"Draco, please. Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu."
"Aku juga. You're My Soul, Hermione Granger."
-o0o-
Disclaimer : J.K. Rowling, tetapi ide dan cerita murni punya saya
Pairing : DraMione
Rated : T
Latar : Ketika Harry Potter dan kawan-kawan mencari Horcrux
WARNING!
DON'T LIKE, DON'T READ
RnR, please...
(Chapter 5)
-o0o-
Pada Tengah Malam, Harry, Ron, Hermione, dan Draco berangkat untuk menyusup ke Malfoy Mannor. Draco sudah memberitahukan semua rencananya. Ia yakin rencana ini pasti akan berhasil. Draco tidak ingin menghapus kepercayaan Harry, Ron, dan Hermione lagi. Ia juga ingin segera Voldemort mati supaya keluarganya bebas dari belenggu kekuasaannya.
Draco menggenggam tangan Hermione yang gemetar dengan lembut. Hermione menoleh memandangnya, Draco tersenyum menenangkan. "Yakinlah kepadaku, Hermione. Rencana Malfoy tidak pernah gagal." Ucap Draco dengan nada angkuh khasnya.
Hermione mencubit kecil lengan Draco. Draco pura-pura mengaduh.
Ketika Harry dan Ron muncul, mereka cepat-cepat melepaskan genggaman tangan mereka. Mereka belum siap memberitahukan hubungan ini kepada Harry dan Ron. Kalau Harry mungkin bisa menerima, tetapi Ron pasti akan marah. Jadi, Draco dan Hermione menunggu sampai waktunya tepat. Mereka tidak ingin merusak misi penting ini.
"Bagaimana? Sudah siap?" tanya Draco kepada teman-temannya.
"Ya." Jawab Harry, Ron, dan Hermione hampir bersamaan.
Draco mengulurkan tangannya ke depan. Hermione menerimanya, kemudian Harry, dan terakhir Ron. Mereka ber-Apparate menuju Malfoy Mannor untuk mengambil buku tentang Relikui Kematian.
TAR! Mereka berempat tiba di luar pagar Mannor dengan bunyi lecutan keras. Draco mengintip dari pagar memastikan tidak ada satu pun Pelahap Maut yang sedang berjaga. Namun ternyata ia salah, Dolohov dan Yaxley sedang berjaga dengan siaga. Draco memberi kode kepada Harry, Ron, dan Hermione agar mendekat dan mereka mematuhinya. Mereka berempat berbisik-bisik menyusun rencana lagi.
Harry berjalan mengendap-endap menelusuri Pagar Tanaman yang menjulang tinggi. Draco dan Hermione tetap berjaga di depan pagar. Ron menulusuri pagar sisi satunya. Dalam hitungan ketiga, mereka semua merapalkan mantera non-verbal kepada dua Pelahap Maut itu dari ujung berlainan, sehingga keduanya langsung jatuh terjerembap ke tanah tanpa bisa menghindar. Saking senangnya, Hermione sampai memeluk Draco. Draco balas memeluknya.
"Kita berhasil." Ucap Ron yang baru saja muncul dengan bersemangat. Ia merasa lega karena kemungkinan besar memasuki Mannor sangat mudah.
"Baiklah, ayo. Tunggu apalagi. Draco..." Harry menunjuk pagar menyuruh Draco melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Draco mengangguk singkat dan mengayunkan tongkat sihirnya ke udara seperti mengusir lalat.
Tiba-tiba, pagar besi kokoh penuh ukiran ular itu berubah menjadi bayang-bayang samar. Draco mengayunkan tangannya mengajak teman-temannya mengikutinya untuk masuk. Mereka berempat berjalan tanpa suara melewati bayangan pagar itu seperti menembusnya dan menoleh ke segala arah takut-takut ada serangan mendadak. Hanya ada suara gemericik air mancur di tengah halaman yang mengiringi langkah mereka. Draco berbelok ke arah belakang Mannor, mereka tidak berencana melewati pintu depan. Pastilah sangat berbahaya.
"Kita lewat sini." Ucap Draco sambil mengacungkan tongkat sihirnya ke tanah. Ia mengucapkan mantera entah apa yang membuat tanah berumput itu lama kelamaan menjadi pintu kayu penuh ukiran lambang keluarga Malfoy. "Ini jalan pintas. Aku yakin tidak ada yang mengetahui jalan ini selain kita. Termasuk Voldemort sendiri." Ucap Draco dengan berbangga hati.
Harry dan Hermione tersenyum kepadanya. Tetapi tidak dengan Ron, wajahnya terlihat ngeri dan ketakutan seperti baru saja melihat hantu. Draco melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ron.
"Apa kau kerasukan, Ron?" tanyanya.
Ron menatap Draco. "Kau baru saja menyebutkan namanya, Mal—Draco." kata Ron sambil menelan ludah.
Draco membelalakkan matanya. Ia tidak sadar bahwa ia baru saja menyebut nama Voldemort yang tabu itu. Ia cepat-cepat menyuruh teman-temannya masuk ke dalam tanah melalui pintu kayu tadi.
Namun sebelum mereka melangkah, mereka mendengar suara kepakan jubah di belakang mereka. Draco, Harry, Hermione, dan Ron menoleh ke arah datangnya suara tadi. Mereka melihat sekitar lima Pelahap Maut berdiri mengelilingi mereka sambil menyeringai jahat. Keempatnya langsung mengacungkan serangan ke segala arah, sehingga mengenai beberapa pelahap Maut. Mereka memanfaatkan waktu itu untuk melarikan diri. Namun mereka terpencar.
Hermione berlari menuju gudang tempat penyimpanan sapu bekas. Hermione masuk ke dalam gudang yang pengap dan berbau apak itu. Keadaannya gelap, ia tidak bisa melihat apapun yang ada di dalam situ.
Namun, ada seseorang yang menarik Hermione. Hermione memekik. Orang itu membungkam mulut Hermione. Ia merapalkan 'Lumos' sehingga gudang itu cukup terang. Dan ternyata orang itu adalah Draco. Hermione langsung memeluknya dan menangis di pelukan Draco. Draco mengusap rambutnya perlahan.
"Maaf. Ini semua salahku. Aku—" ucap Draco. namun sebelum ia bisa menyelesikan kalimatnya, bibirnya di bungkam oleh ciuman lembut Hermione.
"Tak apa. Ini semua bukan salahmu. Aku tahu itu. Kau sudah berusaha sebaik mungkin membawa kita menemukan petunjuk." Ucap Hermione sambil mengelus pipi Draco. Draco mengangguk dan mengecup bibir Hermione sekilas.
Fenrir Greyback mengincar Harry. Ia terus mengejar Harry, namun Harry tidak akan lengah. Ia merapalkan segala mantera yang ia ingat, tetapi tidak satupun yang menggores tubuh Greyback. Greyback tertawa mengejek. Dan sekarang gilirannya melempar kutukan-kutukan ke arah Harry. Harry berlari zig-zag untuk menghindar. Tetapi naas, salah satu mantera menghantamnya dan ia merasa ada rantai besar sekali yang melilit dirinya sehingga ia sangat sulit bergerak. Greyback menyeringai puas dan menyeret tubuh Harry ke dalam Mannor.
Ternyata Ron juga tertangkap. Harry melihatnya dicengkeram oleh salah satu Pelahap Maut berwajah bopeng dan berambut panjang menjijikkan. Harry juga melihat, di ruangan itu lebih banyak Pelahap Maut, juga ada Bellatrix Lastrange dan juga kedua Orang Tua Draco. Bellatrix menatap Harry dengan pandangan lapar.
"Kami mendapatkan Harry Potter. Ia ingin menyusup ke dalam Mannor melalui Pintu Rahasia yang lama tidak digunakan. Bersama anak kalian." Ucap Greyback dengan suara menggelegar sambil menunjuk Lucius dan Narcissa.
Wajah Lucius sama datarnya, tidak bereaksi apa-apa. Hanya diam di kursinya seperti manekin pucat yang ada di toko pakaian Muggle. Namun tidak dengan istrinya, Narcissa. Ia memekik pelan dan menutupi mulutnya sambil membelalak.
"Dra—Draco... Anakku?" tanya Narcissa dengan suara bergetar.
Greyback mendengus, namun tidak menjawb. Bellatrix menyeringai licik. "Ya, Cissy. Akhirnya anak kesayanganmu datang juga. Aku akan memberinya pelajaran jika kau tidak mau melakukannya." Ucap Bellatrix disertai tawa melengkingnya.
Narcissa tidak melawan kakaknya itu. Ia hanya terisak dalam diam.
"Dimana Draco? Dimana anak itu?" tanya Bellatrix sambil menoleh kesana-kemari dengan ganas. "Akan kuberi hukuman yang setimpal untuk anak itu. Pertama, karena ia dengan berani menyamar sebagai aku. Dan yang kedua, dia berani melawan The Dark Lord."
"DIA BUKAN ANAKMU, BELLA. DIA ANAKKU." Raung Narcissa.
Bellatrix menoleh menatap adiknya itu. Rambutnya yang tergerai sembarangan itu berayun-ayun tertiup deruan nafasnya. "Aku tidak peduli, Cissy." Desisnya. "Siapa saja yang berani menentang Pangeran Kegelapan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Aku tak peduli siapa dia." Tegas Bellatrix di depan wajah Narcissa. Narcissa hanya diam tidak melawan lagi.
"Draco," panggil Hermione, "kita keluar sekarang? Aku khawatir dengan Ron dan Harry. Apa mereka tertangkap? Oh, bagaimana ini?" isak Hermione.
Draco mengusap pundak Hermione. "Sudahlah, kita berdoa saja supaya mereka tidak apa-apa." Kata Draco. Ia mengintip melalui lubang kunci. "Sepertinya sudah tidak ada Pelahap Maut yang berada di luar lagi. kita keluar sekarang untuk mencari Harry dan Ron, oke? Setelah itu kita kabur dari Mannor." Hermione mengangguk menyetujui. "Tetaplah berada di dekatku, Hermione." Sekali lagi Hermione mengangguk dan menggenggam lengan kiri Draco kuat-kuat.
Mereka berdua keluar dari gudang dan berjalan perlahan menyusuri taman untuk mencari Ron dan Harry. Tetapi mereka tidak ada dimana-mana. Apa mungkin mereka tertangkap oleh Pelahap Maut? Draco sangat merasa bersalah. Bukannya membantu, tetapi ia malah menyulitkan Harry, Ron, dan bahkan kekasihnya, Hermione.
"Mau kemana kalian, Anak-anak?" ucap seseorang di belakang Draco dan Hermione.
DEG! Hermione mencengkeram lengan Draco dengan kuat. Draco merasa tangannya kebas. Mereka berdua berbalik badan dan mendapati Dolohov dengan tatapan liarnya menyeringai ke arah Draco dan Hermione. Draco menarik Hermione agar berlari, tetapi sudah ada beberapa Pelahap Maut yang mengelilingi mereka, termasuk Fenrir Greyback yang tadi menangkap Harry.
Greyback mengendus-endus ke arah Hermione yang mengernyit jijik. "Hmm... Aku suka baumu, Nona." Desis Greyback di telinga Hermione. "Bolehkah aku mencicipimu? Satu atau dua gigit saja."Gigi-giginya yang runcing terlihat ketika ia menyeringai penuh kemenangan.
Tubuh Hermione gemetar. Ia merapatkan diri ke arah Draco sambil mencengkeram lengan kekar Draco. Draco menarik Hermione untuk menghindari Greyback. "Jangan sentuh kekasihku, Manusia Serigala bodoh." Ancam Draco.
Namun Greyback dan Pelahap maut lainnya tertawa mengejek. "Apa kau pikir kami takut denganmu, hah?" bentaknya sambil menjambak rambut Draco. Hermione memekik dan terisak. "Aku tahu bagaimana sikap pengecutmu itu, Anak Manja. Kau mengancamku, eh? Mungkin itu adalah hal terakhir yang bisa kau lakukan dalam hidupmu." Desis Greyback.
Greyback mendorong Draco ke arah Scabior dan ia menangkap Hermione. "Ayo kita bawa mereka ke dalam, bergabung bersam Potter." Ucap Greyback sambil menyeret paksa tubuh kecil Hermione. Draco dan Hermione meronta-ronta mencoba melepaskan diri, tetapi usaha mereka sia-sia.
Draco dan Hermione saling bertatapan dan berkomunikasi dalam diam. Mereka terus-menerus di tarik—di dorong—oleh Greyback dan teman-temannya sampai di lanti dua, tempat Harry dan Ron berada.
"Kami membawanya, Ma'am." Ujar Greyback sambil menyeringai mengerikan.
Bellatrix berbalik dan tersenyum puas melihat Draco dan Hermione datang. Ia mendekati Draco dan mengusap pipi Draco. "Halo, Keponakanku Sayang. Kau pulang juga akhirnya. Apa kau rindu dengan Dongeng-Sebelum-Tidur ibumu, eh?" cela Bellatrix. Draco hanya menatapnya dengan dingin. Bellatrix tertawa nyaring. Ia berpaling kepada Hermione.
"Halo, Mudblood. Sudah lama kita tidak bertemu semenjak perang kecil-kecilan di Kementrian beberapa tahun lalu. Kau semakin cantik, dan juga semakin kotor." Bisik Bellatrix. Ia mengeluarkan pisau perak kecil dari dalam jubah dan memutar-mutarnya di depan wajah Hermione. "Aku ingin melihat seberapa kotornya darahmu, Sayang." kata Bellatrix dengan nada mengerikan. Hermione memejamkan matanya dan ia merasa sayatan pisau kecil itu mengenai pipi kirinya.
Draco berteriak. "JANGAN SENTUH DIA." Suaranya menggelegar di dalam ruangan besar itu. Harry dan Ron yang tidak bisa bergerak hanya melihat. "Jangan sentuh dia. Hukum saja aku, tetapi jangan sakiti dia." Teriak Draco. Wajah pucatnya memerah akibat marah.
Bellatrix tertawa. "Wow, apakah ada cinta yang tumbuh dintara kalian?" ejek Bellatrix. Ia mengucapkan kata 'Cinta' dengan jijik. "Tenang saja, Draco Baby." Bellatrix berbalik.
Ia terkejut, ketika melihat seorang Pelahap Maut membawa Pedang Gryffindor. Matanya membeliak ngeri. "Apa itu? Dimana kau mendapatkannya?" desis Bellatrix.
Pelahap Maut itu hanya menyeringai menampilkan gigi-gigi kuningnya. "Aku mendapatkanya dari dalam tas gadis itu," ia menunjuk Hermione, "dan sekarang benda ini punyaku." Ucapnya.
Ekspresi Bellatrix menjadi sangat mengerikan. Ia mengacungkan tongkatnya ke arah Pelahap Maut itu, membuat lehernya terlilit ular hitam. "KELUAR, KELUAR." Teriak Bellatrix. Ia berjalan cepat ke arah Harry dan Ron yang tidak bisa bergerak di lantai, menyuruh Greyback untuk membawa mereka berdua ke penjara bawah tanah. "Bawa sampah-sampah ini ke dalam Penjara Bawah Tanah." Raungnya.
Bellatrix memandang Hermione dan mencengkeram kerah jubahnya. Hermione menunduk, air matanya menetes. Draco mendorong Scabior hingga terjatuh dan berlari ke arah Hermione. Draco mendorong Bellatrix hingga ia terjatuh. Hermione berlari ke belakang tubuh Draco. Ia merasa takut sekali sekaligus was-was.
"Beraninya kau—" desis Bellatrix sambil bangun. Ia menyayat lengan Draco dan menyuruh Scabior untuk menjaganya dan menjauhkannya dari Hermione. Narcissa hanya bisa menangis dalam diam melihat anaknya.
Bellatrix melempar tubuh Hermione ke lantai dan mengacungkan tongkat sihirnya kepada Hermione. "CRUCIO." teriaknya.
Tubuh Hermione menggeliat-geliat di lantai dan ia menjerit kesakitan. Draco tidak tahan melihat kekasihnya diperlakukan seperti itu. Ia menutup matanya sambil menelan ludah, berdoa akan keselamatan Hermione.
"DARIMANA KAU MENDAPATKANNYA? JAWAB AKU, DARAH-LUMPUR." Bentak Bellatrix di atas tubuh menggelepar Hermione akibat kutukan Cruciatus yang menghantamnya.
"A-Aku menemukannya—A-aku men—menemukannya. TOLONG!" rintih Hermione dengan suara bergetar.
"BOHONG." Raung Bellatrix. Ia menghantamkan kutukan Cruciatus ke tubuh Hermione yang sudah menggelepar hebat. Hermione menjerit lagi. "Kau mengambilnya dari brankasku, kan? Jawab aku, Darah-Lumpur." Desis Bellatrix dengan suara berbahaya.
"Tid—Tidak—Sungguh—" kata Hermione terbata-bata.
Bellatrix menghantamkan kutukan itu lagi ke tubuh Hermione. Hermione menjerit semakin keras. Draco berteriak-teriak memanggil namanya.
"HERMIONE! HERMIONE!"
"DIAM..." bentak Bellatrix. "Kalian berdua sangat berisik. Dasar anak tidak berguna." Ia menoleh ke arah Hermione. "Sekali lagi, Mudblood. Katakan saja sejujurnya, kau mengambilnya dari brankasku di Gringgots, kan? JAWAB AKU..."
Hermione menangis. "Tidak—Tolong.. Aku tidak pernah mengambil apapun—"
"PEMBOHONG..."
Sekali lagi, Bellatrix merapalkan kutukan Cruciatus yang menyakitkan itu ke tubuh Hermione. Hermione menjerit kesakitan. Ia merasakan sakit yang luar biasa. Seperti ribuan pisau menusuk-nusuk tubuhnya hingga ke tulang.
Bellatrix berjongkok di samping tubuh lemas Hermione. Ia menyibak lengan jubah kiri Hermione. "Beritahu aku, apa saja yang sudah kau ambil dari dalam brankasku?" teriak Bellatrix.
Dengan mulut bergetar, Hermione menjawab, "Tidak. Aku tidak mengambil apapun. I-Itu pedang tiruan. A-Aku menemukannya."
Bellatrix menyeringai. "Baiklah." Desisnya. Ia mencengkeram lengan kiri Hermione dan menorehkan ujung pisau yang tajam itu di lengan Hermione. Hermione menjerit semakin keras. Mata Draco berkaca-kaca melihat kekasihnya di siksa begitu kejamnya seperti itu. Bellatrix tertawa seperti orang kelainan jiwa.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Bellatrix mengangkat lengan Hermione. Mengarahkannya ke cahaya lampu, menampilkan kata 'Mudblood' yang jelas sengaja ia torehkan di lengan Hermione. Luka torehan itu mengeluarkan banyak darah, berkilauan tertimpa cahaya lampu. "Bagaimana, eh? Indah bukan?" tanya Bellatrix sambil tertawa gila.
Hermione hanya diam tidak menjawab.
Kemudian Bellatrix melepas tangan Hermione dengan kasar dan berdiri. Berteriak-teriak memanggil Wormtail. Pria kecil itu berlari menaiki tangga sambil mencicit, membungkuk rendah di depan Bellatrix. "Panggil Goblin itu kemari untuk mencari tahu ini pedang yang asli atau bukan." Perintahnya. Wormtail mengangguk dan segera berlari ke Penjara Bawah Tanah.
Hermione menoleh memandang Draco. Ia mengangkat tangannya yang terluka dengan gemetar, menggapai-gapai ke arah Draco yang berdiri agak jauh dari tempatnya. Draco meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari cengkraman Scabior. Namun tidak bisa. Scabior tertawa mengejek.
"Tenanglah, Sayang." desis Bellatrix di telinga Draco. "Kau akan mendapat giliran. Kau mau apa? Cruciatus? Atau—Avada?" bisik Bellatrix dengan nada menjijikkan.
Draco menggeram marah.
Wormtail menarik tubuh kecil Griphook, Goblin yang bekerja di bank Gringgots, untuk menghadap Bellatrix. Ia melempar tubuh Griphook ke kaki Bellatrix. Bellatrix menunduk dan mengangkat wajah Griphook.
"Katakan padaku, Goblin. Apakah pedang ini pedang asliku yang berada di Ginggrots?" desis Bellatrix.
Griphook menatap tubuh Hermione yang tersungkur di lantai, Hermione balas menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh air mata. Griphook menoleh kepada Bellatrix lagi. "Tidak. Ini adalah pedang palsu. Dan asal kau tahu, Penyihir manapun tidak akan ada yang bisa merampok Bank Gringgots." Jawab Griphook dengan suara serak.
Bellatrix menatap wajah Griphook dengan ragu. "Apa kau yakin, Goblin?"
"Ya." Jawab Griphook singkat.
"Bagus," kata Bellatrix, dan dengan jentikan santai tongkat sihirnya dia menambahkan satu torehan luka yang dalam di wajah si goblin, dan Griphook ambruk dengan jeritan di kakinya. Bellatrix menendangnya minggir. "Dan sekarang," katanya dengan suara penuh kemenangan, "kita memanggil Pangeran Kegelapan." Bellatrix menyingkap lengan jubahnya dan menyentuhkan jari telunjuknya ke Tanda Kegelapan.
"JANGAN..." teriak Draco sambil meronta.
Bellatrix menoleh dan menyeringai licik kepada Draco. "Sudah terlambat. Pangeran Kegelapan akan datang sebentar lagi untuk menangkap kalian berempat." Katanya, dengan suara kasihan dibuat-buat. "Dan menurutku," ia melangkah menghampiri tubuh Hermione, "kita bisa membuang si Darah-Lumpur. Greyback, ambil dia kalau kau menginginkannya."
"TIDAAAKK.." teriak Draco.
Namun disaat bersamaan, Harry dan Ron telah menghambur gesit ke dalam ruangan itu. Bellatrix shock, dia berganti mengacungkan tongkat sihirnya kepada Ron.
"Expelliarmus." Raung Ron mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Bellatrix. Tongkat sihir Bellatrix terlempar ke udara dan ditangkap oleh Harry yang berada di belakang Ron. Lucius, Narcissa, Greyback, Scabior, dan Draco menoleh. Lucius bangkit untuk menyerang.
"Stupefy." Ucap Harry. Lucius jatuh pingsan ke samping perapian. Kilatan cahaya hijau muncul dari tongkat sihir Greyback, Harry berguling menghindar. Mereka berdua saling beradu mantera, sampai suara Bellatrix menghentikan mereka.
"HENTIKAN. ATAU AKAN KUBUNUH DIA—JATUHKAN TONGKAT KALIAN. CEPAT." Bentak Bellatrix. Ia menyangga tubuh lemas Hermione dan memegangi pisau peraknya ke leher Hermione. "Jatuhkan tongkat kalian, atau kalian akan melihat dengan jelas, betapa kotornya darahnya." Pekik Bellatrix, menekankan pisaunya ke leher Hermione. Draco, Harry, dan Ron bisa melihat butir-butir darah muncul di sana.
"Baiklah." Seru Harry. Ia dan Ron menjatuhkan tongkat sihir masing-masing.
Bellatrix menyeringai. "Cissy, ambil tongkat mereka. CEPAT." Perintah Bellatrix.
Narcissa menatap Harry dan Ron sekejap dan kemudian mengambil tongkat sihir mereka, ia berlari kembali ke tempatnya semula dengan tubuh gemetar.
"Sekarang," kata Bellatrix pelan, "Cissy, kau ikat kedua pahlawan kecil kita, sementara Greyback mengurusi Nona Darah-Lumpur. Aku yakin Pangeran Kegelapan tidak akan keberatan kau memiliki gadis ini, Greyback, setelah apa yang kau lakukan malam ini.
Bersamaan dengan diucapkannya kata terakhir, terdengar bunyi ciutan aneh dari atas. Semuanya menengadah ke atas dan sempat melihat kandil kristal itu bergetar. Kemudian, dengan bunyi keriat-keriut dan gemerincing tak menyenangkan, kandil itu jatuh. Bellatrix tepat di bawahnya. Ia melempar tubuh lemas Hermione, menghindar untuk menyelamatkan diri sambil menjerit.
Draco menonjok wajah Scabior, dan dengan cekatan ia berlari maju menangkap tubuh lemas Hermione, Ron berlari ke arahnya. Harry menggunakan kesempatan ini untuk berlari ke arah Narcissa untuk mengambil tongkat sihir yang tadi ia ambil. Narcissa tidak menolak, ia bahkan mengulurkannya kepada Harry sembari tersenyum. Harry membalas senyumannya dan merapalkan mantera 'Expelliarmus' ke arah Greyback yang langsung terpental jatuh.
"DASAR PERI BODOH." Jerit Bellatrix sambil melompat berdiri. Ia mengacungkan pisau peraknya ke segala arah dengan liar. "Dobby," jeritnya ke arah pintu, "kau menjatuhkan kandil—"
Peri-Rumah bernama Dobby itu memasuki ruangan sambil menunjuk mantan nyonyanya dengan jari gemetar. "Anda tak boleh melukai Harry Potter." Cicitnya.
"Bunuh dia, Cissy." Jerit Bellatrix. Namun terdengar bunyi tar keras, dan tongkat Narcissa juga melayang ke udara terjatuh ke samping.
"Kau monyet kecil kotor!" bentak Bellatrix ke arah Dobby. "Berani-beraninya kau mengambil tongkat Penyhir, berani-beraninya kau menentang majikanmu?"
"Dobby tidak punya majikan. Dobby adalah peri bebas. Dobby datang untuk menyelamatkan Harry Potter dan teman-temannya." Cicit Dobby sambil menggenggam tangan Harry. Ron berlari ke arah Goblin yang jatuh masih memeluk Pedang Gryffindor dan menariknya mendekat ke arah Harry.
Namun sebelum Draco berlari ke arah mereka sambil menyangga tubuh lemas Hermione, mereka sudah ber-Disapparate. Draco mendengar Hary dan Ron berteriak bersamaan. "Draco—Hermione—" namun terlambat baginya. Ia dan Hermione masih tertinggal di lantai Mannor.
Hermione mencengkeram jas Draco dan merapatkan tubuhnya ke pemuda itu. Bellatrix menyeringai penuh kemenangan. "Tertinggal, eh, Sayang?" tawanya. "Ajal kalian sudah dekat. Pangeran Kegelapan akan datang."
Dan dengan bunyi kepakan jubah, Voldemort sudah berdiri di depan pintu.
.
.
.
~To be Continue~
Hollaa... ( '-')/ \('-' )
Ketemu lagi sama author yang nulis fict aneh ini ._.
Bagaimana, eh? Aneh? Jelek? Gaje?
Huwwwaaa... T^T Maafkan author newbie ini
Langsung saja, RnR please...
Don't be Silent Readers (y)
