Di bawah sinar rembulan, ku bertemu denganmu
Di sanalah pertama kuketahui perasaan yang bernama "Cinta"
Kupercaya pada takdir yang takkan berakhir ini
Ku tak sendiri, ku tak sendiri lagi, kan?
Karena kita tak dapat kembali
Ke masa-masa di mana kita berdua bersama
Masa-masa di mana ku dapat menggenggam tanganmu
Hingga masa dimana kau melepaskan genggamanku
Dan pergi ke tempat nun jauh di sana
Angel, Devil and The Forbidden Love Story
.
A Kuroko no Basuke fanfiction
Special for KiyoHana Day 2015
.
Disclaimer
Story ©kiyoha + ShanataS
Characters ©Fujimaki Tadatoshi
.
Pairing (s):
KiyoHana (masih tersingkir /plok) onesided!KiyoHyuu, HyuuIzu
Warning (s)!
Bit of OOC, random, perlebayan characters, gaya bahasa yang err-
DLDR!
.
Presented by Kiyoha
"Izuki Shun adalah cinta pertamaku,"
Kiyoshi membelalakkan mata. "Cinta…Pertama?"
"Pertama aku bertemu dengannya, waktu kelas 5 SD… Dulu, orang tuaku tidak begitu memperhatikanku, jadi aku menjadi anak yang benar-benar pembangkang, aku membuat keonaran dimana-mana. Tapi sebenarnya, aku kesepian."
Kiyoshi menatap Hyuuga dengan tak percaya. Ia tak pernah mengetahui kalau Hyuuga memiliki masa lalu seperti itu. Tapi sebelum ia dapat berkomentar, Hyuuga melanjutkan.
"Dan saat itulah, aku ingat sekali, saat itu sudah malam, sekitar jam 9, aku yang kabur dari rumah, bertemu dengannya."
flashback
.
"Ugh…Mama jahat, Papa jahat…" Hyuuga meringkuk di bawah perosotan taman, menangis sesenggukan. "Mereka tidak pernah memerhatikanku. Kesal!"
Air matanya terus mengalir, berjatuhan ke tanah. Tangan kanannya terus menggosok wajahnya yang merah karena menangis.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangan di hadapannya.
"Kau tak apa? Bisa berdiri? Mengapa kau menangis?"
Hyuuga kecil mendongakkan kepalanya, menatap wajah seorang anak –sepertinya sebaya dengannya- yang berdiri tepat di depannya. Anak perempuan..Atau anak laki-laki?
.
"Siapa kau?" tanya Hyuuga ketus,tapi tetap diiringi sesenggukan.
Anak itu merunduk dan balik bertanya, "Kau sendiri, siapa namamu?"
Hyuuga berdiri dan mengusap bekas air matanya. "Hyuuga Junpei."
Anak di hadapannya membalasnya sambil tersenyum manis, "Izuki Shun!"
"Izuki…?" Hyuuga memandang lekat-lekat anak di hadapannya. Matanya indah, berkilau-kilau terpapar sinar bulan purnama. Senyumnya senantiasa mengembang, menambah manis wajahnya yang putih.
"Aku baru pindah ke kota ini hari ini! Tadi aku mendengar suara tangisan, jadi aku ke sini!" ujarnya ceria. "Hyuuga, kenapa kau menangis?"
"Tidak apa-apa. Bukan urusanmu."
Izuki menggembungkan pipinya, lucu sekali. "Menyembunyikan sesuatu itu tidak baik! Ayo, ceritakan padaku!"
"Sekali tidak tetap tidak!" tolak Hyuuga. 'Siapa anak ini, baru hari ini bertemu denganku tapi langsung ingin ikut campur…' batinnya dalam hati.
"Kumohon, Hyuuga~" Izuki matanya mulai berkaca-kaca. Hyuuga menghela nafas, ia tak tega membuat anak di hadapannya menangis. Ia pun menyerah.
"Baiklah, baiklah, akan kuceritakan."
.
"Hou, begitu, begitu," Izuki mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. "Kalau begitu kita sama, Hyuuga!"
"He?"
"Kau tahu, akhir-akhir ini ibuku selalu saja memperhatikan kakakku karena ia pintar dan berbakat. Dia selalu menyuruhku untuk mencontohnya. Itu membuatku kesal," Izuki menghentakkan kakinya. "Karena kita sama, kita berteman, yuk!"
.
flashback end
"Izuki… Dialah yang selalu menemaniku saat aku kesepian, dia yang membuatku bisa berteman dengan banyak orang, dia yang menarikku kembali ke kehangatan," tuturnya lembut.
Hyuuga mengepalkan tangan dan meletakkannya di atas dada. "Bagiku, dia adalah segalanya, aku tak ingin kehilangannya,"
Kiyoshi diam seribu bahasa. Walaupun ia tahu sejak awal bahwa tak akan ada peluang ia dan Hyuuga bisa bersama, namun saat menghadapinya sendiri rasanya sungguh berbeda.
Menyakitkan. Sungguh menyakitkan.
Kiyoshi tersenyum pahit. "Aku mengerti…Perasaanmu,"
Namun perasaan ini harus ia simpan dalam dadanya, mengutamakan perasaan orang tercintanya lebih dahulu.
"Begitukah?"
"Ya,"
"Terima kasih sudah mau mendengarkan. Sudah, aku harus tidur. Sudah terlalu malam, bagaimana denganmu?"
"Aku… Akan di sini sementara,"
"Begitu. Kalau begitu selamat tidur,"
"Selamat tidur."
.
.
Kiyoshi duduk bersandar di kusen jendela seraya memandang bulan purnama. Sesekali ia menghela nafas, lelah dengan kejadian-kejadian di hari ini.
"Yo, Kiyoshi," sapa Hanamiya sambil menghampiri Kiyoshi, berdiri di hadapannya.
"Hanamiya,"
"Hai~ Aku ikut di sini, ya~?"
"Terserah saja,"
Iblis itu bertopang dagu di jendela, tangan kirinya asyik memainkan tirai. "Melihat tampangmu yang seperti itu… Kau sudah mengetahui kebenarannya, ya?" tanyanya, membuat malaikat di hadapannya terkejut dan bangkit dari duduk.
"Tunggu, kenapa kau bisa…"
"Mengapa aku tahu, begitu?" Hanamiya memotong pertanyaan Kiyoshi. "Simpel saja. Aku dapat mengetahui segalanya dari wajah megane-kunmu itu."
"Dari wajah..?" Kiyoshi menggigit bibirnya. Melihat ekspresi lucunya, tawa Hanamiya pecah.
"Bohong, kok, bohong. Salah seorang temanku pernah menjaga megane-kun dulu, dan, kemarin ia memberitahuku semuanya," ujarnya di sela-sela tawa. Kiyoshi menggeram.
"Kau memang…"
"…Karena itulah, aku tidak suka,"
"He?"
"Aku sering melihat yang seperti itu. Mencintai seseorang, lalu patah hati. Aku tidak menyukainya. Sekarang keadaanmu seperti ini kan, Kiyoshi?" ujar Hanamiya. "Kalau kita mencintai seseorang, dan perasaan kita hancur olehnya, maka apa gunanya kita jatuh cinta? Aku tak mengerti… Lebih baik aku tak dapat mencintai sama sekali."
Kiyoshi tertegun memandang sang Iblis. Ia pun membalas,
"Hanamiya, perasaan yang di sebut 'cinta' ini, memang kejam, seperti yang kau katakan. Perasaan kita dapat dihancurkan olehnya. Tapi dengan mengalami hal seperti jatuh cinta, patah hati, lalu mencintai lagi, segala hal itulah yang membuat hati kita kaya," Ia tersenyum hangat, membelai helai rambut Hanamiya. "Yang namanya 'mencintai' ini tidak harus 'memiliki'. Tak dapat mencintai itu, rasanya lebih menyakitkan, kau tahu,"
Hanamiya terdiam, Ia rasakan wajahnya memanas. Tangan kanannya refleks menepis tangan besar Kiyoshi dari kepalanya.
"Jangan sentuh-sentuh!" serunya galak.
"Ahahaha, maaf~" Kiyoshi tertawa sambil memasang watados.
"Lagipula, mengatakan hal seperti itu padaku, kau sudah lupa kalau aku ini iblis, bukan malaikat? Bodoh sekali! Mana kutahu yang namanya 'cinta'ini."
"Yah, buat jaga-jaga saja siapa tahu nanti kau juga akan jatuh cinta pada seseorang,"
Hanamiya merengut, kedua pipinya dihiasi rona pink.
"Tak akan dan tak mungkin," sangkalnya. "Aku bukan orang yang sedikit-sedikit jatuh cinta sepertimu, Kiyoshi!"
Malaikat itu menaikkan bahunya. "Yah…Takdir siapa yang tahu?"
Hanamiya makin merengut, antara kesal dan malu. Kiyoshi menepuk-nepuk bahunya dari belakang.
"Hanamiya, kau manis juga kalau sedang seperti ini," celetuk Kiyoshi pelan, disusul dengan Hanamiya yang memukulnya dengan wajah semerah kepiting rebus,
"SIAPA YANG MANIS, HAH?!"
.
.
.
"Sudah, aku mau kembali. Tak ada gunanya membuang-buang waktu di sini," Hanamiya melebarkan sayap hitamnya, lalu bersiap-siap terbang ke luar jendela.
"Ah, tunggu, Hanamiya!" Kiyoshi menarik tangan Hanamiya, mencegahnya untuk pergi. "Ada yang ingin kukatakan sebelum kau pergi!"
"A-Apa sih, lepaskan!"
"Terima kasih, ya,"
Hanamiya menoleh, mendapati Kiyoshi yang memberikan senyum lembut kepadanya. Mendadak wajah seputih ricottanya berubah kemerahan dan memanas lagi. Ia menjadi salah tingkah dan membalas Kiyoshi dengan ketus.
"Nggak butuh terima kasih darimu, bodoh."
Ia mengepakkan sayapnya lalu terbang pergi. Setelah memastikan ia jauh dari malaikat bodoh itu, kedua tangannya menelungkup pipinya yang masih saja hangat.
"Uuukh, apa yang salah denganku? Tiba-tiba saja pipiku memanas begini…"
Ini bukan tanda-tanda…Aku mulai menyukainya, kan?
KRIIIING
Ponsel Hyuuga bordering keras. Pemiliknya masih saja bermalas-malasan di dalam selimut. Maklumlah, hari ini jadwalnya kosong.
Ia bergeser sedikit untuk meraih ponselnya.
"Ya, halo?"
"Hyuuga?"
Lelaki berkacamata itu terdiam sejenak, berusaha mengingat suara siapa di seberang-
"I-Izuki?!" saking kagetnya, ia terlonjak dari kasur.
"Syukurlah, aku pikir kau masih tidur jam segini jadi tidak mengangkat, hehehe~ Lama sekali sih, kan aku tidak suka menunggu lama-lama… Ah, kitakore," balas Izuki diselingi guyonan garing khasnya.
"Su-sudah lama kau nggak menelpon, um, gimana keadaanmu?" grogi, Hyuuga berbasa-basi. Sudah lama tidak mendengar suara 'sahabat'nya ini.
"Aku sehat, kok. Dan aku juga bisa mengurus diriku sendiri, Hyuuga nggak perlu khawatir,"
"Hooh," Hyuuga bernafas lega. "Oh ya, ada apa tiba-tiba menelepon?"
"Oh, ya. Sebenarnya 2 hari lagi aku akan naik pesawat, pulang ke Jepang,"
"Be-benarkah? Tu-tumben kau pulang,"
"Mou, maksudmu aku tak boleh pulang? Aku kan ingin ketemu Hyuuga juga,"
Hyuuga memerah, lalu segera menjawab. "Bukan begitu! Bukannya tidak boleh…"
"Jadi?"
"Um, Izuki, mau ku jemput di bandara?" tawarnya, sekalian dengan modus dapat bertemu dengannya lebih awal.
"Ah, tidak usah, nanti kalau aku sudah sampai kita ketemuan saja. Oke?"
"Ah, oke."
"Jaa ne, pulsaku kering, hehe. Sampai jumpa 2 hari lagi."
"Dah,"
PIP
Hyuuga menutup ponsel flipnya. Senyumnya mengembang. Ia dapat bertemu lagi dengan Izuki, sebentar lagi.
Walau 1 menit saja, tak apa-apa.
"Kiyoshi, tumben hari ini tidak ke dunia manusia, kenapa sih?" Riko memandang temannya itu dengan bingung. Tak biasanya Kiyoshi duduk manis dan mengerjakan paperworknya seperti ini.
"Ahaha, tidak apa-apa. Kasihan Riko juga kan kalau paperworkku kutitipkan terus," Kiyoshi tertawa datar sambil mengelus belakang kepalanya.
"Kau aneh, Kiyoshi," Riko memberinya tatapan menyelidik.
"A-Aneh bagaimana?"
"Seperti orang yang baru diputusin pacar saja,"
"E-EH?!"
Riko menghela nafas, kepalanya menggeleng-geleng. "Jangan kira aku tak tahu, Kiyoshi! Semua orang juga tahu kalau melihat gelagakmu! Duh...Pantas saja akhir-akhir ini kau rajin ke dunia sana,"
"Ma-Maksudmu?"
"Kau sedang kasmaran, kan? Dengan seorang anak Adam? Dan dari wajahmu sepertinya habis ditolak, ya?"
Malaikat besar itu merengut, "Nggak ditolak juga, kok,"
"Itu resikonya, Kiyoshi! Kau harusnya tahu. Haah, ya sudahlah. Hari ini kau di sini saja, kerjakan paperworkmu yang menggunung itu,"
.
.
.
Kiyoshi merenggangkan tangan, mulai bosan dengan tumpukan berkas-berkas yang tersaji di depan hidungnya.
Seketika terbesit pemikiran iseng, ia ingin sedikit mengintip Izuki yang sekarang berada di Inggris.
"Hanya melihat saja, nggak apa, kan?"
Ia melesat dengan kecepatan tinggi menuju Inggris, melihat pujaan hati dari pujaan hatinya.
"Ah, itu dia!" serunya.
Kiyoshi segera menghampirinya, namun langkahnya terhenti saat melihat…
…Iblis yang menghalangi jalannya.
.
Kiyoshi memandang iblis di hadapannya dengan waspada. Ia mencoba untuk memerhatikan gerak-geriknya walau sekecil apapun.
Jelas sekali, iblis itu juga mengawasi Izuki Shun. Inikah yang dimaksud oleh Miyaji-san? Ia harus menghentikannya sebelum iblis itu mulai bergerak.
"Hei!" Dengan cepat Kiyoshi menyergap bahu iblis itu. Yang disergap pun, menoleh dengan kaget.
Kiyoshi tersentak. "Aku mengenalmu, kau ini… Susa, tangan kanan panglima iblis?"
"Bukan, aku susis," jawab iblis itu setengah bercanda. "Ya, aku Susa,"
"Apa yang kau lakukan di sini?!"
"Kau sendiri? Malaikat tingkat atas, tidak seharusnya berada di sini kan?"
"Itu bukan urusanmu! Kenapa kau mengawasi Izuki Shun?!"
"Kalau begitu bukan urusanmu juga, Kiyoshi," jawab Susa datar tanpa ekspresi.
"Jawab aku." Bagi Kiyoshi, malaikat tingkat atas, mengatasi iblis seperti ini bukan masalah besar. Ia mengeluarkan senjatanya yang terbentuk dari cahaya.
"Haah, baiklah," Susa menyerah. Padahal ia juga iblis tingkat atas yang bisa menyaingi malaikat. "Aku melakukan ini karena keinginan diriku sendiri, tapi percayalah, aku tak ada niat untuk melukainya."
"Keinginanmu sendiri?"
"Kalau begitu akan kuceritakan..."
Kiyoshi menurunkan senjatanya. "Ceritakan."
"Kau tahu… Selama ini Izuki Shun menjadi yang pertama dalam list manusia yang diawasi Imayoshi," jelasnya. "Karena itu, kau tahu, kami iblis memiliki nafsu…"
"Hm?"
"Yah, aku ini tangan kanannya, jadi saat Imayoshi memiliki manusia yang ia prioritaskan daripada aku, aku…" Kedua alisnya bertautan. "Awalnya aku ingin melukainya, tapi karena Imayoshi memang memiliki banyak iblis-atau manusia yang membuatnya tertarik, aku menyerah,"
Sang malaikat memandang iblis di hadapannya dengan bingung.
"Jadi artinya… Kau hanya iri dengannya?"
"Yah, iblis memang dipenuhi rasa iri dan dengki, terutama pada manusia. Tapi, aku tak berniat untuk menyentuhnya. Hanya ingin melihatnya, melihat seperti apa manusia yang membuat Imayoshi tertarik,"
Kiyoshi tertegun, tangan yang mencengkram erat bahu Susa perlahan lepas. Baru kali ini ia bertemu iblis yang begitu…Baik?
Kalau yang lainnya, mungkin akan segera menyerang Izuki.
"Sayang sekali. Sifatmu yang seperti itu bisa membuatmu jadi malaikat yang baik. Tetapi Tuhan memutuskan untuk melahirkanmu sebagai iblis,"
Susa tersenyum pahit. "Mau bagaimana lagi. Banyak yang menjadi kesukaan Imayoshi, diatas diriku. Bahkan Hanamiya juga…"
"Eh?"
"Yosh," Hyuuga merapikan kerah kemejanya. Sudah 3 hari berlalu sejak Izuki meneleponnya, dan hari ini, ia akan bertemu dengannya setelah sekian lama.
Kutunggu jam 3 sore di taman tempat pertama kita bertemu, kau ingat kan?
Matanya terus-menerus melirik pesan yang dikirimkan Izuki semalam. Entah kenapa rasa cemas mulai menyerangnya. Tangan kanannya yang menggenggam ponsel mulai basah karena keringat.
Duh, dengan keadaan seperti ini, bisakah aku memandang wajahnya? Jika Izuki datang, aku-
Terdengar derap langkah kaki dari kejauhan. Seseorang melambai-lambaikan tangan, berlari mengarah ke padanya.
Izuki!
.
.
"Ki~yo~shi~, tumben kau nggak menjaga megane-kunmu? Bisa-bisa dia diganggu makhluk lain, lho," ujar Hanamiya. Kebetulan mereka bertemu di tengah jalan menuju dunia manusia.
"Hanamiya,"
"Memang ada apa dengan megane-kun?"
"Hari ini dia ada urusan. Aku tak ingin mengganggunya." Jawab Kiyoshi simpel.
"Hee… Cuma itu?" Hanamiya mengeluarkan seringai tipis. "Kudengar kau kemarin mengawasi Izuki Shun, ya? Aku diberitahu Susa,"
"Itu bukan urusanmu,"
"Ah, oh iya iya. Ngomong-ngomong, aku punya informasi tentang megane-kunmu dan Izuki. Penasaran?"
"Apa katamu?"
.
.
"Hyuuga, sudah lama sekali, ya," sapa Izuki ramah.
"Iya, Izuki. Kau tak banyak berubah," balas Hyuuga. Syukurlah, kegugupannya menghilang melihat senyuman 'sahabat' lamanya itu.
Izuki menggembungkan pipinya sebal. "Hyuuga juga, sama saja, kan?"
"Iya, iya,"
Syukurlah, Izuki ini masih Izuki yang sama seperti dahulu, Izuki yang selalu tersenyum walau di saat sedih, Izuki yang merebut hatiku…
Suasana hening sejenak, hanya suara hembusan angin yang terdengar. Daun-daun mulai berguguran, menandakan bahwa musim panas sudah sampai pada akhirnya. Mendadak Izuki memecah keheningan dengan suara indahnya,
"Hyuuga, terima kasih, ya, untuk selama ini. Terima kasih sudah menjagaku,"
Hyuuga tersentak. "A-Ada apa sih, Izuki, tiba-tiba berkata seperti itu? Seperti salam perpisahan saja. Lagipula bukan masalah, hahaha…"
"Aku serius, terima kasih sudah melindungiku selama ini. Aku… Sebenarnya besok malam aku harus segera kembali ke Inggris. Aku harus kembali pada jadwal belajarku. Masih ada 2 tahun."
Benar-benar salam perpisahan.
"Apa? Padahal kau baru saja sampai…" Hyuuga merasa kecewa. Ia pikir ia dapat bersama dengan Izuki lebih lama. Tapi Tuhan mengatakan tidak.
"Tidak apa-apa, bertemu dengan orang-orang yang penting, bagiku itu sudah cukup. Lagipula aku tak apa-apa berada di Inggris, karena ada sosok yang selalu melindungiku di sana," wajah cantik Izuki merona, ia tersenyum kecil. "Karena itu terima kasih sudah menjagaku selama aku berada di Jepang, Hyuuga."
"Orang… Melindungi… Mu?"
"Ya! Hari ini aku membawanya bersamaku, aku ingin kau berkenalan dengannya."
Oi Oi Oi, apa maksudnya ini?! Jantung Hyuuga berdegup kencang, tak siap untuk bertemu 'pelindung Izuki' ini. Bahkan ia belum mengerti apa yang ia dan Izuki bicarakan barusan. Tiba-tiba saja mengucapkan kalimat yang terdengar seperti kalimat perpisahan, ingin mengenalkan seseorang... Hyuuga pusing. Setidaknya ia ingin bersiap-siap…
Tapi terlambat, suara derap langkah sudah terdengar olehnya. Orang itu kini berada di hadapannya, berdiri tegap di samping Izuki.
"Kenalkan, Hyuuga. Dia yang selalu melindungiku di negeri sana,"
.
Sekali lagi, saat Tuhan mengatakan tidak, maka keputusan sudah bulat.
.
"Salam kenal Hyuuga-san, namaku Moriyama Yoshitaka,"
Haih semuah~ Kiyoha desu~ *srooot*
Akhir-akhir ini sering hujan ya... Hati juga jadi galau nih... *lirik hyuuga*
Hyuuga: apaan sih woi?
Dan hidung tersakiti uhuk :'') Ini juga sebenernya udah dibuat dari Sabtu tapi apa boleh buat kiyoha terkapar di kasur dengan wajah penuh tisu (?)
UAS juga sedikit lagi, tapi pasti tetep kiyoha update kok :3
.
Dee Cavallone
Dee hapenya jangan dibanting, sini buat saya-/heh /tabog
aih tebak-tebak aja xD Hmm~ masih salah nih~ ada yang hampir sih~ duh, kalo ketebak gak seru dong jadinya xD
Sip, akan terus di update...
.
Cherry Blue Mint
AHAHAHAHAHA /wat
tenang, pairnya akan terus bertambah kok~ /mabok /dihajarmassa
KiyoHyuu? HyuuIzu? Gak bisa janji fufufu~ Kalau galau-galauan termasuk adegan pair ga? Mwehehe~
.
Sama buat dedek dan temen-temen yang aduh kalian rajin banget malah nge review langsung di RL... *mewek*
Iyah iyah kiyoha, makhluk random ini memang selalu galau setiap saat ya, apalagi ngeliat situpada yang berpasang-pasangan, ya? /heh
Iyadah sori~ Dibilangin gaya bahasanya emang gini wahaha~
Adegan Imayoshinya emang sengaja dipotong neng... Ga liat itu rate? *tunjukdengkul* /salahwoi
Iya iya KiyoHana nya dimunculin... Masa kiyoha yang wota KiyoHana tega banget sih gak masukin otepenya... *kedip* /HEH /JIJI
.
Mind to RnR? Pwease? :3
Kiyoha
