Simple Things
A Story by Titania aka 16choco25
Tokyo Ghoul © Ishida Sui
Cast :
Kaneki Ken
Kirishima Touka
Side story [end]
.
.
Kau, Kirishima Touka, selalu berpikir bahwa dunia ini kejam, tidak ada tempat baginya untuk bisa menikmati kebahagiaan.
Kadang saat atensimu terpaku pada daun-daun gingko yang meranggas, bersama salju yang merambat dalam hening di kaca bening jendela, kau berpikir bahwa—ghoul ada di dunia ini dengan beribu resiko menantang yang penuh dengan marabahaya, dimana kau ada, untuk berjuang, hingga terpikirkan olehmu, kemana kau akan pergi bila kau tidak punya tempat di dunia yang kejam ini—apakah kedua kakinya akan berjalan perlahan menuju gerbang surga yang penuh kedamaian atau terlempar dengan kenistaan menuju jurang neraka yang terdalam dan tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya?
Kau sendiri—tanpa seorangpun, tanpa tempat tinggal, dan tanpa kebahagiaan—kau membiarkan seluruh hal menyenangkan dalam hidupmu terenggut paksa oleh dunia yang tidak memihakmu. Kadang kau berpikir dengan naifnya bahwa dunia ini tidak memiliki keadilan, dunia ini fana dan menyebalkan. Semua keluarga—termasuk orang-orang yang telah kau anggap sebagai keluarga—entah mereka pergi kemana, mereka meninggalkannya berbalut keperihan seperti garam yang tertabur tanpa sengaja di atas luka yang menganga.
Dan kemana arwah mereka semua?
Entahlah. Kau—Kirishima Touka, hanya memiliki satu unsur kebahagiaan yang ingin ia dekap, selamanya, hingga di hari tuanya ia menyongsong pilar kebahagiaan.
"Kaneki…"
Kau hanya bisa menyebut namanya dengan lemah, menyebut nama lelaki yang telah menyelamatkanmu dari banyak hal, dan saat itu iris emeralmu melebar ketika kau sadar bahwa kedua tangan kekar itu merangkul bahumu, disertai lilitan syal hitam yang melingkar di lehermu. Menghangatkanmu, berselimut rasa kehangatan yang merambat secara diam-diam, dan kau memejamkan kedua pelupuk matamu, dan kau bisa menyadari bahwa unsur kebahagiaanmu itu—sekali lagi, berusaha membahagiakannya walaupun ia tak mampu.
—unsur kebahagiaan itu lebih hangat dibandingkan sinar matahari pagi yang setiap pagi menyapamu, cahayanya menimpa jatuh embun yang menetes dari daun di tanaman mungil di ujung pot-pot tanamanmu, seakan-akan kau baru melihat cahaya itu diciptakan Tuhan untukmu pagi ini.
"Touka-chan."
Suara itu hangat, membuat gendang telinganya bergaung dengan merdu, tapi yang kau lakukan justru menenggelamkan wajahmu di dekapan lengan kekar itu, mencari kehangatan yang bagimu, lebih nyaman dibandingkan sofa beludru manapun. Membiarkanmu terhanyut dan merosot dalam pangkuan lelaki berambut putih itu. Dan membiarkan tangan tegas itu meraih tanganmu, mengenggamnya erat, dan Touka menenggelamkan dirinya semakin erat dalam pelukan lelaki itu, hingga lelaki itu meletakkan kepalanya di sekitar bahunya.
Biarkan sekali ini saja lelaki itu yang memangkumu dengan perasaan yang sedemikian meluap tanpa kontrol sekalipun, direngkuhnya tubuhmu hingga kau merasa nyaman bila berada di dekatnya.
"Aku—"
Kaneki yang sekarang memangkunya adalah Kaneki yang tegas—namun penuh rasa kehangatan dan kelembutan.
"Jangan katakan hal itu lagi, Touka-chan," kata lelaki itu dengan cepat, mengantisipasi. Biarkanlah lehermu terjerat dalam pelukan lelaki itu yang semakin mengerat. Biarkanlah kau menghirup aroma tubuh lelaki itu yang membuatmu merasa nyaman. Napas terengah-engah itu meresap tengkuk lehermu, disertai dekapan yang mengerat beserta rasa hangat yang menyebar. Kau memejamkan matamu, lagi. Rasa hangat menghujam tubuhmu ketika lelaki itu masih mendekapmu erat, dan lengan tegas itu meraih tubuhmu masuk ke pelukannya.
Kulitmu merona hebat dalam dekapan kulit dingin itu. Masih berbisik, ia perlahan mendekatkan bibirnya ke belahan telingamu, berbisik dengan pelannya, tapi langsung membuat pipimu merona dengan hebat.
"Menikahlah denganku, Touka."
—kalimat itu terlantun dengan lugas beserta senyuman yang bertukar saat itu juga, unsur kebahagiaan itu kembali membahagiakanmu lagi, asal kau tahu.
.
.
End.
