berusaha memahami

Seberapa pun aku merasa bahwa aku yang paling mengenalmu dibanding orang lain, seberapa banyak pun kau berkata bahwa akulah yang paling memahamimu, pada akhirnya tetap saja aku melihat, kalau nyatanya, aku mungkin memang tidak akan bisa mengerti tentangmu seutuhnya.

Malam itu, tidak peduli betapa aku berusaha memusatkan perhatian pada dinding biru muda ruang makan, atau pada gorden putih susu dengan warna kelim yang serasi dengan cat tembok, tetap saja aku gagal, meski tanpa ada gangguan berupa bunyi jam seperti ketika di ruang duduk. Perasaanku saat itu seperti bahan-bahan yang salah masuk ke suatu adonan dan tercampur aduk; antara terkejut, kecewa, marah, sekaligus heran. Rupanya ada empat orang yang duduk di meja makan untuk bersantap; kau, aku, ayahmu, dan ibu tirimu.

Aku tidak pernah tahu kau punya ibu tiri.

Kau tidak pernah bercerita, dan aku tidak pernah berpikir sampai ke sana untuk bertanya, karena mungkin aku memang tidak pernah cukup memahamimu untuk membayangkan bahwa kemungkinan seabsurd itu ada, juga untuk memperhitungkan bahwa kau tidak akan menceritakan hal-hal semacam itu jika memang tidak ditanya. Timbul sesal saat aku menyadari betapa kau bisa jadi begitu tertutup.

Wanita itu seumuran ayahmu, bertubuh mungil dan langsing, dengan rambut gelap bergelombang yang jatuh hingga bahu. Tipikal wanita yang lembut dan anggun, tanpa menyembunyikan binar hangat dan ceria dari matanya. Tutur katanya juga sangat sopan, bisa kutangkap dialek Kansai dalam kalimatnya. Ketika akhirnya tahu aku seorang dokter, ia memanggilku sensei, tapi aku bersikeras kalau sufiks kun tidak apa-apa, seperti caranya memanggilmu (hanya saja ia memanggil nama depanmu, sedangkan aku dipanggil dengan marga, yang bukan masalah, karena aku juga bukan orang yang suka berakrab-akrab). Masaomi-san sendiri, hampir tidak ada bedanya dengan yang kulihat terakhir kali, jejak-jejak usia bertambah di wajahnya, namun ekspresinya tidak sekaku dan seformal layaknya yang selama ini pernah kutemui. Aku sendiri bukan orang yang berwajah paling ramah, sehingga aku paham jika ia tidak mau menunjukkan ekspresi yang bervariasi, tapi saat ayahmu memandang ibu tirimu, rasanya memang ada yang berbeda dalam pancaran matanya. Aku kira akan sulit baginya untuk menemukan pendamping hidup yang baru, karena dari kesan yang selama ini kutangkap, ia begitu mencintai ibumu hingga kupikir ia masih larut dalam duka dan terlalu sibuk untuk mencari pasangan lagi. Tapi memang aku salah, dan apa hakku untuk menilai, karena aku tidak pernah kehilangan seseorang yang kucintai seperti itu, jadi aku mungkin tidak akan bisa memahami perasaan Masaomi-san, ataupun pilihannya, yang juga bukan urusanku.

Kalau aku boleh menjelaskan makan malam itu dengan satu kata, maka aku akan memilih canggung, karena demi Oha Asa dan seluruh barang keberuntungan yang aku punya, itu adalah situasi yang paling canggung seumur hidupku (dan apakah aku pernah bilang kalau aku juga orang yang canggung?). Tetap menyisa formalitas, entah karena aku ada di sana atau memang seperti itulah keluarga kecilmu. Tapi seperti biasa, kau membawa diri dengan sempurna, selalu tahu bagaimana beradaptasi dalam setiap situasi. Malam itu, di antara piring-piring yang diangkat dan hidangan berikutnya yang disajikan, aku melihat Akashi Seijuurou yang tersenyum sopan dan ramah, mirip dengan sikap yang selalu kau tunjukkan jika sedang besama rekan bisnis. Di antara cairan merah gelap yang dituang ke gelas-gelas anggur, aku melihatmu berbicara dengan penuh percaya diri saat menjawab pertanyaan-pertanyaan ayah serta ibu tirimu, menatap mereka dengan sorotan mata yang meyakinkan. Aku tidak pernah yakin apakah kau tidak pura-pura saat sedang seperti itu, atau kau memang kelewat mahir bersandiwara.

Setelah perjamuan selesai, aku cukup tahu diri untuk segera berpamitan, bahkan menolak ajakan halusmu untuk tetap menemani ketika kalian bertiga bermaksud berpindah ke ruangan yang lain. Di lorong itu sebelum membalikkan badan, aku menghadiahimu tatapan umurmu-sudah-hampir-kepala-tiga-jadi-tolong-jangan-jadi-pengecut-dan-selesaikan-ini-sendiri, ditambah gerakan membetulkan kacamata yang bisa berarti, seperti-yang-sudah-seharusnya. Kau memandangiku beberapa lama, sampai aku mulai berpikir apakah aku harus menepuk bahu atau meremas lenganmu. Tapi tidak perlu ada banyak kata di antara kita; kau dan aku memang tidak membutuhkan suara untuk saling memahami. Kusaksikan kau mengangguk, sebelum lebih dulu membalikkan badanmu dan berjalan ke arah yang berlawanan, menyusul ayah serta ibu tirimu.

Pagi harinya, atau bisa kubilang sekarang, tidak banyak yang dibahas. Jika tadi malam topik pembicaraan kebanyakan seputar apa pekerjaanku dan bagaimana kau sewaktu kuliah, sekarang ayahmu hanya bercerita tentang rencananya untuk membangun rumah sakit, bahkan meminta opiniku juga dalam beberapa hal; ia berkata siapa lagi yang lebih tepat untuk ditanyai selain seorang dokter. Kau tidak banyak bicara, memang begitu jika tidak ditanya, padahal kala kita hanya berdua, kau suka sekali berceloteh, melemparkan pertanyaan-pertanyaan secara mendadak dan acak, mengatakan bahwa kau sekadar penasaran padahal untuk menjawabmu aku terkadang perlu berkontemplasi hingga berbulan-bulan.

Tapi memang kau seperti itu, senantiasa tenggelam dalam renungan, sementara aku, yang tidak pernah bisa meraih ruang tempat kau dan dirimu sendiri berdiskusi, hanya bisa menunggumu di sini, untuk kemudian kau lemparkan pertanyaan-pertanyaan yang efeknya seheboh ledakan.

Akashi yang diam itu terus berlanjut hingga kau dengan bisu memutuskan untuk menghabiskan sisa pagi dengan berkuda. Aku yang tidak tahu apa-apa soal menunggang hewan berkaki empat itu menyimpulkan kalau aku seharusnya juga mencari kegiatan lain. Namun tampaknya jalan kita memang tidak pernah benar-benar berjauhan, maka aku mengikutimu ke halaman belakang, lalu mengobrol dengan tukang kebun tentang tanaman obat koleksi keluargamu. Lelaki tua itu orang yang ramah, menawarkanku bibit, yang kutolak dengan sesopan mungkin, karena aku tidak bisa menanam apa-apa di apartemenku dan meski aku mencoba, tanaman itu pasti hanya akan menjadi tumbuhan tak terurus di dalam pot yang disimpan di sudut balkon.

Aku memerhatikanmu dan wajah seriusmu, penuh konsentrasi ke jalanan yang rumputnya terawat meski tidak ada halang rintang di sana. Selalu kulihat kau dengan wajah yang sungguh-sungguh begitu, seakan jika kau tidak mengerjakan sesuatu dengan sempurna, duniamu akan mulai berjatuhan, berguguran dan hancur seperti dedaunan kering yang terinjak di bawah sepatu. Aku pun selalu melakukan segalanya dengan sungguh-sungguh, hingga batas kemampuanku, tapi bahkan aku saja kadang berpikir kalau kau mesti santai sedikit, kaku melulu begitu tidak baik untuk kesehatan, dan tentu ini bukan sekadar omong kosong, aku berhak bilang begini karena aku seorang dokter.

Namun di sisi lain, kau juga begitu jenaka dan penuh main-main; meski kau hanya bersikap begitu di depanku, dan aku tidak tahu apakah kau juga menunjukkannya di hadapan orang lain jika sedang berdua saja dengannya. Aku tidak yakin apakah kau yang seperti itu adalah secuil dirimu yang satunya, atau memang bagian dari keseluruhan Akashi Seijuurou yang kau pilih-pilih untuk tunjukkan atau tidak. Setelah berpikir begitu pun aku jadi merasa semakin tidak mengenalmu lagi, semakin sulit saja menentukan seperti apa dirimu sebenarnya; sungguhan atau main-main, serius atau jenaka, atau memang jangan-jangan, kau itu keduanya, ya?

Tapi tidak peduli sedang dalam suasana hati yang ingin berkelakar atau tidak, kesan yang kutangkap darimu tetaplah sebagai seseorang yang melakukan bukan apa yang ia mau, tapi apa yang harus ia lakukan. Seperti datang ke sini memenuhi panggilan ayahmu dan duduk semeja bersama ibu tirimu meski diam-diam kau tidak begitu nyaman—kau mengerjakan semuanya dengan patuh, tapi menurutku kau melakukannya bukan karena kau mau, melainkan karena kau merasa itu adalah kewajiban dan kau wajib melakukannya. Bagaimana ada orang yang sanggup hidup seperti itu, aku pun tidak tahu, semakin aku memikirkannya lagi semakin pula aku merasa kalau kau begitu absurd untuk bisa dimengerti.

Jadi terkadang aku hanya bertanya langsung (karena berusaha menarik kesimpulanku sendiri kadang membuatku nyaris gila), tentang apa yang kau rasakan atau pikirkan, bagaimana kau memikirkan ini dan itu; entah apakah kau akan menganggapku sedang tidak menjadi diriku yang biasanya atau menjengkelkan, tapi kuharap kau tahu bahwa itu adalah usahaku untuk lebih memahamimu. Seperti pagi ini, ketika kau akhirnya turun dari kuda putihmu dan menuntunnya dengan tali kekang dalam genggaman, kuhampiri kau dan kusejajarkan kakiku dengan langkahmu. Kita berjalan seperti itu untuk menit-menit yang tidak kuhitung, sementara aku sesekali melirikmu, yang berjalan dalam balutan jaket dan celana berkuda.

Kita sangat cocok dalam banyak hal, tapi bukan berarti kau dan aku tidak memiliki perbedaan. Sepertinya misalnya saja, aku tidak terlalu suka berterus terang tentang isi hatiku sementara kau kebalikannya, selalu jujur, meski cara penyampaianmu membuat yang mendengar harus memutar otak dua kali atau lebih. Lalu, cara berbicara itu, ketika aku akhirnya mengatakan apa yang kurasakan atau kupikirkan, maka aku akan mengucapkannya tanpa tedeng aling-aling, sementara kau justru suka mengambil jalan memutar, membuat kiasan atau menyebutkan tentang hal lain terlebih dahulu. Maka ketika sudah tidak bisa ditahan lagi, kata-kataku yang sekilas memang tidak tahu etika itu meluncur keluar begitu saja, "Bagaimana rasanya, punya orang lain sebagai ibumu seperti itu?"

Aku akan terima jika kau langsung mengamuk, tapi kau hanya mengerling dan berkata dengan begitu tenang, "Aku sebenarnya sedang berpikir berapa lama lagi harus menunggu sampai kau membahas soal itu."

"Maaf kalau itu bukan urusanku, aku hanya…."

"Bukan masalah," kau menyela, "kau boleh menanyakan apa pun."

Aku menggumamkan ya, lalu tidak mengatakan apa-apa lagi. Kemudian aku menghitung langkah, sampai ke hitungan yang ke-30 barulah kau kembali bersuara, "Aku sebenarnya tidak tahu."

"Apa?"

"Perasaanku terhadapnya."

"Terhadap Miyako-san?" Ketika nama ibu tirimu kusebut, kau menoleh untuk menatap mataku sekilas.

"Ya."

"Tidak tahu bagaimana?"

"Ya mana kutahu, kalaupun aku tahu, aku pasti bisa menjelaskannya padamu." Kau kembali memandang lurus ke depan. "Ayahku pertama kali mengenalkannya padaku di tahun ketiga."

"Kuliah?"

"Bukan, SMA."

"… kenapa kau tidak pernah cerita?"

"Sekarang aku bercerita."

"Itu tidak benar-benar menjawab pertanyaanku, Akashi."

"Midorima," katamu disertai senyuman, "kau mau mendengarkan atau tidak?"

"Lanjutkan," gerutuku, menaikkan kacamata yang bertengger di hidung.

"Jadi, sewaktu tiba liburan musim panas kelas tiga, ayahku memanggilku seperti yang dilakukannya sekarang ini, kemudian dia mempertemukanku dengan Miyako-san. Dia bilang dia telah memikirkannya matang-matang, dan Miyako-san akan menjadi pendampingnya. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan mereka saling mengenal. Lalu segalanya terjadi begitu saja. Mereka menikah. Setelahnya, aku kembali ke Kyoto untuk meneruskan sekolah."

"Begitu saja?"

"Begitu saja."

"Benar-benar tidak ada apa pun lagi?" Yang aku ingin tahu adalah kenapa kau tidak pernah bercerita. Mungkin aku memang tidak pada tempatnya merasa berhak diinformasikan tentang hal ini, tapi setelah bersahabat sekian lama, tidak memberitahuku jadi terasa seperti menyembunyikan suatu rahasia, seakan-akan aku bukanlah teman dekatmu, melainkan hanya kenalan yang tak perlu tahu-menahu mengenai apa yang terjadi pada kau dan keluargamu.

Aku ingin bertanya, kenapa kau tidak pernah mau membagi bebanmu? tapi kalimat itu, persis seperti ribuan pertanyaan lain yang kupunya untukmu, tidak pernah keluar.

"Apa?" Kita tiba di bawah deretan pohon ceri rimbun, sinar matahari yang menembus dedaunan sementara angin mengembusnya membuat sebagian wajah dan pundakmu berkelap-kelip. "Memangnya kau mengharapkan ada adegan opera sabun atau yang semacam itu?"

"Biasanya yang terjadi memang seperti itu, kan?" kataku. "Anak usia labil yang tidak setuju orang tuanya menikah lagi mulai membangkang, ada drama keluarga, anak itu melakukan suatu—atau banyak—kesalahan tapi kemudian di akhir dia tersadarkan kalau itulah yang seharusnya terjadi, dan barulah dia bisa berdamai dengan orang tua barunya."

Alismu mengerut. "Memangnya itu yang disebut wajar, ya? Yah, aku berdamai dengan itu, tapi tanpa drama. Tidak ada kejadian semacam itu."

"Lalu yang ada apa? Kau menerima begitu saja?"

"Apa ada hal lain yang seharusnya kulakukan?"

Aku terdiam, kau juga. Aku tidak paham, apakah kau sebenarnya orang yang egois atau tidak, karena terkadang kau bisa begitu semaunya sendiri, namun di waktu lain kau pun sangat menerima karena menurutmu itulah yang sudah seharusnya terjadi. Kau bersikap sesuai dengan apa yang kau anggap sudah sepantasnya.

"Mungkin ini masih kurang jelas bagimu, Midorima," katamu, sembari mendudukkan diri di bawah salah satu pohon, menyandarkan punggungmu di batangnya, sementara kudamu terabaikan, tapi hewan itu diam saja. Aku mengikuti. Kita duduk berdekatan, namun diameter batangnya terlalu kecil sehingga kita tidak bisa benar-benar berdampingan, jadi ketika aku juga menyandarkan punggungku, kita memandang ke arah yang sedikit berlainan.

"Saat itu ayahku memanggilku bukan untuk meminta persetujuan. Dia memanggilku dan memberitahuku tentang dirinya dan Miyako-san hanya agar aku tahu. Tidak pernah ada ruang bagiku untuk menyuarakan rasa tidak suka, kalaupun memang ada."

"Apa semudah itu bagimu untuk berdamai dengan keputusan itu?"

"Aku tidak tahu, karena itu juga aku tidak tahu perasaanku terhadap Miyako-san."

"Kukira kau tahu segalanya."

"Kau sedang menyindir, Midorima?"

Aku mendengus. Kau baru saja berkata bahwa kau tidak mengetahui perasaanmu—apakah itu artinya kau juga tidak sepenuhnya mengenal dirimu sendiri, dan kau pun selalu berusaha mencari-cari tahu tentang dirimu seperti aku? Kau pernah berkata, segala-galanya dalam duniamu digerakkan dengan logika, jika sesuatu tidak bisa diterima oleh akalmu, maka kau akan kesulitan berfungsi. Maka bila ada yang menghambatmu, kau akan menyingkirkannya. Ketika kau merasakan sesuatu memberati dada, maka kau akan membuat dirimu sendiri tidak merasakannya (yang sampai sekarang pun aku masih heran bagaimana caranya). Bicaramu berbelit-belit ketika memberitahuku tentang hal itu, dan aku merenungkan perkataanmu lama sekali serta berkali-kali, di kamar mandi, di tempat tidur sambil memandangi langit-langit apartemen, di pagi hari sambil sarapan, dan kesimpulanku hanya satu: kau mengabaikan perasaanmu sendiri.

Kubayangkan, menjadi dirimu kurang-lebih hanya bertindak dengan akal dan rasionalitas, aku pun seperti itu, karena bukannya cara pikir laki-laki memang seperti itu? Tapi bohong namanya kalau aku tidak pernah merasakan apa-apa, kadang kala memang apa yang ada di dalam hati menghambat atau menggagalkan kita melakukan sesuatu. Namun kau berbeda, tanpa peduli terhadap perasaanmu sendiri, kau tetap mengerjakannya jika kau merasa itu memang perlu dilakukan; mematuhi ayahmu, memenuhi ekspektasi, menjadi sempurna. Aku tahu karena aku bisa melihatnya dan karena kau selalu jujur; meski kau mengeluh tidak suka, ujung-ujungnya tetap kau lakukan juga.

"Boleh aku tanya sesuatu lagi? Tapi yang ini mungkin agak kurang ajar."

"Tentu saja," katamu dengan ekspresi wajah yang datar.

"Apakah kau bingung menentukan perasaanmu pada Miyako-san, karena jika kau menyukainya, itu akan terasa seperti tidak hormat pada mendiang ibumu?"

Untuk sekejap di bawah bayang-bayang itu, sekejap saja, kukira aku melihat air mukamu berubah. Itu bukan ekspresi yang benar-benar mampu aku artikan. Sekilas, kelebatan di matamu terlihat dingin, lalu berubah-ubah seperti serangkaian film yang acak, ada kepedihan, rindu, marah—begitu kau mengedip, semuanya menghilang. Ketika kau menatapku dalam-dalam dan membuka mulut untuk bersuara, aku bersiap dibentak, namun intonasimu ternyata tetap, "Kenapa kau menanyakan itu?"

Kujawab kau dengan jujur, "Karena aku tidak bisa membayangkannya, punya orang lain sebagai pengganti ibuku."

Sebut aku teman yang buruk, tapi tidak, aku sama sekali tidak bisa membayangkan. Sekali pun, tak pernah terbersit di pikiranku bagaimana rasanya jika suatu hari ada sosok lain, seseorang yang datang dari luar, yang sebelumnya hanyalah orang asing, tanpa hubungan darah, tanpa memori yang dibagi bersama, tanpa ikatan batin. Kemudian tiba-tiba orang itu menjadi ibuku. Aku, kalau ditempatkan dalam situasi yang sama denganmu, mungkin juga tidak akan tahu bagaimana perasaanku terhadap orang itu, apakah aku membencinya karena berhasil menarik hati ayahku—atau kalau aku menyukainya, tidakkah itu akan jadi seperti berkhianat pada ibu kandungku?

"Ibu…," ada senyum terkulum di bibirmu ketika kau memalingkan wajah, "mereka itu bukan orang yang bisa digantikan, kau tahu?"

"Ya, aku pun berpikir begitu."

"Kalau begitu jangan menyebut Miyako-san sebagai pengganti ibuku, aneh rasanya."

"Baiklah."

Kita terdiam, tapi bukan dalam keheningan yang menyesakkan seperti di ruang duduk kemarin, tidak ada dentangan jam di sini, tidak ada suara jarumnya yang seakan terus menghitung sisa waktu yang kupunya (atau sisa waktu yang bisa kita habiskan bersama-sama), tidak ada yang konstan mengingatkan bahwa kita fana, atau mengolok-olok karena ia bisa abadi sementara suatu saat kau dan aku tidak akan berada di dunia ini lagi. Kupejamkan mata dan kupasang telinga, mendengarkan suara-suara yang mengelilingi kita—kicauan burung, desiran angin, napas kudamu—lalu kuhirup aroma rumput, samar-samar kutangkap juga wangi tubuhmu.

Kemudian sesuatu terlintas di kepalaku begitu saja. Terkadang ada beberapa hal yang meski aku mati-matian menahannya, tetap juga terasa terlalu mengganjal jika tidak disuarakan. Entah apakah ucapanku akan membantu, namun akhirnya kukatakan juga, "Aku rasa Miyako-san orang yang baik."

Kau melirikku lagi, dengan cara itu—ujung mata yang berkilat—sebelum mengembalikan pandanganmu ke tempat semula. "Oh, kau belum tahu dia yang sebenarnya."

Aku menoleh, kaget. "M-maksudmu? Sikap ramahnya tadi malam itu hanya pura-pura?"

"Justru lebih parah," katamu muram, "itu semua sungguhan, dan akan lebih lagi jika kau sudah mengenalnya lebih lama. Dari dulu Miyako-san selalu sangat baik terhadapku, dan dia memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Dia memang benar-benar orang yang berhati baik, Midorima, sampai ke intinya." Kau menengok, mata kita bertemu. Tidak kutemukan apa pun tercermin di manik-manik merahmu saat kau berkata, "Dia bahkan memintaku untuk memanggilnya ibu, kalau aku tidak keberatan."

Aku mengerjap. "Lalu, di mana letak parahnya?"

Ada tiga detik kosong yang mengambang di udara, sebelum sudut-sudut bibirmu tertarik dan kusadari dengan agak terlambat kalau kau sedang tersenyum.

"Yah, aku jadi tidak punya alasan untuk membencinya, kan?"