Auth lagi super santai hari ini karena anak gue lagi jalan-jalan sama neneknya.. *LoL* - begitulah, sambil jaga rumah, gue lanjut aja nih FF..
Enjoy-sorry for typos :-) . Stay cool and love me as always. *ditampol*
Untuk sementara menunggu hasil rujukan ke ruang spesialis yang ditentukan, Sasuke diberikan pertolongan pertama di Unit Gawat Darurat. Nafasnya yang cepat, mata yang cekung dan pucat, menandakan Sasuke mengalami dehidrasi sedang. Dokter memberikan infuse cairan secukupya sambik mengobservasi gejala yang timbul dalam diri Sasuke.
"Kemungkinan besar adik anda terkena Appendicitis, semacam peradangan di usus buntu. Saya akan mencoba merujuk adik anda ke bagian Ginekologi untuk dilakukan Ultrasonografi empat dimensi untuk memastikan diagnosa saya.." Kata dokter menjelaskan pada Itachi.
Itachi yang sudah pucat karena rasa khawatirnya, hanya bisa mengangguk.
"Apa berbahaya? Harus dilakukan tindakan secepatnya kah?" Tanya Itachi penuh rasa khawatir.
Dokter hanya tersenyum.
"Segala penyakit akan berbahaya jika tidak segera ditanggulangi, karena itu saya ingin langsung dapat kepastian diagnosa lewat hasil Ultrasonografi dari dokter ahli kandungan disana.."
Itachi melebarkan matanya bingung. Sasuke juga langsung menengok ke arah sang dokter saat mendengar kata-kata ahli kandungan, sementara Kisame hanya menahan tawanya.
"Kenapa dokter ahli kandungan? Aku tak mau dibawa ke ruangan yang penuh dengan ibu hamil seperti itu!" Seru Sasuke tiba-tiba.
Kali ini Itachi tidak menginterupsi Sasuke karena dia sendiri bingung, apa hubungannya usus buntu dengan ahli kandungan? Setahu mereka pun, Ultrasonografi pada umumnya digunakan untuk memastikan perkembangan dan pertumbuhan kehamilan pada wanita. Tak heran Sasuke merasa malu jika harus berurusan dengan dokter yang sembilan puluh persen menangani masalah wanita.
"Kita tidak berurusan dengan dokter ahli kandungan, Dik – hanya meminta tolong padanya untuk melakukan pemotretan di bagian dalam perutmu, dan kalau memang diagnosa dari hasil USG tersebut adalah positif radang usus buntu, maka tindakan selanjutnya adalah merujuk ke dokter bagian penyakit dalam untuk dilakukan operasi.." Sang dokter pun sebenarnya menahan tawanya mati-matian melihat kebingungan kakak beradik ini.
Sasuke hanya memutar bola matanya, menyerah dan terpojok berharapn sesi menyebalkan ini segera berakhir. Ia lebih memilih berurusan dengan dokter jiwa sekalian daripada harus ke ruang ahli kandungan. Sudah terbayang olehnya ibu-ibu hamil akan memandang aneh ke arahnya walaupun ia sama sekali tak ada hubungannya dengan kehamilan di ruangan itu.
Belum hilang rasa kesalnya, Itachi sudah ada disampingnya lagi dan menggenggam tangannya, dengan mata yang penuh kekhawatiran seolah bertanya apa kau baik-baik saja? Jelas tidak. Apa yang kau rasakan, Sasuke? Tentu saja sakit. Kira-kira seperti itu. Sasuke memejamkan matanya tak ingin melihat ekspresi Itachi yang seperti itu.
"Sasuke, aku lebih berharap kau hamil dibandingkan terkena radang usus buntu.." Gumam Itachi dengan mata yang berkaca-kaca.
Kisame tak bisa menahan tawanya lagi, ia tertawa terbahak-bahak hingga mengundang perhatian sekitarnya mendengar pernyataan konyol Itachi yang dilakukan dengan wajah lempeng tanpa dosa. Ia sendiri tak bisa membayangkan bagaimana muaknya Sasuke mendengar kata-kata gila kakaknya. Seorang yang serius dan kalem seperti Itachi memang akan mengundang gelak tawa jika spontanitas kekonyolannya muncul. Yang mungkin Itachi sendiri tak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu konyol.
"Kubunuh kau, Itachi!" Jawab Sasuke dengan death glare andalannya.
Itachi tak peduli, ia memang lebih mengharapkan Sasuke hamil – jika mungkin. Kata-kata dokter ahli kandungan yang tadi disebutkan dokter UGD berputar di kepalanya. Membayangkan sang dokter mengucapkan selamat padanya sambil memberikan kertas yang berisi gambar janin atau bayi didalam perut Sasuke. Itu pasti akan menyenangkan. Sepertinya Itachi lupa kalau adiknya laki-laki. Yang sembilan puluh sembilan koma sembilan persen itu TIDAK MUNGKIN hamil. Tapi, Itachi masih mengharapkan nol koma sekian nol satu sekalipun menjadi keajaiban untuk membuat kemungkinan Sasuke hamil.
Dan si sulung itu tersadar dari khayalannya setelah Sasuke menjitak kepalanya hingga Itachi meringis kesakitan. Sasuke tahu benar apa yang ada di kepala Itachi, terlihat jelas olehnya dari wajah Itachi yang sedikit berbinar aneh. Sasuke mengutuk dokter UGD yang telah menyebut kata-kata dokter kandungan pada mereka dan disempurnakan dengan mereka membutuhkan kepastian diagnosa dari dokter tersebut.
"Jangan berpikir macam-macam, Kuso Aniki!" Sungut Sasuke kesal.
Tak lama setelah itu, Sasuke pun dipindahkan ke blankar untuk dibawa ke ruang Ginekologi, dan seperti dugaannya, berpuluh pasang mata memandang aneh ke arahnya. Ditambah dengan Itachi yang erat memegang tangannya sambil terus memandang Sasuke namun logikanya semakin pergi ke khayalan tingkat tingginya, belum lagi Kisame yang tak bisa berhenti tertawa. Sasuke bersumpah akan bunuh diri setelah sampai dirumah. Ini memalukan. Seandainya, ia tidak di infuse, ia akan melempar kakaknya dan teman birunya ini ke jurang karena telah mempermalukannya seperti ini.
Bersyukur, proses Ultrasonografi tidak membutuhkan waktu lama dank arena teknologi canggih itu, tanpa hitungan jam, hasil sudah bisa mereka dapatkan.
"Adik anda – Uchiha Sasuke, err …. " Dokter wanita itu sepertinya kesusahan menyusun kalimat.
Itachi sudah kembali ke realitanya sejak Sasuke di periksa secara palpasi oleh sang dokter sebelum dilakukan USG tadi, khayalan tingkat tingginya tertunda dengan khawatir yang kembali menderanya. Kisame juga jadi ikut-ikutan penasaran.
"Emm.. Begini, kasus ini memang sangat langka, tapi ada, walaupun perbandingannya satu berbanding satu milyar. Err.. dalam dunia medis ada istilah Persistent Mullerian Duct Syndrome, dimana seorang laki-laki dengan organ kelamin dan bentuk tubuh normal seperti laki-laki, namun organ reproduksinya terdapat organ reproduksi perempuan.."
Jeda sebentar, dokter memandang kedua lelaki tinggi itu dan mukanya mulai merona. Lalu ia berdehem dan menyodorkan foto USG empat dimensi tersebut pada Itachi. Kisame hanya memiringkan kepalanya bingung, dan Itachi memperhatikan foto itu. Disitu terlihat ada leher rahim, kantong rahim, tuba faloppi lengkap dengan umbrae dan lain sebagainya – persis seperti organ reproduksi perempuan.
"Lalu?"
"Begitulah, jadi – gejala yang timbul pada adik anda seperti mual-mual hingga mengalami dehidrasi, pusing, sakit dibagian perut bawah dan kondisi emosionalnya agak tidak stabil, bukan dikarenakan ia mengalami peradangan usus, tapi - mmm…."
Ketiganya terdiam, hingga….
"Jangan katakan bahwa aku hamil, atau kubunuh.." Sela Sasuke tiba-tiba. Dia sejak tadi menyimak pembicaraan mereka ternyata. Dia turun dari tempat tidur dengan memegang botol cairan infuse di tangannya.
Itachi dan Kisame tersentak dan dokter wanita itu hanya bisa menarik nafas panjang sambil mengurut keningnya.
"Kau hamil. Tak perlu dilakukan pemeriksaan urine lagi karena disitu sudah terlihat adanya gumpalan daging yang menempel di kantong rahim sebelah kanan.." Lanjut dokter tersebut.
Itachi dan Kisame melongo, mulut dan mata mereka terbuka lebar, sementara Sasuke memandang dokter tersebut dengan tajam. Oke, ini tidak lucu. Katakan bahwa ini mimpi.
"Sebenarnya, sekalipun ada lelaki yang memiliki syndrome ini, bukan berarti mereka akan hamil dan mudah untuk dibuahi, aku sendiri bingung dengan kejadian kehamilan ini. Aku hanya mencurigai mulut rahim adik anda ini ada di bagian dalam rektumnya, jadi saat ia melakukan hubungan seksual secara anal dan mengalami orgasme, saluran kemihnya tertutup saat menyemprotkan sperma dan karena kontraksi tersebut, akhirnya mengakibatkan terbukanya ruang yang dimana terdapat mulut rahim itu berada didalam rectum, maka sperma sang dominan langsung meluncur kesana.."
Keringat dingin mengalir dari kening Itachi dan dengan gemetar ia menengok ke arah Sasuke, dan yang dilihatnya hanyalah Sasuke dengan wajah memerah padam, entah menahan marah atau tangis. Kisame cepat tanggap dan langsung mendekati Sasuke, benar saja tak lama kemudian Sasuke roboh, kali ini ia benar-benar pingsan.
Itachi pun melompat dari kursinya dan merebut Sasuke dari sanggahan Kisame, lalu menidurkannya kembali ke tempat tidur. Sang dokter ikut beranjak dari kursinya dan melakukan pemeriksaann tekanan darah ulang, bagaimanapun kondisi Sasuke memang tidak baik, kolaps bisa kapanpun terjadi.
"Pada usia kehamilan muda, yaitu trimester pertama, jumlah Haemoglobin memang menurun tapi itu normal selama tidak ada gejala-gejala yang membahayakan, tapi untuk kasus Uchiha-kun ini sepertinya agak sedikit butuh perhatian lebih.. Dia shock, psikologisnya sangat tidak stabil, jika dibiarkan dan tidak diberikan konsentrasi, takutnya akan menyusul gejala-gejala lain yang timbul.. usahakan tidak sampai terjadi hiperemesis, atau 'mabok' yang berlebihan.."
Sang dokter terpaksa menjelaskan semua informasi pada Itachi sambil berdiri disamping Sasuke yang pingsan karena Itachi sama sekali tak ingin beranjak dari sisi adiknya. Setidaknya, Itachi sudah mengerti dan dia akan menyusun konsep untuk 'pembinaan khusus pada adiknya'.
"Tak masalah jika Uchiha-kun ingin menyelesaikan ujiannya, diperkirakan musim ujian sekitar tiga bulan lagi, jadi tak masalah selama kondisi fisiknya memungkinkan, intinya tidak boleh stress, untuk penyuluhan trimester dua dan tiga, akan saya berikan setelah menginjak usia itu.." Tutupnya.
.
.
.
Entah bagaimana cerita yang berlanjut setelah itu, bagaimana mereka bisa sampai dirumah, rasanya pikiran mereka kosong, dan mengalami amnesia sesaat akibat berita 'bahagia' yang baru saja diumumkan oleh sang dokter. Intinya, kini Itachi dan Sasuke duduk terdiam di sofa. Sebungkus permen digenggam oleh Sasuke menghindari mual dan muntah yang mungkin saja terjadi.
"Itachi, aku pasti akan membunuhmu.." Ancam Sasuke geram.
Itachi merinding, ternyata Sasuke menyeramkan. Ia ingin pergi ke atas gunung dimana tinggal para siluman untuk meminta pada mereka agar mengembalikan sosok manis adik tercintanya. Sungguh, Sasuke yang seperti ini membuat Itachi bergidik ngeri. Ditambah kini emosi Sasuke memang sedang tidak stabil.
Tapi, ia tak memungkiri bahwa ia bahagia, ia akan jadi ayah! AYAH! – walaupun dengan cara yang tidak normal. Itachi kembali berkhayal, suatu saat setelah Sasuke melahirkan, ditangannya akan terbaring malaikat mungil tanpa dosa, yang menangis atau tertawa dengan manisnya. Oh, Itachi tidak sabar. Ia benar-benar melupakan bahwa ia masih harus berurusan dengan ibu dan ayahnya. Bahkan ujian Sasuke. Ia tak begitu memikirkan Mikoto karena Itachi tahu ibunya bukan wanita sangar dan ketat seperti ayahnya. Kesampingkan untuk Mikoto. Yang harus dilakukan Itachi saat ini adalah menyusun jiwa Sasuke yang terpecah belah akibat kejadian membahagiakan—traumatis baginya ini.
"Sasuke, Aku – "
"Kubunuh!"
"Dengarkan aku dulu.."
"Kau membuatku jadi seperti ini.."
"Sasuke.."
"Aku benci padamu, Kuso Aniki!"
Kisame menarik nafas panjang dan memberikan isyarat pada Itachi agar tak meneruskan pembicaraan buntu mereka, karena percuma. Sasuke sedang dikuasai emosi dan berada dalam tingkat stress yang tinggi, setidaknya jangan terjadi sebuah perdebatan karena takut memicu masalah yang lebih besar. Dan Itachi hanya bisa mengalah sambil memandang Sasuke dengan tatapan memelas.
Itachi ingin memeluk makhluk manis itu, tapi ia yakin pasti Sasuke akan menghajarnya. Demi Kami-sama, Itachi rela mengorbankan nyawanya demi agar adiknya kembali menjadi adiknya yang manis seperti dulu. Tunggu! Tidak! Ralat! Itachi tak mau mengorbankan nyawanya atau ia tak kan bisa melihat bayi mungil lahir dari perut adiknya dan menggendong kehidupan baru dari Kami-sama tersebut. Terlebih, Itachi ingin dipanggil 'Ayah'. Ia ingin jadi ayah.
.
.
.
TBC
Thanks for reading.
Please leave your review.
