"Draco, please. Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu."

"Aku juga. You're My Soul, Hermione Granger."

-o0o-

Disclaimer : J.K. Rowling, tetapi ide dan cerita murni punya saya

Pairing : DraMione

Rated : T

Latar : Ketika Harry Potter dan kawan-kawan mencari Horcrux

Author Note : Huruf bercetak miring (Italic) adalah alur mundur. Cerita Draco ketika kabur dari Mannor

WARNING!

DON'T LIKE, DON'T READ

RnR, please...

(Chapter 3)

-o0o-


Draco's POV

Tubuhku menggelepar menahan sakit di lantai Mannor yang dingin. Sakit akibat kutukan Cruciatus yang baru saja menghantam tubuhku. Sakitnya begitu luar biasa, begitu menyeluruh. Pisau-pisau putih-tajam seperti menusuk setiap senti kulitku, kepalaku terasa akan meledak saking sakitnya. Aku menjerit sekeras mungkin, baru kali ini aku menjerit sekeras ini seumur hidupku. Sakit sekali. Ayahku hanya bisa menatapku dari jauh dengan dingin, ibuku terisak dalam diam, sedangkan dia—orang yang saat ini menyiksaku—Voldemort, tertawa senang melihat tubuhku yang kesakitan dan menggelepar bagaikan ikan di daratan.

"Bagaimana rasanya, eh? Sakit? Itulah hukuman yang harus kau terima akibat tidak mau menuruti apa kata Tuanmu." Desis suara dingin Voldemort.

Nafasku tersengal, aku tidak mendengarkan ocehan Voldemort tentang Muggle. Aku ingin ada yang membelaku. Ayah, Ibu? Tolong aku. Rasanya sakit sekali. Lebih baik aku mati daripada harus menerima kutukan ini hampir setiap hari.

"Aku ingin kau meminta maaf padaku sekarang juga, Draco Malfoy." Perintah Voldemort diselingi tawanya yang suram.

Aku menggeleng kuat-kuat dan mencoba untuk melawan. Namun yang terjadi malah Voldemort kembali menghantamkan kutukan mengerikan itu ke tubuhku. Demi Merlin, kapan ini semua berakhir? Aku kembali menjerit kesakitan dan mengejang. Pakaianku basah akibat terkena keringat yang membasahi sekujur tubuhku.

"Kenapa kau menyelamatkan Muggle itu, eh? Kenapa? Jangan bilang karena kau mengasihani mereka." Bentak Voldemort. Suaranya menggema mengerikan di ruangan Mannor yang besar ini.

Aku ingin menjawab, tetapi mulutku terasa lemas untuk berbicara. Aku hanya bisa menggeleng lemah.

"Tidak, eh? Lalu kenapa, Draco Malfoy?" desis Voldemort sambil menunduk memandang wajah pucatku.

"A-Aku—" aku mencoba membuka mulut untuk berbicara.

"Draco." desis Ayahku yang sedari tadi diam bagaikan patung. "Minta maaflah kepada Tuanmu, Draco." perintahnya sambil menatapku dengan pandangan mengancam. Tetapi aku hanya kembali menggeleng.

Raut muka Voldemort terlihat lebih murka. Ia mengacungkan tongkat sihirnya kepadaku lagi. namun sebelum ia bisa memberiku hukuman lagi, Ibuku berlari menghampiri dan memelukku dengan erat.

"Tu-Tuan, maafkan Draco. Hukum saja saya, Tuanku. Saya mohon maafkanlah Anakku. Dia masihlah muda, ia belum tahu apa-apa." Pinta Ibuku sambil terisak.

Voldemort menghampiri tempatku dan Ibu berada. Ia menatap ibuku dengan murka. "Baiklah, Narcissa. Draco akan kubebaskan. Sebagai gantinya, aku akan menghukummu. Lebih berat dari hukuman anakmu." Desis Voldemort penuh ancaman.

Aku ternganga mendengarnya. Ibuku, aku mohon jangan lakukan itu. Rasanya lebih menyakitkan melihat ibu terluka. Aku menatap ibuku dengan pandangan memohon dan menggeleng pelan. Tetapi ibuku hanya mengusap dahiku yang bersimbah keringat sambil tersenyum menenangkan. Ia memanggil bibiku, Bellatrix Lastrange, dan menyuruhnya untuk membawaku ke kamar. Bibi Bella tertawa gila dan menyeretku dengan paksa.

Bibi Bella melempar tubuhku yang lemas ke lantai kamarku dan mengunci pintunya supaya aku tidak bisa kemana-mana. Aku terengah-engah dan hanya bisa berharap supaya tidak terjadi apa-apa dengan Ibuku. Aku mencoba berdiri dan merebahkan diriku di tempat tidur King Size ku yang penuh dengan ukiran ular Slytherin dan lambang keluarga Malfoy.

Aku mendengarnya. Aku mendengar suara Ibu yang menjerit kesakitan dari lantai bawah tempatku tadi. Oh Tuhan, apa yang dilakukan Voldemort terhadapnya? Aku berlari—sesekali tubuhku terjatuh—untuk membuka pintu. Namun tidak bisa. Aku merapalkan 'Alohomora' juga tidak bisa. Aku menggedor pintu kamarku dengan kasar berharap ada yang membukakannya. Tanganku memerah dan berdenyut sakit akibat terlalu banyak menggedor pintu kayu itu. Aku hanya bisa bersandar di pintu sambil menangis dan berdoa meminta Tuhan untuk melindungi Ibuku.

Aku termenung di depan pintu tenda sambil memainkan tongkatku. Ingatan itu sungguh sangat mengerikan untuk diingat. Kenapa aku harus mengalami ini semua? Cih, sungguh menyebalkan mengingat takdirku seperti ini. Seandainya aku mempunyai pilihan lain, aku lebih baik memilih berada di jalan yang benar. Tidak seperti sekarang ini. Hidup penuh penderitaan, perintah, dan hukuman. Entah sudah berapa orang yang telah kubunuh dengan tanganku sendiri, aku merasa berdosa. Apalagi yang kubunuh adalah para Muggle yang tidak tahu apa-apa. Aku menatap tanganku yang bergetar.

Aku terbangun dari tidurku. Aku mengerjapkan mataku yang terasa membengkak akibat terlalu banyak menangis. Hell, yeah. Seharusnya aku tidak menangis. Aku seorang Malfoy yang kuat.

"Draco." ucap seseorang disamping tubuhku.

Namun aku tetap bergeming tidak mau repot-repot membuka mata.

"Draco, Sweetheart." Panggilnya lagi dengan lembut.

Aku langsung membuka mataku lebar-lebar setelah mengenali suara itu. Ibu. Aku bangun dan memeluk ibuku dengan erat, aku menangis sesenggukan seperti anak kecil di bahunya.

"Ssshhtt... jangan menangis, Anakku sayang. Bukankah Draco pernah bilang bahwa Draco adalah anak yang kuat? Ibu percaya itu, Nak. Jadi, jangan menangis lagi ya, Sayang. Ibu akan selalu berada disampingmu untuk melindungimu." Bisik Ibuku dengan suara bergetar di telingaku.

Bukannya tenang, aku malah semakin menangis. Bahu ibuku basah terkena tetesan air mataku. "I-Ibu... Ibu tak apa? Apa yang dia lakukan kepada Ibu?" tanyaku dengan terisak.

Ibu mengusap punggungku dengan lembut sambil tersenyum. "Tidak, Draco. Ibu tidak apa-apa. Pangeran Kegelapan tidak pernah menghukum Ibu." Sanggah Ibu.

"Ibu bohong." Isakku. "Aku mendengar Ibu berteriak kesakitan dari lantai bawah. Ibu jangan bohong."

Ibu menggeleng pelan. "Tidak, Draco. Sungguh. Ibu tidak pernah berbohong padamu, Sayang. Ibu tidak apa-apa. Buktinya, sekarang Ibu ada di samping Draco dan memeluk Draco kan? Nah, jadi sekarang—" Ibu melepas pelukanku dan mengusap pipiku yang penuh bekas air mata dan memerah. "jangan menangis lagi, ya."

Aku menyentuh pipiku mengingat usapan lembut Ibu yang sangat menenangkanku. Aku rindu padanya. Apa kabar Ibu sekarang di Mannor? Apakah Ibu baik-baik saja? Semoga saja.

Setelah memakan makan malamku dengan tidak berselera, aku duduk di jendela kamarku yang berada di lantai teratas Mannor. Melihat bintang yang berkelip indah di langit malam yang gelap. Bibirku melengkung membentuk senyum tipis yang selama ini tidak pernah kuperlihatkan pada siapapun. Aku ingin bebas dari sini. Aku harus berfikir bagaimana caranya keluar dari Mannor yang dijaga banyak oleh Pelahap Maut.

Pintu kamarku terbuka, aku langsung berdiri melihat siapa yang datang. Ternyata Bibi Bella ku. Dia menatapku dengan mata phsyconya yang tajam sambil menghampiriku.

"Para Pelahap Maut akan pergi untuk merekrut pengikut lagi supaya banyak yang mau bergabung dengan Pangeran Kegelapan." Desisnya sambil terus melangkah mendekatiku. "Kurasa, mereka mungkin lebih berguna daripada dirimu yang pengecut itu, Draco." bisiknya disampingku. Aku hanya diam dengan tenang tanpa membalas ucapannya. "Seharusnya kau bangga bisa ditunjuk menjadi Pelahap Maut termuda dan ditugaskan untuk membunuh orang, termasuk membunuh Kepala Sekolahmu sendiri. Jika aku mempunyai anak laki-laki, dengan suka rela kuserahkan dia kepada Pangeran Kegelapan untuk menjadi kaki tangannya." Ujarnya dengan suara dingin sambil mengacak rambutku.

Aku tetap diam bergeming. Persetan dengan ucapan Bibi Bella, aku tidak mau dan tidak akan sudi diperbudak oleh Penyihir Darah-Campuran—yang status sosialnya lebih rendah dari Penyihir Darah-Murni.

Bibi Bella tertawa seperti orang gila dan mengibaskan rambutnya yang mengerikan itu di depan wajahku. Aku menutupi wajahku dengan tanganku dan memandang wanita itu dengan benci. Bibi Bella melangkah keluar dan menutup pintu kamarku tanpa menguncinya.

Aku mendecih dan menatap tanganku. Helaian rambut Bibi Bella yang tersangkut di sela-sela jariku memberiku ilham. Dan sekarang, aku tahu bagaimana caranya keluar dari Mannor dengan mudah.

Suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin membuatku mendongak. Salju sudah reda, namun hawa di Hutan ini masih sangatlah dingin. Aku merapatkan mantelku dan menggeser posisiku supaya lebih dekat dengan api unggun yang membuat tubuhku merasa hangat.

Aku membuka laci lemariku dan mengambil sebotol Ramuan Polyjuice yang biasa digunakan Pelahap Maut untuk menyamar dulu. Aku memasukkan helaian rambut Bibi Bella sambil mengernyit jijik. Ramuan itu berbuih dan berubah warna menjadi merah darah. tanpa berfikir panjang lebar, aku langsung menenggaknya. Rasanya sungguh menjijikkan.

Aku merasakan tubuhku berubah menjadi lebih pendek dari ukuran tubuhku sebenarnya. Rambut pirangku berubah menjadi keriting hitam menyeramkan. Dan juga wajahku, wajah tampanku berubah menjadi wajah phsyco Bibiku. Aku menyeringai puas dan tanpa berfikir panjang, langsung mengemas barang-barangku untuk kubawa pergi.

Suara langkah kakiku terdengar jelas di lorong Mannor yang gelap dan sepi. Sesekali aku berlari untuk mempercepat langkahku. Setelah mengambil Firebolt kebanggaanku dari lemari sapu, aku pergi ke kamar Ibu untuk memberikan surat yang menyatakan bahwa aku pergi dari rumah. Aku menaruhnya di bawah bantal tidur Ibuku. Dan ketika aku mendengar suara para Pelahap Maut pergi, aku langsung keluar dari kamar Ibuku dan menaiki Fireboltku untuk kabur.

Namun, langkahku terhenti oleh Rodolphus Lastrange, suami Bibi Bella.

"Mau kemana kau? Apa kau tidak ikut bersama yang lain?" tanyanya dengan suara tegas.

Aku memutar otak untuk mencari alasan yang logis. "Yeah, ini aku mau menyusul mereka. Aku baru saja dari kamar mandi." Ucapan bodoh itu tiba-tiba keluar dari mulutku.

Rodolphus mendengus mengejek, "Kamar mandi? Lalu, kenapa kau tidak terbang saja seperti biasa? Kenapa harus memakai sapu terbang?"

"Memangnya tidak boleh?"

"Ya, tidak apa-apa. Tetapi aneh saja."

Aku diam menunggu Rodolphus pergi supaya aku bisa keluar dengan aman. Namun bukannya pergi, dia malah menanyaiku lagi.

"Dan kenapa kau memakai setelan pakaian formal pria?"

DEG! Aku lupa tidak mengganti setelan jasku. Aku harus cepat-cepat mengilah supaya tidak dicurigai."Karena—Karena aku berencana ingin menyamar sebagai laki-laki Muggle. Untuk—"

"Membunuh. Ya, ya, aku tahu itu. Baiklah, cepat susul mereka. Aku akan menyusulmu sebentar lagi." ucap Rodolphus sambil berlalu pergi. Aku menyeringai lega dan langsung menjejak tanah untuk terbang keluar dari Mannor.

Normal POV

Draco membuka matanya. Ia tertidur dalam posisi duduk. Draco mengusap wajahnya dengan pelan mencoba menghilangkan mimpi terburuk sepanjang hidupnya. Ia ingin bayang-bayang akan kenangan itu tidak muncul lagi dalam kepalanya. Draco berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Namun ketika melewati dapur, ia melihat Hermione sedang memasak entah apa untuk makan siang. Draco menghampirinya.

"Apa yang kau masak?" tanya Draco dengan datar sambil menengok ke arah panci. "Terlihat seperti lumpur di pinggir Danau Hitam." Ejeknya sambil menyeringai.

Hermione mendecih dan menatap Draco dengan berkacak pinggang. "Apa kau bilang? Lumpur di pinggir Danau Hitam? Enak saja. Asal kau tahu, Malfoy, aku dengan susah payah mencari bahan makanan di Hutan ini yang semakin menipis untuk kita makan. Tetapi apa kau bilang? Seperti lumpur? Matamu saja yang tidak normal, bodoh. Awas saja, kalau kau makan nanti minta tambah, akan kupotong lehermu dengan pisau ini—"

Cerocosan Hermione terhenti ketika Draco tiba-tiba memeluknya dengan hangat. Hermione hanya menganga dan membelalak seperti orang bodoh. Hell, ada apa dengan pria pirang ini? Kenapa tiba-tiba Draco memeluk Hermione seperti ini?

"Hei, hei, Malfoy. A-Apa yang—"

"Just shut up, Granger." Tukas Draco.

Hermione mengatupkan mulutnya dengan rapat. Ia merasa tubuhnya menghangat karena pelukan Draco di tengah cuaca dingin seperti ini. Demi Merlin, pelukan Draco terasa sangat nyaman. Hermione ingin membalas pelukannya, tetapi ia gengsi. Pipinya memerah seperti tomat.

Beberapa menit kemudian, Draco melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Hermione yang memerah. Mata hazel dan kelabu mereka bertemu lagi.

"Kau seperti ibuku ketika sedang memasak." Ucap Draco disertai dengusan. Hermione membeku. Draco mengusap lembut pipi Hermione dengan ibu jari dan berlalu pergi begitu saja.

Hermione memegang pundaknya. Seorang Draco Malfoy—musuh bebuyutannya di Hogwarts—baru saja memeluknya. Hermione tidak bisa mempercayai ini. Bukannya dulu Draco sangat benci dan anti terhadap Muggle-Borns? Lalu kenapa sekarang... Aaarrgghh... Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri. 'Dia seorang Draco Malfoy, Hermione. Musuhmu. Ingat itu baik-baik.' Batinnya.

Tanpa disadari Hermione, Ron sedari tadi tengah memperhatikan Draco dan Hermione yang berpelukan dengan telinga memerah menahan amarah.


Malam harinya, Ron, Harry, Draco, dan Hermione memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan ber-Apparate menuju tempat yang lain. Mereka tiba di tepi Danau yang sangat indah. Banyak sekali kunang-kunang di tempat itu. Hermione mendesah lega dan menoleh memandang Draco yang sedang menatap Danau dengan dingin. Harry dan Ron sedang sibuk memasang tenda dan memasang Mantera Perlindungan di sekitar mereka.

Hermione menghampiri Draco. "Apa kau yang membawa kami kesini, Malfoy?" tanyanya.

Draco mengangguk singkat.

"Lebih tepatnya kenapa?" tanya Hermione lagi.

Draco mengangkat bahunya singkat, "Entahlah. Tiba-tiba tempat ini terpikirkan begitu saja olehku. Yeah... sebenarnya aku punya banyak kenangan di tempat ini, tentu saja. Bersama orang-orang yang kucintai." Jawab Draco dengan muram tanpa memandang Hermione. Iris kelabunya memantulkan sinar kuning yang berasal dari kunang-kunang yang terbang di sekelilingnya.

Hermione mengangguk singkat. "Er—Malfoy, jika kau tak keberatan, aku ingin bertanya satu hal." Ucap Hermione takut-takut.

"Tanyakan saja." Jawab Draco dengan singkat.

Hermione menggigiti bibir bawahnya. "Uhm... baiklah. Apa orang tuamu atau para Pelahap Maut lainnya tidak mencarimu, Malfoy?"

Draco belum menjawab. Suara jangkrik dan desiran angin yang menggesek pepohonan terdengar bagaikan musik alam yang indah. Hermione merasa seperti hanya ada dia dan Draco disini. "Entahlah. Menurutku Ibuku akan mencariku terus-menerus, lain halnya dengan Ayah. Dia takkan mau repot-repot mencariku. Dan Pelahap Maut ya? Sepertinya mereka akan memburuku sama seperti mereka memburu kalian," Draco menoleh ke belakang, melihat Harry dan Ron yang sedang bercanda sambil mendirikan tenda dengan susah payah, "aku belum mendapat berita apapun akhir-akhir ini."

Draco menoleh memandang Hermione yang ada di sampingnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Hermione. "Apa kau suka suasana seperti ini?" tanya Draco tiba-tiba. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

Hermione mengangguk singkat dan mengalihkan pandangannya mencoba untuk tidak memandang iris kelabu Draco yang dingin itu lagi. Salah satu kunang-kunang hinggap di rambut brunette Hermione dan Hermione mendongak untuk melihatnya. Ia hendak mengangkat tangannya untuk mengusir kunang-kunang itu, tetapi Draco mencegahnya. Draco memegang lengan Hermione.

DEG! Jantung Hermione berdetak sangat cepat merasakan sentuhan lembut Draco. Oh, Tuhan, ada apa ini? Draco menyeringai tipis.

"Jangan singkirkan kunang-kunang itu dari rambut semakmu, Granger. Kunang-kunang itu membuat rambut jelekmu yang seperti singa itu menjadi lebih bagus." Ejek Draco sambil melangkah pergi.

Namun bukannya marah atas penghinaan Draco, Hermione malah tersipu malu-malu dan menundukkan kepalanya. Ya ampun, Hermione, apa yang terjadi padamu? Apa kau jatuh cinta pada Draco Malfoy? Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga kunang-kunang yang hinggap di rambutnya tadi terbang pergi. Tidak, Hermione tidak mungkin jatuh cinta pada seorang Draco Malfoy.

"Oy, Hermione. Apa kau tidak berniat membantu kami sedikitpun?" teriak Harry membuyarkan lamunan Hermione. Hermione mengerjapkan matanya dan tersenyum tipis melihat tingkah konyol Harry dan Ron yang masih sibuk bergulat dengan tenda. Hermione menghampiri mereka dan membantunya mendirikan tenda.

Hermione tersenyum mengejek Harry dan Ron. "Masa begini saja tidak bisa sih, kalian? Anak kecil di dunia Muggle saja bisa melakukan ini." Goda Hermione sambil menjulur-julurkan lidahnya. Harry maju mendekati Hermione dan menggelitikinya. Hermione tertawa terbahak-bahak dan membalas mengarah-ngarahkan tongkat sihirnya untuk pura-pura mengancam Harry. Ron ingin ikut bercanda, tetapi Hermione mengacuhkannya.

"Hey, kau masih marah? Kalau iya bilang saja." Rajuk Ron seperti anak kecil.

Hermione melirik Ron dengan sebal dan memasuki tenda tanpa menjawab pertanyaan Ron. Ia merebahkan dirinya dengan kasar di tempat tidur yang langsung berderik seperti ingin patah. Namun Hermione tidak mempedulikannya. Ia membuka-buka buku pemberian Dumbledore untuk mencari makna Relikui Kematian sampai tertidur.

.

.

.

~To be Continue~


Halo... ('-')/

Ketemu lagi dengan author newbie ini.. :')

Maaf lama update-nya, karena author masih sibuk di dunia Muggle

Oh ya, btw berhubung bentar lagi author Try Out & UN (Ciyee.. curhat :v) Author izin HIATUS sebentar dari dunia FanFiction sampai selesai UN :)

Maaf ya, sebelumnya. :') Hehehehe...

RnR, please...