Di kampus Itachi…..
"Oi, Itachi, kau kenapa, un? Wajahmu terlihat kusut dan sepertinya kau kurang tidur, un? Tanya Deidara.
Itachi hanya duduk memejamkan matanya sambil menyilangkan kakinya dengan tangan yang terlipat didadanya. Sesekali mendengus dan helaan nafasnya terdengar begitu berat.
"Hari ini Sasuke ujian, Deidara .. " Jawab Kisame kalem.
Kali ini Itachi merubah posisi duduknya dengan sedikit memajukan badannya dan menaruh tangannya di atas meja lalu menopang dagunya, matanya terpejam seolah menahan sesuatu. Deidara dan Sasori hanya memandang Itachi dengan heran. Mereka tahu Itachi memang berlebihan kalau mengenai Sasuke, tapi melihat Itachi yang hari ini, sepertinya agak berbeda. Bukan hari ini saja, beberapa bulan terakhir Itachi memang agak berubah, sering melewati kuliah dan memilih make-up di hari lain - misalnya.
"Oh, baguslah, un – seharusnya kau senang, Ita-chan, un! " Tanggap Deidara enteng.
Masih diam, Itachi membuka matanya dan meminum soft drink di depannya. Matanya menerawang. Terlihat jelas sekali bahwa pikiran Itachi sudah lompat ke sekolah Sasuke.
"Aku takut Sasuke keguguran.." Gumam Uchiha sulung ini pelan dengan mata masih menatap kosong ke depan.
Spontan Deidara menyemburkan minumannya dan Sasori yang dengan santai menyantap spaghetti langsung tersedak hingga terbatuk keras mendengar kata-kata Itachi. Kisame hanya menaikkan sebelah alisnya sambil menghela nafas panjang. Itachi melakukan suatu kesalahan fatal, hal yang seharusnya menjadi rahasia mereka, kini ia keceplosan.
"Bagaimana jika adikku yang manis itu mual-mual ditengah ujian? Bagaimana jika ia pusing lalu jatuh? Bagaimana jika mood swing nya kambuh saat menghadapi soal yang sulit? Bagaimana jika dia kelelahan ketika naik atau turun tangga? Bagaimana jika tiba-tiba ia lapar? Bagaimana -"
"Itachi-san!" Seru Kisame memotong ceracau Itachi.
Si tampan berbulu mata lentik ini akhirnya tersadar dan mengedipkan matanya beberapa kali, dan dilihatnya Deidara dan Sasori melongo sementara Kisame memijat pelipisnya. Ia mengangkat kembali tubuhnya dan menyender di kursinya lagi.
"Itachi, sebenarnya apa yang terjadi pada adikmu? Belakangan ini kau benar-benar terlihat aneh.. Mungkin kau tak menyadarinya, tapi kami memperhatikanmu.." Sambung Sasori setelah berdehem pelan dan menyeka mulutnya.
Deidara beranjak dari duduknya dan berdiri dibelakang Itachi, membuka kuncir rambut Itachi dan menyisirnya pelan. Si pirang ini benar-benar menyukai rambut panjang, lurus dan lembut milik Itachi dan tangannya selalu gatal ingin setiap saat menyentuh 'seni' yang terdapat di rambut putra sulung Fugaku ini.
"Benar Ita-chan, sebaiknya kau bercerita, un.."
Jeda.
"Adikku hamil, Dei, Sasori.."
Hening. Sisir yang dipegang Deidara jatuh, sementara Sasori buru-buru membuka ponselnya dan melihat album foto ketika mereka rekreasi ke pantai. Salah satu fotonya ada Itachi sedang menjahili Sasuke. Si rambut merah yang manis ini dengan seksama memperhatikan tubuh adik si Uchiha ini dan memastikan bahwa adiknya itu laki-laki. Tak ada bikini. Sasuke bertelanjang dada di foto itu. Dadanya persegi sama sekali tidak ada kesan bulat dan bengkak di dada si bungsu tersebut.
"Un, setahuku adikmu hanya satu dan dia laki-laki, un.."
"Tentu saja dia laki-laki, dan dia sedang mengandung anakku, makhluk paling manis sedunia itu kini sedang membawa buah cintaku didalam perutnya.. Karena itulah aku khawatir, terlebih hari ini ia ujian. Aku sudah melarangnya dan menyuruhnya untuk ujian susulan, tapi ia keras kepala.."
Itachi memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan mengacak pelan rambutnya sendiri.
"Aku khawatir, semalaman aku tak tidur menemani adikku belajar, dan tengah malam tadi ia mendadak ingin makan onigiri, subuh tadi ia mual-mual seperti biasa, aku khawatir, demi Kami-sama aku ingin ke sekolah Sasuke sekarang.."
Krik. Krik.
"Begini, Dei, Sasori - Sebenarnya…." Akhirnya Kisame buka mulut dan menjelaskan semuanya karena sudah tak mungkin untuknya merahasiakan hal ini akibat spontanitas konyol Itachi sendiri.
Sasori dan Deidara hanya terpana mendengar semua penjelasan Kisame. Dan Kisame memberikan isyarat pada keduanya, terutama si pirang yang berisik itu untuk tidak terlalu menunjukkan ekspresi kaget dan ketidakpercayaannya di depan Itachi yang sekarang. Si biru yang jangkung itu tahu persis keadaan hati Itachi saat ini. Ia tahu Sasuke belum bisa menerima kehamilannya, adiknya masih terperangkap dalam mood swing yang parah, dan kehamilannya masih termasuk muda, sangat rentan. Ia maklum jika tingkat kekhawatiran Itachi kali ini sedikit berbeda.
"Itachi-san, kau harus lebih percaya pada adikmu, lagipula disekolah banyak teman-teman yang menyayanginya, jika hal buruk terjadi pasti akan ada kabar untukmu…" Kisame mencoba menenangkan Itachi.
Deidara menggigit lidahnya kuat-kuat agar tak berteriak histeris saat itu juga. Perasaannya berkecamuk, ia tidak percaya, sungguh! – tapi, entah mengapa ia senang mendengar cerita Kisame. Laki-laki bisa hamil. Itu merupakan 'seni' yang unik – pikirnya. Jika seorang wanita saja bisa terlihat bagaikan dewi dari surga ketika mengandung, bagaimana jika laki-laki mempunyai aura lembut seperti itu? Begitulah yang ada di pikiran Deidara.
"Dan aku ingin ada di samping kucing kecilku sebelum hal buruk itu terjadi.." Jawab Itachi yang hanya dijawab dengan helaan nafas berat Kisame.
"Sepertinya mood swing Sasuke pindah ke dalam dirimu, Itachi-san.." Desah Kisame berat.
Sasori menjitak kepala Deidara melihat 'kekasih' nya ini berbinar-binar aneh, bermaksud untuk mengembalikan kewarasan si pirang ini. Dan si penggila seni itu hanya mengaduh dan cemberut sambil mengusap kepalanya.
"Ya sudah Itachi, berhubung kami semua sudah tahu, mulai sekarang kami akan ikut membantu kalian, walaupun kami tak tahu apa yang harus kami lakukan… Sementara waktu, tenangkan dirimu dulu, setelah tengah hari nanti kita ke sekolah Sasuke, menjemputnya.." Kata Sasori diikuti oleh anggukan dari Deidara dan Kisame.
.
.
.
Jam dua belas siang, ujian selesai. Pengawas ujian mengambil lembar soal dan jawaban para siswa, lalu meninggalkan kelas yang beberapa menit setelahnya langsung gaduh oleh kegembiraan mereka. Sasuke menutup telinganya dan mendadak kepalanya terasa pusing. Mualnya kambuh, seolah setelah stress menghadapi ujian tadi dan segala gejala morning sickness nya tertunda, kini muncul dengan tiba-tiba seolah ingin membalas dendam.
Sasuke menutup mulutnya sambil berusaha menarik nafas panjang, lalu bangun dari duduknya. Mual sekali dan kini ia mengerti maksud dari dokter yang sebelumnya memperingati bahwa ia tidak boleh terlalu stress dan gelisah. Karena, mual dan muntah pada usia kehamilan muda adalah pengaruh hormon dan tentu saja kondisi psikologis mempengaruhi naik dan turunnya kadar hormon.
"Sasuke-kun, kau kenapa?" Tanya Sakura yang kebetulan melihat Sasuke bangun dari duduknya.
Suara Sakura yang cempreng itu tentu mengundang perhatian makhluk-makhluk disampingnya. Sebut saja disana ada Naruto, Gaara, Hinata dan Neji. Otomatis, keempat manusia tersebut ikut menoleh ke arahnya.
Tak mungkin untuk bicara dan menjawab pertanyaan Sakura karena ia merasa akan muntah ditempat jika ia buka mulut, Sasuke hanya menggeleng dan berlari ke wastafel di ruang olahraga, sengaja ia tak ke toilet karena ia tahu toilet pasti ramai dan tidak lucu jika ia muntah didepan mereka.
"Uhk—menyebalkan.." Gerutu Sasuke sambil menyeka mulutnya dengan tisu basah.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ia hanya mengangkat sebelah alisnya karena ia sudah tahu siapa yang menelepon. Jelas kakak tercintanya yang overprotektif. Sambil menghela nafas berat ita mengangkat teleponnya dengan malas.
"Apa?" Tanya Sasuke saat menggangkat telepon.
'Sasuke, kau baik-baik saja? Bagaimana ujianmu?' Itachi malah balik bertanya.
"Aku baik-baik saja, Baka.. Ujian baru saja selesai.." Jawab Sasuke.
'Kau tak mual-mual? Kau ingin kubawakan apa? Aku akan menjemputmu sekarang bersama Kisame, Dei, dan Sasori – kita rayakan kehamilanmu..'
Sasuke terperanjat. Ia tak salah dengar kan? Barusan Itachi bilang 'kita'? 'Kita' yang dimaksud Itachi itu termasuk Deidara dan Sasori juga? Semoga tidak. Jangan katakan bahwa si Merah dan si Kuning itu juga tahu tentang keabnormalannya dan kelainan yang dimilikinya.
"Kita? Maksudmu aku, kau dan Kisame?"
'Tidak, Otouto – Dei dan Sasori juga sudah tahu dan mereka senang dengan kehamilanmu, Sasuke ' Jawab Itachi ringan bahkan terkesan senang diseberang sana.
Sasuke memutar bola matanya dan nyaris membanting ponselnya mendengar jawaban Itachi. Rahasia mereka bisa bocor ke orang-orang yang sama sekali tidak penting.
"Kenapa mereka bisa tahu tentang kehamilanku, Nii-san?" Tanya Sasuke dengan nada tertahan menahan kesal.
'Panjang ceritanya, Sasuke – pokoknya aku sudah di mobil dan sedang meluncur ke sekolahmu, kau jangan kemana-mana, Otouto .. Cium sayang dari ayah Itachi untuk malaikat kecilku..'
Tuuuutt-
Belum sempat Sasuke menjawab dan memaki kakaknya, ponsel sudah dimatikan secara sepihak oleh Itachi. Sasuke hanya bisa mengepalkan tangannya kesal, dan dengan langkah lebar ia keluar dari ruang olahraga. Kakaknya benar-benar menyebalkan. Ia heran mengapa Itachi bisa berubah jadi konyol seperti itu? Ini gara-gara kehamilannya. Pasti. Sasuke menyesal.
"Aku akan menggugurkan kandunganku sekarang juga. ITACHI KAU MENYEBALKAN!" Akhirnya Sasuke menjerit.
Langkah Sasuke berubah menjadi mundur karena tanpa disadarinya, karena ia berteriak sekuat tenaga dan memejamkan matanya, ia tak melihat ada Naruto didepannya. Jelas, kucing manis ini menabrak rubah pirang di depannya. Langkahnya menjadi terhuyung, begitulah karena ia baru saja muntah kan? Jadi keseimbangannya berkurang. Namun, itu tak lama, karena Naruto langsung menangkap tangan Sasuke dan menarik tubuh Sasuke ke dadanya.
"Sasuke…"
Uchiha manis itu mengedipkan matanya melihat Naruto sudah berada didekatnya. Sangat dekat. Menempel. Apa? Menempel? – Sasuke langsung sadar dan berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Naruto.
"Usuratonkachi, me-mengapa kau tiba-tiba ada didepanku, hah?"
Sebenarnya yang ingin ditanyakan si bungsu Uchiha itu adalah 'Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?' – begitulah, Sasuke begitu minim kata-kata yang lebih manis. Sementara yang ditanya hanya memandang Sasuke dengan tatapan tajam. Dekapannya semakin erat, Sasuke heran dari mana Naruto memiliki tenaga sebesar ini?
"Aku dengar semuanya, Sasuke—pertanyaanku adalah apakah semua itu benar?" Tanya Naruto dengan suara yang sangat tegas.
Sasuke merinding. Ia baru kali ini melihat Naruto seserius ini. Biasanya Naruto selalu konyol dan bodoh.
"A-apanya yang benar? Memangnya apa yang kau dengar? Naruto, lepaskan aku.."
"Jawab aku, Sasuke – Kau hamil, itu benar? Apa maksudnya semua ini? Kau bercanda kan?"
"Be—berisik, Naruto! Lepas!"
Entah karena shock dan takut menghadapi Naruto yang tidak biasa, atau memang tenaga Sasuke semakin melemah, yang jelas Sasuke tak berdaya dalam dekapan Naruto yang begitu erat, ia tak mengerti dan tak mau tahu tentang apa yang ada di pikiran Naruto, ia ingin dilepaskan dan tak ingin Naruto bertanya lebih banyak. Terlebih, kakaknya akan tiba disekolahnya sebentar lagi, ia akan curiga bila adik kesayangannya ini tidak berada di gerbang sekolah saat ia tiba. Dan tak bisa dibayangkan setelahnya jika itu benar-benar terjadi.
"Sasuke, aku tahu semua tentang dirimu, ibuku yang memberitahuku, karena ibuku adalah orang terdekat ibumu sejak lama.."
Kali ini, Sasuke benar-benar lemas. Hari ini terlalu banyak hal mengejutkan yang terjadi. Akhirnya, Sasuke hanya bisa menutup telinganya tak mau mendengar lanjutan dari kata-kata Naruto. Sudah cukup. Ia tak tahan lagi. Mengapa ia harus mengalami hal seperti ini? Begitu hina dan memalukan. Baru saja ia mendengar berita konyol dari kakaknya, dan sekarang ia kembali disodorkan dengan kebenaran yang memalukan. Naruto tahu.
Kiamat. Sasuke ingin bunuh diri.
Naruto memandang Sasuke dengan perih dan satu tangannya meraba bibir sahabatnya itu.
"Kenapa bukan aku yang menjadi ayah dari anakmu, Sasuke?"
Dan Sasuke hanya membalas tatapan Naruto dengan bingung.
"Setelah aku tahu tentang sesuatu yang tidak biasa di dalam dirimu, dan ibuku mengatakan agar aku selalu menjagamu, semakin dewasa, perasaanku menjadi aneh kepadamu. Bukan sekedar ingin melindungi, tapi aku mulai ingin memilikimu.."
Tangan Naruto kini menangkup dagu Sasuke dan mendekatkan bibirnya ke bibir Sasuke. Tentu saja, Sasuke langsung menahan bibir Naruto dengan tangannya ketika hampir mendarat dibibirnya. Dan langsung memalingkan mukanya dari wajah Naruto.
"Hentikan—Naruto… "
Bukan Naruto namanya kalau langsung menyerah begitu saja, tak banyak bicara, si manik biru tersebut menangkap tangan Sasuke yang menghalangi bibirnya dan menyingkirkannya, pelukannya kian erat seolah tak ingin dilepaskan.
"Siapa ayah dari anak ini, Sasuke?" Tanya Naruto dingin.
Sebelum Sasuke menjawab, bibirnya sudah diselimuti oleh bibir Naruto. Dengan gesit Naruto mendominasi mulut Sasuke dan langsung menculik lidah yang ada didalam sana. Seolah tak merasakan pukulan Sasuke didadanya, ia tetap merengkuh tubuh ramping Sasuke dan mencengkeram satu tangannya. Tak membiarkan Sasuke menutup mulutnya, ia terus menjajah rongga mulut Sasuke tanpa ampun, hingga nafas Sasuke menjadi sesak dan terengah, air liur mulai menggenang di pinggir bibirnya hingga akhirnya jatuh mengalir ke lehernya.
"Na—hmnpp.. Mmpphh…"
Tak sampai hati melihat Sasuke kehabisan nafas, ciumannya kini berpindah dari mulutnya menjadi menjilati jejak air liur Sasuke yang mengalir di pinggir bibir, dagu dan leher Sasuke. Merasakan tubuh Sasuke yang kian melemas, Naruto merasa mendapat kesempatan yang lebih besar, ia mulai membuka kancing kemeja Sasuke dan alangkah murka nya Naruto melihat banyak bekas 'tanda cinta' di sekujur leher dan dada Sasuke. Ia melepaskan ciumannya dan langsung mencengkeram lengan atas Sasuke dengan kedua tangannya.
"Siapa Sasuke? Kenapa bukan aku?" Kali ini suara Naruto meninggi.
Dikuasai emosi, Naruto meluncurkan tangannya ke arah kejantanan Sasuke yang sedikit sudah bereaksi akibat ciuman panas barusan, dan langsung meremasnya gemas.
"Ahh! Nii-saan…" Seru Sasuke spontan.
Sudah cukup mengerti Naruto dengan spontanitas Sasuke barusan. Tanpa harus bertanya lagi dan ia tak ingin Sasuke menyebut siapa orang yang bertanggung jawab atas kehamilannya, ia sudah tahu. Dan itu membuatnya muak, perih, dan sangat menyesal. Seandainya ia tahu tentang orientasi seksual Sasuke, ia pasti sudah mendekati makhluk cantik itu sejak mereka sekelas dulu. Penyesalan memang selalu datang terlambat dan itu membuat Naruto marah pada dirinya sendiri.
"Begitu? Jadi, Itachi ya? Kakakmu sendiri?" Desis Naruto geram.
Dengan penuh emosi dan gelap mata, Naruto langsung memojokkan Sasuke ke dinding dan menarik paksa baju seragamnya, hingga kancingnya terlepas. Sasuke takut, ia benar-benar takut. Pengaruh hormon? Ia ingin melawan, tapi tak bisa. Ia terlalu takut.
"Jangan… Naruto…. Hentikan, kau menakutkanku…."
Menyeringai perih, Naruto hanya terkekeh sinis.
"Menjijikkan Sasuke, kau takut padaku, sementara kakak kandungmu sendiri menyerangmu, kau tak takut? Rendah sekali, Uchiha Sasuke…"
Segera mengunci tangan Sasuke diatas kepalanya, Naruto menyelipkan kakinya diantara kedua kaki Sasuke untuk menyangga tubuh Sasuke agar tak jatuh, dan langsung menyerang leher putih Sasuke, seolah ingin menggantikan jejak cinta Itachi disana dengan miliknya. Ia tak rela. Ia tak mau Sasuke direbut oleh siapapun. Entah sejak kapan Naruto begitu menginginkan Sasuke menjadi miliknya namun ia selalu tak sanggup untuk bergerak.
"Nii-san… Nii-saann…"
Air mata Sasuke mengalir. Dan ia hanya bisa menyebut kakaknya. Disisi lain ia sadar bahwa ia membutuhkan Itachi dan ternyata cintanya hanya untuk sang kakak, kini ia merasa sedang mengkhianati orang yang dicinta dan mencintanya. Namun, disisi lain pula ia merasa bahwa kakaknya lah penyebab semua ini terjadi, ia menyesal. Ia hanya ingin kekuatan untuk menghindar dari belenggu Naruto, namun semuanya lenyap akibat hormon yang mengungkungnya.
"Sebut namaku, Sasuke – kau milikku!"
Jiwanya kembali terbentur, hatinya remuk dan serpihan nyawanya terpecah belah. Belum selesai ia berurusan dengan kenyataannya yang begitu berat, kini Naruto yang selama ini ia percaya sebagai teman terbaiknya, mengkhianatinya dengan emosi dan ambisinya. Tatapan matanya kosong. Ia tak sanggup untuk berpikir lagi, ia tak ingin memprediksi lagi. Terlalu menakutkan. Ia akan bersyukur sekali jika saat itu juga dewa kematian datang mencabut nyawanya.
Naruto menghentikan serangannya saat dirasakan paha yang diselipkan diantara kedua kaki Sasuke terasa basah. Ia melihat ke bawah, dan alangkah terkejutnya Naruto ketika menyentuh daerah tersebut, ternyata yang membasahinya adalah cairan berwarna merah.
Darah. Sasuke berdarah.
Panik. Naruto langsung menghubungi Neji dan Gaara dengan ponselnya. Dilihatnya Sasuke yang hanya memandang kosong lurus ke depan, Naruto merasa ditampar oleh dosa yang amat berat. Apa yang ia lakukan pada Sasuke? Mengapa ia menyerangnya? Terlalu cemburu? Terlalu menyesal? Merasa tak mampu? Ia langsung mendekap Sasuke dengan erat.
"Sasuke, maaf – Maaf, maafkan aku, Sasuke—Kumohon, maafkan aku – aku khilaf.." Ceracau Naruto.
Namun percuma. Sasuke sudah terguncang.
Belum hilang rasa panik Naruto, pintu ruang olah raga digeser dengan tergesa, dan dilihatnya Neji dan Gaara disana. Sedikit melegakannya, namun ia kembali bergidik ngeri karena ternyata temannya itu tidak datang berdua, namun dengan seseorang yang amat dikenalnya. Itachi, yang tak lain adalah kakak dari malaikat yang baru saja dihancurkannya.
"Naruto … Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?" Hardik Itachi yang langsung memisahkan adiknya dari pelukan Naruto.
Itachi tahu bahwa Naruto menyimpan perasaan lain pada adiknya, namun ia menutupinya tak ingin mempermasalahkannya karena kenyataannya adiknya memilihnya sebagai pelabuhan cintanya. Tapi, kejadian sekarang ini sudah keterlaluan.
"Bicaranya nanti saja, Itachi-san – sebaiknya kita bawa Sasuke ke rumah sakit sekarang…" Sela Neji.
Sang kakak mengernyitkan alisnya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ketika melihat lantai tepat dibawah kaki Sasuke ada genangan darah, ia panik dan langsung menggendong Sasuke keluar ruangan, Naruto dan kedua temannya mengikuti Itachi. Seisi sekolah langsung gaduh, terutama kaum hawa melihat idola mereka kolaps dan di gendong oleh kakaknya keluar dari sekolah. Beruntung Neji dan Gaara menjadi pagar betis bagi langkah Itachi agar tak terhalang kerumunan gadis-gadis berisik itu.
"Sasuke – apa yang sebenarnya terjadi?" Bisik Itachi sambil mempererat dekapannya.
.
.
.
Sementara itu di mobil …
"Ne~ Sasori-danna .. Aku juga ingin hamil seperti Sasuke-kun ..un!" Rengek Deidara sambil merebah manja di dada Sasori.
Kisame memutar bola matanya mendengar rengekan si pirang yang konyol itu.
"Yang benar saja, Dei-chan .. "
Rengekan Deidara kembali berlanjut, begitulah, 'istri' dari si rambut merah Sasori ini tak kan berhenti bicara jika ia belum puas atau keinginannya belum dipenuhi. Kisame lelah jiwa mendengarnya. Ingin rasanya ia menendang Deidara keluar dan meninggalkannya sendirian, bisa dibayangkan amukan seperti apa yang akan diterima Sasori bila itu benar-benar terjadi.
Kening Kisame berkerut melihat Itachi yang keluar gerbang sekolah yang tengah menggendong Sasuke dengan langkah terburu. Tak melepaskan pandangannya, si biru jangkung itu menarik rambut Sasori dan kunciran Deidara agar melihat keluar.
"Buka pintunya. Ada yang tak beres.."
Deidara menurut dan langsung keluar dan menyambut Itachi.
"Sasori kau pindah ke depan, Kisame kita ke rumah sakit.."
Melihat Gaara, Sasori agak terkejut namun hanya tersenyum geli.
"Tak kusangka bisa bertemu keponakanku yang manis disini.."
Sambil keluar dari mobil, Sasori membuka pintu belakang mobil dan menyuruh Naruto, Neji dan Gaara untuk segera naik, sementara ia sendiri pindah ke bangku depan. Setelah Itachi masuk di bangku tengah, Deidara menyusulnya. Mobil pun meluncur.
Naruto memajukan badannya dan meraih tangan Sasuke.
"Sasuke, maafkan aku.."
Itachi menepis tangan Naruto.
"Jangan sentuh adikku lagi, Naruto… Kuperingatkan kau!"
Sesekali Kisame melirik ke belakang melihat kedua Uchiha tersebut. Ia juga penasaran dan sedikit panik melihat si bungsu kolaps seperti itu. Ia berkali-kali menelan ludahnya dan menarik nafas panjang berusaha tenang dan konsentrasi mengemudi. Demi Tuhan, Kisame tak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Itachi jika adiknya benar-benar mengalami keguguran. Kembali terngiang ditelinganya kata-kata Itachi di kampus tadi yang mengkhawatirkan adiknya mengalami keguguran.
Suasana di dalam mobil begitu tegang dan kaku. Bahkan Deidara benar-benar mengunci rapat mulutnya. Itachi menahan emosi dan airmatanya sekaligus, hanya berkali-kali mencium kening dan puncak kepala adiknya yanh sedang dipangkunya, tak peduli bercak darah adiknya yang sudah melebar di baju dan celananya. Ia hanya mengkhawatirkan kondisi Sasuke dan malaikat kecilnya yang kini terancam didalam rahim Sasuke.
"Sasuke – aku disini, kumohon kau baik-baik saja.."
Itachi mencium tangan Sasuke dan menaruhnya dipipinya seolah berusaha membawa Sasuke kembali kepada kesadarannya. Gaara dan Neji hanya memandang keluar jendela tak sanggup melihat keadaan Uchiha bersaudara tersebut. sementara Naruto bingung dan tenggelam dalam penyesalannya yang mengakibatkan orang yang dicintainya ini celaka.
.
.
TBC
Thanks for reading.
Please leave your review.
Best regards.
Ngerasa ga sih kalo Kisame kayaknya naro hati ke Itachi? Dan keliatan ga slight NejiGaa disitu? :-D
