Pagi-pagi buta, Sasuke sudah melompat dari tempat tidurnya. Kantuknya menghilang karena rasa mual kembali menyerangnya. Ditambah ia merasa sedikit mulas, semalaman ia sama sekali tak nyaman tidur, bahkan tengah malam ia harus terbangun karena ingin buang air kecil. Walaupun sudah dilarang Sasuke, Itachi tetap menyelinap ke kamar adiknya dan tidur sambil memeluknya, akhirnya ia semakin iba melihat Sasuke yang seperti ini, ia tak menyangka bahwa kehamilan akan sesulit ini.
"Ohok! Hoekkk! Ugh!"
Itachi memijat tengkuk Sasuke dan mengusap punggungnya, ia tidak tega tapi tak bisa berbuat apapun, terselip rasa bersalah bahwa ia lah penyebab Sasuke mengalami hal ini.
"Hari ini kau tak perlu berangkat sekolah, Otouto – aku juga tak kan ke kampus.."
Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan Itachi buru-buru turun membukakan pintu.
"Okaeri, Haha-ue.." Sambut Itachi.
Mikoto memeluk putra sulungnya, sudah menjadi kebiasaannya selalu memeluk anak-anaknya setiap saat.
"Maaf, ibu terpaksa menginap di rumah pamanmu, bayangkan, ibu baru pulang dari bandara jam setengah satu dini hari, tak mungkin pulang kerumah akhirnya ibu menumpang tidur dirumah paman Madara.." Cerita Mikoto.
Itachi hanya tersenyum sopan seperti biasanya. Pikirannya tidak fokus karena adiknya masih asyik muntah di lantai atas. Ia khawatir namun bingung harus berkata apa pada ibunya.
"Sasuke mana? Belum bangun?" Tanya Mikoto.
Itu dia! Akhirnya alasannya untuk naik kembali ke lantai atas datang juga, Itachi berterima kasih pada naluri keibuan Mikoto yang spontan menanyakan keberadaan putra bungsunya. Itachi bersorak dalam hati.
"Sudah kok, Haha-ue… Biar ku cek lagi, sepertinya anak itu agak kurang sehat hari ini, jadi masih berada di kamarnya.."
Mikoto mengernyitkan alisnya, tapi akhirnya tersenyum.
"Baiklah, kau temani dulu adikmu, nanti biar ibu yang ke kamar Sasuke setelah mandi dan ganti baju.. Ah, ini – paman Madara memberikan kue untuk kita, potonglah dan bawakan untuk Sasuke.."
Setelah mengangguk dan menerima kotak besar berisi kue, Itachi pergi ke dapur dan memotongnya untuk diberikan pada Sasuke, lalu naik ke atas. Ia harus segera menenangkan Sasuke sebelum Sasuke kembali stress dengan kedatangan ibu mereka. Itachi tahu ibunya pasti akan menerima keadaan mereka walaupun tidak dengan Fugaku. Tapi, setidaknya selama Fugaku sedang di luar negeri, mereka harus berdiskusi tentang hal-hal apa saja yang harus direncanakan kedepannya.
Perlahan, Itachi membuka pintu kamar Sasuke lagi dan melihat adiknya duduk di tempat tidur. Namun, itu tak lama karena Sasuke langsung bangun dari duduknya dan memeluk Itachi. nyaris kue yang dibawa Itachi jatuh ke lantai.
"Ibu pulang kan? Bagaimana ini? Dia akan tahu… Aku takut!"
Itachi merasa perih mendengar nada bicara Sasuke yang begitu ketakutan, denga hati-hati Itachi meletakkan piring kue di tangannya dan membalas pelukan Sasuke sambil mengusap kepalanya. Ia juga khawatir, tapi tak kan ada yang tidak akan di ketahui Mikoto. Bagaimanapun dia adalah ibu mereka. Sekalipun mereka berlari dan menutupi rahasia mereka, naluri dan insting dari darah yang mengalir ditubuh mereka akan menyambungkan ibu mereka pada kebenaran.
"Kau ingat kan, Otouto? Aku selalu ada dipihakmu, jadi jangan khawatir. Ibu kita akan mengerti.." Jawab Itachi pelan meyakinkan Sasuke.
Yang di khawatirkan Sasuke dan Itachi bukan kehamilan Sasuke, tapi hubungan terlarang mereka, baiklah jika memang homoseksual itu di 'izin' kan, tapi setidaknya bukan dalam konteks incest. Sejenak, dalam hati mereka terselip rasa sesal mengapa mereka harus sedarah, dilahirkan oleh ibu yang sama? Mengapa tidak sebagai sepupu saja, misalnya. Pelukan Itachi semakin erat, ia bersumpah akan selalu menjaga dan melindungi adiknya ini apapun yang terjadi.
"Makan kue dulu, Sasuke – ibu membawakannya, ia akan kesini setelah mandi, kau tenang ya jangan khawatir, aku disampingmu.."
Sasuke mengangguk pelan dan menggenggam lengan kemeja Itachi, ia tak menepisnya, dan menggunakan tangan yang satunya untuk menyodorkan kue pada Sasuke, dan karena pertimbangan ibunya, akhirnya Sasuke memaksakan diri memakan kue tersebut. Itachi tak berhenti membelai rambut Sasuke dan mencium puncak kepalanya berulang-ulang.
"Sudah lama kau tak memanggilku kakak lagi, Sasuke.." Bisik Itachi mencoba mengajak bicara Sasuke yang terdiam.
Sasuke cemberut.
"Hn!"
Itachi mendengus geli.
"Tak apa, nanti setelah si kecil ini lahir, aku akan dipanggil 'Ayah' .."
Sasuke pun kembali merona, Itachi masih sempat menggodanya, tapi kali ini ia tahu kakaknya sedang menghiburnya, mengalihkan tekanan psikologisnya.
"Aku tak menginginkan kehamilan ini, baka!"
"Bukan tidak menginginkan, Sasuke – kau hanya belum terbiasa.." Sanggah Itachi halus.
Potongan terakhir dari kue sudah masuk kedalam mulut Sasuke, dan Itachi mengambil tisu disamping tempat tidur lalu menyeka bibir Sasuke yang sedikit belepotan krim. Lalu mengecupnya lembut. Setelah itu ia mencium kening Sasuke dengan sayang.
"Terima kasih atas kehamilanmu, Otouto.."
Jeda.
"Kehamilan siapa?" Tanya sebuah suara.
Mikoto sudah berdiri didepan pintu kamar mereka, dan Itachi hanya tersentak kaget sejenak, sementara Sasuke memejamkan matanya sambil menunduk. Itachi menarik nafas panjang dan tersenyum. Mengulurkan tangan ke samping Sasuke, mempersilakan ibunya untuk duduk di samping Sasuke dan ia sendiri beranjak dari duduknya menuju meja belajar Sasuke.
"Ada apa, Itachi?" Tanya ibunya lagi.
Itachi membalikkan badanya setelah mengambil sebundel map coklat besar dan memberikannya pada Mikoto, sambil menatap bingung Itachi dan mengangkat bahu, akhirnya ia membuka map tersebut. itachi kembali duduk disamping Sasuke dan mengusap punggung Sasuke menenangkan adiknya. Itachi memperhatikan gerak mata Mikoto yang semakin menurun ke arah bawah lembaran kertas dan membalikkan halaman demi halaman. Itachi tersenyum tipis.
"Kurasa, sebagai orang yang melahirkan Sasuke, ibu sudah mengetahui hal ini.." Itachi membuka pembicaraan.
Sejenak Mikoto memejamkan matanya kuat-kuat dan menghela nafas berat, menahannya sebentar dan menghembuskannya, terlihat ekspresi wajahnya yang kalut dan menahan sakit. Itachi menunggu jawaban dari sang ibu dan hanya memberi isyarat pada Sasuke yang mulai bingung agar tetap diam dan tenang.
"Persistent Mullerian Duct Syndrome, Saat hamil Sasuke dan kehamilanku menginjak usia empat bulan, aku melakukan USG pertama, dan menurut dokter aku hamil seorang anak perempuan karena hasil USG mengatakan terlihat kantung rahim di janinku.."
Mikoto menutup kembali map tersebut dan mengembalikannya pada Itachi, Sasuke masih terdiam dan memandang bingung ibu dan kakaknya, ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang dibicarakan orang-orang yang paling penting baginya ini.
"Namun, menjelang kelahiran Sasuke dan aku melakukan USG terakhir, menggunakan teknologi empat dimensi ternyata terpampang jelas disana bahwa jenis kelamin janin yang ku kandung itu adalah laki-laki. Akhirnya, aku memutuskan untuk berkonsultasi pada dokter dan merahasiakan hal ini pada Fugaku. Bersyukur Fugaku tak curiga apapun dengan hasil USG dan kelahiran Sasuke yang diluar dugaan. Aku berniat menceritakan hal ini pada Sasuke setelah kurasa cukup umur untuk mengerti, tapi kupikir Sasuke belum terlihat ada ketertarikan seksual pada siapapun, laki-laki atau perempuan, maka aku pun menundanya.." Lanjut Mikoto.
Wanita cantik bersuara lembut itu hanya menunduk dan terlihat ada airmata yang menetes ke tangannya yang tertaut.
"Aku tak menyangka hal ini bisa terjadi, aku minta maaf tak jujur pada anakku sendiri, aku terlalu takut dan merasa pelajaran kesehatan reproduksi masih tabu untuk Sasuke…"
Sang ibu, menoleh ke arah putra bungsunya dengan tatapan sedih namun masih berusaha mengukir senyum dibibirnya. Lalu membelai pipi remaja manis itu.
"Maafkan ibu, Sasuke.." Hanya itu yang bisa dikatakan Mikoto pada Sasuke.
Sasuke melebarkan matanya, ia bingung. Ini aneh. Saat ia melirik kakaknya, Itachi hanya mengukir senyum tipis. Seolah semua berjalan sesuai rencananya.
"Bukan salah ibu, atau dengan kata lain, bukan hanya ibu yang salah, tapi kami juga.." Itachi merespon.
Tiba-tiba Itachi meraih tangan kanan Sasuke dan ia mensejajarkan tangannya sendiri dengan tangan adiknya, menunjukkan sepasang cincin yang terpasang di jari mereka pada Mikoto.
"Inilah kesalahan kami, dan ini menjelaskan tentang ayah dari anak yang di kandung oleh Sasuke.." Lanjut Itachi.
Sasuke spontan menoleh ke arah Itachi, ia baru pertama kali melihat Itachi yang seperti ini, ia sama sekali tak menyangka Itachi bisa menjelaskan hal penuh dosa ini dengan wajah tenang seperti pembunuh berdarah dingin. Tidakkah Itachi memikirkan perasaan ibunya? Tidak adakah cara lain yang bisa dilakukan untuk menjelaskan ini tapi dengan cara yang lebih halus dan menunjukkan sedikit konsekwensi mereka pada Mikoto?
Mikoto terpana melihat kedua anaknya, ia tak menyangka ternyata kecurigaannya selama ini adalah benar adanya. Rasa sayang antar keduanya bukan hanya konteks saudara tapi konteks yang lebih intim. Sang ibu menutup mukanya dengan kedua tangannya, berusaha untuk menahan segala emosinya. Berusaha mengembalikan naluri keibuannya bahwa bagaimanapun kedua pria dewasa yang ada didepannya ini adalah anaknya, yang dikandungnya dan dilahirkannya.
Itachi merengkuh Sasuke yang juga terpana melihat Mikoto, sebenarnya Itachi akan menerima apapun keputusan ibu mereka, hanya saja, setidaknya sekalipun hal terburuk itu benar terjadi, ia sudah jujur pada ibunya dan menunjukkan kenyataan ini. Minimal, ibunya tahu bahwa ia akan jadi seorang nenek.
Terlihat oleh mereka berdua, sang ibu menarik nafas panjang dan mengusap mukanya, sepertinya sudah ada airmata yang mengalir walaupun mereka tak melihatnya. Tetap pada wajah lembutnya, Mikoto mengukir senyum tipis ke arah Sasuke dan membelai pipinya.
"Sasuke, jadi kau akan memberikan cucu pada ibu, nak?" Tanya Mikoto.
Sasuke tak bisa menjawab apapun, ia masih berusaha membaca pikiran dan raut muka yang dibuat oleh Mikoto. Sementara Itachi tetap pada pandangan lurus terhadap ibunya. Ia menunggu kata-kata selanjutnya dari wanita yang melahirkannya ini.
"Di satu sisi aku senang karena aku akan menjadi seorang nenek, namun aku menyesali akan hubungan sedarah ini, tapi anggaplah aku pun menebus dosaku yang tak jujur atas kelainan yang dimiliki Sasuke hingga kehamilan ini bisa terjadi.."
Mikoto menarik Itachi dan Sasuke bersamaan dan memeluk kedua anaknya. Itachi agak terkejut terlebih Sasuke. Namun, mereka membalas pelukan ibunya.
"Tetaplah menjadi anak-anakku yang manis, sementara rahasiakan pada Fugaku, setidaknya selama ia tak dirumah, untuk kedepannya, kehamilan Sasuke, kita jalani bertiga.. Bagaimanapun, aku adalah ibu kalian, dan aku tak ingin kehilangan separuh nyawaku yang sudah ku titipkan pada kalian.."
Beberapa saat mereka bertiga terdiam, airmata mengalir dari mata Sasuke yang terbuka lebar, Ah, emosinya benar-benar tidak stabil. Ia terharu, tak menyangka ibunya akan tetap menerima mereka walaupun entah bagi ayah mereka, tapi janji ibunya sudah cukup menguatkan Sasuke. Lalu Mikoto melepas pelukannya dan tersenyum pada kedua anaknya. Menghapus airmata Sasuke dan airmatanya sendiri.
"Kau masih cengeng, Sasuke.." Ledek Mikoto.
Sasuke tersadar dan langsung menutup mukanya. Ia malu tak biasanya ia seperti ini.
"Tak apa, dulu saat aku hamil kakakmu juga sangat cengeng, berbeda saat aku mengandungmu, aku jadi galak, cengeng, egois dan iseng, hingga berkali-kali aku bertengkar dengan Kushina.." Lanjut Mikoto.
Suasana mencair, Itachi menarik nafas lega dan mengelus rambut Sasuke dengan sayang. Jauh dilubuk hati Mikoto, ia sudah terbiasa melihat cara Itachi memperlakukan Sasuke walau sekarang ia tahu kebenarannya. Sudahlah, anggaplah Itachi masih menyisakan naluri kakaknya kepada sang adik.
"Aku akan masak makanan kesukaan kalian.." Tawar Mikoto.
Kembali mendengar kata 'masak', rasa mual Sasuke datang lagi, ia pun menerobos kedua orang didepannya dan muntah di kamar mandi. Mikoto terkejut dan memandang Sasuke yang sedang menderita di kamar mandi dengan iba. Itachi memijat keningnya dan menarik nafas panjang.
"Dia memang seperti itu sejak kemarin, Haha-ue .. aku juga sedang memikirkan bagaimana mengatasi ngidam nya Sasuke.."
"Tapi, selama hamil kalian berdua, aku tak mengalami itu, memang sedikit pusing, tapi kebalikannya, aku jadi doyan makan, bahkan porsi makanku bertambah.."
Itachi mendengus geli.
"Aku lebih berharap Sasuke yang seperti itu daripada yang seperti ini.."
.
.
.
Rahasia baru terbentuk di dalam keluarga Uchiha, kali ini rahasia yang lebih besar dan mereka bertiga—sementara, bagaimana dan apa yang akan terjadi selanjutnya mereka tak tahu, yang penting rahasia ini tetap terjaga dan Sasuke bisa melewati masa-masa tersulitnya ini dengan baik. Itachi dan Mikoto bersumpah akan berada disamping Sasuke apapun yang terjadi.
"Sasuke, dokter barusan meneleponku, agar aku membelikan susu ibu hamil untuk tambahan nutrisimu.." Kata Itachi sambil mengambil kunci mobil dari atas meja.
Sasuke mendeath-glare Itachi.
"Kau memperlakukanku seperti wanita hamil, hm?"
Itachi tersenyum dan mencium kening adiknya.
"Kau memang sedang hamil, Otouto.."
Sasuke semakin kesal dengan ulah kakaknya.
"Aku pasti akan membunuhmu, Itachi.." Geram Sasuke.
Yang diancam hanya memeluk erat adik kesayangannya. Sudah kebal Itachi terhadap kata-kata tajam Sasuke.
"Setidaknya beri aku waktu sampai malaikat kecilku lahir, setelah itu kau boleh membunuhku.."
Mikoto keluar dari dapur dan melihat anaknya sedang beradu argument - bertengkar maksudnya. Langsung melerai mereka.
"Sasuke, susu itu penting untuk kehamilanmu, apalagi kau jarang makan, seharusnya kau memikirkan yang ada didalam perutmu juga, jangan mementingkan keegoisanmu.." Nasihat Mikoto.
Dan Itachi tersenyum puas mendengar ibunya berada dipihaknya. Ia menahan tawanya melihat Sasuke yang menahan emosinya dan siap meledak, menghancurkan seisi rumah. Semakin ingin menggoda adiknya, Itachi mengetukkan dua jarinya di kening Sasuke.
"Yuruse, Sasuke.. Aku pergi dulu.."
Itachi membalikkan badannya dan terlihat jelas oleh Sasuke punggung dan bahu kakaknya yang bergetar pelan karena menahan tawanya. Ia semakin kesal namun tak bisa berbuat apa-apa. Dia kalah telak.
"Du-dua Usuratonkachi !" Teriak Sasuke ketika pintu di tutup oleh Itachi.
Sasuke terengah karena lelah menahan emosinya. Ia berharap Naruto dan Sakura tidak menjenguknya hari ini, kali ini ia tidak memikirkan rasa malu dan rahasianya jika kedua temannya tersebut datang, ia hanya tak ingin satu Usuratonkachi lagi bertambah. Setelah kakaknya, ibunya, tak bisa dibayangkan kalau Naruto juga ada disana.
.
.
.
.
TBC
Thanks for reading.
Please leave your review.
Best Regards.
