Da-Tadaaaaaaaaa~
Yes! Waktunya Update Ceritaa~
Oooiiii—! /TeriakPakeToa
Peminat BoboiBoy Halilintar Mana Suaranyaaa—?
Semua Elemental BoboiBoy selain Hali sudah muncul disini lho—!
Kalian ingin Hali muncul juga gak—?
Mau—? Mau Banget?
Selamat Membaca~ ;)
.
.
.
.
-Disclaimer-
BoBoiBoy © Animonsta
黄燐の炎(Ourin no Honoo) The Flame of Yellow Phosporus © Akuno-P (Mothy)
The Little Match Boy © Leila Scarlet Vanilla
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi itu, semua penghuni Rumah Yaya telah selesai sarapan bersama. Taufan juga ikut sarapan bersama mereka, dan seperti biasa, Api dan Air pasti akan rebutan untuk membersihkan meja makan. Seperti sekarang, Api yang sudah menumpuk piring-piring kotor, dan membawanya ke dapur, Air sudah mencegatnya di pintu dapur.
"Uuuhh... Air?"
".. Letakkan itu. Biar aku yang kerjakan."
"Oh, Ayolah! Biarkan aku yang merapikan meja! Sekali iniiii— saja. Yah?"
"Tidak."
"Kumohon.."
"Tidak!"
Api memasang wajah memelas. Berharap Air membiarkan dirinya yang mengerjakan. Oh, ayolah kalian berdua! Bukankah hubungan kalian sekarang sudah lebih dari kakak dan adik? Harusnya Akur dong!
"Pokoknya Tidak!"
Tiba-tiba Taufan merebut tumpukkan piring kotor yang dipegang Api. "Nah, biar adil, biar aku saja yang merapikan meja. Oke?"
Air pun menggeser posisinya. Tak berani kalau harus melarangnya.
"Begitu, dong. Tadi malam saja kalian sangat akur. Malah mungkin lebih dari akur. Kenapa tiba-tiba kalian bertengkar sekarang?"
T-Tadi Malam?! Api jadi teringat saat dirinya... Apa Taufan Tau?!
"M-Maksud paman, tadi malam yang kapan?" wajah Api tiba-tiba memerah.
"Pada saat selesai makan malam? Kalian tidak berebut piring kotor seperti ini. Oh, mungkin karena Air sedang tidak ada ya?"
Fuuuhh.. Api kira Taufan tau soal kejadian semalam. Kejadian di teras lantai atas.
"Kau baik sekali Taufan. Terima kasih ya." kata Yaya.
"Sebagai tamu yang baik, aku harus begitu kan? Apa kata Gempa nanti kalau aku merepotkanmu terus?"
Yaya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Daripada hanya diam disitu, kenapa kau tidak cepat-cepat membuka Toko Kue-mu?"
"Oh! Aku jadi teringat sesuatu! Aku harus mengantarkan pesanan! Ke Rumah Tuan Fang!"
"Nona, biar aku yang Antarkan Pesanannya!" Api terlihat antusias.
"Tidak! Ini tugasku!"
"Ayolah! Jangan lagi! Masa harus aku juga yang antarkan! Biar kalian tidak bertengkar lagi?" kata Taufan sambil mengelap meja makan.
"Yasudah, Kalian berdua pergi sama-sama saja! Tolong kalian antarkan kue ini ke Rumah milik keluarga Tuan Fang di Hutan Barat. Pastikan kuenya tidak rusak, mengerti?"
Api dan Air mengangguk.
"Sekarang, kalian siap-siap dulu. Aku akan mengambil kuenya."
Kedua anak itu pun pergi ke atas untuk mengganti pakaian mereka.
"Yes! Akhirnya! Meja makannya sudah bersih!" kata Taufan.
"Terima kasih, Taufan." kata Yaya sambil meletakkan 4 buah kotak berisi kue dibungkus dengan kertas kado di atas meja.
Api dan Air turun ke bawah telah siap mengantarkan kue pesanan.
"Oh, kalian sudah siap? Ini." Yaya memberikan kotak besar yang berisi kue itu pada Api dan Air. Dua kotak pada Api dan Dua Kotak pada Air.
Lalu Yaya mengembil selembar kertas, dan menuliskan semua harga yang harus dibayar sang pembeli. "Satu Dark Black Forest, satu Cheese Fondue, satu lusin Red Velvet, dan satu Strawberry Cheesecake. Ukurannya besar semua. Nah, berikan catatan ini pada Tuan Fang juga."
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Aku tak mau membuat Ocho-ku tersayang kesepian di rumah." kata Taufan sambil mengambil Topi, Syal, dan baju hangatnya.
"Kau ini. Padahal cuma seekor kucing. Tapi sudah diperlakukan seperti anak sendiri. Lain kali mampir lagi kemari ya!" kata Yaya sambil melambaikan tangannya.
"Hahaha.. Aku kalah sama adik iparku sendiri. Sudah punya anak. Sedangkan aku masih sebatang kara sampai sekarang. Kalau hanya satu rumah sama kucing, cara apa yang harus aku gunakan supaya punya anak?"
"Ish! Jangan bilang begitu di depan anak-anak!
"Oopsie! Keceplosan. Kalau begitu, aku pamit."
"Air, Ayo ucapkan selamat tinggal pada Pamanmu!"
"Aku tau bu! Aku bukan Anak kecil Lagi!" Air Cemberut.
"Hahaha.. Dia benar Yaya, dia sudah besar! Dan mungkin saja sudah punya Pacar! Iya kan?" Taufan mengedipkan sebelah matanya pada Air.
Sekarang Api mulai berkeringat dingin. Kenapa Api merasa kalau Taufan tau soal hubungan gelapnya dengan Air ya? Mungkin cuma kebetulan. Tetap berpikir Positif. Tenang.
"...Paman!" wajah Air kembali merona. "Hati-hati di Jalan Paman!"
"Datang lagi kemari ya Paman!" kata Api melambaikan tangannya.
"Tentu, Sobat!"
"Hati-hati Taufan. Kau tak boleh pulang dengan tangan kosong. Ini." Yaya memberikan kotak berisi Biskuit coklat berbentuk hati pada Taufan.
"Waah.. Rasanya aku tak asing dengan Biskuit ini! Aha! Ini biskuit yang bisa bikin makhluk yang memakannya pingsan kan? Hahahaha!"
Yaya memukul tangan Taufan. "Itu biskuit buatanku saat masih berumur 10 tahun! Aku sudah mahir sekarang."
"Oke-Oke, Tidak perlu marah begitu! Terima kasih banyak ya, adikku sayang. Nah, Sampai Nanti, semua! Jangan terlalu Rindu padaku yaa!"
"Sampai jumpa Paman!" Api, Air dan Yaya melambaikan tangannya pada Taufan yang sudah berjalan jauh.
"Hei! Ayo sebaiknya kalian segera berangkat! Ingat, Kuenya Tidak boleh Berantakan!" pesan Yaya pada kedua anak lelakinya itu.
"Baik, kami berangkat dulu, Nona."
Yaya melambaikan tangan pada Api dan Air yang pergi menuju Rumah Tuan Fang di Hutan Barat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Api dan Air berjalan memasuki hutan yang kini pohon-pohon dan semua tanaman yang ada di sana tertutup salju putih tebal. Semuanya jadi terlihat putih sekarang. Mereka sudah cukup lama berjalan. Tapi tidak terlihat sebuah bangunan di sudut manapun. Hanya ada Pohon, Pohon, dan Pohon dimana-mana.
Tangan Api mulai pegal karena membawa dua kotak kue sepanjang perjalanan. Dan dia juga mulai bosan dengan suasana hening sejak Ia keluar dari Rumah Yaya. Tak satupun dari mereka yang bicara. Sesekali Api mengajak bicara pada Air yang dari tadi terlihat seperti sedang melamun sambil berjalan. Tapi dia hanya merespon "Hm", "Begitu, ya", dan kadang tak merespon.
"Haah.. Pegal.." kata Api mencoba memecah keheningan.
Air tak merespon apapun. Lihat?
"Heei, Air.." tanya Api dengan nada mengeluh.
"Hm?"
"Tempatnya jauh sekaliya?"
"Hm.." Lihat?
Api menghela. Padahal mereka kan sudah punya hubungan khusus, tapi kenapa rasanya Air malah semakin dingin saja? Padahal tadi malam kan.. Mereka... Umm.. Moodnya Air kan normal-normal saja.. kenapa tiba-tiba jadi turun begini?
"Memangnya siapa sih orang yang mau punya Rumah di tengah hutan begini? Kenapa tidak tinggal di kota saja?" tanya Api masih berusaha mengusir suasana hening.
"Rumah Tuan Fang besar. Lahan di kota tidak akan cukup untuk Rumahnya yang besar itu."
Akhirnya! Air bicara juga!
"Dia itu orang kaya?"
"...ya."
"Oh..."
Kembali hening beberapa saat.
"... Apa masih jauh?.."
"Kita sudah dekat."
"Ayolaah! Tanganku mulai lelah!"
"Ha.. Ha.. Ha-CHOO!"
Api langsung terkejut. Air bersin?
"..Kau baik-baik saja?"
".. Hm.. Jangan khawatir.."
Berlaga kuat begitu. Api melihat tangan Air yang memegang kotak kue bergetar.
".. Kedinginan, hm?"
"Tidak."
"Jangan berlaga kuat begitu. Berikan kotak-kotak itu padaku."
"... Jangan berlaga kuat begitu!" Air mengembalikan kata-kata Api. "Kau bilang tanganmu sudah lelah?"
"Yang penting bukan kau yang lelah. Aku tak mau tanganmu membeku. Lagipula aku berpengalaman kok membawa barang seharian di cuaca dingin sekalipun."
"Terima kasih. Itu tak perlu. Kita sudah sampai."
"Oh?"
Tak terasa, mereka sudah sampai. Ada sebuah bangunan besar disana. Mereka pun segera melangkah ke sana, dan membunyikan bel Pintu Rumah mereka.
Ting-Tong
Tak lama kemudian, seorang wanita berkacamata muncul dibalik pintu.
"Halo? Ada yang bisa kubantu?" tanyanya ramah.
"Umm... Maaf mengganggumu Nona, Apa Tuan Fang ada? Kami membawakan Pesanan Kue-nya." kata Api.
"Oh, sudah sampai rupanya. Suamiku sedang pergi keluar, jadi biar aku saja yang bayar kuenya."
"Baiklah. Ini Catatan harganya." Api memberikan selembar kertas yang di tulis Yaya tadi.
Mata Wanita itu bergerak ke kanan dan ke kiri membaca tulisan-tulisan dikertas itu. Lalu Ia mengeluarkan uang sejumlah dengan Harga Kue yang dipesan.
"Terima Kasih, Anak-anak. Sampai Jumpa." Wanita itu tersenyum pada Api dan Air, lalu kembali ke dalam rumahnya.
"Yap! Pesanan sudah diantarkan! Ayo Air! Kita pulang!"
Air hanya mengangguk, lalu mengikuti Api yang sudah berjalan duluan.
.
.
.
Api kembali dilanda bosan yang disebabkan suasana hening yang terjadi diantara dirinya dan Air. Sudah hampir setengah jalan mereka sampai ke Rumah, tapi satu-satunya makhluk yang paling banyak berkicau adalah Api. Dibalas dengan jawaban-jawaban singkat dari Air.
Tentu saja jika menggunakan cara yang sama (mengajak Air bicara) itu hanya mengusir hening untuk sementara. Karena itu, Si mantan Penjual Korek Api punya Ide untuk memecah keheningan!
Api memperlambat langkahnya, membiarkan Air berjalan mendahuluinya. Lalu, Ia mengambil salju yang ada di tanah, dan membentuknya menjadi sebuah bola.
Brusshh!
Sedang enak-enaknya berjalan, tiba-tiba Air merasakan sesuatu yang dingin menghantam ke belakang kepalanya. Air meraba kepalanya.
Bola Salju?
Air langsung menoleh kebelakang, sudah tau siapa pelaku yang melempar bola salju ke Arahnya.
Api!
Anak itu malah tenang-tenang saja berjalan sambil bersiul-siul, seolah tak tau apa-apa. Api menyembunyikan kedua tangannya dibelakang punggungnya.
"Heei!" Senyuman terlihat mengembang di wajah Air. Ia pun mengambil salju yang menutupi tanah, "Rasakan ini!" Air melempar salju ke arah Kakaknya.
Dengan cepat, Api menghindari bola salju itu.
"Oopsie~ Tidak kena!"
Brusshh!
Api melemparkan bola salju yang tadi di sembunyikan tangannya. Bola salju itu tepat mengenai wajah putih Air.
"Ha! Itu baru kenaa! Hahaha!"
"Awas kau!"
Oke, hilang sudah keheningan yang tadi. Api berhasil.
Api berlari menghindari lemparan bola salju Air sambil mentertawai adiknya saat bola saljunya meleset. Akhirnya, perjalanan mereka berlanjut sambil bermain perang bola salju.
"Hahahahaha! Payah! Kau Payah Air! Hahahaha—Whoaa!"
Brukk!
Api terjatuh sampai telungkup. Karena terlalu enak tertawa, Api tidak sadar didepan ada batu. Tentu saja Air menggunakan kesempatan ini untuk membalas Api.
"Hei, kakak!"
Api yang telungkup reflek menoleh kearah adiknya dan—
Brusshh
Kini, wajah Api berlumuran salju putih yang dingin.
"Heh! Lihat! Siapa yang sebenarnya payah!" Air tersenyum puas. Lalu, Ia mengulurkan tangannya pada Api yang masih terduduk di tanah.
"Ayo, Jagoan. Berdirilah." Air kembali menunjukkan senyuman manisnya.
Api membalas senyuman adiknya. Tapi sungguh! Senyumannya sedikit membuat perasaan tidak enak.
Api meraih tangan Air yang terbalut sarung tangan biru tua. Bukannya berdiri,
"Whoa—!"
Dia malah menarik tangan Air sekuat tenaga hingga anak itu terjatuh tepat di pelukannya.
"..Kakak..?"
Api mendekap Air dengan erat. Kini mereka bisa merasakan kehangatan satu sama lain, meskipun mereka sedang terduduk diatas tanah yang tertutup salju yang dingin, meskipun udara disana semakin dingin karena salju mulai turun dan lama kelamaan semakin lebat.
Wajah putih Air kini mulai memerah. Tapi Sungguh! Ia sangat menginginkan pelukan hangat ini. Apalagi dari kekasihnya sendiri. Dia tak akan pernah menolak. Anak itu membalas pelukan Api, yang kini membuat dekapan mereka semakin erat.
Api memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang ia dapat dari pelukan Adik sekaligus kekasihnya.
"... Aku menyayangimu... Air..." Api berbisik di telinga Air.
"... Aku juga.. Menyayangimu..."
Api melepaskan pelukannya, lalu untuk yang kedua kalinya, Ia mengecup bibir Air. Dan langsung mendapatkan balasan dari adiknya.
"A—Nnnn!.."
Air mengerang sakit saat Api menggigit bibir bawahnya, membuat mulutnya terbuka namun Api langsung memasukan lidahnya ke dalam mulut Air. Wajah Air semakin memerah padam.
Air kembali melengguh pelan saat lidah Api bertarung dengan lidahnya sendiri. Namun tak lama, Ia menyerah dan membiarkan Api menelusuri setiap sudut dari mulutnya dengan lincah.
Di Hutan ini.. Tak ada siapapun.. Selain butiran-butiran salju yang turun dari langit..
Baik Api, maupun Air, mereka merasakan kehangatan yang sama.
Api ingat kehangatan ini..
Kehangatan ini tak asing bagi dirinya..
Kehangatan yang sama seperti yang pernah Ia dapatkan..
Kehangatan yang pernah Ia dapatkan..
Dari sebatang korek api..
Saat dinginnya udara malam musim dingin menyelimuti tubuhnya..
Dia begitu bersyukur dapat merasakan kehangatan yang meskipun kecil itu..
Berkat kobaran api itu.. Kakinya yang membeku dapat merasakan kehangatan..
Berkat kobaran api itu.. Ia bisa merasa bahagia meskipun hanya untuk sesaat..
Berkat kobaran Api itu.. Orang yang sudah membuat Ia menderita pun musnah.. Tak akan mengganggu hidupnya lagi..
Api jadi teringat pada Ayahnya.
Dengan tangannya sendiri, Ia membinasakannya.
Seberapa jahat dia, seberapa kejam ia..
Harusnya Ia tak melakukan ini padanya..
Kini Api sadar Jiwanya sudah di penuhi dosa..
Di tambah dengan cintanya pada Air..
Meskipun sekarang yang selalu membawakan kebahagiaan padanya adalah Air.. Itu hanya akan membuat dirinya semakin dipenuhi dosa..
Perasaan ini...
"..Nnnhh.. Ka—nn..."
Air mulai kehabisan nafas.
Api pun langsung mengeluarkan lidahnya dari mulut Air. Terlihat seutas saliva menghubungkan mulut mereka saat membuka jarak.
Air langsung mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Wajah Air yang memerah terlihat manis di mata Api.
Api mengangkat wajah Air, membuat tatapan mereka saling bertemu. Sedangkan Air masih berusaha mengatur nafasnya.
Si penjual korek api tersenyum pada Air, dan senyuman tipis pun terlukis diwajah anak itu untuk membalas senyumnya.
Namun karena kebahagiaan yang Ia rasakan sekarang, Ia tak menyadari besarnya Dosa yang Ia tanggung.
"... Ayo pulang.."
Air mengangguk, dan mereka berdua pun berdiri.
"... Kita harus lanjutkan ini..." senyuman Api pun berubah menjadi seringaian.
"... Ap—Kau sudah gila?!"
"Yap. Karena dirimu!"
"Wha—"
"Wlee!" Api menjulurkan lidahnya pada Air, lalu segera berlari menjauh darinya.
"Kak Api! Tunggu!"
Air pun berlari menyusulnya.
.
.
.
.
.
.
それは許されぬ大罪!
Sore wa yurusarenu daizai!
Semua itu Kesalahan yang tak bisa di maafkan!
それは許されぬ大罪!
Sore wa yurusarenu daizai!
Semua itu Kesalahan yang tak bisa di maafkan!
.
.
.
.
.
.
.
Mereka sudah sampai dirumah. Lebih tepatnya, Mereka tinggal beberapa langkah lagi sampai di Rumah. Mereka berdua bersembunyi di balik bangunan yang tak jauh dari rumah mereka.
Kenapa mereka bersembunyi?
Kenapa mereka tidak langsung masuk ke rumah?
Jawabannya hanya Satu.
Ada 5 orang Prajurit Kerajaan berkumpul disana. Bersama dengan Yaya yang sepertinya sedang berurusan dengan mereka.
"Apa ya—Ummp!" ucapan Air terpotong karena mulutnya dibekap tangan Api.
"Shh!"
Anak-anak itu memperhatikan Yaya dengan seksama.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Yaya pada salah seorang dari mereka.
"Ada. Apa kau kenal dengan Anak ini?" kata Prajurit itu menunjukkan selembar kertas poster Pencarian Buronan.
Rambut hitam itu!
Jubah yang Ia pakai!
Keranjang yang Ia bawa berisi korek api!
Anak Ini kan!..
Api!
Kenapa Fotonya dipampang disini?!
Kenapa Ia jadi Buronan?!
Iris coklat Yaya membulat melihat Poster itu.
"Ya.. Aku kenal."
"Kami sedang mencari Anak ini, Nona. Dan Kami mendapat informasi dari warga setempat bahwa kau membawa anak itu kemari. Serahkan anak itu."
"Dia tidak ada di sini. Maaf, Tuan."
"Jangan sembunyikan Dia dari kami! Dia harus ditangkap, dan membayar semua kesalahan yang Ia lakukan!"
"Apa maksud Anda?! Dia masih anak-anak! Memangnya Salah apa dia?!"
"Anak itu sudah membakar 5 bangunan di daerah Timur Kota, dan Sudah membunuh keluarganya sendiri! Ada bukti yang kuat untuk mempertanggung jawabkannya!"
Setetes keringat menuruni pelipis Yaya yang tertutupi kerudung merah muda.
"Anak itu tidak sengaja! Lagipula Keluarganya sendiri membuangnya! Dia tidak Bersalah!"
"Kau punya pembelaan? Sebaiknya kau simpan di Pengadilan nanti. Sekarang, serahkan anak itu!"
"Sudah kubilang Dia tak ada di sini!"
"Kami sedang meminta baik-baik Nona, jadi jangan membuat kami memaksamu!"
"Aku tidak main-main! Dia tak ada disini!"
"Satu kali lagi kau menahan kami, Kau juga akan di tangkap karena kau sudah melindungi penjahat!"
Api terbelalak melihat kejadian itu. Ia langsung melangkah kearah Yaya, namun tangannya di tahan Air.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan?! Mereka akan menangkapmu! Kau harus lari!"
"Tidak! Kalau aku tidak kesana, mereka akan menangkap Ibumu!"
"Tapi! Aku juga tak mau kau ditangkap! Kau tak sepenuhnya bersalah!" tiba-tiba mata biru Air berkaca-kaca.
"Aku tau! Karena itu aku harus kesana! Sebelum mereka menangkap Nona Yaya!"
"Tidak! Kakak!"
Api melepaskan genggaman Air, dan langsung berlari menghampiri para prajurit itu.
"Ini peringatan terakhir! Kalau kau masih menghalangi kami! Kau akan ditangkap!"
"Tunggu!"
Sring!
Seketika Tombak-tombak besi milik Prajurit condong ke arah Api, membuat langkahnya langsung terhenti.
"Api!"
"Aku terkesan. Ku anggap itu sebagai penyerahan diri. Tangkap dia." Prajurit itu memerintah yang lainnya.
"U—uhh.. Tunggu!.."
Para Prajurit itu langsung memborgol kedua pergelangan tangan Api. Keringat dingin mulai membasahi wajah Api.
"Tunggu! Dia tidak bersalah!" Yaya masih membela Api.
"Kalau begitu, Ikutlah dengan kami ke Pengadilan. Keluarkan semua pembelaanmu, jika pembelaanmu kuat, Dia akan bebas." kata Prajurit itu, mengikuti teman-temannya yang membawa Api.
"Ibu!"
"Air!"
"Biarkan aku ikut!"
.
.
.
.
.
.
.
"Api. Dari Kota Timur Pulau Rintis. Apa kau tau apa kesalahanmu, Anak Muda?" tanya seorang Hakim berkulit gelap.
"Ya, Tuan." Api terduduk di kursi ditengah-tengah pengadilan, tangannya masih terkunci borgol besi, tertunduk menjawab pertanyaan sang Hakim.
"Angkat kepalamu, dan Katakan."
"Aku.. Membakar Rumahku sendiri.. Menyebabkan 5 bangunan yang di dekat rumahku ikut terbakar.. dan juga menewaskan Ayahku sendiri.."
"Itu kesalahan besar. Dan Aku yakin kau tau bahwa setiap orang yang bersalah, harus menerima akibatnya. Kau akan dikenakan Hukuman berat. Tapi sebelum itu.. Aku ingin Tau Apa alasanmu melakukan kesalahan itu?"
"..."
Api terdiam. Seolah semua kejadian-kejadian yang telah lampau, yang begitu penuh dengan penderitaan, teringat kembali. Bahkan Penderitaannya kembali sekarang.
Padahal Ia sudah bisa merasakan kebahagiaan yang paling Ia inginkan!
Tapi kenapa Ia harus kembali menderita setelah bahagia?
Saat-saat bersama dengan keluarga baru.. Dengan kehidupan baru..
Kenapa Ia harus terjerat oleh masa lalu?!
Kebahagiaan itu hanya khayalan? Dan Cepat atau lambat kau akan kembali ke kenyataan yang penuh penderitaan?
Api hanya ingin lepas dari penderitaan!
Kenapa Ia harus menanggung Dosa jika ingin merasa Bahagia?!
Kenapa Takdir selalu menolak Api untuk merasa bahagia?!
"Aku tau kau mendengarku, Anak Muda. Jawablah." kata Hakim itu, bicaranya mulai tegas.
"Aku..." Api mengangkat kepalanya, menatap langsung Hakim yang berhadapan dengannya.
"... Yang ingin aku lakukan.. Hanyalah menghilangkan penderitaanku... Tuan..."
"Dengan membunuh Ayahmu sendiri?"
"Tidak. Melainkan dengan menghangatkan diriku dengan sebatang korek api. Aku kira Anda sudah tau kalau orang yang tewas terbakar itu sudah menyiksaku dengan menyuruhku berdiri seharian di jalanan, sambil berjualan korek api. Aku sudah tak tahan dengan udara dingin di luar, tuan. Karena itulah aku meminta baik-baik pada orang itu untuk menginap di rumahnya. Tapi nyatanya, dia tidak mengizinkanku."
"Hmm.. Jadi Kau menilai bahwa Ayahmu sendiri yang membuatmu berkehendak untuk membunuhnya?"
"Dia bukan Ayahku!" semua perhatian orang-orang di pengadilan termasuk Yaya dan Air tertuju pada Api. "Apa seorang Ayah... Akan Tega mengusir Darah dagingnya sendiri... Membiarkannya membeku sambil menjual korek api.. Bahkan jika aku mati kedinginan pun dia tak akan peduli!... Apa itu sosok yang pantas aku panggil Ayah?!..."
"Seorang Ayah adalah pemilik darah yang sedang mengalir di dalam raga seseorang. Sekarang aku tanya padamu. Apa Darah yang mengalir di dalam dirimu itu adalah milik Korban yang tewas terbakar itu?"
"Kh..!"
"Itu artinya dia Ayahmu! Tanpa pengecualian lagi! Sekarang aku akan bertanya. Apa seorang Anak pantas membunuh Ayahnya sendiri?! Kalau jawabanmu Tidak, berarti kunyatakan kau bersalah!" sang Hakim hampir membenturkan palunya, namun tertahan oleh Api.
"Dia tidak bermaksud membunuhnya! Dia hanya ingin menghangatkan dirinya sendiri saat Ayahnya tidak mengizinkan dia pulang! Dia tidak sadar sudah membakar rumahnya sendiri!" Air angkat bicara langsung meninggikan nada bicaranya.
"Baiklah Anak Muda, kuakui kau cukup berani membela orang yang sudah dipastikan bersalah, dan kuharap jawabanmu dari pertanyaanku ini bisa membuat si Penjual Korek api terbebas dari tuntutan! Apakah kau pernah mendengar kalau seorang penjahat melakukan kejahatan secara tidak sadar?"
Air terdiam seribu kata.
"Semua orang pasti punya alasan atas perbuatannya. Seorang Pencuri, akan mencuri barang milik orang lain supaya Ia mendapatkan apa yang Ia inginkan tanpa bersusah payah. Seorang pembunuh, yang menghilangkan nyawa orang lain untuk membalaskan dendamnya. Tidak ada orang melakukan perbuatannya begitu saja! Pasti ada alasannya! Dan yang sekarang terjadi pun bisa dijadikan Contoh. Seorang Penjual Korek api membakar Ayahnya sendiri karena Ayahnya membuat dirinya menderita. Dengan begitu, tidak ada penderitaan lagi."
"Tapi Anda tidak bisa langsung menyimpulkan Kalau dia bersalah seperti itu!" Yaya ikut angkat bicara.
"Tentu saja bisa. Dia juga harusnya tidak bisa langsung mengambil keputusan untuk membunuh Ayahnya sendiri meskipun Ayahnya bersalah! Dia ada bukan untuk menghukum Ayahnya yang bersalah. Dia bukan Hakim!"
Yaya pun terdiam.
"Sudah Cukup. Kalian jangan sampai membuat diri kalian bersalah karena sudah membela yang salah. Dengan ini aku nyatakan. Api, dari Kota Timur Pulau Rintis, Bersalah atas Perbuatan yang telah Ia lakukan."
Tok
Tok
Tok
Palu sudah dihantamkan ke meja. Tak ada lagi yang bisa membela. Api mulai merasa nafasnya terasa berat menghadapi kenyataan.
"Kasus Terbakarnya bangunan di Kota Timur ditutup. Algojo dipersilahkan membawa Terdakwa untuk menjalani Eksekusi."
Nafas Api semakin terasa berat. Jantungnya berdegup kencang. Dan Wajahnya kembali basah oleh keringat dingin. Tangannya yang terkunci Borgol bergetar.
Dia sangat ingin lari dari kenyataan ini, namun percuma.
Tak ada gunanya jika sekarang Ia masih menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah.
Tak ada gunanya jika Ia harus menunjukan wajah memelas di hadapan semua orang.
Kematian sudah ada di hadapan mata.
Di sisi lain di ruangan pengadilan, seorang Algojo muncul, dan melangkah ke arah Api. Algojo itu langsung menarik paksa lengan baju Api, memaksa anak itu berdiri.
"Ayo Jalan!"
Api langsung melangkahkan kakinya secepat mungkin setelah mendengar nada dingin dan garang dari Algojo itu. Pria yang bertugas menghukum terdakwa itu, membawa Api ke sebuah ruangan.
Dimana para Terdakwa mati.
.
.
.
.
.
.
.
.
BUAKK!
"AARGH!"
BUKK!
BUKK!
"URGH!.."
Api hanya bisa meringgis kesakitan saat Tongkat besi Besar milik Algojo itu menghantam tubuhnya berkali-kali. Para Prajurit yang berjaga di ruang hukuman itu hanya memandang ngeri melihat anak itu tersiksa.
Darah merah mengalir dari ujung mulut Api, dan dari kepalanya yang terluka.
Memar sudah memenuhi sekujur tubuhnya.
Matanya sudah tak bisa lagi melihat karena pandangannya kabur akibat luka di kepalanya.
Api hanya bisa terengah-engah. Tak ada gunanya berteriak minta tolong. Tak ada Gunanya berusaha melepaskan diri. Tangan dan kakinya sudah di Ikat kuat.
Air mata mengalir dari ujung mata Api, berusaha menahan sakit yang Ia rasakan.
Rasa sakit ini... Memang luar biasa.. Tapi tak seberapa dengan sakitnya penderitaan...
Api hanya ingin merasa bahagia dengan menghangatkan dirinya saat itu.
Namun kenapa setelah Ia mendapatkannya, Ia malah terjerumus ke dalam hukuman ini?
Api sudah terlepas dari penderitaan sebagai seorang Bocah Penjual Korek api dengan memiliki keluarga baru.
Tapi Ia harus terjerat karena kesalahan di masa lalu.
Dia tidak salah! Sungguh dia tidak salah!
Tapi kenapa orang lain menyatakan dirinya salah?!
Hanya ingin merasa bahagia.
Apa salah jika Ia menginginkan kebahagiaan?!
Apa takdir benar-benar melarang Api untuk merasa bahagia?
"Kau pikir kau bisa terlepas dari penderitaan di dunia ini?"
Api menoleh ke arah Algojo itu yang tiba-tiba bicara padanya. Ia bisa melihat dinginnya tatapan dari irisnya yang berwarna merah ada di balik lubang topeng hitamnya.
"Kau pikir kau akan merasa cukup jika merasa bahagia di dunia ini? Jangan bergurau. Kuharap ini bisa menjadi pelajaran yang tak akan pernah kau lupakan."
Api masih terengah-engah mengatur nafasnya. Menahan sakit dari luka di tubuhnya.
"Dunia ini. Hanyalah Ilusi. Kau tidak akan tau penderitaan apa yang paling pedih atau kebahagiaan apa yang paling manis. Kau tidak akan menemukannya di dunia ini. Tidak di dunia ini. Tapi di Dunia yang akan kau kunjungi setelah ini! Jadi jika kau menderita di dunia, maka kau akan merasakan kebahagiaan yang paling manis. Tapi jika kau memaksa untuk merasa bahagia di dunia ini, bersiaplah untuk menerima penderitaan yang paling pedih yang pernah ada!"
BUKKKK!
"UAAKKHH!"
Algojo itu memukul Api sekuat tenaga. Membuat darah kembali mengalir dari ujung mulutnya. Si Penjual korek api kembali terengah-engah.
Dadanya sudah sakit karena lebam akibat pukulan si Algojo.
Brakk!
"Api!"
Tiba-tiba Yaya dan Air datang menerobos Ruang Hukuman.
"Ingin menyampaikan pesan-pesan terakhir, huh? Waktumu hanya 3 menit." kata Algojo itu.
"Api!"
Yaya dan Air menghampiri bocah penjual korek api yang sudah tak berdaya itu. Baik Yaya maupun Air, mereka sudah tak sanggup menahan air matanya begitu melihat tubuh Api berlumuran darah.
"Api!... Ya Tuhan..! Ini salahku..! Maafkan aku...!" Yaya meletakan kedua tangannya di pipi dingin Api, mengusap darah merah yang mengering di wajahnya.
"...Tidak... Tidak Nona... Ini bukan... Salahmu... Aku... Mohon... Berhentilah menangis... T-Terima... kasih... Kau... sudah... menyelamat..kan...ku... waktu itu..." suara Api mulai terdengar parau. Api lalu mengarahkan pandangannya ke Air. Ia mendapati mata biru mudanya berbinar-binar dipenuhi air mata. Senyuman tipis pun mengembang di wajahnya.
"...Hei.. Kenapa kau menangis...? Kau... Laki..Laki... Iya kan?..."
"...Kau..." Air mata menuruni kedua pipi Air.
Anak itu tak percaya jika hari ini adalah hari terakhir kalinya Ia melihat Api.
Seandainya tangannya tidak diikat, Api ingin sekali mengusap air mata kekasihnya itu. Membelai pipinya, dan melakukan apapun yang bisa membuat air matanya berhenti.
"...Hehehe... Jangan menangis... Nanti... aku.. tak bisa... melihat.. Wajah... Manismu... Lagi.."
Air langsung memeluk tubuh berdarah Api. Ia bisa merasakan tubuh Api mulai terasa dingin.
"...Aku... akan selalu... mencintaimu... Air..."
"...Aku tak mau kau pergi!..."
"...Maaf.. Aku... Akan selalu merindukanmu... S.. Selamanya... Aku tak akan... pernah m... melupakanmu...!.. Aku... Senang... bisa bertemu denganmu... Air..."
"Waktu kalian sudah habis. Kalian boleh pergi." kata Algojo itu.
Air melepaskan pelukkannya, menatap kearah Api untuk terakhir kalinya. Api hanya tersenyum padanya. Dua Orang Prajurit lalu mengantarkan mereka pergi.
Dan itulah... Saat terakhir kalinya Api melihat Yaya dan Air.
.
.
.
.
.
Salju seolah tak bosan turun dengan lebatnya dari langit. Mereka menjadi saksi dimana seorang bocah yang kini tubuh penuh lukanya terikat di sebuah tiang yang tinggi.
Kayu bakar menumpuk di tanah tepat didasar tiang yang mengikat tubuh anak itu. Ratusan Orang berkumpul ingin menyaksikan bagaimana hidup anak itu berakhir.
Anak itu menatap langit.
Terlihat begitu Indah saat butiran-butiran salju perlahan turun dari langit.
Senyuman tipis mengembang di wajah anak itu.
Kenyataan ini memang kejam.
Tapi Apa yang dikatakan Algojo tadi itu benar.
Pedihnya kenyataan di dunia ini tak ada apa-apanya.
Dibandingkan dengan yang ada di dunia sana.
Algojo itu membawa sebuah obor dengan api yang berkobar diujungnya. Lalu diletakkannya obor itu di tumpukkan kayu bakar.
Perlahan kobaran api itu mulai membesar, membakar semua permukaan kayu-kayu itu.
Anak itu disini karena semua perbuatannya.
Membunuh Ayahnya sendiri.
Dan Mencintai seseorang yang seharusnya tidak dicintai, menciptakan Dosa yang sangat besar.
Jiwanya sudah dipenuhi Dosa.
Dirinya pantas mendapatkan semua ini.
Karena itulah..
Dia membiarkan kobaran Api menghanguskan tubuhnya.
Membiarkan jiwanya merasakan panasnya kobaran api itu.
Membiarkan kobaran api itu perlahan menghanguskan jiwanya yang penuh dosa.
Kobaran Api membawakan kebahagiaan pada anak itu.
Itu benar.
Karena sekarang, Anak itu sudah tak perlu merasakan pahitnya penderitaan dunia ini lagi.
Dan..
Merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya di Dunia sana..
Selamanya...
.
.
.
.
.
.
それは許されぬ大罪
Sore wa yurusarenu daizai
Semua itu Kesalahan yang tak bisa di maafkan
縛りつけられた身体
Shibari tsukerareta karada
Pada Akhirnya Tubuhku di Ikat
処刑人が私の足元に
Shokei nin ga watashi no ashimoto ni
Kulihat, dibawah kakiku saat di eksekusi
火を灯した
Hi wo tomoshita
Mereka menyalakan Api yang Berkobar
.
.
.
ひとかけらほどのパンが食べたかっただけ
Hitokakera hodo no PAN ga tabetakatta dake
Aku hanya Ingin bahagia dengan memakan sepotong Roti
それさえも許されなかった
Sore sae mo yurusarenakatta
Namun seakan hal itu tak bisa dimaafkan
黄燐が生み出す炎
Ourin ga umidasu honoo
Fosfor kuning menyalakan Api berkobar
焼き尽くす この身と心を
Yakitsukusu kono mi to kokoro wo
Membakar dan menghanguskan Jiwa dan Raga ini
.
.
.
.
.
.
Setelah menyaksikan akhir hidup Bocah Penjual Korek api, Salju-salju putih yang turun dari langit, menyaksikan seorang anak. Yang sedang berdiri di depan sebuah makam. Perlahan air matanya jatuh. Menggambarkan kepedihan yang Ia rasakan saat ini.
"... Aku juga... Akan selalu... Mencintaimu...
...Api..."
.
.
.
.
.
.
.
.
-THE END-
Akhirnya,
Cerita The Little Match Boy, dari Leila Scarlet Vanilla, Selesai di Chapter 5.
Terima kasih kuucapkan kepada para Readers yang sudah membaca cerita ini sampai selesai.
Semoga kalian tidak bosan membaca cerita dari Author.
Atas segala kekurangannya, Author pribadi mohon maaf.
Terima Kasih sudah membaca.
-Review Please! ;3 -
