A/N: Cuman minta reviewnya, barang satu-dua kata gak apa apa kok, tapi aku gak maksa hehe. Maaf late update, semangatnya kurang gara gara reviewnya dikit nih u.u Chap kali ini pendek ae deh wkwk tapi kalo reviewnya banyak ntar chap depan aku panjangin
Baekhyun tidak habis pikir. Beberapa hari yang lalu, ia menyerahkan harga diri sekaligus kehormatannya kepada laki-laki tak dikenal. Ia bahkan tak pernah menyangka akan berakhir di atas ranjang bersama dengan seorang laki-laki tampan dengan seringaian menyebalkan. Baekhyun ingin menangis saja rasanya, tapi mau bagaimana lagi? Yang paling agresif saat itu adalah dirinya. Ia memukul-mukul kepalanya sambil menikmati Marshmallow Fudge yang tersaji di depannya. Sesekali ia memanyunkan bibirnya kesal. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikirannya sendiri!
"Berhenti melakukan itu. Kau terlihat seperti bebek,"
Sontak Baekhyun menolehkan kepalanya. Matanya yang sipit membelalak seketika. Ia tak akan lupa dengan orang ini! Ia kembali merutuk dalam hatinya. Kenapa dunia ini sempit sekali? Kenapa di cafe langganannya pun ia masih bertemu dengan manusia ini? Kenapa ia harus menghabiskan waktunya di cafe ini? Kenapa manusia ini sialnya begitu tampan?
"Masih ingat denganku, bukan?" Chanyeol tak menyerah walaupun sempat tidak dihiraukan. Ia menaik turunkan alisnya dan jangan lupa seringaian menyebalkan yang tercetak dengan indah di wajahnya. "Yah, memang tidak mungkin kau melupakanku setelah malam yang panas... Tante." Chanyeol memberi jeda sedikit pada kalimatnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Baekhyun dan menatapnya nakal.
Baekhyun tidak terpaku, oh ini tentu saja waktu yang paling tepat! Ia melihat ke sekeliling, sepi, bagus. Ia meraih tasnya dan mendaratkannya ke muka pria itu. "Dasar brengsek, kau! Laki-laki tidak tau diri! Penjahat kelamin!" Baekhyun memaki-maki sambil memukuli Chanyeol dengan brutal. "Yaaak! Yak!" Pria itu menghindar, namun selalu saja gagal. Tenaga besar seorang Baekhyun yang mungil tak bisa dilawannya. "Aish! Jelas-jelas kau yang datang kepadaku dengan wajah binalmu itu!"
Baekhyun terpaku saat ini. Ia mendengar ucapan pria ini sambil melemparkan tatapan tajam untuknya. "Apa salahku? Aku hanya membantu menyodok lubangmu, Baekkie." Setelah kalimat itu, Baekhyun kembali mendaratkan barang ke kepala Chanyeol. Ah, sekarang bukan tas, tapi stiletto putih dengan heels runcing yang mendarat di kepala Chanyeol. "Awww!"
Baekhyun berjalan keluar cafe tanpa alas kaki. Ia berlari-lari kecil sambil sesekali menoleh ke belakang. Ia dapat melihat dengan jelas sosok raksasa idiot yang berlari-lari kearahnya. "Baekkieee! Tunggu aku!" Baekhyun berlari dengan kencang, menjauhi sosok raksasa tersebut. Namun, tiba-tiba saja ia berhenti. Ia menginjak sebuah kerikil, dan sial! Rasanya sakit bukan main! Ia terduduk dan memegangi kakinya yang berdarah. Menatap horor darah yang mengucur dari kakinya.
"Sudah kubilang, jangan lari-larian! Kau pikir aku ini polisi dan kau malingnya? Ah ya, mungkin kau maling hatiku- aish! Lupakan!" Chanyeol yang berada di belakang Baekhyun langsung mengoceh tak jelas. Ia berjongkok dan melihat kaki Baekhyun sebentar. "Ini parah," gumam Chanyeol. "Ini semua karena kau, dasar penjahat kelamin!" pekik Baekhyun sambil menunjuk-nunjuk muka Chanyeol. Chanyeol melebarkan matanya, "Apa? Penjahat kelamin? Aissh kita urusi 'penjahat kelamin' nanti! Kakimu itu lebih penting, Baekkie!" Dengan paksa, Chanyeol membawa Baekhyun ke gendongan ala pengantinnya. Baekhyun tak henti-hentinya mengoceh saat digendongan Chanyeol.
"Penjahat kelamin beringas! Kau mesuumm! Mesum tak tau diri, brengsek! Idiot bertelinga lebar! Kau gajah albino asal Afrika Selatan!" Baekhyun terus saja mengoceh sambil memukul-mukul dada bidang Chanyeol. Sementara Chanyeol, sesungguhnya telinganya sudah merah menahan emosi namun ia mengabaikannya dan tetap berjalan ke arah parkiran.
"Yaaakk! Kubilang turunkan aku dasar idiot!" Baekhyun masih tidak berhenti mengoceh bahkan setelah sampai di depan mobil mewah Chanyeol. "Iya, Baekkie. Akan kuturunkan di pelaminan.. Aw!" Baekhyun menggigit lengan Chanyeol dengan kuat, namun Chanyeol tetap bertahan, ia takut Baekhyun jatuh kalau ia banyak tingkah. Dengan susah payah, Chanyeol membuka pintu mobilnya dan membaringkan Baekhyun di dalamnya, setelah itu ia segera menutup pintu mobilnya dan mengucinya- takut Baekhyun kabur.
Setelah Chanyeol duduk di kursi supir, Baekhyun masih saja mengoceh tidak jelas. "Ya! Maumu itu apa sebenarnya?!" pekik Baekhyun. "Bisa tidak, kita sama-sama melupakan apa yang telah terjadi beberapa hari yang lalu? Anggap saja cuman mimpi! Aku sangat sangat tidak dapat berpikir dengan benar saat itu jadi kumohon lupakan saja apapun yang telah terjadi!" lanjutnya.
"Kau yakin berkata seperti itu terhadap laki-laki yang sudah dengan baik hati menggagahimu?" ucap Chanyeol. Baekhyun tak henti-hentinya memanyunkan bibirnya. "Kau akan bawa aku kemana sebenarnya, idiot?" Baekhyun mendelik ke arah Chanyeol, dan Chanyeol tersenyum. "Ke rumahku. Aku tidak tahan dengan paksaan menikah, ya, lagipula kau kan sudah aku perawani, jadi lebih baik yang aku nikahi itu kau."
"ENAK SAJA! AKU TIDAK TERIMA, AKU MAU KEMBALI KE BUCHEON, EOMMAAAAAAAAA!" pekik Baekhyun keras.
tbc dulu mueheheh.
