"Draco, please. Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu."
"Aku juga. You're My Soul, Hermione Granger."
-o0o-
Disclaimer : J.K. Rowling, tetapi ide dan cerita murni punya saya
Pairing : DraMione
Rated : T semi M (Dikit)
Latar : Ketika Harry Potter dan kawan-kawan mencari Horcrux
WARNING!
Author Note : Uhm... Di chap ini ada adegan kissing yang tidak cocok dibaca sama adek-adek ;-)
DON'T LIKE, DON'T READ
RnR, please...
(Chapter 4)
-o0o-
Pada pagi pertama Musim Semi, suhu udara masih terasa dingin. Empat insan pemuda itu sedang duduk melingkari sebuah meja bundar di tengah ruangan. Mereka adalah Harry, Ron, Hermione, dan Draco. Raut muka mereka tampak sangat serius membolak-balik buku mencari sesuatu yang berhubungan dengan Deathly-Hallows—Relikui Kematian. Hermione menggigiti bibir bawahnya dengan serius, Harry menyipitkan matanya memandang tulisan-tulisan kecil di buku, Draco menyangga dahinya dengan santai tetapi serius mencari, sedangkan Ron malah ketiduran dengan mulut menganga dan mendengkur keras sekali. Harry, Hermione, dan Draco melirik Ron dengan sebal. Hermione menyumpal mulut Ron yang terbuka dengan kertas.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Ron bangun dengan marah-marah. "Hei, siapa sih yang berani-beraninya mengganggu tidurku." Teriak Ron sambil berdiri dengan kasar sehingga kursinya terjatuh.
Hermione, Harry, dan Draco memandangnya dengan sebal. Pipi Ron memerah karena malu. Ia menarik kursinya yang terjatuh dan duduk lagi. Ron menutupi wajahnya dengan buku. Hermione yang kelewat sebal menyahut buku yang dipegang Ron.
Ron tersentak kaget. "Hermione, astaga. Kembalikan bukunya, aku mau melanjutkan mencari—"
"Mencari bunga tidur, eh?" cela Hermione. "Kalau kau tidak berniat membantu dalam misi ini, kenapa kau kembali? Kerjamu hanya makan-tidur-makan-tidur seperti kerbau. Sudah sana." Bentak Hermione dengan kasar.
Harry dan Draco hanya saling bertatapan melihat pertengkaran Ron dan Hermione. Ron mengerucutkan bibirnya dan melangkah pergi dengan bergumam tak jelas. Hermione memijat kepalanya yang berdenyut. Harry mengusap bahunya dengan lembut.
"Sudahlah, Hermione. Jangan terlalu dipikirkan. Kau tahu kan bagaimana Ron? Lagipula, dia juga membantu kita, kok. Buktinya dia sudah berhasil menghancurkan satu Horcrux, kan?" ujar Harry.
Hermione mendesah. "Meskipun begitu, setidaknya dia harus serius, Harry. Ini misi yang sangat berat untuk kita jalankan. Dan... jika kita tidak cepat-cepat bertindak, bisa-bisa Kau-Tahu-Siapa akan semakin kuat, Harry."
Harry mengangguk. "Yeah, aku tahu itu, Hermione." Ujar Harry dengan muram.
Draco meletakkan bukunya dan mengusap wajahnya dengan perlahan. Ia berpaling menghadap Harry dan Hermione. "Aku menemukannya."
Harry dan Hermione langsung berdiri dan mendudukkan diri sejajar disamping Draco. Draco menunjuk halaman yang baru saja ia baca. "Lihat, ini surat yang ditulis Dumbledore untuk Grindelwald. Lihat tanda tangan Dumbledore. Tanda itu lagi." ujar Draco menunjuk halaman buku karya Rita Skeeter tentang Albus Dumbledore itu.
Mereka sama-sama terdiam beberapa saat. Kemudian Harry berdiri mendadak membuat Draco dan Hermione tersentak. "Aku pernah menemukan tanda ini. Aku baru ingat. Di luar Toko Gregorovitch yang kulihat melalui pikiran Voldemort, kalung yang dipakai Ayah Luna—"
"Dan juga di makam Godric's Hollow." Ucap Hermione memotong Harry. "Ya, aku ingat. Di makam keluarga Peverell. Ada lambang itu di pusaranya yang tertutup salju. Aku melihatnya ketika kita berkunjung ke Godric's Hollow waktu itu, Harry." Ucap Hermione dengan semangat berapi-api.
Draco menepukkan tangannya. "Nah, kita semua pernah melihatnya kan? Aku juga pernah melihatnya di sebuah buku yang berada di kamar orang tuaku. Sekarang kita tinggal mencari tahu kepada yang bersangkutan. Bagaimana? Ada usulan?" tanya Draco. Keadaan sunyi ketika mereka bertiga berfikir mencari cara.
Selang bebrapa waktu mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing, Hermione mengusulkan cara. "Bagaimana kalau kita pergi menemui Xenophilius Lovegood? Dengar, kalau ke toko Gregorovitch, itu tidak mungkin mengingat itu sangat jauh dan beliau sudah meninggal. Keluarga Peverell? Tidak. Sepertinya garis keturunan mereka sudah habis. Dan hanya dua kemuungkinan. Pertama, bertanya kepada orang tua Malfoy—tetapi itu tidak mungkin," ucap Hermione cepat-cepat ketika melihat ekspresi Draco. "tentu saja kita tidak mungkin pergi ke Mannor. itu sama saja bunuh diri, ya kan? Dan cara yang kedua dan ini sangat mungkin sekali kita bisa melakukannya, yaitu bertanya kepada Mr Lovegood. Bagaimana?"
Mereka bertiga saling berpandangan. Benar juga apa kata Hermione. Kemungkinan besar sangatlah mudah mencari tahu itu kepada Mr Lovegood. Harry dan Draco menyutujui usulan Hermione dan memutuskan untuk berangkat besok pagi-pagi sekali.
Ron yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka dari luar tenda merasa sedih, karena ia merasa Harry dan Hermione tidak menganggapnya lagi setelah Draco datang. Memang, Draco banyak sekali membantu mereka, tetapi tidak seharusnya mereka lebih memilih Draco daripada Ron. Ron hanya menghela napas dan mengikuti apa yang direncanakan mereka.
Mereka berempat baru saja ber-Apparate dan tiba di rumah keluarga Lovegood yang sangat aneh menjulang lurus ke langit, silinder besar, hitam, dengan bulan pucat menggantung di belakangnya di langit fajar. Harry berjalan terlebih dahulu bersama Ron, sedangkan Hermione dan Draco berada di belakang mereka. Draco dan Hermione saling bertatapan malu-malu sepanjang perjalanan. Draco ingin sekali menggenggam tangan Hermione, tetapi ia tahan dorongan hasrat itu.
TOK! TOK! TOK! Harry mengetuk pintu depan tebal hitam, yang bertatah paku besi dan pengetuk pintunya berbentuk rajawali. Terdengar langkah kaki tergopoh-gopoh dari dalam rumah dan pintu terbuka, menampilkan sosok tubuh Xenophilius Lovegood yang memakai apa yang kelihatannya seperti baju tidur yang bernoda dan bertelanjang kaki. Rambut panjangnya yang putih dan seperti gula-kapas kotor tidak disisir.
"Apa? Ada apa ini? Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" teriaknya dengan suara melengking bersungut-sungut kepada Harry dan Ron yang memang berada di depan sendiri. Namun ekspresinya berubah menjadi menggelikan ketika melihat bekas luka Harry.
"Saya Harry, sir. Harry Potter." Ucap Harry ramah. "Boleh kami masuk?"
Mr Lovegood mengangguk kelewat cepat dan membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan mereka berempat masuk. Namun ketika pandangan Mr Lovegood berpaling kepada Draco yang berjalan berdampingan dengan Hermione di belakang, ia langsung berteriak murka. "Kau... Kau..." ucapnya terbata-bata sambil menunjuk-nunjuk Draco.
Draco mengerutkan keningnya, Hermione mengalungkan tangannya di lengan kekar Draco saking kagetnya oleh reaksi mendadak Mr Lovegood. Harry dan Ron berhenti dan menatap Draco dan Mr Lovegood bergantian.
"Kau... Bukannya kau keluarga Pelahap Maut?" bentaknya.
Draco hendak menjawab, tetapi Harry menyelanya. "Mr Lovegood, tenang. Dengarkan penjelasan kami dulu—"
"Penjelasan apa?" raung Mr Lovegood dengan mata mendelik dan muka memerah. "Ayahnya—Lucius Malfoy, telah mengambil sesuatu yang berharga dariku." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Mereka mengambilnya." Ujarnya lirih sambil menunduk mengusap air matanya.
Jantung Draco berdegup kencang. Apa yang telah dilakukan Ayahnya? Ia melirik ke arah Hermione yang masih melingkarkan tangannya ke lengan Draco.
Ron membuka mulut untuk berbicara. "Persisnya, apa yang telah mereka ambil dari Anda, Mr Lovegood?"
Mr Lovegood mendongak memandang Ron. "Luna." Jawabnya dengan suara tercekat. "Lunaku. Anakku satu-satunya, Luna Lovegood. Mereka mengambilnya—menculiknya dariku. Hanya karena mereka marah kepadaku. Mereka marah dengan apa yang aku tulis di The Quibbler tentang pembelaanku kepadamu, Mr Potter. Mereka tidak terima. Sebagai gantinya, mereka mengambil anakku Luna dari genggamanku dan membawanya entah kemana." Kata Mr Lovegood dengan suara tercekat.
Harry, Ron, Draco, dan Hermione saling bertatapan. Mr Lovegood mendekati Harry dan menyibak rambut Harry yang menutupi lukanya. "Mereka sebenarnya menginginkanmu, Mr Potter. Tetapi mereka malah mengambil anakku. Ironi sekali." Bisiknya. "Dia menginginkanmu, Mr Potter. Vol—"
"JANGAN..." teriak Draco untuk mencegah Mr Lovegood mengucapkan nama tabu itu.
"—demort." Lanjut Mr Lovegood tanpa mengindahkan peringatan Draco. Harry, Ron, Draco, dan Hermione membelalak kaget. Mereka tahu, kalau ada seseorang yang menyebut nama Voldemort, para Pelahap Maut akan datang untuk menangkap seseorang yang mengucapkan nama itu.
Tiba-tiba ada sosok-sosok di atas sapu terbang mengelilingi rumah Mr Lovegood. Harry dan Ron berlari menghampiri Draco dan Hermione dan langsung ber-Apparate. Sebelum menghilang Harry mendengar Mr Lovegood berteriak-teriak.
"...CEPAT... CEPAT... AKU MENANGKAP POTTER. CEPATLAH, DIA BER-DISAPPARATE..."
Dan kemudian Harry merasa tubuhnya terhempas ke tanah dengan keras dan ia mengaduh. Draco jatuh terlentang dengan posisi Hermione berada di atasnya. Draco membuka matanya dan memandang Hermione yang masih memejamkan mata dengan rapat. Draco tersenyum, ia bisa mencium harum Strawberi bercampur Vanilla dari tubuh mungil Hermione. Hermione membuka matanya, iris hazelnya menatap wajah pucat Draco yang berada di bawahnya. Namun bukannya menyingkir, mereka berdua malah tertawa seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
"Oy, kalian." Raung Ron.
Hermione langsung melompat bangun. Draco duduk sambil menepuk-nupuk punggungnya. Telinga Ron memerah karena cemburu melihat Hermione dan Draco seperti itu. Hermione menoleh memandang Draco dan tersenyum malu-malu. Jika Draco tidak salah, ia melihat semburat merah kecil muncul di pipi putih Hermione. Draco membalas tersenyum dan berdiri membantu Harry memasang Mantera Perlindungan.
Draco menghampiri Hermione yang sedang berjaga di luar tenda dan membawakannya selimut hangat. Hermione tersenyum senang dan berterima kasih kepada Draco. Draco tersenyum tipis dan menyelimuti tubuh Hermione.
"Bagaiamana? Masih dingin?" ucapnya dengan lembut. Hermione tidak pernah mendengar nada bicara Draco seperti itu.
Hermione tertawa.
Draco mengangkat sebelah alisnya dengan heran menatap gadis yang berada di sampingnya ini. "Ada apa? Apa ada yang lucu?" tanyanya.
"Tidak, tidak." Jawab Hermione. "Baru kali ini aku mendengar nada bicaramu yang lembut seperti itu. Ternyata kau bisa." Gurau Hermione.
Draco tertawa, memperlihatkan deretan gigi putih nan rapih. Senyumnya terlihat sungguh manis dan menenangkan. Hermione takjub memandang senyuman Draco. Ia tidak menyangka, seorang yang dulunya iblis mempunyai senyum secerah malaikat itu.
"Kenapa, Granger? Menyukai senyum indahku?" tanya Draco sambil menjawil pipi Hermione.
Hermione menjulurkan lidahnya seperti orang yang ingin muntah. "Tidak, tentu saja. Kenapa aku harus terpesona dengan senyummu? Aku juga punya senyum yang lebih indah daripada senyum kudamu itu." Ejek Hermione.
Draco mendengus dan tertawa. "Baiklah, coba aku lihat bagaimana senyum seorang Hermione Granger?" tantangnya.
Hermione menjilat bibirnya dan tersenyum. Menampilkan gigi-gigi kecil nan rapih dan dua buah gigi depan yang berukuran agak lebih besar dari gigi yang lainnya. Draco tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk gigi depan Hermione.
"Ternyata gigi berang-berangmu belum hilang juga." Ejeknya di sela-sela tawanya.
Hermione mengerucutkan bibirnya. "Hei, itu tidak benar. Apa kau tidak bisa melihatnya? Gigi ini lebih kecil dari sebelumnya."
Draco menghentikan tawanya dan mengacak pelan rambut Hermione. "Aku tahu. Dan menurutku—" Draco menggeser duduknya mendekati Hermione. "Itu jauh membuatmu terlihat sangat manis." Bisik Draco sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione yang merona merah.
Draco mengelus pipi Hermione dan mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Hermione. Hermione pasrah, ia memejamkan matanya membiarkan Draco melakukannya. Semakin dekat, Hermione bisa merasakan hembusan nafas Draco yang berbau mint. Sungguh menggiurkan. Kemudian Hermione merasakannya. Bibir tipis Draco mulai melumat bibir Hermione dengan lembut. Jari-jemari Draco menyusuri tengkuk Hermione dan menggelitikinya. Hermione menggeliat kegelian. Draco menyeringai senang.
Hermione mengalungkan tangannya di leher Draco dan menekannya untuk memperdalam ciuman mereka. Draco menggigit bibir bagian bawah Hermione dan Hermione membuka mulutnya untuk mengizinkan Draco memainkan lidahnya dengan lidah Hermione. Mereka berciuman di bawah bintang yang bertebaran indah di langit.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua merasa sesak dan butuh pasokan oksigen. Akhirnya Draco melepaskan ciumannya dengan berat hati. Hermione menempelkan dahinya ke dahi Draco. Mereka berdua sama-sama terpejam dengan posisi Draco memegang tengkuk Hermione dan tangan Hermione yang memeluk erat leher Draco.
"Akan kuberitahukan apa yang aku rasakan sejak bertahun-tahun lalu." Bisik Draco dengan lembut sambil membuka iris kelabunya.
Hermione mengangguk singkat. "Katakan saja." Bisiknya sambil mengusap belakang rambut Draco. Matanya masih terpejam merasakan semilir angin musim semi bercampur hembusan hangat nafas Draco.
Draco mengelus kelopak mata Hermione menyuruhnya untuk membuka mata. Hermione membuka iris hazelnya dan menurunkan tangannya untuk menyentuh dada Draco. Draco mengambil tangan kiri Hermione dan menggenggamnya dengan lembut.
"Berjanjilah jangan tertawa." Kekeh Draco.
Hermione mendengus tertawa. "Iya, iya. Aku berjanji tidak akan tertawa, Malfoy."
Draco menghela nafas. "Yakin tidak akan tertawa? Pasti kau akan mengejekku habis-habisan."
"Tidak akan. Karena aku belum tahu apa yang mau katakan, Malfoy."
Sekali lagi Draco menghela nafas. "A—Aku... Aku mencintaimu." Ucap Draco akhirnya dengan semburat merah muncul di pipi pucatnya.
Hermione terdiam karena terlalu shock mendengar pernyataan cinta Draco yang mendadak. Ia tidak yakin dengan pendengarannya barusan. Seorang Draco Malfoy, Penyihir Berdarah-Murni, Pangeran Slytherin, dan pembenci Darah-Murni, menyatakan cinta kepadanya, seorang Kelahiran Muggle yang sangat dibencinya. "A—Apa?" tanya Hermione memastikan pendengarannya tidak salah.
Draco mengecup bibir Hermione. "Aku," ia mengecup kening Hermione, "sangat," ia mengecup hidung mungil Hermione, "mencintaimu." Terakhir ia mengecup kedua pipi Hermione.
Hermione terkekeh pelan. Ia mengelus kedua pipi Draco . "Sungguh? Sejak kapan?"
"Sebenarnya sudah lama." Bisik Draco sambil menatap lekat-lekat mata Hermione. "Sejak tahun kedua kita."
"Bukankah kau pernah menyebutku Mudblood di tahun yang sama?" tanya Hermione. Muncul perasaan sakit hati mengingat hinaan Draco bertahun-tahun lalu.
Draco menghela nafas dan memejamkan matanya. "Maafkan aku. Aku—Aku terbawa emosi." Kata Draco lirih.
Hermione tersenyum lembut. "Aku juga mencintaimu." Ucap Hermione yang membuat Draco membuka matanya dan terbelalak kaget. Hermione terkekeh melihat respon Draco yang menurutnya agak konyol.
"Sejak kapan?"
"Sejak aku sadar bahwa aku sangat mencintaimu." Jawab Hermione. Draco tersenyum. "Sungguh, aku tidak tahu sejak kapan. Aku selalu senang berada di dekatmu, meskipun kita saling mencaci dan mengejek, atau bahkan beradu mantera."
Draco mengangkat kepalanya melepaskan sentuhan keningnya di kening Hermione sejak tadi. Ia tersenyum dan menggenggam tangan Hermione dengan lembut. "Aku berpikir ingin bertemu denganmu sejak kabur dari rumah. Dan ternyata, Tuhan menghendakinya." Draco terkekeh. "Sepertinya Tuhan merestui kita, Hermione." Kata Draco mulai memanggil nama depan Hermione.
Hermione terkekeh dan menjawil hidung Draco. "Mungkin saja, Draco." balas Hermione memanggil nama depan Draco.
"Jadi—uhm..." Draco menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Will you be my Girlfriend?" tanya Draco dengan canggung.
"Yes, I will." Jawab Hermione. Mereka berdua berpelukan. Siapa sangka musuh bebuyutan bisa saling jatuh cinta? Menghapuskan seluruh perbedaan di antara mereka berdua.
Hermione mengerjapkan matanya karena sinar matahari pagi sudah terpancar terik di atasnya. Ketika ia membuka mata, ia mendapati dirinya sedang tidur di bahu Draco dan bersandar di pohon. Hermione melihat kekasihnya masih tertidur. Hermione menyelimuti tubuh Draco dan ia berdiri melangkah ke kamar mandi.
Ternyata Harry dan Ron belum bangun. Harry tidur dengan menutupi kepalanya dengan buku, sedangkan Ron—seperti biasanya—tidur dengan mulut terbuka dan mendengkur keras. Hermione membangunkan Harry dan menyuruhnya untuk membangunkan Ron. Hermione masih marah dengan Ron. Jadi ia tidak mau berbicara atau bahkan menatap Ron.
"Hermione." Panggil Harry yang baru saja keluar dari Kamar Mandi. Hermione yang sedang memasak di dapur menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Ya, Harry?"
"Kita sudah gagal mencari informasi kepada Mr Lovegood, lalu bagaimana caranya kita mengetahui makna Relikui Kematian itu? Kemarin aku bermimpi tentang Kau-Tahu-Siapa lagi. sepertiya ia tahu bahwa kita sedang memburu Horcrux-Horcruxnya. Jika kita tidak segera bertindak, aku takut kalau—" Harry menatap pintu tenda yang terbuka. "Kalau—"
"Ya, aku tahu tentang kecemasanmu, Harry." Potong Hermione. "Nanti saja kita bicarakan bersama yang lain. Sekarang bangunkan Draco dan Ron terleb—"
"Hermione." Panggil Harry sambil mengerling nakal sahabatnya. "Sejak kapan kau memanggil Malfoy dengan nama depan? Biasanya kau memanggilnya Ferret atau marganya. Apa jangan-jangan kalian—"
Hermione mendorong tubuh Harry agar keluar dari dapur. "Sudah, sudah, sana. Jangan banyak bicara, atau akan kupotong lidahmu." Bentak Hermione dengan pipi memerah seperti tomat.
Harry berlari menjauh. "Aww... Aku takut." Ejek harry sambil menjulurkan lidahnya.
Setelah mereka berempat selesai sarapan, mereka duduk melingkar di kursi biasa. "Lalu bagaimana cara kita mendapatkan informasi tentang Relikui itu lagi?" tanya Harry membuka pembicaraan.
Raut muka Draco terlihat kaku. "Cuma ada satu cara." Ucapnya dengan suara kaku.
Harry, Ron, dan Hermione melihatnya serentak. "APA?" teriak mereka bersamaan.
Draco memutar bola matanya dan mendengus. "Bukankah sudah jelas bahwa kita harus pergi ke Mannor, ke Rumah Orang Tuaku. Karena itulah satu-satunya cara—"
"Kecuali jika kau ingin mati." Tukas Ron dengan ketus.
Draco melirik tajam ke arah Ron. "Semua orang tidak menginginkan mati, Weasley. Tapi apa kau punya usulan lain bagaimana menemukan informasi tentang Relikui di tempat lain?" ujar Draco tak kalah ketus.
Ron memutar otaknya. "Bagaimana kalau kita tanya kepada Grindelwald sendiri?" tanya Ron dengan ekspresi konyol.
Harry dan Hermione menjitak kepala Ron bersamaan, Draco hanya mendengus mengejek. "Jika kau tahu dimana Grindelwald berada, Ron." Bentak Hermione.
Ron hanya cengar-cengir.
"Jika kita pergi ke Mannor, kita pasti akan ditangkap oleh Pelahap Maut. Bukan hanya kalian yang dijadikan buronan, tetapi aku juga. Kemungkinannya kecil sekali kita bisa keluar dengan nyawa masih melekat di tubuh." Kata Draco dengan muram. "Kau-Tahu-Siapa juga pasti ada disana." Dengusnya.
Harry memijat keningnya, pusing memikirkan ini semua. Ia berfikir, kenapa Dumbledore tidak pernah memberitahukannya tentang Relikui ini? Apa mungkin Dumbledore merasa masih punya banyak waktu untuk menceritakan ini semua kepada Harry, tetapi takdir berkehendak lain? Harry merasa kesal dan marah. Kapan ini semua berakhir? "Malfoy, apa kau tahu cara memasuki Mannor tanpa bisa terlihat oleh beberapa Pelahap Maut?"
"Kita gunakan saja Jubah Gaib mu Harry." Ucap Ron tiba-tiba.
"Jika kau punya Jubah Gaib yang bisa menampung empat orang remaja, Ron." Ucap Hermione dengan ketus. Ron menciut melihat tatapan membunuh Hermione.
"Ada satu—tapi aku tak yakin ini akan berhasil, Potter." Jawab Draco dengan serius sambil mengelus dagu.
Harry tersenyum puas dan bahagia. "Tak apa, yakinlah pasti ini akan berhasil. Bagaimana caranya?" tanya Harry kelewat semangat.
Draco menyuruh Harry, Ron, dan Hermione mendekat. Ia membisikkan semua rencana yang akan dilakukan untuk menyusup masuk ke Malfoy Mannor dengan sembunyi-sembunyi tanpa diketahui Pelahap Maut ataupun Voldemort sendiri.
"Apa kita akan bertanya kepada Orang Tuamu?" tanya Hermione.
"Tidak. Aku hanya akan mengambil buku tentang Relikui Kematian di Kamar Orang Tuaku atau di Perpustakaan Mannor. Seperti yang pernah kukatakan pada kalian, bahwa aku pernah melihatnya." Jawab Draco. "Setelah itu kita keluar dari Mannor dan melanjutkan perjalanan mencari Horcrux untuk mengalahkan Kau-Tahu-Siapa." Draco menoleh memandang Hermione dengan mata berbinar penuh cinta. Hermione balas menatapnya dan tersenyum manis. Draco menoleh kepada Harry. "By the way, panggil saja Draco." ucapnya dengan berdiri dan mengedipkan sebelah matanya kepada Hermione.
.
.
.
~To be Continue~
Holaa... ('-')/
Ketemu lagi ama Author :v
Ini chap 4 nya udh publish :')
Maaf ya kalau berantakan, soalnya ini juga nyeempet-nyempetin publish di tengah-tengah waktu ujian :v
Gk enak banget kalo ide Ffn numpuk trs gk dipublish... XD
Btw, RnR, please ;-)
Jgn jadi Silent Reader ya :')
