Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik dari Fujimaki Tadatoshi dan Harry Potter adalah milik J.K. Rowlings
Warning: AU, OOC, OC, twin!Akashi, typo, etc.
Rating: T
Genre: Adventure and Mystery
THE RETURN OF THE HEIR
By
Sky
Akashi Manor, Kyoto-Jepang
Musim panas yang panjang kini telah berganti dengan musim gugur, sebuah musim dimana pepohonan mulai meranggaskan dedaunannya serta warna daun Maple yang awalnya hijau kini berubah warna menjadi merah, sebuah warna yang menawan namun cukup mengingatkannya dengan warna khas asrama yang tidak pernah ia sukai di tempat sekolahnya dulu.
Di tempat ini jarang ada pohon Maple yang tumbuh, Seijuurou meningatkan dirinya saat ia menatap hutan luas yang terbentang di hadapannya. Jepang bukanlah sebuah tempat yang identik dengan pepohonan itu, tidak dengan apa yang sering ia lihat berada di Inggris dimana ia telah menghabiskan waktunya selama sepuluh tahun di sana. Kedua matanya yang berbeda warna itu menatap bentangan luas hutan yang terpapar begitu sempurna di hadapan Seijuurou, menampilkan pemandangan alam yang menawan serta menjadi salah satu favoritnya semenjak ia tiba di Jepang sebulan yang lalu.
Seijuurou rindu tempat tinggalnya yang ada di Inggris, ia rindu dengan Lux Aetherna serta danau kecil yang ada di sampingnya, dan seperti akan kebanyakan villa kecil milik sebuah keluarga yang terpencar di seluruh dunia maka Lux Aetherna yang telah menjadi tempat tinggalnya itu juga diselimuti oleh hutan yang luas. Warna hijau hutan yang mengingatkannya akan warna Slytherin, andai saja ditambah dengan warna silver maka Seijuurou pun bisa mengakuinya secara gamblang tanpa ada nada sarkatisme yang terucap dari bibirnya.
Tatapannya yang sedari tadi mengamati pemandangan hutan yang tersaji di hadapannya pun kini terpecah, lebih tepatnya kini tertuju pada sebuah perkamen surat yang terbuka di atas pangkuannya. Huruf-huruf yang tertata rapi dan ditulis dengan tinta mahal itu membuat bibir Seijuurou melengkung kecil untuk membentuk sebuah senyuman tipis, surat pertama yang ia terima dari Blaise sejak dirinya pindah dari Inggris atas perintah ayahnya, dan tentu saja Seijuurou merasa penasaran akan apa yang pemuda berdarah Italia itu tulis padanya. Dalam lubuk hati yang terdalam Seijuurou berharap temannya tersebut tidak akan mencantumkan dramatisasinya dalam surat yang ia kirimkan pada Seijuurou, namun mengenal siapa Blaise maka Seijuurou pun tidak berani berharap lebih dari itu.
"Setidaknya bukan Daphne dan Pansy yang menulis kali ini," gumam pemuda berambut merah darah tersebut.
Kedua matanya kembali menilik akan guratan rapi yang merupakan tulisan tangan Blaise, ah... satu bulan mereka berpisah dan sepertinya Seijuurou sudah merindukannya, lebih tepatnya merindukan suara debat yang dibawa oleh Daphne dan Blaise ketika mereka berada di ruang rekreasi Slytherin. Seijuurou pun menggelengkan kepalanya, meski ia tidak pernah mengatakan hal ini secara langsung kepada mereka berdua, tapi dirinya cukup merindukan Blaise dan Daphne.
Dengan kalem, pemuda yang merupakan pewaris dari keluarga penyihir berdarah murni Akashi itu pun menyempatkan dirinya untuk membaca surat milik Blaise untuk yang ketiga kalinya dalama hari itu.
Dear Seijuurou,
Meski ini bukan gayaku dengan mengirimkan surat untuk seseorang, perlu aku akui kalau kau, Seijuurou Akashi, adalah orang terbrengsek yang pernah aku temui dan juga jadi temanku selama lima tahun terakhir. Susah sekali menemukan dimana letak rumahmu itu, Sei, aku harap Helena (Aku tahu kau tengah menertawakan nama burung hantuku, awas kau!) bisa menemukan rumahmu dengan baik dan surat ini tidak jatuh ke tangan yang salah.
Jujur, Sei, aku sedikit merasa khawatir akan keterburu-buruan yang kau lakukan dengan pindah dari Hogwarts. Kau berada di tahun kelima dimana OWL tengah dijalankan, dan tiba-tiba saja kau pindah tanpa menyelesaikan ujian itu, tapi setidaknya aku bersyukur karena kau pergi saat mimpi buruk dari katak kementrian itu datang ke Hogwarts.
Demi Morgana, Seijuurou... Pertahanan terhadap ilmu hitam dipegang oleh Dolores Umbridge, si katak yang menyebalkan dan tidak tahu malu itu! Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Dumbledore sampai ia meletakkan Umbridge ke dalam jabatan seorang professor di Hogwarts? Aku berani bertaruh atas galleon yang aku miliki di brankas Zabini kalau orang tua itu sudah kehilangan akalnya. Rasanya aku ingin melemparkan sebuah Avada Kedavra pada Umbridge, wanita itu benar-benar tidak bisa ditolerir dan sikap manisnya yang palsu itu membuatku gila. Kau itu adalah si brengsek yang beruntung!
Hei, bagaimana kabarmu di Jepang? Apakah Yang Mulia Raja yang kau sebut sebagai ayah itu berulah lagi? Kau harus menceritakannya padaku, entah itu lewat surat atau kau datang ke Inggris lagi.
Musim panas ini aku memutuskan untuk kembali ke Italia, rasanya sudah setahun aku tidak pulang ke kampung halaman, dan hei... aku bertemu dengan Dray di sini. Dia bilang 'hai' padamu, meskipun sang pangeran yang memiliki julukan sama sepertimu itu tidak mengakuinya.
Tahun pelajaran depan akan menjadi hal yang sangat berbahaya, Sei, Dray akan kembali ke Inggris seperti yang dijadwalkan dan kelihatannya apa yang kau prediksikan tahun lalu itu akan terjadi di tahun depan, Inggris akan menjadi lautan darah karena perang yang sangat besar akan mulai terjadi lagi setelah enam belas tahun berakhir. Selain itu aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, jangan kembali ke Inggris selama setahun penuh karena ini demi kebaikanmu sendiri, Sei, karena Inggris akan menjadi medan pertempuran dunia sihir yang ketiga. Kau punya perangmu sendiri di Jepang, tidak perlu terlibat dengan apa yang terjadi di Inggris. Ingat, kau bukanlah Potter!
Mungkin itu yang bisa aku tulis padamu, jangan lupa tulis balik agar aku tahu apa rencana 'jahatmu' nanti. Sampai jumpa lagi, Seijuurou
Salam,
Blaise Augustus Zabini
Selesai membaca surat dari teman satu asramanya serta teman baiknya itu, Seijuurou hanya duduk termenung di atas sofa di dalam kamarnya. Inggris akan menjadi lautan darah, perang besar dunia sihir yang ketiga akan dimulai, terutama dengan sekembalinya sang pangeran seperti yang Blaise ceritakan padanya. Mungkinkah ayahnya menyuruh Seijuurou untuk kembali ke Jepang karena laki-laki itu tidak ingin dirinya terluka di medan perang? Pertanyaan singkat namun hasilnya juga masih meragukan, pemuda itu tidak yakin kalau sang ayah menyuruhnya untuk kembali karena laki-laki itu khawatir padanya. Ayahnya itu bukanlah tipe orang yang demikian, dia adalah tipe orang yang suka memerintah tanpa memedulikan situasi maupun perasaan orang lain untuk ambisi yang ia miliki.
Sungguh singkat dan terlalu mudah untuk ditebak, Seijuurou memikirkannya seraya melipat kembali surat yang Blaise kirimkan padanya tadi dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Pikirannya itu saat ini tengah dipenuhi oleh pertanyaan yang berhubungan dengan sang ayah.
"Orang itu, meskipun ia menyuruhku untuk pulang tapi ia tidak memberitahuku maksud yang sebenarnya," gumam Seijuurou pada dirinya sendiri, rasa penasaran yang lumayan besar pun membuat sakit kepalanya kambuh lagi. Ayahnya adalah puzzle misteri yang sukar untuk diselesaikan, tapi Seijuurou sangat yakin kalau ia bisa menyelesaikan kepingan-kepingan puzzle misteri yang bernama Akashi Masaomi itu tanpa bantuan orang lain. Apa yang sebenarnya tengah direncanakan oleh sang ayah?
Suara ketukan pintu kamarnya yang terdengar beberapa saat kemudian pun membuyarkan konsentrasi yang Seijuurou miliki, membuat pemuda yang baru saja menginjak usianya yang ke-16 tahun itu menoleh singkat ke arah pintu depan kamarnya.
"Masuk!" perintah sang tuan muda tanpa dirinya beranjak dari tempat duduknya.
Pintu yang tadi diketuk pun perlahan-lahan terbuka, memperlihatkan seorang remaja yang terlihat sedikit lebih muda dari Seijuurou dengan warna rambut seperti langit musim panas dan bola mata senada tengah memasuki kamarnya. Remaja itu membawa sebuah nampan dengan sebuah teko porselain di atasnya beserta cangkir klasik dan tatakannya di samping benda tersebut.
"Maaf mengganggu Seijuurou-sama, tapi saya membawakan teh yang tadi anda minta," ujar remaja itu dengan sopannya.
Setelah memasuki ruangan kamar yang begitu luar itu, Seijuurou menatap sang remaja misterius tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki sebelum ia memberikan anggukan singkat kepada sang remaja yang masih berdiri di ambang pintu.
Sebuah ironi dalam kehidupan akan perbudakan itu sepertinya tidak akan pernah terhapus di dunia ini, terlebih dengan sebuah negara seperti Jepang dimana Seijuurou tinggal saat ini. Di Inggris, perbudakan biasanya dilakukan kepada peri rumah dimana para penyihir bebas menyiksa maupun memperlakukan makhluk yang malang itu sesukanya, bahkan beberapa peri rumah yang ada di Inggris pun rela kehilangan nyawanya asalkan mereka bisa melayani majikan mereka dengan baik dan memberikan kepuasan kepada sang majikan. Perbudakan kepada peri rumah adalah hal yang wajar, tapi perbudakan terhadap manusia terlebih lagi penyihir adalah hal yang tidak wajar, namun di negara ini semuanya terjadi dengan wajarnya seolah-olah memiliki budak seorang penyihir adalah hal yang biasa.
Dari sudut matanya Seijuurou mengawasi budak barunya, hadiah dari sang adik kembar ketika Seijuurou menginjakkan kaki ke dalam Akashi Manor sebulan yang lalu. Remaja berambut biru langit ini adalah pelayannya, sebuah hadiah yang masih membuat Seijuurou merasa asing akan kebudayaan di dalam dunia ilmu sihir Jepang, dan lebih dari apapun ia adalah seorang squib yang tidak bisa melakukan sihir apapun di dalam kehidupannya meski ia berasal dari keluarga penyihir berdarah murni.
"Tetsuya, gulanya satu sendok saja," kata Seijuurou perlahan, membuat sang pelayan menganggukkan kepalanya setelah meletakkan nampan cantik yang berisi perlengkapan minum teh di atas meja.
Dengan teliti Seijuurou pun memperhatikan pelayannya yang kini tengah menuangkan teh hangat ke dalam cangkir dengan hangatnya sebelum memberikan satu sendok teh ke dalam cangkir yang telah berisi tersebut.
Menjijikkan, pikir Seijuurou untuk beberapa saat lamanya sebelum ia mengalihkan pandangannya. Semua yang ada di tempat ini sangat salah, benar-benar salah.
Perkataan Blaise yang ia cantumkan di dalam surat adalah benar, Seijuurou tidak akan kembali dulu ke Inggris karena perang yang ada di sana bukanlah perangnya, Akashi Seijuurou memiliki perangnya sendiri beserta ambisi yang ingin ia wujudkan untuk di tempat ini. Dan apa yang telah ia rancang selama sepuluh tahun pun akan terwujud, dan seorang Akashi Seijuurou tidak akan pernah salah akan hal itu.
AN: Fanfic ini adalah sequel dari "His Reason". Terima kasih sudah mampir dan membaca
Author: Sky
