Simple Things - 2
A Tokyo Ghoul Fanfiction © Ishida Sui
Dedicated to Shuben-chan, arigatou untuk yang udah memberi review dan para silent reader juga. Gomeen kudasai baru update, saya habis galau berkepanjangan karena Tokyo Ghoul season 2 tamat dan habis UN juga~stres banget karena IPA, demi apapun saya benci IPA, bagi saya gampangan matematika deh! Dan NANI KORE tambah pendek~?! Wish you like it laah.
Story by Titania aka 16choco25
Cast :
Kaneki Ken
Kirishima Touka
.
.
9.
"Penyerangan ghoul terjadi lagi di Distrik 12. Dikabarkan, ghoul yang memimpin penyerangan adalah ghoul dengan topeng mata satu…"
Touka hanya bisa menggigit bibir bawahnya kesal begitu melihat siaran berita di televisi, berita peyerangan ghoul ke beberapa distrik dengan dipimpin seorang ghoul bertopeng mata satu, dan ia bergegas memencet tombol off dan menghempaskan kepalanya ke belahan kaki jenjangnya. Ia malas bergerak, ia malas membuka mata, karena semua hal tentang Kaneki hanya membuat ia seperti boneka tanpa jiwa yang mengisinya. Ia menatap televisi dengan pandangan kosong, seraya memainkan jari-jarinya canggung. Suara denting jam membuatnya pusing. Ingin rasanya ia kembali memuntahkan seluruh daging mentah yang telah ia makan. Ia sudah muak dengan semuanya.
Ia ingin segera menyudahi permainan ini.
Jika seandainya tubuhnya adalah robot, ingin rasanya Touka menekan tombol reset, menghapus semua ingatannya tentang Kaneki, menghapus kenyataan bahwa ia adalah ghoul, menghapus kenyataan bahwa Kaneki kini menjadi anggota Aogiri, atau menghapus semua ingatannya tentang Anteiku. Namun ia tidak akan pernah bisa menghapus semua hal yang telah terjadi. Apa urusannya? Memangnya ia siapa? Tuhan? Ingin rasanya ia mengutuk seluruh kejadian yang telah terjadi dalam kehidupannya. Ingin rasanya ia berteriak marah, meluapkan seluruh kekesalannya selama ini.
Touka hanya bisa terdiam dalam keheningan yang menyelimutinya, dipandangnya jendela kamarnya, dan ia tersadar akan sesuatu.
Ya, memangnya Kaneki siapa? Ia bukan tokoh pahlawan yang menyedihkan. Ia bukan tokoh utama dalam sebuah novel. Ia bukan orang yang menemukan lampu, atau menemukan telepon, bukan pula orang yang menemukan tenaga mesin. Ia bukan seseorang yang istimewa. Lantas apa haknya melindunginya? Touka kuat. Ia ghoul dengan kagune yang mampu bertahan dengan baik. Ia tidak memerlukan perlindungan dari manusia setengah ghoul seperti Kaneki. Ia bisa melindungi dirinya sendiri. Lantas apa hak Kaneki menghancurkan semuanya? Lantas apa hak Kaneki mengubah takdir? Memangnya lelaki itu siapa? Touka berkali-kali menekankan pada dirinya sendiri bahwa lelaki itu bukan siapa-siapa dalam kehidupannya.
Seandainya ia tidak pernah bertemu Kaneki Ken.
Seandainya ia tidak pernah mengenal Kaneki Ken.
Touka mengerucutkan bibirnya. Dahinya berkerut. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan paksa. Gusar. Terlalu banyak 'seandainya' yang bemunculan di benaknya. Ini tidak benar, ia tahu. Tapi hal ini terus mengganggunya sejak semalam. Touka memejamkan matanya rapat-rapat. Rasanya ia ingin menghilang begitu saja, kabur dari semuanya. Atau mungkin berharap menjadi orang lain. Berharap ketika ia membuka matanya, semuanya tidak pernah terjadi. Semuanya hanya halusinasinya. Hanya angan yang berlebihan, mendesaknya keluar dan merangkai mimpi lagi, walaupun keadaan tidak demikian bersahabat dengan takdirnya.
Dan Touka memutuskan menyerah pada keadaan.
Membiarkan Kaneki Ken berkutat dengan permainan kanibalisme-nya.
Dalam keheningan malam, Touka membungkus kedua kakinya dengan pelukan erat, berlindung dari dinginnya malam, disertai kesepian yang menderanya. "Kau keras kepala, Kaneki," ujarnya putus asa sambil memejamkan matanya perlahan.
10.
Aroma asap memenuhi hidungnya, membuat Touka cepat-cepat membuka mata dan ia langsung terbangun dengan wajah kaget begitu menyadari ia ada di gendongan Kaneki, dengan pemandangan gedung-gedung yang terbakar dan Touka menyadari telah terjadi sesuatu. Ia membuka mulutnya, ingin bicara, dan jari telunjuk Kaneki menempel tepat di atas bibirnya dan di dalam keremangan itu Touka terdiam, tidak mampu berkata apapun, dan gadis itu mendadak terbatuk kecil.
Dan Touka baru menyadari bahwa ia tidak bisa bergerak sedikitpun. Ia menghirup asap terlalu banyak, dan ia tidak sadar karena telah tertidur dengan lelap.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Gadis berambut biru keunguan itu menyipitkan matanya. "Ka-neki?" katanya pelan dengan suara serak dan terbatuk lagi untuk kesekian kalinya. Lelaki berambut putih itu tersenyum kecil, memandangnya, tapi pandangan itu berbeda. Ada kesepian di matanya. Ada kesedihan di matanya. Touka ingin berbicara lagi, namun lelaki berambut putih itu menyibakkan rambut biru keunguannya. Menatapnya dari dekat, hingga Touka bisa mendengar deru napasnya.
Sekali lagi, mereka yang seperti orang bodoh hanya bisa berpandangan, dengan kata-kata yang tertahan di dalam mulut, menunggu hingga waktunya terkeluarkan dan tanpa interaksi sedikitpun. Touka tidak peduli sedikitpun, yang terpenting baginya hanya adanya interaksi antara ia, si pengecut, dan lelaki ini, si bodoh. Hanya itu yang ia mau. Tidak ada niatan sedikitpun untuk bertindak, sebelum lelaki itu membuka mulut dan bicara lebih jauh.
Touka memalingkan wajahnya ketus. "Aku tidak apa-apa, jangan khawatir."
Dan gadis itu terbatuk hebat.
"Jangan bertindak bodoh."
Touka masih diam saja. Beberapa gedung terbakar diserati reruntuhan gedung-gedung lainnya, dan celah mata ungu itu melebar—Touka melihatnya, gedung itu—Anteiku terbakar hebat, dan Touka bisa melihat banyak pasukan CCG berkeliaran disana, dan Touka langsung meronta dari gendongan Kaneki dengan mata yang tergenang air mata. "Turunkan aku, Bodoh! Anteiku… terbakar! Turunkan aku!" bentaknya sambil meronta-ronta dan Kaneki semakin mencekal tubuh Touka erat. Sejak pertama kali Kaneki melihatnya, ia langsung tahu bahwa Touka adalah tipikal gadis keras kepala, yang bisa membuatnya semakin berusaha untuk melunakkan isi kepalanya. Kaneki sama keras kepalanya dengan Touka, dan ia tahu betul jika kedua orang keras kepala bertemu, mereka tidak akan bisa mengalah satu sama lain.
Sialan.
Air mata itu mengalir dalam diam.
Touka jarang menangis, dan ia hanya mau menampakkan kelemahannya di depan orang yang ia percayai.
"Turunkan aku, Kaneki!" teriaknya putus asa, disertai batuk hebat yang menderanya beberapa saat yang lalu. Kaneki menatapnya, dan akhirnya menurunkan Touka dari gendongannya, dan gadis itu bersegera berlari menuju kerumunan itu, tapi tangan kokoh Kaneki menahannya pergi. Touka berbalik dengan wajah kesal. "Apa lagi yang kau mau, Bodoh?! Anteiku terbakar dan aku harus…"
Kata-kata itu terhenti begitu Touka sadar bibir beku Kaneki telah membungkam bibirnya, menahan seluruh kata-kata yang akan dikeluarkannya, dan Touka menjatuhkan air matanya, memejamkan matanya untuk beberapa saat, merangkul pundak Kaneki, dan membiarkan lelaki itu selesai dengan semua permainannya.
Lehernya seakan tercekik. Ia merasa sesak.
Ciuman itu masih berlangsung lama, sampai akhirnya Kaneki melepaskan bibirnya sambil memegang pundak Touka erat. "Bisakah kau percaya padaku?" tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi, menatap Touka, dan gadis itu menundukkan kepalanya. Apakah ia harus mempercayai lelaki di hadapannya ini untuk yang kedua kalinya? Ia tidak yakin. Kaneki melihatnya, tatapan keraguan dari mata Touka, dan lelaki itu kembali menatap gadis berambut biru keunguan itu serius.
Kaneki kembali mengulang pertanyaannya, seakan Touka tidak bisa mendengar ucapannya.
"Kutanya, bisakah kau percaya padaku?"
Touka memalingkan wajahnya. "Untuk apa aku kembali memercayaimu?" tanyanya sarkastis. "Sudah kubilang, kau tidak cocok berlagak seperti orang keren. Untuk apa aku percaya padamu? Percaya bahwa kau bisa melindungiku? Apa tujuanmu yang sebenarnya, Kaneki?" tanyanya marah. Ya, apa sebenarnya tujuan lelaki bodoh itu? Persetan dengan tujuan melindunginya.
Tapi kata-kata selanjutnya yang meluncur deras dari mulut lelaki itu membuat Touka terbungkam.
Kaneki menengadah, dengan tatapan kosong. Disertai latar belakang salju yang meluruh jatuh ke atas bumi, mata Touka terngadah menatap lelaki itu tanpa celah. "Sebenarnya aku tidak punya tujuan tertentu. Tapi aku ingin melindungimu. Dengan segenap kekuatanku. Aku ingin berjuang untukmu. Apa itu tidak boleh?"
Tenggorokan Touka seperti tercekik.
Hening sejenak. Ada jeda untuk Touka menarik napas panjang, dan menatap Kaneki dengan tatapan putus asa. Lelaki itu masih menatapnya, menunggu responnya. Touka terbatuk lagi. "Untuk apa, Kaneki?" tanyanya lemas. "Untuk apa kau memperjuangkan aku? Aku tidak pantas diperjuangkan. Hidupku sia-sia. Aku tidak melakukan apa-apa untukmu. Aku tidak pantas kau perjuangkan."
Memangnya siapa dia?
Lelaki itu tersenyum kecil.
"Aku hidup untuk memperjuangkan orang lain. Dan aku hidup untuk mencari siapa orang yang pantas untuk aku perjuangkan. Dan aku tahu bahwa orang itu adalah kau, Touka-chan. Beserta semua orang yang ada bersamamu, seluruh pegawai Anteiku yang kini juga merupakan keluargaku."
Cangkir kopi putih di dekatnya remuk redam.
Beserta gejolak api yang menyala demikian perlahan.
11.
"Kau sekarang rekanku, penutup mata satu." Sebuah telunjuk mengarah tepat ke hadapan Kaneki, dan lelaki berambut putih itu mengangkat wajahnya, menatap lelaki berambut ungu kebiruan di hadapannya, yang sudah mengenakan topengnya. Ayato, tetap dengan sifat kasarnya, mengintimidasinya sebagai anggota baru Aogiri. Kaneki, tetap diam, mengangguk, dan bangkit dari kursinya, menyeduh kopi hitam. Ayato keluar dari ruangan itu untuk menerima misi selanjutnya. Ia sendirian.
Kopi hitam.
Kaneki meraba-raba kemungkinan ia bisa bangkit dari masa lalunya. Seduhan kopi hitam dalam cangkir putih yang bulat sempurna kembali mengindikasikan refleksi wajah itu, wajah yang sama, sebagian kecil dari masa lalunya masih tertinggal disana, dan pada faktanya gadis itu masih ada dalam memorinya. Kaneki mengerjapkan matanya, berharap semua ini hanya mimpi yang akan kembali buyar saat ia kembali membuka kelopak matanya, namun ini realitas yang mungkin hanya terlihat sedikit berbeda dari sekedar mimpi.
Rambut pendek ungu kebiruan, mata sipit dengan wajah kuning langsat, dibalut dengan seragam pelayan Anteiku. Kirishima Touka terpantul dalam refleksi bayangannya, ia ada di setiap deru napasnya, bahkan Kaneki tidak bisa menghilangkan wajah Touka yang terpantul dalam kelamnya dasar cangkir kopinya kali ini. Walaupun ia berusaha keras, namun pada kenyataannya bagian terkecil dari masa lalunya itu ada, walaupun kasat mata, dan berpengaruh besar pada kehidupannya.
Sekeras apapun ia mencoba, hal yang sama selalu terjadi. Untuk sekali lagi, Kaneki memijat ringan tulang hidungnya, untuk meringankan sakit kepala yang lagi-lagi menyerangnya ketika wajah itu kembali memenuhi pikirannya.
Kaneki terdiam dalam keputusasaannya, dibantingnya cangkir kopi di hadapannya secara tiba-tiba dengan kenyataan bahwa sekarang ia membenci takdir. Cangkir itu kini tak berbentuk lagi, beserta seluruh rasa kesal yang meluap. Kaneki tahu ia punya prinsip hidup baru, ia benci takdir dan ia sadar akan itu.
Dan ia membenci keadaan.
12.
Universitas Kamii.
Pohon-pohon yang berderet rapi di ujung pelataran kampusnya saat ini adalah objek yang memfokuskan direksi Touka dengan bayangan seorang lelaki berambut hitam dengan sweater kuno dan celana panjang yang sedang duduk di bawah rindangnya pohon dengan buku-buku bodoh yang bertumpuk di hadapannya. Ia membaca buku tanpa memedulikan orang lain dengan anggapan bahwa dunia ini hanya miliknya seorang. Ia menikmati kesendiriannya yang bebas memberinya ruang untuk berimajinasi.
Touka tertawa dalam hati. Lelaki keras kepala itu biasa membaca buku-buku bodohnya itu disini. Lelaki menyebalkan itu biasa menghabiskan waktunya disini.
Dipandangnya papan pengumuman, dengan puluhan poster penawaran ekstrakurikuler yang mungkin menarik untuk diikuti. Gadis itu bergeser sedikit ke arah kiri dan mata Touka langsung berpusat pada satu direksi ketika melihat wajah itu, rambut hitam, iris cokelat, sweater kuno khasnya, dan sekitar lima detik kemudian Touka sadar bahwa sosok itu adalah Kaneki Ken, yang ada di poster berlogo kepolisian Jepang. Ia tergerak kaget begitu melihat sebuah tangan mencopot poster itu dan memasukkannya ke dalam tas punggungnya.
Touka justru lebih dibuat kaget ketika melihat sosok Hide, sahabat Kaneki, orang yang membuatnya mengenal Kaneki Ken untuk pertama kalinya, orang yang membuatnya terlibat dalam sosok Kaneki Ken beserta seluruh masalahnya, ada di hadapannya, tertegun menatapnya. Ia baru saja mencopot poster dengan wajah Kaneki itu ketika Touka tersentak kaget dan Hide buru-buru menguasai keadaan.
"Touka-chan?"
.
.
Hide membelikannya kopi kemasan. Touka tahu ia harusnya mengucapkan terima kasih sebagai formalitas, namun seluruh sopan santun itu meluruh ketika rasa penasarannya lebih mendesaknya untuk bertanya apapun tentang lelaki menyebalkan bernama Kaneki Ken yang masih saja membuatnya bertanya-tanya. "Poster tadi…" Touka agak ragu, sementara Hide tertawa keras. Touka mengerutkan keningnya heran. Ia tidak melawak, bukan?
"Jadi kau melihatnya?"
Touka mengangguk. "Kalau Kaneki…" Ia kembali ragu-ragu. "Kaneki-san itu orangnya seperti apa?"
Alis Hide terangkat sekian sentimeter. "Kaneki?" tanyanya, dan Touka kembali mengangguk. Demi Tuhan, Hide bukan beo yang terus-menerus mengulang ucapannya, bukan? "Kaneki itu pemalu. Kurang percaya diri, dan…" Hide terhenti sejenak, ditatapnya mata Touka yang meredup beserta tangannya yang mengaduk-aduk kopinya tanpa ekspresi. "Ia jadi agak pendiam semenjak ibunya meninggal. Saat itu ia menenggelamkan diri dalam buku dan dunia kesendiriannya. Kau tahu buku yang sering dibacanya, bukan? Monokrom…"
"Pelangi," sahut Touka secara cepat. Ia hafal semuanya tentang lelaki itu. Ia tahu segalanya tentang lelaki itu. Lelaki yang membuatnya cemas seperti dunia akan kiamat dalam hitungan sepuluh detik ke depan.
13.
Touka sadar ia ada dalam gendongan Kaneki, dengan seluruh tubuh yang terluka, dan ia tidak bisa bergerak. Ditatapnya topeng bermata satu itu, dengan rambut putih perak yang menaungi pandangannya. Ia kembali hendak berbicara, namun percuma saja. Tubuhnya terluka fatal. Gigitan Ayato pada kagune-nya mungkin berdampak serius dengan kenyataan bahwa ia lumpuh sementara. Ditatapnya Kaneki dengan lemah. Tatapannya meredup.
"Kane… ki…" Touka tersedak, gumpalan darah di mulutnya tanpa sengaja tertelan olehnya. "Kenapa… kau… begitu bodoh…" Touka tidak melanjutkan perkataannya begitu ia melihat lelaki yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter darinya itu tersenyum kecil. Lelaki yang kini tengah mengarahkan matanya padanya. Touka menghela napas, rasa gugup tiba-tiba menyusupinya.
Kaneki meringis, direngkuhnya tubuh mungil Touka dengan erat, dan Touka diam-diam tersenyum kecil, ia sadar Kaneki ada di sisinya, mengenggam tangannya dengan erat, membiarkan aroma tubuhnya tercium olehnya, dan membiarkan gadis itu terdiam dengan isak tangis yang sudah lama tertahan. Dan iris ungu itu menyipit, kembali bersandar pada bahu tegap Kaneki, dan disertai oleh tatapan tanpa ekspresi. Detik itu pula, Touka yakin, kalau ia memiliki seseorang yang memahami dan menerima seluruh kelemahannya.
Kakuja Kaneki berhenti menangkis serangan Ayato dengan tatapan beku. "Aku tidak akan membunuhmu. Kau adalah adik dari Touka-chan, dan aku tidak bisa membunuhmu."
Touka terdiam dalam keheningan. Ia tahu sebenarnya Kaneki bisa saja membunuh Ayato saat itu juga, namun Kaneki tidak akan mengotori tangannya dengan membunuh adik kandung gadis yang disayanginya. Sia-sia saja, pikirnya. Dan sampai kapan Touka harus bermain dalam kepura-puraan?
Padahal Touka sedang berusaha melupakannya, menguburnya dalam-dalam seolah semua yang berhubungan dengannya adalah hal terburuk yang pernah ada di dunia. Tetapi, entah mengapa walaupun ia sudah berulang kali menanamkan pada dirimu sendiri bahwa Kaneki Ken bukanlah yang terbaik, Touka tidak pernah berhasil menguburnya. Dan dari ia-bukan-yang-terbaik-untukmu berubah menjadi kau-bukan-yang-terbaik-untuknya. Setiap kali Touka memikirkannya, kakinya entah mengapa selalu membawanya pada sosok Kaneki.
Dan disinilah Touka, menyalahkan diri sendiri atas keadaannya saat ini. Menyalahkannya atas keputusan yang diambilnya. Menyalahkannya atas tindakan yang dipilihnya. Menyalahkan Kaneki atas semua yang terjadi padanya, maupun pada Kaneki sendiri.
Lengan kokoh Kaneki menggenggam erat tubuh Touka, lelaki itu menatapnya sayu. "Butuh mental lebih untuk melamarmu, Touka-chan. Maukah…" Ia terhenti sebentar. "Kau terus bersamaku, selamanya?"
Dan Touka, sadar atau tidak disadari, masih tertegun dengan wajah lugunya, menatap kembali sosok itu melalui sudut matanya, menatap lelaki itu, yang kini berada di hadapannya. Touka menatapnya, beserta seluruh rasa lega yang meluruh saat mengetahui lelaki itu baik-baik saja. Sudut matanya dan lelaki itu bertabrakkan, dan Touka tidak tahu lagi harus berbuat apa. Touka mengendalikan napasnya yang menderu, dan mencoba menatap lelaki berambut putih itu dengan sudut mata yang memanas, dan lelaki itu menatapnya dengan tatapan dalamnya, seperti biasanya. Dan kesimpulannya, Touka hanya akan kembali padanya, hanya padanya. Ia mencintai Kaneki Ken, dan ia baru sadar akan hal itu.
Likuid bening mengalir dari mata Touka, disertai anggukan yang berarti ya, dan Kaneki kembali menyentuh bibir Touka dengan bibir bekunya, membiarkan seluruh dunia tahu bahwa Kirishima Touka sekarang adalah miliknya. Kaneki mendengus dan mengelap darah yang merembes keluar lewat sudut bibirnya.
Kaneki adalah supernova, dan Touka adalah lubang hitam kelam yang kasat mata, namun ada dan memberinya masukan energi untuk melakukan hal lain di luar dugaannya.
.
.
To be continued.
.
.
Arrrgh, finished~ fic ini bakal saya lanjut kok. Soalnya banyak yang PM kalo sayang fic ini ga lanjut. Gomen ya minna, telat bangeet! Habisnya project ini terhalang oleh UN~ saya udah jelasin kan di atas. Fic ini akan ada chap 3 nya kok. Special future fic Touka-Kaneki. Sayang kalo cuman berakhir gini~ keep update minna! Gomen ya Shuben-chan, telat hehe.
