdalam hatinya

Padahal saat tahu Sasuke pacaran dengan gadis lain, hatinya bersorak gembira karena tahu, tinggal selangkah lagi ia bisa mendapatkan Sakuranya. Tapi ia salah Sakuranya masih tetap menginginkan sasuke, tidak pernah menginginkannya. Rasanya sakit, di dadanya ada ribuan jarum yang menusuk tepat di jantungnya.

"Kau tahu? Katanya Hinata dulu pernah menyukaimu, hic…Naruto. Tolong aku." Mungkin benar kata orang cinta membutakan orang. cinta membuatmu bisa menyanyangi orang, cinta juga dapat menyakiti orang.

Entah karena sakit yang tak tertahan di dadanya atau karena otaknya mulai tidak bekerja sempurna, tanpa sedar ia berdiri di rumah wanita itu. Menekan belnya berkali-kali.

Saat wanita bersurai indigo itu berdiri di depannya, tanpa pikir panjang ia berkata. "Kalau meninggalkan Sasuke, aku akan menikahimu." Tuturnya tanpa perasaan, wanita di depannya terkejut lalu mukanya memerah.

"Apa yang terjadi, Naruto-kun?" Tanya wanita itu, walaupun agak terasa aneh entah kenapa wajah wanita itu nampak senang. Ia tahu ini mungkin kelakar atau karena pria ini mabuk, tapi seandainya itu bohong hatinya tetap saja bersorak senang.

"Akan kuulangi sekali lagi. Aku akan menikahimu kalau kau meninggalkan Sasuke," Tuturnya kembali dengan wajah datar.

"Nanti malam aku akan datang melamarmu." Mungkin Naruto tidak berpikir banyak saat mengatakannya, tidak tahu dampak yang ia timbulkan. Yang ia rasakan di dadanya adalah gelisah.

Yang ia pikir dengan hatinya yang kalut, adalah memisahkan Sasuke dan Hinata dan membahagiakan Sakuranya yang menderita.

Ya… ia memang tidak berpikir banyak sekarang.

Hinata yang ditinggalkan di pintu depannya masih tidak percaya dengan kedatangan Naruto yang tiba-tiba. Mimpinya yang selama ini ingin bersama Naruto, tepat berada dihadapannya.

Memang ia tidak pungkiri biarpun sekarang ia mencintai Sasuke, disudut hati terdalamnya masih ada sedikit rasa untuk cinta pertamanya.

"Siapa?" Hinata yang masih berdiri di depan pintu terkejut, ayahnya memandang datar ke arahnya.

"Aku dilamar." Jawab Hinata pelan, ayahnya mengernyit bingung. "Sasuke?" dan dengan cepat Hinata menggeleng.

"Bukan, kalau yang ini ayah pasti suka." Ya, kalau sedari awal Naruto yang jadi kekasihnya, ayahnya pasti tidak akan memandang rendah pacarnya. "Namanya Naruto pewaris tunggal Namikaze."

Hiasi diam, memandang putrinya ia tidak berkomentar apapun, "Katanya nanti malam ia akan datang melamarku."

"Hinata. Jangan kecewakan ayah." Dan Hinata tidak bisa menahan senyumnya.

Waktu itu Naruto memang kurang waras, karena patah hati ia jadi kehilangan akal sehatnya. Karena itu saat ia selesai mandi dan otaknya kembali normal, ia tahu apa yang ia lakukan adalah konyol.

Pasti Hinata menganggapnya gila waktu itu, terserah apa yang dipikirkan wanita itu, ia segera menghubungi orang kepercayaan ayahnya dan menangani perusahaan ayahnya selama ia masih belajar.

Tujuannya satu, pergi dan menjauh dari Sakura sejauh-jauhnya, kalau cara itu bisa menyembuhkan luka hatinya. Ia berniat akan pergi selamanya.

Dan mungkin ia tidak pernah menyadari, kekacauan yang ia akan buat di keluarga Hyuuga.

Saat itu Hinata memandang khawatir ke arah pintu berkali-kali, sedangkan ayahnya duduk tenang di atas sebuah sofa. Malam semakin larut, jam menunjukkan sepuluh lebih dan Naruto tidak menunjukkan batang hidungnya.

Hinata mulai merasa cemas, sekarang ia tahu perkataan Naruto waktu itu tidak bisa di pegang kebenarannya. Kenapa ia ceroboh dengan mudahnya percaya hanya karena secuil mimpi di masa lalunya. Ia tahu berada dalam situasi gawat, saat ayahnya mulai memandang tajam ke arahnya.

"Sekarang ayah tahu,kau tidak seserius itu dengan Sasuke." Perkataan dingin itu menikam dirinya, salahnya sendiri. Ini salahnya.

"Ayah tidak akan menundanya lagi, kau ingat keluarga Hatake yang ayah perkenalkan padamu? Ayah akan menikahkanmu dengan putra mereka."

"Ayah, aku…" sekarang ia mati kutu. Mestinya ia tidak berpaling dari pria yang ia cintai, semestinya ia tidak membiarkan Naruto muncul di hatinya walaupun sesaat. Sekarang ia menyesal.

"Hinata, ayah membiarkanmu berhubungan dengan Sasuke karena ayah berpikir kau akan bahagia dengannya, tapi ayah tahu sekarang kalau ia tidak akan bisa membahagiakanmu. Perasaanmu masih goyah,"

" Ayah yakin, Hatake adalah pria cocok denganmu, ia adalah lelaki yang bisa membimbingmu dan ayah juga yakin ia bisa membuatmu bahagia."

Benar ia sekarang tidak punya pilihan, semua karena salahnya. Tidak… kalau saja Naruto tidak datang, kalau saja Naruto tidak menggoyahkannya semua pasti akan berjalan dengan baik. Semua ini salah pria itu, ia yang harus bertanggung jawab atas semua penderitaannya.

"Jangan seperti ini, Hinata." Mohonnya, wajahnya kusut karena kurang tidur. Ia nekat memasuki rumah itu setelah beberapa hari selalu di usir.

Berkali-kali Hinata ingin menangis, tapi ia harus tegar. Dirinya memang tidak pantas bersama Sasuke yang baik. "Maaf Sasuke-kun. Pulanglah." Kata Hinata sambil memaksa senyum di bibirnya.

Sasuke mencengkram bahu wanita itu, hatinya kalut, cemas melihat gaun putih yang dipakai wanita itu. Tahu wanita akan menjadi milik orang lain membuat ia takut.

"Hinata, jangan tinggalkan aku, aku akan berusaha lebih baik lagi, aku pasti…" perempuan itu menggeleng, kemudian memeluk pria itu sambil mencium pipinya. "Kau pria baik Sasuke, wanita jahat seperti aku tidak pantas bersamamu."

Pria tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk wanita ini, ketakutan di hatinya membuatnya mendekap tubuh Hinata lebih kuat. Tidak mau melepasnya.

"Sasuke?" pria itu mendekapnya lebih erat, Sasuke tidak pernah tahu caranya menangis, tapi karena perempuan ini air matanya perlahan turun membasahi pipi dan gaun putih milik Hinata.

"Maaf…" Dan dengan dorongan cepat, Hinata berlari menjauhinya, Sasuke kalut ikut mengejar Hinata yang memasuki mobil yang mengantarnya ke Gereja. Hiasi memandang Sasuke yang berlari mengejar anaknya. Lalu dua orang dengan tubuh besar menghalangi Sasuke.

Mobil itu kemudian melaju di depannya, meninggalkan Sasuke sendirian. Kepalanya berdenyut sakit, hatinya seperti mengerut. Berkali-kali ia memukul bagian itu, namun tidak mengurangi rasa sesaknya.

Seorang wanita yang tidak beberapa jauh darinya, memandang khawatir dengan keadaan lelaki itu. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, ia yang akan menghapus luka di hati Sasuke.

Tbc

Maaf kalau ini masih ada typo, aku sudah berusaha semampuku, terimakasih udah membaca, tolong di review, ya ^^