"Draco, please. Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu."

"Aku juga. You're My Soul, Hermione Granger."

-o0o-

Disclaimer : J.K. Rowling, tetapi ide dan cerita murni punya saya

Pairing : DraMione

Rated : T

Latar : Ketika Harry Potter dan kawan-kawan mencari Horcrux

Warning : OOC, typo (padahal saya sudah berusaha tidak typo), cerita gaje, berbeda dengan yang di novel/film (namanya juga ffn), alur gk beraturan, dll.

DON'T LIKE, DON'T READ

(Chapter 2)

-o0o-


"Tidak. Cari saja makananmu sendiri. Aku tak tahu makanan musang sepertimu." Ucap Hermione ketus tanpa berbalik menghadap Draco. ia menghentakkan kakinya keluar tenda menghindari Draco. Namun tanpa sepengetahuan Hermione, Draco mengikutinya secara diam-diam.

"Ah... Dasar Musang Sialan. Kenapa ia harus berada disini, sih?" umpat Hermione frustasi sambil menendang dahan-dahan kering yang ia lewati. Ia terus berjalan sambil mengumpat-ngumpat tak jelas. Hermione tidak sadar, bahwa dirinya sudah melewati batas Mantera Perlindungan. "Kenapa harus ada dia di dunia ini? Aku sudah cukup muak mel—" ucapan Hermione terpotong karena ada seseorang yang menariknya dan mendorong tubuhnya ke batang pohon dengan kasar. Hermione merintih. "Malfoy, apa yang—"

"Sshhtt... diam, Granger." Draco membekap mulut Hermione. Mereka saling bertatapan, manik hazel hangat Hermione bertemu dengan manik kelabu dingin Draco. Jarak mereka sangat dekat, bahkan hampir bersentuhan.

SREK! SREK! Hermione dan Draco menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Mata Hermione membelalak, ia melihat lima—oh, bukan—mungkin sepuluh lebih Pelahap Maut melewati tempat singgah mereka sambil membawa dua orang mayat dan beberapa kantong Galleon yang berat. Nafas Hermione memburu lantaran panik. Ia menatap Draco, apakah dugaan Hermione benar, bahwa Draco akan memanggil Pelahap Maut lainnya untuk menangkap ia dan Harry? Hermione menangis dalam diam. Draco, yang merasa tangannya basah oleh air mata Hermione, langsung menoleh menatapnya. Draco tidak berkata apa-apa, ia hanya meletakkan jari telunjuknya ke bibir menyuruh Hermione diam. Hermione mengangguk patuh dan hanya bisa terisak dalam diam.

Salah satu Pelahap Maut, yang Hermione ketahui bernama Fenrir Greyback, menghentikan langkahnya. Draco dan Hermione menahan nafas dan berdo'a dalam hati supaya selamat. "Sepertinya aku mencium bau manusia." Gumamnya kepada teman-temannya yang hanya bisa saling berpandangan. Ia menghirup dalam-dalam udara bersalju hutan dan menoleh kesana-kemari, "Ya, manusia. Sepertinya bukan hanya kita yang berada disini." Gumam Greyback.

Seorang teman Greyback membanting kantong Galleon dan menggerutu dengan keras, "Bisa cepat tidak, sih? Kau tau, ini sangat berat. Jika kau ingin membawanya aku tidak keberatan."

Greyback mendengus, "Tidak. Kau saja yang membawanya. Baiklah, kita pergi sekarang juga." Ucap Greyback akhirnya. Ia dan segerombolan Pelahap Maut lainnya pun pergi meninggalkan tempat Draco dan Hermione berada.

Draco menghela nafas dan melepas bungkaman tangannya dari bibir Hermione. Hermione menatap Draco tidak percaya. Jadi, bukan Draco yang memanggil mereka? Hermione menarik scarf merahnya dan mengusap tangan Draco yang basah akibat terkena air mata Hermione. Draco merasa canggung diperlakukan seperti itu kepada Hermione, tetapi sesaat kemudian ia sudah mulai rileks.

"Jadi, bukan kau yang memanggil mereka?" bisik Hermione sambil menunduk mengusap tangan Draco.

Draco menelan ludahnya untuk berbicara, tetapi sangat susah rasanya mengeluarkan suara untuk menjawab gadis di hadapannya itu, "Ehem—yeah, memang bukan aku." Jawabnya dengan suara tercekat. Demi Jenggot Merlin, kenapa ia harus gugup menghadapi Hermione? Rileks, Draco. Rileks. Jangan membuat malu dirimu sendiri.

Hermione mengangkat wajahnya untuk menatap Draco. Mata mereka bertemu lagi. Mereka saling bertatapan di tengah hujan salju dengan berpegangan tangan, oh.. sunggur romantis sekali. Hermione tersadar, ia langsung melepas tangan Draco dan memejamkan matanya kuat-kuat, mencoba menghilangkan bayangan iris kelabu Draco yang menurutnya sangat—er—indah.

"Kau mau kemana? Seharusnya kau tidak melewati batas Mantera Perlindunganmu. Akibatnya seperti tadi, kau hampir saja ketahuan Pelahap Maut." Omel Draco dengan nada angkuh khasnya.

Salju turun semakin deras, menemani suasana canggung Draco dan Hermione saat ini. Hermione masih menunduk sambil memegangi scarfnya. Draco merebut scarfnya dan memasangkannya di leher Hermione. Hermione tersentak kaget, namun ia hanya diam saja membiarkan Draco melakukan itu.

"Supaya kau tidak kedinginan." Ucap Draco sambil membelai bahu Hermione.

Ketika Draco hendak pergi, Hermione menggenggam tangan Draco sambil menggigiti bibir bawahnya dengan canggung. Draco berhenti dan berbalik menghadap Hermione lagi. Hermione melepas genggamannya dan memberanikan diri menatap iris kelabu Draco lagi. Pipi Hermione memerah seperti kepiting rebus.

"Ma-Malfoy. Aku mau menanyakan sesuatu." Hermione membuka mulutnya untuk berbicara.

Draco mengangkat sebelah alisnya dan bersedekap memandang Hermione, "Tanyakan saja." Katanya dengan nada dingin.

"Kenapa kau kesini?" tanya Hermione dengan suara bergetar karena gugup. Ah.. sial, kenapa ia harus gugup?

Draco mengangkat bibirnya, membentuk seringai yang menyebalkan, "Kenapa aku harus memberitahumu?" tanyanya. Hermione menunduk, tidak menjawab pertanyaan Draco. Draco mengangkat dagu Hermione, memaksa sang empunya menatap manik kelabu Draco. "Jawab aku, Granger."

"Ka-Karena aku ingin tahu." Jawab Hermione menahan supaya nada bicaranya tetap normal.

Draco mendekatkan wajahnya ke arah Hermione. Hermione membelalakkan matanya. Oh, Tuhan, apa yang harus ia lakukan? Draco Malfoy, apakah ia ingin menciumnya? Namun ternyata tidak, Draco mendekatkan bibirnya ke arah telinga Hermione untuk membisikkan seseuatu."Kenapa kau selalu ingin tahu, Granger? Kenapa kau selalu ingin tahu semua masalahku—masalah orang lain? Hn?" bisik Draco lembut menggelitiki telinga Hermione.

Hermione mengatur nafas mencoba rileks untuk menjawab pertanyaan Draco. "A-Aku tidak bermaksud begitu, Malfoy. Aku—Aku hanya takut."

Draco menyeringai. "Kenapa kau harus takut, Granger?"

"Aku—Aku takut kau akan membawa kami kepada Vol—"

"Jangan sebut namanya." Bisik Draco dengan tajam. "Apa kau tahu, jika kau menyebut namanya, Pelahap Maut lainnya akan datang dan menangkap kita semua."

Hermione menghela nafas, "Maaf—Aku hanya takut kau akan membawa kami kepada Kau-Tahu-Siapa, Malfoy." Bisik Hermione sambil menahan air mata.

Draco menjauhkan kepalanya dari telinga Hermione dan menatap manik hazelnya. Ia hanya menyeringai, tanpa berkata apapun, ia membelai rambut Hermione dengan pelan dan menyuruhnya masuk. Ia sendiri pergi entah kemana. Hermione hanya mematung menatap punggung Draco yang semakin menjauh. Ada apa dengan pria pirang itu? Apa ia baru saja kehilangan memorinya atau terkena kutukan Imperius sehingga ia tidak tahu apa yang dilakukannya barusan? Hermione menghela nafas dan berjalan masuk ke arah tenda dengan menggosok-gosok pipinya yang memerah.


Harry duduk di depan pintu tenda sambil memainkan tongkat Hermione dengan tenang, Hermione sedang berkutat dengan buku-bukunya di lantai, sedangkan Draco—ia sedang duduk termenung di kursi berlengan yang biasa diduduki Hermione. Semenjak tadi siang, Draco dan Hermione tidak pernah saling bicara satu sama lain lagi.

"Aku mau berjaga di luar. Kalian berdua—berjanjilah bahwa kalian tidak akan adu mulut ataupun saling melempar kutukan satu sama lain, atau akan aku transfigurasi kalian berdua. Mengerti?" gertak Harry sambil mengacungkan tongkat ke arah Hermione dan Draco bergantian. Draco mengangguk lesu, namun Hermione tidak mendengarkan. "Hermione—"

"Ya, ya, ya, Harry. Aku dengar. Lagipula, tongkatku kau pegang, jadi aku tidak akan melempar kutukan kepada siapapun." Jawab Hermione malas.

"Baiklah, aku pergi." pamit Harry. Hermione dan Draco mengangguk bersamaan.

Setelah Harry keluar, Draco berdiri. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan Hermione, untuk menjawab rasa penasarannya, ia menghampiri Hermione dan duduk di hadapan gadis berambut ikal itu. "Apa matamu tidak lelah menghadapi huruf-huruf kecil di buku ini, eh?" ucap Draco membuka pembicaraan.

Hermione menghela nafas dan memandang Draco dengan tatapan memelas. "Daripada kau mengganggu, bisa tidak membantu saja?" ucapnya dengan lesu. Draco menahan tawa dan mengangguk singkat.

"Baiklah, Nona-Berwajah-Memelas, apa yang bisa kubantu?" goda Draco.

Hermione tersenyum kecil mendengar gurauan Draco dan memberikan buku Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita warisan Prof Dumbledore kepada Draco. Ia membuka halaman yang menunjukkan tanda seperti mata berada. "Apa kau tahu simbol apa ini, Malfoy? Aku yakin ini bukan Rune atau semacamnya. Aku juga tidak pernah menemukan referensi apapun di dalam buku-bukuku tentang simbol ini."

"Memang ini bukan Rune, Granger. Ini adalah simbol Deathly-Hallows." Ucap Draco dengan santai. "Aku pernah melihat tanda semacam ini di kamar orang tuaku. Seingatku, ini adalah lambang yang sering dipakai oleh Penyihir Hitam—musuh Dumbledore—Grindelwald." Jawab Draco sambil terus menunduk memperhatikan buku.

Hermione menganga, "Grin—Grindelwald? Penyihir Hitam yang dikalahkan oleh Dumbledore?"

"Tepat sekali."

Mereka terdiam beberapa saat berkutat dengan pikirannya masing-masing. Grindelwald—Hermione ingat nama itu. Nama Grindelwald selalu muncul di buku manapun yang pernah dibaca Hermione. Tetapi ia bingung, kenapa terdapat lambang Grindelwald di buku milik Prof Dumbledore? Bukankah itu aneh, mengingat mereka berdua adalah musuh. "Apa kau tahu arti dari lambang-lambang ini, Malfoy? Sepertinya seseorang sengaja menggambarnya di buku ini. Bukankah itu sungguh aneh? Mengingat buku ini adalah buku dongeng anak-anak." Hermione mengerutkan keningnya berfikir keras.

Draco mengelus dagunya untuk berfikir, "Well, sebenarnya aku tidak terlalu ingat makna simbol ini, tapi—sepertinya aku pernah mendengarnya. Sebentar, aku lupa." Draco memijat keningnya.

"Uhm—kita pikirkan besok saja, oke? Aku sudah lelah." Gumam Hermione lirih. Ia berdiri dan mengintip keadaan luar melewati pintu tenda. Tidak ada siapapun, kemana Harry? Hanya ada bekas api unggun yang masih mengepulkan asap. Apa jangan-jangan Harry berada dalam bahaya? Ia berbalik menghadap Draco yang masih duduk di lantai membolak-balik buku Hermione. "Malfoy, kemana Harry? Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Kita cari dia, ayo." Ajak Hermione. Draco mengangguk dan mereka berdua berjalan berdampingan mencari Harry di sepanjang Hutan.


Draco menggenggam tongkatnya kuat-kuat sambil terus berjalan—sesekali melirik ke arah Hermione yang berwajah cemas. Entah kenapa, Draco merasa sangat nyaman berada di sekitar mereka, terutama Hermione. Ia merasa hangat dan betah berada selalu di dekatnya. Tanpa disadari, bibirnya melengkung membentuk senyum malu-malu yang selama ini tidak pernah dikeluarkan oleh Draco.

"Kenapa kau hanya senyum-senyum seperti orang gila begitu, Malfoy? Apa kau lupa memeriksakan kejiwaanmu, eh?" ejek Hermione sambil terus berjalan. "Ayo, lebih cepat. Kita harus mencari Harry. Aku takut terjadi sesuatu dengannya." Desis Hermione sambil menarik lengan Draco dengan pipi memerah. Draco hanya patuh dan mengikuti kemanapun Hermione membawanya.

Mereka sudah lama mencari-cari Harry hingga tengah malam. Salju turun semakin deras dan angin bertiup sangat kencang membuat badan kedua insan itu bergidik kedinginan. Draco, yang hanya memakai setelan jas formalnya, nampak sangat kedinginan. Bibirnya memucat dan badannya bergetar hebat. Tangannya yang tidak terbalut apapun serasa membeku. Hermione menoleh memandangnya, "Ada apa, Malfoy? Kau kedinginan?" tanya Hermione sambil menggenggam tangan Draco.

Draco mengangguk pelan.

Hermione mendesah, ia melepas kedua sarung tangannya dan memberikannya kepada Draco. "Lain kali, jika kau hendak keluar, pakailah pakaian hangat. Jangan jas semacam ini. Ah.. Dasar Bodoh." Umpat Hermione lirih.

"Jika kau memberikan semua sarung tanganmu, kau juga akan kedinginan, Bodoh." Draco memakai sarung tangan Hermione yang sebelah kanan dan memasangkan sebelah kirinya di tangan kiri Hermione. "Nah, begini caranya." Ucapnya sambil tersenyum puas.

Hermione mengangkat sebelah alisnya. "Lalu bagaimana dengan tangan kita yang sebelah?" tanyanya sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya.

Draco menyeringai. Ia meraih tangan Hermione menggunakan tangan kirinya yang tidak tertutup apapun, menggenggamnya dengan lembut, dan memasukkannya ke kantong jas Draco. Hermione terkejut atas perlakuan Draco. Draco menatap Hermione dan menaik-turunkan alisnya menggoda Hermione. "Bagaimana? Aku lebih pintar kan, Granger?" Draco menyombongkan diri.

Hermione mengalihkan mukanya dan tersenyum tipis. Jantungnya berdegup kencang karena mendapat perlakuan seromantis ini dari seorang Draco Malfoy. Hell, ia tidak menyangka. meskipun genggaman tangan Draco yang dingin tidak membuatnya semakin hangat, justru dia malah merasa nyaman dan tenang.

"Kita lanjutkan sekarang?" tanya Draco sambil menggerak-gerakkan jarinya untuk menggenggam tangan Hermione lebih erat.

Pipi Hermione dipenuhi semburat merah yang sangat kentara. "Uhm—kurasa kita kembali ke tenda saja. Mungkin Harry sudah kembali. Kalau tidak—yeah, semoga saja dia sudah kembali. Ayo." Ajak Hermione. Draco hanya menanggapinya dengan tersenyum.


Ketika mereka memasuki tenda, Harry sudah duduk di tempat tidur Hermione bersama seseorang—Ron Weasley. Hermione terbelalak kaget, begitupun Ron yang melihat Hermione sedang berjalan berdampingan—dan berpegangan tangan—dengan musuhnya, Draco Malfoy. Ron langsung berdiri dan memisahkan genggaman tangan mereka, ia mengarahkan tongkat sihirya tepat di depan hidung Draco.

"RON." Pekik Hermione. Ia mendorong Ron agar menjauh dari Draco. Ia memukuli Ron dengan kasar. "You—complete—arse, Ronald Weasley." Bentak Hermione sambil terus memukuli tubuh Ron dengan ransel. "Kau baru saja muncul setelah berminggu-minggu menghilang dan berani mengacungkan tongkatmu di depan hidung Malfoy?" bentaknya. Kemudian ia tersadar dengan yang ia ucapkan. Hermione keceplosan membela Draco Malfoy.

Ron ternganga mendengar bentakan Hermione. "Kau—Kau membelanya, Hermione?" ucapnya tak percaya.

"Hell, no. Bukan itu maksudku—maksudku—kau tidak boleh mengacungkan tongkatmu seenaknya saja kepada orang lain, Ron." Kilah Hermione. "Lupakan itu. Bagaimana kau—tunggu." Hermione mengangkat tangan Ron yang memegang kalung Horcrux yang sudah hancur. Ia melirik ke tangan Ron yang satunya lagi sedang memegang Pedang Godric Gryffindor. "Kau—Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" desak Hermione.

"Tanya saja kepada Harry." Jawab Ron seraya menoleh dan nyengir kepada Harry. Harry yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran hebat antara Ron dan Hermione, berdiri dan menjelaskan semuanya. Tentang Patronus betina dan sebagainya.

Setelah mendengar penjelasan Harry, Hermione menoleh memandang Ron. "Lalu, bagaimana bisa kau menemukan kami lagi disini?" tanyanya seraya mundur selangkah mendekati Draco yang berdiri mematung di depan pintu.

"Ini." Ron mngambil Deluminatornya—pemberian Prof Dumbledore—dari saku jubahnya. "Ternyata, benda ini tidak hanya bisa menyalakan atau mematikan lampu. Aku tak tahu bagaimana bekerjanya atau kenapa itu terjadi waktu itu dan tidak waktu-waktu lainnya, karena aku sudah ingin kembali sejak aku pergi. Tapi aku sedang mendengarkan radio, pagi-pagi sekali pada Hari Natal, dan aku mendengar... aku mendengar suaramu."

Hermione mengangkat sebelah alisnya tidak percaya, "Kau mendengar suaraku dari radio? Oh, lucu sekali, Ron." Ucapnya dengan nada sarkastik.

"Tidak, bukan." Kata Ron cepat-cepat. "Aku mendengarnya dari dalam sakuku. Suaramu," ia mengangkat Deluminatornya lagi, "muncul dari sini."

Hermione mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat dengan tak percaya. "Lalu, persisnya apa yang kukatakan?" ucap Hermione dengan galak.

"Namaku, 'Ron', hanya namaku, Hermione. Lalu aku mengeluarkan Deluminator ini dari dalam saku celanaku. Namun tak tampak ada perbedaan, tetapi aku yakin telah mendengar suaramu. Jadi aku meng-kliknya, ada secercah cahaya keluar dari sini. Sebuah bola cahaya, seperti berdenyut, dan kebiruan, seperti cahaya yang mengelilingi Portkey. Kalian tahu?"

"Yeah." Jawab Harry dan Hermione bersamaan. Draco hanya diam menyimak.

"Aku mengambil barang-barangku, dan memperhatikan entah benda apa itu dengan seksama. Kemudian, ia masuk ke dalam tubuhku, tepatnya ke dadaku. Yeah... ke hatiku." Ucap Ron meyakinkan siapa saja. "Dan kemudian aku ber-Disapparate, aku tiba di balik bukit sini. Aku berjalan dan terus berjalan, sampai akhirnya salah satu dari kalian muncul. Kau Harry."

Harry mengangguk mengiyakan.

Hermione menatap Ron dengan pandangan galak dan membunuh.

Ron menoleh kepada Draco dan memandangnya dengan sinis. "Aku sudah menjelaskan semuanya. Jadi—bisakah kalian berdua menceritakan bagaimana kalian bisa menemukan sampah busuk ini dan membawanya bersama kalian?" tanya Ron dengan sinis sambil menunjuk Draco.

Muka Draco memerah menahan amarah. Hermione mundur dan menghalangi tubuh Draco. "Tak apa, Granger." Gumam Draco sambil menggeser pelan tubuh Hermione. "Aku kabur dari Mannor." ungkap Draco akhirnya.

"Apa?" ucap Harry, Ron, dan Hermione bersamaan.

Draco memandang mereka bergantian. "Yeah, aku kabur dari Mannor untuk menghindari Kau-Tahu-Siapa."

"Kenapa kau menghindarinya?" tanya Harry.

Draco memutar bola matanya. "Oh, come on, Potter. Apa kau mau dijadikan budaknya dan tinggal setiap hari serumah dengannya? Yeah, meskipun secara teknis Mannor itu punya keluargaku, tetapi dia menjadikan Mannor menjadi Markas Besar Pelahap Maut." Jawab Draco disertai helaan nafas. "Aku—Aku tidak tega mendengar jeritan para tahanan setiap hari yang disiksa oleh Kau-Tahu-Siapa. Aku tak tahan melihat berbagai macam pembunuhan yang dilakukan di rumahku. Aku juga tidak tahan melihat kedua orang tuaku disiksa setiap hari di depan mataku. Bahkan, aku juga disiksa. Setiap Pelahap Maut yang gagal melakukan tugas akan diberi hukuman seperti itu." Jelas Draco dengan nada tercekat.

Hermione hampir meneteskan air matanya mendengar penuturan Draco, Ron menunduk memandang sepatunya, dan Harry memandang Draco dengan pandangan campur-aduk.

"Apa kalian kira aku mau menjadi Pelahap Maut dengan suka rela seperti lainnya? Huh—sama sekali tidak. Aku benci dengan semua yang berhubungan dengan Pelahap Maut. Aku membenci mereka." Cibir Draco sambil memalingkan mukanya. "Aku tak pernah punya pilihan lain. Tetapi, suatu hari, ketika aku merenung sendirian di kamar, aku memutuskan untuk kabur. Aku mengepak semua barang-barangku dan meninggalkan Mannor ketika keadaan sepi. Para Pelahap-Maut sedang merekrut pendukung dan meneror dunia Muggle."

Kali ini air mata Hermione tidak dapat terbendung lagi. Ia menangis, mengingat kedua orang tuanya yang seorang Muggle. Ia belum mengetahui kabar mereka berdua. Ron mendekati Hermione untuk menenangkan, namun Hermione malah menangis di bahu Draco. Draco membelai punggungnya dengan canggung. Telinga Ron memerah karena cemburu.

"Granger, apa kau tahu? Aku pernah bertemu orang tuamu sewaktu aku ikut para Pelahap Maut ke dunia Muggle." Ucap Draco. Hermione mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata dan menatap Draco tidak percaya.

"Be-Benarkah? Dimana?" tanya Hermione kelewat semangat sambil mengguncang-guncang lengan Draco. Ron hanya mendengus melihat itu.

Draco mengangguk singkat, "Ya. Di suatu tempat, entah apa namanya. Tempat itu punya burung besi yang sangat besar. Orang-orang menaikinya beramai-ramai." Ucap Draco seperti anak kecil.

Hermione terkekeh mendengar pernyataan Draco. "Itu bukan burung, Malfoy. Namanya pesawat. Dan tempatnya bernama Bandara." Hermione dan Harry tertawa, namun tidak dengan Ron. Draco menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Pasti mereka sedang berangkat menuju Australia. Aku menyuruh mereka pergi kesana untuk mengungsi. Aku menggunakan Jampi Memori untuk memodifikasi ingatan kedua orang tuaku, supaya mereka yakin nama mereka Wendell dan Monica Wilkins, mereka tidak punya anak perempuan, dan bahwa cita-cita mereka seumur hidup adalah pindah ke Australia, yang sekarang telah mereka lakukan. Itu untuk mempersulit Voldemort mengejar dan menangkap mereka."

Draco tersenyum memandang Hermione. "Seandainya aku juga bisa menyelamatkan kedua orang tuaku dari belenggu pemerintahan Voldemort seperti kau, Granger. Tetapi aku memang terlalu pengecut. Bodohnya aku."

.

.

.

~To be Continue~


Hai... ('-')/

Ketemu lagi sama author newbie ini :')

Bagaimana chap 2 nya, eh? Ancur ya? :-(

Maafkan newbie ini :3

RnR, please... :v

Jangan jadi Silent Reader dong :'(