"Draco, please. Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu."
"Aku juga. You're My Soul, Hermione Granger."
-o0o-
Disclaimer : J.K. Rowling, tetapi ide dan cerita murni punya saya
Pairing : DraMione
Rated : T
Latar : Ketika Harry Potter dan kawan-kawan mencari Horcrux
WARNING!
DON'T LIKE, DON'T READ
RnR, please...
(Chapter 6)
-o0o-
Draco mendekap tubuh Hermione lebih rapat. Perasaannya tidak enak, ia takut terjadi apa-apa pada dirinya dan Hermione. Keringat dingin mengalir deras—membasahi dahi Draco. Hermione mencengkeram lengan Draco dengan kuat, hingga ia merasa tangannya kebas. Draco bisa merasakan tubuh mungil Hermione bergetar hebat.
"It's ok. Don't worry." Bisik Draco berkali-kali di telinga Hermione.
Hermione mengangguk—mencoba tenang dan berpikiran positif.
Voldemort berjalan mendekati Draco dan Hermione dengan tatapan mata ular merahnya yang menusuk. Nagini—ular Voldemort—mengikuti majikannya dengan meliak-liuk angkuh. Mendesis ke arah setiap Pelahap Maut yang ia lewati.
Jari tangannya yang panjang seperti kaki laba-laba mengangkat dagu Draco, memaksa sang empunya mendongak menatap matanya. Namun, Draco menepisnya, membuat Ibunya memekik tertahan di balik telapak tangannya. Bellatrix mendelik menatap Draco dengan tatapan 'beraninya-kau-melakukan-itu-kepada-Tuanmu'.
Bibir Voldemort melengkung, membentuk senyuman kematian.
"Draco Malfoy," katanya, dengan suara mendesis seperti ular, "akhirnya kau pulang juga, Son."
Pandangan Voldemort beralih menatap Hermione yang meringkuh di pelukan Draco dengan dada naik-turun. "Tetapi kenapa kau membawa SAMPAH ini ke tempat kita?"
"My Lord, saya bisa jelaskan—" sahut Bellatrix, sambil maju ke depan dengan membungkuk rendah.
"DIAM! Aku hanya butuh penjelasan dari Draco." bentak Voldemort.
Bellatrix membungkuk lagi, kali ini dengan muka memerah akibat menahan malu. Rambutnya yang seperti sulur pohon beringin itu menari-nari di depan wajahnya akibat terkena tiupan nafasnya.
Mata Hermione berair. Campuran antara rasa takut dan sakit akibat luka sayatan yang ditorehkan Bellatrix di lengan dan pipinya. Tangan kirinya memeluk erat pinggang Draco, tangan kanannya mencengkeram lengan kekar Draco. Ia berdo'a dalam hati, supaya ia dan Draco bisa keluar dari sini dengan selamat.
Kepala Draco mendongak dengan angkuh. Ia berdiri dari posisi duduknya sambil menyangga tubuh Hermione—membantunya untuk ikut berdiri. Meskipun kakinya terasa kebas dan lemas untuk berdiri, Draco tetap memandang Voldemort dengan angkuh, khas seorang Malfoy seperti biasa.
"Aku tidak kembali untuk ikut denganmu. Aku kembali untuk membunuhmu. Yeah, aku berada di pihak seberang." Ucap Draco dengan mantap dan bangga, tanpa keraguan. "Aku baru saja sadar akan satu hal. Aku adalah Malfoy, keluarga Pure-Blood. Dan kau—kau adalah Riddle, keturunan Mudblood. Kau hanyalah Half-Blood. Dan kau seenaknya saja memerintah keluarga Pure-Blood? Ingatlah, Voldemort. Statusmu, lebih rendah dari statusku."
Hermione memejamkan matanya ketika merasa ada mantera yang menghantam tubuh Draco. Ia merasa tubuh Draco yang sedari tadi memeluknya, ambruk ke belakang. Tanpa sadar, air matanya meleleh, namun ia tidak berani membuka matanya. Takut-takut hal buruk menimpa Draco.
"CRUCIO..." teriak suara dingin Voldemort.
Mata Hermione membuka seketika. Jadi Draco tidak dibunuh, hanya kutukan Cruciatus-lah yang menghantamnya. Ia pun menoleh ke belakang untuk melihat Draco.
Tubuh Draco menggeliat ngeri di lantai marmer Mannor. Namun, ia tidak menjerit sedikitpun. Hermione tahu, bahwa ia berusaha menolak kutukan itu, seperti yang diajarkan Mad-Eye palsu di tahun keempatnya.
"BERANINYA KAU MENYEBUT NAMA KOTOR AYAHKU! BERANINYA KAU MENGHINAKU, BOCAH INGUSAN! APA KAU TIDAK TAHU SEKARANG SIAPA YANG KAU HADAPI? AKU—"
"STOP IT!" teriak Hermione, memotong kalimat Voldemort. Hermione menendang tongkat Voldemort yang mengarah ke arah Draco.
Tongkat itu terlempar ke arah Hermione. Dengan cepat, Hermione menggapainya dan mematahkannya jadi dua. Ia membuangnya dan menginjak-injak tongkat itu.
Namun itu semua tidak ada gunanya. Voldemort masih bisa bertindak tanpa menggunakan tongkat. Senyuman kematian itu muncul lagi di wajah pucatnya. Ia tertawa terbahak-bahak, hingga tawanya menggema di ruangan itu. Nafas Hermione memburu.
Voldemort mengangkat kedua tangannya ke samping. Seketika, bayangan-bayangan gelap mencengkeram tangan dan kaki Hermione. Hermione tidak bisa bergerak. Voldemort menghampirinya, dengan mata merah seperti ular itu menusuk menatap Hermione. Hermione dapat merasakan jari-jari tangan Voldemort yang dingin dan panjang itu menyentuh pipinya.
Ia tertawa sejenak.
"Ckckckck... kau begitu bodoh, Mudblood. Apa kau pikir Lord Voldemort ini bisa dikalahkan dengan cara mematahkan tongkatnya, seperti penyihir-penyihir lainnya, eh? Hahahaha... KAU SALAH!"
SRET!
Jeritan Hermione yang memilukan terdengar lagi di ruangan itu, disertai tawa kepuasan dari Voldemort. Terlihat, luka sayatan dalam di leher jenjang Hermione. Luka itu mengeluarkan darah banyak sekali. Hermione terisak pelan. Voldemort memegang darah Hermione.
"Lihat, Mudblood. Darahmu. Apa kau tidak lihat seberapa kotor darahmu, eh?" oloknya. Sekali lagi, Voldemort tertawa seperti orang terkena gangguan jiwa.
"Bellatrix, bawa gadis kecil Mudblood ini ke Penjara Bawah Tanah. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Draco Malfoy. Setelah itu..." Voldemort menyeringai, "aku akan memusnahkan gadis Mudblood itu."
Kaki-kaki Bellatrix melangkah maju—seperti tadi—sambil membungkuk rendah. Ia mencengkeram tubuh Hermione dan menyeretnya. Hermione hanya bisa terisak sambil merasakan sakit yang luar biasa di lehernya. Bibir Bellatrix berkali-kali mengucapkan cemoohan di telinga Hermione, namun Hermione tidak mempedulikannya. Yang ia pikirkan sekarang adalah...
Bagaimana dengan kekasihnya, Draco Malfoy?
Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana Voldemort menyiksanya, atau bahkan... membunuhnya. Tidak! Tidak! Hermione menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan dan pikiran itu jauh-jauh dari kepalanya.
Tanpa terasa, Hermione sudah didorong masuk begitu saja oleh Bellatrix ke dalam Penjara Bawah Tanah. Tubuhnya tersungkur di lantai Penjara yang dingin dan lembab. Tanpa basa-basi, Bellatrix segera mengunci pintu Penjara, dan berjalan ke atas, meninggalkan Hermione sendirian di Ruangan itu.
Hermione mencoba berdiri, namun tidak bisa. Kakinya terlalu lemas. Ia memutuskan untuk duduk sambil bersandar saja, daripada membuang-buang sisa tenaganya untuk berdiri. Matanya yang sembab berkeliling mengamati ruangan itu.
Keadaannya gelap, hanya ada setitik cahaya di dalam lampu minyak di ujung ruangan. Pastilah itu cahaya dari Deluminator Ron. Bau apak jamur tercium sangat menyengat di ruangan ini. Hermione meruluskan kakinya yang lemas, menyentuh luka sayatan di lehernya. Sesekali ia mengernyit akibat sakit yang ia rasakan ketika jarinya menyentuh lukanya terlalu keras.
"NOOOO..."
Terdengar teriakan Draco dari ruangan atas. Hermione mendongak, bibirnya berkomat-kamit memanggil nama Draco berulang kali. Ia merayap menuju pintu Penjara, berharap ada seseorang yang memberi tahunya apa yang terjadi.
Hermione berteriak-teriak memanggil nama Draco, sambil sesekali menggoyang-goyang pintu sel Penjara itu—berharap pintu itu bisa membuka dengan sendirinya, meskipun ia tahu itu tidak akan terjadi.
Suasana hening terasa di Ruangan Atas tempat Voldemort menyiksa Draco. Ada apa? Apa yang terjadi? Pertanyaan itu terus berputar di dalam pikirannya. Apa jangan-jangan Draco...
TIDAK!
Suara langkah kaki terdengar menggema, seperti orang yang menuruni tangga menuju Penjara tempat Hermione berada. Namun ia tidak bisa melihatnya. Ia hanya bisa berharap itu adalah Draco. Suara langkah kakinya yang angkuh semakin lama semakin terdengar jelas. Ia bisa melihat seseorang di sana—membawa tongkat yang ujungnya mengeluarkan setitik cahaya kecil.
Namun dugaannya salah. Orang itu bukanlah Draco Malfoy seperti harapannya. Sesosok itu adalah Narcissa Malfoy, Ibu Draco. Hermione terisak dan menyeret tubuhnya untuk mundur, menjauh dari pintu Penjara. Narcissa berjongkok di depan Pintu sel dengan tatapan dingin. Namun sekejap kemudian, ia tersenyum ramah.
Hermione mengerutkan dahinya bingung.
"Tak apa, aku tak akan menyakitimu. Kemarilah, Hermione." bisik Narcissa dengan lembut, khas keibuan.
Dengan ragu, Hermione menyeret tubuhnya untuk maju lagi—mendekati pintu sel. Narcissa tersenyum menyambut Hermione. Ia bahkan membelai rambut Hermione dan memberikannya sebuah ikatan rambut berwarna hitam, di tengahnya terdapat emblem 'M'—lambang keluarga Malfoy. Hermione tersenyum menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
"Justru aku yang ingin berterima kasih, Dear." Bisik Narcissa. "Terima kasih kau telah menjaga Draco ketika ia jauh dariku."
Hermione mengangguk pelan.
"Apa aku boleh tahu, apa tujuan kalian—kau, Draco, dan teman-temanmu—kesini?"
Hermione menatap Narcissa dengan ragu. Mungkin Voldemort menyuruhnya untuk menggali informasi tentang misinya. Jadi Hermione memutuskan untuk diam tidak menjawab.
Bibir Narcissa melengkung membentuk senyuman ramah. "Tak apa jika kau tidak mau menjawabnya, mungkin kau akan menjawabnya lain kali. Dan... mungkin aku akan memberitahu rahasiaku sekarang."
Hermione mendongak dengan cepat, sehingga lehernya yang terluka terasa sakit.
"Aku berada di pihakmu." Bisik Narcissa, membuat Hermione menganga bodoh. Sekali lagi, Narcissa tersenyum. Setelah itu, ia berdiri dan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai atas.
Hermione mengorek telinganya, mungkin ada yang salah dengan organ pendengarannya itu. Narcissa Malfoy berada di pihaknya? Ini tidak mungkin. Keluarga Malfoy adalah salah satu keluarga pengikut setia Voldemort. Tapi... bagaimana dengan Draco Malfoy? Ia juga berada di pihaknya, kan? Jadi, mungkin saja Narcissa berbalik pihak dan ikut menentang Voldemort. Beberapa menit berlalu setelah ia berdebat dengan pikirannya, akhirnya ia tertidur.
"Hermione..."
"Hermione..."
"Hermione..."
Sayup-sayup terdengar suara yang memanggil-manggil nama Hermione. Sang empunya nama membuka matanya dengan malas-malasan.
"Bangun, Dear." Bisik seseorang itu sambil menggenggam tangan Hermione.
Sekali lagi, Hermione mengerjapkan matanya. Ia bisa melihat—seperti cahaya obor—menari-nari di depannya. Dengan enggan, Hermione membuka mata, mencoba melihat siapa gerangan yang memanggilnya.
Draco berjongkok di depan pintu sel Penjara dengan baju bersimbah darah dan muka penuh sayatan dan lebam. Ia tersenyum ramah kepada kekasihnya. Hermione yang melihat Draco, langsung bangun dan memeluk Draco—meskipun agak susah karena terhalang oleh pintu sel Penjara. Hermione menangis sesenggukan seperti anak kecil.
"Hei, hei, kenapa menangis? Ada apa?" bisik Draco dengan lembut, membelai rambut Hermione yang sekarang terkuncir rapi. Draco tersenyum tatkala melihat ikat rambut yang dikenakan Hermione saat ini. "Apa ibuku baru saja menjengukmu?"
Dengan masih menangis, Hermione menjawab hanya dengan sekali anggukan.
Draco tersenyum mengerti. Sesekali ia mengernyit, karena lebam di ujung bibirnya membuatnya sakit ketika tersenyum. Namun senyum bahagia Draco terus mengembang—meskipun sakit. Ia senang bisa bertemu dengan Hermione lagi. Draco mencium pipi Hermione dan melepaskan pelukannya.
Hermione mengamati wajah Draco. Luka-lukanya terlihat jelas ketika terkena cahaya dari nyala obor yang digantung Draco di dinding. Hati Hermione mencelos, pastilah Voldemort yang menyiksa Draco sampai seperti ini. Untunglah Voldemort tidak membunuh Draco.
"Ada apa, Mione? Kenapa kau melihatku seperti itu? Hn?" gumam Draco dengan lembut.
Namun bukannya menjawab, Hermione mengeluarkan sebotol Essence of Dittany dari dalam tas manik-manik kecilnya yang tinggal setetes atau dua tetes untuk dioleskan kepada Draco. dengan lembut dan penuh ketelatenan, Hermione mengoleskan Dittany yang tinggal sedikit itu dengan rata ke wajah Draco. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya.
"Lalu bagaimana dengan lukamu?" tanya Draco.
Sambil memasukkan botol Dittany yang sudah kosong ke dalam tasnya kembali, Hermione menggerakkan mulutnya seperti menjawab 'I'm okay'. Ternyata, energinya yang sudah habis ini membuat suaranya susah keluar.
Dengan sayu, Draco memandangi wajah Hermione yang kurus. Matanya sembab dan memerah, ada segaris luka sayatan di pipinya yang tirus, tetapi bibirnya masih mengembangkan senyuman. Ia merasa, meskipun keadaan Hermione sedang parah, ia tetap gadisnya yang cantik. Draco merasa beruntung memiliki gadis yang kuat dan tabah seperti Hermione. Tidak semua wanita dapat menjadi 'Pahlawan' yang anggun seperti Hermione.
"Kau lapar?" tanya Draco, sambil merogoh saku jas hitamnya. Ia mengeluarkan sepotong besar daging sapi panggang yang di bungkus kain lap berwarna putih. Draco juga mengeluarkan sebuah apel hijau segar, empat lembar roti, dan setermos jus jeruk. "Ibu membantuku mengambilkannya untukmu. Dan—tenang saja, aku sudah makan." Tambah Draco ketika Hermione hendak menyuapinya.
Hermione tersenyum lemah. Ia menggigit lembaran pertama rotinya dengan pelan. Draco mengawasinya dengan tersenyum. Sebenarnya Hermione risih, apabila ia makan dan diawasi oleh seseorang. Tapi, mana mungkin ia mengatakannya kepada Draco. Takut-takut pria itu tersinggung.
Setelah menghabiskan dua lembar roti dan seperempat daging sapi panggangnya, Hermione menenggak jus jeruknya yang terasa segar ketika melewati tenggorokannya.
"Sudah kenyang?" tanya Draco sambil terkekeh.
Dengan malu-malu, Hermione mengangguk mengiyakan. "Terima kasih, Draco." ucapnya, dengan suara serak.
"Anything for you, Dear. Anything." Jawab Draco. "Simpan sisa makananmu di tempat yang aman. A-aku harus kembali ke atas—"
"Draco—"
"Aku harus, Mione."
"Jangan tinggalkan aku sendiriran."
"Aku tak pernah meninggalkanmu, Dear. I always in here, with you."
"Aku takut."
"Jangan takut, Sayang. A-aku punya sesuatu untukmu." Draco merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda seperti bulpoin, ia memberikannya kepada Hermione. "Ini alat buatanku sendiri. Aku juga punya satu disini." Draco mengangkat bulpoin punyanya yang ia kalungkan di leher. "Jika ada apa-apa atau membutuhkan sesuatu, kau tinggal menekan bulpoin ini, dan aku akan menghampirimu, Okay. Apa kau mengerti?"
"Sangat mengerti." Bisik Hermione.
"Baiklah. Aku juga akan mencoba mencari buku itu. Kau tahu—tentang Relikui Kematian."
"Ya."
"Baiklah. Sampai jumpa, Mione. Aku mencintaimu." Bisik Draco sambil mengecup dahi Hermione sekilas. Kemudian ia melangkah pergi menaiki undakan menuju lantai atas.
Hermione menggeser duduknya untuk bersandar di dinding. Sekarang ia sendiri lagi. Ia memutar-mutar bulpoin yang diberikan Draco barusan dan mengamatinya. Tanpa sadar, air matanya berjatuhan. Kapan ini semua berakhir? Supaya seluruh dunia sihir dapat hidup tentram seperti dahulu kala sebelum Voldemort berkuasa. Lalu bagaimana kabar Ron dan Harry? Hermione sangat rindu kepada teman-temannya. Apa mereka berhasil menemukan Horcrux lagi? Jika saja ia bisa berkomunikasi, ia akan menanyai Harry dan Ron macam-macam.
Suara langkah sepatu Draco bergema di lorong Mannor yang gelap dan hanya diterangi nyala obor-obor kecil di dinding. Pria bersurai platina itu hendak pergi ke Perpustakaan Mannor. untuk—seperti yang dikatakannya kepada Hermione tadi—mencari buku Relikui Kematian itu. Draco mempercepat langkahnya, ia sudah tidak sabar untuk bisa menemukan buku itu.
Namun saat di tengah jalan, Bellatrix Lastrange mencegat Draco. ia menyeringai melihat Draco. Draco hanya memutar bola matanya dan menatap bibinya itu dengan dingin.
"Apa yang kau lakukan disini, Draco?" kata Bellatrix, dengan suara manjanya yang sungguh menjijikkan.
Sekali lagi Draco memutar bola matanya. Ia malas sekali menjawab pertanyaan Bibinya—yang menurutnya tidak penting itu. "Ini rumahku, Bi. Terserah kemana kakiku mau melangkah, itu semua bukan urusanmu." Jawabnya dengan ketus.
Bibir Bellatrix melengkung membentuk seringai menyebalkan. "Wow... lihatlah keturunan Malfoy ini, eh." Bellatrix mengamati Draco dari ujung kepala sampai ujung kuku kaki. "Beginikah sikap Pewaris Tahta Malfoy yang sesungguhnya? Tidak mempunyai sopan santun, tidak bermartabat, eh? Ckckckck... sayang sekali. Jangan sampai Ayahmu tahu mengenai sifatmu ini, Draco." ejek Bellatrix. Ia menyeringai ke arah Draco lagi, dan melangkah pergi.
Draco hanya melirik Bibinya itu dengan sebal. Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya lagi ke Perpustakaan. Lebih cepat lebih baik.
Jemari panjang Draco menggenggam gagang pintu Perpustakaan. Ia membukanya perlahan agar decit aneh yang dihasilkan oleh pintu tidak terdengar oleh seisi Mannor. Ia mendesah lega dan segera melompat memasuki Perpustakaan.
Keadaannya gelap. Draco mengeluarkan tongkatnya yang diselamatkan oleh Ibunya dari dalam saku celana. Merapalkan Lumos sehingga ruangan sedikit terang. Ia mulai berkeliling mencari-cari buku itu di deretan rak-rak yang melingkar di dinding dan menjulang tinggi. Buku-buku tua yang sampulnya agak mengelupas membuatnya sulit mencari. Hampir semua buku-buku disini tidak bisa dibedakan.
Kaki Draco menginjak sesuatu, seperti gumpalan perkamen. Karena penasaran, ia memungutnya. Dibukanya gumpalan perkamen itu. Hanya ada tulisan-tulisan kecil bertinta merah yang ada di kertas itu. Namun sepertinya tulisan itu baru saja ditorehkan. Tintanya masih menyala-nyalan terkena cahaya tongkat Draco.
Ada lambang Relikui Kematian disamping tulisan 'One Master of Death'.
Draco mengerutkan keningnya dengan bingung. Apa maksudnya ini? Ia mendudukkan dirinya di kursi berlengan tempat biasanya ia membaca di pojok ruangan. Ia terus memutar otaknya, berfikir akan maksud dari kalimat ini. Ini pasti ada hubungannya dengan Relikui Kematian. Terlihat dari tulisan ini yang disandingkan dengan lambang Relikui Kematian.
Draco melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku jas. Ia berdiri lagi untuk mencari-cari buku itu. Ia sudah merapalkan mantera 'accio' berharap buku itu dapat muncul dengan sendirinya setelah dipanggil, ternyata tidak. Buku itu tetap bersembunyi di tempatnya yang entah dimana. Draco juga sudah menaiki tangga-tangga menuju rak atas, ia membaca satu persatu ribuan sampul buku yang ada di ruangan ini.
Dan akhirnya ia menyerah.
Ia pikir, mungkin bukunya ada di tempat lain, bukan disini. Dengan uring-uringan, Draco melangkah keluar untuk mencari ibunya.
"Mom." Panggil Draco ketika melihat Ibunya sedang meminum segelas teh di Kamarnya. Ia pun masuk.
"Ya, Sayang."
"Aku mau menanyakan sesuatu." Ujar Draco dengan tersengal. "Apa Ibu tahu dimana buku Relikui Kematian milik Kakek dulu? Ini penting sekali, Mom." Desak Draco, membuat Ibunya mengerutkan keningnya dengan heran.
Dengan anggun, Narcissa meletakkan cangkirnya di meja dan memutar badannya menatap anak tunggalnya itu. "Untuk apa kau mencarinya, Dear?"
"Ini penting, Mom. Katakan saja dimana, dan aku akan mengambilnya."
Narcissa menghela nafas panjang. "Kau tidak akan mampu mengambilnya, Sayang."
Dahi Draco berkerut. "Kenapa tidak? Aku yakin aku bisa mengambilnya, Mom. Ayolah, katakan saja dimana." Bujuk Draco.
Sekali lagi Narcissa menghela napas panjang. "Buku itu... ada di dalam kamar The Dark Lord."
.
.
.
~To be Continue~
Halloo... ( '-')/ \('-' )
Ketemu lagi sama author :v
Maap author telat update ... XD Soalnya author lagi asyik liburan di kampung halaman :v /Gk nanya
Okay, tanpa basa-basi
RnR, please...
DON'T BE SILENT READER,GUYS.. ;)
Satu ripiw amat berharga bagi author untuk mengembangkan fict gaje ini :)
