YOU

Kuroko no Basuke—Fujimaki Tadatoshi

Male!Reader x Haizaki

Warning, FF ini berisi pairing yaoi. Dan maafkan Rena kalau readernya terasa agak melambai—semua karena faktor Abang Reo yang berputar di kepala Rena.

BTW, sudah masuk chapter kedua!

QAQ

Esok Harinya, pukul 13.45 PM, Depan Rumah Haizaki

TOK TOK TOK!

"Tch, pasti si (Name)," gumam Haizaki. Dia lalu beranjak pergi dari ranjang dan berjalan menghampiri pintu. KRIEEET... Terdengar suara derit pintu yang dibuka. Di hadapan Haizaki, tampak kau yang berdiri sambil berkali-kali menelan ludah. Kedua tanganmu mendekap kresek besar berisi 4 buah bento(banyak amat?) dan 4 buah minuman. Haizaki mengangkat alis. "Selamat siang," katamu kikuk. "Ah, sudah kuduga kau pasti datang," gumamnya sinis, membuatmu menahan napas. "Masuk, cepat!" suruh Haizaki tak acuh, kemudian berbalik memunggungimu dan berjalan menjauh. Kau menghela napas.

'Kamisama, kenapa aku harus berpasangan dengan makhluk ini?! Dasar orang BRENGSEK!'

"Oi, kau mau jadi patung?" seru Haizaki dengan nada mengejek, membuat darahmu mendidih. Perlahan, kau menggerakkan kakimu, memasuki sarang Haizaki.

Rumah Haizaki luas. Ruang tengahnya hampir seluas ruang apartemenku. Kamarnya cukup untuk 7 orang. Ada PS, PSP, Nintendo, TV, komputer, dan laptop di kamarnya. Tertempel pula poster game GTA—Grand Theft Auto—di dinding kamarnya yang berwarna abu-abu, sama dengan warna rambutnya. "Duduklah," suruh Haizaki sambil merebut kresek bawaanmu yang berisi makanan. Kau menurut. "Drama apa yang akan kita buat?" tanyamu pelan. "...Terserah," sahut Haizaki singkat. Kau mendengus. Ini susahnya berpasangan dengan Haizaki. "Genre apa yang kau suka?" tanyamu lagi. Haizaki merenung sejenak. "...Romance," jawabnya lugas. "Tidak, jangan!" tolakmu. "Kenapa?" tanyanya. "Kita ini laki-laki, masa mau mengadakan drama dengan genre romance? Bisa-bisa kita dikira homo," jawabmu tegas—dengan rona merah yang samar. Haizaki menyeringai sambil berjalan menghampirimu yang duduk di pojok. "Ha-Haizaki...," gumammu ngeri. "Hmm?" sahut Haizaki tenang sambil memegang kerah bajumu. "Ka-kau mau ap-apa?" tanyamu gagap. Haizaki mulai membuka kancing kemeja putih yang kau pakai. Kau dapat merasakan hangatnya helaan napasnya. "Ha-Haizaki... HAIZAKI!" serumu sambil mendorong Haizaki kuat-kuat. Haizaki terpaku, kemudian dia menyeringai. "Kau berani rupanya," gumamnya sinis. Kau menelan ludah. Haizaki berdiri, mengambil sekotak bento dan sekotak teh kotak(?), dan melemparnya ke arahmu. "Makanlah," suruhnya tanpa melihat ke arahmu. Haizaki sendiri mengambil bento dan susu jatahnya. Kau menghela napas, lalu mulai memakan bentomu. Saat kau mengambil bola dagingmu dengan sumpit, dan hendak memasukkannya ke mulut, tiba-tiba...

HAUP.

Haizaki, dengan seenak udelnya melahap bola daging yang kau sukai setengah mati itu!

Seketika, aura iblis menguar dari tubuhmu. "Bola dagingku..." Haizaki mengerjapkan matanya mendengar desisanmu yang sepertinya berbahaya. "JANGAN SEENAKNYA MEMAKAN BOLA DAGINGKU, DASAR MAHO HENTAI BAKA!"

DHUAAAKKKK!

Whoa. Untuk pertama kalinya, kau menendang Haizaki dengan keras.

-skip:v—

"Jadi, kita berdua akan mengadakan drama dari PV video ini," ujarmu sambil menunjukkan sebuah video di laptop hitam milikmu. Video itu berjudul 'Tokyo Teddy Bear'. Tokohnya ada dua: Kagamine Rin dan... Boneka beruang. "Siapa yang mau jadi beruang aneh begitu?" tanya Haizaki dengan nada mengejek. Kau menatap Haizaki sejenak, lalu berkata dengan tenang, "HAIZAKI."

What. The. Hell.

Haizaki si Preman jadi boneka beruang?! Boneka beruang?! Haizaki terpaku.

Sesaat kemudian, dia berteriak.

"TIDAK MAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!"

Pegetahuan baru: Haizaki benci peran feminim.

QAQ

READERS POV

Pertemuanku dengan Haizaki selesai jam 17.59 PM. Haizaki sendiri terlihat—oke, kupikir dia terlihat—tak rela(?). Ah, lupakan kata-kataku barusan. Aku hanya berpikir yang tidak-tidak.

Aku membuka pintu apartemenku perlahan. "Lelahnya," gumamku sambil merebahkan diri ke sofa. Ingatanku melayang kepada Haizaki. Aneh, dia tidak memukuliku lagi di rumahnya, padahal kemarin aku dipukuli olehnya. Secepat itukah Haizaki melupakan hal itu? Ah, ah, tidak mungkin. Tidak mungkin. Pasti besok dia akan memukulku lag—

TOK TOK TOK~!

Arggh! Dasar pengganggu!

Aku beranjak menghampiri pintu dan memutar kenopnya. Kriet...

"Selamat malam," kata seorang laki-laki bersurai biru muda, Kuroko Tetsuya. Kalian mungkin heran kenapa aku bisa langsung merasakan hawa keberadaannya. Tapi, yah, aku berbeda dengan orang kebanyakan. Meskipun aku tak bisa menghilang, tapi aku bisa merasakan hawa keberadaan siapapun, bahkan Kuroko juga bisa. "Ya, selamat malam. Ada apa?" tanyaku. "Ano, besok, Akashi-kun menyuruhmu datang ke gym. Ada yang mau dia bicarakan denganmu," urainya. "Kenapa kau tidak meng-SMS-ku saja?" tanyaku heran. "Akashi-kun menyuruhku mendatangimu," sahutnya dengan wajah flat macam tembok. "Yah... Baiklah. Itu saja?" tanyaku. Kuroko mengangguk. "Aku permisi," ucapnya, lalu berjalan pergi.

Hei, hei, dia datang ke apartemenku...

Hanya untuk bilang begitu?

Aku mendengus, lalu berbalik. Aku ada urusan: mendownload game PC terbaru. Lalu bermain game online sambil menunggu download-anku selesai. Seperti kebanyakan laki-laki, aku juga gamers. Aku suka game PES, Counter Strike, dan masih banyak lagi. Tipikal gamers akut, 'kan?

Baiklah, hentikan dulu pembicaraan game-nya.

Aku duduk di hadapan komputerku dan menyalakannya. Setelah menyala, aku berjalan menghampiri kulkas, membukanya, dan mengambil sekotak jus wortel. Gamers harus punya mata sehat. Supaya mata sehat kita harus mengkonsumsi wortel dengan rutin, 'kan? Karena itu, di kulkasku selalu tersedia jus wortel dan semangkuk wortel yang siap dijadikan jus. Kita hanya perlu mem-blender-nya. Oh ya, seratnya jangan dibuang karena serat wortel bagus untuk—

Tunggu. Kenapa malah bicara seputar wortel? Melenceng!

Setelah mengambil sekotak jus wortel, aku berjalan dan duduk di hadapan komputerku, lalu menyalakan koneksi internetnya. Aku mulai menyerupur jus wortelku sambil bermain game online ketika –

PET!

Astaga. Astaga. Astaga.

LISTRIKNYA PADAM!

Dan komputerku mati dengan tidak elitnya.

"TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK!" seruku histeris. Download-an game-nya belum selesai! Sisa 10% lagi! Aaarggghhhh! Nanggung!

Aku menatap jam dinding yang tertempel di dinding(maksud?)apartemenku. Pukul 09.45 PM. Cepat sekali waktu berjalan. Aku menghela napas. Mungkin lebih baik kalau aku tidur sekarang.

QAQ

Kelasku, pukul 11.00 AM

"Ah, disini rupanya," gumam Kuroko lega saat melihatku. "Ada apa?" tanyaku. "Akashi-kun memanggilmu. Dia menyuruhmu ke gym," jelas Kuroko. "Tapi 'kan kita belum boleh pu—", "Guru-guru rapat, jadi kita pulang lebih awal," potong Kuroko. "Oh, begitu," gumamku pelan. "Ayo pergi," katanya sambil menarik tanganku.

-skip—

"Akashi-kun, aku membawa (Name)-kun," kata Kuroko. "Bagus. (Name), kemarilah," suruh Akashi. Aku mengangguk seraya berjalan menghampiri Akashi. "Langsung saja ke persoalannya. Kudengar kau bisa membantu teman-temanmu dalam persoalan...cinta?" kata Akashi. Aku melotot. "DARI MANA KAU TAHU?!" pekikku histeris. "Karena aku absolut, tentu saja. Jadi, aku ingin... ajarkan aku menjadi seme yang pantas untuk Tetsuya."

1 detik.

2 detik.

3 detik.

"APA?!" seruku tak percaya. "Kau.. dan Kuroko... PACARAN?!" tanyaku tertahan. Akashi dan Kuroko kompak mengangguk. "Aku dan Aominecchi juga, ssu!" timpal Kise riang. Aku langsung menatap Kise nanar. Mereka juga pacaran?! "Aku dan Midorima juga," kata Nijimura. Senpaiku juga?! Dengan Midorima?!

Jadi...

Cuma Haizaki yang jones?

Seakan tahu isi pikiranku, Akashi menyahut, "Ya, Haizaki saja yang jones." dengan santai. Aku tidak bisa berkata apapun lagi. Kenyataan ini membuatku ingin menelan Buygon#eh sebanyak yang aku bisa(pasti baru sedikit yang kutelan, aku sudah masuk rumah sakit). "Ngomong-ngomong, (Name), maukah kau mengajariku?" kata Akashi. "..Soal menjadi seme?" tanyaku pelan. Akashi mengangguk. "Aku tidak tahu cara menjadi seme, karena aku tidak tahu aku ini seme atau uke. Tapi, menurutku seme yang baik tahu cara memperlakukan uke-nya dengan baik dan benar. Tanya saja kepada Kuroko, seme seperti apa yang dia inginkan. Kau hanya perlu menyesuaikan saja dengan keinginannya," jelasku panjang lebar. "Oh, begitu. Terima kasih, (Name). Nah, Tetsuya, kau ingin seme yang bagaimana?" Tak disangka, makhluk ini langsung mengikuti perkataanku.

"...Aku ingin seme yang..."

Krik. Krik. Krik.

"...agresif."

Krik. Krik. Krik.

"APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!"

Akashi tersenyum yang berisi 50% senyum bijaksana dan 50% senyum mesum#eh. Sementara Kuroko—atau Ultimate Uke, mungkin?—tersenyum malu. Rona merah di wajahnya membuatnya terlihat semakin UKE.

SET!

"Hei, ada apa in—" kata-kata Haizaki terhenti. Kenapa? Itu karena dia melihat Akashi menggendong Kuroko ala bridal style(WHAT?!)dengan ekstra senyum mesum ala Aomine. "Apa-apaan ini? Ka-kalian... Mau melakukan apa?" tanya Haizaki. Darah keluar dari hidungnya. "It's not your own business. Sana 'bermain' dengan (Name). Toh, dia juga sedang sendiri, sepertimu," sahut Akashi tajam, lalu melesat keluar gym dengan Kuroko yang dia gendong.

"Ah, aku juga mau 'main', nih. Kise, ayo."

"Okee, ssu!"

"Ayo, Midorima! Kita one-on-one."

"...Iya... Nanodayo."

Kemudian lengang. Hanya tersisa aku dan Haizaki. Yang lain sudah pulang ke kamar pilihan mereka, untuk 'itu'.

"Hei, (Name)."

"A-pa?"

"'Main', yuk."

Eh?

To Be Continued

Terima gak yaaaaaaa? ;3

Rena sendiri juga bingung, mau nerima atau nggak. Readers, jawab ya! Karena Rena mulai lapar—eh, bingung!

Btw, Rena masangin Midorima sama Nijimura, bukan karena Rena suka pair NijiMido, tapi Cuma itu yang bisa Rena jadikan pair yaoi(kalo sama Momoi 'kan nggak bisa...). AkaKuro sama AoKi? itu karena Rena adalah shipper dua pair itu!

Dan, ehm, Rena juga suka nge-ship NijiHai dan MidoTaka, loh... Ada yang suka juga?

Haizaki: Semua MAHOOOOOOOOOOO~~!