Ngetik ngebut daripada kambuh malesnya.. *LoL* - stay calm n love ItaSasu as always.

.

.

.

Makan malam tiba, ponsel Sasuke berdering. Pesan teks dari Mikoto.

'Sasuke, kau sudah dirumah? Bagaimana dengan kakakmu? Kalian sudah makan malam? Ibu masih di bandara karena pesawat yang akan ditumpangi ayah akan delay hingga dua jam kedepan. Kalian makan malam diluar ya, uang ada di laci kamar ibu'

Itachi menghampiri Sasuke dengan membawa semangkuk sup hangat. Mendadak Sasuke pusing dan kembali merasa mual.

"Aku membuatkannya untukmu, kau harus makan.."

Sasuke menggeleng cepat sambil menutup mulutnya, seraya memberikan ponselnya pada Itachi agar kakaknya juga membaca pesan dari ibunya, Sasuke berlari ke kamar mandi. Itachi melihat singkat pesan teks tersebut dan tak menghiraukannya. Setelah menaruh mangkuk diatas meja, Itachi menyusul adik kesayangannya yang sedang muntah tak terkendali.

"Tarik nafas panjang, Sasuke.." Itachi berusaha menenangkan adiknya dengan mengusap punggung Sasuke.

Sasuke hanya menyikut kasar Itachi yang ada di belakangnya. Entah mengapa, Sasuke merasa begitu membenci kakaknya. Ia merasa kakaknya lah penyebab semua ini. Bahkan ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya bila Mikoto, Fugaku, Naruto, Sakura dan lainnya bila mengetahui hal memalukan ini.

"Jangan sentuh!"

Hati Itachi mencelos menerima penolakan Sasuke, seumur hidup baru kali ini Sasuke menolaknya—dengan serius. Namun, ia berusaha keras untuk mengerti keadaan Sasuke. Berbagai teori psikologi humanistik milik Carl Jung yang sudah dipelajarinya, di replay dalam memori Itachi demi mengerti bagaimana rasanya bila yang dirasakan Sasuke terjadi pada dirinya sendiri.

Begitupun Sasuke menolaknya, tapi Itachi tetap pada rasa sayangnya, hingga berkali-kali Sasuke menepis tangannya, ia tetap mengulurkan tangannya untuk sang adik. Mendengar adiknya muntah sedemikian banyaknya, rasa khawatir hampir membuatnya putus asa. Dia berfikir apa Sasuke dirawat intensif saja di rumah sakit.

Lima belas menit berlalu dan akhirnya rasa mual Sasuke mulai berkurang, ia membasuh mukanya agar lebih segar dan menghilangkan aroma tak sedap akibat asam lambung yang berlebihan dari mulutnya. Tak lupa ia berkumur dengan mouthwash untuk mengurangi sugesti mual.

Tak mempedulikan Itachi yang dengan setia berada disisinya, Sasuke meleos keluar kamar mandi. Tentu saja Itachi tetap mengikutinya.

"Aku tak mau makan, kau saja yang makan atau dibuang!"

Itachi menahan tangan Sasuke dan menariknya kembali ke meja makan. Kali ini Itachi serius. Sejak pulang dari rumah sakit tadi, adiknya belum makan apapun kecuali permen, sementara aksi muntahnya masih rutin dilakukan. Kalau begini terus, Sasuke akan mengalami dehidrasi berat. Begitu yang dikatakan dokter.

"Aku sudah membuatkannya untukmu, rasanya ku buat enak dan banyak tomat yang ku masukkan di sup itu, Otouto.." Jawab Itachi mencoba menyusun intonasi nada bicaranya agar tetap lembut.

"Kau lupa baru saja aku muntah karena mencium aroma masakan, hm?" Balas Sasuke tak mau kalah.

Berusaha tersenyum, Itachi membelai kepala dan pipi Sasuke dengan sayang.

"Dokter tadi memberikan obat untuk mualmu, minum obat itu dulu baru makan ya?" Bujuk Itachi lagi.

Sasuke menepis tangan Itachi dan memalingkan mukanya.

"Aku tak suka obat dan tak mau makan. Mulutku terasa pahit dan aku mual.."

Itachi kehilangan kesabarannya dan memukul meja walaupun tidak terlalu keras.

"MAKAN!" Sentaknya.

Sasuke semakin kesal karena dibentak Itachi. Mengapa Itachi tak merasakan apa yang dia rasakan? Ia tak mau mengulangi sesi muntah yang menyebalkan itu, jangankan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, mencium aromanya saja Sasuke sudah berkunang-kunang. Ia menatap tajam Itachi.

"Kau pikir, siapa yang membuatku jadi seperti ini?" Sasuke balik bertanya dengan sinis.

Hati dan pikiran Itachi benar-benar berantakan menghadapi Sasuke yang seperti ini. Adiknya sama sekali tak mengerti kekhawatirannya, ia sadar bahwa dirinya hamil tapi mengapa tak mau mencoba untuk mengerti tentang keadaan dirinya sendiri. Sasuke terlalu keras kepala. Tak sanggup berdebat dengan Sasuke lagi, Itachi pun menarik Sasuke menjauh dari meja makan.

"Kalau begitu, kita ke rumah sakit lagi, aku lebih tenang kau di infuse disana.." Jawab Itachi.

Jelas Sasuke berontak dari cengekeraman tangan Itachi, tangan satunya berpegang pada wastafel yang terdapat tak jauh dari meja makan, menahan badannya dari tarikan Itachi. Ia kesal. Sungguh. Rasanya ingin mengamuk dan menangis.

"Itachi, aku benci padamu, lepas!"

"Aku tak peduli..!"

Itachi mengapit tubuh Sasuke dengan tangan kanannya didadanya, sementara tangan kirinya melepas cengkeraman tangan Sasuke di wastafel. Itachi sudah kehabisan ide, dan ia mengkhawatirkan Sasuke lebih dari apapun, terlebih ia sekarang sedang mengandung. Ada kehidupan kecil di dalam perut adiknya itu yang membutuhkan asupan kehidupan.

"LEPAS, ITACHI! ATAU AKU AKAN MENGGUGURKAN KANDUNGANKU!" Kali ini Sasuke berteriak keras saat Itachi berhasil melepaskan tangannya dari wastafel.

Sontak Itachi terperanjat mendengar pernyataan mengejutkan Sasuke, ia pun melepaskan Sasuke yang masih berontak di pelukannya, yang dilihatnya adalah Sasuke dengan muka yang memerah dan airmata yang sudah mengalir dipipinya. Mendadak Itachi merasa hatinya perih karena sudah menyakiti adiknya. Sebuah tamparan mendarat di pipi Itachi, dan Itachi hanya bisa memandang Sasuke dengan tatapan sedih sambil memegang pipinya.

"Sasuke – Maaf, aku…."

"Mengapa kau tak mengerti? Mengapa kau tak mau mencoba merasakan apa yang kurasa, hah? Kau pikir aku senang dengan kehamilan ini? Dengan keadaan ini? Kau senang jika melihatku muntah-muntah dan tak berdaya? Mengapa kau begitu memaksaku untuk makan? Aku masih bisa hidup tanpa makan tiga hari sekalipun!" Ceracau Sasuke bertubi-tubi.

Sasuke tak sadar bahwa airmata sudah mengalir sedari tadi, pikirannya dikuasai emosi, ia begitu kesal dan frustrasi, perasaannya tercampur aduk, ia bingung dan ia stress. Belum sempat ia menyusun kenyataan yang dipikirnya hanya ilusi yang terpecah belah, Itachi sudah semakin memperburuk semuanya.

Tanpa sanggup mendengar jeritan perih Sasuke lagi, Itachi langsung menyergap Sasuke dan memeluknya erat. Mencium kening dan kepala Sasuke berkali-kali seolah ia ingin menebus kesalahannya barusan. Ia nyaris menghancurkan malaikat rapuh ini.

"Maaf, Sasuke – Maafkan aku, Maaf, Maaf – kau boleh memukulku lagi, pindahkan rasa sakitmu padaku, Sasuke.." Bisik Itachi sambil terus menciumi adiknya.

Tak peduli Sasuke meronta dan memukul dadanya berusaha melepas pelukannya, Itachi malah berusaha menghapus airmata yang mengalir di wajah adiknya. Ia sadar, seharusnya ia lebih mengerti keadaan Sasuke, bukan saatnya lagi ia berlaku layaknya dictator pada adiknya dalam kondisi Sasuke sekarang. Ia harus lebih mengerti dan menyesuaikan langkahnya dengan langkah sang adik.

"Aku bodoh, tak mengerti dirimu, maafkan aku.."

Karena lelah, Sasuke pun menghentikan serangannya, nafasnya terengah dan kepalanya mulai terasa pusing lagi. Ia benar-benar kehilangan tenaganya, staminanya merosot tajam, emosinya berantakan. Akhirnya ia terdiam dalam pelukan Itachi. Itachi pun menggendongnya ke sofa ruang tamu dan mendudukkannya dengan terus menciumi kening, pipi dan bibirnya berulang-ulang.

Mengambil tisu yang tersedia di meja ruang tamu, Itachi menyeka keringat Sasuke dan menuangkan air yang ada disitu. Kali ini Sasuke tak membantah, karena ia merasa lelah dan haus. Itachi menarik nafas lega melihat Sasuke sudah lebih tenang lalu mengusap mukanya sendiri dengan kedua tangannya. Ia sadar apa yang dilakukannya pada sang adik adalah kesalahan fatal.

"Sasuke—" Bisik Itachi sambil mengusap pipinya dengan lembut.

Sasuke hanya melirik kakaknya.

"Maaf, aku salah – "

"Hn!"

"Begini saja, kau ingin melakukan apa padaku? Atau aku harus membelikan apa untukmu? Kau ingin apa dariku?" Tanya Itachi.

Terbesit didada Sasuke rasa bersalah karena sudah menampar Itachi, ia kelepasan, terlalu emosi. Bagaimanapun ia tahu Itachi mengkhawatirkannya, tapi entah mengapa ia sama sekali tak bisa mengendalikan emosinya. Ia sama sekali tak bermaksud membantah Itachi sedemikian kasarnya, sebenarnya ia bisa menolak Itachi dengan tegas atau meminta pengertian Itachi tanpa harus sekasar itu. Tapi, sungguh Sasuke sama sekali tak bisa mengendalikan diri dan menyusun logikanya. Semua bergulir begitu saja, spontan.

Sasuke menarik nafas panjang. Ia ingin minta maaf, tapi ia gengsi.

"Pe-pesankan aku pizza.." Jawab Sasuke singkat sambil memalingkan mukanya.

Senyum Itachi merekah, setidaknya adiknya sudah sedikit mereda amarahnya, ditambah yang diinginkannya adalah makanan, tak apalah untuk sementara daripada tidak makan sama sekali. Tanpa menunggu perintah dua kali, Itachi beranjak dari sofa sambil meraih tangan Sasuke dan menciumnya.

"Dilaksanakan, Tuan Putri.."

Lalu Itachi berjalan menuju telepon dan menghubungi Delivery Pizza, memesan Pizza kesukaan Sasuke. Senyum tipis terukir tanpa sadar di bibir Sasuke melihat tingkah kakaknya. Ia tahu betapa Itachi menyayanginya. Tapi ia kesal karena ia harus mengandung akibat ulah ceroboh Itachi. Perasaannya kompleks. Sasuke tak mau memikirkannya dulu.

Selesai menelepon Itachi kembali ke sofa dengan sumringah dan duduk di samping Sasuke. Kali ini ia mengelus perut adiknya yang masih rata. Jelas, usia kehamilannya belum mencapai empat minggu. Tak masalah, sugesti Itachi sudah terlalu kuat bahwa ada kehidupan didalam situ.

"Sasuke, aku punya sesuatu untukmu.."

Sasuke mengernyitkan alisnya dan memandang Itachi yang kini sedang merogoh kantong celananya. Ternyata ia mengambil sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah. Dan membukanya. Isinya cincin emas putih sepasang.

"Sebenarnya, aku berniat melamarmu saat berangkat sekolah tadi, tapi melihat kondisimu kurang bagus, ditambah kejadian yang sudah terjadi seharian ini, aku mengurungkan niatku.." Lanjutnya.

Si bungsu semakin bingung dengan arah pembicaraan Itachi. Namun, akhirnya ia sedikit mengerti saat Itachi meraih tangannya dan memasukkan satu cincin tersebut ke jari manis kanannya.

"Sudah terlambat jika aku melamarmu, karena si kecil didalam sini sudah mendahuluiku dan merestui kita, jadi aku menikahimu sekarang, Otouto – " Tutupnya.

Lalu Itachi memberikan cincin satunya pada Sasuke dan menyodorkan jari manis kanannya meminta adiknya memakaikannya juga padanya. Setelah Sasuke mengangguk, ia pun memasangkan cincin itu di jari kakaknya. Hatinya menghangat, tak menyangka Itachi memiliki niat seperti ini. Tak pernah ia membayangan bahwa Itachi akan benar-benar meresmikan hubungan mereka. Walau hanya mereka dan Kami-sama saja yang menjadi saksinya.

"Aku mencintaimu, Sasuke.." Bisiknya sambil mencium tangan Sasuke.

"Hn! Aku benci padamu.."

Itachi tertawa kecil menanggapi sikap Sasuke. Dan mendekati wajahnya ke wajah Sasuke. Mencium keningnya dengan lembut, lanjut ke kedua mata dan pipi Sasuke, hingga akhirnya bibirnya mendarat di bibir adiknya. Senang karena Sasuke tak menghindar, ia pun mengecup ulang bibir mungil adiknya, sekali lagi dan sekali lagi. Manis sekali. Itachi tak bisa berhenti. Bibirnya mulai memagut pelan bibir Sasuke dan lagi-lagi Sasuke tak menolak walaupun tak merespon. Tangannya merayap ke leher si bungsu dan menggelitik tengkuk adiknya.

"Itachi – hentikan.."

"Aku tak bisa berhenti.. Kau terlalu manis.."

Lidah Itachi menyapu bibir Sasuke, meminta izin untuk berkunjung ke dalam mulut Sasuke. Dengan ragu, Sasuke menerimanya, membuka bibirnya perlahan dan membiarkan lidah Itachi bertamu di mulut Sasuke. Kedua lidah itu kembali berjabat, Sasuke memang tak bisa menolak kemesraan Itachi yang seperti ini.

Sasuke mencengkeram kemeja Itachi saat mulut Itachi menghisap lidahnya dengan kuat. ia mengerang pelan dalam ciuman panas itu, sementara tangan Itachi mulai menggelitik telinganya. Air liur muncul di pinggir bibir Sasuke dan mengalir keluar hingga menetes turun dari dagunya. Itachi memang luar biasa dalam mendominasi ciuman. Sasuke selalu suka ciuman kakaknya.

Tiba-tiba..

"Anu—maaf, tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi – " Sebuah suara mengagetkan mereka berdua.

Spontan Sasuke mendorong badan Itachi dan Itachi hanya mendecak kesal karena sesi ciumannya terinterupsi. Ia bangkit dari duduknya dan melayani kurir delivery pizza tersebut, membayarnya dan menandatangani tanda terima dari kurir tersebut, lalu mengucapkan terima kasih dengan suara yang agak di tekan agar kurir tersebut tak banyak bertanya sekaligus cepat pergi dari rumah mereka. Itachi sama sekali tak peduli dengan sesi ciumannya dengan Sasuke tadi dilihat oleh orang lain. Yang ia rasakan hanya terganggu.

Sementara Sasuke sudah merah padam menahan kesal dan malu karena ulah Itachi, tapi ia juga tak bisa marah karena ia sendiri meladeni kemesraan kakaknya dan tak mendengar suara ketukan pintu karena terlena dalam kemesraan Itachi. Itulah kelemahan Sasuke.

"Ku—Kuso Aniki, Ma-Malam ini pokoknya aku tidur sendiri, jangan coba-coba masuk ke kamarku atau kubunuh.." Seru Sasuke tiba-tiba menutupi rasa malu dan kesalnya.

Itachi yang tak mengerti, hanya bisa memandang heran Sasuke. Mengapa tiba-tiba adiknya menolaknya sampai melarangnya tidur bersama? Padahal kan mereka baru saja 'menikah'.

"Hee? Aku akan kedinginan jika tak memelukmu, Otouto, lagipula mungkin si kecil didalam sana ingin tidur ditemani ayahnya?" Rengek Itachi.

Sasuke semakin malu, ia melempar bantal sofa ke arah Itachi dan mendeath-glare nya.

"Bodoh! Kau menyebalkan! Aku benci!"

.

.

.

TBC lagi.

Thanks for reading.

Please leave your review.

Best regards.