Suara sirine ambulans memenuhi udara
Burung-burung gagak menggugurkan bulu sayapnya,
Seolah turut berduka
Pandanganku mengabur
Satu per satu tetesan air mata jatuh
Membasahi kedua pipiku
Mengapa? Mengapa aku menangis?
Ini hanya mimpi, kan?
Segalanya akan hilang jika aku membuka mata, kan?
Tapi sayang
Kedua pupilku terbuka lebar
Dan tak ada yang berubah
Ini mimpi buruk yang menjadi kenyataan
Seseorang, tolonglah
Tarik aku dari realita kejam ini
Hilangkan perasaan sedih yang terus menyayat hatiku
Gantikan dengan cinta yang semanis madu
Angel, Devil and The Forbidden Love Story
.
A Kuroko no Basuke fanfiction
Special for KiyoHana Day 2015
.
Disclaimer
Story ©kiyoha + ShanataS
Characters ©Fujimaki Tadatoshi
.
Pairing (s):
KiyoHana (akhirnya), onesidedKiyoHyuu, slight MoriIzu
.
Warning (s)
Alay, perlebayan character sampai OOC? Modus-modusan, Kiyoshi pindah-pindah hati, tsundere level maks, gaya bahasa muter-muter, surams yang seketika berubah fuwa-fuwa, NTR merajalela, dan serentet keanuan lainnya.
.
Presented by Kiyoha
"Tidak… Tidak mungkin! Hyuuga…" Handphone Izuki terlepas dari kedua tangannya, yang kini menelungkup wajahnya yang basah karena air mata.
"Kenapa… Kenapa bisa… Baru saja aku bertemu dengannya kemarin, kenapa…" lirih Izuki di sela sesenggukannya. Tangan kanannya mulai menjambak poninya sendiri, mencoba menahan air matanya yang akan tumpah.
"Yoshitaka-san… Aku… Kenapa Hyuuga…"
Moriyama memandangnya pilu.
"Shun," ia memeluk kekasihnya itu, mencoba menenangkannya sedikit. Hati—Mental Izuki lemah, kalau ia mendapat kabar seperti ini, pasti ia sangat shock.
"Aku tahu perasaanmu. Aku juga kaget dan sedih, karena tiba-tiba mendapat kabar seperti itu. Padahal aku baru saja mengenal Hyuuga-san. Karena itu, Shun, kalau ingin menangis, menangislah sepuasnya,"
Sudah ada saja hal buruk yang menimpanya-membuat hatinya berduka. Padahal baru saja ia sampai ke Inggris, baru saja menginjakkan kaki di kasur empuknya, baru saja ia merasakan kebahagiaan dapat bertemu dengan sahabat lamanya lagi-
-Namun semuanya dihancurkan dengan satu saat itu.
Saat ibunda Hyuuga meneleponnya.
Memberitahunya sesuatu yang begitu menyedihkan-
Mengabarkan padanya bahwa Hyuuga telah tiada.
Izuki menangis sekeras mungkin di dada Moriyama, meluapkan rasa sedihnya, rasa sakitnya, rasa kehilangannya. Kenangannya selama 8 tahun bersama Hyuuga terasa menekannya dari dalam, membuat air matanya tak dapat berhenti mengalir.
.
Kiyoshi berdiri dekat jendela, memerhatikan mereka berdua.
Wajahnya sendu. Ia tahu perasaan Izuki, karena sakit yang sekarang ia rasakan juga sangatlah luar biasa.
Sakit karena kehilangan orang yang tercinta.
Polisi menetapkan kematian Hyuuga sebagai 'kecelakaan'
Dan keluarga Hyuuga pun menyetujuinya, bahwa anak mereka meninggal dalam kecelakaan kereta api.
Namun, Kiyoshi tahu yang sebenarnya.
Fakta yang tak diketahui oleh polisi, keluarga Hyuuga, maupun orang lain—
Fakta bahwa Hyuuga Junpei, meninggal karena bunuh diri.
Mengapa ia mengetahuinya? Simpel saja.
Melihat kejadian-kejadian yang lalu, itulah kesimpulannya.
Lagipula, jiwanya tidak kembali ke dunia 'sana' karena ia meninggal dengan cara bunuh diri.
Benar-benar menyedihkan.
.
Pada dasarnya, saat manusia meninggal, ia dapat bereinkarnasi menjadi manusia atau makhluk lain, bahkan mereka dapat menjadi malaikat.
Namun kasus orang yang menghabisi nyawanya sendiri, berbeda.
Walau ia meninggal, ia takkan bereinkarnasi lagi menjadi manusia, apalagi malaikat.
Surga takkan menerimanya.
.
"Riko benar… Ini mungkin memang salahku… Karena bekerja dengan perasaan," bisik Kiyoshi pada dirinya sendiri.
Sebenarnya, meninggalnya Hyuuga bukan salah dirinya, tapi itu urusan Hyuuga sendiri, karena cintanya tak sampai pada Izuki Shun.
Karena Hyuuga harus segera berpisah dengan Izuki.
Namun, nyeri hati yang ia rasakan saat ini…
Tentu salahnya, karena mencintai seorang manusia—
-Makhluk yang akan hancur nantinya.
.
.
"Menyalahkan dirimu sendiri, eh, Kiyoshi?"
Kiyoshi menoleh, ada Hanamiya yang duduk di sebelahnya, asyik merapikan surai eboninya.
"Sudah kuduga kau akan lari ke sini, setelah kehilangan megane-kun."
Malaikat itu hanya membuang muka, ia sedang tidak mood untuk berurusan dengan Hanamiya.
"Mengabaikanku, eh?" Hanamiya mulai berjingkat, lalu duduk tepat di belakang Kiyoshi. Tangannya mengelus sayap putih besar milik malaikat di depannya. "Kenapa muram begitu, sih? Kan ini bukan salahmu?"
"Ini salahku, rasa sakit ini salahku, Riko sudah mengingatkanku bahwa malaikat dilarang untuk jatuh cinta pada manusia, karena akan ada hal buruk yang terjadi, tapi aku melanggarnya."
Hanamiya berbisik pelan di telinga Kiyoshi. Raut wajahnya berubah menjadi agak masam—lebih tepatnya, bingung.
"Jatuh cinta itu tidak salah, Kiyoshi. Bukankah kau yang mengatakannya sendiri kepadaku?"
Kiyoshi memutar kepalanya, memandang Hanamiya yang kini berdiri menghadap langit biru. "Cinta memang kejam, tapi itu yang membuat hati kita kaya, bukannya begitu?"
"Hanamiya…?"
.
"Hanamiya, kau tahu, kau tidak seperti dirimu yang biasanya, biasanya kau sangat kasar dan tak peduli, Kemana Hanamiya yang biasanya?" Tanya Kiyoshi heran, karena tadi juga ia sempat terpana melihat Hanamiya yang mengucapkan kalimat seperti itu.
"Apa salahnya, sih? Malaikat kan memiliki hati, wajar kalau jatuh cinta, kan? Menurutku nggak aneh! Itu saja!" Hanamiya menggaruk pipinya. Salah tingkah.
"Aku… Hanya sudah sedikit mengerti tentang kejamnya cinta, dan… Bagaimana rasanya ingin merebut seseorang untuk dirimu sendiri. Ta-Tapi bukannya aku sedang jatuh cinta, jangan salah! Aku hanya mengamati manusia, akhir-akhir ini… dan… Sedikit mengerti. Begitu. Lagipula yang tidak seperti biasanya bukannya kau sendiri? Biasanya kau hanya tersenyum-senyum gak jelas seperti orang bodoh," Jelasnya putus-putus. Mungkin ia bingung harus menjelaskan seperti apa.
Ia menepuk keras punggung Kiyoshi secara tiba-tiba. "Sudah, ceria lagi! Mengganggumu rasanya membosankan kalau kau galau begini! Aku jadi tidak ada kerjaan!"
"...Hei, jangan-jangan kau mencoba untuk menghiburku?" Kiyoshi bertanya sekali lagi disertai dengan tawa geli. Wajah muramnya berubah menjadi senyuman.
Wajah iblis itu memerah, semerah tomat.
"AP-DARIMANA KAU DAPAT KESIMPULAN ITU?! AKU MENGHIBURMU? MANA MUNGKIN!"
Tangan besar Kiyoshi mulai membelai helai eboni Hanamiya, membuat pemiliknya tersentak.
"Hanamiya baik, ya…"
"Aku nggak baik, bodoh!"
"Terima kasih ya, rasanya aku sudah baikan sekarang,"
"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MENGHIBURMU!"
Kiyoshi mengelus-elus pinggiran ranjang milik Hyuuga. Dingin. Sudah 3 hari ini ditinggalkan oleh pemiliknya. Keluarga Hyuuga belum sempat membereskan kamar Hyuuga, malah mereka ingin kamar Hyuuga dibiarkan tetap seperti itu untuk beberapa hari.
"Hyuuga…"
Tangannya terus menyentuh tiap-tiap bagian ranjang kayu itu, hingga ia menyentuh suatu yang keras di bawah bantal. Majalah porno kah? Seperti yang dimiliki banyak anak lelaki—
"—Diary? Dan… Album kecil," dengan rasa penasaran yang besar, Kiyoshi mulai membuka satu per satu halaman diary yang masih sangat terawat tersebut. Matanya melihat dengan seksama huruf-huruf yang Hyuuga goreskan dalam setiap halamannya.
"Sudah kuduga, di sini, di setiap harinya, tertulis kalau Hyuuga merindukan…Izuki…" wajahnya berubah pahit, seperti menahan sakit. Meletakkan diary itu di kasur, ia berganti membuka album tua milik Hyuuga.
"Isinya hanya foto-foto masa kecil… Mungkin, selagi aku tak menjaganya di sini, Hyuuga menggalau sambil melihat-lihat ini…"
"Hee…Foto-foto Izuki Shun?"
Tanpa disadari Kiyoshi, lagi-lagi, Hanamiya duduk di belakangnya, ikut melihat-lihat foto kenangan Hyuuga.
"Hanamiya. Lagi-lagi kau datang, tanpa suara."
"Biarin."
...Lama-lama Kiyoshi kesal juga mendengar kalimat itu.
"Ngapain sih? Hyuuga kan sudah nggak ada…"
"Ke-Kerjaku kan mengganggumu! Habis aku kesal kalau di duniaku, lihatnya dia-dia terus." jawab Hanamiya asal. Sungguh alasan yang dibuat-buat.
"Kalau kau datang tiap hari kau kan jadi lihat aku terus. Bukannya kau bilang kalau kau kesal melihat wajahku?" Kiyoshi memiringkan kepalanya bingung. "Terus kenapa kau mendatangiku? Kan yang bisa diganggu ada banyak di luar sana,"
"…Berisik."
"Haah… Ya sudah, terserah kau saja lah."
Kiyoshi mulai membereskan foto-foto yang berserakan, sementara Hanamiya duduk bersila di atas ranjang, melirik Kiyoshi sebal.
.
"Oi,"
"Oi,"
"Kiyoshi!"
Akhirnya malaikat di hadapannya menengok juga. "Apa, Hanamiya?"
"Hei... Segitu sulitkah melupakannya?"
"Maksudmu Hyuuga?" Kiyoshi mencoba memperjelas pertanyaan Hanamiya. "Sulitkah melupakan Hyuuga, begitu?"
"Ha-habis akhir-akhir ini mukamu suram seperti itu, tak enak dipandang, tahu." Hanamiya mencari-cari alasan.
Kiyoshi terdiam sejenak, lalu menjawab dengan senyuman yang sepertinya terpaksa, "Sulit. Hal yang tersulit di dunia, melupakan orang yang kau cintai,"
"Oh." Balas Hanamiya singkat. Ia lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan—
"Dasar, kau nya juga tak bisa pindah hati sih, bikin susah saja…"
"Eh? Apa, Hanamiya?"
-Tapi sepertinya terdengar.
"Bukan apa-apa! Mati ketabrak kereta saja sana! Dasar malaikat bodoh nggak peka!" seru Hanamiya galak lalu pergi menjauhi rumah Hyuuga.
.
"Apaan sih, dia… Akhir-akhir ini sering datang hanya untuk begitu, lalu pergi lagi… Terus, mati ketabrak kereta? Ya ampun…" Kiyoshi hanya bisa geleng-geleng kepala.
Waktu berlalu dengan cepat. Hari berganti menjadi minggu, dan minggu berubah menjadi bulan.
Sudah 3 bulan berlalu sejak meninggalnya Hyuuga Junpei.
Kiyoshi sudah mulai dapat merelakan kepergian Hyuuga sekarang. Perasaannya mulai berubah karena beberapa hal.
Namun, Kiyoshi masih sering mendatangi rumah pujaan hatinya itu setiap hari, tanpa jemu. Sekedar melihat-lihat kamarnya, atau melihat-lihat catatan miliknya. Karena masih sulit rasanya melupakan Hyuuga.
Dan di belakangnya, selalu ada dia.
Ya, dia. Iblis cantik bernama Hanamiya Makoto.
Datang untuk mengganggu Kiyoshi, atau hanya sekedar melihat saja. Kadang juga –menurut Kiyoshi- Hanamiya mencoba untuk menghiburnya, walau tak terlihat seperti itu.
Terus seperti itu setiap hari, berulang-ulang.
Sampai suatu hari Kiyoshi benar-benar merasa penasaran, mengapa iblis itu selalu mengikutinya kemana pun. Ia ke dunia manusia, Hanamiya juga. Ia pulang, maka Hanamiya juga akan kembali ke dunianya.
Lama-lama membuatnya… Tertarik?
Kalian pasti tahu lah, kalau perubahan hati juga dipengaruhi faktor lingkungan dan keadaan?
.
.
"Hei, Hanamiya. Ada yang membuatku penasaran, kau tahu apa itu?"
"Nggak tahu, tuh. Sayangnya."
"Kenapa sih kau terus mengikutiku setiap hari?"
Pertanyaan itu membuat Hanamiya tersentak. Ia membuang muka, memainkan poninya sambil menjawab pertanyaan Kiyoshi.
"Hmph! Kan sudah kuberitahu! Itu tugasku. Tugasku itu mengganggumu!"
"Lho? Kan tiap hari aku hanya menggalau di sini, tak ada untungnya buatmu, kan? Kalau kau menggangguku juga, Hyuuga kan sudah tiada."
"Uh…"
.
"Hmm… Jangan-jangan kau menyukaiku? Haha," ujar Kiyoshi. Niatnya sih, cuma ingin bercanda sedikit. Tapi melihat reaksi iblis di hadapannya…
Wajah ricottanya bersemu merah, seakan dipenuhi darah. Orb emeraldnya melirik, menghindari tatap langsung dengan Sang Malaikat. Sampai akhirnya ia berteriak malu,
"Ma-mana mungkin aku suka padamu, bodoh?! 1000 tahun—tidak, 10000 tahun terlalu cepat!"
"Iya juga, ya," Kiyoshi memalingkan wajah, lalu kembali sibuk memainkan figur-figur Sengoku milik Hyuuga. "Tak mungkin kau menyukaiku, ya. Hahaha, apa sih yang kupikirkan…"
"Ungh…"
Hanamiya melempar-lemparkan bantal dari atas ranjang Hyuuga ke arah Kiyoshi dengan keras. Yang menjadi sasaran hanya memandangnya dengan penuh tanda tanya. Apa salah dia, coba?
"Aduh, Hanamiya, stop! Kau kenapa, sih? Apa salahku?"
"Ternyata kau memang benar-benar menyebalkan, Kiyoshi! Tentu saja tiap hari aku datang—untuk—Uh, aku…"
"Untuk…?"
"Ukh! Bukan apa-apa!"
"Apa, sih?" Kiyoshi bangkit dan memandang wajah iblis itu, dengan jarak yang terbilang cukup dekat. "Tapi kau tahu, Hanamiya? Saat kau memerah seperti ini, menurutku kau manis, serius. Apalagi waktu kau menghiburku waktu itu…"
"Aku—tidak manis, bodoh! Lagipula siapa yang menghiburmu? Aku tak ingat."
Mengabaikan seruan Hanamiya barusan, Kiyoshi melanjutkan kalimatnya. "Ternyata kau memiliki sisi lembut juga. Kau memberi perhatian padaku. Kau juga menawan, dengan kulit ricotta dan rambut eboni, serta wajah yang cantik," ia tersenyum kecil.
"Membuatku berdebar."
Sekali lagi, wajah putih Hanamiya berubah kemerahan karena mendengar pernyataan jujur malaikat di depannya. Seriuskah ia berkata seperti itu? Apa hanya gurauan semata?
Tidak tidak tidak tidak, Kiyoshi pasti tidak serius. Ia pasti hanya mencoba memujiku, aku tahu.
"Hu-Huh! Untuk apa memujiku! Kiyoshi, sepertinya kau sudah ketularan gombalnya Moriyama. Kau terlalu sering memerhatikannya, sih." Ia menepis kasar tangan Kiyoshi. "Lagipula, mengatakan hal seperti itu ke orang lain, megane-kun bakal menangis, lho."
"Apa iya?" Kiyoshi menaikkan bahunya. "Hmm… Mau bagaimana lagi, ya? Habis itulah yang kurasakan akhir-akhir ini, sih,"
"Eh—"
"Memang, melupakan Hyuuga akan berat, tapi dia kan sudah meninggal. Untuk apa aku terus mengejarnya… Terserah kau mau menyebutku playboy, terlalu cepat pindah-pindah hati atau apa. Ini perasaanku yang tulus. Sepertinya, setelah segala yang kau lakukan akhir-akhir ini, aku…"
"A-Apa?"
"Mungkin aku jadi menyukaimu, Hanamiya."
...
Ya ampun!
Rasanya jantungku akan meledak!
Hanamiya meletakkan telapak tangannya di dada, merasakan debarannya yang kuat dan cepat. Tidak mungkin, ia tak mempercayai ini. Tadi, Kiyoshi bilang… Bahwa Kiyoshi mungkin menyukainya?!
Tidak, tidak mungkin. Kiyoshi pasti masih menyimpan perasaan pada Hyuuga. Akhir-akhir ini aku memang dekat dengannya, sih… Jadi… Mungkin ia hanya bingung, perasaannya menjadi tercampur-campur. Dan hasilnya, ia mengatakan hal itu. Jangan terpengaruh. Dia cepat pindah-pindah hati.
Tapi tetap saja… Mungkin aku sedikit senang. Mungkin.
Ia menyukaiku. Berarti perasaanku terbalas. Bukannya aku menyukainya atau bagaimana sih… Tapi ya…
Aku cuma sedikit menyukainya. Senyumnya itu lho. Lagipula dia baik. Eh, duh, apa yang barusan kupikirkan, sih?!
.
"Hanamiyaa~~" seseorang—iblis masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk. Sialan, lagi senang-senang sendiri juga. Nggak tahu privasi, apa?
Iblis bersurai ash itu langsung menghampirinya dengan ceria. "Kau habis dari dunia manusia, ya?"
"I…Iya, ah, ternyata kau, Hara." ternyata temannya, Hara, sesama iblis.
"Iya~ Hara di sini~ Ung? Hanamiya, kayaknya… Kau tak seperti biasanya."
"Hah, apanya?"
"Sepertinya kau senang sekali. Ada hal baik yang terjadi?" tangan iseng Hara menyentuh pipi temannya itu, sedikit menggodanya.
Hanamiya gelagapan, namun ia mencoba menjawab dengan normal, menyembunyikan perasaan aslinya.
"Ti-tidak, apa yang membuatmu berpikir begitu? Aku biasa saja, haha, hahaha…"
"Hmm… Begitu?"
.
Tampaknya Hara tidak percaya. Benar-benar merepotkan. Hanamiya juga mulai kesal melihat wajahnya yang masih penasaran.
'Sudah, balik aja ke ruanganmu, kenapa?'
.
Namun sebelum Hanamiya dapat mengusirnya, Hara mengangkat sebelah sayap hitam Hanamiya dengan cukup kuat. "Ini kenapa, Hanamiya?"
Hanamiya mengerang, tidak suka sayapnya diangkat tiba-tiba. "Apaan, sih? Apa yang salah?"
"Nih, lihat." Hara mengedepankan sayap Hanamiya, supaya pemiliknya itu dapat melihat apa yang salah. "Sayapmu… Sedikit terkoyak,"
"Eh?!" Hanamiya memandang sayap hitam lebarnya dengan kaget. Benar. Sayapnya sedikit robek di satu sisi. Seperti terkena goresan benda tajam.
Masih ingat teori perkembangan hati iblis?
Sayap yang terkoyak dengan sendirinya.
Tanda suatu iblis mengembangkan hatinya.
Itu berarti perasaannya sudah melewati batas 'cinta' yang dimiliki iblis.
'Jadi, perasaan anehku kepada Kiyoshi benar-benar…'
.
Ia mulai bisa merasakan cinta seperti malaikat. Cinta yang sebenarnya. Yang mengoyak sayapnya sedikit demi sedikit.
Bagus, artinya hati miliknya mulai berkembang.
Namun, di balik itu ada efek sampingnya.
Yaitu jika diteruskan, maka sang iblis bisa kehilangan separuh nyawanya,
Bahkan merenggutnya total.
.
Nah, sekarang, pilihlah…
Lanjutkan cinta ini, atau selamatkan nyawamu.
.
.
TBC
*muncul dari kolong*
Kiyoha di siniii-... /terkapar
Yah, sekarang ujian, dan masih aja nekat ngelanjutin, haha... Apa itu keelastisitasan penawaran-
Tapi ga apa-apa kok, Kiyoha, ganbarimasu!
(Dan you know, ujian itu bisa jadi inspirasi buat nulis lho... /plak)
.
Eqa Skylight
Iya, dibutuhin begitu buat ceritanya, nih...
Sip, ini terus berlanjut...
.
Angsty ya? x'D kalau Hyuuga dipasangin sama Reo susah lagi buat ngatur ceritanya nih, dan takutnya malah makin melenceng dari pair utama UwU
Gimana, ya? Kena ga yaa?
.
Hanaciel
Eeeh? Segitu sedihnya kah? *kasihtisu*
Oke ini dilanjutkan, sabar yaa xD
.
Mey-Chan Love Kagami.5862
Iya soalnya mamamiya (?) emang tsuntsun sih, walau tersembunyi xD
Ngg~ Kalau soal bereinkarnasi, pasti udah baca di atas, kan? :'')) iya ketabrak kereta, tenang aja bukan ketabrak odong-odong maupun gantung diri di pohon toge kok... /plakplok
Hanamiya yang bisikin? Hmm... gimana ya~ kasih tahu nggak ya~
Iya harus dibuat terzakiti dulu, tenang aja, Mama Hana gabakal keburu dibawa kabur kok, wong saya kan authornya wkwkwk /tajong
.
Thankyou untuk yang sudah me-review~ Review kalian membangun fic ini untuk terus maju QwQ makasih dorongannya~
Sekali lagi, seperti biasa...
Mind to RnR? Saran sangat diharapkan ^^
See you next time!
.
kiyoha
