"Nee, Hyuuga,"

"Apa?"

"Suatu hari nanti… Kita akan berpisah, ya?"

"A-ada apa sih, tiba-tiba?"

"Nggak… Aku hanya berpikir saja, tidak mungkin kita akan bersama terus seperti ini, kan? Kita akan beranjak dewasa, dan suatu ketika, kita akan berpisah, kan?" tangan kecilnya menggenggam erat bungkus takoyaki yang mulai mendingin.

"…"

"Sebenarnya aku ingin kita terus bersama, memandang kembang api berdua, seperti sekarang ini. Tapi rasanya… Tak mungkin, ya?" wajah cantiknya tertunduk, menunjukkan ekspresi sendu yang jarang sekali ia buat. Sebenarnya apa yang merasukinya hingga ia berpikir seperti itu?

Hyuuga bangkit dan menggenggam tangannya.

"Kita akan baik-baik saja!"

"Eh?"

"Kita akan terus melihat kembang api ini bersama, setiap tahun!"

Izuki menunjukkan wajah penuh keraguan. "Bagaimana kalau kita sudah berkeluarga nanti? Apa Hyuuga akan terus menarikku, dan kita akan terus melihat kembang api bersama seperti ini?"

"Ya! Walaupun kita sudah berkeluarga, walau kita tidak diperbolehkan untuk bersama lagi, aku akan terus mendatangimu, dan kita akan melihat kembang api ini bersama-sama!" kedua maniknya menatap lurus kearah langit, tanpa secuilpun keraguan.

Izuki tertawa geli, "Hyuuga, kau benar-benar naïf, ya. Benar-benar Hyuuga,"

"Aku tak main-main! Aku akan melakukannya setiap tahun! Kau lihat saja nanti!"


Angel, Devil and The Forbidden Love Story

.

A Kuroko no Basuke fanfiction

Special for KiyoHana Day 2015

.

Disclaimer

Story ©kiyoha + ShanataS

Characters ©Fujimaki Tadatoshi

.

Pairing (s):

KiyoHana, onesidedKiyoHyuu, onesidedHyuuIzu, slight MoriIzu

.

Warning (s)

Alay, perlebayan character sampai OOC? gaya bahasa muter-muter,

surams, NTR merajalela. DLDR!

.

Presented by Kiyoha


Jam 11 pagi.

Hyuuga membuka matanya perlahan. Sepertinya ia tertidur semalam. Banyak sekali kejadian kemarin, dan itu membuatnya sedikit lelah.

Tangan kanannya mengusap wajah, kebiasaan yang sering ia lakukan saat bangun dari tidur.

Kenapa tanganku basah begini? Ia bertanya-tanya, namun saat melihat pantulan dirinya di cermin, ia tahu sebabnya.

Kedua matanya sembab, dan memerah. Jejak air mata terlihat di pipinya. Pasti ia habis menangis semalam. Seketika memori tentang kejadian kemarin melintas di pikirannya.

Karena itukah ia menangis?

"Bodoh sekali…Dengan hal seperti ini saja aku menangis… Seperti anak perempuan saja," gumamnya.

.

.

.

"Yoshitaka-san lah yang selalu melindungiku di sana, Hyuuga," ujar Izuki sambil menyandarkan kepalanya di bahu Moriyama. "Um, dia… Kekasihku sekarang, dia juga pelajar dari Jepang, makanya ia ikut pulang bersamaku."

Hyuuga mencoba menyembunyikan wajah shocknya dengan senyuman.

"Ah, begitu, syukurlah."

Usahanya tidak sia-sia. Senyum palsunya dapat mengelabui Izuki. Baguslah.

"Hyuuga-san, terima kasih," ujar Moriyama, menggenggam tangannya. "Sekarang, serahkan saja padaku, aku pasti akan menjaga Shun"

Dia memanggil Izuki dengan nama kecilnya, batin Hyuuga.

"Iya, terima kasih, Moriyama-san. Hati-hati, menjaga dia merepotkan sekali, lho!"

"Mou, Hyuuga!" Izuki mencubit lengan Hyuuga dengan gemas. Mereka tertawa bersama, ditemani dengan angin musim gugur yang mulai bertiup. Hyuuga memaksakan tawanya, tak ingin 'sahabat' sejak kecilnya itu khawatir.

"Tenang saja, Hyuuga-san,"

"…Baiklah, kuserahkan padamu,"

"Ah, sudah jam segini! Kami duluan ya, Hyuuga! Masih banyak tempat yang harus kami kunjungi! Seperti rumah Yoshitaka-san, dan kampusku juga,"

"Un…"

"Duh, Hyuuga! Jangan berwajah muram seperti itu, dong! Setiap tahun aku pasti akan mengunjungimu! Dan kalau program belajarku sudah selesai, aku pasti kembali, kok!"

Kembali lalu hidup bahagia bersama Moriyama di sini, heh?

"Ya. Aku tahu itu. Hati-hati," Hyuuga melambaikan tangannya perlahan. "Dan, Izuki…"

"Um?"

"Berbahagialah dengannya, selama kau di Inggris sana,"

Izuki hanya membalasnya dengan senyuman, sementara Moriyama mengangguk-angguk.

Hyuuga terus memandang kedua punggung mereka yang semakin menjauh.

"Ya, berbahagialah…"

Angin berhembus kencang, menerbangkan debu yang menyakiti mata

Pohon-pohon mulai mengering, kehilangan satu persatu daunnya

Cintaku menghilang, bersama dengan gugurnya seribu daun.

.

.

.

"Ah, megane-kun sudah terbangun," Hanamiya menyilangkan kakinya, duduk santai di balkon kamar di samping rumah Hyuuga. "Tumben sekali Kiyoshi tidak menjaganya hari ini,"

"Siapa yang tidak menjaganya, Hanamiya?"

Hanamiya menoleh, mendapati Kiyoshi yang kini berdiri di sebelahnya, di atas balkon. "Kiyoshi. Bagaimana?"

"Apa yang ingin kau katakan, Hanamiya?"

"Pasti hatimu sekarang sedang berpestapora, kan? Secara tak langsung megane-kun sudah ditolak oleh pujaan hatinya. Sekarang bukannya saat yang bagus untuk merebutnya? Happy end,"

Alis tebal Kiyoshi berkedut. "Aku bukan makhluk sepertimu, Hanamiya. Setelah masalah ini mereda, hubunganku dengan Hyuuga akan berjalan seperti biasa saja,"

"Kenapa? Kau sudah tidak mencintainya? Karena ia bilang ia mencintai Izuki?"

"Bukan berarti aku tidak mencintainya. Hanya saja… Kurasa jika aku mengaku sekarang, keadaan malah akan bertambah lebih buruk."

Hanamiya menghela nafas, menggeleng-geleng melihat tingkah malaikat di hadapannya. "Kiyoshi, Kiyoshi. Kalau dipikir dengan logika, saat ini adalah saat yang tepat untuk membuatnya berpaling kepadamu. Kau malah membuang kesempatan itu,"

"Itu terserah padaku, kan? Lagipula aku bukannya ingin memilikinya."

"Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadanya? Lalu kau terlambat untuk mengatakan bahwa kau mencintainya? Megane-kun juga sama, kan? Ia terlambat."

"Akan kupastikan itu takkan terjadi."

"Haah…Padahal banyak yang menginginkan kesempatan itu untuk merebut orang yang dicintainya," Hanamiya tersenyum masam. "Dan ada juga yang mendapatkannya, tapi tak dapat memanfaatkannya, seperti diriku misalnya." Lanjutnya setengah berbisik.

"Maksudmu…Apa?"

Hanamiya membuang muka dengan kesal. "Bukan apa-apa! Sudah, aku mau pergi! Tak ada gunanya mengincar megane-kun kalau ada kau! Mati saja bersama megane-kunmu dan hidup di dunia sana dengan bahagia!" ia melebarkan sayap hitamnya lalu berlalu. Kiyoshi memandang punggung Hanamiya dengan tatapan bingung.

"Ada apa sih, dia? Tadi menggangguku, sekarang malah ngedumel sendiri," ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kurasa aku juga akan meninggalkan Hyuuga sebentar, suasananya tidak enak kalau aku bicara dengannya sekarang. Ia butuh waktu untuk sendirian."

.

Hanamiya berhenti dan melihat Kiyoshi yang meninggalkan rumah Hyuuga. Alisnya bertaut dengan kesal, wajahnya merona merah.

Dasar malaikat nggak peka.


Hyuuga mengeringkan surai hitamnya dengan handuk. Pandangannya teralih pada kalender di atas meja belajarnya. Matanya tertuju pada hari ini, yang ia beri tanda silang berwarna merah.

"Hari ini… Ada festival…" gumamnya. "Kalau diingat-ingat, aku tak pernah pergi ke festival lagi sejak Izuki pindah ke Inggris… Mungkin aku akan pergi nanti,"

Ia melirik jam dinding. Baru jam 1 siang. Masih banyak waktu untuk bersiap-siap. Toh festival dimulai jam 5 sore nanti.

"Festival…Musim panas…"

Kita akan terus melihat kembang api ini bersama, setiap tahun!

Janji, ya, Hyuuga!

"Mungkin Izuki benar… Aku terlalu naïf,"

.

.

Cahaya remang-remang lampion memenuhi jalanan sekitar rumahnya. Banyak orang berpakaian yukata berlalu lalang. Suara drum taiko terdengar dari kejauhan.

Hyuuga duduk terdiam di atas rumput, di bukit tempat ia biasa melihat kembang api bersama Izuki. Pandangannya kosong.

Satu per satu kembang api diluncurkan, membuat warna-warna indah di langit. Memorinya tentang 5 tahun lalu kembali, begitu juga dengan kalimat yang dilontarkan Izuki saat itu.

.

"Kembang api benar-benar indah ya, Hyuuga!" seru Izuki senang. Ia menggoyang-goyangkan bahu temannya. "Meluncur dengan cepat, lalu meledak seperti itu!"

"Iya, iya. Duh, Izuki. Kau sudah kelas 2 SMP tapi masih saja senang melihat kembang api, ya."

"Hehe. Oh iya Hyuuga, aku jadi ingat perkataanmu dua tahun lalu. Kau bilang kita akan terus melihat kembang api bersama, ya kan?"

"Hm? Aku pernah bilang begitu, ya?"

"Ya! Dan aku senang karena kita benar-benar melakukannya,"

"Ehm, iya, mungkin ini sedikit kekanak-kanakan, tapi kan aku sudah ya um… Harus kutepati." Hyuuga menggaruk pipinya. "Kan… Janji adalah janji!"

"Apa, sih?" anak manis di hadapannya tertawa. "Tapi, terima kasih ya, Hyuuga."

"Hm, kalau mau berterima kasih, sebaiknya kau traktir Hyuuga-sama ini yakisoba,"

"Huh, dasar…"

.

"Janji saat itu… Tak akan dapat terlaksana. Izuki pasti sudah di bandara sekarang, kembali ke Inggris… Padahal aku ingin melihat kembang api bersamanya, untuk yang terakhir kali."

Kembang api terakhir diluncurkan, kembang api yang benar-benar besar dan menyilaukan. Setelah itu disusul dengan suara gemuruh pesawat di langit.

"Izuki…Dia sudah kembali ke Inggris, ya. Apa dia ada di pesawat itu? Apa dia melihat kembang api ini dari atas, ya?" ia memandang pesawat yang semakin menghilang di kejauhan. "Ngomong-ngomong pesawat, aku jadi ingat waktu Izuki mengajakku ke museum—"

.

"Aku jadi ingin menaiki pesawat ini, deh, Hyuuga!"

"Hee…"

"Mengunjungi London, kota yang kudambakan! Hyuuga juga akan kuajak,"

"Kenapa mengajakku?"

"Memangnya kenapa? Kan aku mau terus bersamamu,"

.

Hyuuga, kita akan terus bersama, ya!

.

"Kau pembohong, Izuki…"

Hyuuga ingin menangis sekarang, tapi entah mengapa tak bisa. Air matanya sudah mengering. Hanya dapat berteriak tanpa suara,

Sendirian.

.

.

Mendadak suasana menjadi hening. Kembang api terakhir sudah diluncurkan, dan acara festival sudah selesai. Semua pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara Hyuuga hanya berjalan dengan arah yang tak tentu, di sepanjang bukit tempat ia biasa bermain.

Hati kecilnya masih belum bisa menerima. Bahwa Izuki, yang sudah ia cintai sejak lama, kini menjadi milik orang lain. Hyuuga menyesal kenapa ia tidak mengungkapkan perasaannya lebih awal, ketika Izuki belum pergi ke Inggris.

Harusnya ia tahu, bila ia dan Izuki terpisah, maka saat itu perasaan Izuki dapat berubah.

Seandainya aku dapat jujur mengatakan padanya bahwa aku mencintainyaAku takkan menjadi seperti ini.

Ia terus berjalan dengan putus asa.

Perih. Perasaannya yang mencintai Izuki benar-benar perih. Izuki mencintai orang lain, dan bukan dirinya.

Mengapa, Izuki? Kau ingin terus bersamaku, kan?

Mengapa?

Haah…

Sudahlah, ia tidak mau peduli lagi. Jerih payahnya selama delapan tahun berakhir sia-sia. Mungkin Moriyama memiliki 'sesuatu' yang tidak ada padanya. 'Sesuatu' yang mengubah perasaan pujaan hatinya, 'sesuatu' yang merebut Izuki Shun.

Kini cintanya menghilang, sama seperti kembang api yang fana.

.

.

Seketika terdengar suatu suara di telinganya—

Sakit, kan? Kau ingin melupakannya, kan?

-Bisikan iblis.

Bukankah lebih baik mati saja, daripada hidup dengan melihat mereka bersama? Lebih menyakitkan, kan? Kau tak ingin menderita, kan?

Izuki adalah penolongnya, sumber dari semangatnya, separuh bagian jiwanya.

"Kehilangan Izuki… Sama seperti kehilangan separuh jiwa…"

Kalau separuh sudah hilang, lebih baik seluruhnya hilang, kan? Kemarilah. Segala masalahmu akan lenyap. Lupakan dia.

"Lupakan… Dia…"

Teruslah berjalan, maka kau akan dapat melupakannya.

Teruslah berjalan.

Terus, terus.

.

"Palang akan ditutup. Kereta akan lewat, harap berhati-hati."

Suara pengumuman itu tak terdengar lagi. Kakinya terus berjalan, menyentuh pembatas rel, dan melewatinya.

"Terus berjalan… Tapi aku akan kena…"

Kau ingin melupakannya, kan? Kau tak ingin melihatnya berbahagia dengan kekasihnya sekarang, kan?

Menyakitkan, bukan?

"Ya, benar-benar menyakitkan… Lebih baik aku…"

Karena itu, lebih baik kau meninggalkan dunia ini.

Samar-samar terdengar deru kencang kereta yang datang dari kejauhan.

'Maafkan aku, Ibu, Ayah. Kalian mungkin jarang memerhatikanku, tapi aku tahu kalian menyayangiku. Aku tahu, aku belum dapat membuat kalian bangga. Dan maaf, Izuki. Berbahagialah dengan Moriyama di Inggris sana. Dia orang yang baik. Tugasku untuk menjagamu sudah selesai, sepertinya. Aku senang bisa mengenalmu. Kaulah orang yang membuatku dapat berjalan maju. Sekarang saatnya untuk berpisah.'

'Satu lagi, Izuki…'

'…Aku mencintaimu.'

.

.

Kiyoshi menoleh ke belakang. Perasaannya tidak enak sejak ia meninggalkan Hyuuga tadi siang. Dan tiba-tiba saja perasaan itu menguat. Ia melesat pergi, meninggalkan tumpukan paperworknya.

Lebih baik dimarahi Riko karena meninggalkan pekerjaannya daripada tidak memeriksa keadaan Hyuuga.

Ia harap Hyuuga –pujaan hatinya itu- baik-baik saja. Ia terus berpikir seperti itu, sampai ia melihat kerumunan orang memenuhi jalan di samping rel kereta api—

.

"Hei, dia tertabrak ya?"

"Kecelakaan? Mungkin dia tak dapat melihat kereta dalam gelap."

"Masa iya! Kurasa ia tidak tuli,"

"Itu benar! Ada pengumuman, kan?"

"Kurasa bunuh diri,"

"Mengerikan sekali…"

Kiyoshi membelalakkan mata, tak percaya pada penglihatannya. Memang, beberapa bagian tubuh itu sudah tak berbentuk lagi karena hantaman kereta api, serta berwarna merah akibat terkena darah, tapi pakaian itu… Kacamata itu…

Tuhan, katakan kalau ini hanyalah kebohongan.


Cheesu! Kiyoha di sini!

Yaah, benar-benar chap yang surams ya. Kiyoha ikutan surams juga ngetiknya.

Terlalu surams kah? Yah saya juga anaknya surams sih- sering duduk di pojokan, mantengin jendela waktu hujan, sama nulis ginian waktu yang lain asik ngobrol-/plok

Buat yang mau Hyuuga di pair sama orang lain aja, gomenneeee~~ Dibutuhin charadeath di sini biar Kiyoshi juga makin tersakiti, upupu~ Lagipula kalau Kiyoshi ke NTR terus, kasihan dianya kan? :''))

Kalau nambah chara juga, nanti kepanjangan... /alesan

Btw hari senin UAS, Kiyoha belum belajar... /gulingguling

.

Hanaciel

Iya, pair KiyoHananya pasti nongol dong, wong pair utamanya aja mereka, ini aja buat KiyoHana Day uhuks :'' lagipula kasihan kalo gak muncul-muncul, yang batin Kiyoha juga soalnya ga dapet asupan-/plak

EIIIIII jangan bawa pergi Hanamiyanya, biar kita anuanuin aja disini (?) /gampar

(Hanamiya: Thor inget rate itu woi...)

.

Mey-chan Love Kagami

Iya dong uyey, pair utamanya kan mereka~ jadi mulai mengeluarkan bau-bau (?) Tapi Kiyoshi ga peka-peka, mau apalagi... /boboan

Iya, tadinya sih nggak mau masukin MorIzuki, tapi kayaknya demi surams berantai (?) dan NTR feels harus dimasukin, hohoho. Btw mereka termasuk pair favorit Kiyoha juga, hehe. Tos! (?) /siapakamuthor

Di pair sama Reo, ya? Hmm... Mungkin agak susah ngatur pair sama latarnya nih, soalnya Kiyoha ga terlalu kenal sama Reo, bukan kerabatnya /yaiyalah

Yah, jadinya begini aja, ya? :''))

Oke, akan dilanjutkan...

.

RnR pwease? Nambah-nambah saran? :3 Review kalian juga jadi dorongan buat Kiyoha~ kalo nggak bagai kehilangan separuh jiwa~

(Hyuuga: ngapain lu thor ngambil kalimat gue?)

Sampai jumpa di chapter depan~