Dua bulan berhasil dilewati Sasuke dengan susah payah, tetap berangkat ke sekolah seperti biasa, walaupun ia jadi lebih sering absen dibanding biasanya, namun ia tertolong dengan prestasinya yang tak menurun, sehingga para guru tak khawatir dengan ujian akhir yang akan tiba beberapa minggu lagi. Hanya saja, yang mereka herankan, siswa paling cerdas di sekolah ini tidak mengajukan pilihan universitas untuk jenjang pendidikan selanjutnya.

Teman-temannya pun sepertinya tak menaruh curiga padanya yang setiap pagi selalu izin ke toilet sambil menutup mulutnya, hanya Naruto saja yang pernah meledeknya 'kau seperti wanita hamil saja' dan pada akhirnya Naruto mendapat lemparan penghapus papan tulis dari pangeran sekolah ini. Sasuke masih 'anti' mendengar kata-kata hamil. Karena sebenarnya, Sasuke masih belum bisa menerima kenyataan ini. Ia masih belum siap jika harus punya anak.

Disitulah masalah dimulai

Suatu sore, Sasuke sedang makan malam bersama ibunya dan Itachi. Begitulah, mual-mual yang dirasakan Sasuke kini berkurang, hanya terjadi pada pagi hari saja, dan sekarang nafsu makan Sasuke sudah sedikit lebih pulih. Itu melegakan Itachi dan Mikoto. Dan malam ini, mereka makan di sebuah restoran seafood atas permintaan si bungsu kesayangan mereka.

"Kaa-san, Nii-san, bagaimana jika kita akhiri saja kehamilan ini?" Ujar Sasuke lempeng.

Mikoto dan Itachi menghentikan gerakan tangan di sendok dan garpunya, memandang bingung Sasuke.

"Maksudmu?" Tanya Itachi memberikan respon.

"Aku lelah dan aku bosan dengan keadaan seperti ini, bayangkan saja, ini baru dua bulan, dan aku harus mengandung selama sepuluh bulan, sama saja membunuhku pelan-pelan.." Jawab Sasuke dengan santai sambil memasukkan satu suapan kedalam mulutnya.

Itachi mulai merasakan ada yang tidak beres dengan arah pembicaraan adik kesayangannya yang manja ini. Namun, seperti biasa, ia mencoba untuk lebih sabar dan mengerti posisi Sasuke. Sementara Mikoto kembali makan dengan tenang namun tetap menyimak sinyal-sinyal yang diberikan Sasuke, bagaimanapun ia adalah wanita yang sudah merasakan hamil sebanyak dua kali.

"Jadi, bagaimana caramu mengakhirinya, Sasuke?" Tanya Itachi masih mengatur intonasi bicaranya, bahkan ia mencoba mengusir emosinya dengan meminum milkshake di samping piringnya, walaupun sesi makan belum selesai.

"Tentu saja dengan mengugurkannya, mumpung masih dua bulan, karena jika sudah lebih dari empat bulan akan lebih sulit.." Jawab Sasuke lagi.

Itachi menjatuhkan sendok yang sedang di pegangnya, hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup menarik perhatian beberapa orang yang duduk di sekitar meja mereka. Lalu menutup mukanya, sepertinya nafsu makannya langsung lenyap. Mikoto menarik nafas panjang, sepertinya ia juga sedang mencari akal untuk menghadapi mood swing putranya yang manis ini.

"Baiklah, Sasuke – Ibu mengerti, sekarang habiskan dulu makanmu, lalu kita bicarakan lagi hal ini dirumah.."

Sasuke mengangkat bahunya dan melanjutkan makannya, tidak dengan Itachi yang memandang ibunya dengan tatapan penuh pertanyaan, bagaimana bisa seorang wanita yang seharusnya naluri keibuannya itu lebih besar dibandingkan laki-laki lantas bisa sesantai itu menghadapi permintaan Sasuke yang tak masuk akal? Ingin rasanya Itachi menghancurkan seisi restoran berikut tempat parkirnya. Ia putus asa.

.

.

.

Perjalanan yang seharusnya empat puluh menit antara restoran dengan Uchiha Resident ini hanya ditempuh dalam waktu kurang dari dua puluh menit akibat Itachi yang kehilangan kontrolnya menghadapi masalah barunya yang masih menggantung ini. Pikirannya penuh dengan bayangan malaikat kecil dambaannya akan lenyap di tangan dokter aborsi. Seandainya Sasuke tidak sedang hamil, mungkin Itachi sudah menghukumnya di tempat tidur dengan liar dan sebuas mungkin hingga sang adik meminta ampun padanya.

Sesampainya dirumah, Itachi langsung menjatuhkan badannya di sofa, pikirannya masih kalut. Melihat hal itu, Sasuke mendekatinya, duduk disampingnya sambil menyilangkan kakinya dan melipat tangan didadanya, lalu menunduk.

"Aku sudah tak sanggup, Nii-san.." Bisik Sasuke tertahan. "Mengertilah.." Lanjutnya.

Sesabar-sabarnya seorang Uchiha Itachi, kalau dihadapkan dengan kasus yang mempertaruhkan harga diri dan tanggung jawabnya sebagai—err, suami, tetap saja ia mempunyai keterbatasan. Ia tak habis pikir, anak manis dan lugu yang selalu ditimangnya setiap hari ketika kecil berubah menjadi sosok yang kejam. sebegitu parahkah efek dari mood swing yang biasa dialami oleh ibu hamil? Begitu banyaknya kah varian yang mungkin ditemukan pada tiap-tiap kasus mood swing? Selama ini Itachi beranggapan, mood swing hanya membuat berantakan emosi dan logika para ibu hamil dan tak akan menggeneralisir menjadi separah ini.

Itachi memandang Sasuke dengan tajam.

"Hati-hati kalau bicara, Sasuke.." Ujarnya memperingati. "Aku harap ini hanya lelucon.."

Seumur hidup, baru kali ini Sasuke menemui Itachi yang seperti ini, auranya begitu gelap dan dingin, sepertinya ia benar-benar marah. Tapi, Sasuke pun merasa tak sanggup menjalani kenyataan ini. Ia tak sanggup secara fisik dan moril. Terlalu banyak beban. Masa depan mereka terancam jika terus menjalani hidup yang seperti ini. Begitulah logika Sasuke.

"Aku serius dan ini sama sekali bukan lelucon.. Aku ingin mengakhiri kehamilan ini, ini tak masuk akal dan anak ini adalah beban bagiku.. Aku akan menggugurkan - "

Sebuah tamparan mendarat di pipi Sasuke, memang tak terlalu keras, karena Itachi hanya bermaksud menyadarkan Sasuke. Tapi cukup membentur jiwa Sasuke. Ia merasa kakaknya begitu egois dan tak memikirkan perasaannya, tak merasakan penderitaan yang dialaminya. Ia pun membalas tamparan Itachi. Namun, tentu saja dengan tamparan yang keras. Ia benci.

Itachi memejamkan matanya. Ia bingung. Entah sampai kapan mood swing Sasuke berakhir dan Sasuke kembali menjadi Sasuke yang manis seperti biasanya. Seks yang tak didapatkan Itachi dari Sasuke juga mempengaruhi emosi sang kakak. Bagaimanapun, kebutuhan biologis juga perlu di penuhi, namun kondisi Sasuke yang tak memungkinkan membuat Itachi tidak tega dan akibatnya ia menjadi frustrasi.

"Sasuke, setidaknya berfikirlah bahwa tindakanmu itu sama dengan membunuh. Ia tak berdosa mengapa harus menjadi korban emosimu?"

Sasuke semakin naik darah. Ia terpojok dengan kata-kata Itachi yang seratus persen adalah benar, tapi ia tak terima dipukul telak seperti itu.

"Oh, kalau begitu bagaimana jika posisi kita ditukar saja? Kau yang hamil, kau yang membawa beban ini, merasakan mual setiap pagi, tidur yang gelisah dan terbangun karena hal sepele ingin buang air kecil, emosi yang sulit sekali dikendalikan, minum susu yang rasanya sama sekali tidak bisa dibilang enak ditambah nafsu makan yang lenyap akibat rasa mual, dan satu lagi Itachi, bayangkan jika nanti perutku membesar, aku menjadi gemuk seperti ibu-ibu hamil di seluruh dunia ini.. Ah, proses melahirkan yang akan membuang banyak darah dan mengancam nyawa.." Suara Sasuke semakin meninggi.

Jeda sebentar melihat Itachi masih memandangnya dengan tatapan perih.

"Bagaimana jika kau saja yang merasakan semua itu?"

Itachi membelai pipi Sasuke, mengusap lembut bagian yang barusan ditamparnya.

"Aku mau, Sasuke – jika bisa, aku akan bersedia menggantikanmu.." Jawab Itachi lembut.

Sasuke terdiam.

"Jika ada alat yang bisa memindahkan janin dalam rahimmu, aku siap menerimanya, kau pikir aku tega melihatmu seperti ini? Sama sekali tidak, Sasuke.. Kau tahu apa yang selama ini berkecamuk dalam pikiranku? Semua adalah tentang bagaimana caranya menggantikan derita yang kau alami.."

Mikoto datang menghampiri kedua anaknya yang dilanda kekalutan, sementara Itachi masih berbicara, ia memilih untuk diam dahulu.

"Tapi, Sasuke – kau tahu betapa bahagianya aku ketika mengetahui kau hamil? Membayangkan seorang bayi lahir dari rahimmu, pasti akan manis seperti dirimu, Sasuke – berfikirlah kesana. Kita akan menemukan kebahagiaan baru nanti.."

Sasuke memutar bola matanya. Malas sekali jika ia harus memikirkan tentang kebahagiaan itu, sama sekali tak terbesit sedikitpun diotaknya.

"Kaa-san, aku ingin menggugurkannya, bagaimanapun juga.." Tegas Sasuke seolah tak mendengarkan kata-kata Itachi.

Mikoto tersenyum dan membelai kepala Sasuke.

"Kau tahu, kau sama seperti diriku saat mengandungmu.." Jawab ibunya kalem.

Itachi melirik ibunya dan menyimak apa yang akan diceritakannya. Begitu juga Sasuke.

"Jika kau merasa menderita dengan kehamilanmu dan merasa kakakmu tak mengerti perasaanmu, maka berkacalah padaku, aku pernah hamil, bahkan dua kali. Ditambah aku adalah seorang wanita yang jelas tenaga dan staminanya lebih kecil dari laki-laki.."

Mikoto melanjutkan ceritanya.

"Memang, waktu aku mengandung Itachi, aku tak begitu menderita karena aku terlalu senang dengan kehamilanku, maka segala rasa yang menurutku tidak enak, hilang begitu saja saat kuraba perutku dan menyadari ada kehidupan kecil disana.. Hasil cintaku dengan ayahmu – itu poin penting pertama untukmu, Sasuke… Kehamilanmu adalah hasil dari cinta kalian. Kalian saling mencintai, kan?"

Sasuke kembali terdiam dan menyenderkan tubuhnya di sofa. Itachi sedikit merasa lega karena ibunya punya cara sendiri untuk menghadapi masalah ini, ia pun terdiam, memiringkan badannya ke arah Sasuke dan membelai perutnya, walaupun berkali-kali ditepis oleh Sasuke.

"Ketika aku hamil dirimu, Sasuke – disitulah aku merasa sangat menderita dan merasa tak sanggup menghadapi kehamilan keduaku. Bayangkan, saat itu Itachi masih berumur enam tahun, usia dimana ia menginjak usia sekolah dasarnya, dengan keadaan hamil muda – sama sepertimu sekarang, muntah dan emosi tak stabil, pagi-pagi aku harus membereskan rumah, dan setelah ayahmu berangkat kerja, aku mengantar Itachi ke sekolah dan siangnya aku menjemput kembali kakakmu.."

Mikoto tertawa kecil.

"Kushina sering menjadi sasaran emosiku saat itu, karena aku merasa tak sanggup dan betapa teganya dunia memberikanku cobaan seperti ini. Berkali-kali aku ingin mengugurkan kandunganku, meminta pada Fugaku untuk mengakhiri kehamilan keduaku ini, jelas ia selalu menolaknya. Apalagi, saat aku melakukan USG pertama dan diperkirakan aku mengandung anak perempuan, Fugaku semakin tak mengizinkanku untuk memikirkan hal itu, dan atas keluhanku itu, Fugaku hanya memberikanku solusi menyewa pembantu selama aku hamil untuk mengurangi bebanku.."

Sang ibu memandang Sasuke dengan lembut.

"Bagaimanapun inilah takdirnya, ketimbang aku harus berfikir ini adalah hukuman Tuhan untuk mu, aku lebih beranggapan bahwa kau dipercaya Tuhan untuk mengandung karena kau mampu, sama seperti ibu mengandungmu dulu, jika kita berbicara tentang keajaiban, kamu lah keajaiban itu, Sasuke.. Kau tahu, seluruh wanita di muka bumi ini, merasakan hal yang sama denganmu. Atau bahkan ada yang lebih sulit. Itu poin penting selanjutnya. Kapanpun kau merasa tak sanggup, lihatlah aku, berkacalah padaku, mengeluhlah padaku jika memang Itachi mempunyai banyak keterbatasan.."

Itachi merengkuh Sasuke dan kali ini Sasuke tak memberontak, walaupun ia masih mengkakukan badannya, hatinya sedikit melembut, mungkin benar apa kata ibunya, ia harus lebih bersabar, inilah takdirnya.

"Kau membuatku nyaris bunuh diri, Otouto.."

Merasa sudah menyelesaikan ceritanya, Mikoto beranjak dari sofa dan masuk ke kamarnya lagi meninggalkan kakak beradik itu berdua, ia ingin memberikan kesempatan untuk Itachi dan Sasuke agar keduanya bisa belajar. Di usia mereka yang masih muda, dihubungan mereka yang terlarang, jelas mereka masih kebingungan menghadapi semuanya. Itulah yang membuat Mikoto tetap tegar dan berdiri diantara keduanya. Menerima semua kenyataan dirinya.

"Jangan sekali-kali lagi berfikir kau ingin mengugurkan kandunganmu.." Bisik Itachi.

Sasuke masih terdiam, tangannya bergerak ke arah perutnya, ia masih belum percaya bahwa didalam perutnya itu benar-benar ada kehidupan, ia masih menyisakan harapan bahwa ini semua hanyalah mimpi, minimal salah diagnosa dokter lah. Ia masih diambang menerima dan menolak kenyataannya. Itachi menangkup tangan Sasuke yang sedang meraba perutnya dan menggerakkan tangan Sasuke agar mengusap perutnya sendiri.

"Aku mencintaimu, Sasuke – juga anak ini…"

Tangan satunya digunakan Itachi untuk menolehkan wajah Sasuke ke arahnya, dan Itachi mencium kening dan hidung Sasuke, lalu mencium pipi yang barusan ditamparnya seolah meminta maaf atas perbuatannya.

"Maaf – " Hanya itu yang terlontar dari mulutnya.

Itachi tersenyum melihat Sasuke yang kesulitan menyusun kata-katanya.

"Bu-bukannya aku langsung menerima semua kata-kata ibu, tapi aku akan mencoba berusaha.." Lanjutnya.

Ujian sebentar lagi, hal itu juga sedikit megganggu pikiran Sasuke, ia merasa ingin berusaha keras untuk itu, tapi entah mengapa ada sedikit rasa putus asa terhadap pendidikannya kedepan karena kehamilannya ini. Ia merasa bingung dan kehilangan arah. Ia kembali termenung dan Itachi menarik tubuhnya ke pelukannya. Menggeser duduknya hingga tak berjarak lagi dengan Sasuke dan menarik tubuh adiknya ke pelukannya.

Itachi mengangguk sambil tersenyum seraya meraih tangan Sasuke yang terdapat cincin perjanjian suci mereka, dan meremasnya. Sesekali diangkatnya lalu ciumnya lembut, ia ingin menunjukkan pada Sasuke betapa ia mencintai Sasuke dan bahagia atas kehidupan baru mereka ini. Setelah itu, Itachi menangkup pipi adiknya dan memandangnya hangat dengan senyum khasnya. Sasuke balas memandang Itachi, sosok yang selama ini selalu disampingnya, menyayanginya dan melindunginya.

"Nii-san.." Bisik Sasuke.

Tiba-tiba saja, Sasuke begitu ingin disayang oleh Itachi, padahal beberapa waktu sebelumnya, ia merasa begitu membenci kakaknya, entah kemna perginya perasaan benci barusan. ia merebahkan kepalanya di dada bagian atas Itachi dan memejamkan matanya, seolah meminta sesuatu. Dan Itachi yang mengerti bahasa tubuh Sasuke seperti biasanya, tanpa membuang waktu langsung mengecup bibir ranum sang adik. Sasuke menggenggam tangan Itachi yang menangkup pipinya barusan dan menurunkannya hingga ke lehernya.

Ciuman Itachi mulai mengganas, ia menjadi lebih sensitif karena dua bulan terakhir ini ia tak bisa menyentuh Sasuke lebih dari sekedar ciuman, adiknya selalu menginterupsinya dengan alasan-alasan yang sepele, dan itu membuat Itachi frustrasi. Tapi, memang di kehamilan muda Sasuke yang seperti ini, hampir tidak mungkin jika Itachi harus memaksanya, salah-salah nanti malah membahayakan janinnya.

Sasuke mengerang pelan dalam ciuman panas Itachi, nafasnya terengah, ia ingin lebih disentuh oleh kakaknya, kali ini tangan mereka bertaut dan saling menggenggam kuat satu sama lain, Itachi menghisap lidah Sasuke gemas sementara Sasuke menangkup bibir Itachi dengan bibirnya menghindari suara kecupan dan hisapan yang mungkin saja akan terdengar. Mereka saling mengulum dan bertarung di dalam mulut mereka.

Birahi Itachi kian bangkit, akibat rasa sensitif belakangan ini, hanya dengan ciuman panas yang baru berlangsung beberapa menit barusan, celananya sudah mulai mengetat. Ia tak tahan lagi, malam ini juga ia harus bisa mengurangi rasa frustrasi ini, bagaimanapun caranya. Ia melepas ciumannya dan memandang Sasuke nanar, begitu juga Sasuke memandang Itachi dengan sayu, memohon pada Itachi agar menyentuhnya lebih banyak lagi. Mereka saling terengah dan akhirnya setelah Sasuke mengangguk pelan, Itachi menggendong Sasuke naik ke lantai atas. Ke kamar Sasuke.

"Aku tak tahan ingin menyentuhmu, Sasuke – sudah dua bulan aku menahan siksaan ini.." Bisik Itachi terengah ditelinga Sasuke.

Dan Sasuke hanya meringis geli mendengar suara berat Itachi ditambah hembusan nafas panas di sekitar telinganya. Mungkinkah ini akan menjadi hubungan seks pertama kali sejak ia diputuskan mengandung? Apakah akan baik-baik saja? Sasuke agak khawatir, tapi ia percaya pada Itachi, kakaknya akan selalu punya cara untuk 'mengurusnya'.

.

.

.

Lime/Lemon next chap.

Thanks for reading.

Please, leave your review