'Dia sudah terlalu banyak melanggar aturan dunia sepantasnya ia kita beri pelajaran.'
'Ta-Tapi tunggu! Kumohon, berilah ia sedikit toleransi, sedikit lagi, saja. Aku yang akan menggantikan pekerjaannya di sini!'
'Tidak ada tapi-tapian! Aida, kau juga tahu kan, dia itu malaikat tinggi! Melakukan pelanggaran seperti itu… Tidak dapat dimaafkan!'
'Sudah, sudah. Baiklah, Aida, sebaiknya kau ingatkan dia sekarang berikan waktu 3 hari.'
'Baik…'
.
'Kumohon! Aku lakukan ini untuk kebaikanmu! Mengapa kau terus pergi ke dunia sana!'
'Kembalilah ke dunia kita!'
'Tinggallah di sini, lalu mengerjakan pekerjaan-pekerjaanmu bersamaku!'
'Teppei!'
Angel, Devil and The Forbidden Love Story
.
A Kuroko no Basuke fanfiction
Special for KiyoHana Day 2015
.
Disclaimer
Story ©kiyoha + ShanataS
Characters ©Fujimaki Tadatoshi
.
Rate
T+ supaya sejahtera (?)
.
Pairing
KiyoHana, slightKiyoRiko, dan anu-anuan lainnya
.
Warning
Desain (?) dunia sana sama seperti dunia sini—atau seperti Makai Ouji, OOC?, typo (s) maybe, author mabok, lebai, Hanamiya so uke so lembut (?), Sadist!Imayoshi, plot campursari dan serentet keanuan lainnya. DLDR!
.
Presented by Kiyoha
.
"Oya, oya, Hanamiya o-ka-e-ri~" sapa Imayoshi saat kouhainya memasuki rumah. Ia mengetuk-ngetuk pinggiran piring makannya dengan garpu, menimbulkan bunyi nyaring yang khas. "Kau sudah makan? Ayo makan bersamaku~"
"Tidak terima kasih." tolaknya singkat. Imayoshi membuka sebelah mata, tak biasanya Hanamiya menolaknya seperti itu. Saat itulah, ia melihat sesuatu yang ganjil-Ia memfokuskan pandangannya ke sayap hitam sang kouhai. Sayapnya terkoyak. Entah karena tergores sesuatu, atau…
Ah.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
Ia meninggalkan meja makan dan melangkah mendekati Hanamiya. Dengan sebelah tangan, ia menarik sayap kouhainya hingga pemiliknya mengerang kesakitan.
"Hanamiya… Sayapmu?"
"Ukh, lepaskan…"
"Sayapmu terkoyak seperti ini… Jangan bilang… Ada yang kau suka—tidak, ada yang kau cintai?" lanjutnya sambil terus melebarkan sayap itu, untuk melihatnya dengan lebih jelas.
"Akh! A—Akh! Hentikan! Lepaskan aku!"
Alis Imayoshi bertaut. Matanya memicing tajam, seakan memaksa Hanamiya untuk membalas pertanyaannya. Ia menggunakan sebelah tangannya lagi untuk menahan badan Hanamiya, mencegahnya pergi.
"Siapa, hm? Hanamiya~?"
"Imayoshi—lepaskan—" Hanamiya meronta, mencoba melepaskan sayapnya dari genggaman Imayoshi. Namun percuma. Cengkraman Imayoshi terlalu kuat. Jika ia memaksa, bisa-bisa sayapnya malah semakin terkoyak. Dan… Sebelah tangan Imayoshi yang menahan badannya membuatnya mulai merasa sesak. Tak adakah cara supaya ia dapat melepaskan diri?
"Jawab dulu pertanyaanku barusan. Ha-na-mi-ya~"
"...Imayoshi-san."
Imayoshi tersentak saat tiba-tiba tangannya ditahan, memaksanya untuk melepaskan sayap Hanamiya. Hanamiya langsung bernafas lega, lalu bergerak menjauh dari jangkauan senpainya.
Kesal, Imayoshi menepis tangan yang menahannya dan menatap tajam. "…Seto. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kentaro!"
"Maaf menganggumu, Imayoshi-san. Tapi aku punya urusan dengan Hanamiya sekarang. Bisa tolong lepaskan dia?" pinta Seto seraya menarik tangan Hanamiya menjauh. Ia lalu berjalan keluar dari ruang makan, dengan Hanamiya di gandengannya. "Kalau begitu, permisi."
.
.
"Ke-Kentaro?" panggil Hanamiya pelan. "Sakit—kau mencengkramku terlalu keras, bodoh…"
"Maaf." Seto segera melepaskan cengkramannya dari tangan Hanamiya, menimbulkan bekas kemerahan di kulit ricotta itu.
"Tidak apa…Dan…Yang tadi…"
"Kau pasti tak nyaman tadi, kan? Memang Imayoshi sering seenaknya saja."
"Iya. Terima kasih sudah menjauhkanku darinya."
Setelah mereka berjalan sedikit jauh, mereka berhenti di depan sebuah kamar. Hanamiya tahu, ini ruangan kesukaan Seto. Seto memutar knop pintu lalu mengajak Hanamiya masuk ke dalam. Di dalam kamar sudah ada Hara, Furuhashi dan Yamazaki, menunggu mereka. Hanamiya memasang raut bingung, lalu bertanya.
"Lho? Kalian semua… Kenapa di sini?"
"Kami sudah dengar dari Hara, Hanamiya." jawab Furuhashi. "Tentang sayapmu itu."
Hanamiya tersentak. Secara refleks ia memegang sayapnya yang terkoyak. "Oh, ini, kan? Parah, ya…"
"Coba ke sini, aku ingin lihat,"
.
Dengan sangat hati-hati –tak ingin memperparah keadaannya—, mereka memegang sayap hitam Hanamiya dan melihatnya dengan seksama.
"Terkoyak cukup besar, ya…" ujar Yamazaki.
"Di sayap sebelahnya juga, banyak goresan seperti terkena benda tajam." timpal Furuhashi.
"Lho? Tapi…" Hara menautkan alis, walau tak terlihat karena tertutup poni kelabunya. "Sepertinya lebih besar dari pertama kali aku lihat, ya, Hanamiya?"
"Yah, begitulah…"
"Hanamiya! Kau tidak berhati-hati jalannya, sih! Jadinya terkoyak lagi, deh~"
"Bukan begitu, Yamazaki." sanggah Seto. "Ini… Perkembangan hati."
"Eh?"
.
Mereka semua –minus Seto dan Hanamiya- terdiam, memandang Hanamiya tak percaya. Hanamiya duduk merengkuh lutut sambil sesekali membelai sayapnya yang penuh luka. "Itu benar. Hatiku berkembang. Benar-benar menyakitkan…"
"Lho? Tunggu, tunggu…Kalau begitu, artinya…Hanamiya, kau… Jatuh cinta?"
Pertanyaan Hara barusan terjawab dengan sebuah anggukan singkat. Terlihat Furuhashi menggigit bibir bawahnya.
"Tapi, Hanamiya…Kepada siapa kau jatuh cinta? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Yamazaki seraya memiringkan kepala. Sepertinya dia masih bingung.
"…Itu…"
Hanamiya ingin mengatakannya, tapi entah kenapa tak bisa. Mulutnya terus tertutup rapat. Ia rasa jika ia mengatakannya, teman-temannya tak akan percaya, atau rahasianya akan terbongkar. Ia tak mau hal itu terjadi.
"Tak apa. Kami takkan memberitahukan pada siapa-siapa." ucap Seto seraya menepuk-nepuk pundaknya, mencoba meyakinkan.
"Kau dapat percayakan pada kami. Kami mendukungmu." tambah Furuhashi.
"Kalian…"
Lama kelamaan, Hanamiya luluh juga. Akhirnya ia mau membuka mulut, dan menceritakan kepada teman-temannya apa yang sebenarnya -temannya baik, pasti ia dapat mempercayakan rahasianya kepada mereka. Walau ini rahasia yang tak boleh diketahui siapapun, walau ini rahasia yang sungguh terlarang—pasti mereka dapat menjaganya. Ia yakin.
"Baiklah. Kalau begitu, akan kuceritakan…"
...
Kiyoshi duduk sendirian di balkon, memandang langit biru. Hanya membisu, membiarkan angin membelai helaian brunetnya.
"Teppei!" seru Riko sambil menendang pelan punggung temannya itu. "Aku terus mencarimu dari tadi! Kenapa kau nggak balik-balik ke dunia kita, sih? Kita kan harus mengerjakan pekerja—"
"Ah, Riko." potong Kiyoshi. "Tidak apa-apa, kan? Aku sudah mengerjakan pekerjaanku, kok. Pekerjaanku di sana sudah habis. Tidak ada salahnya aku di sini, kan?"
"Bukan begitu! Kau tidak boleh lama-lama di dunia sini, tahu! Lagipula, sudah ada kerjaan yang baru! Ayo ah, pulang!"
"…"
.
"…Kiyoshi. Aku tahu, lho. Aku tahu semuanya. Jangan kira kau bisa menyembunyikan suatu hal dariku. Aku melihatmu…Bersama dia, tadi." ujar Riko sambil mencengkram pelan dress putih bersihnya. "Kau… Jatuh cinta pada Hanamiya?"
Malaikat besar itu tersenyum pahit.
"…Ketahuan, ya. Padahal aku ingin merahasiakannya sampai kami dapat berhubungan dengan sempurna." Kiyoshi menggaruk pipinya yang tidak gatal. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit muram. "Tapi karena sudah ketahuan, mau bagaimana lagi."
"Lagi-lagi kau begitu! Pertama, si Hyuuga itu! Lalu sekarang… Semakin parah saja…Kau jatuh cinta pada iblis…" Riko mengerang, rasa kesal bercampur dengan sedih. "Padahal… Di dunia sana juga banyak malaikat, kan? Banyak juga yang mengagumimu, kok! Kenapa kau harus… Aku…"
Mendengar intonasinya yang naik turun, Kiyoshi memandang wajah Riko—dan matanya yang menahan tangis, siap tumpah kapan saja. Ia menundukkan kepala, dan membuang muka. "Itu…Tak perlu kau pikirkan, Riko."
"TENTU SAJA KUPIKIRKAN, BODOH!"
"…Eh?"
"Tentu saja kupikirkan! Kau selalu saja…Jatuh cinta pada makhluk selain malaikat, kau sering meninggalkan pekerjaanmu di sana demi datang ke dunia ini! Bagaimana tidak kupikirkan! Lama-lama bisa bahaya untukmu, tahu! Aku kan khawatir!" gadis malaikat itu berteriak marah, mengeluarkan segala unek-uneknya pada Kiyoshi. Satu per satu air matanya berjatuhan.
"Dan kau juga… Kenapa tidak menyadari perasaanku, sih…"
"…"
.
Kiyoshi tertegun. Riko menyeka air matanya dengan punggung tangan. Namun walau sudah ia seka, tetap saja bulir-bulir air mata terus berjatuhan ke pipinya yang mulus. Sepertinya, gadis ini benar-benar serius mengkhawatirkannya. Kiyoshi mendekatkan diri ke gadis itu, lalu membelai rambutnya pelan.
"Aku mengerti, aku mengerti. Ada apa sih, denganmu? Tak biasanya kau begini."
"Begini… Kau harus cepat-cepat kembali! Dan jangan terus-terusan ke dunia ini! Keadaan akan buruk bagimu!"
Kiyoshi memandangnya bingung. "Memang ada apa? Mengapa aku tidak boleh datang ke sini? Ada apa sebenarnya?"
"Itu—Kiyo—"
"Akhirnya ketemu juga. Aida Riko. Kiyoshi Teppei. Kami sudah mencari kalian sedari tadi." Segerombolan malaikat menghampiri mereka. Dan entah mengapa mereka membawa banyak alat yang terbuat dari cahaya. Seperti… Borgol?
"Para petinggi! Kumohon, berikan waktu sedikit lagi—"
"Tidak ada tapi-tapian! Aida Riko, kami telah memberimu waktu untuk membawa Kiyoshi kembali ke dunia malaikat, dan kau gagal! Kiyoshi Teppei, kau telah melakukan banyak sekali pelanggaran pada aturan dunia kita. Kau akan mendapat balasan yang setimpal."
Kiyoshi membelalakkan matanya, terkejut dengan kalimat yang dilontarkan para petinggi barusan. Riko mengepalkan tangannya dengan erat, kuku-kuku jarinya menekan kulitnya dengan keras, hingga terasa sakit.
Namun sesaat kemudian Kiyoshi tersenyum lembut.
"Aku tahu. Aku sadar kalau aku telah melakukan beribu pelanggaran. Aku siap menerima akibatnya. Apapun itu." ucapnya tanpa setitikpun keraguan, maniknya menatap lurus ke depan.
"Ki-Kiyoshi?!"
"Bagus jika kau menyadari kesalahanmu. Dari segala yang telah kau perbuat, kau memang pantas mendapat hukuman. Sekarang, ikuti aku."
"Baik." ucap Kiyoshi dengan patuh, tanpa melawan.
"Kiyoshi! Kau akan dihukum, lho! Kau yakin tak apa-apa—"
"Riko. Titip salamku untuk Hanamiya, ya? Katakan padanya bahwa aku minta maaf." ucapnya sampai akhirnya ia dibawa pergi oleh para petinggi, ke dunia sana. Ia sudah pasrah sekarang.
"KIYOSHI!"
.
Pergi terlalu sering ke dunia manusia, meninggalkan pekerjaan, jatuh cinta pada manusia dan iblis… Benar-benar, ia malaikat yang buruk. Ia tahu itu, dan ia siap menanggung resikonya. Tuhan berhak untuk menghukumnya.
Walau ia harus kehilangan nyawanya sekalipun…
Ia akan terus mengejar cintanya, sampai kapanpun.
"Jadi begitu… Aku mengerti."
"Singkatnya, karena kau mencintai Kiyoshi dengan tulus, hatimu berkembang dan sayapmu menjadi seperti ini?" Furuhashi mencoba menyimpulkan cerita Hanamiya barusan. Hanamiya hanya mengangguk lesu seraya membelai sayapnya perlahan.
"Bodoh sekali, ya? Iblis sepertiku ini, jatuh cinta pada malaikat bodoh macam dia… Tak dapat dipercaya, kan?"
.
"Tidak juga. Menurutku wajar saja." ujar Seto. "Tapi, hatimu sudah dalam tahap berkembang menjadi sempurna, jadi yah… Bagaimana ya?"
"Padahal di sini juga banyak yang menyukaimu lho, Hanamiya~~" Tangan Hara menyentuh pipi Hanamiya iseng. Pemiliknya mengerang sebal.
"Bahkan kami juga…" bisik Furuhashi dengan sangat pelan, memastikan Hanamiya tak dapat mendengarnya.
"Hanamiya, kalau begitu repot, dong? Kiyoshi itu kalau tidak salah malaikat besar yang setara dengan Imayoshi, kan? Kalau tidak salah dulu ia sering berdebat dengan Imayoshi juga…" jelas Yamazaki. Ya, Hanamiya mengetahui itu. Karena ia sudah bersama Imayoshi sejak lama. Jadi ia sudah mengenal Kiyoshi dari lama juga. Mendengar kalimat Yamazaki barusan, Seto berpikir sejenak, lalu berkata:
"Ngomong-ngomong tentang Imayoshi… Ia sering sekali bersamamu dari dulu kan, Hanamiya? Kalau menurutku, ia… Pasti ingin menyimpanmu hanya untuknya, kalau dilihat dari kelakuannya selama ini. Walau selama ini ia bersikap begitu ramah padamu. Lihat saja, tadi dia menarik sayapmu dengan kasar, kan? Karena ia mengetahui tentang 'perkembangan hati' mu itu."
"…Kau pikir begitu?" balas Hanamiya dengan nada kurang yakin. Seto mengangguk.
"Ya. Aku yakin sekali."
"Uwaaah, kalau begitu kau harus hati-hati lho, Hanamiyaa~"
"Eh? Kenapa memangnya?"
"Aku nih, pernah dengar sesuatu tentang Imayoshi, dengerin ya~ Katanya dulu, sebelum dirimu, ia pernah jatuh cinta pada—ehm, malaikat." Hara memulai ceritanya. Semua mendengarkannya dengan seksama, penasaran dengan salah satu iblis besar di dunia mereka. Tapi tunggu, ia jatuh cinta pada malaikat? Imayoshi yang itu? Sulit dipercaya.
"Konon malaikat itu termasuk para malaikat yang terlembut, dan tersopan. Ia baik pada siapa saja, termasuk Imayoshi. Sifat itulah yang ia manfaatkan untuk mendapatkan sang malaikat. Diceritakan, sang malaikat juga jatuh hati kepadanya, namun karena perbedaan mereka, karena Imayoshi yang terlalu memaksa sang malaikat untuk menjadi miliknya… Dan cinta sang malaikat yang terlalu besar, malaikat itu pun…"
"Malaikat itu…?" Hanamiya menunggu kelanjutan kalimat Hara dengan penasaran. Dan sepertinya, teman-temannya yang lain juga begitu.
"…Malaikat itu berubah. Hatinya dipenuhi kegelapan. Menjadi fallen angel."
.
.
Hanamiya mengatup mulutnya dengan tangan. Tak mungkin. Imayoshi mengubah malaikat itu menjadi fallen angel?
Fallen Angel. Datenshi. 'Malaikat jatuh'. Sebutan untuk malaikat yang terjerumus ke dalam kegelapan. Saat dimana cahaya mereka menghilang. Bukan iblis yang jahat, bukan juga malaikat yang sempurna dengan segala kebaikannya.
"Dari yang kudengar, fallen angel itu masih ada di sini, di suatu tempat di rumah besar ini, terus berada di dekat Imayoshi… Yah, begitulah. Cerita selesai." Hara menyelesaikan ceritanya, sambil memakan kudapan yang ada di meja kamar. Melihat wajah Hanamiya yang masih penasaran, ia ingin tertawa rasanya.
"Kalau begitu, Hanamiya, kau benar-benar harus berhati-hati. Imayoshi itu, memang tidak kelihatan dari penampilannya, tapi ia benar-benar kuat. Kekuasaannya juga… Menurutku sebaiknya kau menjauhinya…" saran Furuhashi, ditanggapi dengan anggukan Hanamiya.
.
"Eng… Kalian… Makasih sudah mau mendengarkan ceritaku. Yah, ini…Hanya cerita bodoh yang tak berguna, sih…" ucap Hanamiya dengan sedikit terbata. Wajahnya memerah dan ia memainkan jemarinya.
"Ehehehe~ Tidak apa kok, Hanamiya!" Yamazaki terkekeh. Seto yang biasanya stoic juga tersenyum lebar.
"Kami senang membantumu jika sedang kesulitan."
"Kalau ada apa-apa bilang saja." tambah Furuhashi.
"Soalnya…Hanamiya penting buat kami," Hara mengelus rambut eboni temannya dengan lembut. Mereka berempat tersenyum.
'Kalau untuk Hanamiya, kami akan melakukan apa saja.'
Kedua tangannya kaku tak dapat bergerak. Borgol cahaya itu benar-benar mengikatnya dengan kencang. Sudahlah, lagipula ini memang salahnya.
Memang seharusnya malaikat tidak boleh berurusan—tidak, 'berhubungan' dengan iblis. Peraturan ini benar-benar ketat dilaksanakan karena kejadian 2 tahun lalu—
-Saat suatu iblis dan malaikat menjalin hubungan kasih, menyebabkan malaikat itu jatuh dalam kegelapan. Kiyoshi ingat saat itu, karena waktu itu ia ditugaskan untuk
'Bodohnya aku… Kalau begini bisa-bisa aku jatuh dalam kegelapan juga.' batin Kiyoshi sambil memandang langit biru. 'Di hari secerah ini, perjalananku akan berakhir, ya?'
"Kiyoshi Teppei." panggil penjaga dari luar ruangan.
Sudah saatnya.
Dengan patuh, malaikat itu berdiri dari duduknya dan mengikuti penjaga keluar ruangan. Yah, mau apa lagi. Jika dia memberontak, maka keadaan akan semakin sulit untuknya. Lagipula, ia menyadari kesalahannya.
Haah, ini saatnya, kah?
Pintu raksasa itu terbuka sedikit demi sedikit, memperlihatkan ruangan yang bercahaya, menyilaukan mata. Dari kejauhan terlihat malaikat pengeksekusi, dan senjata cahaya khasnya. Kiyoshi hanya dapat tersenyum pahit. Sebentar lagi ia dapat merasakan betapa menyakitkannya.
…Tapi, walaupun aku diberi hukuman begini, aku… Aku tak menyesal, sedikitpun.
Justru aku bersyukur pernah mencintaimu…
…Hanamiya Makoto.
.
.
"Kenapa mendadak perasaanku tidak enak, ya…Apa mungkin gara-gara si bodoh itu, apa dia baik-baik saja…" Hanamiya memeluk sebelah lengannya. Entah mengapa mendadak badannya menggigil tidak enak. Sepertinya ia harus istirahat. Dengan langkah pelan ia berjalan menuju kamarnya. Namun saat melewati lorong, sesuatu menahannya.
"Hei, Ha-na-mi-ya~"
"I…Imayoshi."
Saat ia melihat siapa yang mencegatnya, entah kenapa badannya kembali bergetar hebat. Mungkin akibat kejadian tadi siang. Memori soal kejadian itu masih membekas di kepalanya, membuat ia sedikit takut pada senpainya itu. Dengan refleks, tangan kanannya yang sedari tadi memeluk lengan kiri berpindah memegangi sayapnya. Melihat reaksi kouhainya, Imayoshi memicingkan mata dan mendekatinya.
"Ara, ara? Kenapa kau gemetar begitu?"
"Ini… Tidak apa-apa. Hanya tidak enak badan. Hanya itu."
"Hmm? Oh iya, Hanamiya~ Sepertinya tadi kau asyik sekali ya dengan teman-temanmu itu~"
"E-Eh?"
"Begini nih, ya. Tahu, nggak? Aku juga mendengar ceritamu tadi, lho~ Soal Kiyoshi. Dan gosip tentangku yang diberitahukan Hara kepadamu. Benar-benar menarik~ Kenapa kau tidak mengajakku?"
Oh tidak. Tatapan itu. Senyuman kejam itu. Hanamiya mencoba untuk mundur beberapa langkah menjauhinya, tapi terlambat. Untuk kedua kalinya Imayoshi dapat menggapai kedua sayap sang kouhai dengan mudahnya. Iris hijau Hanamiya tertutup rapat, giginya menggertak menahan sakit.
"Padahal jika aku ikut kan kau dapat mendengar cerita yang sesungguhnya dariku. Sayang sekali." Senyum Imayoshi semakin melebar, salah satu tangan menarik sayap hitam itu dengan kuat hingga pemiliknya memekik kesakitan.
"A-Akh! Tidak!"
"Kalau begitu, akan kuceritakan seluruh kejadian yang sebenarnya, kepadamu—tubuhmu, dan kedua sayap lemahmu. Bersiaplah, karena ini bukan kisah yang pendek dan menyenangkan. Tapi tenang saja, akan kupastikan seluruh tubuhmu menikmati kisahku ini. Fufufu."
Iris hijaunya mulai mengeluarkan air mata, karena sakit yang tak tertahankan. Dan juga karena kalimat yang dilontarkan Imayoshi kepadanya. Perasaan tidak enaknya menjadi kenyataan. Hal buruk akan terjadi padanya.
Sakit, sakit, lepaskan!
Ia terus berteriak bisu—meminta pertolongan. Walau ia tahu takkan ada yang mendengarnya. Teman-temannya, para petinggi…Bahkan Kiyoshi sekalipun. Takkan ada yang datang menolongnya, Takkan ada yang akan melepaskannya dari rasa sakit yang begitu membelenggu—tak ada siapapun.
'Kiyoshi!'
.
.
TBC?
A/N
Konnichiwa! Kiyoha desu! Bawa2 chap baru deessuuu! *muncul dari lemari* /plok
Yah yaah, udah sampai chap 7, mulai KiyoHana seriusnya~ fufufufu /EI /terusyangkemarenapa
Sebenarnya agak bingung mau lanjutin fuwafuwa atau gimana, tapi kayaknya kalau fuwafuwa terus nanti genre angst fic abalan ini melebur (?) jadilah ini~ tenang, belum akan selesai kok. Kan target juga KiyoHana Day ^w^;
Untuk rate, jadi T+ saja, karena...kayaknya nggak ada anuanu yang masuk M... untuk beberapa chap ke depan. Setelahnya, nggak tahu deh~ *cubithana* /ditabokkiyo
And, Happy New Year minna! Sampai jumpa lagi di tahun depan~ :3
Balasan ripiu :3
.
Dee Cavallone
Hee, souka? Jangan sampai diabet yaa xD
Oke, dilanjut~ Tapi nggak M nih, kl M rasanya kecepetan (?) jadi begini dulu...
Kiyoshi kan anak baik, jadi recordernya dimatikan, hahaha xD
Ehm, masih rahasia!
Okeee :3
.
Eqa Skylight
Oke, lanjuuut! Jangan teror author ya! *ngumpetdikolong*
eii jangan cium Hanamiyanya nanti ada yang cemburuuu xD *lirik*
.
Hanaciel Jaeger
Yaaaaay! Kisah cinta dimulaaaaai! xD
dan... Ini chap barunya, semoga suka ya :3
.
Mey-chan Love Kagami 5862
AAAAAA *balikteriak*
tau mamakoto ngebingungin aja, soalnya kan dia emang tsuntsun tapi mau (?)
Iyaa, kalau bayangan kiyoha ya hana masih polospolos unyu gitu /APA
Iyaa, Kagami juga unyu kok xD dan soal rate, naikin segini aja mungkin ya~ Bukan karena mau ada anuanu sih, takutnya di chap2 depan ada violence jadi yaah.. 'v'
Siip, ini lanjutannya!
.
Lastly, mind to RnR?
kiyoha
