Hitam dan putih.
Keburukan dan kebaikan.

Kegelapan dan cahaya.

Iblis dan malaikat.

Iblis cukuplah memiliki kegelapan,

Malaikat cukuplah memiliki cahaya,

Memang sebaiknya, mereka tak bersama.

Setiap kali iblis dan malaikat mencoba untuk bersama

Selalu saja ada hal yang menghalanginya

.

Tapi tidak, aku tak ingin menyerahkan cinta ini
Walau sayapku menghitam,
Walau sayapku hancur berkeping-keping
Walau tombak cahaya ini menusuk punggungku

Bahkan walau takdir tak mengizinkan kita.


Angel, Devil and Forbidden Love Story

.

A Kuroko no Basuke fanfiction

Special for KiyoHana Day 2015

.

Disclaimer

Story ©kiyoha + ShanataS

Characters ©Fujimaki Tadatoshi

.

Rate: M for Violence and mature hint, lime maybeh, and maybeh only for this chap

.

Pairing

KiyoHana, slight!ImaHana dan anuanu lainnya

.

Warning(s)!

Desain (?) dunia sana sama seperti dunia sini—atau seperti desain Makai Ouji, OOC?, typo (s), author mabok, lebai, Hanamiya so uke so lembut so tersakiti (?), many chara(s) and side pairing yang terabaikan(?), Sadist!Imayoshi –mengandungsedikitforcedanuanudantorture-, reipuuu (?), plot campursari dan serentet keanuan lainnya.

Rate M (Bit of violence and mature hint) in this chapter! I've warned you!

DLDR!

.

Presented by Kiyoha


"Ng?"

Perlahan orb kecoklatan itu terbuka, memandang hamparan rumput yang begitu luas. Dengan perlahan Kiyoshi mengangkat punggungnya yang entah kenapa terasa ringan bagaikan bulu. Gesekan antara punggung polosnya dengan rumput yang lembut menimbulkan sensasi yang aneh. Satu per satu tangannya, kakinya, ia lihat dan pastikan. Seperti tidak terjadi apa-apa.

"Aku… Tidak mati?"

Dengan hati-hati ia mencoba berdiri dan mengepakkan sayap, tapi tetap saja terasa aneh—badannya oleng, seperti berat sebelah, sampai akhirnya kembali jatuh ke tanah. Entah apa yang terjadi kepadanya. Hanya saja... Rasanya aneh.

"Akhirnya kau sadar, Teppei." ujar Riko sambil terbang menghampirinya. Segera setelah telapak kakinya menyentuh rerumputan, ia duduk di samping Kiyoshi. "Kau pasti merasa aneh, ya? Coba lihat atau sentuh ke sayap kirimu."

Kiyoshi mencoba menyentuh punggung kirinya, dan terasa hampa. Saat itulah ia sadar.

"Sayap kirimu… Dihilangkan. Kau tahu... Untuk hukumanmu."

Ah.

"Ah, ya… Aku mengerti, tadi aku dihukum, dan... Ini hukumanku, ya…" ucapnya pelan. Mau bagaimana lagi. Senyumnya mengembang dengan pahit. "Tapi… Kurasa mereka terlalu lembek padaku. Hukuman seperti ini kan tidak setara dengan pelanggaranku mencintai anak iblis,"

"Bukan begitu, Teppei. Sebenarnya…" Riko memotong kalimatnya di tengah.

"Sebenarnya...?"

"Ah,"

Seketika gadis itu menjadi ragu untuk menyelesaikan kalimatnya. Namun melihat wajah Kiyoshi yang benar-benar penasaran, ia memutuskan untuk melanjutkan:

"Para petinggi belum mengetahui kalau kau mencintai Hanamiya, Teppei. Aku memutuskan untuk merahasiakannya. Mereka hanya menghukummu karena terlalu sering meninggalkan pekerjaan."

"Ah… Begitukah? Aku memang sering meninggalkan pekerjaan demi ke dunia manusia sih, ya. Ehehe, terima kasih, Riko, sudah menjaga rahasiaku."

"…Tak usah kau pikirkan. Lagipula, melihat kelakuanmu selama ini…"

"Ng?"

Kedua pasang manik kecoklatan bertemu pandang selama beberapa saat. Riko menghela nafas dan akhirnya kembali membuka mulut, "Aah. Aah. Aku menyerah, deh."

"Hah?"

"Aku menyerah. Aku menyerah mengejarmu! Tadinya aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk merebutmu dari Hanamiya, tapi… Sudahlah! Kau… Benar-benar mencintainya, ya. Aku dapat melihatnya selama ini. Karena itu, aku memutuskan untuk mendukung cintamu saja. Begitu tidak apa-apa, kan?"

Kiyoshi terhenyak. Ia sama sekali tidak sadar kalau selama ini Riko merasa seperti itu. Dan… Ini hukuman untuk meninggalkan pekerjaan? Ia jadi tak dapat membayangkan hukuman kalau misalnya ia ketahuan menjalin hubungan dengan iblis. Bisa-bisa kedua sayapnya dihilangkan—dan berujung pada ia harus meninggalkan dunia ini. Tapi di lain sisi ia lega juga. Selain tidak terkena hukuman yang berat, setidaknya Riko mendukung cintanya. Tanpa ia sadari senyumnya mulai mengembang.

"Sekali lagi terima kasih ya, Riko. Tapi ya, rasanya sulit sekali untuk terbang, kalau hanya dengan sebelah sayap seperti ini, hahaha."

"Yah… Lihat sisi baiknya saja. Kau jadi terbebas dari paperwork-paperwork menyebalkan itu. Haah, dasar! Kini aku harus mengerjakannya sendiri, kan!"

Melihat reaksi gadis manis di hadapannya, Kiyoshi terpingkal. "Hahaha, maaf, maaf."

.

Hamparan rerumputan menari, tertiup semilir angin malam yang dingin. Dengan seksama ia memandang sekeliling. Daerah sekitarnya begitu kosong, hanya ada sedikit bangunan dan hamparan permadani hijau sejauh mata memandang. Tempat ini tidak familiar. Ia rasa baru pertama kalinya ia ke daerah sini.

"Ngomong-ngomong, Riko, ini di mana?"

"Ha?! Kau ini mantan malaikat besar, tapi tidak tahu?! Kau pernah ngurusin daerah sekitar, nggak, sih? Apa kau juga nggak pernah patroli?!" Riko memijit pelipisnya mendengar pertanyaan polos Kiyoshi. "Ini di Bukit Utara, tempat mereka yang terbuang. Tenang saja, untuk beberapa saat kau dapat terlepas dari para petinggi, jika tinggal di sini. Lagipula rasanya tinggal di kota utama tak akan mungkin dengan kondisimu yang seperti itu."

"Begitu, ya. Mau apa lagi. Kalau aku pergi ke kota utama, bisa-bisa aku jadi bahan omongan dan lebih mudah ditangkap oleh para petinggi. Kalau begitu aku akan tinggal di bangunan dekat sini, deh. Dan mungkin… Aku akan menengok Hanamiya esok pagi, mohon bantuannya ya, Riko."

"..."

"Kalau begitu selamat malam," ucap Kiyoshi sampai akhirnya ia bersiap melangkah menuju bangunan-bangunan kecil tempat untuk berlindungnya sementara.

.

"…Teppei." panggil Riko saat sang brunet baru akan melangkahkan kakinya menuju salah satu bangunan. Kiyoshi menoleh ke arahnya.

"Walau kau sudah berada di sini, kau masih dalam pengawasan para petinggi. Aku juga tak dapat melindungimu terus, jadi… Berhati-hatilah."

"...Aku tahu."

Setelah menganggukkan kepala ke Riko, Kiyoshi berjalan memasuki suatu bangunan. Akhirnya, cinta mereka akan dimulai lagi—walau dengan pengawasan para petinggi. Yang ia rasakan sekarang—sejak ia membuka matanya di hamparan permadani hijau tadi—ialah ingin bertemu kekasihnya, ia ingin bertemu Hanamiya Makoto. Ia benar-benar khawatir. Apakah Hanamiya baik-baik saja selama di dunia sana?


"Akh! Tidak, hentikan! Lepaskan aku!"

Ia meronta-ronta, tangannya yang terikat rantai kegelapan mencoba melepaskan diri, tapi nihil. Bahkan iblis di belakang punggungnya semakin mengencangkan ikatannya saja.

"Kenapa, hm, Hanamiya? Bukankah kau ingin mendengarkan ceritaku? Akan kubiarkan seluruh tubuhmu mengerti bagaimana perasaan 'senpai' mu tersayang ini…"

"Ukh, tidak mau… Hyaa!"

Diawali dengan sebuah senyuman kejam, sebelah tangan sang 'senpai'—Imayoshi mulai mencengkram erat sayap kanan Hanamiya yang sudah terkoyak cukup lebar. Sementara sebelah tangannya lagi mulai menyusup ke dalam selembar kain yang menutup tubuh polos sang kouhai. Hanamiya menggigit bibir, menahan rasa pedih bercampur geli yang menyerang tubuhnya.

"Hmm, kurasa kau sudah dengar sebagian dari teman-temanmu itu, ya… Yah, jadi tidak seru, dong... Kalau begitu aku akan menceritakan sebagian detilnya saja. Tidak apa-apa?"

"Kh… Tidak usah…Brengsek… Lebih baik aku tidak mendengar ceritamu sama sekali,"

"Hahaha, jangan bilang begitu. Kau sendiri penasaran, kan? Dan... Hanamiya, tak kuduga kau benar-benar tamak, ingin mendengar seluruh ceritanya dari awal. Hmm, kalau begitu mungkin kita dapat 'bersenang-senang' mengobrol sampai pagi~"

Hanamiya bergidik setiap Imayoshi membisikkan kalimat ke telinganya. Dan berapa kalipun ia mencoba melepaskan ikatannya, tetap saja… Ditambah lagi kini Imayoshi menginjak kakinya, menahannya agar ia tak dapat kabur. Ia tak dapat membayangkan betapa biru punggung kakinya sekarang.

"Nah, aku akan mulai ceritaku, ya? Awalnya itu, aku sepertimu, kau tahu? Aku bertemu malaikat manis ini di dunia manusia. Parasnya elok, dan budinya sempurna. Dia benar-benar baik dan ramah, walau sedikit penakut. Dengan segera aku merasa ingin 'memilikinya', yah, pasti kau tahu rasanya." ucap Imayoshi, memulai kisahnya. Selagi cerita itu meluncur mulus dari bibirnya, tangan kanannya masih saja mencengkram erat sayap terkoyak sang kouhai bersamaan dengan tangan kirinya yang menyentuh setiap bagian dari torso Hanamiya, menimbulkan sensasi mengejutkan—bagaikan sengatan listrik. Mendengar lenguhan sang kouhai, dengan smirk khasnya ia pun melanjutkan,

"Aku menginginkannya—dan dia juga mencintaiku. Tapi asal kau tahu saja, ya, sayapku tak mengalami perubahan sepertimu. Akibat seringnya kami bertemu, dia jadi diawasi oleh para petinggi di dunia malaikat, dan hampir saja ia mendapat hukuman karena perbuatannya itu."

'Eh? Me-mendapat hukuman? Apa maksudnya—'

Tanpa Hanamiya dapat menemukan jawaban di benaknya, Imayoshi sudah lebih dulu memainkan tonjolan merah muda di dada kirinya—memilinnya keras dan menekan-nekannya—, membuat pemiliknya memekik kaget—ditambah dengan sayapnya, yang ia yakin sudah terkoyak lebih lebar sekarang.

"Ya. Tapi sesuatu yang ajaib terjadi, kau tahu? Sesaat sebelum petinggi menjatuhkan eksekusi padanya, mendadak cahaya memudar menjadi awan gelap, dan sayap putih lebarnya menghitam bagaikan terbakar oleh bara, membuat semua tercengang melihatnya."

"E-Eh? Ngh!"

"Bahkan para petinggi terkaget-kaget, karena tidak pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya—bahkan dalam kasus iblis-malaikat yang menggegerkan waktu itu. Malaikat itu terjerumus dalam kegelapan, berubah menjadi fallen angel. Cahaya dan tatapan matanya berubah, saat itu ia sangat kuat sehingga dapat menghancurkan barang-barang dan penjaga yang siap mengeksekusinya. Setelah keadaan menjadi tenang, ia pergi dari situ."

Hanamiya masih terus menahan perih di punggungnya, air mulai menumpuk di pelupuk matanya, namun… Entah kenapa sentuhan-sentuhan Imayoshi—yang kini berpindah ke bagian bawah tubuhnya—perlahan membuatnya gila. Dia tak tahu bahwa ia menyukai ini atau tidak. Samar-samar dari celah pupilnya yang setengah terbuka, ia dapat melihat ekspresi Imayoshi yang berubah sedikit demi sedikit, walaupun tidak begitu terlihat. Wajahnya terlihat... Marah?

"Ia mendatangiku, lalu… Ia berkata bahwa ia merindukanku…Tapi tetap saja!"

"…?"

"WALAU SUDAH JATUH KE DALAM KEGELAPAN, TETAP SAJA DIA MASIH SEBUAH MAKHLUK YANG BERNAMA MALAIKAT! SELAMANYA AKU TAKKAN DAPAT BERHUBUNGAN DENGANNYA!"

"A-AKH…!"

"Yah, sejak awal memang aku tidak menyukai malaikat… Karena itu saat kupikir kau ingin menghancurkan Kiyoshi, aku senang sekali…Hanamiya. Aku jadi ingin mendukungmu. Namun plot berbalik, kau malah jatuh cinta kepadanya."

Tanpa kesempatan untuk membalas, tiba-tiba saja Imayoshi memagut bibir kouhainya dengan kasar, sehingga Hanamiya membelalakkan matanya kaget.

"Ahh, Ima... Mmfh..."

Tidak bisa, dengan tangan terikat begini ia tak bisa mendorong Imayoshi menjauh. Imayoshi juga menekan kepalanya dari belakang dengan kuat untuk memperdalam ciuman mereka—supaya ia dapat melumat bibir manis itu dan menginvasi isinya.

Sesak, sungguh menyesakkan, sang kouhai semakin sulit untuk bernafas. Diperparah lagi dengan Imayoshi yang mulai bermain lebih, tangan kanannya yang menekan kepala Hanamiya berpindah mengoyak kedua sayap hitamnya, sedangkan tangan kirinya terus memainkan sesuatu diantara selangkangannya yang kini semakin terangsang saja.

Merasa sakit dan malu dengan keadaannya, Hanamiya memejamkan orb kehijauannya erat-erat, karena memberontak rasanya percuma saja. Di sela desahan dan erangan sakitnya yang terus meluncur, ia membisikkan nama kekasih yang ia cintai sejak lama, berharap panggilannya dapat tercapai—

—walau sepertinya mustahil.

.

.

Kiyoshi terbangun dari tempat tidur. Benar-benar, memejamkan mata pun sulit karena banyaknya hal yang memenuhi pikirannya. Dan ia berani bersumpah, ia merasa bahwa Hanamiya membutuhkannya, bahwa Hanamiya memanggil dirinya. Ditengah sinar remang bulan purnama, ia melangkahkan kakinya keluar—karena sayapnya tak dapat ia pakai—dan memandang langit yang biru kehitaman. Walau bulan bersinar begitu terangnya, tak satupun bintang hadir untuk memperelok langit.

"Benar-benar, perasaanku tak enak, kurasa besok aku akan segera mengunjungi Hanamiya, siapa tahu dia masih sering datang ke rumah Hyuuga…"

Semoga dia baik-baik saja di sana.

.

.

"SIALAN! SIALAN!" Imayoshi berteriak murka, melampiaskan segala amarahnya dengan menarik keras sayap hitam di depannya hingga menjadi abu. Hanamiya menjerit tertahan, sayap kanannya hampir habis karena terus saja diperlakukan dengan kasar oleh senpainya.

"Mengapa dia tidak berubah menjadi iblis saja?! Mengapa?! Mengapa dia masih—malaikat, aargh!" Seakan tak puas merusak sayap sebelah kanan milik Hanamiya, tangan kanannya berpindah ke sayap bagian kiri, menariknya tanpa ampun. Tak lupa dengan jemari tangan kanannya yang terus mendorong dengan kuat, mencoba menggali lebih dalam ke tubuh sang kouhai. Pada sebuah titik, Hanamiya tak kuasa menahan desahan dan jeritannya—disebabkan oleh nikmat dan perih yang menjadi-jadi—hanya bisa pasrah karena tangannya pun terikat erat.

Mencoba menoleh, ia mendapati Imayoshi yang masih meraung, menyerukan kekesalan dan kekecewaannya. Tapi, apa ia tidak salah lihat? Imayoshi yang itu, Imayoshi yang itu—

"Padahal aku menginginkannya, aku…Aku… Aku mencintainya…"

—menitikkan tetes demi tetes air matanya. Mengejutkan sekali, begitu batin Hanamiya. Mendadak Imayoshi menarik jarinya keluar dan menghentikan gerakannya, membisu untuk sesaat. Tanpa diduga-duga ia malah berdiri dan bersiap meninggalkan Hanamiya yang masih terkunci tangannya. Hanamiya memandangnya dengan tidak percaya. Melihat ekspresinya, sang senpai mulai membuka suara:

"Aku… Benci sekali dengan malaikat. Terlebih lagi, aku benci fakta bahwa kita—iblis—tidak dapat memiliki mereka. Aku benci tak dapat mengubah mereka menjadi makhluk seperti kita. Kau juga tahu rasanya, kan, Hanamiya?" ucapnya pilu.

Hanamiya terdiam, masih tetap memandangnya. Sesaat kemudian ia membalas perkataan Imayoshi dengan tegas dan sinis. "...Aku… Tidak seperti kau, yang sedepresi itu, Imayoshi. Kau lemah. Bahkan aku dapat menahan rasa sakit yang kudapat untuk bersama dengan 'malaikat' ini… Seberapapun sayapku ini terkoyak, seberapapun pedih kurasakan, aku akan terus mengejarnya."

'Ya, aku akan mengejarnya.'

Seakan tak peduli, Imayoshi berjalan pergi. Namun sebelum tangannya menyentuh daun pintu, ia menoleh dan berkata:

"Cepat selesaikan proses perkembangan hatimu dan… Saat itu pilihlah aku, Hanamiya. Akulah yang selalu berada di sisimu sejak dahulu. Aku akan menjagamu, aku akan menjadikanmu hartaku seumur hidup,"

Namun ucapan itu hanya dibalas oleh sang kouhai dengan dengusan, "Fuh, jangan harap itu terjadi."

"Yaah, tapi… Kau juga takkan bisa kabur. Walau ikatanmu sudah kulepaskan, tetap saja. Kau pikir kau dapat berjalan keluar dengan sayap compang-camping begitu? Sayap kananmu saja sudah tinggal pangkalnya. Kau bisa menjadi bahan cemoohan para iblis—bahkan kau dapat menderita lebih dari sekarang ini. Kekuatanmu juga berkurang karena kau sudah terpengaruh oleh cahaya, fufufufu."

"…Cih."

"Dan kurasa... Saat ini Kiyoshi sudah mendapat hukumannya. Itulah yang terjadi setiap malaikat ketahuan mencintai anak iblis. Kasihan, kasihan sekali, ya..."

"E-Eh? Apa maksudmu?"

"Bagaimanapun juga, cepat atau lambat kau akan menjadi milikku, Ha-na-mi-ya~"


Setelah sempat beristirahat sejenak, Hanamiya membuka matanya. Ia masih berada dalam ruangan pribadi Imayoshi, dan masih dengan sayapnya yang compang-camping. Berusaha menggerakkannya pun percuma. Dari kejauhan, ia mendengar suara langkah—ringan namun semakin mendekatinya.

Langkah demi langkah, terus terdengar. Setelah berada cukup dekat, dengan remang-remang cahaya lilin ia dapat melihat bayangannya. Makhluk itu pun berdiri di hadapan Hanamiya—

"Selamat malam, Hanamiya-san."

—makhluk bersurai brunet, senada dengan iris karamelnya dengan sayap hitam kelam yang begitu lebar. Ralat—sayap malaikat hitam kelam yang begitu lebar. Jangan-jangan… Ia makhluk yang pernah diceritakan oleh Hara dan Imayoshi sebelumnya. Sebelum Hanamiya dapat membuka suara, makhluk itu menyeringai tipis,

"Salam kenal, aku Sakurai, fallen angel kesayangan Imayoshi-san."

.

.

TBC?


A/N

Konnichiwa! Akemashite omedetoou! *nongoldibalikmeja* /TELATWOI

Muncullah chap mungil (?) berisi detil (?) dari chara lain desuuu :3 Yaah, akhirnya ratenya naik juga ya, hahaha *ketawamiris* habis kalo Imayoshi violence dan anuanunya ke'wah'an nanti kan harus dinaikin ratenya! Kan kiyoha juga gamau ada anak nyasar yang baca rate ini-/alesan /digetokwargaFFN

Hahaha disini kok Hanamiya kerasanya maso ya, dan Imayoshi oversadist gitu i'm not gomeeen~ babang ima kalo sadis keren lho /mananya/ seriously, bikin itu scene asyik lho walaupun baru pertama kali buat kiyoha, uuu... Maafkan betapa abalnya TwT

Dan tererereeet! Fallen angel sudah muncul, saudara-saudara! Bagi yang tebakannya benar, selamat! Selamat! *tebarconfetti* Yak! Sakurai-kun kiyoha masukin jadi cast fallen angel! x3 Jangan khawatir, ini ceritanya masih panjang kok, namanya juga kiyoha (?) dan nggak seru dong kalau cuma sampai situ saja! Ya nggak? Ini bukan shoujo manga oneshot! /APA

Balasan ripiu :3

.

Dee Cavallone

INI APAAAAA *ikuthisteris* *sobeknaskahabal*
kenapa nanggung? Kalau nggak cliffhanger nggak seru, nggak penasaran, dong! xD /ditabokDee

Hm~ Mendekati klimaks, ya? Sepertinya nggak, masih panjang kok... Kiyoshi diapain ya? Dan... Ting tong! Tebakan anda benar desuuu~ fallen angelnya Sakurai Ryo yang manis! xD

Okeee, terus lanjuut :3

.

Tsukkika Fleur

Ayo ayo, Kiyohana unyu lho, dan Hanamiya nggak kalah unyu dari Midorin xD /kokpromosi
Oke, lanjuuut! Bagaimana nasib mereka, yaa~?

.

Hanaciel Jaeger

Hukumannya apa, ya? Heuheuheu, ga berat kok~ Imayoshi disini memang begitu xD
Okeee :3

.

Eqa Skylight

Tanggung, dong! Biar penasaraan xD /tendanged/ jangan terror sayaaaaa *kabur*
gapapa nih disiksa? Oke, disini ada wqwqwq xDD

lanjuuut

.

Mey-chan Love Kagami-5862

jejelin aja tuh sendal xD dan makochan...author masih sayang dia kok dia nggak bakal kenapa-napa (?) /boong
anuanu? wkwkwk~ tebakan anda benaaar~ /digetokpalu

Iya, dia memang yang paling mungil dan paling dilindungi, disayang, kyaaa xD
iya, tapi eksekusinya nggak berat dulu kok, gak sampe det (?) kok, kiyoha masih sayang kiyoshi xD akhir kisah mereka masih panjang! xD
Oke, fallen angelnya dikeluarin di chap ini, walau sekilas wkwk

Lanjuuuut :3

.

Lastly, mind to RnR? Your review always motivate me to write more :3

kiyoha