.
Annoying Girl © Hezlin Cherry
.
.
RATE : M (For Save)
.
Sasuke Uchiha X Sakura Haruno
.
Romance, Hurt / comfort
.
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
Summary : Uchiha Sasuke benar-benar membenci gadis berisik. Seperti halnya gadis tetangga sebelah rumah yang selalu berisik mengganggunya, baginya itu sangat menyebalkan. Hingga terjadi suatu hal erotis dengan gadis menyebalkan itu dan membuat ia merubah pola pikirnya tentang sang gadis.
.
.
.
WARNING: Sasuke Point of View, Alur muter2 gajeness, AU, OOC, TYPO, gak sesuai EYD!?
.
.
Don't like? Don't read!
.
.
.
↖(^▽^)↗Happy Reading↖(^▽^)↗
.
.
.
"Jadi, apa yang kau lakukan padaku Sakura?"
Aku menggertaknya dan itu membuat tubuhnya bergetar. Bahkan wajahnya semakin pucat.
Che! Segitu takutnya 'kah kau padaku? Hanya ku gertak begitu saja tampangmu sudah pucat begitu.
"Saat itu... A-aku...!"
Syuutt
"Bruk!"
Eh, Kenapa dia tiba-tiba tak sadarkan diri dan terjatuh dalam pelukanku.
"Sakura! Hei! Bangun! Jangan bercanda!" Seruku sambil mengguncang-guncang tubuh mungilnya. Dan yah mungkin saja dia bercanda berpura-pura pingsan hingga dirinya dapat terbebas dari pertanyaanku yang sepertinya membuatnya enggan mengatakannya itu. Entahlah.
Aku menepuk-nepuk pipi chubbynya. Pipi yang dulu selalu bersemu merah saat menggumamkan namaku. Ck, sial! Aku baru sadar jika wajah gadis menyebalkan ini bisa semanis ini jika dilihat dari dekat. Hingga tanpa kusadari sesosok berhelai merah telah masuk ke dalam kelas yang sudah sepi menyisakan aku dan gadis pink ini.
"Sakura kau sudah selesai pik- HEI! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA UCHIHAAA!?" Pria merah itu memekik keras melihatku sedang menyangga tubuh Sakura yang tak sadarkan diri.
Ya, aku tau jika pria merah itu adalah Sabaku Gaara si murid baru yang selalu menempel pada Sakura, bahkan saat begini pun dia juga tetap muncul dan menampakkan batang hidungnya, che! Memuakkan!
"Hn, aku tak tahu. Tiba-tiba dia tak sadarkan diri." Sahutku sedatar mungkin.
Dia mendelik tak suka akan jawabanku. Dan akupun tak mempedulikannya sampai kedua tanganku di tepis kasar olehnya. Itu membuatku menatapnya tajam, apa-apaan dia?
"Jangan sentuh Sakura!" Desisnya tajam sembari menggendong tubuh Sakura a la bridal style. Dan itu benar-benar membuatku geram.
"Sialan! Mau kau bawa kemana dia?"
"Cih, ke UKS! Karena sepertinya anemianya kumat!" Dia mendecih dan segera pergi.
Shit! Kenapa dia bisa sangat tahu segalanya tentang Sakura? Bahkan penyakitnya pun ia mengetahuinya. Atau jangan-jangan Sabaku itu stalker? Huh, tak akan kubiarkan dia terus berada di dekat Sakura!
Aku bergegas mengambil tas punggungku dan tak lupa juga dengan tas milik Sakura yang masih tertinggal. Aku berlari ke arah UKS, untuk menyusul pria merah memuakkan itu.
.
Di ruangan serba putih dan identik dengan aroma obat-obatan ini aku masih memandangi Sakura yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang UKS.
Sedangkan makhluk merah dengan mata panda itu selalu menatapku tak suka, seolah ia sedang menabuhkan genderang perang denganku, che! Apa peduliku? Karena itu benar-benar tak penting!
Dia duduk tak jauh dari ranjang tempat gadis musim semi itu berada.
Dan aku? Tentu saja aku tepat berdiri di samping si pinky ini dan mengamati setiap proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Shizune-sensei yang merupakan guru kesehatan di sini.
Untung saja di sekolah yang sudah sepi ini masih ada beberapa guru yang belum pulang. Salah satunya guru UKS yang sedang memeriksa Sakura menggunakan stetoskop layaknya seorang dokter profesional ini. Well, aku tak peduli apakah dia seorang yang profesional dibidang kesehatan atau hanya sekedar mengerjakan tugasnya sebagai guru UKS di sini. Yang penting gadis menyebalkan itu segera sadar dan bangkit dan pulang bersamaku seperti biasanya dan-! Eh...? Tidak! tidak! Apa yang kupikirkan, huh konyol!
Aku terus saja bergulat dengan pemikiran konyol tadi hingga sebuah dering ponsel yang kuyakin berasal dari si Sabaku itu menghentikan pemikiranku.
Aku melirik melalui ekor mataku, jelas saja aku tak ingin menoleh langsung. Dari sini terlihat jika dia telah mengangkat ponsel merahnya dan sedikit berbicara dengan seseorang diseberang sana. Suaranya sangat lirih dan datar hingga aku tak tahu apa yang dia bicarakan.
Tapi tiba-tiba dia memekik.
"Aku sedang sibuk Temari-nee! Eh! Apaa? Tidak ja-jangan! Hem baiklah aku ke sana sekarang!"
Dan tentu saja itu mengundang tatapan protes dari Shizune-sensei seolah mengatakan 'jangan berisik!' dengan tatapan matanya. Membuat pria Sabaku itu berdecih dan dengan cepat mematikan teleponnya. Aku mendengus menahan tawa melihatnya kesal dan ketakutan setelah menerima telepon yang sepertinya dari kakak perempuannya.
"Cih, sial! Aku harus pergi." Decihnya entah pada siapa.
Walau di sini juga ada diriku, tapi aku tak menganggap ada dirinya. Dan itu tak penting buatku.
Dia segera bergegas mengambil tas ransel miliknya dan mengenakannya dengan cepat. Sebelum dia pergi, manik jadenya sempat menatapku tajam seolah mengatakan, 'awas kalau kau tak menjaga Sakura sampai siuman!' dari pancaran matanya yang seolah-olah ingin menerkamku.
Aku hanya mendengus keras menanggapinya. Jelas saja aku tak akan meninggalkan gadis ini. Walaupun dia menyebalkan, entah kenapa aku... Merindukan sikap menyebalkannya selama ini.
"Jadi, kau yang bertanggung jawab pada Haruno jika dia sadar nanti Uchiha?" Tanya Shizune-sensei padaku. Dan aku hanya bergumam sekilas menanggapinya.
"Hn. Bagaimana kondisinya?"
"Haruno sepertinya sedikit demam, itu juga pengaruh penyakit anemianya," jeda sejenak, " tapi kita belum bisa memberinya obat karena dia masih tak sadarkan diri." Lanjutnya lagi dengan ekspresi sedih karena tak bisa segera menangani keadaan Sakura agar cepat pulih. Karena peralatan di UKS ini terbatas. Hanya ada obat-obatan saja tanpa alat infus seperti di rumah sakit.
"Mana obatnya?" Tanyaku sambil mengulurkan tangan meminta obat tersebut.
"Eh, ini... Tapi untuk apa?" Ujar sensei berhelai hitam pendek itu bingung tapi tetap menyerahkan pil tersebut padaku.
Aku tak merespon dan dengan cepat aku memasukkan pil tersebut ke dalam mulutku, tak lupa aku juga mengambil air mineral dan menampungnya dalam mulutku bersama dengan pil tersebut tanpa menelannya.
"Astaga apa yang kau lakukan Uchiha!?" Shizune terdengar panik saat melihatku melahap pil ini. Huh! Aku masih tak merespon dan terus melanjutkan pergerakanku menuju Sakura, lalu sedikit menegakkan tubuhnya dalam rengkuhanku.
"Ya ampuuunnn anak muda jaman sekarang!" Dia kembali memekik saat melihatku mulai membuka bibir mungil Sakura dan melahapnya.
Mungkin menurut pandangan sensei UKS itu aku seperti sedang mencium dan melumat bibir Sakura, tapi yang kulakukan saat ini adalah mentransfer pil dalam mulutku ke dalam mulutnya. Supaya Sakura yang sedang tak sadarkan diri juga bisa menelan pil tersebut.
Gluk...Gluk!
Masih dalam posisi menekan bibir beraroma cherry ini dengan bibirku yang juga sedang terbuka. Aku juga membantu Sakura menggerakkan lehernya agar dia menelan pil dariku. Ya, dan dia menelannya. Hingga membuat beberapa saliva kami yang bercampur dengan air mineral meluber keluar dari dalam mulutnya dan mengaliri leher putihnya.
Dan tanpa kusadari ternyata Sakura sudah sadar. Dia mengerjapkan emeraldnya. Sontak saja aku segera melepaskan bibirku darinya. Aku tak ingin dia salah paham, che! Aku 'kan hanya sekedar membantu. Tak lebih! Tekanku dalam hati.
"Engh~!"
"U-Uchiha... A-apa yang kau lakukan padaku!" Tiba-tiba dia memekik sambil mengelap sudut bibirnya yang masih terdapat aliran benang saliva kami.
"Hn, aku hanya membantumu, itu tadi emergency." Jawabku yang telah kembali berdiri dan merapikan seragamku yang sedikit kusut karena menyangga tubuh Sakura untuk beberapa menit dan sepertinya dia tadi meremas ujung kemejaku, terlihat sedikit gumpalan kusut di sana.
"Seharusnya kau berterimakasih padanya Haruno! Karena tadi dia yang membantumu meminum obat." Ujar Shizune mencoba menengahi dan menenangkan Sakura yang histeris karena mungkin dalam pikirannya, aku telah menciumnya paksa saat dia tidak sadar.
"Eh?" Emeraldnya membulat tak percaya sambil menatapku bingung.
"Hem...dia melakukan mouth to mouth untuk mentransfer obat padamu~" Jelas Shizune lagi seraya merapikan selimut yang dikenakan Sakura.
Sedangkan gadis tetangga sebelah rumahku itu kini wajahnya benar-benar memerah. Ia menunduk tak menatapku lagi guna menyembunyikan wajah merahnya, sial! Dia benar-benar menggemaskan!
"A-arigatou Sa-Sasuke..." Cicitnya memanggil namaku. Namaku? Akhirnya kau memanggil namaku lagi Sakura.
"Hn, kalau kau sudah baikan, ayo kita pulang." Aku menanggapinya datar, berbanding terbalik dengan apa yang tengah melanda hatiku saat ini... Aku... benar-benar lega. Entah kenapa aku juga tak tahu.
Sakura mengangguk dan aku membantunya berdiri. Dia tak menolak dan memakiku seperti sebelumnya? Hn, mungkin karena pengaruh tubuhnya yang sedang sakit. Aku tak peduli dan masih tetap membantunya berjalan dengan menggenggam tangannya seolah takut jika dia terjatuh.
"Arigatou Shizune-sensei...kami pulang dulu." Ujar Sakura sebelum kami meninggalkan ruang UKS.
"Douita, semoga lekas sembuh Haruno."
~oOOOo~
Langit benar-benar terlihat tak bersahabat, gumpalan awan mendung nan hitam mulai merapat membentuk barisan khusus yang akan siap kapanpun untuk menumpahkan benda cair bernama hujan.
Oleh karena itu, dengan cepat kini kami sudah berada di dalam rumah Sakura yang sepi. Aku memang tahu jika kedua orang tuanya selalu pulang larut malam karena sibuk bekerja. Entah setan apa yang membuatku turut menemani gadis pinky ini masuk dan hey! Kenapa aku masih menggenggam tangannya. Dan kurasa Sakura juga tak keberatan, ya sudahlah nikmati saja.
Suasana ini sedikit canggung. Sakura sepertinya tak tahu apa yang harus dia lakukan dengan diriku di rumahnya saat ini. Oh...ayolah, telah lama kami bertetangga dan baru sekarang aku menginjakkan kaki di rumahnya dan hanya berdua tanpa kedua orang tuanya yang sama-sama berisik itu. Ingat hanya berdua! Jelas saja dia gugup, aku pun begitu.
"Emm...Sasuke, a-apa kau mau minum dulu?" Dia berujar dengan gugupnya. Emeraldnya bergerak-gerak gelisah. Cih, jika dengan Sabaku saja kau bisa tersenyum sumringah. Kenapa denganku tidak, eh?
"Tak usah, aku akan pulang." Ya, sepertinya aku memang harus pulang.
Emerald meneduhkan itu terbelalak kaget dengan perkataanku barusan. Mungkin dia ingin sedikit menjamuku sebagai tamu, tapi tak perlu.
"E-eh? Sudah ma-mau pulang?"
"Hn."
"Ba-baiklah..." Dia mengangguk dan mengantarku ke pintu depan sebelum kembali berujar, "Hati-hati di jalan yaa~"
Sebelum membuka pintu rumahnya, aku berbalik. Menatapnya intens dan itu membuat wajahnya tiba-tiba bersemu kemerahan.
"Hn, rumahku 'kan di sebelah."
Dia tampak kaget dan seketika tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang sepertinya tak gatal, "Eh, ahaa i-iya juga ya...ehe."
Huh, rupanya dia salah tingkah, eh? Haha benar-benar menggemaskan. Tak kuasa aku turut menyunggingkan senyuman tipis dan itu membuat Sakura menatapku tak percaya.
"Baiklah, aku pulang."
Dengan cepat aku membuka knop pintu dan melangkah keluar rumahnya. Baru saja aku berjalan tiga langkah tiba-tiba...
DRESSHH!
Ck, sial! Hujan yang sangat deras tiba-tiba turun dan mengguyurku. Sontak saja aku kembali menuju rumah Sakura. Che! Kalau aku menuju rumahku rasanya percuma. Walaupun rumahku bersebelahan dengan rumah gadis pink ini, tetap saja memiliki jarak yang sedikit jauh karena rumah kami masing-masing memiliki halaman depan yang cukup luas.
"Eh, Sa-Sasuke! Kau kehujanan?" Tanya Sakura kaget saat melihatku kembali ke rumahnya. Aku mengangguk sekilas menanggapinya.
Dengan cepat Sakura menyuruhku masuk kedalam rumahnya dan duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan dia segera ke belakang mengambilkan handuk untukku.
"Ini, keringkan kepalamu dengan handuk ini." Sakura menyodorkan sebuah handuk berwarna soft pink yang kuyakin itu adalah miliknya, jika mengingat dia adalah seorang pinky lovers.
Aku tak mengambil handuk itu melainkan hanya menatapnya dan itu membuatnya gugup, "tolong... usapkkan." Entah setan apa yang merasukiku tiba-tiba aku berkata demikian dengan nada memohon? Sekali lagi memohon? Ck, sial!
"Eh, kau ingin aku yang mengusapkannya?" Dengan wajah kemerahan ia bertanya dan aku mengangguk, "ba-baiklah." Sakura menurut dan mendekat ke arahku yang sedang duduk berhadapan dengannya yang masih berdiri.
Dia mendekap kepalaku dan mengusap helaian ravenku perlahan. Sesekali jemari lentiknya menekan kepalaku sedikit kuat hingga menimbulkan sensasi tersendiri seperti sebuah pijatan rileksasi yang menenangkan. Bahkan tak jarang saat ia menekannya membuat wajahku berada semakin dalam dengan dekapannya yang lembut dan kenyal.
Heh, tunggu dulu! Kenyal?
Ck, sial! Ternyata benar jika wajahku tepat berada dihadapan sepasang bukit kembar yang menonjol itu.
Gyut!
Sekali lagi dia menekan kepalaku hingga bertubrukan dengan dadanya yang bergoyang-goyang seirama dengan gerakan lengan dan tangannya yang naik turun mengusap kepalaku. Shit! Ini benar-benar membuatku tak bisa berpikir jernih. Ingin rasanya aku segera meraup benda bulat itu dan melahap puncak bukit kenikmatan miliknya.
"Ugh~ Sakura!"
Bodohhh! Kenapa aku bisa mengeluarkan suara menjijikan seperti iniiii...! Aku benar-benar merutuki suaraku yang terdengar berat dan serak seolah menahan hasrat ini. Dan karena suaraku itu Sakura menghentikan gerakannya. Ia menatapku bingung.
"Eh, kenapa Sasuke? Apa aku terlalu kuat menekan kepalamu?" Gadis merah muda ini bertanya dengan raut wajah kebingungan yang membuatnya tampak semakin menggemaskan di mataku. Sial!
Aku tak merespon dan hanya menatap kedua bola mata hijau besarnya. Aku mendongak dan ia menunduk juga menatapku. Sejenak kami seperti terhanyut menyelami keindahan yang ditimbulkan oleh pancaran onyx dan emerald.
Hingga ia mengerjap kaget dan berdehem pelan sebelum berpaling, "kurasa rambutmu sudah cukup kering ..." Jeda sejenak, "aku akan membuatkan ocha hangat untukmu." Lanjutnya lagi seraya melenggang menuju dapur.
"Sial! Apa yang kulakukan tadi? Cih memalukan!" Gerutuan kesal keluar dari mulutku. Haaahh... Menghela napas sambil menyandarkan tubuhku di sofa panjang ini. Aku menggeram frustasi akibat serangan juniorku yang tiba-tiba membuat selangkanganku semakin sesak karena kejadian tadi. Ini sungguh tak nyaman.
Memejamkan mata sambil menunggu Sakura kembali sepertinya ide bagus untuk menurunkan hasrat sialanku ini.
Ya, kini napasku tak lagi berat dan memburu seperti tadi. Napas sialan ini sudah mulai teratur menghirup oksigen dan melepaskan karbondioksida. Bahkan juniorku juga sudah tak menyakiti selangkanganku lagi.
Tap...tap...
Sepintas aku mendengar derap langkah menuju kemari. Itu pasti Sakura. Aku tak peduli dan masih memejamkan mata ini. Langkah kakinya semakin dekat dan sepertinya telah berhenti tepat di hadapanku. Terdengar juga ia telah meletakkan segelas ocha di atas meja kaca tak jauh dariku.
"Sasuke... Ah! Dia tertidur..." Sakura bergumam pelan di dekatku. Hmm, ternyata dia menganggapku sedang tertidur pulas.
Kupikir dia akan membiarkanku tertidur di sini. Tapi dugaanku salah, aku merasakan napas hangat beraroma cherry yang perlahan mendekat bersama dengan tekanan pada bibirku karena sebuah benda kenyal yang sedikit basah?
Apa? A-apakah dia sedang menciumku?
Refleks tubuhku menegang dan onyxku terbuka, terang saja di hadapanku ternyata Sakura memang sedang menyerangku saat tertidur terlihat kedua manik emeraldnya yang tertutup oleh kelopak matanya. Ia terpejam menikmati bibirku, eh?
Ternyata kau nakal juga ya, gadis menyebalkan?
Aku menyeringai sebelum meraih tengkuk Sakura. Ia tersentak kaget, tiba-tiba emeraldnya terbuka dan membulat sempurna mengetahui diriku yang ternyata tidak tidur.
"Ah! Hmmpph! Sa-Sasuke?!" Sakura memekik disela-sela ciuman yang kutekankan.
Aku tak merespon dan terus saja mengecap rasa bibir kenyalnya yang sangat manis ini. Huh! Salahkan dirinya yang membangunkan singa tidur. Bahkan beberapa menit yang lalu aku sudah mulai tenang, tapi perbuatannya yang menyerangku saat aku mulai tertidur itu justru kembali membangkitkan hasrat terpendam sialanku ini.
Masih dengan posisi terbaring di sofa dengan Sakura yang merunduk lemas, seakan pasrah akan tindakanku. Aku terus melumat bibir ranumnya dan sesekali ku gigit-gigit kecil hingga ia memberikan jalan untuk lidahku masuk dan mengamuk di dalam rongga mulutnya. Aku terus melesakkan lidahku untuk bergulat dengan lidahnya yang sudah pasti akan kalah denganku.
Hingga aku merasakan napas Sakura yang semakin berat juga putus-putus tak teratur membuatku sadar jika dia juga membutuhkan oksigen. Dengan tak rela aku melepaskan seranganku pada bibirnya. Menimbulkan suara kecapan terlepasnya kedua bibir. Bahkan benang saliva tampak terputus, seiring kedua bibir yang berjauhan.
Sakura terengah tak percaya dengan apa yang terjadi. Wajahnya benar-benar merah padam dan itu terlihat menggemaskan di mataku.
"Sasuke...kau...Me-menciumku?" Dengan bodohnya dia bertanya? Huh. Nyatanya dia duluan yang menciumku.
"Hn, bukannya kau duluan yang menyerangku saat aku terlelap, eh?" Aku membalikkan pertanyaannya sambil menyeringai puas melihatnya kaget dan gugup begitu.
"Eh, i-itu...a-aku...itu... Ma-maafkan aku!" Cicitnya gugup seraya menundukkan wajahnya semakin dalam. Aku yakin jika dia benar-benar menahan malu.
"Hn, tak usah meminta maaf..." Ucapku sambil memegang dagunya guna mengangkat wajahnya agar kembali menatapku, "karena... aku menikmatinya."
Emeraldnya membulat sempurna sebelum aku kembali menarik pergelangan tangannya hingga ia memekik tertahan karena terjatuh dalam pelukanku. Lalu dengan cepat aku rubah posisiku hingga kini ia berada di bawahku, dalam kungkunganku dan kami saling bertatapan. kulihat emeraldnya berubah menjadi sayu, aku dapat melihat tatapan penuh damba yang ia layangkan padaku. Dari tatapannya seolah dia juga menginginkan sentuhan lebih dariku.
Dan... Entah kenapa aku pun benar-benar senang melihatnya seolah kembali berharap padaku. Shit! Apa aku sudah gila? Tidak! Aku benar-benar menginginkannya!
Ya, aku menginginkan gadis menyebalkan ini!
Kali ini aku melumat bibirnya dengan ganas, tak selembut sebelumnya. Aku dapat mendengar erangan dari bibir mungilnya, che! Itu justru membuat libidoku semakin memuncak.
Aku dapat merasakan tangannya yang juga menekan kuat belakang kepalaku sambil meremas-remas rambut mencuatku. Dan aku menyukainya. Setelah puas dengan bibir ranumnya yang tampak sedikit membengkak akibat ulahku itu, kini area jajahanku mulai menuruni leher jenjangnya. Kuhisap kuat kulit mulusnya hingga menimbulkan ruam kemerahan di sana.
Sedangkan Sakura kembali memekik saat tangan kiriku yang terbebas mulai menelusup ke dalam seragam sekolah yang masih ia kenakan, mencoba mencari benda bulat yang membuatku penasaran sedari tadi.
"Hya~ Sasukeeee! Ahh-!"
"-Kun Sakura! Panggil Aku Sasuke-kun seperti biasanya!" Desisku disela-sela kegiatanku meremas-remas puncak payudaranya yang bulat kencang nan kenyal itu.
Aku yakin ini akan menjadi kelanjutan mimpiku semalam. Bahkan akan menjadi lebih menggairahkan. Hem... Dengan tak sabar aku kembali membuka kancing-kancing bajunya agar lebih memudahkanku dalam mengeksploitasi bagian tubuhnya yang menjadi favoriteku itu sebelum Sakura menghentikanku. Ck, sial! Kenapa lagi sih!?
Aku menatapnya kesal meminta jawaban kenapa dia menghentikan tanganku yang menginginkan lebih.
"-Kun? Kau berharap aku memanggilmu dengan suffix -kun?" Sakura mengatakannya dengan senyum miris, entah kenapa aku merasakan sedikit perasaan tak enak disini. Dan dia pun mendudukkan diri di sofa. Melepaskan diri dari kungkunganku secara kasar, shit!
"Kau mengharapkan aku memanggilmu begitu padahal kau sendiri membenciku, eh Sasuke?" Lanjutnya dengan tatapan nyalang dan berkaca-kaca.
Apa? Jadi selama ini kau menganggap aku membencimu? Tidak! Aku tak pernah membencimu Sakura! Aku hanya sedikit terganggu dengan tingkah menyebalkanmu yang entah kenapa akhir-akhir ini justru malah kurindukan...
"Hn, aku tak membencimu." Jawabkh datar, aku kembali merutuki sifat ke'Uchiha'anku yang tak bisa berkata seperti isi hatiku yang sebenarnya.
"Lalu apa? Bukannya kau sendiri yang mengatakan bahwa aku ini mengganggu!"
"Ya... Saat itu-!"
"Cukup! Aku memang tahu kau membenciku, maka dari itu aku mencoba menghindarimu!" Jeda sejenak, sepertinya ia mengambil napas. Aku masih terdiam mencerna setiap kata-kata yang tertumpah darinya untukku. Bagaimanapun juga ini semua berawal dariku, "tapi...tapi kenapa kau malah membantuku saat aku sakit dan tadi justru membalas ciumanku!?" Lanjutnya lagi dengan suara lebih tinggi dan ku yakin tersirat nada frustasi di dalamnya.
Tak tahu 'kah kau? Bahwa aku juga sudah tak tahan lagi, sepertinya dia terlalu berlebihan menanggapi perkataanku waktu itu.
"Demi Tuhan Sakura! Kau membuatku gila!" Hilang sudah kesabaranku, aku memekik frustasi sambil mengacak surai ravenku hingga kuyakin jika itu membuatnya semakin mencuat ke atas.
Sakura terdiam, ia bungkam antara tak percaya atau tak mengerti dengan ucapanku barusan. Ia memberiku tatapan menuntut. "A-apa maksudmu?"
"Ya, aku gila karena tiba-tiba kau menghindariku! Bahkan terkesan kalau kau tak mau peduli lagi terhadap segala sesuatu yang bersangkutan denganku! Terlebih setelah datang murid baru si Sabaku itu! Kau dan dia terlalu dekat, dan itu membuatku nyeri di sini!" Jelasku penuh penekanan dan emosi sambil menepuk-nepuk dada kiriku yang memang merasa nyeri saat melihatnya bercengkrama dengan pria lain.
"..." Sakura masih diam dan memperhatikanku, sesekali ia tersentak kaget dengan perkataanku. Hal itu nampak jelas dari emeraldnya yang tiba-tiba membulat sempurna dan tubuhnya yang menegang.
"Selama ini aku selalu berpikir sudah sejauh mana hubunganmu dengannya? Apa saja yang kau perbuat bersamanya dan kenapa dia bisa sangat tahu segalanya tentangmu! Dan sialnya lagi, itu semua membuatku hilang akal, kau tahu!" Ucapku tanpa bisa berhenti.
Tanpa kusadari jika aku mengatakan semuanya hingga membuatku terengah. Shit! ini bukan diriku sama sekali! Aku selalu bisa menahan sikap dan menyembunyikan egoku, tapi kali ini tertumpah semua yang selalu mengganjal di hatiku selama ini. Dan itu hanya karena gadis pinky ini? Gadis yang benar-benar menyebalkan, bukan?
"Itu tak ada hubungannya dengan Gaara-kun!" Sakura membalasku, bahkan di sini pun dia tetap memanggilnya dengan tambahan -kun?
"Oh, ternyata benar jika si makhluk tanpa alis itu adalah kekasihmu, eh?" Aku justru mencibirnya karena aku sangat kesal. Ck, dia bahkan selalu saja membela pria merah tanpa alis itu. Menyebalkan!
"Ja-jangan menjelek-jelekkan Gaara-kun! Bagaimanapun juga dia itu adalah sepupu jauhku!"
Heh, apa dia bilang tadi?
"Sepupu?" Gumamku tak percaya.
Sakura tersenyum sinis menanggapiku. "Ya! Dia sepupuku! Kenapa? Kau cemburu pada sepupuku, eh?"
Shit! Apa-apaan dia? Jika memang sepupu kenapa Sabaku itu berlaku seolah-olah seperti kekasihnya? Dasar iblis merah sialan!
"Hn, tidak! Untuk apa aku cemburu!" Elakku.
Sakura mendengus keras, oh ayolah... Tak bisakah kau membuatku tak terlihat terlalu menyedihkan seperti ini? Setidaknya biarkan aku sedikit membela diriku, Sakura!
"Huh, tak usah berbohong Sasuke! Jika memang kau tak cemburu, berarti tak masalah jika aku justru semakin dekat dengannya 'kan?"
"Tidak! Tak boleh! Aku tak akan membiarkanmu dekat-dekat bahkan sampai disentuh olehnya!" Sergahku cepat sambil mencengkram erat kedua bahu mungilnya. Sial! Hanya dengan mengatakan itu saja dia sudah berhasil membuatku panas.
"Heh, kenapa? Kau bukan siapa-siapaku! Kau tak berhak melarangku!"
"Ya aku berhak!" Tegasku menatap tajam emeraldnya. Dia mengerutkan alis bingung dan hendak protes, tapi segera kubungkam bibirnya yang mulai mengerucut itu.
"Hmmpph-! Ah- Sa-Sasukeee! Hmmpph"
Setelah puas aku melumat bibir menggiurkan itu, dengan cepat juga kulepas ciumanku, lagi-lagi dia ingin protes dan kuhentikan dengan menempelkan jari telunjukku pada bibirnya, agar ia berhenti bicara.
"Sssttt, aku berhak melarangmu! Karena sekarang kau adalah milikku Sakura!"
Dia melotot tak percaya sedangkan wajahnya merah padam, hemm aku tahu jika sebenarnya dia pasti sangat bahagia, "Huh, jangan seenaknya! Se-sejak kapan aku-!"
"Sejak aku menandaimu." Ucapku seraya menunjuk leher jenjangnya yang memperlihatkan sebuah tanda merah pemberianku. "Itu adalah tanda kepemilikan dariku!" Lanjutku dengan perlahan membawa Sakura ke dalam pelukanku, dan... Dia tak menolaknya.
"Uh~ kau memang menyebalkan Sasuke-kun!" Cicitnya dalam dekapanku.
Ada perasaan lega dan sensasi menyenangkan saat kembali mendengar dirinya memanggilku seperti dulu. Seolah ada ribuan kepakan sayap kupu-kupu yang entah dari mana itu telah sukses menggelitik dalam perutku. Aku mengusap-usap helaian merah mudanya yang sangat lembut ini, sambil sesekali ku kecup puncaknya sayang.
"Hn, kau lebih menyebalkan lagi hingga berhasil membuatku gila begini- Aw-!"
Dia langsung mencubit lenganku gemas sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Huh, itu benar-benar menggemaskan. Membuatku ingin mengecupnya berkali-kali dan membuatnya mendesahkan namaku saat aku memasukinya nanti seperti dalam mimpiku.
Heh, mimpi? Tunggu dulu! Sampai sekarang aku belum tahu sebab akibat aku bisa pingsan hingga bermimpi seperti itu.
"Hn, Sakura?"
"Ya, Sasuke-kun?" Masih dengan nyamannya ia bersandar di dada bidangku.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!"
Dengan cepat ia bangkit dari pelukanku dan menatapku bingung. "Hemm...pertanyaan yang mana lagi?"
"Kenapa aku tiba-tiba pingsan sesaat setelah aku menemanimu di ruang tamuku saat itu?" Aku kembali menanyakannya. Ya, menanyakan pertanyaan yang sampai sekarang belum kutemukan jawabannya.
Tiba-tiba Sakura tersentak kaget, "eh...i-itu... Waktu itu... Aku..." Ia berucap lirih dan gugup.
"Hn?" Aku memberikan tatapan menuntut agar ia mau menceritakannya.
"Saat itu... Aku tak sengaja me-menendang 'anu'mu Sasuke-kun." Cicit Sakura seraya menunjuk sesuatu yang terletak diantara selangkanganku yang aku tahu pasti apa itu dan dia menyebutnya 'anu'? Huh sungguh polos sekali dirinya.
Eh, tapi apa tadi dia bilang?
Menendangnya?
Shit! Pantas saja aku benar-benar merasa juniorku berdenyut kencang antara nyeri dan butuh kepuasan hingga aku pingsan dan bermimpi erotis begitu! Dan ternyata itu ulahnya?
'Haaahh... Tenang Sasuke, tenang... kau harus tenang menghadapinya. Dia pasti punya alasan khusus hingga berani menendang milikku yang berharga ini,' ujar innerku menenangkan.
"Hn, jelaskan!"
"A-ah... Habisnya waktu itu kau menggodaku!" Celetuknya sebal dengan gaya bibir mengerucut ke depan.
"Menggoda?" Ulangku, tak salahkah? Aku tak ingat pernah menggodanya!
"Hum, aku tahu kau itu tinggi. Saat itu aku ingin mengambil wadah tempat kue yang kuberikan dan segera pulang... Tapi, kau malah berdiri dan mengangkat tinggi-tinggi wadah tersebut hingga aku tak bisa menggapainya~"
Ah... Ya, sepertinya aku ingat. Saat itu aku hanya sedikit ingin menjahilinya. Tapi tiba-tiba pengelihatanku mendadak menjadi hitam.
"Aku benar-benar sebal waktu itu Sasuke-kun~ hingga aku menendang selangkanganmu dengan kencang dan membuatmu meringis kesakitan sampai pingsan..." Lanjutnya lagi dengan nada dan tatapan bersalah. "Karena kau pingsan, maka itu kesempatanku untuk segera pergi dan kabur dari situ~"
"Huh! Kau menendang juniorku dengan kencang, eh?" Tanyaku penuh penekanan, bagaimanapun juga aku merasa harga diriku turut terinjak karenanya.
Gadis merah muda yang baru saja menjadi milikku itu mengangguk takut-takut. Emeraldnya berkedip-kedip cepat seolah memohon ampunan padaku.
"Hn, jika kau berani menyakiti juniorku! Maka kau harus bertanggung jawab Sakura!"
"Eh? A-apa?"
Kulihat Sakura melotot horror, sepertinya bingung dengan apa yang kumaksud.
"Kelak, kau harus menikah denganku! Tak ada penolakan!" Tegasku final. Kembali membawanya ke dalam pelukan hangatku.
Mendadak wajahnya blushing berat, memerah seperti buah tomat kesukaanku. Dia memukul-mukul dada bidangku pelan, "kau itu benar-benar menyebalkan Sasuke-kun! Huuhh~"
"Hn, kau juga menyebalkan. Tapi aku mencintaimu!" Aku berbisik di sebelah telinganya. Dapat kurasakan jika bulu di sekitar tengkuknya meremang akibat terkena napas hangat dari bisikanku. Haha, menjahilinya benar-benar menyenangkan.
Sedangkan dia meng'iya'kan, dapat kurasakan dari pergerakan kepalanya yang mengangguk menjawabku. Aku tahu, dia pasti sangat malu hingga menyembunyikan wajahnya dalam dekapanku.
"A-aku juga mencintaimu Sasuke-kun. Sangat!"
Ya, kutahu itu Sakura! Aku tahu kalau kau sudah lama menaruh perasaan padaku. Tapi entahlah, kenapa selama ini aku tak menganggapmu lebih.
Sedangkan aku juga tak tahu kenapa aku bisa mencintai gadis pink menyebalkan ini. kuakui jika aku mulai sadar setelah beberapa hari diacuhkan olehnya. Karena bagiku, hari-hariku takkan berwarna jika tanpa dia -gadis menyebalkan bernama Sakura ini- didekatku.
Terima kasih Kami-Sama... Kau telah membuatku menyadari bahwa cinta sejatiku ternyata selalu berada di dekatku.
Dan, oh... Terima kasih juga untuk si dobe -sahabat kuningku yang selalu berisik itu- dia juga membantuku menyadari perasaanku pada gadis ini.
Well, sepertinya walau tak ingin dan tak sudi, tapi aku juga harus berterima kasih pada pria Sabaku -sepupu Sakura- karena jika tanpanya, aku tak akan merasakan pedihnya sesuatu yang biasanya selalu bersamaku, tapi tiba-tiba menjauh dan direnggut begitu saja oleh orang lain. Hingga membuatku terpacu untuk mengambilnya kembali.
Sungguh, aku tak ingin diacuhkan oleh gadis ini lagi, terlebih sampai kehilangannya.
"Hn, ngomong-ngomong, ayo kita lanjutkan yang tadi Sakura..."
"Eh, tapi orang tuaku hari ini pulang cepat Sasuke-kun~"
"Shit!"
.
.
.
~THE END~
.
.
.
End? Beneran End tuh?
Huwaaa iyaa, beneran End dengan gaje'nya..
Huhuu maafkan diriku, jujur mungkin ini chap paling berantakan yang kubuat. Dan kurasa feelnya juga gak dapat.
Huufftt mau bagaimana lagi, diriku mengerjakan fic ini terpotong-potong karena mengerjakannya disela-sela kesibukan. Di mana ada waktu luang, disitu Hezlin kerjakan. Dan yaahh...beginilah hasilnya.
Gomen juga bagi kalian yang berharap chap fic ini bakalan banyak, jujur sejak awal Hezlin sudah mematok fic ini tamat di chap 3 atau 4.
╮(╯3╰)╭╮(╯3╰)╭
.
Special thanks to readers yang setia mengikuti fict gaje'ku ini :
caesarpuspita, sakura uchiha stivani, GaemSJ, respitasari, undhott, Riku Aidawah, Fuji Seijuro, sasusakulover47, Luca Marvell, Sasara Keiko, , Byun429, Wisma Ryuzaki Tsukiyama, ,YOktf, Kuro Shiina, sami haruchi 2, CN Scarlet, Guest, R, ayuHaruno, aihara, adit102, Andhey, hanisalsa, pink cherry, Ani sarada, Chacha, s-savers, Haruno linda, chery tomato, Mirawa, NururuFauziaa, oroe, ongkitang, ayuniejung, Sakura's lover.
.
Oke, sampai jumpa di karya gaje'ku yang lainnya ya.. Hihi..
.
Dan jangan lupa tinggalkan jejak jika sudah membacanya.
.
╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯
