"Draco, please. Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu."
"Aku juga. You're My Soul, Hermione Granger."
-o0o-
Disclaimer : J.K. Rowling, tetapi ide dan cerita murni punya saya
Pairing : DraMione
Rated : T
Latar : Ketika Harry Potter dan kawan-kawan mencari Horcrux
WARNING!
DON'T LIKE, DON'T READ
RnR, please...
(Chapter 8)
-o0o-
Matahari sudah mulai muncul di ufuk timur. Cahayanya menembus kaca jendela yang telah terbuka sedikit gordennya, menari-nari di wajah seorang gadis yang sedang terlelap. Hal itu membuat sang gadis mengerjapkan matanya—terbangun.
Namun Hermione merasa, ada sesorang yang tengah memeluk pinggangnya. Ketika ia menoleh ke samping—betapa terkejutnya dia—sang kekasih, Draco Malfoy, sedang tidur nyenyak di sampingnya sambil memeluk erat tubuh Hermione. Karena tak ingin sang kekasih terbangun, ia dengan perlahan memindahkan lengan Draco yang sedari tadi memeluknya, mengecup pipinya sejenak, dan bangkit hendak membersihkan diri.
Sebelum ia pergi ke kamar mandi, ia berhenti sejenak di depan jendela yang gordennya terbuka sedikit. Pagi yang indah, batinnya. Namun sayangnya, ini bukan hari yang indah, menurut Hermione. Sebab, ia dan Draco belum berhasil mengambil buku Relikui Kematian dan keluar dari Mannor ini dengan selamat.
Kepalanya menunduk. Entah kenapa, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat berat untuknya. Belum lagi, ditambah rencana gila yang sudah disusunnya semalam. Ia belum membicarakannya kepada Draco. Ia tidak yakin rencana ini akan berhasil, mengingat di sekeliling Mannor ini dijaga ketat oleh para Pelahap Maut yang haus darah dan ia juga belum mengetahui seluk-beluk Mannor ini dengan pasti.
Hermione tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara erangan pelan dari belakangnya. Draco Malfoy mengerang perlahan sambil mengernyit ketika silau matahari menghantam wajah pucatnya. Hermione terkekeh pelan melihat tingkah Draco yang seperti anak kecil itu. Sungguh konyol.
Ide jahil terlintas di kepala Hermione tiba-tiba. Ia membuka gorden itu lebih lebar, sehingga sinar matahari yang masuk akan lebih banyak. Sepertinya kejahilan Hermione berhasil memancing kemarahan Draco, terbukti dari mulut Draco yang mengeluarkan umpatan-umpatan kasar. Namun ia tak sadar, bahwa yang melakukan itu adalah kekasihnya sendiri.
"Ayo bangun, Draco. Mau sampai kapan kau tidur terus seperti kerbau? Apa kau tak malu dengan ayam yang bangun mendahuluimu, hn? Ayo, sayang..." bujuk Hermione sambil menarik-narik selimut yang menutupi tubuh Draco. Ternyata Draco masih mengenakan pakaiannya semalam, hanya saja tanpa jas.
Draco mengerjap dari balik selimutnya. Yang pertama kali ia lihat ketika membuka mata adalah wajah Hermione yang bersinar tertimpa cahaya matahari. Sungguh indah dan... cantik. Bibirnya terangkat membentuk seringai jahil. "Kau mau aku bangun, eh, Hermione?" matanya berkilat nakal. "Berikan aku ciuman selamat pagi terlebih dahulu, Honey."
Dengan sebal, Hermione memukul wajah Draco menggunakan guling. "Apa? Ciuman apa? Tak ada ciuman. Cepat bangun. Atau kalau tidak—"
"Kau akan menciumku." Sela Draco dengan nada manja.
Hermione memukuli muka Draco lagi, namun kali ini berkali-kali. Draco malah terkekeh. Rasanya senang dapat menggoda Hermione lagi seperti di Hogwarts dulu. Ia sungguh merindukan masa-masa itu. Draco membalas pukulan Hermione dengan senyuman hangat, bukan senyuman mesum seperti biasanya.
Gadis itu terheran-heran. Apa pukulannya membuat otak Draco bermasalah sehingga ia senyum-senyum tak jelas seperti itu? Hermione mengibaskan tangannya di depan wajah Draco. "Kau tak apa? Draco? Jangan membuatku takut."
Mendengar nada khawatir keluar dari mulut Hermione, Draco malah terkekeh pelan. "Aku tak apa, Sayang. Aku hanya rindu masa-masa kita bertengkar dulu di Hogwarts. Apa kita bisa mengulanginya lagi? Er... dengan cara yang berbeda. Kau tau maksudku, kan?"
Kali ini ekspresi muka Draco yang mesum berhasil membuat Hermione jengkel—sekaligus membuat pipinya memerah seperti tomat. "Apa maksudmu? Ki—Kita—Kita kan belum menikah. Tidak boleh. Dasar kau otak mesum." Bentak Hermione, sembari mengerucutkan bibirnya—membuatnya terlihat semakin manis.
"Aku tidak bicara soal itu." Ujar Draco. Tak lama kemudian, seringai nakal itu kembali menghiasi wajahnya, "Apa jangan-jangan kau yang ingin melakukan itu?" goda Draco, membuat pipi Hermione semakin memerah karena malu.
"S-Sudahlah, ak-aku mau mandi." Kata Hermione, sambil berlalu—meninggalkan Draco yang terus-menerus menyeringai menyebalkan.
~o0o~
Hermione terus-menerus menutupi tubuhnnya menggunakan selimut sambil cemberut, memandang Draco dengan sebal dan bersungut-sungut. Sedangkan yang dipandangi hanya tak henti-hentinya tertawa. Melihat itu, Hermione semakin kesal dengan kekasihnya. Ia memalingkan muka dengan terus-menerus mengucapkan sumpah-serapah.
"Oh, ayolah, Hermione. Tak apa, i-itu bagus. Itu cocok di tubuhmu." Kata Draco dibalik tawanya. Sesekali ia terbatuk-batuk karena terlalu banyak tertawa.
Dengan mendengus, Hermione menjawab ucapan Draco dengan ketus. "Cocok apanya? Ini—ini terlalu... ah... Draco. Aku pinjam bajumu saja. Aku malu." Pipi Hermione semakin memerah.
"Ini bagus. Coba kau berdiri. Ayo, berdiri. Bukan aku yang memilihkannya, tetapi Ibu. Ayolah, kau pasti terlihat lebih cantik. Semua baju kepunyaan Ibu ya seperti ini." Bujuk Draco sambil masih terus tertawa.
"Tidak mau." Tegas Hermione. "Aku malu, Draco."
Draco menghentikan tawanya. Wajahnya terlihat memerah akibat terlalu banyak menahan tawa melihat kekonyolan gadisnya itu. Hermione sedikit tersentak ketika Draco mengulurkan tangannya—mengajaknya berdiri. Dengan ragu, Hermione menerima uluran tangan Draco dengan wajah masih menunduk.
Tangan Draco memeluk pundak Hermionee, mengajaknya ke depan cermin besar yang tergantung di samping jendela. "Jika kau menjadi seorang Malfoy, kau harus terbiasa seperti ini." Ucap Draco seraya melepas selimut yang menutupi tubuh Hermione.
Mata Hermione terpaku menatap bayangannya sendiri. Ia sungguh terlihat lebih cantik daripada biasanya—dengan make up tipis terpoles di wajahnya, rambut yang digelung simple ke atas, menyisakan anak rambut yang dibiarkan tergerai indah, memakai gaun hitam panjang tanpa lengan milik Narcissa Malfoy, dan sepatu hak tinggi berwarna silver yang sekilas seperti sepatu kaca di dongeng Muggle, Cinderella. Dan bersyukurlah Hermione, belahan dada gaun itu tinggi, sehingga tidak menampakkan bagian pribadinya.
"Bagaimana? Benar kan kataku? Kau terlihat lebih cantik memakai semua ini." Bisik Draco lembut di telinga Hermione. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya.
Sebuah kalung.
"Er... Draco, itu apa yang kau pegang?" tanya Hermione sambil mengamati kekasihnya dari balik cermin.
"Kalung. Untukmu."
"Ta-Tapi..."
"Shhtt..." Dengan perlahan, Draco memasangkan kalung itu di leher jenjang Hermione.
Kalung itu terlihat indah saat dipakai gadis itu. Dengan liontin berbentuk hati, berkilauan dilapisi permata dan berlian. Sungguh indah. Bukan hanya itu, ketika Draco membuka liontinnya, terdapat foto muggle dirinya dan Hermione semasa mereka kecil dahulu. Ekspresi Draco di foto itu terlihat angkuh seperti biasanya, namun sedikit tersenyum. Tetapi Hermione, ekspresinya sedang mengernyit dengan rambut singanya yang berantakan mencuat kemana-mana.
Melihat fotonya yang seperti itu, Hermione mengerucutkan bibirnya. "Hei, kenapa fotoku seperti itu? K-Kau dapat darimana?" sungut Hermione.
Draco mendengus tertawa, "Apa sih yang seorang Malfoy tidak bisa lakukan?" ujarnya, sambil terkekeh pelan. Deruan nafasnya berhembus menggelitiki tengkuk Hermione, membuat gadis itu sedikit merinding dibuatnya. "Aku mengambilnya diam-diam saat kau mengerjakan essay di perpustakaan pada tahun kedua kita. Aku meminjam kamera muggle milik Collin Creevey—"
"Meminjam atau merampas?"
"Aku setuju dengan yang terakhir. Lebih tepatnya, merampas. Ta-Tapi besoknya aku kembalikan, kok." Ujar Draco cepat-cepat, takut terkena ceramahan Hermione.
Hermione terkekeh sejenak. Namun jujur saja—ia merasa tidak enak dengan Draco. Lihat saja sekarang, ia belum menjadi seorang Malfoy, tapi Draco sudah memperlakukannya seperti istrinya, seperti Mrs Hermione Malfoy. Memberikan barang-barang mewah seperti ini, jelas ini sama sekali bukan kemauannya, tapi Draco sendiri. Ia sudah berkali-kali mencoba menolak, tapi siapa yang bisa mengalahkan ke-keras kepala-an seorang Draco Malfoy?
Deheman Draco membuat Hermione kembali dari lamunannya. "Uhm... Nona. Maukah kau berdansa denganku?" pinta Draco sambil membungkuk seperti pangeran yang mengajak seorang putri berdansa.
"Ta-Tapi, Draco, para Pelahap Maut—"
"Mereka sedang pergi, tenang saja."
Dengan mengulum bibirnya—berusaha tidak tertawa—Hermione menerima uluran tangan Draco dengan dagu terangkat ke atas. Draco tersenyum, segera saja tangan kanannya ia letakkan di pinggang Hermione, dan tangan kirinya menggenggam tangan Hermione dengan lembut—namun erat. Dengan malu-malu, Hermione meletakkan tangan kanannya di bahu Draco. Mereka berdansa dengan perlahan mengikuti alunan musik yang entah muncul darimana.
"A-Aku tidak bisa berdansa, Draco." bisik Hermione dengan sedikit terkekeh.
"Kau pembohong yang payah." Balas Draco. "Aku tahu kau adalah pedansa yang hebat. Aku memperhatikanmu berdansa dengan Viktor Krum di tahun keempat kita."
"Ah... ternyata kau selalu memperhatikanku."
"Itulah yang aku katakan." Jawab Draco, dengan terkekeh pelan.
Mereka berdansa entah berapa lama. Sekarang posisi mereka—kedua tangan Draco, memegang erat pinggang Hermione, dan Hermione menyandangkan kedua tangannya di bahu Draco. Dahi mereka saling menempel—saling merasakan deruan napas masing-masing. Hermione memejamkan matanya, merasakan cinta Draco yang terasa begitu mendalam.
"We have to go now." Bisik Draco dengan suara agak bergetar.
Iris hazel Hermione terbuka, memandang iris kelabu Draco dengan penuh kasih sayang. "Aku tahu. Tapi—kita harus memikirkan caranya masak-masak. Supaya tidak gagal di tengah jalan. Ini bagian tersulitnya. Tapi—Tapi aku sudah menyusun beberapa rencana—yang menurutku tidak akan berhasil." Ucap Hermione.
Mereka berdua terdiam, menghentikan kegiatan dansa mereka. Tetapi tangan mereka masih tetap di posisi masing-masing.
"B-Benarkah?"
Hermione mengangguk lesu.
"Boleh kulihat?"
Sekali lagi Hermione mengangguk, ia berjalan menuju meja tulis Draco dan mengambil selembar perkamen dari dalam lacinya. Ia menghampiri Draco lagi dan memberikan perkamen itu kepadanya.
Mata Draco mengamati tulisan kecil-kecil nan rapi milik Hermione dengan serius. "Kita harus menyusunnya kembali. Aku bisa menggambarkan denah Mannor, lalu kau menyusunnya kembali. Bagaiman menurutmu?" tanya Draco dengan semangat berapi-api.
"Memang itu yang kubutuhkan." Kata Hermione, sambil meloncat-loncat kegirangan.
"Baiklah, tunggu apalagi—"
Mereka berdua terdiam, ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamar. Mereka panik, tanpa pikir panjang, Draco menyuruh Hermione untuk masuk ke dalam lemari pakaian dan menyuruhnya untuk diam.
Setelah Draco merasa Hermione aman berada di dalam lemari, ia membuka pintunya. Namun betapa terkejutnya Draco, Astoria Greengrass masuk langsung memeluk Draco dengan erat. Hermione—yang mengintip dari lubang kunci lemari—memekik tertahan. Draco awalnya shock, namun ia buru-buru tersadar dan mendorong tubuh Astoria kuat-kuat.
"Tori, lepaskan aku. Apa maumu? Kenapa kau kesini lagi?" tegas Draco dengan sebal.
Dengan masih memeluk Draco erat-erat, Astoria terisak pelan. "Aku mau kau kembali kepadaku lagi, Draco. A-Aku menyesal telah menyuruh Theo melakukan hal itu. Ya, ya, ya, aku mengakuinya. Jadi tolong maafkan aku, Draco. Aku mohon." Isak Astoria.
Draco menggeleng kuat-kuat. Kali ini dengan sekali sentakan, ia berhasil meloloskan diri dari Astoria. Ia berjalan mundur—menjauh dari Astoria. "Memangnya siapa kau? Kita tidak pernah punya hubungan apa-apa, Greengrass. Sebelum kau mengakui, aku sudah tahu bahwa kau yang menyuruh Theo melakukan itu. Sekarang, keluar dari kamarku." Bentak Draco.
Namun bukannya takut dengan bentakan Draco, ia malah maju menerjang Draco hingga terjatuh ke tempat tidur—dengan posisi Draco di bawah dan Astoria di atas. Mata Draco membelalak. Berani sekali wanita ini? Pikir Draco. Apa dia tidak punya malu sama sekali?
"Apa kurangnya aku dari si darah kotor Granger? Hn? Aku—Aku bisa memberikan lebih semuanya kepadamu, Draco. A-Apa yang dia punya? Coba sebutkan?"
Dengan masih berusaha membebaskan diri dari gadis gila ini, Draco membentak, "CINTA."
"Aku punya cinta—"
"YANG KAU PUNYA HANYALAH OBSESI BELAKA, GREENGRASS." Bentak Draco sambil mendorong tubuh Astoria ke samping. Setelah itu, Draco buru-buru berdiri menghindari Astoria. "Kau tidak mengerti arti cinta. Kau hanya terobsesi kepadaku, Greengrass."
"Oh, ya?" Astoria bangkit berdiri, namun hanya terdiam di tempatnya. Ia mengangkat tangan kirinya, menunjukkan benda berkilauan yang melingkar di jari manisnya dengan indah. "Kita bisa saling mencintai setelah kita menikah nanti, Draco. Aku tak peduli dengan seberapa besar kau berjuang memperjuangkan hubunganmu dengan gadis Granger. Tapi ingat, suatu saat akhirnya kau akan menikah denganku. Karena apa? Karena kita sudah bertunangan. Kita sudah terikat."
JLEB! Hati Hermione terasa tertohok mendengar perkataan Astoria barusan. Apa? Tu-Tunangan? Apa Astoria serius dengan perkataannya? Tapi jika benar, kenapa Draco tak pernah memberitahunya tentang masalah ini? Ratap Hermione. Ia hanya bisa mengamati Draco dan Astoria dari balik lubang kunci lemari dengan mata berkaca-kaca.
Dengan bersungut-sungut, Draco maju menghampiri Astoria dan membekap mulutnya. "Jangan pernah kau menyebut-nyebut tentang pertunangan secara sepihak itu, Greengrass." Desisnya berbahaya. "Atau kau akan—"
Hermione tak lagi mendengarkan perbincangan Draco dan Astoria. Ia mundur dan bersandar di dinding lemari sembari membekap mulutnya—supaya isakannya tidak terdengar oleh siapapun. Hatinya terasa sakit menerima kenyataan ini semua. Dengan perlahan, ia melepas gelungan rambutnya dan menghapus make upnya menggunakan tangan kosong. Terlalu sakit menerima kenyataan ini.
Ketika Hermione mengintip melalui lubang kunci lagi, ia melihat—ia melihat Draco dan Astoria saling berciuman. Kali ini, ia merasa ada beribu-ribu taring Basilisk yang beracun menikam hatinya. Sakit sekali sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia hanya bisa menangis dalam diam melihat kekasihnya berciuman dengan orang lain.
~o0o~
"Hermione, aku bisa menjelaskan itu semua. Please... dengarkan aku dulu."
"Tak ada yang perlu aku dengarkan, Draco Malfoy. Semuanya sudah jelas. Mataku tidak pernah berbohong. Aku melihatmu dan Greengrass—aku melihatmu—" Hermione bahkan tidak sanggup mengucapkan kata 'berciuman'. Itu terlalu sakit diterima oleh hatinya. "Jadi biarkan aku menyelesaikan semuanya."
"Ap-Apa maksudmu? A-Aku tidak mengerti." Tanya Draco dengan tergagap.
Dengan satu tarikan nafas, Hermione memberitahukan segala isi hati dan rencananya yang ia susun secara mendadak ketika di dalam lemari tadi. "Aku sudah memutuskan—akan pergi sendirian mengambil buku itu dari kamar Kau-Tahu-Siapa. Aku akan melarikan diri dengan caraku sendiri. Jadi, kau bisa dengan santai melakukan sesuatu yang kau inginkan tanpa merasa terbebani olehku dan rencana gila ini semua, oke."
"Tidak bisa seperti itu." Tegas Draco. "Kita sudah berjanji bersama, kan? Kita akan melakukan ini semua berama-sama." Ratap Draco dengan muka memelas dan mata memerah, entah mungkin karena menahan air matanya terjatuh.
Sebenarnya Hermione ingin menjawab 'iya, kita sudah berjanji'. Tetapi lidahnya terasa kelu, bayangan Draco dan Astoria yang tadi tengah berciuman terlintas lagi di kepalanya—membuatnya semakin tidak bisa meng-iya-kan ucapan Draco barusan.
Hermione melepas sepatu hak tinggi milik Narcissa dan melemparkannya begitu saja ke lantai. Ia juga mengikat rambutnya yang berantakan menggunakan ikat rambut yang diberikan Narcissa tempo hari. Tekatnya sudah bulat untuk melakukan ini semua sendirian, tanpa bantuan tunangan orang lain.
"Aku pergi dulu. Terima kasih untuk semuanya, M-Malfoy." Ujar Hermione, akhirnya. Dengan mata berkaca-kaca, ia melangkah perlahan menuju pintu tanpa menoleh sedikitpun kepada Draco. Ia juga tidak mempedulikan panggilan-panggilan Draco, yang ia inginkan hanyalah pergi secepat mungkin dari temapat ini dan—Draco.
Hermione tak tahu kemana kakinya melangkah. Ia hanya bisa menebak-nebak dimana letak kamar Voldemort berada. Sebenarnya ia juga agak takut melalui ini sendirian, namun ia juga tidak sudi merepotkan tunangan orang lain. Namun bayangan Draco dan Astoria terus menghantuinya, hingga ia tidak kuat menahan air mata yang sedari tadi ditahannya di depan Draco.
Dengan menjinjing gaunnya yang panjang, Hermione terus-menerus berlari entah kemana—sesekali bersembunyi untuk menghindari Pelahap Maut yang kebetulan sedang berpapasan dengannya. Ketika ia tiba di koridor yang menurutnya paling gelap, ia melihat Basilisk, ular Voldemort, bergerak keluar dari sebuah ruangan yang pintunya terbuat dari ukiran-ukiran rumit dan lambang Slytherin. Tidak salah lagi, ini pastilah kamar tempat Voldemort berada dan menyimpan buku Relikui Kematian itu.
Mata Hermione mengamati keadaan sekitarnya. Sudah sepi. Karena ia sudah yakin tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dirinya, ia berlari sambil membungkuk ke arah pintu itu.
Ketika ia membuka pintu itu sedikit untuk mengintip ke dalam, jelas ia tidak melihat siapa-siapa. Meskipun begitu, pastilah ada hal lain yang melindungi kamar ini. Mungkin, semacam mantera-mantera hitam. Dengan hati-hati, Hermione masuk sambil berjinjit supaya tidak menimbulkan suara.
Tanpa bantuan tongkat, tentu ini akan menjadi hal tersulit. Kamar itu hanya diterangi oleh cahaya berwarna hijau remang-remang yang entah datangnya darimana. Banyak sekali perabotan-perabotan aneh yang ia yakini itu semua adalah barang-barang sihir hitam. Mungkin Voldemort mendapatkannya ketika ia masih bekerja di Borgin & Burkes, atau merampasnya dari orang-orang.
Entahlah, ia tidak ingin memikirkan barang-barang menyeramkan itu. Ia harus segera menemukan buku itu dan keluar dari sini sebelum ketahuan oleh siapapun. Hermione merogoh-rogoh laci, membuka-buka lemari, namun tidak ada. Buku itu entah tersembunyi dimana ia tidak tahu.
Hermione mengacak rambutnya dengan frustasi, dimana buku itu berada? Ia ingin marah, tapi kepada siapa? Mungkin jawaban yang tepat adalah kepada dirinya sendiri. Kakinya terus melangkah mundur hendak ke pintu, namun kakinya tersandung entah apa, sehingga ia jatuh terlentang.
Mata Hermione tak sengaja menangkap objek yang selama ini dicarinya. Buku Relikui Kematian itu tergeletak di bawah tempat tidur Voldemort. Jelas itu bukunya, karena lambang Relikui yang berada di sampulnya bersinar terkena cahaya remang-remang. Semangat Hermione muncul lagi, ia cepat-cepat merangkak dan mengambil buku itu sebelum seseorang menemukannya.
Jantung Hermione berdegup kencang. Karena ia mendengar suara seperti desissan ular berada di belakangnya. Ketika ia menoleh ke belakang...
Nagini berada di belakangnya dengan mendesis-desis galak.
.
.
.
~To be Continue~
Haloo.. '-'
Maap agak lama gk kyk yg kmrn2 :v
langsung saja seperti biasa...
RnR, please...
Don't be Silent Reader, Guys :*
