YOU
Kuroko no Basuke—Fujimaki Tadatoshi
Male!Reader x Haizaki
Warning, FF ini berisi crack pairing. Dan maafkan Rena kalau readernya terasa agak melambai—semua karena faktor Abang Reo yang berputar di kepala Rena.
Maafkan Rena yang terlalu banyak mlungker daripada update TT^TT
QAQ
READERS POV
Kakiku bergetar hebat. Getaran itu menjalar ke seluruh tubuh.
"Ha-Haizaki, hentikan..."
Haizaki tidak menyahut. Dia menyentuh kedua pipiku, lalu menyambar bibirku. Sial. Sial. Sial. Seandainya aku tahu inilah yang dia sebut dengan 'Permintaan Maaf', aku tidak akan mau menemuinya.
Maka, saat Haizaki menjauhkan wajahnya dariku, kugenapkan seluruh kekuatanku untuk mendorongnya keras-keras, dan berhasil. Haizaki yang terkejut terdorong agak jauh. Saat dia mengerjapkan matanya, aku menendang kepalanya. Haizaki sukses terjembap di lantai. Aku berlari menuju pintu. Tepat sebelum aku keluar, aku membuka mulut.
"Kau gila."
Lalu, tanpa berkata apapun lagi, kubanting pintu rumahnya dan berlari sekuat tenaga. Tapi aku ini lemah dalam olahraga, jadi semakin lama, aku semakin lambat. Maka akupun berhenti, mengatur napas yang tak teratur. Oksigen langsung mengisi paru-paruku. Aku menghela napas pelan.
"Loh, (Name)-kun?"
Suara seorang gadis menyadarkanku. Aku menatap asal suara, Ayano. Raut wajahnya tampak cemas. "Ayano-san? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku. "Harusnya aku yang bertanya begitu, (Name)-kun! Kau kelihatan lemas. Apa kau mau ke apartemenku?" sahut Ayano. Aku menggeleng, sedetik kemudian pandanganku mengabur dan kesadaranku hilang. Sekilas, aku dapat melihat Ayano yang menatapku ngeri.
-skip—
ESOKNYA...
HAIZAKI POV
Anak itu tidak masuk.
(Name) tidak masuk hari ini. Ayano yang mengantarkan surat ke guru. Dia bilang, (Name) demam tinggi. Mau tak mau aku jadi cemas. Apa (Name) sakit karena kemarin aku men—Ah, entahlah. Aku tak tahu.
"HAIZAKI!"
Aku tergeragap mendengar seruan Nijimura. "Apa?" tanyaku dengan wajah kesal. "Jangan bengong begitu, Bodoh! Kau niat latihan, tidak sih?" seru Nijimura. Emosinya terlihat jelas. Dia kesal karena aku terus bengong di gym. "Heeh, baiklah! Baiklah!" sahutku ogah-ogahan. "Kau terlihat aneh," komentar Aomine. "Ada apa denganmu, ssu?" tanya Kise ingin tahu. "Zakichin kelihatan nelangsa," kata Murasakibara. "Apa kau lapar, Nanodayo? Ta-tapi bukan berarti aku peduli, Nanodayo!" ucap Midorima. "Apa ini karena (Name)-kun yang tidak masuk?"
DOEEEENGGGG.
Suasana gym langsung senyap.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, Shogo?"
"Hoooh."
"Haizakicchi kangen (Name)cchi, ssu?"
"Kau sudah mulai punya rasa padanya, Nanodayo? Bukan berarti aku peduli, Nanodayo?"
"Hmmm~ Zakichin suka dia, ya~"
"Kau sudah dewasa, ya."
KUROKO KAMPRET! LIAT NIH HASIL KERJAMU!
"Haizakicchi jangan malu, ssu!"
Kise, berisik!
"Hmm~"
Ham-hem-hom melulu, dasar Ahomine!
"Kurasa kau seme, Nanodayo."
Oh, aku memang seme.
"Kalau begitu, apa Zakichin udah nembak?"
Err, itu pertanyaan sulit.
"Kalau belum, cepat tembak."
Akashi dan Nijimura, duo setan sialan.
"Tidak mau," kataku. Mendengar tampikanku, Akashi mengeluarkan guntingnya dan Nijimura menyiapkan tamparan mautnya yang tersohor. "TEM-BAK," kata mereka berbarengan. "Tapi—", "(Name)-kun sedang sakit," potong Kuroko kalem. Weh. Tumben setan luar-dalam ini membantuku. "Kalau begitu ini kesempatan bagus untuk menembaknya," celetuk Aomine. Setan hitam sialan! "Apa-apaan kalian ini?! Tidak! Aku tidak mau menembaknya!"
"Karena malu?"
KUROKOOOOOOOOOOOOOO!
Semua serentak menatapku dengan pandangan Jaki-ternyata-tsundere-akut. "Heeh, ternyata kau pemalu, ya? Hiih, kau ini benar-benar tidak awesome," olok Aomine. Kontan aku naik darah. "Aku tidak AWESOME kau bilang? AKU?! Kaulah yang tidak awesome! Aku berani! Lihat saja! Aku akan datang ke rumahnya dan—EH?!" Kata-kataku terputus saat menyadari bahwa Aomine sengaja menjebakku. "Oke, aku akan ikut mengantarmu ke rumah (Name)," sahut Aomine sambil menyeringai. Aku melongo.
-skip—
Sepulang sekolah, aku dan yang lain bersama-sama pergi ke apartemen (Name). Darimana aku tahu alamat rumahnya? Tanya saja kepada makhluk kuning bernama Kise Ryouta. Dia tahu banyak tentang alamat rumah seseorang. Dia sudah mengetahui alamat rumah (Name) sejak dulu.
"Oi, Haizaki, sudah sampai, nih. Pencet belnya."
"Kenapa aku?!"
"Karena kau yang seharusnya datang kemari. Kami mengikutimu hanya untuk memberi semangat," jelas Akashi tenang dan damai. "Jangan ragu, ssu! Pencet belnya, ssu!" seru Kise. "Tapi aku—"
KRIEET~~
Pintu apartemen (Name) terbuka. (Name) berdeham sesaat. Wajahnya pucat. "Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi. "Kami ingin bicara, ssu!" kata Kise. "Kalian boleh masuk, tapi Haizaki tidak boleh. Suruh dia pulang," sahut (Name) dingin. Aku membatu seketika, Kise tertawa hampa. "Jangan begitu, ssu, yang ingin bicara sebenarnya Haizakicchi, ssu!" ucap Kise. "Tidak. Aku tidak mau mendengar apa yang ingin dikatakan Haizaki," sahut (Name), lalu menutup pintu perlahan. Semua langsung menatapku tajam.
"Apa yang kau lakukan pada (Name), Junior Kurang Ajar?"
"Dia tampak pucat. Itu salahmu, ya?"
"Ck, kau ini tak berperasaan."
"(Name)cchi kasihan, ssu."
"Zakichin ingin kuhancurkan, ya?"
"(Name) sepertinya membencimu, Nanodayo."
"(Name)-kun..."
Aku terpaku mendengar kata-kata mereka. Apa aku seburuk itu? Apa aku sepengecut itu? Apa aku sejahat itu? Kenapa (Name) membenciku?
Aku sudah tidak kuat. Aku harus bicara dengannya.
DHUAKK!
Sekali tendang, pintu itu langsung terbuka lebar. (Name) berjengit kaget, lalu membentak. "APA YANG KAU LAKUKAN?!" serunya. Aku tak menyahut, malah merengkuh tubuh (Name) erat-erat. (Name) berontak, namun aku semakin mempererat dekapanku. "Lepaskan, Haizaki! Lepaskan! Aku membencimu, lepaskan!" seru (Name). "Tidak mau," sahutku datar. "HAIZAKI! LEPASKAN! BRENGSEKKKK!" Teriakan (Name) menggema ke seluruh sudut ruangan, namun tidak berhasil membuatku melepaskannya. "Haiza—Ukh!" Ucapan (Name) terputus saat aku menghempaskannya ke lantai. Tubuh lemahnya tersungkur di sudut. Seakan tak puas, aku menginjak perutnya, membuatnya menjerit kesakitan. Kemudian aku berjongkok, dan menarik rambut (Name), membuat wajahnya berada tepat di depan wajahku. Samar-samar aku mendengar suara Nijimura yang menenangkan yang lain. Aku menatap (Name), namun anak itu malah mengalihkan pandangannya dariku. "LIHAT AKU, (NAME)!" raungku marah. Alih-alih menatapku, (Name) justru memejamkan mata. "(NAME)!" seruku. (Name) membuka matanya, lalu menatapku tajam. "Apa maumu?" tanyanya. "Jangan memalingkan wajahmu dariku. Dengarkan aku," jawabku pelan. "Aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu," sahutnya dengan nada sinis.
PLAKK!
Sebuah tamparan dariku sukses membuatnya diam. Aku melepaskan rambutnya dari tanganku dan kepalanya terkulai lemas. "Kau datang kemari hanya untuk ini?" tanya (Name). Aku menggeleng. Kusentuh kedua pipi halusnya, namun (Name) menepis tanganku. "Jangan menolak, (Name)," bisikku lembut. Aku mendekatkan wajahku padanya, (Name) meronta, mencoba lepas dariku. Tapi aku menahan tubuh kecilnya dan melumat bibirnya. Pegangannya mengeras, membuat lenganku serasa diremas, tapi aku tak bereaksi. Tetap memfokuskan diri kepada ciumanku dengannya.
Sesaat kemudian, aku menarik wajahku menjauh darinya. Kutatap (Name) lekat-lekat. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, dan gigi-giginya gemerutuk. "Nah, (Name), aku ingin bicara," kataku akhirnya. "Ya, bicaralah sebelum aku menendangmu dari apartemenku!" sahutnya. Aku membuka mulutku, lalu...
"Aku menyukaimu."
(Name) terpaku.
"Apa maksudmu, Haizaki?"
"Aku menyukaimu."
"Aku tidak mengerti."
"AKU MENYUKAIMU, (NAME)! AKU MENGINGINKANMU MENJADI MILIKKU SELAMANYA!"
(Name) terdiam.
Aku terdiam.
Kise yang tadi bernyanyi lagu 'Panda Hero'(?!) juga terdiam.
Aomine yang tadinya membaca majalah *piiip*-nya langsung melempar majalahnya.
Kuroko menghilang(?!).
Midorima tercengang.
Murasakibara tersedak maiubo.
Akashi menjatuhkan guntingnya.
Nijimura menahan diri agar tidak tertawa.
Aku menggaruk bagian kepalaku yang tidak gatal dengan canggung. "Itu saja. Ehm... Aku permi—!" Ucapanku terputus saat (Name) menarik ujung kemejaku. "Ada apa?" tanyaku. "Kau curang," katanya, "menyatakan perasaan tanpa mengetahui isi hatiku.". Aku menghela napas. "Baiklah, bagaimana perasaanmu?" tanyaku. "Aku... su...ka...," bisiknya, nyaris tak terdengar. "Apa? Tolong lebih jelas," sahutku. "AKU... AKU MENYUKAIMU!" teriaknya dengan wajah merah padam. Aku terpana, kemudian tersenyum. "Terima kasih," sahutku sambil merengkuh tubunnya yang disambut elakan oleh (Name). "Jangan peluk. Aku lelah," katanya. Aku menurunkan tanganku dengan canggung. "Nah," sela Aomine, "jadi siapa seme-nya?"
Aku dan (Name) kompak terdiam.
"Aku seme!"
"Hah?! Tidak adil! Aku seme!"
"Kau lemah begitu, mana bisa unggul di ranjang, (Name)?!"
"LEMAH?! KAU YANG LEMAH!"
"KAU!"
"Biar lemah aku juga bisa jadi seme, tahu!"
"Kau itu kalau dilihat dari segi postur, wajah, dan sifat, tetap saja berpotensi sebagai uke!"
"Sudahlah, ssu! Jadi uke itu enak, ssu! (Name)-cchi jadi uke saja, ssu!"
"Jangan coba-coba menghasutku, Kise!"
"Kau memang lebih pantas jadi uke, Nanodayo."
"APA?!"
"Aku setuju dengan Midochin. Nee, Minechin, Kurochin, dan Akachin juga setuju, kan?"
"Setuju."
"Tuh, semua setuju, (Name)! Jadi kaulah uke-nya, dan aku seme-nya!"
"Tapi aku tida—HEI!" protes (Name) saat aku mengangkat tubuhnya dan menidurkannya di sofa. "Oi, bisa kalian pulang?" seruku kepada yang lain. Keenam orang itu mengangguk, lalu pergi dengan seringai terpasang di wajah masing-masing. Aku mengalihkan pandanganku kepada (Name). "Sepertinya kau sudah cukup sehat untuk one-on-one, ya, (Name). Kau siap?" tanyaku. Kontan wajahnya memerah. "Jangan seenak—HUWAA! HAIZAKIIIIIIIIIIIIIII!"
Dan penderitaanmu akan dimulai sekarang, (Name). Hehehehe.
~FIN~
Muahahahahahaha, akhirnya selesai juga!
UKK Rena udah selesai, maka saatnya update! Wuhuuu!
Nee nee, ada yang mau ngasih Rena tugas? Berhubung bakalan masuk masa liburan, jadi Rena bakal punya waktu banyak buat ngurus FF~!
Thanks for reading~!
KriSar atau gunting?
