Aku akan datang ke sana

Ke tempat di mana kau berada

Tak peduli jawaban apa yang menungguku di sana, aku tak keberatan

Tunggulah diriku di sana

Di tempat di mana kau berada

Karena aku mendengar suara hatimu memanggil diriku

Untuk kembali berada di sisimu


Angel, Devil and Forbidden Love Story

.

A Kuroko no Basuke fanfiction

Special for KiyoHana Day 2015

.

Disclaimer

Story ©kiyoha + ShanataS

Characters ©Fujimaki Tadatoshi

.

Rate:

M for Violence and mature hint

.

Pairing

KiyoHana, slight!ImaHana dan anuanu lainnya

.

Warning(s)!

Desain (?) dunia sana sama seperti dunia sini—atau seperti Makai Ouji, OOC?, typo (s), author mabok, lebai, Hanamiya so uke so lembut so tersakiti (?), Sakurai unyu unyu (?), banyak pair tersembunyi, Sadist!Imayoshi, plot campursari dan serentet keanuan lainnya.

DLDR!


"Salam kenal, aku Sakurai, fallen angel kesayangan Imayoshi-san."

Iris karamel itu menatapnya tajam. Walau wajah dan ekspresinya lembut bagai malaikat, Hanamiya dapat melihat kegelapan terpancar darinya. Seraya ia berjalan mendekatinya, sayap hitamnya yang tebal bergerak naik turun. Hanamiya baru menyadari ini, tapi sepertinya ada borgol kegelapan yang mengikat kaki sang fallen angel, dan benda itu sulit untuk terlihat mata.

"Wah, wah, sepertinya Hanamiya-san menyadari adanya borgol ini, ya?" tanya Sakurai sambil mengangkat sebelah kakinya. "Hanamiya-san juga, bagaimana rasanya diborgol? Sulit untuk bergerak, bukan?"

Hanamiya mengernyit. Memang borgol yang menahan kakinya membuatnya tak bisa bergerak, tapi alasan utama ia tidak bisa bergerak karena perih yang berasal dari sayapnya.

"Kenapa kau mendatangiku, hah?!"

"Ah, maaf…" Sakurai mundur karena kaget. Sepertinya kebiasaan saat ia menjadi malaikat masih sedikit tersisa. Yaitu rajin meminta maaf. Persis seperti yang dikatakan Imayoshi. Tidak salah lagi, pasti dia fallen angel yang Imayoshi bicarakan.

Fallen angel itu memiringkan kepalanya dan tersenyum sinis. "Lihat banyaknya luka di tubuhmu ini. Bekas-bekas yang ditinggalkan Imayoshi-san. Aah, aku benar-benar iri padamu, Hanamiya-san."

Hah? Iri padanya? Hal gila apalagi yang fallen angel ini bicarakan?

"Dan… Sepertinya hatimu sedang berkembang, ya. Sebentar lagi kau pasti bisa bersama selamanya dengan Imayoshi-san, kalau kau memilihnya."

"Apa maksudmu… Berkata begitu?"

Mendadak iris karamel itu menghitam, seperti dipenuhi kekecewaan. Sakurai akhirnya menjawab, "Yang kumaksudkan, adalah… Bagaimana rasanya, tiba-tiba masuk dan mengganggu hubungan kami? Bagaimana rasanya dapat mencuri hatinya, Hanamiya-san?"

"Haah? Aku tak mengerti apa yang kau katakan—Ugh!"

Sesak. Mendadak ia merasa sulit untuk bernafas.

Sakurai mencengkram lehernya dengan kedua tangan. Hanamiya mencoba melepaskan tangan Sakurai dengan mencakarnya, tapi anak satu ini kuat.

"Mengapa? Mengapa, Hanamiya-san?! Kenapa kau mendadak masuk dengan seenaknya ke dalam hubungan kami, lalu merebut Imayoshi-san? Padahal… Kami begitu bahagia bersama… Mengapa?!" Masih sambil mencekik leher iblis malang itu, Sakurai meraung, mengeluarkan kekesalannya. Rasanya semakin sesak saja untuk bernapas.

"Padahal, dia mencintaiku… Padahal aku selalu berhasil mendapatkan perhatiannya lebih dari yang lain… Tapi sejak kau datang, mengapa aku merasa seperti dibuang begitu saja?!"

Tanpa melepaskan cengkramannya, kaki Sakurai melemas dan ia jatuh terduduk di hadapan Hanamiya. Bohong. Fallen angel itu menitikkan air matanya.

Anak ini serius.

.

.

"Aku… Mencintai Imayoshi-san…Dia segalanya untukku. Tapi, mengapa Imayoshi-san malah memilihmu, bukannya aku yang tulus mencintainya…"

Dengan suara yang parau, ia terus berkomat-kamit. Hanamiya bersyukur kedua tangan itu sudah lepas dari lehernya, tapi entah mengapa ia jadi kesal melihat fallen angel di hadapannya menangis seakan-akan ia makhluk termalang di dunia.

Makhluk termalang di dunia? Yang benar saja. Jika Sakurai berada di posisinya, mungkin ia baru pantas disebut 'makhluk termalang di dunia.' Hanya karena Imayoshi tidak membalas perasaannya, lalu dia begini? Ha! Jangan membuatku tertawa.

Dengan tegas, ia berseru.

"Aaargh, kau ngomong apa sih, cebol!"

"Ce-cebol?"

"Sepertinya kau salah paham akan sesuatu, deh. Jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan, dong!"

Sakurai mengangkat kepalanya, memandang Hanamiya dengan bingung. "Salah paham apanya?"

Malah membuat Hanamiya semakin naik darah. Anak ini, sudah pertama datang langsung buru-buru mencekik, lalu menuduh yang tidak-tidak, mau dia apa, sih?!

"Dari tadi kau bilang kalau aku merebut Imayoshi, begitu kan?! Apa yang membuatmu berpikir begitu?! Asal tahu saja ya, dia yang mendekatiku! Perkembangan hatiku juga bukan karena aku menyukainya, jangan salah!"

Fallen angel itu melongo.

"Eh… Hanamiya-san tidak menyukainya?"

"Tidak! Bahkan aku malah ingin melepaskan diri darinya, duuh. Dari dulu, sulit sekali menjauh, tahu. Dia selalu mengikutiku kesana kemari." jelas Hanamiya, masih sedikit kesal dengan Sakurai yang asal menuduhnya.

"Eh, maaf… Lalu… Perkembangan hatimu disebabkan siapa?"

Glek. Pertanyaan yang tak terduga. Dalam hatinya Hanamiya menyesal sudah mengatakan bahwa perkembangan hatinya bukan karena Imayoshi. Harusnya ia tahu pernyataannya bisa memicu pertanyaan seperti ini, yah…

"Itu… Ngh…Mungkin seperti dirimu dulu." jawab Hanamiya sedikit ragu.

"Seperti diriku? Apa maksudnya? Bagaimana, Hanamiya-san?" Penasaran, Sakurai langsung menyerangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.

"Hei, hei, siapa?"

"AAAKH! Jangan bertanya terus! Malaikat! Aku jatuh cinta pada malaikat!" seru Hanamiya dengan kesal bercampur malu. Ini semua karena Sakurai yang terus-terusan bertanya padanya! Ah—mengakui bahwa ia mencintai Kiyoshi—membuatnya malu sekaligus lega.

"Ma-maaf…Tapi—Malaikat… MALAIKAT?!"

Tuh, kan. Pasti dia kaget. Untung saja ruangan ini kedap suara, jadi teriakan sang fallen angel tidak terdengar ke luar ruangan. Hanamiya memijit pelipisnya. Pusing.

"Kenapa, salah?! Nggak aneh, kan? Toh dulunya kau juga sepertiku… Kalau kau menganggapku aneh berarti kau lebih aneh lagi."

"Ooh, maaf. Jadi kalau perkembangan hatimu berhasil, kau akan memilih untuk menjadi malaikat, begitukah, Hanamiya-san?"

"Ya… Kira-kira begitu."

Sakurai menunduk, ia mengulum senyuman lega. "Syukurlah… Kau akan menjadi malaikat nantinya. Jangan menjadi sepertiku, Hanamiya-san… Yang menjadi malaikat yang terjatuh, karena jatuh cinta terlalu dalam pada iblis. Mungkin aku bisa disebut Fallen 'in love' angel ya? Hehehe…" Sakurai terkekeh. Lah, dia bisa juga menjadi manis kalau sedang biasa seperti ini. Kalau sedang cemburu, habislah dunia.

"Kadang aku masih menyesal, kenapa aku bisa terjatuh ke dalam kegelapan… Aneh, ya? Padahal aku ini fallen angel, tapi masih bisa berpikiran seperti itu…"

"Ah. Mungkin karena dulu kau adalah malaikat yang begitu baik, jadi kesan baikmu masih terbawa sampai sekarang."

"Begitukah? Tapi, entah mengapa… Aku senang bisa bertemu Imayoshi-san. Walau ia yang membuatku jatuh ke dalam kegelapan, tapi… Aku masih mencintainya." Dengan wajah yang lembut –saat ini ia benar-benar terlihat seperti malaikat— Sakurai tersenyum, mengingat masa lalunya dengan Imayoshi.

Hanamiya mendengus pelan. "Tidak ada penyesalan dalam mencintai seseorang."

"Ehehe. Benar juga, ya."

.

.

.

.

"Ngomong-ngomong, kenapa malaikat baik hati sepertimu bisa menjadi begini? Si kacamata itu bilang kalau itu gara-gara cintamu yang terlalu besar, tapi kurasa pasti ada alasan lain, kan?"

"Alasan lain, ya… Hmm, tidak juga, kok. Aku hanya mencintainya, seperti itu. Tapi, ada alasan mengapa aku berusaha dengan sangat agar cintaku terwujud…"

"Hm, apa?"

"Jadi begini, pertamanya hubungan kami berjalan biasa saja, dipenuhi cinta… Tapi, waktu itu aku baru mendengar apa yang disebut dengan 'perkembangan hati' iblis… Dan, aku tidak melihat tanda-tanda perkembangan hati pada Imayoshi-san." Sakurai memulai ceritanya, sekaligus mengingat masa lalu. "Saat itulah aku menyadari, bahwa perasaan Imayoshi-san padaku… Biasa saja. Seakan aku tidak spesial baginya. Jadi, aku berusaha menarik perhatiannya. Namun, semakin aku mencintainya, semakin diriku tertarik ke dalam kegelapan… Sampai akhirnya menjadi seperti ini."

"…"

Kedua bibir Hanamiya mengatup mendengar cerita Sakurai. Ia tak menyangka jatuh cinta pada iblis bisa mengantarkan malaikat ke dalam kegelapan. Pantas malaikat dilarang keras berhubungan dengan iblis… Itu sudah menjadi pantangan besar bagi mereka. Ia jadi khawatir kalau Kiyoshi akan menjadi seperti itu nantinya.

"Menyedihkan, ya, ceritaku? Tapi belum selesai. Saat aku sudah menjadi fallen angel, dia malah sering mengabaikanku! Saat kutanya alasannya, dia bilang bahwa, kalau aku sudah menjadi fallen angel, maka aku dan dia tidak akan bisa bersatu! Apa-apaan itu!" teriaknya emosi.

"Sabar sedikit, Sakurai."

"Ma-maaf. Habisnya sih, setelah itu Hanamiya-san datang. Walau sayap Imayoshi-san tidak terkoyak juga, sih… Tapi dia jadi memerhatikanmu! Aku kan jadi kesal, Hanamiya-san!" kedua tangannya mulai memukul-mukul Hanamiya dengan refleks.

"Oi! Itu kan bukan salahku, bodoh!"

"Itu salahmu! Kenapa kau begitu menawan sampai menarik hati Imayoshi-san?!"

"Menawan tidak menawan, memangnya aku yang mengatur, apa?!"

"Maaf memukulmu, tapi ini kan memang salahmu, Hanamiya-san!"

"Kalau mau minta maaf setidaknya jangan memukul-mukulku terus, woi!"

.

.

Haah, haah. Lelah sekali rasanya. Walaupun dia terlihat pendiam dan tukang minta maaf—ternyata debat mereka tidak selesai-selesai juga. Inikah sifat asli Sakurai yang muncul jika ada hal berkaitan dengan Imayoshi? Sungguh berbeda 180 derajat dari dugaan Hanamiya.

"Kau ini… Ternyata cerewet juga, ya."

"Hanamiya-san juga. Kukira Hanamiya-san iblis yang cool, tapi ternyata…"

Sang iblis memicingkan sebelah mata. "Apaan?!"

"Eh…Ma-maaf…"

"Jadi, yah…" Hanamiya mencoba berdiri dengan kedua kakinya yang terborgol. "Kini kau tahu kan kalau aku tidak bermaksud merebut Imayoshi darimu. Dia dari dulu memang sering pindah-pindah hati, kau tahu."

Sakurai mengangguk pelan, menggenggam sebelah sayap hitamnya. Melihatnya, Hanamiya mengeraskan suara.

"Kau bebas kalau mau merebut si mata empat itu atau apa—tak ada hubungannya denganku. Jangan berwajah muram begitu!"

"Ma-maaf…Baik, Hanamiya-san!"

Fuh. Hanamiya menghela napas, kembali duduk. Berdiri terasa tidak nyaman kalau ada rantai yang menahan kakinya. Perih sekali.

"Ngomong-ngomong, rantai ini tidak bisa dilepaskan, apa?! Hei, kau nggak bisa melepaskannya?"

Sakurai menggeleng pelan. "Maaf, karena ini rantai kegelapan… Bukan dari besi atau baja. Mungkin kalau besi, aku bisa menghancurkannya dengan kekuatanku…"

Kekuatannya? Yang benar saja, memang dia pikir dia sekuat apa?

"Dari dulu juga aku terikat rantai seperti ini, dan aku tidak bisa melepasnya… Yang bisa membebaskanmu dari rantai ini hanya Imayoshi-san—"

Imayoshi? Haah, sudah ia duga.

"—Atau tombak cahaya yang kuat. Kau tahu? Senjata para malaikat agung… Karena dulu aku malaikat, aku pernah melihatnya…"

"E-Eh?"

"Ya. Jadi dulu waktu kasus ada malaikat yang menjadi tawanan, petinggi melepaskan borgolnya dengan cara seperti itu…"

"Ja-Jadi maksudmu…"

Sakurai tersenyum, orb caramelnya berkilat. "Ya. Kalau Hanamiya-san bisa bertemu Kiyoshi-san lagi, pasti rantai ini bisa lepas. Kiyoshi-san itu salah satu malaikat tinggi, kan? Lagipula—"

"Lagipula?"

"Apa sih yang bisa mengalahkan kekuatan cinta? Ehehe,"

Hanamiya terhenyak. Dasar… Walaupun sudah menjadi fallen angel, dia masih bisa mengatakan hal seperti itu? Sakurai, Sakurai… Tapi mungkin dia memang benar, ia harus percaya bahwa ia dapat melewati rintangan berat ini. Itu pasti.

Karena—seperti kata Sakurai tadi—apa yang bisa mengalahkan kekuatan cintanya?

"Ng…Tapi… Apa yang bisa kulakukan untuk bertemu dengannya? Aku terjebak di sini…" Hanamiya terduduk, menunduk lesu. Sebelum ia dapat bertemu dengan Kiyoshi, mungkin ia sudah tertangkap duluan oleh Imayoshi. Lebih parah lagi—mungkin dia takkan bisa keluar dari ruangan gelap ini sampai kapanpun, dengan rantai yang melilit di kakinya, bagai ular menangkap mangsa.

"Kalau itu tenang saja Hanamiya-san, aku yakin pasti akan ada yang menolongmu, kok! Eng—maaf, kalau aku sok tahu."

"Menolongku? Hah! Siapa? Di dunia ini tak ada."

Sakurai memutar otak. Kira-kira siapa, ya, hmm…

.

Aha!

"Tenang saja. Serahkan padaku. Aku tahu orangnya."

Hanamiya tercengang, dibalas dengan Sakurai yang mengangguk semangat. "Eh—Kau tahu?"

"Tentu saja! Tenang, rantai yang dipasangkan ke kakiku ini super panjang, jadi aku bisa berjalan kemana-mana, aku pasti bisa meminta bantuan untukmu!"

Sakurai tersenyum ke arahnya, jarinya membentuk huruf V, peace. Sampai akhirnya terdengar seruan dari luar kamar kecil dan gelap itu.

.

"Sakurai? Dimana kau? Keluarlah!"

"Ga-Gawat—"

"Eh? Memang ada siapa di luar? Kenapa dia memanggil-manggilmu?"

"Eng, banyak sih yang sudah mengetahui aku ada di rumah ini, tapi err—dia spesial. Dia iblis yang ditugaskan untuk menjagaku dari bermacam-macam hal, namanya Aomine-san." jelas Sakurai. Setelah ia mengatakan itu, terdengar suara ketukan keras di pintu.

"Sakurai? Kau di sana? Kenapa kau masuk-masuk ke ruangan ini? Bisa-bisa kau dimarahi Imayoshi-san nanti!"

"Ng… Iya, Aomine-san! Maaf, aku segera ke sana! Anu… Maaf ya, Hanamiya-san? Tapi tenang saja, serahkan padaku! Aku takkan lama-lama, kok. Terima kasih soal yang tadi, ya. Aku keluar dulu."

"Sakurai!"

"Eh? Ada apa, Hanamiya-san?"

"Kurasa Imayoshi… Masih mencintaimu."

Wajah sang brunet berubah, seperti sedikit terkejut. Namun ia kembali tersenyum, lalu akhirnya keluar dari ruangan, meninggalkannya sendirian lagi.

...

"Takkan lama… Ya…?"


"Sial, sial, sial… Pasti waktu itu pembicaraan kita terdengar oleh si empat mata sadistik itu—" Hara berjalan berputar-putar tanpa alasan jelas, membuat ketiga temannya memandangnya dengan tatapan aneh—sekaligus tatapan bersalah.

"Iya juga…Aku lupa kalau kita takkan bisa membicarakannya di dunia sini…" Furuhashi memukul kursi yang ia duduki dengan keras. Tak peduli tangannya akan terluka atau apa—masalah Hanamiya lebih penting daripada tubuhnya.

"Jadi… Apa yang harus kita lakukan, dong?!" Tak tahan hanya berdiam diri, Yamazaki ikut berbicara. "Kalau begini, ia bisa terkurung selamanya di tempat Imayoshi—"

"Tenang dulu, kalian. Pasti ada cara untuk menyelamatkannya, aku yakin." Seto memotong kalimat Yamazaki, mencoba menenangkan ketiga temannya. Dari empat iblis itu, memang Seto lah yang paling tenang dan bisa diandalkan. Tapi sekarang, pikirannya sedang kacau untuk sekedar memikirkan solusi terbaik.

"Tapi bagaimana, Seto?! Kau tahu kan—tak ada yang bisa melawan Imayoshi. Dia punya banyak pengawal yang bisa melindunginya jikalau ada yang menentangnya. Hanya pergi berempat sepertinya berisiko."

Hmm… Keempat iblis itu berpikir keras. Adakah cara supaya mereka dapat menolong Hanamiya, tanpa ketahuan oleh Imayoshi? Lagipula, ruangan pribadi Imayoshi memiliki suatu segel khusus. Harus bagaimanakah mereka?

"—Kalau begitu, aku punya ide bagus, lho."

"Eh?"

Sang brunette tersenyum kepada mereka.

.

.

.

Malam menghilang, tergantikan oleh pagi. Matahari kembali menyinari dunia dengan cahaya terangnya. Kiyoshi mengerjapkan matanya yang silau karena cahaya dari jendela.

"Akh… Sudah pagi, ya… Tidurku tak tenang semalam."

Ah, dia masih tidak biasa dengan situasi seperti ini. Pagi hari di bukit ini benar-benar sepi, tak ada burung-burung yang berkicau seperti di rumahnya dulu. Selain itu, dia juga belum terbiasa dengan punggungnya yang terasa berat sebelah. Menyusahkan saja.

"Hanamiya… Aku belum bertemu lagi dengannya sejak saat itu, ya…"

Kiyoshi tersenyum pahit, rasanya sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan kekasihnya. Padahal belum lama—jika dihitung dengan kalender dunia mereka—karena itulah.

Sekarang juga ia ingin bertemu, ah, benar-benar…

"Aku kangen…"

"Kau ingin bertemu dengannya, kan?"

Eh?

"U-Uwaa! Siapa itu?! Kamu siapa?!"

Kiyoshi jatuh terduduk, kaget melihat anak manis bersurai brunette mendadak mendarat di hadapannya. Tampaknya malaikat, kalau dilihat dari sayapnya… Eh… Hitam? Kok bisa?

"Kiyoshi Teppei."

Malaikat—mungkin—bersayap hitam itu menarik tangan Kiyoshi agar ikut bersamanya. Kiyoshi terbang dengan tak seimbang, ini salah sayapnya yang tak utuh lagi. Untung saja Sakurai membantunya untuk terbang. Ya sudahlah—ia hanya bisa pasrah, karena kalau ia melepaskan diri, ia pasti akan jatuh ke bawah.

Tapi tunggu, dia mau dibawa ke mana?!

.

.

.

"Yak, kita sampai, Kiyoshi-san. Maaf tiba-tiba menarikmu… Maafkan aku!"

"Iya, tidak apa-apa… Tapi, tempat apa ini…?"

Aneh, rasanya seperti bernostalgia. Ia berdiri di beranda yang ia kenal, di kamar yang penuh dengan barang-barang yang sepertinya ia kenal… Jangan-jangan ini…

Rumah Hyuuga?

"Rumah ini kan…"

"Ya. Rumah Hyuuga Junpei."

Begitu ia menoleh ke asal suara, empat iblis menghampirinya. Tapi… Kiyoshi tidak mengenal mereka. Bahkan, ia tidak mengenal anak manis yang mendadak menariknya tadi.

.

"Kenapa kalian—iblis, ada di sini… Siapa kalian?"

"Ah, ya. Kami belum memperkenalkan diri, ya… Namaku Furuhashi. Yang di sebelah kananku ini Seto, lalu di sebelah kiriku Hara, dan di sebelah Hara itu Yamazaki…" Iblis—yang diketahui bernama Furuhashi—itu memperkenalkan diri. Kiyoshi mengernyitkan alis tebalnya. Ia menoleh tajam ke arah anak manis yang menariknya tadi.

"Lalu—kau siapa? Dan…kau ini makhluk apa?"

"Ah, aku? Namaku Sakurai, fallen angel."

Kiyoshi membulatkan matanya, tak percaya dengan kalimat Sakurai. Ia menelan ludah, sebelum kembali bertanya.

"…Eh? Fallen angel itu… Maksudnya malaikat yang terjatuh ke dalam kegelapan?"

Sakurai tersenyum tipis, lalu menjawab. "Ya. Persis seperti yang kau katakan, Kiyoshi-san, aku ini memang fallen angel. Ehm…Maaf."

"A-Ah, tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Aku hanya sedikit kaget, itu saja."

"Ba-Baiklah…"

.

Membetulkan posisi duduknya, Kiyoshi mulai membuka pembicaraan yang sempat terhenti. Mencoba mencairkan suasana, tepatnya. Karena sedari tadi keempat iblis—dan satu fallen angel di hadapannya diam saja dengan wajah yang murung. Sebenarnya ada apa? Kenapa dia dibawa ke sini?

"Eng… Bolehkah aku bertanya? Sebenarnya kalian membawaku ke sini dengan alasan apa? Apa aku punya urusan penting dengan kalian?"

"Ah, ya… Soal itu…" Sakurai akhirnya mendongakkan kepalanya, dan bicara dengan nada pelan. "Kami punya… Hal yang harus dibicarakan denganmu…"

"Hal yang harus dibicarakan? Tentang apa?"

"Jadi begini…"

.

.

.

"Si Sakurai itu… Sebenarnya apa yang dia rencanakan, ya…" Hanamiya bergumam sendiri, menyandarkan punggungnya yang penuh luka ke dinding yang dingin. Kakinya yang terborgol juga, ia sentuhkan ke dinding. Lumayan mengobati, setidaknya. Sampai ia mendengar pintu besar ruangan itu diketuk.

Dan iblis yang masuk ke ruangan itu…

"Hai, Ha-na-mi-ya~"

—Imayoshi Shouichi. Masuk ke ruangan dengan senyuman sadisnya yang biasa. Hanamiya mundur beberapa langkah dengan refleks. Sial—punggungnya sudah menabrak dinding.

"Kau tahu? Aku benar-benar bosan mengurus segala urusan di dunia sini. Haah, setelah menghilangnya sang emperor aku jadi kesulitan."

"Eh—"

"Jadi…" Senyumnya bertambah lebar, membuat kouhainya bergidik ngeri. "Bagaimana kalau kita… Main sebentar?"

.

.

.

TBC?


A/N

Konnichiwa, minna! Lama nggak ketemu kiyoha, ya... Hahaha /ketawamiris

Udah satu bulan ya, huwaaa gomen kiyoha sibuk dengan kacam-macam dan kemarin-kemarin juga, servernya maintenance... Makanya TwT

Tapi sekarang sudah di update lagi, kok! Maaf kalau menunggu lama, ya. Dan chapter kali ini... Chapter yang cukup ringan. Mau istirahat dari lime chap kemarin. Ha. Hahaha. /pingsan

Huwaaaa, jangan minta kiyoha bikin anu-anu dulu, ya, kiyoha abal :'3

Sekali lagi selamat untuk yang menebak si fallen angel itu Sakurai! Selamat, selamat! /plok/ btw kiyoha punya plot panjang dan plot pendek (cepat tamat), mendingan pakai yang mana, ya? Takutnya kalau kepanjangan readers jadi bosan UwU

Balasan ripiu :3

.

Dee Cavallone

Hee... gaada hadiah dee! EEEH? LIMENYA KURANG? Habisnya Kiyoha gabisa bikinnya sih huhu ;w;
Hmm, soal itu akan dibahas di chapter-chapter depan, tunggu ya :3

Okee, maaf lama...

.

Hanaciel Jaeger

Uwaa, jangan ditimpuk, masih banyak yang cinta dia... *lirikSakuraidanSusa*
Ok, Kiyoha will keep writing... Maaf lama, ya.

.

Mey-chan love kagami 5862

Gaada apa-apa koook, wqwqwq
Iya, kan kesalahan dia yang ketahuan nggak seberapa besar xD

Menyenangkan lho bikin sadist imayoshi wahahaha /plok/ hahaha Imayoshi kan juga punya selera (?) Soal para lelaki yang suka sama dia sih... Bakal ke-solve di chapter-chapter depan ;)

Nah itu, enaknya Makochan dibuat mati nggak ya? Eh jangan deh Kiyoha masih cinta Makochan-

Okee, douitaaa

.

Yozorra

Selamat, tebakan anda benar xD Kapan ketemu lagi? hmm... *spoiler* chapter depan, kayaknya sih. Iya juga ya, setengah sayap setengah sayap xD

Yosh!

.

Seperti biasa, ripiu yang membangun selalu ditunggu :3

kiyoha