Saat itu, angin bertiup kencang, membawa kesedihanku bersama travelmu yang melaju di jalan aspal. Tak ada lambaian tangan lagi saat aku memegang kalung pemberianmu dengan kuat, hingga tanganku memerah. Syukurlah dengan cara ini, aku tidak melepasmu dengan air mata. Karna, aku tahu betul,ini bukanlah perpisahan. Aku percaya akan hal itu.

Sayonara wa Tadashii Kotoba Janai

Written By : Hime Yumi Tiara

.

.

.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rated : T

Pair : SasuFemNaru

Genre : Romance and Drama

Warning : Standar Warning Applied, mungkin masih ada typo walau sudah diusahakan teliti, alur kecepatan mungkin. dan kesalah yang tak disengaja lainnya.

Seminggu berlalu sejak Sasuke meninggalkan Osaka dengan segenap kenangan yang ada. Termasuk kenangan bersama Naruto,kenangan yang baru ia mulai bersama kekasih barunya.

Namun disini Naruto memulai aktivatas biasanya. Ia melewati jalan yang sama, menuju gedung yang sama, bertemu dengan banyak orang yang biasa ia temui sebelumnya. Tapi,entahlah, ia sendiri tak mengerti ada apa? Ia hanya merasa sesuatu itu terasa sangat menghilang.

"Ohayou Naru-chan.." Sapa Hinata pada Naruto didepan pintu kelas mereka.

"Ohayou" jawab Naruto sedikit menyunggingkan bibirnya.

"Kau sudah mengerjakan PR?" tanya Hinata lagi

"Hah?! PR?! Gyahh.. Hina-chan, wasureteta" Naruto gelagapan, mengeluarkan semua isi yang ada dalam tasnya.

"Huh,Naru-chan... andai saja ada Sasuke, kau pasti tidak akan lupa" Hinata bergumam, sambil mencari satu buku dari dalam tasnya.

Sasuke, nama itu terus mengelilingi kepala Naruto. Ia bisa bersikap normal diluar, tapi.. ia hanyalah kekasih biasa, yang merindukan sosok yang ia cinta. 3 hari yang lalu Sasuke sempat menelpon lama, ia masih dingin. Bahkan jarak itu rasanya membuat Naruto tak bisa menangkap ekspresi sesungguhnya dari Sasuke, membuat obrolan mereka tak berlangsung lama. Canggung. Mungkin kata itulah yang tepat.

Naruto bisa frustasi jika memikirkan impiannya yang kandas ditengah jalan. Impiannya untuk menghabiskan masa remaja nya bersama Sasuke. Entah sebagai kekasih atau hanya teman, Naruto hanya menginginkan sosok itu ada disini. Lebih baik hanya teman tapi Sasuke nyata disini, daripada sebagai kekasih yang seperti ilusi.

"Naru-chan.." Hinata menyadarkan Naruto dari lamunan nya tentang Sasuke

"Y-Ya.." Jawab Naruto gagap

"Kau belum salin PR nya?"

"Gawat" Cepat cepat tangan Naruto menorehkan pena nya diatas kertas putih yang masih kosong melompong. Sedang Hinata hanya menggelengkan kepala sambil berharap Kakashi-sensei akan terlambat.

Namun, sepertinya Tuhan berencana lain. "Ohayou" Kakashi-sensei muncul dari balik pintu ruang kelas. Matanya yang tajam mengedarkan pandangan keseluruh ruang kelas, dan Bingo. "Jika dalam hitungan ke 5 kalian belum meletakkan PR dimeja saya,Silahkan Keluar dari pelajaran saya" Kakashi-sensei berujar seraya duduk dikursinya, lalu mulai menghitung. 1~! 2~! "Naru-chan.. cepat" Hinata mencoba menyemangati Naruto. tapi, percuma, saat hitungan ke 5, buku Hinata terakhir menempati meja Kakashi-sensei.

"Naruto! Keluar!" Teriak Kakashi-sensei, memaksa Naruto berjalan gontai keluar kelas.

"Huaa.. Naru-baka. Baka. Baka." Sepanjang jalan tak berhenti Naruto memaki dirinya sendiri, menekuk wajahnya sambil memandangi buku PR nya yang baru terisi setengah halaman. "Grrr" keluhnya lagi sambil menghentak hentakkan kakiknya kecil. Namun, tiba tiba.. Duaghh! Naruto merasa ia baru saja menumbur sesuatu tepat didepan kepalanya yang tertunduk.

Refleks Naruto menaikkan kepalanya. Betapa terkejutnya Naruto melihat lelaki dengan tato Ai disudut keningnya, berdiri didepan Naruto dengan baju yang penuh dengan noda kopi. Dan parahnya 99% kemungkinannya, noda itu disebabkan oleh tabrakan dari Naruto.

"Apa yang kau lakukan?" tanya lelaki itu menatap Naruto dengan iris ... nya yang menusuk.

"Gomen!"cepat Naruto menundukkan kepalanya

"kau pikir apa guna matamu, Hah?" nada tinggi sedikit terlontar dari bibirnya yang tipis.

"Gomen!" untuk kedua kalinya Naruto meminta maaf. Tak ada yang bisa keluar dari mulutnya selain satu kata itu."kau harus mengganti kopi ku yang tumpah tanpa sisa" ujar lelaki itu lagi.

"..." Naruto hanya mengganguk seperti orang bodoh, takut ia akan dilaporkan pada guru. Terutama Kakashi-sensei.

Naruto berjalan pelan dibelakang lelaki yang baru ia temui itu, koridor sepi saat jam pelajaran seperti ini, namun beberapa guru sempat menegur mereka berdua yang berkeliaran di jam pelajaran.

Langkah kaki lelaki itu yang besar membuat Naruto harus menyesuaikan diri,hingga akhirnya mereka berdua sampai di kantin sekolah yang suasananya tak berbeda jauh dengan koridor yang mereka lewati tadi.

"kau,harus mengganti kopiku yang tumpah" ujar lelaki itu sembari menduduki salah satu kursi

"Heh?!" Naruto meringis mendengar perkataan lelaki itu.

"kalau tidak aku akan melaporkanmu pada guru, Kakashi-sensei kan?" kembari lelaki itu berujar dengan nada sombong

"Arghh... Kau ini!" Naruto menahan amarahnya sembari memesan 2 cangkir kopi yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat lelaki itu duduk.

Tak lama, ia kembali lagi ke tempat sebelumnya sambil membawa 2 cangkir kopi dengan tempat berukuruan sedang. "Siapa namamu?" tanya Naruto menyerahkan cangkir kopi yang berada ditangan kanannya pada lelaki itu.

"..." Lelaki itu tak menjawab hanya menyeruput damai kopi nya

"Baiklah. Kalau kau tak menjawab aku akan memanggilmu Ai-kun" Naruto terkekeh pelan.

"Cih, namaku Sabaku Gaara, jangan memanggilku dengan sebutan itu. Menjijikkan"

"Baiklah, baiklah.. perkenalkan, aku Naruto Uzumaki. Apa kau membolos?" tanya Naruto menyelidik

"mungkin..." jawaban ambigu keluar dari mulut Gaara

"kau bukan teman baik untuk mengobrol" Naruto memanyunkan bibirnya. Setidaknya ia memiliki teman saat dihukum pikirnya.

"Sokka? Yasudah, aku akan kembali." Gaara seketika bersiap bangkit dari duduknya.

"Hooii~ Tunggu dulu.. kau belum menghabiskan kopimu" Naruto refleks memegang pergelangan tangan Gaara tanpa merubah posisis duduknya.

Saat itu,bunyi nyaring bel sekolah melengkapi gerak Gaara yang melepas pegangan tangan Naruto. "teman mu akan segera datang—Baka!" jawabnya mendekatkan diri kembali pada Naruto, lalu.. tak lama—Puk.. satu tepukan pelan mendarat di puncak kepala Naruto.

Saat itu, jam terasa semakin kental terhenti, bagaimana perasaan ini bisa sama, kenapa rasanya begitu mirip? Kembali, ingatan liar Naruto mencari jawaban. Sekitar 1 menit kemudian saat ia tersadar itu perlakuan yang sama seperti yang Sasuke lakukan. Namun terlambat, Gaara sedang berada di sampingnya dan ia sedang berbincang hangat bersama Hinata.

"Nah, Naru-chan, kenapa melamun? Aku baru saja datang" ujar Hinata menatap Naruto intens. Naru hanya menggeleng lemah tanpa mengalihkan pandangannya dari Gaara.

"Jaa, kalau begitu aku pergi dulu Hyuuga-san" ujar Gaara segera pergi menuju pintu keluar. Mungkin mereka sempat berbincang saat pikiran Naruto berlari menuju masa lalu.

"Ha-ha'i" Hinata menundukkan badannya persis 90o, sedang iris Naruto masih mengikuti gerak lelaki itu, menatap punggung Gaara hingga menghilang

"Naru-chan... bagaimana kau bisa kenal dengan Gaara dia itu lelaki jenius setelah Sasuke" Hinata tak berhenti berbicara tepat didepan wajah Naruto dengan wajah Hinata yang sedikit memerah. Tapi, Naruto hanya terdiam ia masih harus mengembalikan alam bawah sadarnya ke masa kini setelah tadinya kembali jauh ke masa saat Sasuke melakukan hal yang sama seperti yang Gaara lakukan.

Dijalan ke kelas pun, Naruto belum jelas mendengar percakapan teman teman nya disepanjang lorong koridor, hanya samar, suara Hinata yang terus memuji Gaara,dan suara samar lainnya. Samar, tak ada kepastian.

~sayonara wa tadashii kotoba janai

"Naru-chan..!" teriakan Hinata yang keras sukses menyadarkan Naruto dari lamunan panjangnya setelah sampai dikelas

"Ha-Ha'i, ano-ada apa Hina-chan?" Naruto tersentak

"Kamu dipanggil Kakashi-sensei" ujar Hinata

"Hehh? Ya ampun. Gawat" segera Naruto berlari keluar kelas meninggalkan Hinata yang tercengan dibuatnya.

Langkah cepat Naruto ikut terdengar bersama langkah kaki siswa lain yang akan menuju ke ruang guru juga yang berada di ujung koridor yang Naruto lewati saat ini. Tak butuh waktu lama Naruto sampai disana,matanya beredar mencari meja Kakshi-sensei sembari kedua tangannya tak bisa berhenti memilin rok yang ia kenakan saat ini untuk menurunkan intensitas degup jantungnya. Dan- Dapat!

"Sumimasen" Ujar Naruto

"Hoi Naruto, kenapa kau tidak membuat PR hah?" nada suara Kakashi yang tinggi semakin mendesak Naruto

"Ano-etto-eng.." Naruto gugup bingung mencari alasan

"Dasar kau ini, Pemalas!" Jawab Kakashi diakhiri dengan mendaratkan satu jitakan tepat dikepala Naruto

"Ittai yo sensei" Naruto mengelus bagian yang dijitak oleh Kakashi

"Untuk hukumamu, kerjakan soal ini sampai selesai dan batas waktunya minggu depan" Kakashi menyodorkan beberapa lembar kertas yang telah terisi soal soal yang terlihat rumit di mata Naruto.

"Senseii~.." Naruto meminta belas kasihan

"Apa? Cepat kerjakan" tak sesuai harapan. Kakashi cepat menghindari tatapan puppy eyes Naruto ke layar komputer didepannya.

Naruto keluar dari ruang guru dengan langkah gontai, kakinya seakan ia seret sambil memegang lemas kertas yang ia dapatkan. Matanya yang masih menatap kosong tadinya, terlihat tambah kosong untuk sekarang. Namun, untunglah ia masih bisa selamat sampai kembali dikelasnya.

"Naru-chan, ada apa?" Hinata menyambut Naruto lalu mengambil lembar yang sedikit lagi akan jatuh dari tangan mungil Naruto.

Naruto hanya bergeming, aura kelam terpampang nyata disekitarnya, hawa dingin yang menusuk membuat Hinata hanya berujar 'Gawat' dalam hatinya.

~
KHS sudah membunyikan bel nyaring pertanda sekolah hari ini sudah selesai namun, Hinata baru saja akan memulai pekerjaannya sebagai pengantar.

"etto- Naruchan yakin tidak apa-apa?" Hinata mencoba mengulang pertanyaan nya berharap ia mendapat jawaban. Sayangnya, Hinata belum beruntung, Naruto hanya mengangguk lemah tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun pada Hinata. 'Argh Kakashi-sensei sudah membuat Naruto seperti orang gila saja' dumel Hinata dalam hatinya

"Aaa.. Naruchan, awas! Didepanmu ada sepeda" Hinata mencoba menghentikan langkah Naruto yang baru akan menabrak sepeda di depannya. Tanpa pikir panjang, hinata mulai merangkulkan tangannya kelengan Naruto menuntun Naruto yang seakan kehilangan nyawanya untuk selamat sampai di rumah.

Akhirnya, setelah melewati berbagai rintingan Hinata mensukseskan misinya.

"Baa-san Shitsureshimasu" kata Hinata sopan sambil mengetuk pintu. Taklama kushina datang masih dengan celemek dan spatula ditangannya.

"Ah.. Hinata-chan ayo masuk dulu, tumben ada apa dengan Naruto"Kushina sedikit aneh melihat Hinata yang seperti membopong ankanya.

"Ano baa-san sepertinya Naruto demam, jadi saya yang mengantarnya pulang" jawab Hinata

"Demam?" Kushina mencium gelagat aneh dari anaknya bukan demam. Perlahan ia meraba jidat Naruto dan.. tak ada panas yang lebih disana/

"Arigatou ne Hinachan,kalau begitu ayo masuk dulu, kita makan siang bersama" kushina berpura pura tak mengetahui kebohongan Naruto,

"ano.. tidak apa apa basan, saya langsung pulang lagipula kaa-san pasti sudah menunggu" Jawab Hinata bersiap berbalik pamit pada Kushina.

"Oh..sayang sekali,yasudah. Hati hati dijalan ya Hinata" Kushina sedikit melambaikan tangannya.

"Ha'i basan"

Tak berapa lama setelah Hinata hilang dibalik pagar sederhana rumah Naruto,Kushina mengangkat spatulanya sejenak kemudian JDANG! Satu pukulan telak dari spatula yang masih dengan sisa minyak mendarat di puncak kepala Naruto.

"K-K-Kyaaaa~~" teriakan pun terdengar seantero Osaka(?)

"Ittai yo kaasan" Naruto yang baru mendapatkan kesadarannya memgelus pelan kepalanya yang malang.

"Cepat ganti bajumu lalu bereskan cucian di belakabng"

Kasur berwarna putih yang tadinya rapi sekarang berbentuk tak karuan setelah Naruto menghempaskan tubuhnya kesana. Nampak wajah lesunya tertutup oleh rambut pirang miliknya.

Tiba-tiba.. Drtt..Drt.. handphone dengan hiasan kucing di sudut layarnya mengeluarkan suara, buru buru Naruto mengambil yang terselip di dalam seragamnya yang juga sudah tak karuan.

Terlihat bacaan 1 new massage from Hinata, Klik, Naruto membuka pesan itu kemudian mendapati pesan : 'Naruchan, soal tugasmu itu coba tanyakan kepada Gaarakun, aku yakin dia bisa membantumu. Semangat' pesan singkat itu sukses membuat Naruto bak tersamabar petir untuk kedua kalinya.

"Oh iya. Tugas itu.. dan Gaara"

Tapi, belum sempat Naruto menyelesaikan lamunan nya teriakan Kushina dari arah dapur menggema ke seluruh Osaka,

"Naru-chan cepat!"

Tap..tap.. tap.. bunyi langkah Naruto semakin mendekat ke arah dapur membuat Kushina tak bisa menyembunyikan smirknya yang khas ibuibu marah(?) sedang anaknya? Ya, naruto datang dengan wajah nya yang ditekuk berkali kali lipat.

"kau ini, Hinata itu anak yang baik tak sepatutnya kau menyusahkannya" omel Kushina saat Naruto baru saja akan menyentuh pakaiannya di mesin cuci

"berlagak sakit demam lagi" Kushina kembali mengoceh membuat telinga anak sulungnya memerah

"kaa-san berhentilah mengomeli ku" ujar Naruto

"sekarang melawan.." Kushina tetap mengoceh

"Argh.." Naruto meninggalkan cuciannya didalam mesin cuci yang sedang beroperasi sedang dirinya? Ia pergi keluar demi mengurangi dampak kekesalannya.

Naruto gontai melangkahkan kakinya keluar pekarangan rumahnya, iris sapphire nya tak berhenti terpaku pada satu objek disebelahnya. Apa lagi kalau bukan rumah besar keluatga Uchiha, ia menerawang jauh kesana berhartap seseorang yang ia nantikan bisa datang dengan tiba-tiba dan merangkulnya walau sesaat.

Drap.. drap... Naruto masih berjalan gontai dan tak tahu tujuan, sesekali ia menunduk dan memanyunkan bibirnya lalu meremas kedua tangannya didepan. Dan akibat itulah tiba-tiba.. Duk. Ia kembali menabrak seseorang. Siapa? Hah,itu orang yang sama dengan yang ia tabrak di sekolah. Sabaku gaara

"sebaiknya kau mulai memakai kacamata Nona" ujar Gaara

"Ma-maaf" Naruto menundukkan kepalanya

"kau sudah menabrakku 2 kali, dan mungkin kau harus mengganti rugi atas waktuku yang terbuang" gaara menepuk pelan kepala Naruto yang sedang menunduk

"apa? Berhenti menepuk kepalaku seperti itu" Naruto kesal, ia tak ingin ada siapapun yang menggantikan kebiasaan Sasuke untuknya. Tidak juga untuk orang satu ini. Ia memalingkan muka dari Gaara lalu berniat kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda tanpa menghiraukan Gaara.

Gaara menunjukkan senyum liciknya lalu Grep, ia menangkap pergelangan tangan kanan Naruto dengan sempurna tanpa membalikkan badannya. "kau harus mengganti rugi Nona" ujar Gaara dengan penekanan disetiap katanya

"benarkah? Tidak akan" Naruto tak kalah keras, ia melepaskan cengkraman Gaara

"Baiklah, kalau begitu jangan pernah meminta bantuanku" seakan tahu masalah Naruto, Gaara mengandalakan kartu AS nya.

Tap-Tap- Naruto mundur 2 langkah kembali mensejajarkan dirinya dengan Gaara "Baiklah. Jadi, mau kau apakan aku Hah?" Naruto mengalihkan mode kesal menjadi double kesal. Naruto sadar Gaara pasti mengetahui tentang tugas tambahannya, dan itu berarti tak ada yang dapat kembali tersenyum,mulai melangkahkan kakinya kembali, dan Naruto membuntuti pria itu dari belakang.

-RAMEN ICHIRAKU- tempat terdekat yang bisa mereka jangkau dengan berjalan kaki. Gaara memesan 2 mangkuk ramen lalu duduk disalah satu meja. "ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Gaara saat mereka berdua menunggu pesanan datang.

".." naruto bergeming

"ternyata rasa gengsimu tinggi Naru-chan" gaara menunjukkan senyum terbaiknya lalu kembali menepuk pelan kepala Naruto.

"Hei. Sekali lagi kau lakukan itu, aku akan menjauhimu" Naruto suddah diambang batasnya untuk tidak meneriaki lelaki beriris Ruby itu.

"okeoke,jadi apa kau tidak mau mengatakan sesuatu?" tanya Gaara tak lama setelah ramen mereka datang.

".." Naruto mengambil sumpitnya dan kembali tak menghiraukan Gaara.

"aku melihatmu mengambil tugas tambahan dari Kakashi-sensei" lanjt Gaara

"Baiklah. Baiklah. Apakah tuan Gaara bersedia membantuku?" Naruto meletakkan sumpitnya di atas mangkuk dengan asap yang masih mengepul lalu beralih menatap Gaara dengan wajah cute yang dibuat-buat. Jelas sekali.

"Dengan senang hati" Gumam Gaara sedikit mendekatkan wajahnya pada Naruto. intens.

mereka beralih menikmati ramen masing-masing.

Tak ada pembicaraan lebih lanjut saat mereka menyudahi makan singkat itu. Gaara yang notabene nya pendiam pun hanya menikmati aura dingin yang menyelimuti mereka berdua. Naruto yang sebenarnya periang namun sudah tersilimuti triplebadmood pun hanya bisa bergumul dengan pikirannya sendiri.

Tak butuh waktu lama, mereka sudah kembali sampai dititik awal pertemuan mereka didepan rumah Naruto. masih bergeming Naruto hanya sedikit melempar senyum pada Gaara sebelum ia masuk ke pekarangannya,sedang Gaara hanya melihat perempuan itu dari belakang,hingga ia selamat masuk ke dalam rumahnya. Tapi, tiba-tiba.. Tap..Tap..Tap.. perlahan gaara tak bisa menghentikan kakinya yang berjalan mengikuti Naruto, Tap-Tap-Tap-Tap-semakin cepat- Tap-Tap.. Grep!

Entah apa yang merasuki lelaki itu hingga memeluk Naruto dari arah belakang dengan tiba-tiba. Sontak Naruto yang tak menyadari adanya Gaara yang mengikutinya pun berontak "Oii.. apa yang kau lakukan?" tanya Naruto dengan wajahnya yang semakin kesal.

"..." Gaara bergeming, semakin mempererat pelukannya

"Gaara!" Naruto menaikkan nada suaranya

"Arigatouna" satu kata meluncur dari mulutnya

"..." sekarang giliran Naruto yang terdiam, ia berhenti berontak, terpana dengan satu kata dari Gaara. Perlahan airmatanya mengalir tanpa ia sadari. Ada apa dengan airmata ini? Gumamnya dalam hati.

Perlahan Gaara melepas pelukannya. "aku siap kapanpun kau akan mengerjakan tugas itu" ujar Gaara yang secepat kilat berbalik membelakangi Naruto dan mulai melangkahkan kakinya menjauh,tanpa mengetahui bulir airmata Naruto yang semakin menjadi walau ia juga melangkahkan kakinya seperti Gaara.

Jdang, pintu putih milik kediaman Naruto tertutup.

Kenapa kau lakukan itu?

"Naru-chan.. apa kau sudah pulang?" kushina berteriak mendengar pintu rumahnya terbanting kencang.

"Ya-a-a.." Naruto mencoba menyembunyikan getaran dalam jawaban

Drap..drap..drap.. langkah kaki Naruto yang menaiki tangga terdengar jelasan dan kembali ditutup dengan bantingan pintu kamarnya.

"Dasar Naruto" Kushina menggelengkan kepala

Naruto secepat kilat mencari kalung pemberian Sasuke, ia mengangkat kalung itu

tepat didepan wajahnya. Perlahan namun pasti kedua matanya memerah dan tak lama mnegeluarkan cairan bening yang mengaliri kedua pipinya. Utuk yang kesekian kalinya Naruto menangis lagi.

Tiba-tiba handphone flip milik Naruto yang tergeletak diatas tempat tidurnya bergetar sebuah sms dari nomor yang tidak dikenal. Datanglah besok kita akan menyelesaikan tugasmu. Dengan tatapan nanar Naruto membaca sms yang baru masuk itu. Tak lain takbukan itu pasti nomor Gaara. Dengan hati bertanya-tanya bagaimana lelaki itu bisa mengambil nomer handphonenya.

Naruto menyerah ia tak mempunyai pilihan lain selain meminta seseorang dengan tato didahinya itu membantu nya mengerjakan tugas dari Kakashi-sensei. Besok yang kebetulan hari libur akan dimanfaatkannya untuk merayu Hinata. Hinata pasti mengetahui letak pasti rumah Sabaku Gaara. Dengan begitu Naruto tak perlu susah payah mereply sms yang barusan masuk itu.

Untuk sementara ini, biarkan Naruto sedikit terlelap dengan merengkuh handphone yang masih menampakkan sms dari Gaara ditangan kanannya dan sebuah kalung sapphire di tangan kirinya. Untuk saat ini, ia tak perlu memilih.

Malam datang tepat saat Naruto membuka matanya. Ia ketiduran tanpa mimpi yang jelas. Naruto memutar kakinya kesamping ranjang dan sedikit merenggangkan otot otot tubuhnya. Naruto mengucek kedua matanya dan tanpa sengaja menjatuhkan kedua benda yang ada digenggamannya selama tidur tadi. Ia terpana..

"Naru-chan..bangun.. cepat mandi" Kushina kembali menggemakan pekikan khasnya.

"iya.." jawab Naruto tak kalah kencang.

Naruto berjalan gontai menuju kamar mandi. Di nyalakannya shower yang mengeluarkan tetes tetes air hangat yang dengan segera menyentuh setiap inci kulit tan yang tak terbalut apapun lagi. Naruto menikmati itu, menyegarkan pikirannya. Sembari ia membersihkan rambutnya dengan sedikit kasar Naruto membuat mindset "Ia merupakan kekasih Sasuke dan Gaara sangat berbeda dibanding Sasuke" gumamnya pelan.

Selesai membersihkan diri Naruto menahan geraknya dan kembali merapal satu kalimat layaknya mantra "Gaara sangat berbeda dibanding dengan Sasuke".

Naruto berjalan menuju lemari pakaiannya berniat mengambil beberapa helai baju untuk melanjutkan tidur malam ini. Entahlah, Naruto merasa sangat mengantuk. Namun, mata Naruto menangkap sebuah panggilan masuk ke handphonenya, buru-buru ia hampiri dan meletakkan ditelinga "Naru-chan.. Halo" suara Hinata menyambutnya diujung sana.

"aa~ Hinata-chan kebetulan sekali. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan tapi.. tunggu aku ingin memakai baju dahulu. Okey?" Naruto meletakkan handphonenya diatas meja kemudian mengenakan baju tidurnya dengan cepat dan kembali meraih handphonenya.

"Hinata kau masih disana?" Tanya Naruto

"Iya, Naru-chan, apa yang ingin kau bicarakan?"

"tadi aku bertemu Gaara dan ia menawarkan diri untuk membantu tugas dari Kakashi-sensei besok dirumahnya. Jadi, yah bagaimana kalau kau juga menemaniku Hina-chan aku tak mengetahui rumah Sabaku itu." Ucap Naruto 'dan terlebih aku tidak ingin menanyakan hal itu padanya' lanjut Naruto dalam hati.

"Ba-baiklah, tidak apa-apa. Besok juga aku libur membantu ibu"

"Baiklah Hina-chan. Arigatou ne~" naruto berujar sembari mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Membuat bising Hinata yang berada diseberang.

"Naru-chan, aku tutup ya. Suara hairdryer mu begitu bising. Mata ashita"

Percakapan itu diakhiri sepihak oleh Hinata. Padahal Naruto masih ingin sedikit curhat kepada karibnya itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB dan syukurlah belum ada tanda-tanda Sasuke menghubungi kekasih jarak jauhnya ini. jujur saja, Naruto mana mungkin bisa menghadapi suara Sasuke dengan wajar untuk saat ini. Perasaan mliknya masih dilemma dengan seseorang bernama Sabaku Gaara. Naruto harus ekstra menjaga kesetiaannya kepada Sasuke dan hal itu membutukan waktu dan juga momen yang tepat.

Pagi kembali menyapa. Tanpa Naruto duga ia bangun sebegitu pagi. Mungkin memang karena ia kebanyakan tidur. Naruto berniat melihat jam di handphonenya namun tanpa diduga ada 10 panggilan tak terjawab dilayar itu. Klik. Naruto membuka log panggilannya 5 dari nomor Sasuke dan 6 dari nomor yang belum Naruto simpan namun masih ada di ingatannya, nomor Gaara.

'Apa ini?' geram Naruto dalam hatinya.

Drt.. drt.. ditengah kepanikannya. Layar handphone Naruto kembali berkelap-kelip menampakkan nama Sasuke disana, seketika wajah Naruto memucat. Diangkatnya handphone itu ke telinga dan…

"Hoi.. Dobe! Kau kemana saja?" suara baritone yang dingin dan tajam menyambut telinga Naruto seketika menegakkan bulu kuduknya. Seakan Sasuke sedang mendeathglare nya saat ini,

"ano.. gomen.. Sasuke.. ano.. itu" gelagapan lah yang bisa ia lakukan saat ini.

"kau bertingkah aneh Dobe" nada Sasuke semakin membuat Naruto tersudut

"tidak..tidak.. tidak ada apa-apa. Eng, ano.. Sasuke-kun.. aku yah, ada.. Oh, kaasan memanggilku. Mata ne" Klik. Cepat-cepat Naruto memutuskan hubungan telepon itu dan menghembuskan nafas lega. Naruto tahu pasti Sasuke akan menyadari kejanggalan dalam kalimatnya. Terlebih sejak kapan Naruto biasa memanggil Sasuke dengan embel-embel kun dibelakang. Argh..! naruto mengacak rambutnya sendiri..

"Naru-chan.. Hinata ingin menemuimu" terdengar Kushina meneriaki Naruto dari lantai bawah.

'Hinata! Ah, Syukurlah' Naruto bergembira ria.

Drap.. drap.. drap.. Naruto menuruni tangga dengan tidak sabar. Ia ingin segera menemui Hinata dan menceritakan semuanya. Naruto tidak tahan lagi menyimpan semuanya sendiri!

"Naru-chan.." Hinata menyapa Naruto seakan ada sesuatu yang ingin disampaikan namun tiba-tiba Naruto dengan tidak sabar menarik tangan Hinata menaiki tangga kearah kamarnya.

Brak.. pintu kamar Naruto tertutup. Menyisakan keduanya yang sekarang duduk diatas ranjang Naruto.

"Hinata-chan.. mou.. aku tidak kuat lagi.." Naruto menggenggam tangan karibnya dengan kencang.

"Ano.. naru-chan aku juga ada hal yang ingin disampaikan.." Hinata memotong perkataan karibnya yang sedang galau tingkat akut itu.

"apa?" Tanya Naruto masih dengan wajah sedih

"apa kau dan Sasuke sedang ada masalah?" Tanya Hinata

Blam!

"kyaa~~ itulah yang membuatku tidak kuat lagi Hina-chan! Tasukete yoooo!

"tadi malam Sasuke menelponku, dia bilang kau tidak menjawab panggilannya. Jadi, aku mengatakan mungkin saja kau masih demam dan ketiduran" lanjut Hinata

"Hina-chan.. tadi pagi Sasuke juga menelponku" ujar Naruto "dan aku bertingkah aneh, entah kenapa semenjak bertemu Gaara aku takut kalau aku sudah mengkhianati Sasuke.. aku takut" Naruto semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Hinata

"eng.. memangnya kenapa? Kalian hanya kenalan bukan? Kau tak perlu merasa bersalah Naru-chan. Yah, kecuali kau memang menaruh perasaan lebih" Hinata berujar dengan lembut "tapi, aku yakin itu tak mungkin kan?" lanjutnya diakhiri dengan nada bertanya.

Naruto terdiam seketika, ia baru saja teringat bahwa sebenernya Hinata menyimpan rasa pada Sabaku Gaara itu. Cepat cepat ditelannya segala kelakuan Gaara tempo hari kepadanya.

"ah, iya.. tidak mungkin aku menaruh perasaan lebih Hina-chan. Eng, mungkin aku hanya ketakutan. Ya, soalnya aku belum pernah berhubungan jarak jauh jadi aku takut menodai janjiku bersama Sasuke.

"nah, begitu lebih baik. Ayo sekarang kita kerumah Gaara. Lebih cepat tugasmu selesai pasti akan lebih baik Naru-chan" Hinata bangkit dari duduknya lalu mematut diri didepan kaca milik Naruto membenarkan pita yang terselip di belakang gaun terusan yang ia kenakan. Hari ini ia berbeda. Sudah tentu untuk bertemu dengan Gaara bukan?

Naruto mengganti baju dengan pakaian yang biasa ia kenakan memang tidak terlalu feminine tapi pakaian ini menggambarkan diri Naruto yang sesungguhnya. Tak lama keduanya menuruni tangga lalu berpamitan dengan Kushina.

Hinata dan Naruto telah sampai didepan sebuah rumah yang bernuansa putih. Dengan pagar hitam setinggi 1,5 meter mengelilingi rumah itu. Hinata tampak tak sabar menekan bel yang ada disamping pagar. Dan syukurlah tak lama seseorang keluar dan mempersilahkan Hinata dan Naruto masuk. "Gaara-sama sudah menunggu" ucap seseorang itu.

"jadi, dia anak orang kaya" gumam Hinata.

"sttt.. Hinata" Naruto meletakkan satu jarinya di bibir. Memberi isyarat pada Hinata untuk berhenti melanjutkan kata-katanya.

Pintu besar yang berwarna coklat tu terbuka tepat saat Naruto dan Hinata sampai. Disana telah berdiri sosok Sabaku yang masih mengenakan baju rumahnya. "Silahkan masuk" ujar Gaara.

Naruto dan Hinata terpana dengan kemewahan rumah Gaara "ookiina" ujar Naruto pelan. Ketiganya tak banyak bicara. Hinata dan Naruo dengan patuh mengikuti arah jalan Gaara dan akhirnya sampai pada tempat dimana mereka akan belajar.

"Yosh, Ganbarimasu!" Naruto yang baru saja duduk segera mengeluarkan perlengkapan tulisnya dan tak lupa juga soal seabrek yang diberikan oleh Kakashi.

"Nomor 1 ada yang bisa mengerjakan?" Gaara membuka pembelajaran dengan baik

"Hm.. kalau tidak salah.. ini.. dikali dengan.. ini.. kemudian ditambah ¾ terus baru dikali dengan ½ akar 2" ujar Hinata tampak semangat

"Hm.. ada sedikit kesalahan Hinata-san, kau tidak perlu menambahinya dengan ¾ karna itu akan habis seperti keterangan disoal" Gaara memperbaiki pekerjaan Hinata.

"Ha~ sou desu ne, maaf aku melupakannya" ujar Hinata yang membuat Gaara tersenyum. Dan akhirnya juga membuat Hinata melted seketika.

Di sisi lain, Naruto hanya memandangi mereka berdua yang sibuk dengan banyak soal. Sedangkan dirinya sendiri sedang kehilangan arah karna tak satupun soal yang dapat ia mengerti. Hal itu membuat Naruto hanya bisa memainkan handphonenya tanpa mengganggu Gaara dan Hinata. Tapi, tiba-tiba..

"ano.. sepertinya aku membutuhkan WC" Naruto celingak-celinguk kekiri dan kanan berusaha menemukan letak WC dirumah besar ini.

"Hallloo~~" naruto geram karna baik Gaara ataupun Hinata tak ada yang menggubrisnya.

"Ehem.. ehem" Naruto berdeam namun tetap diabaikan.

"yasudah aku bisa cari sendiri" Naruto beranjak tanpa membawa handphone bersamanya.

Naruto berjalan menuruni tangga tanpa mengeluarkan suara takut-takut apabila ada penghuni lain yang akan terganggu.

"WC..WC..WC.." Naruto mencari keberadaan WC untuk segera buang air kecil.

"WC, Nah.. ini dia.." ujar Naruto yang akhirnya menemukan WC.

~sementara diruang belajar~

Drtt.. drtt.. getaran khas handphone Naruto memecah konsentrasi Gaara dan Hinata

Gaara lebih dahulu menyadari getaran itu karna Hinata sedang sibuk memcahkan soal nomor 6 yang tingkat kesulitannya lumayan parah.

"bukankah ini milik Naruto?" gumam Gaara pada dirinya sendiri lalu dengan bingung mengangkat handphone itu.

"Moshi-moshi, Sumimasen. Sepertinya Naruto sedang ke WC" Gaara menyahut

"Kau siapa?" Suara khas diujung sana tampak geram mendapati apa yang baru saja didengarnya.

"Aku Gaara teman Naruto"

"baiklah jika di sudah kembali. Cepat segera hubungi aku"

"Hm.." Gaara menyahut malas mendengar nada perintah yang dilontarkan oleh seseorang diujung sana.

"Gaara-san.. aku bisa menyelesaikan soal ini. jawabannya C" Hinata yang baru saja kembali dari dunia angkanya terkejut mendapati Gaara yang sedang memegang handphone Naruto.

"kenapa dengan handphone Naruto, Gaara-san?" Hinata menyembunyikan getaran dalam suaranya.

"barusan ada yang menelpon.."

"siapa?" tiba-tiba Naruto sudah berdiri diambang pintu.

"entahlah.."

"perempuan atau lelaki?" Tanya Naruto tampak tak sabar begitupun dengan Hinata yang terlihat semakin pucat.

"Lelaki.." jawab Gaara polos.

"Yabai!" sahut Naruto dan Hinata berbarengan.

-To be Continue

Assalamu'alaikum minnaa~~

Nih, udah update chapter 2.. kyaa.. Maaf ya atas kesalahan di chapter 1 dibawah terbuat Owari seharusnya Tsuzuku tapi, sudah Tia edit kok. Maaf ya.. Maaf *ojigiampelantai

Nah, bagaimana Chapter keduanya? Mohon kritik dan saran ya! Maaf juga jika masih mengecewakan karna..

Semua ini hanyalah karya Tia yang belum apa apa di dunia tulis menulis(?) Tapi, jika diluar sana masih ada orang yang berbaik hati memberikan saran agar Tia jadi lebih baik, silahkan sampaikan itu di kotak review.. Arigatou Gozaimasu.. Mata Ne!

-Tiara

Balesan ripiu untuk yang tidak punya akun nih.. Douzoo~

Shinseina Hana : hehe daijoubu Hana.. sudah diriview saja Tia sangat berterima kasih. Bagus? Wah terima kasih yaa… nah, kemarin ada kesalahan Hana. Ini multichap, belum selesai kok, kemarin salah buat Owari soalnya itu di copy paste dari fic sebelumnya yang one-shoot hehe.. jadi yang timbul bukan sequel tapi, kelanjutannya. Haha. Semoga suka ya. Terima Kasih!

Guest : beneran udah bagus? Wah terima kasih! Haha.. out of the box ya? Sayang kalo buat Sasuke sakit ntar Narunya makin galau(?) xD. Iya.. ini next chappi nya. Semoga suka ya. Terima Kasih!