(bukan) tiga hari
Sepanjang sisa hari itu hingga yang berikutnya, berlalu tanpa terasa. Kau menjadi tuan rumah yang baik dengan menemaniku hampir sepanjang waktu, meski aku berkata kalau tidak harus selalu ditunggui. Namun kau bersikeras, katamu kau memang tidak akan punya kegiatan yang berarti di rumah ini jika aku tidak ada. Tapi mustahil tidak bisa melakukan apa-apa di rumah sebesar ini, kataku, jadi tiga hari ini kita habiskan dengan kau mengajariku berkuda, lalu menelusuri buku-buku yang ada di perpustakaan lantai dua, main shogi (aku selalu kalah, seperti biasa), berlatih basket (tembakan tiga poinku masih tidak pernah meleset), menggelar konser mini dengan piano dan biola yang pemain serta pendengarnya hanya kita berdua, juga menonton film-film sampai lewat tengah malam di ruang keluarga.
Di sela-sela itu juga ada ada waktu makan bersama dengan ayah serta ibu tirimu, tapi kau terlihat jauh lebih santai dibandingkan dengan malam pertama kita berada di sini. Sekali kau kelepasan menyebutkan soal ibumu, lalu suasananya berubah jadi canggung—benar-benar canggung sampai rasanya kecanggungan itu sesuatu yang menggelayuti udara dan menetes dari langit-langit ruang makan, tapi Miyako-san sungguhan orang yang baik, ia menanggapinya dengan senyuman serta memuji kecantikan Shiori-san di lukisan yang juga kulihat tempo hari. Belakangan aku jadi tahu kalau Miyako-san ternyata hobi melukis, dan ia ingin melukis kalian bertiga—kau, ayahmu, dan dirinya sendiri—dalam sebuah potret keluarga. Oke, baiklah, berarti benar-benar tidak ada masalah dengan ibu tirimu.
Di hari ketiga aku bermalam di rumahmu, karena aku bilang aku tidak berniat kembali ke ruangan yang jam tuanya selalu berdentang setiap setengah jam sekali itu, kita bermain shogi di kamarmu, di atas tempat tidur yang kunilai kelewat luas untuk ditempati sendirian.
Aku sebenarnya tidak terlalu suka membicarakan hal-hal yang kurang penting, tapi mungkin bertahun-tahun berteman denganmu membuatku ketularan penyakitmu itu juga; membuka obrolan yang tidak penting. Jadi kutanyakan apakah nyaman menempati kasur sebesar ini hanya seorang diri (bukan, aku bukannya khawatir kau kesepian atau apa pun, aku hanya penasaran, tahu kan, seperti yang sering kau katakan—kau penasaran terhadap ini dan itu, meskipun itu tidak penting tapi tetap kau tanyakan juga; nah, aku sekarang sedang melakukan hal yang sama), dan kalau malah bergurau. Kadang-kadang sepi juga, katamu, mau tidur bersama kuda pun ranjang ini tetap terasa luas.
"Bicara soal kuda, maksudmu seperti yang kemarin itu," kataku, "Yukimaru?"
Seperti kebiasaanmu setiap kali mengingat atau memikirkan sesuatu di tengah-tengah percakapan, alismu mengerut. "Yukimaru? Oh, bukan, Yukimaru sudah mati—kapan ya, dua atau tiga tahun yang lalu, seingatku. Yang kemarin itu kuda lain, sama-sama putih sih, tapi aku lupa namanya."
Sekali lagi aku mendapati bahwa kau menyimpan sesuatu dariku, padahal sebelumnya aku kira kau menyayangi hewan itu—cukup menyayangi hingga setidaknya, jika ia mati maka aku akan mendengar beritanya. Tapi rupanya tidak seperti itu, atau mungkin kau memang hanya menganggap aku tidak cukup penting untuk diberitahu. Sama seperti soal Miyako-san. Dan sekarang Yukimaru. Berikutnya apa, kau berkata bakal menikahi seorang gadis yang ternyata telah dijodohkan denganmu sejak kecil?
(Orang bisa menarik ucapan, tapi apakah orang bisa menarik pikiran? Kalau bisa maka aku ingin membatalkan gagasanku yang terakhir itu, karena sekarang aku jadi ngeri sendiri.)
Kau begitu hobi membuka percapakan yang tidak keruan, tentang hal-hal yang nyaris tidak dipikirkan orang lain, sampai-sampai aku pikir kau seharusnya mengambil filsafat saja di universitas dulu. Tapi jika sudah menyangkut dirimu sendiri, kau jarang bercerita, atau malah tidak sama sekali. Kalaupun iya, kau menggunakan cara penyampaian yang bahasanya berbelit-belit itu. Aku tidak mengerti mengapa kau harus membuat dirimu begitu sulit untuk dimengerti.
Lalu mendadak, sekakmat. Aku kalah, kau menang. Selalu.
Tapi aku akan tetap bermain denganmu, lagi dan lagi, tidak peduli betapa pun usahaku terkesan sia-sia karena kau tidak terkalahkan. Aku akan terus berusaha dengan sungguh-sungguh, dan itu yang pernah kau bilang selalu kau sukai dariku. Bagaimanapun, pada awalnya pertemanan kita memang dibangun di atas sesuatu yang seperti ini, di masa-masa SMP dulu, ketika hanya aku yang sadar akan keberadaan dirimu yang lain, sebelum ia mewujud dalam sosok yang sebelah matanya bersinar keemasan. (Sampai sekarang pun aku masih suka bertanya-tanya dalam hati, ketika kau terdiam sendiri, apakah kau memang benar-benar sedang berbicara dengannya?)
Kau menyapu permukaan papan, bidak-bidaknya berhamburan ke atas bedcover. Kemudian kita menyusunnya lagi, satu per satu, persis anak-anak yang bermain di pantai; kita membangun benteng pasir, lalu merubuhkannya, setelah itu kita menyusunnya kembali, begitu terus, berulang-ulang, layaknya detikan jam yang tidak pernah berhenti.
"Aku mau mengucapkan terima kasih."
"Maaf?" Bukan jenis maaf yang diucapkan karena kesalahan, tapi lebih ke: maaf, rasanya aku tidak mendengarmu dengan jelas. Aku mengangkat wajah, kau melakukan gerakan yang sama. Mungkin karena melihat raut bingungku, kau berkata lagi, "Aku belum mengucapkannya, kan, terima kasih?"
"Untuk apa?"
"Untuk memenuhi permintaan egoisku; menemaniku ke sini." Kau melirik papan ketika mengatur bidak yang terakhir, kemudian menatapku lagi. "Kalau dipikir-pikir, terkadang aku sangat egois dan konyol, ya, juga menyusahkan, padahal ini sama sekali bukan masalahmu, dan pasti membuatmu sangat tidak nyaman. Tapi kau tetap mau menurutiku, bahkan sampai merelakan cutimu terpakai juga. Jadi, terima kasih untuk itu."
Aku mendengus, otomatis menaikkan kacamataku. "Kalau soal cuti kerja, bukannya aku melakukannya untukmu atau apa, ya, itu untuk diriku juga, sayang kalau cuti tahunanku tidak pernah diambil." Dalam hati, aku meringis, siapa sih sebenarnya yang sedang berusaha kubohongi? Diriku sendiri saja bukan. Jangankan yang seremeh cuti, apa pun akan kulakukan untukmu.
Tidak pernah kunyatakan, tapi aku sebenarnya suka sekali ketika melihatmu menahan senyum seperti yang kau lakukan sekarang, ujung-ujung bibirmu tertarik sedikit, pipimu terangkat sedikit, dan matamu yang berbinar menyipit, juga sedikit. "Ya pokoknya, terima kasih, Midorima."
"Sama-sama. Aku jalan duluan, ya?"
"Silakan."
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyaku setelah menggerakan pion.
"Yang ini pertanyaan kurang ajar juga atau bukan?"
Saat melihatku tergagap, kau tertawa pelan. "Cuma bercanda kok. Tentu saja boleh."
Aku menaikkan kacamata lagi (bukan, bukan gugup, yang sudah lama mengenakan kacamata pasti mengerti, ini adalah kebiasaan yang sudah pasti tidak bisa dihindari kalau kau punya lensa yang bertengger di batang hidungmu). "Malam itu, apa yang kalian bertiga bicarakan?"
"Kapan, yang setelah makan malam di hari pertama itu?"
"Iya, yang itu."
"Oh," katamu, menggerakan jenderal emas, "itu, kami membicarakan alasan sebenarnya ayahku memanggilku ke sini. Giliranmu."
"Jadi, ada apa?"
"Dua hal, sebenarnya," kau menegakkan punggung, terlihat seperti ingin bersandar tapi urung ketika teringat kita sedang bermain di atas tempat tidur, "yang pertama, ayahku mau semi-pensiun. Yang kedua, aku disuruh mencari pendamping."
"Pendamping?"
"Iya, pendamping. Kau tidak akan bertanya soal ayahku, nih?"
"Pendamping apa?" Aku menelan ludah. Mendadak merasa seluruh semesta telah berkonspirasi untuk menjadikan pemikiranku yang tadi kenyataan. "K-kenapa ayahmu mau pensiun—semi-pensiun?"
"Pendamping hidup, tentu saja," katamu, dengan nada kalau aku baru saja menanyakan sesuatu yang konyol, "apa lagi? Ah, jadi entah kapan terjadinya, tapi pokoknya dia sudah memutuskan kalau ia mau semi-pensiun, memberikan seluruh perusahaan keluarga yang ada padaku, lalu pindah bersama Miyako-san ke Lyon, sambil sesekali mengawasi cabang perusahaan yang ada di sana."
"Jadi maksudnya, kau disuruh menikah?" Ada sesuatu yang seperti menyangkut di tenggorokanku, aku berdeham. "Lyon… Prancis? Kenapa jauh sekali?"
"Tepat sekali, aku disuruh menikah," katamu, "jangan bengong dong, bidakmu belum bergerak sama sekali sejak tadi."
Aku tersadar, kemudian setelah aku menjalankan pion, kau melanjutkan, "Iya, Prancis, memang jauh, ya? Begini," ucapanmu disela gelak pelan, "tahu tidak, Lyon itu tempat orangtuaku menghabiskan waktu paling banyak sewaktu mereka bepergian ke Eropa untuk bulan madu dulu, karena ibuku—maksudnya ibu kandungku, sangat menyukai kota itu. Nah, sekarang ayahku memutuskan untuk kembali ke kota itu—tempat dia memiliki banyak kenangan indah dengan ibuku—bersama istri keduanya." Kau tertawa lagi. "Lucu, kan?"
Memang kedengarannya agak bodoh, tapi aku sempat terbengong-bengong dulu sebelum bisa meludahkan respon, "Aku kadang masih tidak bisa memahami selera humormu, lho." Karena, satu perbedaan lagi di antara kita berdua, aku tidak selalu menganggap ironi itu sebagai sesuatu yang lucu. Tapi mau berapa kali pun aku memberitahumu bahwa ada ironi-ironi yang tidak patut dijadikan bahan tertawaan, tetap saja leluconmu buruk. "Lalu, yang soal menikah itu, kau sudah punya calon?"
"Dibilang punya calon pun sebenarnya belum, ya, hanya saja kalau sudah urusan bisnis, yang seperti itu tidak akan sulit dicari. Paling juga nanti ada yang mengatur perjodohan." Kau mengulurkan tangan untuk menggerakan bidakmu, dan betapa aku harus menahan diri agar tidak menangkap lengan itu dan menarikmu ke dalam dekapanku.
"Perjodohan, ya."
"Iya, perjodohan yang dengan putri pewaris perusahaan lain, semacam itulah. Perjodohan yang pasti akan diatur dengan sangat baik" kau menekuk lutut dan meletakkan dagumu di sana, "yang juga, sayang sekali, harus kutolak."
"Tolak?"
"Berapa lama sih kita saling mengenal, tiga hari?" Alismu terangkat sebelah ketika memandangku. "Tentu kau sudah tahu kalau aku tidak akan melakukan apa yang tidak kumau."
"Bukannya kau tipe orang yang melakukan apa yang harus kau lakukan, mau suka ataupun tidak?"
"Seringnya memang begitu, tapi bukan selalu," matamu yang semerah rubi beralih ke papan lagi, "lagi pula ini tidak diwajibkan kok, ayahku hanya bilang kalau aku telah berada di usia yang tepat untuk mencari pasangan, itu saja. Tumben ya dia memberi petuah sungguhan, biasanya kan hanya mengingatkanku kewajiban untuk selalu jadi yang nomor satu, seperti sepantasnya seorang Akashi—atau yang semacam itulah."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Aku menaikkan kacamata, sekali, dua kali, sebelum menggerakkan bidak raja.
"Sekarang, ya aku akan menikmati waktuku denganmu." Kau tertawa. Aku membetulkan letak kacamata untuk yang ketiga kalinya dalam setengah menit terakhir.
"Jangan konyol ah, maksudku tentu sehabis ini, apa yang akan kau lakukan tentang omongan ayahmu itu?"
Kau menggumamkan sesuatu, sebelum menjawabku dengan lebih jelas, "Aku akan mengambilalih perusahaan, kali ini seperti yang sudah seharusnya aku lakukan."
"Itu saja?"
"Itu saja." Ujarmu sembari menjalankan sebuah pion.
Salah satu hal yang sangat kusukai darimu adalah, kau seseorang pekerja keras.
Tidak banyak yang tahu, namun sebenarnya setelah lulus kuliah, kau tidak pernah meminta satu yen pun pada ayahmu, apalagi langsung menjadi bos di salah satu perusahaan milik keluargamu. Kau melamar kerja ke perusahaan lain, tanpa menggunakan koneksi ataupun pengaruh nama Akashi, mulai dari bawah, benar-benar merangkak ke atas dengan usahamu sendiri, keluar dari zona nyaman dan mencari pengalaman seorang diri. (Meski pada saat yang sama, kau selalu tahu bahwa suatu hari kau harus meninggalkan posisi hasil dari keringatmu sendiri itu, demi menjalankan perusahaan keluarga yang akan diwariskan padamu.)
Akashi Seijuurou bukanlah bocah manja yang duduk-duduk saja sembari menunggu dilimpahi harta, kau melewati segala macam rintangan di bawah sejuta tekanan hanya untuk tiba di saat ini. Adakah orang lain yang bisa melihat serta menghargai itu?
"Lalu soal pasangan itu?"
"Itu urusan belakangan, tidak usah dicari nanti juga dapat sendiri. Pada akhirnya sebagian besar dari kita pasti akan menikah juga, kan? Hanya waktunya saja yang berbeda-beda."
Aku tidak menjawab.
Seiring dengan permainan di papan yang terus berlanjut, pikiranku pun terus berlayar. Ke banyak hal, mulai dari pertemuan pertama kita di gimnasium Teikou, lusinan sore yang kita habiskan untuk bermain shogi berdua, masa-masa SMA saat kita terpisah, satu-dua pertandingan ketika kita pernah menjadi lawan, serta waktu yang kita habiskan di perkuliahan (lucu, bagaimana takdir membuat gedung fakultas kita begitu berdekatan).
Pikiran-pikiran itu dipenuhi dirimu secara pribadi juga, tentang cara berpikirmu yang masih sangat sulit untuk kupahami, tentang keluargamu, tentang kau yang bisa begitu tertutup dan menyimpan banyak rahasia.
Jika saja saatnya tepat (meski aku tidak yakin kapan waktu itu akan tiba, terlebih lagi karena sekarang kau mulai memikirkan tentang menikah), aku ingin mengatakan bahwa aku juga menyimpan sesuatu darimu, hanya satu, yaitu tentang perasaanku.
Ya, Akashi, aku mencintaimu.
Kau tidak pernah sadar karena aku tidak pernah menyatakannya, tidak pernah tahu karena aku memang tidak pernah berterus terang—atau, kau justru sebenarnya lebih paham, tapi hanya berpura-pura tidak peka, karena tidak mau menyakitiku sebab kau tidak bisa membalas perasaanku dengan cara yang sama. Mendengar kalau kau akan bersama orang lain, rasanya benar-benar menohok, meski aku tidak berhak begitu karena kita memang bukan siapa-siapa, hanya teman, dan itu bukanlah hubungan yang cukup untuk bisa ikut campur ke kehidupan cinta masing-masing, sama sekali tidak cukup.
Tapi, perasaan ingin memiliki tetaplah ada. Aku bukan orang mulia di film-film itu yang sanggup merelakan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Namun, apa yang bisa kuperbuat?
Kalaupun kau punya seseorang nanti, tentu tidak akan ada yang berubah di antara kita. Aku tetap akan memenuhi permintaan-permintaan egoismu, mengikuti percakapan-percakapanmu yang topiknya selalu aneh, juga main shogi meski yang menantiku hanyalah kekalahan-kekalahan. Aku pun bukan orang yang puitis apalagi dramatis, aku tidak akan bilang sinar matahariku menghilang jika kau tidak bersamaku, juga aku tidak akan bilang tak bisa bernapas jika kau tidak ada, dan bisa dipastikan kalau jantungku pun akan tetap berdetak bahkan tanpamu. Tapi mungkin maknanya, makna dari semua itu, dari kehidupanku sendiri, dan segala-galanya yang ada di duniaku, yang akan hilang jika kau tidak ada di sini (tapi tetap itu tidak akan pernah menjadi alasan yang cukup bagiku untuk mengakhiri hidup—aku sudah bilang kan aku tidak dramatis, dan yang jelas aku tidak konyol).
Dusta namanya jika aku bilang aku tidak akan merasakan kepedihan tetap berteman denganmu seperti itu. Aku sudah menyimpan perasaan ini sejak masa-masa kita sekolah, jadi tidak mungkin hilang karena hal sesederhana—katakanlah, kau resmi bersama orang lain, meskipun dari awal aku tahu aku tidak punya harapan. Menyedihkan? Memang. Maka karena itu juga aku tidak mengatakan yang sejujurnya padamu.
Jadi aku hanya bungkam, seperti yang selalu aku lakukan, dan menggerakan pion, berusaha membuat permainan kita terus berlangsung, seperti aku yang akan terus menjalani hidup bahkan jika suatu hari kau menjadi milik orang lain, sama seperti detikan jam yang akan terus berputar tidak peduli berapa banyak pun manusia putus asa yang memohon-mohon, meminta momen dibekukan agar mereka bisa selamanya bersama orang-orang yang terkasih.
"Boleh aku mengatakan sesuatu yang aneh?" tanyamu, memecah keheningan dan mengaburkan pemikiranku. "Sudah lama aku menyimpan ini, tapi kupikir ini mungkin saat yang tepat untuk memberitahumu."
"Tentu saja," kali ini aku yang benar-benar ingin tertawa karena ironimu, "dan kau kan memang selalu aneh."
Tawamu keluar dalam bentuk setengah dengusan, kemudian kau menurunkan lututmu dan duduk bersila. "Aku ini sebenarnya pengecut."
"Hah?"
"Kok hah? Kau punya respon yang lebih bagus, tidak sih?"
Aku berdeham. "Ya kalau kau mengatakannya dengan cara seperti itu, tentu saja siapa pun akan berkata 'hah'. Jadi, kau pengecut. Tapi aku yakin tidak akan ada yang percaya kalau Yang Mulia Akashi Seijuurou Perkasa ternyata seperti itu. Lalu, bisa kau jelaskan apa maksudnya?"
"Aku pengecut ya berarti aku pengecut. Ada banyak hal yang kutakutkan," katamu, memain-mainkan bidak benteng di tangan, "tentang kembali ke rumah ini, misalnya, kalau ayahku memanggil seperti ini, aku tahu ada hal yang sangat serius yang ingin dia bicarakan. Dan aku takut mengetahuinya, takut mungkin aku tidak akan sanggup menerima, dan kau pasti tahu apa yang terjadi kalau aku tidak sanggup melakukan sesuatu."
"Dia akan mengambilalih dan mengerjakannya untuk kalian berdua," kataku, dan kau mengangkat wajah, menatapku dalam-dalam hingga aku ngeri akan melihat kelebatan emas di mata kirimu. Tapi tidak ada apa-apa di sana.
"Ya." Katamu, datar. "Aku jarang membahas ini, tapi aku ingin kau tahu kalau dia masih ada, di suatu tempat di dalam sini."
"Aku tahu." Aku menyilangkan lengan. "Kadang-kadang memang masih kentara."
Kau mengerjap. "Masa?"
"Bagiku, ya, Akashi yang absolut itu masih suka kelihatan."
"Oh."
Rasanya ingin kuacak-acak helaian merahmu, setengah karena gemas, setengahnya lagi karena frustrasi. "Berapa lama sih kita saling mengenal, tiga hari? Tentu saja yang seperti itu aku pasti tahu."
"Jangan mengembalikan kalimatku begitu, menjengkelkan, tahu."
"Jadi, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"
"Ah, kau juga tahu ya kalau itu tadi bukan inti pembicaraanku."
"Pasti tahu." Aku membetulkan letak kacamata lagi.
"Midorima, kalau begitu kau juga tahu kan kalau aku hanya mengaku begini di depanmu?"
"Ya, mana mau kau mengaku takut di hadapan orang lain."
"Nah, jadi aku ini sebetulnya pengecut, tapi kalau aku bersamamu, aku jadi tidak begitu takut, itu pula alasanku membawamu ke sini," kau mengedip, sedetik lebih lama dari yang seharusnya, dan di momen itu aku seakan melihat setiap rincian di kelopak serta bulu matamu, "karena aku sudah bilang kan, kau membuatku nyaman."
"A-apa yang sedang kau coba katakan, sih?"
"Bahwa aku sangat menghargai pertemanan kita dan eksistensimu? Kau ini terkadang lamban juga, ya."
"Itu karena bicaramu berbelit-belit," aku mengalihkan perhatian ke papan, namun sudah lupa siapa yang jalan terakhir kali, "sekarang giliran siapa?"
"Entah, coba kau ingat-ingat."
"Kalau aku memang bisa mengingat kan pastinya tidak akan kutanyakan padamu."
Aku mendengus, kau tertawa, seringnya memang seperti itu, dan setiap kali hal itu terjadi, aku bertanya ulang pada diriku mengapa aku bisa sampai jatuh untuk orang yang menyebalkan seperti dirimu. Tawamu yang renyah dan pelan memantul, menggema di gendang telingaku, mirip seperti dentangan jam di ruangan itu, bedanya aku sama sekali tidak terganggu oleh suaramu, meskipun sama-sama menjengkelkan. Malah rasanya, aku lebih suka ketika kau tertawa seperti sekarang dibanding diam dan berbicara pada dirimu sendiri, karena ada batasan yang tak terlihat antara kau dan aku ditambah dirimu sendiri; kalian bisa menyeberang ke sisi ini, tapi aku tidak bisa mencapai dunia itu. Saat kau tertawa, rasanya kau berada di dunia yang sama denganku, dan aku bisa bahagia dalam perasaan semu bahwa kita bersama-sama.
Hingga ruangan itu kembali sunyi, masih belum ada yang menggerakkan bidak. Biasanya kau yang suka memecah keheningan, tapi kali ini aku ini aku ingin mengambil peran itu.
"Akashi."
"Ya?"
"Jujur saja, sebenarnya ada ataupun tidak ada aku di sini, tidak akan ada bedanya, kan?"
"Tentu saja ada bedanya."
"Tapi kau akan baik-baik saja, bukan begitu?" Karena kau adalah seseorang yang terlalu kompeten, kalau ada orang yang sanggup hidup sendirian saja, itu pasti kau, Akashi Seijuurou, sebab kau mampu melakukan segala-galanya sendiri.
"Tidak, aku tidak akan baik-baik saja."
"Tapi kalaupun aku tidak menemanimu, kau akan tetap berada di sini, tetap bersikap dengan sempurna, dan tetap menuruti ayahmu, benar?"
"Benar sih."
"Aku hanya akan menanyakan ini sekali lagi," aku membetulkan letak kacamata, menatapmu serius, sepenuhnya mengabaikan papan di hadapan kita, "tidak usah sok mengelak dengan alasan kau takut atau apalah, kau sendiri yang bilang, kita tidak hanya saling mengenal selama tiga hari, dan belasan tahun sudah cukup bagiku untuk tahu, bahwa kau punya alasan lain memintaku ke sini."
"Baiklah, kau memang yang paling mengerti aku, ya."
Andai saja itu memang benar. "Jadi?"
"Jadi," kau membalas tatapanku, aku menyukai matamu sekaligus tidak, karena manik-manik merahmu itu seperti gula cair lengket yang mereka gunakan untuk membuat permen apel; menarik perhatian, mengunci, dan menjerat; sulit sekali memalingkan muka dari mata itu, "semua yang kau katakan tadi memang benar, kalau kau tidak ada di sini, aku akan tetap menemui ayahku, tetap bertahan di meja makan yang canggung itu, dan tetap menurutinya untuk mencari pendamping.
"Bedanya, aku tidak akan bisa melakukan yang terakhir dengan sempurna." Kau melipat tangan di pangkuan. "Dari awal pun aku sebenarnya sudah tahu alasannya memanggilku ke sini—meskipun aku tidak menebak yang soal semi-pensiun itu—karena hal tentang pendamping hidup ini telah beberapa kali disinggung. Lusa ayahku akan menengok rumah lama di Kyoto dulu, sebelum semua berkas diurus dan dia serta Miyako-san benar-benar pindah."
Ada jeda, dan aku menggunakannya untuk bertanya, "Lalu?"
"Lalu aku ingin mengenalkan calon pendampingku secara resmi dulu sebelum mereka berangkat, dan kupikir ini adalah saat yang tepat, tapi kalau kau tidak ada di sini, itu jadi tidak mungkin dilakukan, bukan begitu?"
Ada diam melingkupi seluruh ruangan, lama. Lalu ada dentangan, tapi bukan dentangan jam, itu suara jantungku sendiri yang menggema di telingaku. Selama beberapa detik pertama, sebelum aku sadar kalau organku itu sudah berbunyi lebih keras dari jam mana pun, sebelum aku menyadari juga ada rasa hangat yang menjalar jadi panas di wajahku, otakku masih berusaha memproses perkataanmu. Bahkan setelah itu, ketika kau menggeser papan shogi dan mendekatkan dirimu sendiri, lalu menarik sisi-sisi wajahku dengan kedua tangan sambil tertawa, aku masih belum benar-benar paham akan apa yang baru saja kau sampaikan. Atau bahkan ketika di pipimu muncul sedikit rona merah, aku juga masih belum mengerti.
Selanjutnya semua terjadi seperti di dasar laut saja, tahu kan, ketika segalanya melambat dan memberat tapi kau tidak terlalu mempermasalahkan itu karena kesadaranmu hampir menghilang sepenuhnya akibat kekurangan oksigen. Namun yang jelas, aku menyukai perasaan itu, ketika kau mendekatkan wajah kita dengan jarak yang hampir setipis kertas dan berkata dalam suara serupa bisikan,
"Aku memang orang yang menyusahkan, dan aku juga membuat segalanya jadi rumit, repot-repot aku memintamu datang ke sini hanya untuk mengatakan kalau aku jatuh cinta padamu sejak lama," napasmu terasa hangat, "padahal, ya itu, kita tidak baru mengenal selama tiga hari, dan aku sebenarnya bisa saja mengatakannya dengan kasual di suatu sore yang biasa-biasa saja, pada akhir minggu, saat kita bertemu untuk minum kopi atau main shogi di sebuah kafe yang agak romantis. Tapi kalau aku datang dan tiba-tiba berkata, 'Hei, Midorima, aku sebenarnya menyukaimu sejak SMP', jadinya tidak begitu mengesankan, ya?"
"Aku tidak keberatan," entah dari mana aku menemukan suaraku, keluar dengan agak lebih tinggi daripada yang aku maksudkan, tapi yang penting aku berhasil mengucapkan apa yang mau kuucapkan, "aku tidak keberatan kau membuat segalanya jadi rumit, karena kau memang orang yang menyusahkan."
"Aku juga ingin menjadikanmu kepala dari rumah sakit yang akan dibangun keluargaku itu."
"Akan kulakukan itu untukmu."
"Lalu aku memintamu untuk meninggalkan apartemenmu dan pindah ke sini, bersamaku."
"Kalau memang itu maumu, maka dengan senang hati."
"Dan aku mau memanggilmu 'Shintarou' mulai sekarang, jadi kau pun harus memanggil nama depanku."
"Baiklah… S-Sei."
Matamu melebar, penuh ketertarikan sekaligus kegembiraan, seperti anak kecil, tapi kan anak kecil tidak akan memimpin perusahaan, tidak menipu sahabatnya supaya mau menemaninya menginap di rumah lamanya, dan tidak juga berniat mengenalkan seorang pendamping hidup lelaki pada ayahnya sementara dirinya sendiri juga laki-laki.
"Itu artinya kau mencintaiku juga, kan, Shin?"
"Kau pasti tahu," kali ini kuberanikan diriku untuk merengkuhmu, "karena bukan baru tiga hari kita saling mengenal."
fin
Dentangan jam yang penuh masa lalu atau suasana meja makan yang canggung, terkadang itu semua masih ada, tapi tidak apa-apa, aku pun tidak masalah lagi jika diingatkan bahwa kita fana, karena kita memang tidak abadi, bukan? Aku hanya lega mulai sekarang bisa mengabiskan sisa hidupku yang tidak kekal ini bersamamu, saling memiliki.
Karena itu, Midorima, ujarmu sembari merajut jemari di jari-jariku yang diperban, kita manfaatkan waktu yang masih ada untuk hidup dengan sebaik-baiknya, sekali lagi kita buat tempat ini jadi rumah—benar-benar rumah lho, bukan hanya namanya saja, bagaimana?
