"Hei, baka-Kiyoshi,"
"Ada apa, Hanamiya?" Kiyoshi menghentikan kegiatannya mengutak-atik diorama Sengoku dan menoleh.
"Haruskah aku menjawab… Yang waktu itu?"
"Yang waktu itu? Maksudmu?" Malaikat itu memiringkan kepalanya, menandakan ia bingung. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang dimaksud oleh iblis di hadapannya.
"…"
"Oh, aku ingat. Yah, itu terserah padamu,"
.
Hanamiya melirik ke samping, menghindari tatap mata dengan Kiyoshi.
"…Jangan harap aku membalas perasaanmu, ya." Ucapnya hanya tertawa hambar,
"Ya, aku tahu itu. Tidak mungkin, ya. Rasanya memang aneh, aku memiliki perasaan kepadamu seperti ini… Harusnya ini tidak boleh, ya?"
.
Mendengar kalimat itu, entah kenapa hatinya merasa sedikit sakit.
.
"Kiyoshi…"
"Hm? Kenapa lagi?"
"Kau ingin megane-kun menjadi kekasihmu, kan?"
Iblis itu menyiapkan hatinya, lalu berkata:
"Jangan berharap yang macam-macam, tapi, um… Mungkin aku akan coba menggantikan megane-kun… Untuk berada di sisimu… Ta-Tapi jangan salah paham! Aku cuma tak mau melihat wajah murammu! Jadi… Cuma itu."
Hanamiya membuang muka, Kiyoshi tertegun. Namun lama kelamaan senyum mengembang di wajahnya.
.
"Hanamiya ternyata memang baik, ya."
Angel, Devil and The Forbidden Love Story
.
A Kuroko no Basuke fanfiction
Special for KiyoHana Day 2015
.
Disclaimer
Story ©kiyoha + ShanataS
Characters ©Fujimaki Tadatoshi
.
Rate
Masih T, mungkin bisa menjurus M di chap depan? (fufufu) /bukanmasotapiya/
.
Pairing (s)
KiyoHana dan benda-benda lain yang anda temukan disini /?
.
Warning(s)
Perlebayan chara, tsuntsun max, otomegokoro(?) hanamiya yang sulit dimengerti, berputar-putar, fuwa fuwa random (khusus chap ini), dan serentet keanuan lainnya.
.
Presented by Kiyoha
10.00 AM-Dunia Manusia
Seperti biasanya, Kiyoshi hanya duduk-duduk iseng di beranda atau di dalam kamar –almarhum- Hyuuga, dan Hanamiya duduk di belakangnya. Hanya diam tanpa bicara satu sama lain. Sibuk mengerjakan urusan masing-masing, terasa jauh walau sesungguhnya dekat.
Kalaupun mereka mengobrol, pasti yang memecah keheningan pertama adalah—
.
"Oi."
-Hanamiya, seperti biasanya.
.
"Haah. Kenapa, Hanamiya?" bosan dengan pola mengobrol mereka yang itu-itu saja, Kiyoshi menoleh dengan sedikit malas.
"Kiyoshi… Bagaimana…Cara pacaran, ya?"
Kiyoshi terbatuk-batuk. Kaget karena tiba-tiba Hanamiya menanyakan pertanyaan aneh seperti itu. Bagaimana. Cara. Pacaran. Dan apa-apaan penggunaan kata 'pacaran' ini. Memangnya dia anak SMA atau apa?
"Ukh… Kenapa tiba-tiba, Hanamiya?"
Hanamiya memerah seketika. "Ha-Habis! Kita bisa dibilang…pacaran…kan…Di dunia ini juga seperti itu, kan?!"
"Sepasang kekasih, begitu? Cara menjalin hubungan yang benar?"
"…"
.
.
Yah, sudah 2 minggu –sejak aku mengatakan suka padanya- aku dan Hanamiya menjalin hubungan seperti ini. Walau awalnya aku ragu dengan perasaan ini, tapi lama-kelamaan sepertinya aku mulai menyukainya—semakin besar rasa sukaku padanya.
Hanamiya bilang ia akan coba 'menggantikan Hyuuga', tapi apa benar kita dapat disebut dengan 'sepasang kekasih'? Dia saja mengatakan tidak akan membalas perasaanku. Lagipula, berada di dekatku seperti ini kurasa sudah terhitung 'menggantikan Hyuuga', tapi... Urusan 'kekasih' ini?
.
.
"Nee, apa kita benar-benar sepasang kekasih? Kau menggantikan Hyuuga, tapi… Apa benar-benar begitu? Aku dan Hyuuga juga bukan kekasih, soalnya…" Kiyoshi bertanya sekali lagi. Hanamiya membalasnya dengan sebal.
"Te-Tentu saja, kan! Kau yang bilang menyukaiku pertama! Makanya—"
"Tapi kau yang memulai hubungan kita, padahal kubilang tidak juga tidak apa-apa... Dan yah, antara aku dan Hyuuga juga tidak ada apa-apa. Jadi aku sedikit bingung waktu kau bilang tentang 'kekasih' ini."
"…Ja-Jadi kau nggak mau?"
"Bukan begitu. Mau, kok. Aku suka begini. Toh aku suka Hanamiya juga," Sang malaikat tersenyum lembut, Sang iblis salah tingkah.
"Hu-Huh! Aku cuma menggantikan megane-kun karena bosan melihat wajahmu yang suram begitu! Dan… Sepertinya menarik…" balas Hanamiya dengan alasan yang dibuat-buat.
.
Jadi kau ingin menjaga agar aku selalu tersenyum, begitu? Dasar…
.
"Yang kubingungkan itu, saat kau bilang akan menggantikan Hyuuga, kau menyebut kita 'kekasih', mungkin kau agak salah paham dengan hubunganku sebelumnya dengan Hyuuga? Eh, tapi kau juga mengetahui tentang Izuki… Jadi salah paham pun tak mungkin, ya?" ujar Kiyoshi, tapi ia malah menjadi bingung dengan kalimatnya sendiri. Memang rumit.
"…Kau juga maunya menjadi kekasih Hyuuga, kan?"
"Itu memang benar, sih…"
"Ya sudah kalau begitu. Kau maunya menjadi kekasih Hyuuga, Hyuuga tiada, aku menggantikannya. Kau menjadi 'kekasih'ku. Begitu, kan?"
.
.
"…Tapi apa kita benar-benar sepasang kekasih? Habis kita tak pernah melakukan apa-apa dan… Kegiatan kita selama ini juga sama saja, kan? Duduk di kamar ini, lalu hanya mengobrol sedikit-sedikit… Lagipula kita tak pernah sepakat untuk menjalin hubungan, kan. Begitu saja terjadi."
Hanamiya memainkan dua jari telunjuk tangannya. "Makanya itu, bagaimana cara… Menjalin hubungan… yang benar…Uh…Kau itu malaikat, pasti tahu, kan? Walau aku cuma menggantikannya kan aku mau melakukannya dengan benar!"
"Lalu kita akan melakukannya dan menjadi 'sepasang kekasih' yang sebenarnya? Padahal bukannya kau hanya menggantikan Hyuuga berada di sisiku karena bosan dan sepertinya menarik?"
"KIYOSHI!"
Mendengar teriakan 'kekasih' barunya, Kiyoshi terpingkal. Menggoda Hanamiya memang menyenangkan rasanya.
"Hahaha, Hanamiya lucu, ya~"
Namun tawa Kiyoshi malah membuat iblis itu ngambek. "Huh! Ya sudah kalau nggak mau memberitahuku! Aku bisa cari caranya sendiri! Dasar, malaikat bodoh!"
"Duh, iya, iya."
.
"…Hei, Hanamiya, kalau kita melakukannya dengan benar, lalu menjadi sepasang kekasih berarti kita harusnya saling menyukai, kan? Kau bilang tak akan membalas perasaanku?"
"Ha-Haah? Se-Sepasang kekasih tidak perlu sama-sama suka, kan."
"Status palsu, dong."
"Ki-kita juga masih dalam tahap pura-pura, kan?"
"Berarti ada tahap selanjutnya?"
"…"
"Sepasang kekasih yang sebenarnya kurasa harusnya saling menyukai, dan mengerjakan hubungannya dengan serius. Berarti kalau kau ingin mengerjakan hubungan kita dengan serius, karena serius jadi kita menjadi sepasang kekasih yang sebenarnya, berarti pasti ada walau secuil saja perasaan sukamu padaku, dong?"
Hanamiya tak menjawab. Ia berdiri membelakangi Kiyoshi lalu langsung melesat ke langit dengan sayap hitam besarnya. Kiyoshi menghela nafas lalu tersenyum.
"Yah, dia memang seperti itu, ya…"
.
Lalu kenapa kesanku tadi seperti tidak menginginkan aku dan Hanamiya menjadi kekasih yang sebenarnya, ya? Apa karena aku masih memiliki perasaan pada Hyuuga?
Tangan besarnya mengelus diorama Sengoku di atas meja.
Memang sulit untuk melupakannya, sih.
...
"Teppei! Kenapa kau masih keluyuran saja di dunia manusia, sih?" omel Riko saat Kiyoshi kembali ke dunianya.
"Hahaha… Tugas malaikat memang memerhatikan manusia, kan?" jawab Kiyoshi santai, sambil merapikan berkas-berkas yang tertumpuk di meja kerjanya. Alis tebalnya bertaut melihat banyaknya pekerjaan untuk hari ini.
"Tuh, lihat! Menggunung, kan?" seru Riko menunjuk meja kerja temannya itu."Kalau tak kubantu, pasti lebih menumpuk lagi!"
Kiyoshi memijit pelipisnya. "Maaf, maaf…"
"Kalau kau terus-terusan begini bisa-bisa kau mendapat hukuman dari para petinggi, lho! Kau mau begitu?"
"Tentu saja tidak…"
.
.
"Hei, Teppei…" panggil Riko. Wajahnya menunduk dan ia memainkan kedua tangannya. "Hyuuga…Orang yang kau suka itu, sudah meninggal kan…?"
Kiyoshi tersentak. Ia diam sejenak lalu menjawab. "Iya, memangnya kenapa?"
"Itu… Maaf mengungkit-ungkitnya lagi, tapi…"
"Tapi?"
Pupil mata Riko bergerak-gerak tak tenang, lalu kembali fokus menatap pupil mata Kiyoshi.
"Aku tak mengerti, kenapa kau masih saja datang ke dunia manusia."
Kiyoshi tak menjawab, ia sibuk mengerjakan berkas-berkas di mejanya. Riko mengenggam sebelah tangan Kiyoshi dengan erat.
"Ada yang kau suka lagi? Atau kau masih belum bisa melupakannya?"
"Riko." Ucap Kiyoshi sambil melepaskan genggaman tangan Riko dari tangan besarnya. "Tak usah kau pikirkan. Tidak ada apa-apa."
.
Wajah gadis malaikat itu berubah masam.
"Kalau tidak ada apa-apa lalu mengapa? Mengapa kau selalu datang ke sana? Padahal pekerjaanmu di sini banyak! Kau itu malaikat besar, Teppei! Kau tak perlu bekerja memerhatikan para manusia di dunia sana! Kemarin—waktu para petinggi mengadakan rapat, mereka membicarakanmu, lho!"
"…"
"Kenapa kau tidak mau berada di sini, dan mengerjakan berkas-berkasmu ini… Di sampingku, sini…" lanjut Riko dengan suara yang lirih. Tangannya mengepal di dada, mencengkram lembaran kain yang membalut tubuhnya.
"Aku—"
"…Aku sudah mengerjakan ini sebagian. Aku akan kembali."
"Teppei!"
.
Terlambat. Kiyoshi mengepakkan sayap putih besarnya lalu pergi meninggalkan dunianya. Riko menatap punggungnya yang semakin menjauh dengan pahit.
'Teppei…'
"Lho? Tumben Hanamiya tidak ada di sini… Padahal di saat begini, aku ingin dia menghiburku sedikit, haah…" Kiyoshi terduduk diam di tempat biasanya—di beranda kamar Hyuuga.
Ia terus bermuram durja, dan agak kesal karena kekasihnya malah tidak ada di saat seperti ini. Membuatnya makin galau saja.
Tapi, tiba-tiba Hanamiya terbang ke arahnya. Membawa beberapa barang… Dan…Semacam alat?
"Tu-tunggu, Hanamiya! Kenapa kau membawa banyak barang begitu?! Kau kan tak terlihat, jadi barang-barang itu tampak melayang di mata manusia, tahu!" Kiyoshi menghampirinya dan membantunya membawa barang-barang untuk segera ditaruh di beranda. Hanamiya bisa bodoh juga di saat begini.
"Ah, begitu, ya. Aku tak terlihat, ya, aku lupa."
"Duuh, dan… Ini barang-barang apa, sih? Tadi kau pergi ke mana?"
"Perpustakaan. Dan rumah Izuki." Jawab Hanamiya singkat sambil membalik halaman buku-buku yang ia pinjam—tidak, ia ambil dari perpustakaan. Ia melanjutkan, "Aku cari banyak informasi tentang 'menjalin hubungan' ini…"
Kiyoshi menggaruk kepalanya. Dia benar-benar tak paham apa yang dipikirkan iblis itu.
"Kalau dari perpustakaan harusnya jangan seenaknya ambil, dong…"
"Habis kan aku tak bisa meminjam…"
"Lalu? Apa yang kau dapat dari rumah Izuki? Biar nanti aku kembalikan."
"Ah, itu. Tapi kurasa tak perlu dikembalikan."
"Tak perlu?" Kiyoshi mengaduk-aduk tumpukan barang dan buku bawaan Hanamiya, mencari 'barang dari rumah Izuki' tersebut. Dan ia berhasil menemukannya.
.
.
"Recorder? Ini yang maksudmu tak perlu dikembalikan?"
"Ya. Suara yang direkam memang dari rumah Izuki, tapi recorder itu aku temukan tergeletak di tengah jalan tanpa pemilik."
"Oi, oi… Kalau pemiliknya mencari-cari recorder ini bagaimana? Lalu… Memangnya apa yang kau rekam, sih?"
Penasaran, malaikat itu menekan tombol 'putar' di recorder.
.
PIP
'A-Akh… Yoshitaka…san…Mn…'
…
Kiyoshi melotot.
PIP
.
Tangannya refleks menekan tombol stop di recorder. Ternyata ini. Mana volumenya besar pula. Hanamiya hanya menatapnya dalam diam—menunggu komentar.
.
"Jadi…"
"Ini privasi lho, Hanamiya."
"Aku kan nggak terlihat! Nggak apa, dong! Ini untuk mencari informasi! Lagipula, kan wajar setan datang… Mendorong nafsu… Yang begitu… Kan! Jadi kalau aku masuk juga tidak apa, kan! Aku kan mau mengambil contoh dari sepasang kekasih beneran!" balas Hanamiya dengan nada yang naik turun. Sepertinya ia juga malu. Tapi tetap saja ngotot.
Kiyoshi tak dapat berkomentar lagi. Ia menjambak rambutnya sendiri, pusing.
"…Pokoknya, saat kau ingin kembalikan recorder ini ke tempatnya, hapus dulu rekaman tadi."
"Kenapa? Sulit mendapatkannya, tahu! Baka!"
.
Kalau begini kau yang baka, tahu.
.
"Yah, kalau begitu lupakan rekaman bodoh itu. Aku dapat banyak buku. Aku mencari di banyak tempat."
Kiyoshi meraih salah satu buku untuk memastikan tidak ada yang seperti rekaman barusan. Hanamiya mengambil banyak sekali buku, mungkin dia asal ambil buku yang menurutnya punya informasi soal 'menjalin hubungan'.
"Buku apa ini? Hmm... 'Mari Move On?'"
"Kalau menjalin hubungan, pasti 'anak remaja'. Jadi kuputuskan untuk mengambil buku-buku tentang percintaan remaja."
"Kau ini, ya—"
Memotong kalimat Kiyoshi, Hanamiya berseru.
"Aku baru tahu kalau hubungan dan hati para remaja sangat kompleks! Contohnya, sekali jatuh cinta susah sekali untuk move on, dan banyak hal yang mereka lakukan!"
…
'Oke, itu agak menohok, Hanamiya.'
…
"Jadi… Apa yang kau temukan? Tentang cara manusia 'menjalin hubungan'?" menyerah, Kiyoshi ikut membalik halaman demi halaman buku bawaan 'kekasih'nya.
Mendadak wajah iblis itu merona,
"Seperti… Jalan-jalan berdua, mengobrol, saling melindungi, saling berkirim pesan, saling memeluk, ci-ci-cium…Juga…"
"Hmm, sudah kuduga. Walau kau bilang hati remaja itu kompleks, sebenarnya yang mereka lakukan simpel saja. Seperti yang bisa kita lihat sehari-hari."
"…Ma-maaf saja deh, kalau nggak ada yang berguna!"
.
"N—nee, Kiyoshi…" panggil Hanamiya sambil sedikit menarik sayap putih sang malaikat.
"Ada apa?" menoleh, Kiyoshi mendapati Hanamiya yang terduduk dengan wajah memerah, memainkan jari-jari tangannya. Kenapa dia?
"..I…Itu… Apa kalau mencintai…seseorang…Atau saling mencintai…Maka 2 orang itu akan melakukan—itu?" tanyanya pelan, malu-malu.
"Itu?"
"—Itu, bodoh."
"…Seks?" Kiyoshi mencoba memperjelas perkataan Hanamiya. Dengan straightforward. Sepertinya terlalu straightforward.
Iblis itu mengangguk pelan, ia menutup wajahnya dengan buku tebal. Manis sekali.
"Di buku ini mengatakan begitu… Kukira seks dilakukan begitu saja, walau tak ada cinta? Misalnya ada 2 orang, tapi mereka bukan 'pasangan' lalu—Jadi, anu… Uwah! Melakukannya sih biasa saja, tapi membicarakannya terasa memalukan!" Hanamiya berbalik badan, berusaha menyembunyikan wajah ricottanya yang bersemu.
.
'Bukannya biasanya memalukan saat melakukannya, biasa saja saat membicarakannya? Hanamiya, Hanamiya...' batin Kiyoshi.
.
"Yah, memang ada yang tidak didasari cinta, sih… Tapi menurutku, saat hati 2 orang sudah bersatu, maka badan akan mengikuti… Begitu?"
"O-Oh…"
"Ngomong-ngomong, Hanamiya pernah melakukannya?"
Wajah yang semulanya merah menjadi lebih merah lagi. "Ja-Jangan tanyakan hal seperti itu, bodoh! Uh, beberapa…kali…"
"Hm, beberapa kali, ya? Tanpa didasari cinta?"
Hanamiya hanya mengangguk singkat.
.
.
"Oi…"
"Ada apa lagi, Hanamiya?"
Sang iblis mencengkram bahu Kiyoshi erat, wajahnya menunduk malu. "I…Itu… Kalau aku kekasihmu, maka kita… Akan melakukannya?"
"He? Ah, kurasa tidak perlu juga tidak apa…"
Memandang wajah 'kekasih'nya, Hanamiya bertanya lagi. "Kalau pura-pura melakukannya? Kan aku masih pura-pura…"
"Sudah kubilang tidak perlu tidak apa-apa. Hanamiya, aku ini malaikat, ingat?"
"A-Aku tahu, bodoh! Aku kan cuma bertanya…"
"Haah, terserah kau sajalah…"
.
Gyut
.
"Ng?" Malaikat itu merasakan kedua sayap besarnya ditekan dari belakang. Dan ada 2 lengan yang mengelilingi badan tegapnya. Tunggu, ini…
"Ha-Hanamiya?"
…Hanamiya, 'kekasih'nya itu, memeluknya pelan.
Melepaskan pelukan singkatnya, Hanamiya bangkit dan berdiri membelakangi Kiyoshi, sementara Kiyoshi hanya melongo karena kejadian barusan.
"…Langkah pertama."
"Ng?"
"I-Itu langkah pertama hubungan kita, Kiyoshi-baka! Kan sudah kubilang aku akan menggantikan megane-kun. Dan aku akan melakukannya dengan benar! Karena aku tidak bisa melakukan yang aneh-aneh, jadi ini saja!" jelas Hanamiya sambil menunjuk pada Kiyoshi, seperti memberi tantangan. "Kurasa… Bukan pura-pura…"
.
Langkah pertama, eh?
.
Kiyoshi terkekeh. "Hanamiya, sebenarnya kau ini menyukaiku atau tidak, sih? Kau yang bersemangat untuk 'menjalin hubungan', dan…"
"U-Uh, diam! Jangan harap! Dari pada kau suram begitu! Melihatmu suram membuatku ingin melemparmu ke jurang, tahu?!"
"Iya deh, iya…"
.
.
Yaah, mungkin 'menjalin hubungan walau masih pura-pura tapi serius' ini ada baiknya juga, aku jadi bisa melihat berbagai sisi dirinya. Awalnya kukira ia hanya iblis jahat yang mengincar Hyuuga, tapi sepertinya aku salah. Dan di luar dugaan Hanamiya cukup polos dengan hal-hal biasa seperti 'pacaran'. Ia juga memiliki berbagai sisi manis. Seperti saat ia menghiburku, saat ia malu-malu dan salah tingkah,saat ia melakukan hal dengan serius walau alasannya hanya sepele… Untuk menjaga senyumanku.
Syukurlah, aku jadi bisa lebih mengerti dirinya.
Kurasa walau hubungan kita tetap seperti ini, tidak apa-apa…
.
.
Kiyoshi tersenyum lembut memandang punggung Hanamiya yang sedikit tertutup oleh kedua sayap hitamnya. Sebenarnya Kiyoshi agak menyayangkan juga, karena Hanamiya adalah iblis. Saat itu, barulah ia menyadari ada hal yang sedikit janggal…
Apa sayap Hanamiya…Selalu berlubang seperti itu, ya? Tapi hanya sebelah sayap… Apa terkoyak sesuatu?
Ia ingin bertanya, tapi ia segera mengurungkan niatnya. Ia rasa itu bukan urusannya. Walau ia ingin mengerti banyak hal tentang Hanamiya, tapi yah… Tidak apa-apa.
.
Kurasa, semakin hari… Aku semakin menyukainya…
.
.
TBC?
Hisashiburi, Kiyoha desu! Lama nggak ketemu, ya! *lambaioleholeh* /getoked
Iya, benar-benar maaf, karena lama. Huhuhu. Habis kena tohokan FT-sensei, tapi udah balik seneng lagi. Habis galau juga mau ngelanjutin ini gimana. Dan akhirnya jadi chap ini. Chap 'istirahat' mungkin? Karena dari kemarin chapnya selalu bikin kokoro kiyoha sakit, jadi nyoba istirahat dari maso dulu. Fuwa-fuwa dulu. Mesraan dulu /? /GAK
Dan hubungan KiyoHana kalo langsung lompat tanpa cerita nggak asik juga kan? Dan ini bukan cuma 'istirahat' aja, kok! Ada sedikit spoiler buat chap depan, tuuh... *lirik*
Hahaha disini hubungan Hanamiya sama Kiyoshi nggak jelas gitu hahaha maap yah! Habis Hanamiyanya maksa nyebut mereka kekasih, tapi merekanya juga sama aja, kan... Kiyoshi juga masih ada rasa sama Hyuuga... Mungkin Hanamiya cuma tahu yang namanya pacaran, ya. Maklumlah saya kan belum ngejar pacar jadi ga begitu paham romens /KOKCURHAT/ Tapi lumayan buat nambah-nambah suka, kan ya? Maaf kalo susah dimengerti yah UwU
Tapi saya gapaham juga Hanamiya yang anuanu (?) di chap 1 ternyata polos... Aduh ini saya bikin apaan. /gulung
Dan di chap ini, beberapa kawan ikutan ngetik dan bantuin nyari kalimat (?) makanya random dengan berbagai macam style-ah sudahlah. Daripada kiyoha yang ngetik melulu takutnya malah suram. Tapi makasih yang udah mau ngikutin sampai sini. Terharu, deh :'3
...boleh gak ratenya saya naikin? /GAK
.
Balasan ripiu :3
.
Eqa Skylight
Happy end? Kiyoha juga maunya begitu, kok... Tunggu ya :'3
Lanjuuut~
.
Cherry Blue Mint
jangan lupa dong cher wkwk ketinggalan kereta kan /APA
semangat dong, oya sori kapal anda saya karamin, ya? hahaha~
bang Juki ada kok, di chap ini, lewat... /plok
Okeee
.
Hanaciel Jaeger
Yang bisikin? Hmm, siapa ya? Kiyoshi mah baik atuh, gabakal marahin huwahaha /ei
Yes! Lanjuut...
.
Dee Cavallone
gapapa kok dee ^^ yah, inti dari cerita ini memang orang patah hati /GAK
iya, karena storynya lanjut, jadi makin berat...
Sejujurnya sih kiyoha juga nyesek nulis part Hyuuganya :'3 bikin charadeath itu melelahkan kokoro... Siapa yang bujuk, ya~ hmhm~
hanamiya kan tsuntsun mau gitu (?) jadi...
Yah, endingnya masih lama, mungkin masih ada kesempatan happy end :'3
Lanjuuut
.
Mey-Chan Love Kagami- 5862
Stadium akhir xD Kiyoshi memang nggak peka juga wkwkwk
Nah itu, masih di chap depan-depan kok, jangan khawatir... Author juga mau yang terbaik buat mereka (?) :'3
Oke, ini lanjuuut
.
Lastly, Mind to RnR? Reviewmu sangat mendorong semangat kiyoha! ^w^ Dan sarannya juga!
Sampai jumpa di chap depan!
kiyoha
