Di dunia ini, ada cinta yang tak akan sampai, tak peduli berapa kerasnya kita berusaha.

Seberapapun panjangnya kau mengulurkan tangan, cinta itu takkan tergapai, bak bintang nun jauh di sana.

Dan di sini, berdirilah seorang lelaki remaja, memandang langit luas,

memikirkan sosok yang ia cintai sejak lama

Bagai pungguk merindukan bulan.


A Kuroko no Basuke fanfiction

Special for KiyoHana Day 2015

.

Disclaimer

Story ©kiyoha + ShanataS

Characters ©Fujimaki Tadatoshi

.

Warning:

Pair utama (sedang) tersisihkan, writing style semerdeka saya; berputar-putar.

Mungkin banyak kalimat tak efektif, agak OOC? Lebai. Gak begitu ngerti apa itu konotasi.

First Fic! DLDR

.

Presented by Kiyoha


Malam berganti menjadi pagi. Hanamiya mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya bangun dari tempat tidur.

"Pagi. Nyenyak tidurnya?" Imayoshi mengusap pelan kepala Hanamiya.

"Lumayan…akh…" Hanamiya meringis kesakitan, tangan kanannya menahan punggungnya yang pegal. "Dasar… Kau memang benar-benar kasar, Imayoshi."

Imayoshi tertawa. "Walau begitu kau masih menikmatinya kan, Hanamiya?"

Sang kouhai terdiam dan membuang muka. Ia tak bisa menyangkalnya lebih jauh.

"Sudah, aku mau pergi," Hanamiya melebarkan sayap iblisnya, bersiap-siap untuk kembali ke dunia manusia.

"Ke tempat si 'empat mata sialan' seperti biasa?"

"Tentu saja. Oh, dan mungkin aku akan memutari kota sebentar. Populasi manusia galau meningkat, mereka mangsa yang empuk untuk digoda,"

"Hm, begitu… Kurasa aku juga akan meninggalkan rumah ini untuk sementara waktu…"

"Terserah kau saja, sudah ya, aku berangkat." Hanamiya baru akan keluar dari ruangan, tapi Imayoshi mencegatnya.

"Oh ya, sebentar, Hanamiya. Ada yang harus kuberitahu kepadamu, mungkin informasi ini akan berguna di dunia manusia sana."

"Apa?"

"Ini berhubungan dengan Hyuuga Junpei."

.

.

.

Pagi, jam 08.00. Hyuuga menyiapkan tasnya, hari ini ia harus pergi ke kampusnya untuk kuliah, seperti mahasiswa biasa. Dan tentu saja, Kiyoshi juga ikut dengannya. Malaikat satu itu memang sulit untuk dipisahkan dari Hyuuga.

"Hahaha…Santai saja dong, Hyuuga," Sang malaikat tertawa dengan polosnya.

"Santai mbahmu! Sekarang sudah jam 08.15!" seru Hyuuga sambil berlari ke ruang makan dan menyambar roti yang ada di meja.

"Hyuuga! Kau melupakan dompetmu!" Kiyoshi melambai-lambaikan tangannya. Hyuuga meraih dompetnya dari atas sofa dengan tergopoh-gopoh, kewalahan membawa barang-barang dan tumpukan kertas yang ia perlukan untuk pergi kuliah.

"Ittekimasu!" Setelah memakai sepatu, ia pun segera melesat keluar rumah menuju kampus. Kampusnya memang tidak jauh, dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki. Tapi kalau ia sampai terlambat, gawat juga.

Kiyoshi pun mengikutinya. Namun saat ia keluar dari rumah, ia menyadari ada kertas aneh yang terjatuh di genkan.

"Foto?" Sang malaikat pun mengambil foto itu lalu melihatnya. Sepertinya foto kenangan masa lalu. Hyuuga, dan… Siapa anak laki-laki di sebelahnya ini? Rambutnya hitam lurus, matanya seperti mata elang pemangsa dan berkilau-kilau bagai terkena sinar rembulan. Teman masa kecil, kah?

Kiyoshi tidak mau ambil pusing. Ia letakkan saja foto itu di meja dekat sofa, lalu segera menyusul Hyuuga.


Tak terasa sudah senja. Bulan mulai menampakkan wajahnya di langit. Hyuuga menjatuhkan badannya ke sofa di ruang tamu, merenggangkan otot-ototnya yang lelah setelah seharian berada di kampus.

"Lho?" Hyuuga mengambil kertas yang ada di meja sebelah sofanya. "Ini kan fotoku yang dari dompet…Sejak kapan ada di sini?"

"Ah, kalau itu…" Kiyoshi membuka mulut. "Tadi pagi sepertinya jatuh dari dompetmu, jadi aku letakkan di meja,"

Hyuuga meraih foto itu dan tersenyum lega. "Makasih ya, soalnya ini foto yang penting. Bisa disebut jimat, mungkin? Aku tidak boleh sampai kehilangan foto ini,"

Kiyoshi pun menjadi penasaran dengan foto itu, dan apa yang membuatnya menjadi sangat penting. Jemari menunjuk seorang anak di foto kenangan milik Hyuuga itu. "Siapa ini? Kelihatannya akrab sekali denganmu… Sahabat? Atau saudara?" tanyanya.

"Ah, dia…" Hyuuga menjawab. "Dia teman masa kecilku sejak SD. Kami selalu bersama, sampai-sampai dibilang saudara oleh orang-orang." lanjutnya sambil terkekeh.

"Namanya Izuki Shun,"

"Cantik, ya, tapi dia laki-laki, kan?"

"Yah, dia memang begitu. Wajah dan matanya indah seperti cahaya bulan. Bahkan tak jarang anak laki-laki lain menjadi penggemarnya. Sulit sekali melindunginya dari tangan para 'pemangsa'. Sayangnya sih, kalau dia bercanda garingnya minta ampun, dan… Dia juga nggak peka." jelas Hyuuga sembari tersenyum kecil.

"Hee…"

"Sekarang ia sedang bersekolah di luar negeri, untuk meningkatkan kemampuan sastra dan matematika. Tadinya sih aku melarangnya, tapi karena ia bilang bisa melindungi diri sendiri…Ya sudah."

Sekilas, Kiyoshi melihat raut wajah Hyuuga berubah menjadi agak sedih. Pastilah anak bernama 'Izuki' ini sangatlah penting buat Hyuuga.

"Sekarang dia sedang apa, ya? Bukannya aku khawatir, sih, tapi dia biasa dijaga oleh seseorang dari dulu…"

"Dia pasti baik-baik saja, tenang saja,"Kiyoshi menepuk bahu Hyuuga, berharap dapat sedikit menenangkan Hyuuga.

"Kau pikir begitu? Tapi walau begitu, tetap saja…" Hyuuga menunduk muram.

Malaikat itu terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Karena mencoba meyakinkan Hyuuga juga sepertinya percuma saja.

"Pastinya ia orang yang sangat penting untukmu, ya, Hyuuga?"

"Yah, begitulah…"

Suasana hening sejenak. Kiyoshi pun terdiam, tak enak pada Hyuuga karena sudah bertanya tentang Izuki. Namun di tengah-tengah kesunyian itu, tiba-tiba Hyuuga angkat bicara.

"Ah, sudah jam 6! Sudah ya, aku mau mandi dulu, rasanya gatal seharian berada di luar rumah, ahahaha," Hyuuga tertawa. Namun Kiyoshi tahu, itu hanyalah tawa yang dipaksakan supaya dirinya tak khawatir.

"Aku juga… Akan kembali ke duniaku sana, sebentar," Kiyoshi langsung mengembangkan sayap putihnya dan melesat ke luar jendela.


"Izuki Shun?" Riko, teman sesama malaikat, menautkan alisnya bingung.

"Ya, Izuki Shun. Tolonglah, Riko! Bisa kau bantu aku mencari data tentangnya?" mohon Kiyoshi dengan sangat. "Kumohon!"

"Tunggu, rasanya mustahil kalau harus mencari dari catatan sebanyak ini….Lagipula kenapa tiba-tiba kau meminta data seperti ini, sih? Repot membereskannya, tahu!" balas Riko dengan kesal.

"Ah, memang tidak bisa, ya…" Kiyoshi menunduk -tiba ia bangkit dan menarik buku-buku data milik Riko. "Kalau begitu aku cari saja sendiri, ya?"

"Ooi! Jangan membuat buku-bukuku berantakan, hei, Teppei!" Riko panik dan merebut buku-bukunya. "Kalau mau cari ya jangan di data-dataku ini, dong!"

"Ayolah Riko, nanti kubereskan sendiri," pinta Kiyoshi dengan memelas.

"Pokoknya tidak! Kiyoshi, jangan kekanak-kanakan!" tolak Riko. Adegan tarik-menarik antar malaikat pun terjadi. Padahal hanya masalah sepele.

"Kalau soal Izuki ini sih…" seseorang tiba-tiba ikut masuk ke pembicaraan. "Aku rasa Miyaji-san yang menanganinya… Aku pernah mendengar dia menyebut-nyebut namanya, dan… Wajahnya senang sekali~"

Secercah cahaya pun muncul kembali di mata pun menyambar orang tadi dengan semangat. "Apa itu benar, Takao?!"

"Eh? Benar, kayaknya… Shin-chan juga tahu, kok,"

Wajah Kiyoshi yang tadinya galau langsung berbinar-binar. "Terima kasih! Dah, aku mau mencari Miyaji-san dulu!" Kiyoshi melebarkan sayap besarnya lalu langsung melesat untuk mencari Miyaji.

Riko memijit pelipisnya. "Duh, ada apa sih, dia? Biasanya juga cuma santai dan senyum-senyum nggak jelas…Tapi sekarang malah begini, ngurusin manusia melulu. Ngerti nggak sih kalau pekerjaannya disini banyak?"

"Yah… Bukannya itu bagus? Kiyoshi-san terlihat semangat sekali~"

"Semangat sih, semangat. Tapi paperwork dia jadi menggunung di atas mejaku! Sudah, kau juga jangan bersantai-santai saja! Bantu Midorima memilah data, sana!"

"Uwaaa, Riko-san mengusirku~~"

.

.

.

"Kiyoshi? Ada apa, tiba-tiba mendatangiku seperti itu? Aku baru pulang dari dunia manusia, tahu. Setidaknya biarkan aku istirahat…" Miyaji mendengus, lalu melanjutkan. "Setiap hari ada saja. Takao, Midorima, dan sekarang kau. Mau kulempar nanas, ha?!"

"Sabar, sabar, Miyaji-san," Kiyoshi berusaha menenangkan temannya sebelum ia naik darah. Tentu saja ia tidak ingin terkena lemparan nanas, kan? "Aku hanya ingin bertanya sesuatu…"

"Hah? Tanya apa?" malaikat nanas galak—maksudku Miyaji-san, bertanya balik.

"Tahu manusia yang namanya…Izuki Shun?" Tanya Kiyoshi dengan waswas sambil mundur beberapa langkah, takut dilempar nanas katanya.

"Izuki? Tentu saja aku tahu. Baru saja aku menemuinya di dunia manusia. Dia kan manusia yang kuawasi," Miyaji menjawab dengan malas. "Lagipula kau dengar dari siapa, sih?"

"Benarkah? Dimana dia tinggal?" Mengabaikan pertanyaan Miyaji barusan, Kiyoshi bertanya dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil melihat permen. Maju terus pantang mundur.

"Nggak akan kuberitahu, bodoh! Yang boleh menjaganya hanya aku sendiri!" larang Miyaji sambil mendorong dahi Kiyoshi. "Kau juga bukannya sudah mengawasi seorang manusia? Mendingan kerjain paperwork saja sana! Malaikat besar kok kerjanya nggak becus!"

"Kalau aku tidak boleh menemuinya, beritahu padaku hal-hal tentang dia!"

"Kau segitu penasarannya, ya?" Miyaji menautkan alisnya, lalu berpikir sejenak. "Singkatnya nih, dia itu lelaki cantik, sudah itu saja."

Kiyoshi menunduk lemas. "Kalau hanya itu aku juga tahu, Miyaji-san! Yang lain, yang lain~"

"Oh, kau tahu? Tahu darimana?" Miyaji memasang tampang keheranan. "Kalau begitu kuberitahu kau yang lain."

Kiyoshi mengangguk-anggukkan kepalanya, tak sabar mendengar cerita tentang Izuki ini.

"Dia seorang mahasiswa, dan saat ini sedang kuliah di Inggris. Dia sangat pintar. Dan oh ya, sepertinya dia memiliki banyak fans,"

Itu juga aku tahu, batin Kiyoshi agak kesal. Sabar, sabar, Kiyoshi. Pasti ada informasi penting yang akan Miyaji-san ceritakan!

"Dia anak yang ceria, namun mudah kesal juga. Pikirannya polos seperti anak kecil, nggak peka, dan…Oh ya, bercandanya nggak banget." Miyaji melanjutkan.

"Ada lagi?"

"Tidak, dia tidak terlalu terbuka pada orang lain, jadi…Cari tahu aja sendiri, sana,"

Terus kenapa tadi ngelarang…Kiyoshi rasanya ingin menangis sekarang. Tapi ya, sebenarnya tidak terlalu penting juga, sih. Lebih baik ia kembali ke tempat Hyuuga daripada men-stalk Izuki. Akhirnya keinginan untuk lebih mengenal Izuki pun ia kubur dalam-dalam.

"Oh ya, Kiyoshi," ucap Miyaji tiba-tiba.

Kiyoshi menghentikan langkahnya dan menoleh. "Ada apa, Miyaji-san?"

"Bagiku, dia adalah manusia yang sangat penting. Ia memiliki segudang pengetahuan yang berguna, penampilan yang oke, dan pikirannya masih polos, mudah terpengaruh apapun. Anak itu harus kita lindungi mati-matian agar tidak tersentuh oleh tangan-tangan iblis,"

"Maksudnya?"

"Sebenarnya ada iblis besar yang mengincarnya, dan kalau kau melihatnya, tolong lindungi dia, oke?"

"Bukannya Miyaji-san menyuruhku jangan ikut campur—"

"Sudah lakukan saja! Pokoknya, aku, dan kau, harus melindunginya dari tangan iblis,"


"Aku kembali~" ucap Kiyoshi dengan ceria saat tiba di genkan. Namun, wajah cerianya itu menghilang ketika ia mendapati Hyuuga yang berdiri balkon dengan wajah muram, persis seperti saat ia meninggalkannya tadi sore. Helai demi helai rambutnya tertiup angin malam, irisnya terus menatap langit.

"Hyuuga?" panggil Kiyoshi. "Jangan disitu, nanti masuk a-"

"Kau tahu, Kiyoshi?"potong Hyuuga. "Setiap kali aku berdiri di sini, setiap kali aku memandang bulan itu, rasanya sesak, seperti ada sesuatu yang mengganjal."

"Ng?" malaikat satu itu memiringkan kepalanya, bingung dengan kalimat yang dilontarkan Hyuuga. "Apa maksudmu, Hyuuga?"

Hyuuga melicinkan tenggorokannya, lalu melanjutkan. "Cerita tadi sore…Memikirkan masa lalu...Membuatku merasa tak enak. Kalau kuingat-ingat, aku baru cerita sedikit tentang masa laluku ya... Juga tentang Izuki."

"Ya…" Kiyoshi menjawab pelan. Dia memang masih penasaran dengan Izuki Shun ini. Apa yang membuatnya begitu spesial di mata seorang Hyuuga Junpei?

"Karena sepertinya kau penasaran, sekarang akan kulanjutkan ceritaku tentang Izuki, karena untuk meredakan kegundahanku, aku harus bercerita pada orang lain. Sebenarnya ada beberapa hal yang agak kusembunyikan darimu…"

Kiyoshi menelan ludah. Ia cemas menunggu Hyuuga melanjutkan ceritanya. Apakah akan berpengaruh baik baginya? Atau apa? Rasanya seperti akan muncul sesuatu yang berat baginya…

"Izuki Shun, aku sudah kenal dengannya sejak SD, dan dia bukan sekedar teman masa kecilku, dia itu…"

Kelanjutan kalimat Hyuuga membuat dunia Kiyoshi serasa luluh lantak, mengombang-ambingkannya bagai badai. Rasanya ia tak ingin memercayai pendengarannya. Bagaimana bisa hanya dengan 4 kata itu...

"…Cinta pertamaku, hingga sekarang."

…Bisa membuat perasaannya hancur lebur seperti ini.


Kiyoha deeesu~ yaah, akhirnya pengumuman rank selesai, dan untung belum tergeser dari satu... *sujud syukur* banyak banget tugas presentasi akhir-akhir ini, dan olahraga selalu kejam /curcol/

Udah di apdet nih, gimana? UwU KiyoHananya belum ya~ Ini longfic soalnya fufufu~

Terus entah kenapa semuanya lebai di chap ini, sumimasen... Kiyoha juga lagi lebai nunggu nilai soalnya :''))

Fokus ke Hyuuga dulu ya, ohoho~ Sebenernya niatnya ga gini sih uhuhuhu

.

Hanaciel Jaeger: oke oke, ini udah di update :3 btw hahaha~ Hanaciel suka buat KiyoHana juga ya~ *toel*

Dee Cavallone: ukh, soalnya galau karena di fanart beda-beda huhu, dan pas liat figur dirumah- tapi udah diganti jadi emerald buat nyamain sama fic lain ehehe~ Soal cerita, Riko udah ditetapin sama temen jadi char lain, jadinya hyuu sama orang lain ^^ pastinya tahu lah kalau baca tulisan random diatas /plok/ endnya masih rahasia :3 but sankyuu sarannya :3~

YunChii: maaf ya KiyoHananya hilang wkwk, nanti juga ada kok :3 Endnya masih rahasia ya~ ^^

.

Anyone, mind to RnR? :3

kiyoha