Da-Tadaaaaaaahh!
Zen: Wooo.. Bisa-bisanya kamu teriak-teriak setelah kamu ngeharkosin para Readers! Readers pada pundung ga mau baca lagi baru tau rasa!
Leila: Oohh.. Oke-oke.. Leila minta maaf atas keharkosan di Chap sebelumnya.. Niatnya sih ingin membuat kalian semakin tertarik dengan cerita Leila.. Semoga kalian tidak pundung.. .
Maaf, Hapunten, Hampuro, I'm Sorry, Gomen, Minal Aidzin (?) Bahasa Arabnya maaf apaan sih? Ah sudahlah! -_-
Author janji tidak akan ngeharkosin kalian lagi. Apalagi sampai menukar Air dengan Taufan lagi. Author Hilaf..
Oke, sudah cukup sesi minta maafnya. Mungkin dilanjut untuk Lebaran nanti. (?)
Happy RnR!~ ;)
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi itu, Api terbangun dari pingsannya, menyadari bahwa dirinya sedang berada dirumah orang lain. Ia memegangi dahinya yang terasa sakit, dan mendapati selembar Kassa yang direkatkan dengan Plester menempel di dahinya.
Tok-Tok-Tok. Seseorang mengetuk pintu ruangan yang Ia tempati.
"..Ya?.. Silahkan masuk?..."
Begitu daun pintunya terbuka, Api melihat seorang Lelaki. Mungkin seumuran dengannya. Mengenakan jaket biru muda dengan lengan hitam. Memiliki surai hitam legam dan sepasang Aqua Hazel menghiasi wajah Tampannya. A-Apa?!
"..Kau ini..."
Lelaki itu tak berkata apapun, hanya berekspresi datar namun menatap Api dengan tatapan khusus. Umm.. tolong garis bawahi.. Tatapan khusus Untuk Orang Asing. Mungkin (?). Kejadian ini membuat Iris Red Flame milik Api bertemu dengan Iris Aqua Marine milik Anak itu.
"Air..! Apa anak itu sudah bangun?.."
Tiba-tiba, terdengar suara berteriak pelan yang tak asing di telinga Api. Rasanya Api pernah mendengar suara itu sebelumnya.
Tanpa diduga, Yaya, wanita berkerudung msrah muda yang menghalangi Api saat menolong Ayahnya, datang ke kamar ini.
"...Oh.. Syukurlah!.." suaranya terdengar gembira begitu mendapati Api terbangun.
"Hei, coba kau ambil roti panggang dan coklat panas di dapur kemari." perintah wanita itu pada lelaki biru muda itu.
Sedangkan yang disuruh langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Dingin sekali.
"Selamat Pagi, Nak.." Sapa Yaya ramah pada Api.
"..Ah.. S-Selamat Pagi, Nona.."
"Hei, bagaimana keadaanmu?" Yaya menghampiri Api yang terduduk diranjangnya.
"..Aku baik.. Terima kasih sudah menolongku Nona.."
"Tak perlu berterima kasih.. Aku hanya kagum padamu.. Sangat berani sekali jika kau rela menyelamatkan keluargamu meski harus berjudi dengan peluang untuk terbakar hidup-hidup. O-Oh.. Ya Ampun.. Apa yang kukatakan?.. Harusnya aku tak membahas ini..! Kuharap kau tak tersinggung." Yaya terlihat Khawatir akan mengingatkan Api pada kejadian yang menewaskan Ayahnya.
"Sama sekali tidak. Mungkin kejadian itu memang harus terjadi. Namaku Api. Kuharap kehadiranku disini tak merepotkanmu Nona."
"Aku Yaya. Sama sekali tidak merepotkanku kok. Aku hanya mengurus satu Anak disini. Sudah besar. Umurnya kira-kira... Umm.. Berapa umurmu?"
"Uhh.. 15 tahun."
"Ah, Anakku 14 tahun. Lebih muda setahun darimu. Sudah cukup besar jadi tak terlalu repot mengurusnya. Kau lihat anak yang tadi kan? Dialah Anakku satu-satunya, dan satu-satunya anggota keluarga disini. Namanya Air."
"..Begitu. Memang tidak ada anggota keluarga yang lain lagi barang kali? Suami Anda bagaimana?"
"Dia sudah meninggal setahun yang lalu." jawab Yaya seraya tertunduk.
"Oh.. Maaf.."
Yaya menggeleng, namun setelah itu Ia kembali tersenyum. "Nah, Api. Karena kau lebih tua dari Air, berarti kau akan jadi kakak disini."
"Ha..? Maksud Anda..?"
Yaya mengangguk, menggenggam tangan Api. "Aku merasa kesepian setelah setahun hidup tanpa Suamiku. Aku ingin ada seseorang yang baru yang bisa melengkapi kehangatan keluarga ini. Dan Aku memilihmu, Api. Mulai detik ini, kau akan menjadi anak angkatku."
Mata Api membulat tak percaya.
Api merasa sangat Bahagia!
Apakah ini Khayalan lagi?
Ada Orang yang mau menjadi keluarganya!
Ada orang yang mau membahagiakan Api setelah Ia merasa sedih tak memiliki keluarga!
Ada Orang yang mau melengkapi hidupnya!
Padahal Takdir menolak dirinya untuk merasa Bahagia.
Tapi kenapa sekarang..
"Kau mau kan?"
"..Tapi nona.. Kenapa aku..?"
"Aku tau kau anak yang baik Api.. Kau tetap patuh menjalani perintah orang tuamu meskipun sebenarnya Ia sedang memperbudak dirimu. Aku sudah tau semua tentang dirimu Api. Aku selalu melihatmu berdiri seharian. Aku selalu melihatmu mencoba pulang ke rumah, namun kau selalu diusir. Aku tak mau anak baik sepertimu harus selalu menderita."
Api tertunduk. Seketika matanya yang berkaca-kaca sedari tadi pun akhirnya meneteskan air mata. Bukan karena menderita. Tapi karena bahagia.
"Hei, kenapa kau menangis? Kau ini laki-laki kan?" kata Yaya tersenyum sambil mengusap pipi sang bocah penjual korek api itu untuk mengeringkan air matanya.
"...Tapi...Aku ini... Bukan orang Baik.. Nona Yaya.. Ayahku tewas karena aku membakar Rumahnya... T-Tapi sungguh!.. Aku bersumpah dalam Hati! Aku tak mau membunuh Ayahku sendiri." Api terisak.
"Sshhh...! Aku tau kau tidak sengaja... Ini bukan salahmu.. Kalau kau memang sengaja membakar rumah Ayahmu, mana mungkin kau sudi menyelamatkannya?" Yaya tersenyum lembut.
Api pun terdiam. Ia semakin terharu. Ternyata ada juga orang yang begitu mengerti keadaan dirinya. Inu bukan khayalan. Ia tau itu. Ia tidak sedang melamun sekarang.
"Api, Anakku." Yaya memeluk Api erat-erat.
Senyuman pun mengembang diwajah Api. Rasanya Sudah lama sekali Ia tak merasakan hangatnya pelukan.
"Nona Yaya.. Terima Kasih..."
"Panggil aku Ibu. Kalau kau mau."
Kehangatan ini.. Bukan Khayalan..
Kebahagiaan ini.. Bukan Khayalan..
Ini kenyataan..
Kenyataan yang Indah..
Kini semua penderitaan yang telah lalu lah yang menjadi khayalan.
Nasib Api mulai berputar sekarang.
Yaya melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Api.
"Selamat datang di Rumah, Api. Mulai sekarang, kau tak perlu berjualan korek api lagi. Kau tak perlu merasa kedinginan dan kelaparan lagi. Kau bukan Bocah Penjual Korek Api lagi. Kau Anakku. Ini Rumahmu. Aku dan Air adalah keluargamu."
Api mengeringkan air matanya dengan lengan bajunya, lalu Ia mengangguk sambil tersenyum. "Sekali lagi, Terima Kasih.."
Pembicaraan mereka berakhir begitu Air datang ke Kamar ini sambil membawa Roti dan Coklat Panas diatas nampan.
"Oh, sudah datang rupanya. Coba kau simpan di atas meja itu, Air."
Mematuhi perintah Ibunya, Air menyimpan nampan itu di atas meja disebelah Ranjang yang ditempati Api.
"Air, perkenalkan. Ini Api. Mulai sekarang, dia adalah Kakakmu. Api, Ini Air. Mulai sekarang, dia adalah Adikmu. Sebagai Kakak dan Adik, kalian harus saling menjaga, dan harus rukun. Mengerti?" Yaya memegang bahu Api dan Air.
"Ibu.. Jadi Kau.."
Yaya mengangguk. Mengerti dengan apa yang dikatakan Air.
"... Senang bertemu denganmu. Kak Api." kata Air dengan tanpa senyuman di wajahnya.
Api tersenyum, lalu mengangkat tangan kanannya, mengajak Air berjabat tangan. "Panggil Aku Api. Kita hanya berbeda satu tahun. Aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu, Air."
Air terdiam pada awalnya, namun segera menjabat tangan si penjual korek api. Atau lebih tepatnya mantan penjual korek api. Mata mereka kembali bertemu. Entah kenapa, baik Api, maupun Air. Mereka merasa nyaman dengan tatapan satu sama lain. Rasanya, tatapan mata sapphire cerah milik air tak mau lepas dari tatapan Light Flare milik Api, yang terasa begitu hangat.
"Hei, mana sopan santunmu? Kakakmu tersenyum, ayo balas senyumnya!" tegur Yaya.
Air berhenti bersalaman dengan Api, masih dengan Ekspresi dinginnya. "... Aku harus pergi."
Anak itu berlalu dari Yaya dan Api.
"Oh, Api, tolong maafkan dia. Percayalah, Air adalah anak yang baik. Namun entah kenapa, semenjak Ayahnya meninggal, Sikapnya jadi berubah."
Api menggeleng. "Kalau dia bukan anak yang baik, mana mungkin Air mau berjabat tangan denganku?"
".. Aku tau kau memang anak yang Baik, Api. Nah, Ayo habiskan sarapanmu."
"Baik, terima kasih."
"Nah, Api. Aku harus membuatkan pesanan. Kalau kau butuh sesuatu, kau boleh panggil aku. Mengerti?"
"...Pesanan?.."
"Aku membuka Toko Kue. Ada banyak pesanan yang menunggu." Yaya pergi sambil melambaikan tangannya pada Api.
Api segera melahap Roti yang sudah lama Ia idamkan. Dulu, Dia harus membekukan Kaki dan Tangannya dengan berjualan korek api ditengah salju. Namun sekarang Ia mendapatkan Roti Ini dengan cuma-cuma.
Dia disini merasa bahagia.
Dia berada disini karena Rumahnya terbakar.
Rumahnya terbakar karena api yang Ia nyalakan.
Berarti..
api yang Ia nyalakan-lah yang membuatnya bahagia disini.
kobaran api, adalah sumber kebahagiaannya.
Tapi apa sumber kebahagiaannya harus membunuh Ayahnya sendiri?
Dia tak mau menjadikan kobaran api itu sebagai sumber kebahagiaannya lagi, meskipun api itu sudah membakar makhluk yang selalu membuat dirinya menderita.
Meskipun kobaran api itu telah menghanguskan ribuan penderitaannya.
Tiba-tiba, terlintas wajah Air di lamunan Api.
Ia teringat dengan mata birunya yang Indah.
Ia teringat dengan sikapnya yang dingin, namun tidak merugikan dirinya sama sekali.
Kenapa tiba-tiba Api jadi memikirkan Air?
Mereka baru pertama bertemu. Namun entah kenapa Api menolak kenyataan itu.
Api menghabiskan coklat panas yang ada digelasnya. Ia sudah kenyang sekarang. Api melihat piring dan gelas kotor sisa sarapannya. Mana mungkin dia membiarkan Yaya mencucinya begitu saja.
Tidak ingin merepotkan Yaya, Api membawa piring dan gelas kotor itu ke dapur. Sambil menghafal tempat barunya ini. Di wastafel, Ia melihat banyak peralatan masak dan peralatan makan yang kotor disana. Sekalian saja Ia cuci.
Api mulai membersihkan piring-piring kotor itu dengan spons dan sabun yang ada. Tak sedikitpun Ia merasa terpaksa melakukan pekerjaan ini. Hampir setengah dari pekerjaannya selesai, Air datang ke dapur.
"..Tinggalkan itu!"
Api langsung menoleh kearah sumber suara. "Air?"
"...Aku bilang, Tinggalkan itu!"
"...Tapi.."
Air langsung menghampiri Api, lalu merebut spons yang ada di tangannya. Melanjutkan pekerjaan yang dilakukan Api.
".. Air, kumohon. Biarkan aku membantumu, Oke?" kata Api, tak ingin menjadi pengangguran.
"... Aku bisa sendiri." balas Air singkat.
Api hanya menghela, memaklumi sikap dingin Air.
Bukan hanya hari ini saja Air melarang-larang Api untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Setiap hari, ketika Api hendak mengerjakan sesuatu, Air pasti langsung datang dan mengambil alih pekerjaannya.
Saat Api hendak mencuci baju, Air merebut pekerjaannya.
Saat Api hendak membantu Yaya mengantarkan pesanan kue, Air langsung merebut tugas itu dari Api.
Saat hendak membersihkan Rumah, Air sudah mendahuluinya.
Setiap Api memohon-mohon pada Air, ingin bekerja juga, Air pasti selalu menjawab:
"Ini tugasku."
Dan saat Api bilang ingin membantu Air, Anak itu selalu bilang:
"Aku bisa kerjakan sendiri."
Hanya dua kalimat itulah yang terucap dari Air. Dibumbui dengan ekspresi wajahnya yang sedingin salju. Sikapnya selalu dingin. Sama dengan musim salju yang selalu melanda kota ini.
Tapi Api tak kehabisan akal. Di Suatu hari, Api pergi mencari ruangan yang namanya Gudang. Ia masih menghapal ruangan-ruangan yang ada di rumah ini. Sampai di lantai atas, ternyata Gudang itu ada tak jauh dari kamarnya.
Sampai disana, Ia langsung mengenakan Celemek yang tergantung di dekat pintu gudang. Ia juga mengambil sehelai kain berwarna merah, mengikatnya dikepala untuk menutupi kepalanya. Dengan sigap, Ia mengambil kemoceng, dan langsung membersihkan setiap debu yang menempel di barang-barang yang disimpan disana.
Yang namanya Gudang, tentu penuh dengan barang-barang yang kotor, berdebu, tidak terpakai lagi. Saat sampai di sebuah rak buku, Api membersihkan permukaan-permukaan rak yang dipenuhi debu, seketika debu-debu itu berterbangan dan membuat hidung Api geli.
"Ha...Ha...HA-CHOOOO!"
Brakkk!
BrakkBrakBrukBrukBrukk!
Tumpukkan buku dirak berjatuhan menimpa Api karena Api menabrak Raknya saat bersin.
"...Oh, Sial!" Api menggerutu sambil menyingkirkan buku-buku yang menimpanya.
Iseng-iseng, Ia melihat setiap tulisan yang ada di sampul buku-buku itu. Ada banyak buku cerita dongeng, dengan judul yang berbeda-beda. Mungkin ini buku cerita milik Air dulu saat masih kecil? Ada juga buku-buku yang judulnya bernuansa Sejarah. Seperti sejarah negara ini, sejarah kerajaan, sejarah hukum, dan banyak lagi. Sampai, Api melihat Buku yang Sampulnya ditulis 'Album Foto'. Penasaran, Ia membuka Album itu.
Api melihat ada banyak foto-foto keluarga yang menempel disini. Di halaman paling depan, ada foto seorang wanita berkerudung putih, memakai gaun dan riasan-riasan yang menghias dirinya. Dan seorang Pria yang sangat tampan disampingnya bersurai hitam yang Iris matanya berwarna Kuning, memakai jas hitam-keunguan sedang tersenyum. Sepertinya ini Foto saat Pernikahan nona Yaya.
Api terus membuka setiap halaman Album itu, sampai Ia menemukan halaman yang berisikan Foto-foto Air yang masih kecil. Mulai dari masih bayi, sampai sudah berumur sekitar 7 tahun-an. Kebanyakan, Air selalu berfoto bersama Ayahnya. Sepertinya Ia sangat dekat dengan Ayahnya. Hei, coba lihat senyumannya yang manis dan ceria itu! Sangat berbanding terbalik dengan sikapnya saat ini. Api jadi tersenyum-senyum sendiri saat melihat setiap foto-foto Air.
Semua foto di Album ini memotret gambar Air yang sedang tersenyum.
Terus-terang saja, Air terlihat sangat manis saat sedang tersenyum.
Sudah seminggu lebih, Api tinggal bersama Air.
Namun Ia tak pernah mengobrol dengan Air.
Air hanya akan bicara untuk melarang Api mengerjakan pekerjaan di rumah.
Api selalu berusaha mengajak Air mengobrol.
Tapi Air malah menjawab seperlunya.
Terkadang kalau Api terlalu banyak bicara, Air malah marah padanya.
Kapan Api bisa melihat senyuman Air saat ini?
Tunggu...
Kenapa Api jadi memikirkan Air?
Jujur saja,
Setelah seminggu lebih tinggal bersama Air, Api merasakan sesuatu.
Ia merasa kalau Ia tak mau jika sekedar menjadi seorang kakak.
Ia merasa.. Ingin menjadi lebih dari seorang kakak.
Ia merasa.. Ingin lebih menyayangi Air.
Ia merasa.. Ingin lebih menyayangi Air lebih dari seorang Adik.
Lalu, bagaimana Api menyebut perasaan ini?
Cinta?
Tapi.. Kenapa Api mencintai Air?
Yang jenisnya tak berlawanan dengannya?
Bukankah ini Cinta yang dilarang?
Kalau ini terjadi, berapa besar dosa yang akan Ia tanggung?
Tapi ini memang sudah terjadi!
Karena Ia memang mencintai Air!
Api langsung menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu dirinya, dan langsung mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya, dan merapikannya. Ia kembali pada pekerjaannya, menyapu debu yang ada dilantai, lalu mengepelnya.
Tak terasa, hari pun sudah sore. Setelah menghabiskan waktu seharian, Akhirnya Gudang ini bersih juga. Tak ada lagi debu yang menempel.
"Api...? Api...! Kau diatas?" Yaya datang menuju Gudang. "Oh, Kau disini ternya.."
Yaya terbelalak melihat gudangnya yang begitu bersih sekarang.
"Oh, Tuhan.. Api, Kau membersihkan gudang ini?"
"Iya. Sebisa mungkin, Aku ingin membantumu Nona. Apapun yang bisa kulakukan, akan kulakukan. Aku tak mau merepotkanmu."
Yaya tersenyum, memegang bahu Api. "Anak Pintar."
Api membalas senyuman Yaya.
"Nah, turunlah ke bawah. Waktunya makan malam."
"Baik."
Dan mereka berdua pun turun ke bawah untuk makan malam. Terlihat, hidangan sudah tersaji diatas meja. Dan Air sudah duduk dikursinya. Yaya dan Api pun segera duduk dikursinya yang melingkari meja makan.
"Nah, Anak-anak. Ayo kita makan."
TokTokTok.
"Oh, sebentar." Yaya bergegas menghampiri pintu.
"Oh, ini Kau rupanya." si Wanita berkerudung tersenyum begitu mengetahui orang yang bertamu ke rumahnya.
"Selamat malaam!" Taufan tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Sudah lama kamu tidak mampir Taufan. Masuklah, kita makan malam bersama."
"Terima kasih. Aku ingin mengadakan pesta bantal dirumahmu. Tidak apa-apa kan?" kata Taufan sambil menggantungkan jaket tebal biru tuanya dan topinya di tempat menggantungkan baju.
"Kau gila seperti biasanya. Lain kali, kabari dulu sebelum kau mau mampir." Yaya mengambilkan kursi untuk Taufan.
"Hai Api! Hai Air! Kalian merindukanku?." Taufan duduk di kursi.
"... Umm, darimana paman tau Aku? Apa kita pernah bertemu?" tanya Api yang sepertinya mengenal Taufan.
"Tentu aku tau! Aku masih sangat ingat jelas aksi heroikmu menyelamatkan Ayahmu saat kebakaran! Kau luar Biasa nak!"
"..Oh, jadi paman yang menyelamatkanku waktu itu? Terima kasih paman!"
"Senang bertemu denganmu! Aku Taufan! Kakak Ipar Yaya!"
"Aku juga senang bertemu dengan Paman!" Api dan Taufan saling berjabat tangan.
"Nah, semuanya, Ayo kita makan!"
"Hei! Paman Taufan! Ada ketombe di rambutmu!" kata Api menunjuk rambut Taufan.
"Hah? Ini bukan ketombe! Ini salju! Dasar kau ini!"
Makan malam mereka berlangsung sampai selesai, yang kadang-kadang diselangi tawa Yaya karena melihat Candaan Api dan Taufan. Sepertinya, meski baru pertama kali bertemu pun mereka sudah cocok. Hanya Air yang makan malam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
.
.
.
.
.
.
Setelah makan malam selesai, Taufan dan Api membantu Yaya membersihkan meja makan.
"Lho? Air kemana?" tanya Yaya.
"Bukankah tadi dia keluar saat selesai makan?" kata Taufan.
"Aku akan cari dia. Mungkin dia di kamar." kata Api sambil melangkah menuju lantai atas.
"Hei, Api aku ikut denganmu!"
"Taufan! Bantu aku merapikan meja!" gerutu Yaya.
"Heeh? Aku lelaah!"
.
.
.
Api sampai di lantai atas. Ia membuka satu persatu pintu setiap ruangan yang ada di sana. Air tidak ada dimana pun.
Dikamarnya tidak ada.
Di kamar Yaya tidak ada.
Di Api pun tidak ada.
Di Gudang juga tidak Ada.
Api tau betul tadi Air tidak pergi keluar. Tadi dia keatas setelah selesai makan malam. Tiba-tiba Api mendengar suara. Suara isak tangis. Suaranya berasal dari teras lantai dua. Penasaran, Api langsung pergi kearah sumber suara itu. Ia pergi ke teras dan betapa terkejutnya Ia dengan apa yang Ia lihat. Seseorang sedang berdiri di luar teras, padahal salju sedang turun lebat.
"Air?"
Air langsung menoleh. Dan Api kembali terkejut saat Ia melihat air mata membasahi kedua pipi Air.
Langsung Air menggunakan lengan baju hitamnya untuk mengeringkan air matanya. Dan berpaling dari Api.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya si Mantan penjual korek api.
Sedangkan yang ditanya hanya diam tak berkata apapun. Hanya memalingkan pandangannya dari orang yang sedang bicara dengannya.
"Air?.. Ada apa?"
Air tetap tak mengatakan Apapun. Ia malah tak bisa menahan air matanya yang kembali menuruni pipinya.
"Hei... Sudahlah Air..." Api mengusap pipi anak biru muda itu dengan tangannya.
Air hanya tertunduk. Ini adalah pertama kalinya Api melihat Air menangis seperti ini. Biasanya Ia selalu bersikap dingin. Tak pernah memperlihatkan perasaannya. Kedua Anak lelaki itu berdiri ditengah lebatnya salju yang perlahan turun dari langit. Dinginnya malam semakin terasa saat hening melanda kota bersalju ini. Malam belum terlalu larut, namun orang-orang seakan malas untuk pergi ke luar.
"Maafkan aku.. Keberadaanku dirumah ini pasti mengganggumu Iya kan?" Api merasa bersalah.
Air menggeleng. "Tidak.."
"...Kau boleh cerita padaku, Air."
Air menghela pelan. "... Ini hanya soal masa lalu..."
Api yang penasaran pun siap mendengarkan setiap kata-kata yang dituturkan padanya.
Ini kesempatannya.
Untuk lebih tau sikap Air.
Untuk lebih dekat dengan Air.
Dan Juga..
Untuk menyampaikan perasaan Api pada Air.
Bahwa dirinya ingin menjadi sosok yang lebih menyayangi Air, melebihi kasih sayang yang diberikan seorang kakak.
Bahwa dirinya ingin menjadi lebih dari sekedar kakak untuk Air.
.
.
.
.
.
.
.
-To Be Continue (?)-
Zen: Lama-kelamaan, Author ini semakin seenaknya nyimpen TBC dicerita. KENAPA KALIAN MASIH SUDI SIH BACA CERITA AUTHOR KURANG AJAR INI?! /CapsMatiinWoy /BiasaAja
Oh, Leila benar-benar minta maaf kepada para Readers sekalian.. Chap ini pasti malah semakin gaje dan tidak memuaskan hasilnya.. Mana Updatenya Lama lagi. Leila benar-benar minta maaf.
Oke, kuharap kalian bisa maklum. Jangan bosan-bosan membaca cerita ini. Masih ada Chap selanjutnya karena kita belum sampai ke Sweet Scene dari Api dan Air. Ini baru permulaan.
Nah, sampai jumpa di Chap berikutnya~ Dan—
Review Please~ ;3
