Da-Taa- /Plakk

Zen: Cukup Nona! Daku sudah tidak tahan dengan suara Cemprengmu yang selalu berteriak.

Leila: Da-Tadaaaaaaaa! /teriakpaketoa

Zen: Oh Tuhan, Telingaku...

Leila: Maafkan aku, Asistenku. Tapi Opening Cerita harus dilaksanakan. titik.

Nah, Para Readers sekalian, kita sampai di Chapter 2.

Yeee! Puja Kerang Ajaiiiibb! Ulululululululu~

Zen: *Jedukin kepala ke tembok*

Oh, Iya. Zen memintaku untuk mengatakan ini pada kalian:

HEAVEN Sequel will Coming Soon! :D

Sekarang Zen sedang susah payah memeras Otaknya (?) untuk menuliskan Sequel Ceritanya. Ditunggu Yaa! ;)

Oh, Iya! Sedikit Promot nih..

Untuk para pecinta Sho-Ai, mungkin anda berminat membaca story ini?

Bring You Back Home, a Pokemon Fanfic

Rated: T

Genre: Adventure/Romance

Pair: Ethan x Red

Link: s/11222529/1/

Barang kali berminat. Tapi kalau ga mau Yo wis Ra popo :). Story milik Author yang satu ini tidak laku. Salah sendiri sih.. Harusnya fanfic Pokemon itu buat Cowo. Malah dibikin Sho-Ai. Otomatis yang bacanya Alergi. :v

Nah, sedikit spoiler nih, di chap ini BoboiBoy Air akan muncul!

Kyaaaaa! Kyaaaaaa! X-D *Nosebleed*

Leila tau Kalian pasti sudah menunggu-nunggu makhluk seimut dia ada di Story ini kan? Sama Author juga XD Kyaaaaaaa!. Sengaja Author tidak memunculkan dia di Chap 1, karena di Chap sebelumnya, Air lagi Sibuk dimainin sama Author (?). Disini akan terjadi *Spoiler* pada Air. :v Kyaaaaaa! XD *NosebleedSeember*

Udah ah! Kalo ngomongin Air nanti Author bisa kehabisan darah. -3-

Oke, tanpa Cek-Cok lagi, Inilah dia:

-The Little Match Boy Chapter 2-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dengan berat hati, Api memutuskan untuk pulang ke Rumah Ayahnya. Kalau Ia terus berada diluar semalaman, Ia akan mati kedinginan. Api hanya berharap semoga nanti kepalan tangan Ayahnya tak mendarat di wajahnya.

Perlahan, kaki telanjangnya melangkah mendekati pintu. Dengan sedikit ragu, Api mengetuk pintu kayu rumahnya itu.

"Ayah... Ayah, Apa kau didalam?"

Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintunya. Seseorang berbadan tinggi yang wajahnya kelihatan sangat tidak senang.

"Oh, Lihat siapa yang datang." katanya Angkuh.

"A-Ayah... Boleh aku menginap dirumah Ayah?... Disini dingin.."

"Hmm-hmm... tergantung, berapa banyak yang kau dapat hari ini."

"T-Tapi.. Aku tidak.. menjual satu pun korek api.."

"Kalau begitu sudah jelas, jawabannya tidak."

"Aku mohon Ayah! Izinkan aku menginap malam ini saja!"

"Kau sudah tau sendiri kan? Kau boleh menginap jika kau punya uang!"

"Tapi Diluar bukanlah tempat yang bagus untuk tidur! Salju turun lebat! Dan angin dingin selalu berhembus! Aku bisa membeku!"

"Aku rasa tempat yang bagus untuk orang yang malas bekerja adalah diluar. Sudah untung kau memakai jubah merah itu. kenapa tidak dijadikan selimut saja?"

Hei-hei, Pemalas katanya? Hei Ayah! Sepertinya kau tak bisa menjaga ucapanmu. Api langsung mengepalkan tangannya, hatinya kini dipenuhi amarah. Tangannya yang mengepal kuat tidak tahan ingin mendaratkan pukulan diwajah Makhluk itu.

"KAU SEBUT ORANG YANG RELA BERDIRI SEHARIAN MENJUAL KOREK API, TANPA MAKANAN DAN DIHUJANI SALJU ADALAH ORANG PEMALAS?! LALU ORANG YANG KERJANYA HANYA MABUK DAN TIDUR TERUS KAU SEBUT ORANG YANG GIAT?! KEMANA PERGINYA OTAKMU?!"

BUAKKK!

Kepalan Tangan Ayahnya mendarat di wajah Api begitu Ia selesai mendengarkan Api yang berbicara sambil berteriak. Api tertunduk, kesakitan memegangi pipinya yang sepertinya mulai membengkak sekarang. Perlahan, Darah segar mengalir keluar dari ujung bibirnya.

"Anak tidak tau diuntung! Kau pikir Siapa yang sudah merawatmu semenjak Wanita itu mati Heh?!"

"Merawatku..? MERAWATKU?! DENGAN MENYURUHKU BERDIRI SEHARIAN?! TANPA MAKANAN?! DAN TEMPAT UNTUK TIDUR?!" Api kembali berteriak lantang meski mata merah terangnya berkaca-kaca menahan sakit.

"Adalah hakku soal bagaimana cara Aku merawatmu! Lagipula, Apa yang akan kau lakukan soal itu? Mengadu pada Ibumu? Heh! Dia Sudah Mati!"

"DIA MATI KARENA KAU! DASAR BRENGSEK! TIDAK TAU DIRI! MAKHLUK TIDAK BERGUNA!"

BUAKKK!

Api kembali menerima pukulan kuat tepat di ulu hatinya. Anak itu terjatuh ke tanah memegangi perutnya kesakitan. Dan perlahan, air matanya turun tak kuat menahan sakit.

"Sebaiknya kau pergi. Aku muak melihat wajahmu BOCAH TENGIK!" Pria itu membanting pintu dan membiarkan Api diluar.

"HEI!" Api langsung bangkit, menghampiri pintu, dan memukul-mukul pintu rumah Ayahnya dengan keras. "HEI! AYAH! BUKA PINTUNYA! BIARKAN AKU MASUK!"

Tidak ada gunanya. Sepertinya telinga Pria Tua itu sudah tuli. Api menggedor Pintunya dengan keras sambil berteriak pun tak kunjung membukakan pintunya.

Angin dingin kembali berbembus. Api sudah menyerah untuk merengek-rengek pada Ayah bejadnya. Kini, Ia tak hanya merasa kedinginan, namun merasakan kesakitan juga karena pukulan Ayahnya tadi. Namun dirinya masih berdiri didepan pintu rumah Ayahnya.

Kalau begini terus, Api bisa mati kedinginan.

Tidak ada makanan, tidak ada tempat tidur, tidak ada kebahagiaan.

Sebenarnya Api sudah menunggu-nunggu Kematiannya tiba. Supaya dirinya bisa terbebas dari semua penderitaan ini. Tapi kenyataannya,

Dirinya hanya bisa merasakan dinginnya salju.

Dirinya hanya bisa merasakan sakitnya luka karena pukulan Ayahnya.

Dirinya hanya bisa merasakan penderitaan yang tak kunjung hilang.

Terus merasakan sakit, namun tak kunjung mati.

Ia sudah tak tahan dengan semua ini. Satu-satunya jalan, adalah menemukan sumber kebahagiaannya.

Kobaran Api.

Ya, setidaknya Ia bisa terlepas dari penderitaan meski hanya untuk beberapa saat. Dengan khayalan yang Ia dapatkan begitu api itu menyala.

Masih berdiri didepan pintu rumah Ayahnya, Ia menyalakan api dari korek apinya. Ia mulai merasakan kehangatan kecil menyelimutinya. Api menutup matanya, menikmati kehangatan kecil yang Ia dapatkan dari korek api miliknya.

Tiba-tiba, Rumah Ayahnya berubah menjadi sebuah tumpukkan kayu bakar yang besar. Dan pemandangan di sekitarnya berubah menjadi pemandangan di tengah hutan pada malam hari. Ini khayalan lagi, kini khayalan itu membawa Api pergi ke tengah Hutan.

Senyumannya terkembang begitu Ia melihat tumpukan kayu bakar besar itu dihadapannya. Dengan tumpukkan kayu bakar ini, Ia bisa membuat api unggun yang sangat besar. Dan besar kemungkinan api ini tidak akan padam hanya karena tertiup angin dingin.

Tanpa ragu, Api membakar tumpukkan kayu itu. Perlahan, api mulai merambat ke seluruh permukaan kayu yang ada. Sehingga terciptalah sebuah kobaran api yang sangat besar.

Panasnya membuat Api bisa merasakan tangan dan kakinya lagi yang tadinya membeku.

Panasnya membuat Api bisa berhenti menggigil.

Panasnya membuat Api merasa sedang tidur diatas ranjang yang empuk dan selimut yang hangat.

Panasnya membuat Api kembali merasa bahagia.

Tapi Ingatlah.

Dalam hidup ini..

Kebahagiaan adalah Khayalan.

Dan cepat atau lambat, kau akan kembali ke kenyataan yang pedih.

Namun kini, yang menyadarkan Api dari lamunannya bukanlah angin dingin yang memadamkan api yang ada dihadapannya. Tentu saja bukan, hanya angin topan lah yang bisa memadamkan api sebesar itu.

Melainkan, karena seseorang menarik tangannya, menjauhkan dirinya dari kobaran api yang menghangatkan tubuhnya itu.

"Apa yang kau lakukan?! Menjauhlah dari situ! Kau bisa Terbakar!"

Api mendapati bahwa orang yang menariknya adalah seorang Wanita berkerudung merah muda. Api tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Pandangannya kabur karena kepalanya tiba-tiba sakit.

"Uuhhn..! A-Ada apa?..."

"Rumah itu terbakar! Cepat selamatkan dirimu!" kata wanita itu panik menyuruh Api untuk pergi.

Seketika mata Api membulat. Rumah.. Terbakar..?

Api mendapati di sekitarnya warga sekitar berlarian panik.

Api mendapati banyak orang berbondong-bondong membawa seember air.

Api menoleh kearah Rumah Ayahnya.

Tuhan.

Jadi yang Ia bakar tadi bukanlah tumpukkan kayu bakar.

Tapi Rumah Ayahnya.

Tanpa sadar, Ia sudah membakarnya!

Apa yang sudah kulakukan?..

Dirumah itu kan...

"AYAH!"

"Hei! Hei! Jangan pergi kesana! Disana Berbahaya!" Wanita berkerudung itu menahan Api.

"AKU HARUS KESANA! AYAHKU ADA DI DALAM RUMAH ITU! AKU HARUS MENYELAMATKAN DIA!"

"Tidak! Biarkan Orang lain yang menyelamatkannya! Kau harus Pergi!"

"BAGAIMANA AKU BISA PERGI JIKA AYAHKU SENDIRI SEDANG DALAM BAHAYA?!" terlihat air mata deras menuruni wajah Api.

Wanita itu terdiam dan menatap Iba pada Api. Dan Anak itu menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan genggaman tangan wanita itu, dan berlari ke Rumah yang terbakar itu, untuk menyelamatkan Ayahnya.

"HEI! TUNGGU!" Terlambat. Wanita itu sudah tak bisa menghentikan Api karena anak itu sudah pergi.

"Hei, jangan katakan kalau anak itu akan pergi ke Rumah yang terbakar itu!" Kebetulan seorang Pria berpakaian biru melewati wanita itu dan mendengar pembcaraan mereka.

"Ayahnya ada dalam rumah itu. Dia ingin pergi menyelamatkannya! Ayo cepat bawa dia kemari!" kata Wanita itu panik.

"Percayakan padaku!" Pria itu pun bergegas pergi ke Rumah yang terbakar itu.

Disisi lain, sang Bocah Penjuak Korek Api itu menerobos masuk ke Rumah Ayahnya tanpa menghiraukan panasnya udara didalam.

Kalian pasti bertanya-tanya 'Untuk Apa Bocah itu menyelamatkan orang Bejad yang Ia panggil Ayah itu?

Biarkan saja dia mati terbakar sebagai balasan yang setimpal Ia dapatkan karena telah membuat Dirinya menderita.

Asal kalian tau saja, Api bukan Orang Pendendam.

Apapun yang terjadi, Sejahat apapun dia, Dia adalah Ayahnya. Dia adalah keluarganya.

Karena itulah Ia tak boleh jahat pada Ayahnya meskipun Ia jahat.

Dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Ia tak berhasil menyelamatkan Ayahnya.

Dia sudah membenci dirinya sendiri karena sudah membakar rumah Ayahnya meskipun tanpa sadar.

Debu dan Abu dari bangunan rumahya yang terbakar membuat nafasnya menjadi sesak sehingga dadanya terasa sakit.

"Ayaaahh! Ukh..! Ayaaahh! Dimana Kaaaau?!"

Dengan terbatuk-batuk, Ia menelusuri setiap ruangan rumah yang terbakar sambil memanggil-manggil Ayahnya. Mulai dari ruang tengah, Dapur, sampai kamar mandi. Tapi Ia tak juga menemukan sang Ayah.

"Tolong! Tolong Aku! Siapapun!"

"Ayah?!..." Api bisa mendengar sayup-sayup teriakan Ayahnya.

Suaranya berasal dari lantai Atas. Sepertinya Ayahnya ada di kamar dilantai Atas. Api langsung berlari ke lantai atas sambil menghindari kobaran api yang mulai membakar dinding di setiap ruangan dan juga puing-puing yang terbakar. Ia juga harus bertahan karena Ia mulai kehabisan nafas karena berada disana terlalu lama.

"Ayaahhh!" Api mendobrak setiap pintu ruangan di lantai atas. Dan Akhirnya Ia menemukan Ayahnya di pintu ruangan terakhir.

"Kau!" Pria itu seakan tak menyangka kalau Anaknya sendiri akan menyelamatkan dirinya.

"Ayah! Ayo pergi dari sini!" Api langsung menarik tangan Ayahnya dan membawanya pergi keluar dari tempat itu.

Semakin lama, kobaran api semakin membesar dan mulai menghanguskan sebagian rumah. Begitu hendak menuruni tangga, puing-puing atap yang terbakar jatuh menghalangi jalan.

"Oh, tidak!" langkah Api dan Ayahnya terhenti karena jalannya terhalangi.

"Sial!" Api langsung melepas jubah merah yang Ia pakai, dan menggunakannya untuk memadamkan api dari puing-puing yang ada dihadapannya.

Tanpa Ia sadari, puing-puing atap yang sangat besar terbakar akan menimpa Api! Namun karena menyadarinya, dengan cepat Ayahnya mendorong Api ke samping tangga, dan membiarkan puing-puing besar terbakar itu menimpa dirinya.

"Uaahh!"

BRAKKKK!

Api terjatuh dengan keras ke lantai bawah. Darah mengalir deras dari kepalanya yang terluka.

"Ukh..."

Api berusaha bangkit untuk menyelamatkan Ayahnya. Namun kepalanya yang sangat sakit itu mulai menghilangkan kesadarannya. Ia masih bisa mendengar sayup-sayup derap langkah seseorang yang berlari mendekat sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

"...Ayah..."

Pria yang mengejar Api tadi datang ke dalam rumah dan langsung terkejut melihat Api yang terluka tak sadarkan diri dilantai dan jasad pria yang terbakar di tangga.

"Oh, Tidak!..."

Puing-puing rumah mulai berjatuhan. Pria itu tak mungkin menyelamatkan jasad yang terbakar itu, Jadi Ia segera menggendong Api yang pingsan, lalu segera keluar dari tempat itu.

Setelah sekian lama, api yang membakar rumah itu tak kunjung padam. Padahal warga setempat sudah bersusah payah bergotong-royong memadamkan api. Wanita berkerudung merah muda yang tadi menatap penuh kekhawatiran kearah Bangunan yang terbakar itu.

"Yaya...!" Pria berpakaian biru yang membopong Api menghampiri wanita yang bernama Yaya itu.

"Taufan?!.."

Pria itu, yang bernama Taufan, begitu sampai dihadapan Yaya, Ia terengah-engah berusaha menghirup udara karena kehabisan nafas.

"Kau berhasil!.."

"Yah.. hanya untuk menyelamatkan anak ini."

"Maksudmu... Ayah anak ini.."

"Mungkin orang itu.. Tapi orang itu sudah tewas!.. Mayatnya terbakar!.. Terlalu banyak api!.. Aku tak bisa menyelamatkannya!.." kata Taufan terengah-engah.

Yaya menatap sedih kearah Api yang digendong Taufan.

Anak yang malang.

Yaya tau dengan anak ini.

Ia selalu melihat anak ini berdiri seharian menjual korek api.

Namun Ia tak pernah melihat anak ini makan, atau pulang ke rumahnya.

Dan sekarang kemalangan nasibnya bertambah karena kepalanya terluka, dan dirinya gagal menyelamatkan Ayahnya.

"... Anak ini terluka... Kita harus melakukan sesuatu.." kata Taufan iba.

"... Aku tau.. Taufan, maukah kau bantu aku membawa anak ini ke rumahku?.."

"Ide yang bagus! Dengan senang hati!"

Lalu mereka pun pergi ke rumah Yaya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"...Api..."

Api terbangun mendengar seseorang yang memanggilnya. Perlahan, Ia membuka matanya. Ia mendapati kalau dirinya sedang berada di tempat yang serba putih.

"...Hah..? D-Dimana...?"

Api melirik ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari tau sedang berada dimanakah dirinya ini.

"Api...!"

Api mendengar kembali seseorang memanggilnya. Suaranya seperti seorang wanita yang tak asing di telinganya. Suara itu berasal dari belakang, karena itu Api berbalik.

"Ibu!"

"Api, kenapa kau membunuh Ayahmu?" tanya wanita itu memasang wajah kecewa sekaligus sedih.

"Ibu!.. Aku.. Aku tidak sengaja!.. Khayalanku lah yang membunuh Ayahku!.." Api membela dirinya sendiri.

"Api, Khayalan seperti Itu datang dari rasa kebencian dalam hatimu pada Ayahmu. Jika saja kau tak memiliki kebencian pada Ayahmu, semua ini tak akan terjadi!.."

Api terdiam. Dan hening beberapa saat disela-sela percakapan mereka.

"Api, Aku tak pernah mengajarkan anakku sendiri untuk menjadi seorang pembunuh. Kenapa kau lakukan ini?"

"Ibu.. Memang Aku sangat benci pada orang itu. Namun tak ada sedikit pun aku punya kehendak untuk membunuh Ayah. Sungguh! Aku hanya menginginkan kehangatan. Itu saja. Kenapa setiap Aku ingin merasa bahagia saja harus dapat masalah? Kenapa aku hanya bisa merasakan kebahagiaanku dalam khayalan saja?! Dan harus kembali lagi ke kenyataan yang menyedihkan?! Kenapa seakan takdir menolakku untuk merasa bahagia?! Lihat saja sekarang! Takdir sudah memberi orang yang sudah membunuhmu pelajaran! Tapi kau malah memarahiku! Apa yang salah pada diriku?! Kenapa Aku harus terus menderita?! Harusnya kau membawaku sedari tadi! Dengan begitu, Aku tak perlu merasakan penderitaan lagi!" Mengungkapkan semua perasaan dalam hatinya, membuat Api kembali menangis. Kedua tangannya mengepal kuat namun bergetar.

"... Jangan katakan... Kalau kau juga melarangku untuk merasa bahagia... Apa kau senang kalau aku menderita...? Kenapa kau tak mau membantuku...?!"

Ibunya Api tertunduk setelah mendengar semua curahan hati dari anak lelakinya. Ia ingin membantu, tapi coba pikir. Apa yang bisa dilakukan oleh orang mati selain menghantui? Sebagai Malaikat Pelindung, tentu saja Ia ingin membantu. Perasaannya semakin terenyuh saat Ia mendengar Api menangis tersedu-sedu.

"..Api.. Aku punya satu permintaan.. Maukah kau memenuhinya untukku?.." tanya Ibunya lembut.

Api hanya terus terisak tanpa mengatakan apapun.

".. Aku ingin melihatmu bahagia.. Meskipun hanya untuk sekali.. Apa kau bisa melakukannya..?"

"...Tentu saja tidak! ...Takdir sudah menolakku untuk bahagia!.."

"Manusia.. Bisa mengubah takdir.." Ibunya Api mendekat dan mengusap air mata di wajah Api. "Aku percaya kau bisa melakukan itu."

"...Apapun yang kau katakan..."

Ibunya Api tersenyum mendengar jawaban yang Ia inginkan. Cahaya putih menyilaukan muncul setelah Ia mencium kening Api.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Perlahan Api membuka matanya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Ia menyadari bahwa Ia sedang berbaring disebuah ranjang di kamar seseorang. Tempat ini terlihat sangat asing dimatanya.

"Ini..."

Tangannya memegangi dahinya yang tiba-tiba terasa sakit. Ia merasakan ada sebuah kapas yang ditempeli plester menempel didahinya. Seketika Ia pun mengingat semuanya.

Ia yang hampir mati kedinginan.

Ia yang pulang ke rumah namun dipukul oleh Ayahnya.

Ia yang berusaha menghangatkan diri namun tak sengaja membakar rumah Ayahnya.

Ia yang gagal saat berusaha menyelamatkan Ayahnya dari kebakaran.

Tangannya bergetar begitu mengingat semua kejadian Tragis itu. Ditambah lagi Ibunya yang masuk ke dalam mimpinya untu memarahi Api atas semua kesalahannya.

Api tersadar dari renungannya karena tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.

"...I-Iya? Silahkan masuk.."

Begitu pintu terbuka, Api melihat seorang lelaki bersurai hitam. Memiliki sepasang Iris berwarna Biru Aqua. Mengenakan jaket biru muda dengan lengan berwarna hitam. Lelaki itu terlihat seumuruan dengan Api.

"... Kau ini...?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-To Be Continue (?)-

Yeee! Akhirnya selesai juga! :D

Oke, minta Reviewnya lagi yaa! Dadaaahh! Sampai jumpa di Chap berikutnya...! (Itu juga kalau kalian ingin lanjut) ;)

*Krik-Krik-krik*

Zen: -_- ... Pergi dengan Watadosnya.. Padahal aku ingat dengan jelas dia sudah janji akan memunculkan BoboiBoy Air di Chap ini.. Ehh.. Ternyata cuman nongol di akhir doang.. Di TBC langsung lagi... Haaahh! Pusing 'Pala 'Ebi.. Pala Ebi~ -_-

Zen: Pokoknya, terima kasih buat para Readers yang setia membaca Cerita ini. Maafkan atas Keharkosannya. Semoga kalian tidak bosan membaca Story ini.

Akhir kata..

Review Please... :3