.

.

.

.

.

"Eoh, aku akan pergi sore pagi."

"Benarkah?, kalau gitu mungkin aku bisa menjemputmu."

"Baiklah, tapi sebenarnya.."

"Kenapa? Apa kau sakit?"

"Ah tidak kok noona"

"Suara kau saja terdengar seperti orang sakit. Jangan sering-sering keluar rumah, sekarang dingin lho."

"Oke oke jangan khawatir. Aku tutup ya.."

Tak terasa, sudah 3 bulan Hongbin berada disini. Waktu berlalu sangatlah cepat. Wonshik yang mendengar percakapan telepon dari dapur itu, merasa tidak nyaman. Kenapa Hongbin pergi secepat ini? Batin Wonshik tidak ingin Hongbin pergi.

Waktu Hongbin berada di Cheongdamdong hanyalah 3 bulan. Dan itu sudah ditetapkan oleh ketuanya. Pada besok hari, Hongbin perlu kembali ke Seoul untuk menemui ketuanya dan kembali kerumahnya yang terletak di Jayang-dong.

Sebenarnya Hongbin juga tidak ingin pergi dengan alasan yang begitu mudah. Ia sudah banyak melakukan hal dengan Wonshik. Baginya, Wonshik seperti teman sejatinya. Ya walaupun diantara mereka sering melakukan hal-hal aneh yang menghasil jarak. Tapi itu tidak menjadi masalah bagi mereka berdua.

Saat Wonshik berjalan ke ruang tengah sambil membawa secangkir kopi, ia melihat Hongbin bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar sambil mengatakan ia ingin tidur. Tidak biasanya Hongbin ingin tidur secepat ini, batin Wonshik menjadi bingung.

.

.

.

.

.

Setelah menutup pintu, kemudian Hongbin membuka kancing-kancing kemeja putih yang ia kenakan saat ini untuk menggantinya dengan baju yang tebal karena hawa malam semakin meninggi. Tak ia ketahui, seseorang membuka pintu kamar. Dengan lambat ia mendekati Hongbin yang ingin melepas kemejanya itu, tiba-tiba ia langsung memeluk erat Hongbin. Sontak Hongbin terkejut.

"Kajima (jangan pergi).."

Bukannya menangkis sentuhan tangan Wonshik dan takut, Hongbin malah membiarkan teman sekamarnya itu menyentuh tubuh atletis-nya. Karena ia tau bahwa Wonshik juga tidak ingin meninggalkannya.

Tapi yang anehnya lagi, Hongbin membiarkan tubuhnya yang mulai ternodai itu bukanlah perasaan aneh yang ia rasakan pada awal-awal ia tinggal dengan Wonshik. Perasaan aneh itu tidak menghampiri Hongbin maupun Wonshik sekarang ini.

.

.

.

-Throwback-

Ini sudah jam 9malam lewat, saatnya penghuni bumi untuk menenangkan pikiran mereka dengan tidur. Hongbin yang baru sampai ke apartemen setelah ia berteman ria dengan teman dekatnya, membuka pintu kamarnya dan memanggil Wonshik. Tapi dilihatnya dari rak sepatu, ia tidak melihat sepatu milik Wonshik.

Lalu Hongbin memanggil Wonshik untuk kedua kalinya. Tidak ada jawaban. Kemudian Hongbin bergerak ke kamar, juga tidak ada siapapun selain dirinya.

"Haah~.. apakah Wonshik masih marah dengan kejadian 2 hari yang lalu?" tanya Hongbin menghela napas menjadi khawatir dengan keadaan teman sekamarnya itu

"Apa perlu ku telepon?"

Hongbin putuskan untuk menelpon Wonshik. Ternyata tidak diangkat dan itu membuat Hongbin semakin khawatir. Hongbin tidak tau apa yang harus ia lakukan lagi supaya mengurangi kekhawatirannya terhadap Wonshik.

.

"Ken-hyung, beristirahatlah dulu. Setelah itu kita dengerin hasilnya."

Perintah Wonshik sebagai produser kepada Jaehwan yang selalu membantunya dalam membuat lagu. Setelah Jaehwan keluar dari ruang rekaman, kemudian ia keluar dari studio untuk membeli minuman. Ketika Wonshik mengambil ponselnya, ia baru sadar sebuah sound message terkirim kepadanya. Otomatis Wonshik bertanya-tanya siapa itu. Ketika ia dengarkan pesan itu..

"Wonshik-ah, kau dimana?. Kenapa kau belum pulang huh?, padahal aku ingin mengajakmu makan bareng, tapi kau tidak ada. Kau sibuk membuat lagu dengan Jaehwan-hyung ya?, kalau tebakanku benar, bekerja keras lah. Eer... Sebernarnya aku sangat khawatir denganmu. Tidak biasanya kau tidak ada dirumah sampai jam segini. Tapi.."

Ternyata pesan suara itu dari Hongbin. 7 detik pesan suara itu terdiam..

"Aku suka denganmu. Sebenarnya begitu. Eer aku tidak tau kau perlu menjawabnya atau tidak. Mungkin ini terdengar aneh dan mengejutkan bagimu tapi, ini memang perasaanku. Ahh aku terlalu banyak bicara haha.. kalau kau masih sibuk, teruskan saja pekerjaanmu sampai selesai. Aku tidak apa-apa kok dirumah sendirian. Minumlah kopi seperti biasa dan buatlah lagu yang bisa didengar oleh semua orang. Good night~"

-Throwback end-

.

.

.

Jari-jari nakal Wonshik tentu saja tidak berhenti untuk lebih menelusuri tubuh lawannya itu. Dijilatnya dengan lembut telinga Hongbin yang membuatnya bergidik geli itu. Lalu beralih ke bibir. Tentu saja keduanya saling membalas dengan cukup keras. Dengan posisi Hongbin yang berada dibawah, memudahkan Wonshik untuk menyerangnya.

Suara-suara aneh terus meluncur dari mulut Hongbin yang tengah sibuk itu. Tangannya pun juga sibuk layak milik lawannya. Sesekali ia mendorong kepala Wonshik untuk memperdalam ciumannya. Tapi tanpa ia sadari..

Tik!

"Kenapa.. kau menangis?" tanya Wonshik menjadi panik ketika melihat Hongbin yang entah kenapa mengeluarkan air mata

"... karena, rasanya.. begitu nyaman.."

Saat Wonshik mendengar jawaban itu, ia langsung tidak tau apa yang harus ia buat untuk menghentikan tangis Hongbin. Tapi itu nihil. Wonshik malah kembali menyerang dengan mencium Hongbin lebih ganas yang tentu saja membuat Hongbin semakin menangis.

Hanya selimut lah yang menutupi badan mereka yang tidak ada sehelai benang pun. Sorotan cahaya sinar bulan yang tipis dari jendela. Tidak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Sebuah malam yang tak disangka akan berakhir seperti ini. Mengungkapkan keinginan mereka yang sudah lama dipendam, adalah suatu memori yang tidak akan pergi jauh.

.

.

.

.

.

When you shine your light~

Alarm ponsel Hongbin berbunyi yang bertanda sekarang sudah jam 7.30am. Mendengar itu, Hongbin langsung bangun dan mencoba membuka matanya serta mengumpulkan jiwanya kembali. Tapi ketika ia bergerak, entah kenapa tubuhnya terasa sakit dan keras.

"Arrgh!" teriaknya kesakitan

Saat Hongbin ingin mengambil ponselnya untuk mematikan alarm, ia tidak bisa meraihnya. Tapi ponselnya malah terjatuh ketika ia mengambilnya. Alhasil alarm-nya berhenti.

"Ravi-ah~" panggil Hongbin setengah sadar kepada Wonshik dengan menyebut stagename-nya Wonshik sambil meletakkan tangannya diatas badan Wonshik

Tidak ada jawaban. Tampaknya Wonshik masih kelelahan bekas kemarin malam. Melihat Wonshik yang tidak menjawab panggilannya itu, akhirnya Hongbin terlelap lagi.

.

.

.

.

.

Tak terasa sudah, matahari mulai menenggelamkan dirinya. Disaat itu juga, Hongbin harus pergi. Noona-nya sudah menunggu diluar apartemen. Berat hati Hongbin untuk meninggalkan Wonshik sendirian. Tapi mau gimana lagi.

Setelah ia selesai membereskan barang-barangnya, kemudian ia membawa koper beserta tas jinjingnya ke ruang tamu lalu memasang sepatunya. Setelah itu, ia memanggil Wonshik sambil mengambil koper dan tas jinjingnya. Langsung saja Wonshik datang kedepannya.

"Eer uang bayar sewa sudah kau berikan ke pemilik apartemen kan?" tanya Hongbin menjadi ragu-ragu

"Eoh sudah" jawab Wonshik singkat

"Kalau begitu, aku.. pergi ya. Gomawo, sudah membolehkanku tinggal disini. Nyaman rasanya tinggal denganmu. Aku harap, kau tetap nyaman walaupun aku tidak ada disini." ucap Hongbin terakhir kepada Wonshik tapi tidak mendapat jawaban

Setelah itu Hongbin memegang koper dan tas jinjingnya, lalu pergi. Dengan langkah yang berat, Hongbin membuka pintu. Sesekali ia melihat kebelakang untuk melihat Wonshik. Tapi inilah yang perlu ia lakukan. Pergi dan melanjutkan urusannya.

Tapi belum Hongbin melangkahkan kakinya untuk langkah kedua, tiba-tiba Wonshik menarik bahunya dan menciumnya. Hongbin sempat terkejut. Hongbin tau bahwa Wonshik juga tidak ingin meninggalkannya layaknya ia sendiri.

Banyak kejadian yang mereka lalui berdua. Dan ini adalah sebuah perpisahan yang begitu berat. Melakukan semua hal bersama. Mulai dari jalan-jalan, main game, dan lainnya. Tertawa, senang, sedih mereka lalui bersama. Tapi, ini adalah takdir. Keduanya memang berperasaan yang sama. Tidak ingin saling meninggalkan. Namun apa daya.

.

.

.

.

.

End

Yeeaayy~ \^0^/.. Selesai juga nih ff~ *tiup lilin /eh*.. Mimin berusaha banget nih buat nyelesaiin chapter 3 nya.. karena masih banyaa~~kk banget ff VIXX yang perlu mimin bikin.. Project FF VIXX bareng eonnie mimin.. maaf kalau scene anu-nya(?) dikit abis hahaha XD.. mimin aje masih nggak puas.. bagi aye, susah weh bikinnya dengan kalimat yang sopan *mimin gitu orangnye*..

Thanks ya yang udah review, favorite-in, follow-ing nih ff *polite bow*.. gk bisa nyebut namanya nih hahahah ^^..

Gamsahamnida dan, review?