Half Of My Soul
Rating : T
Pairing : Sasuhina/Narusaku
Genre : Hurt/Comfort/ Romance
Warning : AU, OOC, typo, abal, geje, dan lain-lain
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 8. sebuah keputusan diambil
Naruto berjalan terhuyung-huyung, berkali-kali ia tersandung dan terjatuh sedangkan mulutnya tidak berhenti mengoceh.
"Sakura! Hic… Sasuke! Hic… Kalian sialan!" kemudian ia jatuh terlentang di atas tanah, perlahan air matanya turun. Segala memori bodoh berputar-putar di kepalanya. Selama hidupnya ia tidak pernah melihat dunia lain, selain dunia Sakuranya.
Ia tidak pernah menyerah, walau ia tahu perempuan yang paling dikasihinya memilih orang lain. Sasuke pernah bilang kalau ia lelaki super bodoh.
Ternyata semua yang dikatakan oleh lelaki itu benar, dirinya tidak ubah layaknya manusia bodoh. ia selalu hidup dalam bayang Sakura, selalu tidak berdaya di depan perempuan itu. Tidak bisa melakukan apapun tanpa dirinya.
Ia juga selalu menuruti semua keinginan Sakura, walaupun kadang permintaan itu menyakiti hatinya. Sekarang ia tahu kenapa Hinata membencinya, memori itu nampak jelas di dalam otaknya.
Dilain tempat Sakura buru-buru masuk ke Bar, matanya dengan cepat mencari keberadaan Naruto. Namun nihil, lelaki itu tidak ada.
Ia bergegas keluar begitu dapat informasi dari pelayan disana, kalau lelaki itu baru saja keluar. Perempuan itu cemas, Naruto kalau mabuk sering melakukan hal bodoh.
Setelah satu jam tanpa lelah ia mencari, akhirnya wanita bersurai merah jambu itu menemukan Naruto. Terlentang di depan sebuah toko pakaian sambil terkekeh dan meracau. Ia bergegas ke sana.
"Naruto kau tak apa-apa? Kenapa tidur disini?... ayo pulang!" ia menarik tangan si pirang, namun pria itu tidak bergeming. Membuat Sakura menyerah, ia ikut duduk di dekat Naruto berbaring.
"Sakura, jangan lepaskan Sasuke! Wanita itu tidak pantas bersamanya." Sakura melirik pemuda itu yang memejamkan mata, entah pria itu sadar atau tidak?
"Naruto, ayo pulang." Pintanya lagi, lemah. "—Aku cinta padamu Sakura." Lalu pria pirang itu menangis seperti anak kecil, Sakura menengadahkan kepalanya memandang langit malam.
"Aku tahu… hanya pura-pura tidak tahu," Sakura berbisik, kemudian mengenggam tangan lelaki itu yang kelihatan begitu lemah. "Ayo pulang."
…
Entah berapa lama ia tidur, Naruto tidak begitu mengingatnya. Saat ia bangun kepalanya luar biasa pening, mungkin karena ia mabuk semalam.
Akhirnya ia melihat sekeliling, ia tidur di atas sofa dan ruangan itu begitu familiar, saat sadar di rumah mana ia sekarang. Naruto terkejut lalu berdiri tiba-tiba.
"Kau sudah sadar?" ia melihat Sakura membawakan teh hangat untuknya. "Minum ini." Katanya sambil tersenyum.
"Mana Sasuke?" Ia melempar pertanyaan, saat ia tidak menyadari kehadiran suami Sakura di rumah. Wanita itu tidak menjawab ia malah menaruh gelas itu di atas meja. "Minum teh pahit ini dulu, biar mengurangi sakit kepalamu."
"Ia pergi ke tempat perempuan itu?" tanyanya denga rasa sebal, meminum dengan cepat minuman Sakura lalu secepat kilat pergi.
"Mau kemana?" Sakura menahan Naruto. Pria itu memandang Sakura dengan rasa kesal dan gemas.
"Kau akan membiarkan mereka?!" perempuan itu menunduk, membuat Naruto semakin kesal.
"Dengar, Sakura. Perempuan itu…" Naruto menahan hasrat amarahnya yang meledak-ledak. "Tidak pantas bersama Sasuke!"
"Seperti janjiku padamu dulu, aku akan membawa pulang Sasuke padamu." Namun Sakura masih menahan tangannya. Mengucap dengan terbata-bata. " A-ku sudah memutuskan, bercerai!" Naruto terbelalak.
"Apa!? Kau sadar apa yang kau ucapkan! Sakura?!" Pria pirang itu mengguncang bahu Sakura tidak percaya.
"Kau tahu kenapa perempuan itu, melakukan ini?! Itu karena ia membenciku! Ingin membalas dendam padaku! Apa kau akan membiarkan ia menang, hah ?!" Ucapnya secara keras penuh emosi.
"Dendam!?" Tanya Sakura polos, ia memang tidak mengerti apa yang dibicarakan Naruto.
"Ia dendam padaku karena kejadian yang lalu! Kau ingat saat kau bilang wanita itu menyukaiku? Waktu itu aku memang datang padanya." Sakura menutup mulutnya, ingat tentang keegoisannya dimasa lalu. Tapi waktu itu ia hanya sedang patah hati dan terluka, karena tahu orang yang sangat ia cintai ingin menikahi orang lain.
Tidak ada niat atau kepikiran Naruto melakukan permintaannya. "Kau melakukannya?" tanyanya syok, saat Naruto mengangguk lalu ia menangis..
"A-Aku… apakah aku orang yang menyebabkan kalian terluka, kau dan Hinata! Sasuke juga?" Naruto kembali menggenggam bahu wanita itu, lalu menggeleng kepalanya. "Tidak! Kita sama sekali tidak bersalah, Sakura,"
"Kita bukan penyebab kesalahan yang dibuat wanita itu. Wanita itu tidak pernah mencintai siapapun! Aku ataupun Sasuke."
"Ia meninggalkan Sasuke karena kemauannya. Kalau ia mencintai Sasuke, kenapa ia bisa meninggalkan Sasuke karena perkataan orang asing?" lanjutnya lagi. "Ia tidak berhak datang lagi dikehidupan kalian. Aku tahu Sakura, kaulah yang selama ini menemani Sasuke saat pria itu terpuruk."
Naruto menepuk bahu perempuan itu, lalu beranjak. "Yang egois adalah perempuan itu. Tetap di sini, tunggu saja kepulangan Sasuke." Setelah berkata seperti itu, Naruto kemudian pergi. Meninggalkan Sakura yang masih menangis.
…
Naruto menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah megah, tidak sulit baginya untuk mengetahui alamat seorang pengusaha sukses seperti Hatake. kemudian ia berdecak saat melihat sebuah sedan keluar dari rumah itu, karena ia tahu pemilik mobil itu. Milik Sasuke , jadi semalam pria itu memang disini.
Ia lalu turun dan bergegas memasuki rumah itu yang pagarnya, belum sempat ditutup oleh pelayan disana. Di depan pintu ia melihat perempuan berambut panjang berdiri secara gontai, mukanya menyirat rasa sedih.
Namun Naruto tidak tersentuh sama sekali, ia merasa jijik melihat kelakuan wanita itu.
"Aku ingin bicara!" Katanya tanpa basa-basi, Hinata melihatnya kemudian mengangguk.
Wanita itu duduk secara angkuh di depannya, Naruto melihat dengan muak wanita itu. "Kau ingin balas dendam padaku, kan? Kenapa kau juga menyakiti Sakura?" Tanya Naruto memburu. Hinata tersenyum.
"Kau masih sama, Naruto-kun. Emosi kalau sudah menyangkut Sakura." Ucapnya datar, Hinata sama sekali tidak terpengaruh pada kemarahan Naruto tunjukkan.
"Apa yang kau inginkan!?" Sialan! wanita itu benar-benar membuat Naruto ingin membunuhnya.
"Sakura benar-benar hebat, hm… disakiti seperti itu, kau masih mencintainya?" Naruto memukul meja dengan kasar.
Brakhhh! Namun wanita itu sama sekali tidak takut, ia malah terkekeh.
"Apa yang sebenarnya yang kau inginkan. Hah!" Tanya Naruto lebih garang. Perempuan itu memejamkan matanya. "Tidak ada… Pulanglah." Jawabnya santai. Pria pirang itu mengeram. Kemarahan berkumpul di kepalanya.
Ia menggebrak meja sekali lagi, kali ini sangat keras. Membuat meja yang terbuat dari kaca itu sedikit retak. Ia berdiri dan mencekal tangan Hinata. Sekarang perempuan itu ketakutan.
Tadi ia memang memasang wajah angkuh di depan pria yang pernah melukainya, tapi melihat tindakan lelaki itu. Membuat nyalinya ciut.
"Kau dendam padaku karena ke egoisanmu. Kau pikir aku penyebab kau meninggalkan Sasuke?! Menyedihkan! Kau perempuan yang menyedihkan ! Sekarang kau datang dan ingin mengambil Sasuke dari Sakura!"
wanita itu menepis tangannya, saat terbebas ia mengelus pergelangan tangannya. Ia mundur perlahan, ketakutan.
"Tidak akan kubiarkan! Wanita egois sepertimu menang!" Setelah mengatakan itu Naruto segera pergi dan menendang pintu kasar. Membuat para pelayan disana ketakutan.
"Anda tidak apa-apa. Nyonya?" Hinata menggeleng, tangannya masih sakit karena ulah pria pirang itu. Ia bernafas lega, saat Naruto sudah meninggalkan rumahnya.
"Jadi begitu, ya?" Hinata dan para pelayan terbelalak, memandang orang yang berdiri di depan mereka dengan dua tangan bersilang di depan dada. Memandang Hinata tajam.
"K-Kakashi-san!"
…
Sasuke menyetir dengan pelan… nafasnya ia hembus secara teratur, perasaannya lega walaupun ada sesuatu yang menganjal di hatinya. Setelah menyelesaikan tugasnya di kantor ia bergegas pulang, semasa bekerja ia bertanya-tanya kenapa istrinya tidak datang ke kantor.
Saat lampu merah menyala di depan, dengan perlahan ia menghentikan mobilnya. Ia memejamkan matanya dan ia ingat kejadian sebelum pulang dari rumah Hinata.
"Maaf, aku menghubungimu Sasu-kun. Aku panik. Karena Sai belum pulang." Sasuke tersenyum, "Tak apa, lagian sekarang Sai sudah ada di rumah." Hinata mengangguk, ia memang sempat cemas karena putranya tidak pulang, Sai bilang ia menunggu ayahnya di Bandara. Hinata memandang anaknya dengan rasa kasihan.
Setelah agak tenang, dan lega. Barulah Hinata sadar kalau lelaki ini tidak juga pulang. "Sasu-kun, kau tidak pulang? Nanti Sakura cemas." Lelaki itu melihat Hinata. Mereka duduk berdua di atas sofa di ruang tamu.
"Ia tidak ada di rumah." Hinata balas memandang pria ini, wajah yang yang tidak bisa ia tebak. "Kalian bertengkar?" Tanya Hinata cemas, Sasuke menggeleng.
"Biarkan aku disini, besok aku akan pulang." Hinata menyentuh wajah putih itu dengan perasaan sedih.
"Sasu-kun, aku masih mencintaimu." Ucapnya dengan sendu penuh kejujuran sambil menarik pelan anak rambut Sasuke, pria itu tersentak memandang dalam mata Hinata.
"Aku pernah melakukan kesalahan dimasa lalu, dan hampir saja aku mengulangi kesalahan itu sekarang. Aku tidak berharap kau memaafkan aku. Aku hanya ingin kau bahagia," Lelaki itu masih diam, memandang lekat Hinata. Wajah yang penuh gurat kesedihan itu ditutupi paksa dengan senyuman manis.
"Kau dengan Sakura, dan aku dengan Kakahsi." Sasuke ikut menyentuh wajah wanita dihadapannya, mencari kebenaran dalam kata-katanya. Wanita itu tersenyum lebih lembut.
"Malam ini tidurlah disini, besok pulang dan minta maaf pada Sakura. Aku juga akan berusaha melupakanmu dan menerima Kakashi dengan baik" Sasuke tersenyum, perasaanya mereka lega. Walaupun terasa sesak di dada.
Mereka memang harus mengakhiri semua ini. Mereka punya kehidupan yang berbeda. Untuk terakhir kalinya ia mencium kening wanita itu, dan besok mereka akan menjadi orang asing.
Sasuke berjanji ia akan berusaha lebih baik lagi pada Sakura. Dan melupakan perasaannya pada wanita dimasa lalunya ini.
Sasuke kembali membuka matanya, lampu lalu lintas sudah berubah hijau kembali. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman tulus.
Ia mempercepat sedikit laju mobilnya, ketika gerbang rumahnya terlihat. Ia memantapkan hatinya. Ia dan Sakura akan memulai dari awal lagi, ia akan berusaha walaupun sulit. Mungkin pergi sementara keluar negeri adalah solusi yang baik untuk memperbaiki hubungan mereka.
Ketika sampai ia berdiri di depan pintu memejamkan matanya sebentar, kemudian membuka pintu rumahnya perlahan. Disana Sakura berdiri, seakan menunggunya.
"Sakura." Istrinya bergerak ke arahnya, secarik kertas di genggaman tangannya. Sakura tersenyum manis, yang entah kenapa terasa aneh.
"Aku menunggumu… ni!" Katanya sambil menyerahkan kertas itu pada Sasuke. Begitu melihatnya Sasuke terkejut. "Apa ini Sakura!?" Ia sebenarnya tahu isi dari kertas itu, Sasuke hanya belum sepenuhnya percaya. Ia memandang istrinya dengan rasa penasaran.
Wanita itu tersenyum lagi kali ini lebih mantap. "Aku sudah memikirkannya, kurasa ini adalah keputusan yang tepat." Pria itu diam. Lalu mengembalikan kertas itu ke tangan istrinya.
"Kau salah paham tentang aku dan Hinata. Sakura," lelaki itu memejamkan matanya. "Kami hanya berte..."
"Sasuke!" Ucap Sakura tiba-tiba. "Naruto semalam mengatakan lagi kalau mencintaiku, padahal sudah berkali-kali kutolak. Tapi ia tetap keras kepala." Sasuke memandang istrinya heran.
"Pria itu memang bodoh! Aku takut semakin bertambah umur ia tambah bodoh." Wanita bersurai merah jambu tertawa lembut. "Kemarin ia punya pacar, tapi malah dibodohi oleh perempuan itu. Makanya aku diharus disampingnya biar ia tidak dimanfaatkan oleh orang lain."
Sasuke tercengang sebentar, kemudian ia sadar apa yang sedang istrinya perbincangkan. Ia tidak marah, ia tahu bagaimana perasaan Naruto pada Sakura.
Dulu ia juga tidak berniat mengambil Sakura dari Naruto, tapi nasip memang aneh mempermainkan mereka.
"Waktu dulu saat pertama kali aku memperkenalkanmu pada ayah. Beliau terkejut dan kecewa, ayah pikir Naruto yang jadi suamiku, ayah memang aneh, katanya rambut Naruto mirip ibu." Sakura tertawa lagi sedikit lebih keras.
Terus ia kembali bercerita, walaupun ia tidak tahu Sasuke mau mendengarnya atau tidak. "Tadi ia juga bilang ingin berlibur denganku dan Naruto." Sampai di sini Sasuke mengulas senyum sedikit. "Ia ingin mengenang ibu katanya, kau tahu ayah dan ibu pertama kali bertemu di Hawai?"
"Sakura apa kau yakin?" Tanya Sasuke dengan serius, dan wanita itu mengangguk yakin. "Selama ini Naruto selalu mengikuti keinginanku, sekali-kali aku juga ingin menuruti permintaannya." Sakura menghembuskan nafas, lalu mengikat rambut sebahunya. Ia kembali menyerahkan kertas itu ke tangan Sasuke, pria itu cukup mendatangani surat itu. Dan mereka resmi bercerai hari ini.
Sakura akhirnya lega. Seandainya beberapa tahun yang lalu ia menyadari perasaannya ini, mungkin ia, Naruto dan Sasuke tidak harus terjebak dengan hubungan yang rumit ini.
Setelah kejadian pagi tadi dengan Naruto. Ia pikir keputusan ini bukanlah keputusan yang buru-buru ia buat. Ini adalah kemantapan hatinya. Matanya terbuka, bertapa Naruto selalu ada disampingnya. Selalu ada setiap kali ia butuhkan, padahal ia sudah berkali-kali menyakiti pria itu. Tapi Naruto selalu memaafkannya, menyayanginya, selalu membuat ia bahagia. Walaupun kadang yang pria itu lakukan adalah kesalahan.
"Baiklah." Sasuke mungkin akan hidup dengan wanita ini, kalau Sakura memintanya. Tapi keputusan wanita itu ia piker juga baik. Mereka tidak mungkin hidup dalam rumah yang sama dengan perasaan yang berbeda. Mungkin setelah ini ia akan sendiri lagi.
Kesepian seperti dulu. Ia tidak akan memaksa perempuan ini.
"Aku akan mengurus masalah kepimpinan perusahaan, aku akan mengundurkan …"
"Sasuke!" Sakura memotongnya lagi. "Kau pikir aku akan lapar kalau aku berpisah denganmu!"
"Heh?" Wanita itu menyilangkan tangannya di dada, memandang Sasuke sebal. "Naruto lebih kaya darimu tahu!"
Sasuke memandang wanita itu lagi, tidak berkedip. "Aku percayakan perusahaan padamu. Kau orang yang tepat memimpim perusahaan itu, Sasuke." Sakura tersenyum lembut, dibalas Sasuke dengan senyum juga.
…
"Kyaaaaa! Lepaskan nyonya tuan!" Salah satu pelayan yang umurnya sudah masuk usia senja, memeluk wanita yang sedari tadi diseret oleh tuan mereka.
Lelaki itu memandang tajam pelayan di rumahnya, air mukanya keras, ia murka. Tangannya mencengkeram rambut wanita yang berstatus sebagai istrinya. Wanita berambut panjang itu, terseok-seok di atas lantai, air matanya mengalir deras. Berkali-kali ia memohon pada suaminya.
"Lepas! Atau kau mau kupecat?!" Suaranya berat, mengancam. Perempuan itu mundur dan hanya bisa menagis, memandang nyonyanya dengan rasa kasihan, sama seperti para pelayan yang lainnya.
"Kakashi-san."
"Kau juga diam! Perempuan sialan!" Matanya nyalang, ia menarik helaian rambut itu semakin kuat. Marah, benci dan perasaan murka menjadi satu di kepalanya. Ia bahkan tidak peduli pada jeritan memilukan dari mulut istrinya.
Sudah lama ia memadam rasa kesal akibat periku dingin Hinata padanya, ia tahu perempuan itu mencintai orang lain.
Kadang ia melepaskan semua stress dengan tidur dengan wanita lain.
Puncak kemarahannya saat ia tahu istrinya sering bertemu dengan mantan kekasihnya. Apalagi saat ia mendengar seseorang yang datang pada istrinya tadi pagi.
Pria itu masih tenang mendengar penjelasan istrinya, namun saat Hinata mengakui semua kesalahannya. Amarahnya memuncak, ia merasa dipermainkan oleh wanita itu dan keluarganya.
Apalagi menyadari ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ayahnya wanita itu sudah lama mati, alhasih ia melempar kesalahan pada istrinya. Menyeretnya ke kantor polisi.
"M-maafkan aku! Tolong lepaskan aku Kakashi-san!" Lelaki itu semakin kuat menarik rambutnya, terus menyeret istrinya yang ketakutan. Wanita itu berusaha menahan tubuhnya dan rasa sakit, ia takut.
"Lepas-katamu! Kau tahu berapa kerugian yang telah ku keluarkan untuk menolong ayahmu waktu itu !~hah!" Hinata memukul-mukul tangan Kakashi, agar melepaskan rambutnya. Rasanya sakit.
"Kau dan ayahmu sama-sama penipu!" Katanya keras. Begitu mendengar ejekan suaminya, Hinata melotot dengan berani ke arah kakashi. "Ayahku bukan penipu! jadi Kakashi-san selama ini kau tidak pernah iklas menolong kami? Kau menuntut jasa!"
Plak!—tamparan dengan kasar mendarat di pipi mulus Hinata, meninggalkan jejak merah. Namun Hinata tidak menangis, ia menahan rasa sakit di pipinya.
Kakashi menunduk dan mencengkeram mulut istrinya. "Kau tidak pernah bersikap selayaknya seorang istri." Hinata memandang nanar suaminya. Kakashi benar, Hinata memang lebih sering menolak pria ini, bersikap dingin padanya.
Tapi sekarang ia ingin berubah, ia sudah berusaha merelakan Sasuke dengan Sakura. Ia ingin memulai dari awal lagi kehidupan suami istri dengan Kakashi. Walaupun ia tahu Kakashi pernah main dibelakangnya.
Ia akan berusaha memaafkan lelaki itu, karena ia tahu prilaku suaminya karena kesalahannya juga. Selalu tidak peduli dengan laki-laki itu, karena itu Kakashi lebih sering pergi daripada tinggal di rumah. Membuat Sai—anaknya kesepian.
Tapi Kakashi tidak mau mendengarkannya. Emosi membuat lelaki itu murka.
Laki-laki itu kembali menyeret wanita itu. "Kau harus membayar semua kesalahan ayah dan perbuatanmu. Atas kerugian dan penderitaanku!"
Hinata kembali menangis, ia takut berurusan dengan polisi, takut berada dibalik jeruji. Yang bisa ia lakukan memohon meminta belas kasihan dari pria itu. Sesaat kemudian Sai datang dan menahan lengan ayahnya. Ia menangis ketakutan.
"Ayah lepaskan bunda! Bunda mau dibawa kemana!?" Tanpa belas kasihan karena dikuasai emosi, ia mendorong tubuh kecil Sai dengan kasar.
Bocah itu terhempas ke dinding dengan suara keras, menimbulkan teriakan panic Hinata dan beberapa pelayan. Kakashi terkekeh wajahnya terlihat menakutkan.
"Mungkin saja ia bukan anakku, siapa tahu selama ini ia hasil dari perselingkuhanmu."
"Kakashi-san!" Hinata berdiri dengan cepat, tidak terima perkataan suaminya. Seakan-seakan menilai dirinya murahan. Namun lelaki itu menariknya cepat, memasukkan tubunya ke dalam mobil dan meninggalkan rumah dan seorang bocah yang sedari tadi tercenggang karena syok.
Sai ketakutan, ia tidak pernah melihat ayahnya sebegitu menakutkan. Memang selama ini, ayahnya kurang memperhatikan dirinya, tapi ayah tidak menakutkan seperti hari ini.
Sekarang ia harus menolong bundanya, ia tidak bisa diam saja. Ia harus meminta bantuan.
Kemudian ia ingat dengan pria yang sering menemui ibunya. Mungkin paman itu bisa menolong ibunya.
…
Naruto yang sedari tadi berputar-putar dengan mobilnya di jalan yang sama, mengacak rambutnya kesal.
Ia bingung, dalam hatinya ia ingin berbuat jahat. Mungkin Sakura akan ia dapatkan, tapi Sakuranya akan menderita.
Ia mungkin akan mendapatkan tubuh wanita itu, tapi perasaannya akan mati. Ia terdiam cukup lama tanpa tahu harus melakukan apa. Namun sebuah pemikiran hadir dalam benaknya.
Biarlah ia yang menderita lagi, asal Sakuranya bahagia. Tidak apa-apa! Ia pasti tidak akan apa-apa.
Perlahan air matanya turun. Dalam hatinya menyemangati dirinya sendiri.
Tidak apa-apa! Ia seorang laki-laki, ia sudah biasa sendirian. Kali ini ia kembali sendirian dan kesepian, ia sudah biasa. Tidak apa-apa! Ia yakin ia akan baik-baik saja.
Ia tidak boleh menangis, ia seorang laki-laki!
Ia bukan seorang bocah yang bersembunyi dibelakang Sakura lagi, tapi ia adalah lelaki sejati yang mempersembahkan kebahagian yang mutlak untuk Sakuranya.
Hanya untuk Sakuranya, demi Sakuranya tercinta.
Bukankah ia sudah berjanji pada Sakura dan dirinya sendiri, biarlah ia yang menanggung semua ini. Ia tidak akan apa-apa.
Karena sibuk dengan hatinya, tanpa Naruto sadari seorang bocah berlari didepannya. Membuat ia terkejut dan dengan tergesa-gesa menghentikan mobilnya mendadak.
Hampir saja ia membunuh orang, bocah itu terduduk di jalan tidak bergerak. Mungkin karena kaget. Naruto buru-buru keluar.
"Kau Tidak apa-apa? Bocah!" Tanya Naruto khawatir, bocah laki-laki itu belum sadar sepenuhnya, ketika bocah itu kemudian melihatnya. Ia menarik celananya membuat ia bingung.
"Tuan tolong antarkan aku ke rumah paman Sasuke!"
"Heh?" Naruto bingung juga tidak paham, kenapa bocah itu menangis. Namun karena orang semakin banyak berdatangan dan memandang curiga ke arahnya.
Ia terpaksa mengangkat anak itu dan memasukkan ke mobilnya.
"Jadi, bocah dimana rumah pamanmu?" Bocah laki-laki itu menggeleng dan terus menangis, Naruto menghela nafas berat, hari ini begitu berat yang ia jalani.
"Tuan, tolong aku antar ke rumah paman Sasuke, aku harus menolong bunda." Anak kecil itu terus memohon padanya membuat Naruto merasa kasihan. "Oke, baiklah." Kata Naruto pasrah.
Ia tidak tahu Sasuke yang mana yang dimaksudkan bocah itu, Sasuke satu-satunya ia kenal adalah teman sekaligus suami Sakura. Jadi kerumah itulah ia melaju.
Namun wajah kaget tidak bisa ia sembunyikan begitu menginjak rumah temannya tersebut. Di sana ia jelas melihat Sakura yang mendorong sebuah koper dan beberapa tas yang diangkat oleh Sasuke.
Ia tergesa-gesa menghampiri mereka, meninggalkan seorang bocah yang bersusah payah mencoba keluar. Naruto mengirim tatapan tajam pada Sasuke, namun lelaki berambut hitam itu hanya membalas datar.
"Ada apa ini?" Sakura langsung menyambut gembira kedatangannya. "Kau datang tepat waktu, Naruto." Ia langsung menyerahkan kopernya ke tangan Naruto. "Bantu aku membawa ini." Pria pirang berguman lirih.
"Ada apa ini, Sakura?" Tanyanya kembali, wanita itu menepuk lengannya sambil tertawa. "Ayah ingin pergi ke Hawai bersama dengan kita." Naruto semakin bingung, ia mengirim tatapan bertanya ke arah Sasuke, namun pria itu diam tidak bicara. Ia hanya menyerahkan beberapa tas Sakura ke tangan Naruto, membuat pria itu bersusah payah.
Kemudian lelaki dengan tampang cuek itu, mengalihkan perhatian, mengelus kepala Sakura. "Sakura, maaf selama ini kau sudah menderita bersamaku." Perempuan itu tertegun sebentar, mungkin ini kalimat yang jarang ia dengar selama ia bersama lelaki itu.
"Selama bersamamu aku bahagia, kok Sasuke." Kemudian ia tersenyum tulus, selama bersama Sasuke tidak dapat ia pungkiri ia merasakan kebahagian. Merasa dilindungi dan disayangi.
"Terimakasih selama ini sudah menemaniku." Untuk terakhir kali pria itu menghadirkan senyuman, membuat perempuan itu terpesona. Sasuke memang lelaki yang rupawan. Sedangkan Naruto ia belum paham, merasa bingung dan was-was dengan pembicaraan kedua temannya. Dalam otak terdalamnya ia takut berpikir kalau Sakura, telah memilih jalan yang akan membuatnya menyesal.
Ia menaruh semua barang dengan sembarangan, menarik kerah baju teman di sampingnya. "Ada apa dengan kalian! Hah!" Sakura buru-buru menarik si pirang. "Naruto! Bawa semua barangku ke mobilmu!" perintahnya tegas, Naruto tidak mengerti dengan perempuan itu. Apalagi dengan keputusan anehnya.
"Sakura kau tidak benar-benar berpikir untuk berpisah dengan Sasuke, kan?" Sakura memejamkan matanya, namun sebelum ia sempat menjelaskan seorang bocah berlari dan menarbruk Sasuke.
"Paman Sasuke! Tolong bunda! Ayah membawa bunda ke kantor polisi. Tolong bunda, kumohon." Sasuke mengelus kepala Sai, Naruto dan Sakura saling memandang. Mereka tidak pernah mengira Sasuke bisa dekat dengan anak-anak.
Laki-laki itu menggendong bocah itu, matanya memandang Sakura dengan arti 'aku minta maaf aku harus pergi' Sakura memang tidak tahu apa yang sedang berlaku, namun ia mengangguk menyetujui Sasuke pergi. Lelaki yang sekarang berstatus sebagai mantan suaminya, melesat pergi menggunakan mobil pribadinya.
"Apa itu anak Hinata?" Tanya Naruto penasaran, Sakura tidak tahu ia hanya menggelengkan kepalanya. Naruto terdiam beberapa saat, namun saat ia menyadari sesuatu. Ia mengguncang bahu Sakura dengan kuat.
"Sakura! Apa kau benar-benar… ! apa kau benar-benar membiarkan wanita itu menang! Wanita itu kau tahu, tidak pantas bersama Sasuke!"
Pak!
Sakura menampar pipi Naruto, tidak kencang hanya menipuk pipi itu sedikit. Namun Naruto sangat terkejut. "Apa Kau tidak dengar, ayahku ingin kita pergi menemaninya ke Hawai! Kau-dan-aku! Paham." Naruto bagai orang bego menggeleng, membuat Sakura menghela nafas.
"Ayah ingin menggenang ibu, kau tahu, kan mereka pertama kali bertemu di Hawai." Naruto tetap memandang Sakura bagai orang linglung. "Apa ayahmu juga tahu semua ini?" Raut wajah Naruto Nampak menyedihkan. Apa sebenarnya Sakura terluka? Ia pasti terluka? Pria itu takut melihat Sakuranya menderita, takut nanti Sakura akan menyesali semua ini.
"Aku tidak menyesal."
"Eh!" Hatinya mencelos, ia memandang lekat-lekat wanita itu, mencari kebenaran setiap kata-katanya.
BUK! Sakura kembali memukulnya, "Jangan pandang aku seperti itu, baka!" Wanita itu memalingkan mukanya, samar-samar Naruto melihat garis merah di pipi putih Sakura. Saat ia berbalik arah aura gelap yang muncul di wajah itu. "Cepat angkut barang-barangku. BAKA! Apa kau mau kita terlambat ke Bandara, ayah sudah lama menunggu tahu!"
"Ah… iya! Iya! Cerewet!"
BUAKH!
"Ah sial! kenapa terus memukulku?" Warna hitam sedemikian pekat di muka Sakura, membuat Naruto panik. "Apa aku Nampak sebagai wanita cerewet?"
"N-nggak, k-kau manis. Saku-chan! Ha… ha…" Lelaki itu tertawa hambar, ia senang wanita itu masih bersikap seperti biasanya. Tapi di relung hatinya, ia menyangsikan hati wanita itu.
Ia mengangkat beberapa tas berat dengan susah payah dan mendorong sebuah koper, Sakura berjalan di depan dengan santai. Tidak ada niat membantu.
"Saku-chan! Apa ini tidak apa-apa?" Sakura melirik laki-laki itu, ia tersenyum. Bertapa baiknya hati lelaki ini, kenapa ia baru menyadarinya? Padahal ini adalah kesempatan yang baik untuk Naruto, tapi laki-laki itu masih mencemaskan kebahagiannya. Ia selama ini buta, padahal separuh jiwanya selama ini selalu berada tepat disampingnya.
Ia seperti lentera yang menyinari benda lain, tapi ia tidak pernah peduli pada baterai yang ada di dekatnya. Tapi, semua ini belum terlambatkan?
Ia mendekat, berbisik di dekat kuping laki-laki itu. " Jadi, kau tidak ingin pergi ke Hawai?" lalu ia mengambil sebuah tas yang cukup ringan di tangan Naruto. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita tinggalkan saja ayah? Lalu kita berdua pergi ke Indonesia, berlibur ke bali."
Ia berjalan menjauh dan sebuah kedipan nakal sempat ia layangkan, membuat pipi tan lelaki itu memerah sempurna. Sebuah senyum terlukis sedikit di bibir indahnya.
Mungkin tidak apa kalau seperti ini.
…
Di lain tempat, Sasuke memperbaiki sedikit letak dasinya. Ia melihat rumah yang beberapa waktu sering ia kunjungi.
Ia mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan seorang pria. Berstatus suami Hinata. Sebelumnya ia menitip Sai pada penitipan anak, ia tidak ingin bocah itu melihat ibunya di kantor polisi.
Namun wanita beranak satu itu, tidak mau menemuinya. Ia mencoba berbicara dengan opsir polisi di sana, mengenai penangkapan Hinata. Ia begitu terkejut saat mengetahui Hinata didakwa sebagai penipu, ternyata suami perempuan itu begitu serius membenci istrinya sendiri.
Hari ini memang sering membuat ia terkejut, perceraian, kemudian Hinata ditangkap. Ia juga baru mengetahui kalau ayah Hinata sudah tidak ada. Perempuan itu tidak pernah cerita.
Biarpun ia tidak dekat dengan Hiasi, namun ia pernah mengenal pria tua itu.
Sasuke perlahan melangkah, saat seorang pelayan di sana membuka pintu. Ia melihat lelaki dewasa penuh wibawa dengan aura yang begitu hebat, duduk angkuh di belakangkan sebuah meja kerja.
Senyumnya, mengingatkan Sasuke pada kolega-kolega bisnisnya. Lelaki yang pintar sekaligus penuh dengan kelicikan.
"Jadi… kau, ya. Selingkuhan Hinata?"
Tbc
Terimakasih banyak kepada review, fav, fallow. Yang udah kasih semangat, nasehat. Unek-unek. Dan yang udah capek-capek pm aku buat apdet ni fic. Aku sayang kalian semua :*
Tinggal cap 1 lagi dan kita bakal berpisah, sampai jumpa
Sekali lagi terimakasih kepada : Kei Deiken, sushimakipark, Cahya Uchiha, Vampire Uchiha, AprilliaSiska, shanzec, alta0sapphire, Uchiha Riri, astia morichan, Nara Tobi145321, chan, nn, virgo24, , Lady Bloodie, sii uchild, hee chan, hinata, rini andriani uchiga, uptown, go away haters, ucihagremory, desty sasuhina, Nn, Luluk Minam Cullen, salt, aindri961, Mi nubi, beby, ryure, yuki azulla, hinatauchiha69.
