Suasana mobil yang begitu tegang dan kaku, Kisame yang terlihat sedikit gemetar mengendarai mobil, hingga Neji dan Gaara yang terkenal tenang dan rasional bisa berekspresi kalut seperti itu, membuat Naruto semakin bersalah. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Itachi dan mengakui kesalahannya. Ia terima apapun pelajaran yang akan diberikan Itachi, ia sadar bahwa kesalahannya begitu besar. Rasa cemburu dan penyesalannya benar-benar membuatnya gelap mata. Juga tak bisa menerima hubungan terlarang Sasuke dengan kakaknya. Ayolah, hubungan adik kakak itu incest. Mungkin Naruto akan lebih menerima dan merelakan Sasuke bersama laki-laki lain - jika memang Sasuke seorang gay, tapi dengan kakaknya sendiri?
Namun begitulah, cermin sudah terlanjur pecah, sekalipun kau memiliki perekat terbagus sedunia dan bisa menyusun serpihan cermin tersebut, tetap tak kan bisa menghilangkan bekas retakan yang ada, dan retakan itulah yang menyebabkan kau tak bisa melihat bayangan dirimu secara sempurna di cermin tersebut. Jalan satu-satunya kau harus membeli cermin yang baru dan melupakan cermin yang retak tersebut. Apa? Naruto harus melupakan Sasuke? Untuk menebus dosanya? Tak mungkin. Lebih baik ia bunuh diri.
"Itachi, aku minta maaf…" Ujar Naruto tiba-tiba.
Itachi yang baru saja selesai menelepon dokter kandungan yang menangani Sasuke dulu tak begitu mempedulikan Naruto, ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Sasuke. Adiknya yang kini tak sadarkan diri karena shock dengan apa yang beberapa waktu lalu menimpanya. Sementara darah terus merembes dari celana sekolahnya, tidak banyak tapi tetap saja membuat khawatir, Itachi tak kan berani mencuci celana Sasuke yang penuh darah itu, tak bisa dibayangkan olehnya jika ia harus memeras kain tersebut dan yang terperas adalah cairan berwarna merah. Sebagai penekanan adalah cairan merah yang berasal dari dalam tubuh adiknya sendiri. Menyeramkan.
"Ini salahku, aku khilaf menyerang Sasuke.." Lanjutnya.
Kali ini Itachi sedikit bereaksi dengan kata-kata Naruto. "Menyerang" katanya? Memperkosa maksudnya?
"Apa maksudmu 'menyerang' Sasuke?" Tanya Itachi mencoba menyusun suaranya agar terdengar datar.
Naruto menunuduk. Ia bingung harus menjelaskannya. Tapi ia ingin mengakuinya. Sudah menjadi sifat Naruto yang selalu jujur dan konsekwen menerima pertanggung jawaban apapun untuk kesalahannya.
"Tadi di ruang olah raga, aku …. Sasuke …. "
Tiba-tiba….
"Aarrgghh… Sakit…. Itachi… Aagghh…" Jerit Sasuke sambil meremas baju Itachi dan langsung meringkukkan badannya di pangkuan sang kakak.
"SASUKE!"
Kisame langsung menginjak rem. Semua yang ada di mobil panik, terlebih sesaat setelah Sasuke berteriak barusan, darah yang merembes tadi kini keluar lebih banyak seperti tumpah. Itachi memejamkan matanya dan menggigit bibirnya menahan perasaannya yang berkecamuk tak karuan. Ia benar-benar merasa bahwa adiknya ini mengalami keguguran spontan. Ia pernah baca di buku tentang kesehatan pada kehamilan dan tanda-tanda abortus adalah yang seperti ini.
"Matikan AC dan buka jendela.." Perintah Itachi.
Wajah Deidara memucat karena kali ini darah Sasuke ikut tumpah ke celananya, ia bukan menyesal duduk disamping Itachi dan menyangga kaki Sasuke, Cuma ia benar-benar tak tahan kalau harus melihat darah yang begitu banyak mengalir didepan matanya. Naruto semakin kalut, ia ingin memeluk Sasuke, tapi itu tak mungkin karena Uchiha kesayangannya itu bukan miliknya. Sementara Gaara menutup mulutnya agar ia tak muntah ditempat, dan Neji hanya mengusap punggung kekasih gothicnya ini menenangkannya.
"Ngh! Ukh! Sakit! Itachi.. sakit! Gara-gara kau! Gara-gara anak ini, aku jadi kesakitan.." Amuk Sasuke, kali ini ia meremas perutnya. Bukan karena marah, tapi karena sakit. Rasanya mulas dan seperti ada yang mendorong ingin keluar.
"Kisame, kenapa berhenti? Cepat jalan!"
Si jangkung itu hanya terpaku dan Sasori memijat keningnya lalu menendang pelan Kisame, menyuruhnya keluar dan berpindah posisi tempat duduk.
"Aku saja yang menyetir.."
Posisi supir diganti oleh Sasori, Deidara lompat ke jok depan disamping Sasori, sepertinya ia sudah menangis karena shock, dan Kisame duduk di jok tengah menjadi pengganti Deidara untuk menyangga kaki Sasuke.
"Maaf, Sasuke .. Gara-gara aku, kau jadi mengalami hal seperti ini.." Bisik Itachi sambil mencium kening Sasuke lalu memeluk tubuh adiknya yang masih meronta antara kesal dan sakit.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, beberapa perawat sudah menunggu kedatangan mereka di pintu Unit Gawat Darurat dengan blankar dan infus set, Sasuke masih berontak dan berteriak kesakitan, hingga perawat agak kesulitan untuk mengecek tekanan darahnya dan memasangkan infus padanya. Walaupun pada akhirnya mereka berhasil juga dan membawa Sasuke ke ruang obstetrik ginekologi.
Terlihat dokter yang biasa mengangani Sasuke sejak awal itu menarik nafas berat dan menyuruh Itachi membuka celana Sasuke. Sepertinya ia juga agak bingung menghadapi kasus kehamilan pada lelaki ini, tapi ia harus mencobanya, ia sudah berkolaborasi dengan ahli kandungan dari rumah sakit lain. Sang dokter hanya memandang Sasuke dengan agak sedih karena ia sudah tahu apa yang terjadi pada pasien uniknya yang satu ini.
"Aku sudah bilang sebelumnya, jangan sampai stress, pada usia kehamilan muda, akan rentan sekali terjadi abortus.." Dokter cantik itu mendengus pasrah sambil memasangkan sarung tangan sterilnya.
Sasuke hanya memalingkan mukanya sambil meringis, sepertinya kontraksi di perutnya agak berkurang, dan Itachi terus memegang tangan adiknya. Rekan dokter tersebut menekuk kaki Sasuke yang masih berlumuran darah dan melebarkannya, muka Sasuke memerah malu. Itachi merebahkan tubuh bagian atasnya dan sedikit menindih dada Sasuke menghalangi adiknya untuk melihat ke arah bawah agar ia tak berontak.
"Aagghh…. Sakit…. Apa yang sedang kalian lakukan?" Seru Sasuke saat merasakan beberapa jari yang licin masuk ke dalam lubangnya tanpa izin.
"Kami sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang keguguranmu, Uchiha-kun – apakah perlu dilakukan pembersihan total atau tidak. Tarik nafas panjang, dan tuan Itachi bisa mengajaknya bicara atau memberikannya sentuhan fisik yang menenangkan.." Saran dokter laki-laki yang kini sedang mengobservasi Sasuke.
Sasuke mencengkeram baju Itachi dan menggigit bibir bawahnya. Perasaannya benar-benar tak karuan, perutnya sakit, ia malu, kesal dan bingung. Ia ingin segera mengakhiri sesi yang sama sekali tidak nyaman ini. Itachi memandang sedih adiknya dan terus mencium kening dan tangan Sasuke berulang-ulang. Ia juga kalut karena ia kehilangan buah hati dambaan yang selalu di nantinya. tapi ia pun tidak tega melihat Sasuke sedemikian menderitanya.
Dilihat pula oleh Itachi, beberapa alat yang terbuat dari besi menginvasi lubang adiknya, ia mendesis linu. Ditambah dokter juga memberikannya suntikan di pahanya. Entah obat apa itu, yang jelas membuat Itachi semakin tidak tega. Ia kembali memalingkan mukanya ke arah Sasuke dan mencium bibirnya dengan sayang. Seolah meminta maaf atas semua yang sudah terjadi.
"Adik anda sudah kami berikan suntik kontraksi, karena ia mengalami abortus spontan namun tidak lengkap, karena itulah masih terjadi pendarahan. Masih ada sisa-sisa selaput atau gumpalan didalam rahimnya.."
Itachi hanya mengangguk tanda mengerti. Sementara Sasuke dibersihkan dan terus di pantau tekanan darah dan keadaan umumnya. Dokter wanita itu mengajak Itachi untuk berbicara di mejanya.
"Uchiha Sasuke – adik anda harus dilakukan pembersihan total yang disebut kuretase, sebelumnya anda harus menanda tangani ini dulu agar kami bisa melaksanakannya sesegera mungkin.. bila tidak, ia akan terus mengalami pendarahan. Bersyukur ternyata adik anda sesuai dengan dugaan saya, ada mulut rahim yang terdapat di rektumnya, jadi tak perlu dilakukan operasi. Sungguh, kejadian ini luar biasa dan rekan saya pun masih tak habis pikir.." Jelasnya.
"Saya bisa menemaninya, dok? Atau apakah Sasuke akan merasakan sakit lagi?"
Belum sempat dokter tersebut menjawab pertanyaan naluriah Itachi barusan, tiba-tiba terdengar lagi jeritan Sasuke, kali ini lebih keras. Sepertinya Sasuke sangat kesakitan, Itachi bangkit dari duduknya hendak menghampiri Sasuke, namun ditahan oleh sang dokter.
"Tak apa, itu reaksi alami, karena tadi kami sudah memberikan injeksi kontraksi uterus. Untuk memudahkan kami melakukan kuretase juga. Sekarang kami hanya tinggal menunggu keadaan umum Uchiha-kun lebih stabil.. Tenang saja, kami tentu akan memberikan anestesi karena proses tersebut nyaris seperti melakukan operasi kecil.."
Dengan berat hati Itachi, mengangguk mengerti dan menandatangani persetujuan tindakan, lalu kembali ke sisi Sasuke, mencium tangannya dan keningnya. Kemudian, keluar ruangan meninggalkan Sasuke yang masih menjerit-jerit. Itachi tak pernah mengira kehamilan, aborsi dan persalinan bisa begini mengerikan dan menyakitkan. Ia salut pada seluruh wanita didunia ini yang rela menempuh masa-masa sulit tersebut demi memperpanjang keturunan. Tak peduli berapa kalipun dalam hidup mereka untuk mengandung dan melahirkan.
Itachi menutup pintu ruang ginekologi sambil menghela nafas berat dan memijat keningnya. Dengan terhuyung ia duduk dikursi sambil mengusap mukanya dengan telapak tangannya. Tentu saja, ia juga dihujani pertanyaan dari teman-temannya plus teman Sasuke.
"Sasuke akan di kuretase hari ini juga, kalian kalau ingin pulang silakan bawa mobilku.." Hanya itu yang menjadi jawaban Itachi menanggapi pertanyaan mereka.
"Sasori-danna .. aku tak jadi hamil.. aku tak mau.. " Rengeknya ketakutan.
Sasori hanya men-deathglare kekasih manjanya ini.
"Menurut kami, lebih baik kau pulang, Itachi .. kau harus memberitahu ibumu dan membawanya kemari.." Usul Gaara akhirnya buka suara.
"Aku setuju dengan keponakanku.. " Sambung Sasori sambil melirik Gaara.
Itachi menjambak rambutnya dan memijat kepalanya. Memang benar apa kata teman Sasuke yang manis berambut merah persis seperti Sasori ini, ia harus pulang dulu, mengganti bajunya dan memberitahu Mikoto tentang apa yang dialami putra bungsunya. Tapi, ia masih tak sanggup kalau harus berjarak dari Sasuke beberapa meter lagi dari tempatnya duduk. Seandainya diperbolehkan, Itachi akan memilih menunggui Sasuke tepat disampingnya.
"Aku ingin bicara dulu dengan Naruto berdua, tolong tinggalkan kami.." Jawab Itachi masih belum memberikan keputusan apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Semua kecuali Naruto akhirnya menarik nafas panjang dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, mereka melangkah pergi.
"Tak perlu menjelaskan apapun lagi, Naruto .. Aku sudah tak ingin mendengarkan apapun lagi. Aku tahu semua yang terjadi, dan sekarang semua sudah terlanjur. Aku hanya ingin mulai dari detik ini juga, jangan pernah muncul lagi dihadapanku apalagi Sasuke.."
"Tapi, Itachi, Sasuke – dia temanku sejak kecil. Aku tahu semua rahasia tentangnya. Bukan hanya kau, bahkan sebelum kau tahu tentang Sasuke yang seperti itu, aku sudah tahu terlebih dahulu karena itulah aku ingin selalu disampingnya dan…"
Naruto menghentikan sebentar kata-katanya. Karena ia ragu dan merasa tak pantas mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Melindunginya? Menjaganya? Bahkan yang kau lakukan adalah mencelakakannya, Naruto.." Sambung Itachi sarkasme.
Naruto tertunduk. Ia sadar sepenuhnya bahwa Sasuke benar-benar celaka karena ulahnya. Seharusnya ia lebih mengerti dan mencoba bicara dengan Sasuke dengan sedikit lebih tenang. Tindakannya hanya membuat Sasuke tertekan dan akhirnya, inilah yang terjadi. Naruto menyesal. Sungguh.
"Aku tak mungkin jika harus menjauh darinya. Aku juga mencintainya, sama atau mungkin lebih dari kau mencintainya. Aku tak peduli walau kau melarangku. Aku minta maaf atas kesalahanku. Aku akan menebus dosaku pada Sasuke. Pasti. Tapi, tolong jangan tutup jalanku untuk tetap ada untuk Sasuke.." Jawab Naruto tegas.
Itachi mendengus geli. Ia merasa apa yang dikatakan Naruto adalah hal yang konyol. Dan kini ia merasa Naruto adalah orang yang mengganggunya. Mengganggu dia dan Sasuke. Lebih dari sekedar cemburu karena Itachi tahu bahwa Naruto mencintai adiknya.
"Jadi, kau ingin bersaing denganku, hm? Lucu sekali Naruto.."
Naruto berdiri di hadapan Itachi. dan memandang kakak dari orang tercintanya itu dengan tajam.
"Bukan. Aku tahu aku tak kan pernah mendapat cinta dari Sasuke, aku sadar sepenuhnya bahwa Sasuke hanya mencintaimu, bahkan ketika aku tadi menyentuhnya pun, hanya namamu yang terlontar dari mulutnya.."
Itachi balas menatap Naruto, ia masih belum mengerti apa yang diinginkan si rambut durian pirang ini. Tak cukupkah ia sudah menghancurkan harapannya dan membuat Sasuke menderita?
"Aku berjanji hal yang seperti itu tak kan terulang lagi, aku benar-benar akan menjaga Sasuke dan selalu mendukungnya. Karena itu biarkan aku tetap berada disisi Sasuke, setidaknya sampai aku memutuskan atau diputuskan untuk menikah atau mati sekalipun.. Beri aku kesempatan, Itachi.."
Begitulah, sedikit banyak ia memang mengenal Naruto, dia tahu Naruto adalah pribadi yang tulus. Hatinya bersih, tipe yang menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, namun matanya tetap tertuju ke depan. Memang akan sangat tidak dewasa jika Itachi harus memusuhi Naruto, toh Naruto adalah teman terdekat Sasuke, setidaknya sejak Sasuke satu sekolah dengan Naruto bisa dibilang Itachi ibarat menitipkan Sasuke pada Naruto selama disekolah dan berada di lepas pandangannya.
Tapi, entah mengapa kekecewaan akibat adik tercintanya disentuh dan karena itu juga ia kehilangan buah cintanya yang sudah ditunggu dan didamba, membuat lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan 'baiklah, aku memaafkanmu'. Itachi masih belum bisa menerima kenyataan. Mungkinkah Kami-sama memang belum mempercayakan Sasuke untuk memiliki anak? Pelajaran apa yang ingin Kami-sama berikan pada mereka, Itachi sama sekali belum mengerti.
Yang diinginkan Itachi adalah memutar balikkan waktu tiga jam kebelakang saja setidaknya. Jadi ia bisa sampai ke sekolah Sasuke lebih cepat dan kejadian ini dapat tercegah.
"Aku masih butuh waktu, begitu juga Sasuke, setidaknya untuk sementara ini, biarkan aku dan Sasuke merenung. Jangan hadir dihadapanku dan Sasuke - tunggu jawaban Sasuke juga tentangmu.." Hanya itu yang menjadi jawaban Itachi.
Benar. Ia tak boleh memutuskan sendiri. Bagaimanapun Itachi ingin memisahkan Naruto dari adiknya, tapi Naruto adalah sahabat adiknya, jika ia secara sepihak memutus ikatan persahabatan mereka, maka ia melanggar wilayah adiknya lagi. Sangat tidak bijaksana dan Sasuke akan kecewa padanya. Itachi kembali menutup mukanya dengan telapak tangannya, menarik nafas panjang, dan menyender sejenak di tembok sambil memejamkan matanya.
"Aku mengerti, Itachi – aku akan menunggu kalian. Aku pulang dulu. Aku minta maaf. Sampaikan salamku pada Sasuke.." Pamit Naruto sambil membungkukkan badan lalu berbalik dan berlari menjauhi Itachi.
Itachi membuka matanya setelah derap langkah Naruto sudah tak terdengar, ia menatap langit-langit atap rumah sakit dengan tatapan kosong. Ia kembali teringat pertama kali Sasuke di diagnosa kehamilannya disini, mood swing Sasuke, ngidam Sasuke yang baru saja dimulai beberapa hari ini seperti minta onigiri di tengah malam, berkali-kali Itachi bertengkar dengan adiknya karena kehamilannya, kesabarannya yang luar biasa diuji. Ah, Itachi merindukan semuanya. Kini, malaikat kecil yang ditunggunya dengan sabar dan penuh harapan, akan hilang.
Tetesan airmata yang hangat, menyadarkan Itachi dari lamunannya. Ia memang masih memiliki banyak keterbatasan, dihadapkan dengan hal ini, ia merasa lemah. Antara sadar atau tidak, Itachi menelepon ibunya dan memberi kabar tentang yang sedang terjadi saat ini. Tak ingin berlama-lama dan mendengar lebih banyak teriakan histeris ibunya, ia langsung menutup telepon dan menghubungi Kisame.
"Aku tak bisa pulang, aku tak ingin meninggalkan Sasuke. Begitu juga ada beberapa administrasi yang harus kuselesaikan. Kalian pulanglah, maaf dan terima kasih aku sudah merepotkan kalian semua.. Kisame aku minta tolong lagi padamu untuk menjemput ibuku, aku sudah meneleponnya dan memberitahu apa yang terjadi.. Maaf.. "
Hening. Sepertinya kelima orang tersebut tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya bisa berusaha memahami suasana hati Itachi saat ini. Kisame hanya mengangkat bahu dan mengangguk.
"Aku dan Gaara akan pulang berdua, jadi kalian tak perlu mengantar kami. Terima kasih. Dan Itachi, sampaikan salam pada Sasuke jika sudah lebih santai, kami akan menjenguk lagi nanti.." Pamit Neji sambil menggenggam tangan Gaara.
.
.
.
Sekitar pukul delapan malam, Sasuke tersadar dan dilihatnya kakaknya ada disampingnya. Dan yang pertama kali melihat Sasuke sadar adalah Itachi. jelas, setelah keluar dari ruang ginekologi, Itachi tak beranjak dari sisinya dan terus menggenggam tangannya. Mikoto yang membaca gerak spontan Itachi langsung menyadari bahwa putra bungsunya telah sadar. Ia menekan bel perawat lalu mendekati anak-anaknya.
"Kau sudah sadar, Sasuke?" Tanya ibunya lembut sambil tersenyum.
"Ada yang terasa sakit, Sasuke?" Itachi ikut bertanya.
Sasuke hanya menggeleng. Ia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi, lalu meraba perutnya. Bagian bawahnya masih terasa sakit, mungkin karena pengaruh bius sudah habis, ia hanya meringis dan memiringkan sedikit badannya. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Begitupun, Itachi dan Mikoto tak ingin banyak bertanya dulu pada Sasuke.
Tak lama, seorang perawat dan dokter datang. Lalu mengecek seluruh keadaan umum Sasuke. Fisik maupun psikologis.
"Kau keguguran, Uchiha-kun. Entah apa yang menyebabkannya, tapi yang kami lihat tak ada trauma atau benturan apapun secara fisik di rahim dan—err, sekitarnya.." Ujar dokter yang dijawab dengan lirikan mata Sasuke.
"Kemungkinan besar, kau mengalami stress yang berlebihann hingga menyebabkan kontraksi, benar?" Kali ini dokter bertanya untuk memastikan keadaan psikologis Sasuke masih baik-baik saja.
"Hn.."
Tak masalah, Sasuke bisa merespon pun itu sudah bagus, berarti psikologisnya stabil. Dokter mengajak Mikoto untuk bicara secara pribadi. Sementara, Itachi tetap di samping Sasuke yang masih diam.
"Keadaan umumnya bagus, kesadarannya stabil, tekanan darahnya normal, besok pagi, sudah boleh pulang.." Jelas dokter pada Mikoto sebagai pembuka.
Mikoto menarik nafas lega. Dan menyimak penjelasan sang dokter selanjutnya.
"Sebisa mungkin, tak perlu mengungkit apa yang sudah terjadi, tadi aku sudah sempat menanyakannya hanya untuk memastikan kondisi kejiwaannya saja. Untuk selanjutnya tolong dihindari. Misalkan ia sendiri yang berinisiatif untuk membahas, jawab seperlunya dan berikan jawaban yang menenangkan.."
Sementara Mikoto dan dokter bicara, Itachi sibuk membelai rambut dan pipi Sasuke, sesekali mencium tangannya. Begitu banyak yang ingin dibicarakan oleh Itachi sebenarnya, tapi ia tak ingin membuat adiknya merasa tertekan. Ia juga tertekan, ia juga sedih karena kehilangan, tapi ia mengerti Sasuke lebih sakit, secara fisik dan mental.
"Kita besok pulang, Otouto .. Kau mau makan di restoran mana?" Tanya Itachi pelan.
Ia memang hanya ingin menghibur adiknya, menunjukkan pada Sasuke bahwa semua sudah baik-baik saja. Berusaha tegar walaupun masih menganga luka akibat kehilangan buah hati dambaannya. Dan karena itu pula lah, Itachi tak mau kehilangan lagi. Tak ingin kehilangan Sasuke. Ia harus tetap menjaga adiknya agar bisa kembali seperti semula.
"Maaf - " Gumam Sasuke tiba-tiba.
Itachi terkejut, langka sekali Sasuke meminta maaf dengan serius seperti itu. Wajah Sasuke memang masih menghadap ke arah luar jendela, tapi Itachi bisa melihat tatapan mata Sasuke begitu lelah dan menyimpan penyesalan. Dilihatnya pula, tangan Sasuke yang masih mendarat di perutnya, kini sedikit digerakkannya seperti sedang mengusap lembut perutnya. Itachi akhirnya ikut menggenggam tangan Sasuke di perutnya tersebut.
"Aku tak mengerti mengapa kau minta maaf, Sasuke - tapi, aku sedang tak ingin membicarakan hal itu. Aku ingin melihat senyummu dan matamu yang memandangku.." Jawab Itachi mengalihkan pembicaraan Sasuke.
Sang kakak menolehkan wajah Sasuke ke arahnya. Ia tak boleh membiarkan Sasuke terus membahas hal yang sebaiknya tak dibicarakan sekarang. Itachi tersenyum lembut pada Sasuke, memandang adiknya dengan hangat sambil membelai pipinya. Adiknya terbaring pucat dan terlihat lemah, Itachi ingin merengkuhnya dalam pelukannya. Selang infuse dan transfusi darah yang menempel di kedua tangan Sasuke semakin membuatnya tak tega.
"Nii-san - aku…..Anakmu.. Aku membu-"
Itachi buru-buru menaruh telunjuknya di bibir Sasuke, tak ingin mendengarkan kata-kata Sasuke selanjutnya. Pertama tak ingin Sasuke semakin tertekan, kedua, ia sendiri tak kan sanggup kalau harus kembali memikirkan itu. Usahanya mensugestikan diri selama menunggu Sasuke di kuretase akan sia-sia. Setelah itu ia mengecup bibir Sasuke dengan lembut. Menunjukkan bahwa ia menerima dan tetap mencintai Sasuke.
"Aku mencintaimu, Otouto…" Jawab Itachi.
Dan itu hanya membuat Sasuke semakin terluka, mengapa Itachi masih selembut itu padanya? Mengapa Itachi tak menyalahkannnya? Setidaknya ia ingin Itachi memarahinya, seperti biasa. Seperti setiap ia melakukan kesalahan, maka Itachi akan memarahi Sasuke, walaupun memarahi dalam konteks sayang. Sikap lembut Itachi malah membuat Sasuke semakin gelisah dan serba salah.
"Kenapa kau tak memarahiku, Itachi?" Tanya Sasuke datar.
Itachi mengangkat sedikit alisnya dan tetap berusaha menjaga senyumnya didepan Sasuke, kemudian mencium keningnya sambil terus mengusap perut Sasuke.
"Aku akan marah jika kau tak memanggilku 'Nii-san' – aku sampai lupa kapan terakhir kau memanggilku begitu.. "
Kesal karena Itachi terus-terusan mengalihkan pembicaraan mereka, Sasuke hanya menepis tangan Itachi dan membalikkan badannya ke arah yang berlawanan dari Itachi. membelakangi Itachi, entah mengapa Sasuke merasa pedih, ia merasa bersalah, dan seperti ada lubang besar menganga didalam hatinya. Rasa penyesalan, kehilangan dan pengkhianatan. Padahal ia tak menginginkan kehamilan ini, tapi kini ia merasa kehilangan.
Dan sang kakak, hanya memeluk sang adik dari belakang, menaruh dagunya di bahu Sasuke, sambil terus mengusap rambutnya. Diciumnya tengkuk Sasuke dengan hangat, menyesap aroma manis yang selalu menempel ditubuh adiknya. Itachi sangat menyayangi Sasuke, lebih dari siapapun.
"Kita lupakan, Sasuke – kita akan perbaiki semuanya.." Bisiknya diperpotongan leher Sasuke. Lalu memciumnya kilat.
Tanpa sadar, airmata mengalir dari sudut mata Sasuke, mungkinkah efek hormon masih belum sepenuhnya hilang? Entahlah, perasaan Sasuke begitu kompleks, sikap kakaknya yang terlalu hangat membuatnya kalut. Menyadari bahwa ia baru saja melewati proses aborsi, rasanya begitu menyesakkan. Antara menyesal dan kehilangan. Mengingat bahwa tubuhnya sempat disentuh oleh Naruto, ia merasa dikhianati sahabatnya sekaligus mengkhianati kakaknya. Apa yang harus ia lakukan? Memperbaiki apanya? Apa yang bisa dilakukannya? Semua sudah terjadi kan? Waktu tak kan terulang walau hanya satu detik?
"Jangan menangis, kau tahu? Kau menghilangkan waktu hidupku sebanyak satu hari setiap tetes airmata membasahi pipimu, Sasuke… Kau tega membunuhku perlahan seperti itu?" Tanya Itachi sambil terus menciumi leher Sasuke, walaupun ia tak melihatnya, ia tahu Sasuke menangis.
"Nii-san….."
Kembali menolehkan wajah Sasuke dan kini ia mengulum lembut bibir adiknya, Sasuke hanya bisa memejamkan matanya. Ia mengerti, kakaknya berusaha meyakinkannya bahwa masih ada hari esok. Hari esok itulah yang harus di gunakannya sebaik mungkin. Tak ada yang bisa merubah masa lalu, tapi masa depan, masih bisa direncanakan. Yang harus Sasuke lakukan adalah belajar dari hal yang sudah terlanjur seperti ini. Berkaca pada pengalaman ini.
"Aku akan selalu ada untukmu, Sasuke – itulah arti diriku sebagai kakakmu.." Tutup Itachi.
.
.
.
END
Sequel for Secret - selesai disini, akan ada sequel selanjutnya. Oia, ada side story NejiGaa nanti.
Tujuan gue bikin unexpected ending begini untuk ngasih Sasuke hikmah dulu.. biar nanti kalo hamil lagi dia bakalan siap dan mudah-mudahan jadi kisah yang manis. Ga tau nanti di sequel selanjutnya bakal time skip ato ngga.
Fugaku muncul di sequel kedua nanti ya. Sementara sequel pertama istirahat dulu.. di jeda sama beberapa fic lain, oke?
Stay calm and love ItaSasu – dan gue /plak/ - as always.
Thanks for reading.
Please leave your review.
Best regards.
Artemis Templar
